Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

27 September 2011

Truk Sampah

Pada suatu hari, aku naik taksi untuk pergi ke airport. Kami melaju di jalur kanan, ketika tiba-tiba sebuah sedan berwarna hitam keluar dengan mendadak dari sebuah tempat parkir tepat di depan kita. Sopir taksiku menginjak rem dengan sekuat tenaga, mobilnya kemudian selip dan nyaris menabrak sebuah mobil lainnya dengan selisih beberapa inci saja. Pengendara mobil itu memalingkan kepalanya kepada kita dan mulai berteriak dengan amat marah. Sopir taksiku hanya tersenyum dan melambai kepada orang yang sedang marah itu. Kelihatannya ia memang seorang yang ramah.

Kemudian aku bertanya, “Mengapa kamu melakukan itu? Orang itu nyaris menghancurkan mobilmu dan membawa kita berdua ke rumah sakit!”

Pada saat itulah sopir taksiku mengajarku yang aku namakan “Hukum Truk Sampah”

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka mengendarai truk dengan muatan penuh sampah, penuh dengan kekecewaan, penuh amarah dan penuh dengan penyesalan. Dan kalau muatan sampah mereka sudah amat penuh, mereka membutuhkan suatu tempat untuk membuang muatan sampah itu, sehingga kadang-kadang mereka membuangnya di dirimu. Karena itu, janganlah menganggap semua itu secara pribadi. Melainkan hanya tersenyumlah, berharaplah semoga mereka baik-baik saja dan lanjutkanlah perjalananmu. Janganlah sekali-kali mengambil sampah mereka untuk dibuang kepada orang lain di pekerjaan, di rumah atau di jalanan.

Yang hakiki adalah, bahwa orang-orang yang berhasil, tidak membiarkan truk sampah itu menguasai dirinya. Hidup ini terlalu singkat untuk bangun dari tidur dengan rasa menyesal, maka “kasihilah orang lain yang membenarkan kamu, dan berdoalah bagi mereka yang tidak.”

Wes Moore

Bacaan Setahun : Hosea 8-11
Nats : Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi Tuhan, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya (Ulangan 30:19-20)

Bacaan : Ulangan 30:15-20

Pada Desember 2000, surat kabar Baltimore Sun memuat berita tentang Wes Moore, siswa teladan penerima beasiswa Rhodes. Uniknya, dalam koran yang sama, termuat pula berita lain tentang anak-anak muda yang menjadi buronan karena membunuh polisi. Dan, salah satu pemuda pembunuh itu juga bernama Wes Moore sama namanya, tetapi beda orangnya. Kini Wes Moore yang pertama terus berprestasi di masyarakat dan menjadi pemimpin bisnis yang berhasil. Tragisnya, Wes Moore yang kedua kini menjalani hukuman seumur hidup karena kejahatannya. Nama dua orang ini persis sama; mereka berasal dari kota yang sama, lingkungan yang sama kerasnya, dan sama-sama kehilangan ayah sejak kecil.

Dua kehidupan yang sangat mirip ketika muda, tetapi bisa sangat berbeda di masa depan. Ini karena keluarga Wes Moore yang pertama berusaha memilihkan "jalan kehidupan" baginya. Kakek-neneknya merelakan rumah mereka dijual agar Moore dapat disekolahkan di sekolah militer yang mengasah karakter dan kepribadiannya.

Tragedi dalam kehidupan bisa terjadi ketika orang mengabaikan hikmat dari Tuhan tentang bagaimana menjalani hidup. Ketika orang "berpaling dan tidak mau mendengar" Tuhan, bahkan "mau disesatkan" untuk mengikut jalan yang di luar kehendak Tuhan (ayat 17). Sebab di hidup ini ada dua pilihan besar yang harus diputuskan: kehidupan dan keberuntungan atau kematian dan kecelakaan (ayat 15). Orang yang memilih untuk mengasihi Tuhan dan hidup menurut jalan-Nya, sudah jelas masa depannya: "supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu" (ayat 19). Mari memilih jalan kehidupan! --AW

HIDUP MANUSIA BUKAN BERGANTUNG PADA NASIB
TETAPI PADA PILIHANNYA UNTUK BERPAUT KEPADA TUHAN ATAU TIDAK

Sabda.org