Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

16 April 2008

Segala Sesuatu Indah Pada WaktuNya

Semuanya bermula pada hari Sabtu bulan Juli tahun 1995. Waktu itu saya sedang membaca buku di tempat tidur (di Jakarta), ketika di hadapan saya salib Tuhan Yesus dan tasbih milik anak-anak (yang pada waktu itu beragama Islam) mendadak jatuh di lantai lepas dari dinding. Anehnya, salib tersebut jatuh di atas tasbih sehingga tasbihnya putus dan biji-bijinya berserakan kemana-mana di lantai. Tasbih dan salib itu sudah 15 tahun tergantung di dinding dan pakunya tidak pernah lepas. Waktu itu saya hanya dapat berpikir, "Ya Tuhan, pertanda apakah ini, apa yang akan terjadi?"

Hati saya sangat gundah dan pikiran saya langsung melayang ke Diana, anak saya yang kedua. Malam sebelumnya Diana baru minta izin untuk pergi scuba diving di pulau Catalina dekat Los Angeles. Waktu dia minta izin, sesungguhnya saya tidak setuju, karena Diana akan pulang seminggu lagi untuk berlibur ke Manado untuk diving di Bunaken. Karena dia mengatakan harus pergi ke Catalina untuk ujian sertifikat divingnya yang kedua, dengan hati berat saya izinkan juga. Reaksi pertama saya setelah salib jatuh saya langsung telpon ke Amerika untuk melarang Diana pergi. Telpon saya dijawab oleh Ruby, adik Diana, yang mengatakan bahwa Diana baru saja didrop di dermaga, dan kapalnya sekarang sudah berangkat ke Catalina. Setelah itu saya hanya dapat menunggu dan berharap agar semuanya beres.

Ternyata perasaan saya benar. Hari Minggu keesokan harinya saya ditelpon oleh Monika, anak saya yang tertua, bahwa Diana telah mengalami kecelakaan tenggelam pada saat sedang ujian diving. Sejak itu seluruh hidup saya berubah. Selama ini saya adalah orang Kristen yang sebelum menikah rajin ke Gereja dan berdoa, tetapi karena perkawinan saya dengan orang beragama Islam, semua nilai-nilai itu menjadi pudar. Saya jadi malas ke Gereja, malas berdoa sebelum makan, dan saya merasa cukup dengan hanya membaca Alkitab dan berdoa di rumah. Bahkan setelah berceraipun saya masih malas ke gereja.

Sebelum saya berangkat ke Los Angeles untuk menjenguk Diana, sahabat saya yang bernama Lily, yang pernah kehilangan anak karena kecelakaan, mengingatkan saya, "Kamu jangan seperti saya hanya berpasrah dan berharap waktu anakku sakit. Kamu harus berdoa dan mohon kepada Tuhan untuk kesembuhan anakmu". Saya langsung mengikuti nasihat yang berharga itu. Saya mulai berdoa dan meminta dengan tekun kepada Tuhan sampai saya merasakan ketenangan yang luar biasa dan ketakutan saya hilang.

Mendadak saya merasakan suatu kekuatan iman yang luar biasa meskipun kondisi Diana sangat parah pada waktu itu. Diana sempat mendapat light stroke dan pneumonia. Pernapasannya dibantu dengan mesin pengganti paru-paru karena paru-parunya mengalami pendarahan di dalam (internal bleeding) dan hanya berfungsi 30 persen. Hidupnya tergantung dari 11 pipa selang, dimana diantaranya sebuah selang di dalam tenggorokannya yang memompa darah keluar dari dalam paru-parunya. Angka-angka monitor juga sudah sangat kritis, detak jantungnya terlalu cepat untuk ukuran normal. Menurut team dokter seseorang dalam kondisi seperti itu seharusnya sudah dalam koma, dan mereka begitu heran badannya begitu kuat bisa bertahan sehingga masih sadar. Setiap kali saya tanya ke kepala team dokter, jawabannya selalu sama, yaitu "we cannot promise you anything, but we are trying our best. It is already a miracle she's not in coma, but maybe it's because she's still young and very very strong."

Baru belakangan saya menyadari bahwa ini semua terjadi karena Tuhan sedang berkarya dan berencana dalam keluarga saya. Untung waktu itu Diana dalam keadaan sadar sehingga kami sekeluarga bisa berkomunikasi lewat tulisan. Saya masih ingat pada suatu saat dai bangun ketakutan dan menulis bahwa dia bermimpi terkunci dalam suatu ruangan dan tidak bisa keluar, dan hanya mama (saya) yang bisa mengeluarkan dia dari kamar gelap tersebut. Disitulah saya sadar bahwa sayalah satu-satunya orang yang dapat mengajarkan Diana jalan terang Kristiani yang dapat membantunya di saat-saat gelap ini.

Dan semua ini terwujud pada hari kelima sore hari, dimana dokter sudah angkat tangan dan memberi tanda bahwa Diana tidak dapat bertahan lebih dari 24 jam. Waktu itu teman-teman Diana dari sekolah semunya datang untuk menjenguk dan "pamitan" dengan Diana. Dianapun kelihatannya menyadari keadaannya. Pada beberapa kawan Diana menyampaikan teriman kasih dan secara khusus minta maaf. Suasana sangat mengarukandan semua menangis karena sudah merasakan saatnya untuk "berpisah".

Ketika semua tamu sudah pulang dari ICU, yang tinggal hanya saya dan David, salah satu sahabat karib Diana. Kami berdua kaget ketika mendadak Diana ingin bangun dari tempat tidur dan tangan kanannya meraih dan menggapai ke depan seolah-olah ingin menyentuh sesuatu. Diana tersenyum dan matanya bersinar-sinar. Saya berkata,"Di, jangan bangun nanti selang-selang di badan terlepas."

Saya mendorong badan- nya ke tempat tidur, tapi dia bangun lagi dan dengan tersenyum ingin meraih "sesuatu" di depannya. Akhirnya saya mengambil kertas dan meminta Diana menulis apa
yang ia inginkan. Dia menulis, "Di pojok kamar berdiri Tuhan Yesus dan di sekelilingnya berdiri orang-orang penting. Di tengah-tengah ruangan ada malaikat-malaikat menari-nari." Diana tersenyum terus ke pojok ruangan tapi saya dan David tidak dapat melihat apa-apa. Kemudian tanpa saya sadari, saya bertanya kepada Diana, "Di, apakah kamu sudah siap untuk dibaptis?" Diana menulis, "Yes, and please let me become a Christian and be baptized".

Malam itu juga kami mengurus pembaptisannya dan pagi harinya Diana dibaptis. Pembaptisan Diana sangat mengharukan terutama pada saat Diana minta izin kepada bapaknya untuk dibaptis. Pada saat masih di SMA, Diana sempat mengutarakan keinginannya untuk dibaptis. Tetapi karena bapaknya keberatan, Diana tidak jadi masuk Kristen. Kalau saya ingat sekarang, saya merasa di sinilah Tuhan bekerja. Saat Diana di rumah sakit, bapaknya mengijinkan Diana untuk dibaptis, mungkin karena merasa itu adalah "permintaan terakhirnya."

Sehabis dibaptis keadaan Diana tiba-tiba mulai membaik. Tim dokter sampai heran dan berkata "we thought she was going to die". Mereka berkata bahwa kemajuan kondisinya yang secara tiba-tiba tidak dapat dijelaskan secara medis. Tiga hari setelah dibaptis, Diana dapat bernapas tanpa bantuan mesin pengganti paru-paru. Keesokan harinya selang di tenggorokannya dicabut dan Diana dapat berbicara lagi. Beberapa hari setelah itu keadaan Diana menunjukkan kemajuan yang luar biasa sampai tim dokter memutuskan untuk memindahkan Diana dari ICU ke kamar biasa. Setelah Diana dirawat di kamar biasa selama seminggu, Diana diijinkan pulang dari rumah sakit oleh dokter.

Pembaptisan Diana mengingatkan saya pada kehadiaan saat Diana masih SD. Saat itu Diana masih beragama Islam dan sangat tekut menjalankan agama Islam. Suatu hari, Diana datang kepada saya dan berkata bahwa dia mengalami mimpi yang sangat aneh. Dia bermimpi bahwa dia bertemu Tuhan Yesus, dan dalam mimpinya dia berkata kapada Tuhan Yesus bahwa dia ingin mengikutiNya. Tuhan Yesus hanya tersenyum dan mengatakan bahwa sekarang belum waktunya, suatu saat Tuhan Yesus akan datang kembali untuk menjemput Diana untuk mengikutiNya. Diana bercerita bahwa dia mendapat mimpi yang sama 2 kali. Dia heran mengapa sebagai orang beragama Islam mendapat mimpi seperti itu. Saat itu saya berkata kepada Diana bahwa mungkin mimpi itu berarti bahwa Dia harus masuk Kristen dan mengikuti Yesus.

Kejadian ini merubah hidup saya. Saya baru menyadari betapa Tuhan selalu setia kepada saya dan keluarga saya, bahkan ditengah-tengah ketidaksetiaan kami. Saya merasa Tuhan menepati janjiNya ke pada Diana, menolong Diana dan menjemputnya untuk mengikutiNya.

Kemurahan Tuhan tidak berhenti di situ saja. Tuhan menggerakkan hati anak saya Ruby, yang masih Islam. Mula-mula, Ruby mulai ikut ke gereja dengan Diana. Kemudian Ruby mulai turut aktif dalam kegiatan gereja, sampai akhirnya tergerak hatinya untuk dibaptis tahun lalu. Anak saya yang tertua, Monika, juga akan dibaptis bulan Mei tahun ini.

Sampai sekarang saya masih sering heran bila mengingat bagaimana Tuhan bekerja dengan luar biasa terhadap saya dan keluarga saya. Setiap hari saya berterima kasih kepada Tuhan atas kemurahan berkat karuniaNya dan untuk membuat segala sesuatu indah pada waktuNya bagi keluarga saya.

Ditulis Oleh : Widyawati Deborah Sondakh
Maret 2000

Berapa Umur Kita Saat Ini?

Berapa umur kita saat ini? 25 tahun, 35 tahun, 45 tahun atau bahkan 60 tahun. Berapa lama kita telah melalui kehidupan kita? Berapa lama lagi sisa waktu kita untuk menjalani kehidupan? Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kita mengakhiri hidup ini.

Matahari terbit dan kokok ayam menandakan pagi telah tiba. Waktu untuk kita bersiap melakukan aktivitas, sebagai karyawan, sebagai pelajar, sebagai seorang profesional, dll. Kita memulai hari yang baru. Macetnya jalan membuat kita semakin tegang menjalani hidup. Terlambat sampai di kantor, itu hal biasa. Pekerjaan menumpuk, tugas dari boss yang membuat kepala pusing, sikap anak buah yang tidak memuaskan, dan banyak problematika pekerjaan harus kita hadapi di kantor.

Tak terasa, siang menjemput. "Waktunya istirahat..makan- makan". Perut lapar, membuat manusia sulit berpikir. Otak serasa buntu. Pekerjaan menjadi semakin berat untuk diselesaikan. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Panas betul hari ini...

Akhirnya jam istirahat selesai, waktunya kembali bekerja. Perut kenyang, bisa jadi kita bukannya semangat bekerja malah ngantuk. Aduh tapi pekerjaan kok masih banyak yang belum selesai. (Belum lagi kalau terkadang harus menghadapi 'manusia-manusia sulit' yang menghambat pekerjaan kita)

Mulai lagi kita kerja, kerja dan terus bekerja sampai akhirnya terlihat di sebelah barat. Matahari telah tersenyum seraya mengucapkan selamat berpisah. Gelap mulai menjemput. Lelah sekali hari ini. Sekarang jalanan macet. Kapan saya sampai di rumah. Badan pegal sekali, dan badan rasanya lengket. Nikmat nya air hangat saat mandi nanti. Segar segar...

Ada yang memacu kendaraan dengan cepat supaya sampai di rumah segera, dan ada yang berlarian mengejar bis kota bergegas ingin sampai di rumah. Dinamis sekali kehidupan ini.

Waktunya makan malam tiba. Ibu kita telah menyiapkan makanan kesukaan kita, "Ohh..ada sop ayam".

"Wah soto daging buatan ibu memang enak sekali", anak memuji masakan Ibunya. Itu juga kan yang sering kita lakukan. Selesai makan, bersantai sambil nonton TV. Tak terasa heningnya malam telah tiba. Lelah menjalankan aktivitas hari ini, membuat kita tidur dengan lelap. Terlelap sampai akhirnya pagi kembali menjemput dan mulailah hari yang baru lagi. Kehidupan, ya seperti itu lah kehidupan di mata sebagian besar orang. Bangun, mandi, bekerja, makan, dan tidur adalah kehidupan.

Jika pandangan kita tentang arti kehidupan sebatas itu, mungkin kita tidak ada bedanya dengan hewan yang puas dengan bisa bernapas, makan, minum, melakukan kegiatan rutin, tidur. Siang atau malam adalah sama. Hanya rutinitas sampai akhirnya maut menjemput. Memang itu adalah kehidupan tetapi bukan kehidupan dalam arti yang luas. Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan dalam menjalankan kehidupan.

Kehidupan bukanlah sekedar rutinitas. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan potensi diri kita untuk orang lain. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka dan duka dengan orang yang kita sayangi. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal orang lain. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita melayani setiap umat manusia. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai pasangan kita, orang tua kita, saudara, serta mengasihi sesama kita. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan terus belajar tentang arti kehidupan. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Kehidupan adalah ... dll.

Begitu banyak Kehidupan yang bisa kita jalani. Berapa tahun kita telah melalui kehidupan kita? Berapa tahun kita telah menjalani kehidupan rutinitas kita? Akankah sisa waktu kita sebelum ajal menjemput hanya kita korbankan untuk sebuah rutinitas belaka? Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput, mungkin 5 tahun lagi, mungkin 1 tahun lagi, mungkin sebulan lagi, mungkin besok, atau mungkin 1 menit lagi.

Hanya Tuhanlah yang tahu. Pandanglah di sekeliling kita ada segelintir orang yang membutuhkan kita. Mereka menanti kehadiran kita. Mereka menanti dukungan kita. Orang tua, saudara, pasangan, anak, sahabat dan sesama. Serta Tuhan yang setia menanti ucapan syukur dari bibir kita.

Bersyukurlah padaNYA setiap saat bahwa kita masih dipercayakan untuk menjalani kehidupan ini. Buatlah hidup ini menjadi suatu ibadah. Selamat menjalani hidup yang lebih berkualitas.

Humor : Sebentar

Seorang turis yang baru saja tinggal di Indonesia ingin berpergian ke Papua. Dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata dia menelepon sebuah agen perjalanan.

"Berapa lama perjalanan menuju Papua?" tanya turis kepada petugas.

"Sebentar, Tuan" jawab petugas sambil mencari-cari buku informasi.

"Oh, terima kasih," jawab si turis sambil menutup telepon dengan wajah cerah.

Harta Karun Untuk Semua

Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: "Stuff - The Secret Lives of Everyday Things". Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.

Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung, orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.

Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?

Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.

Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi.Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing.

Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka.

Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil.

Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, PasarBaru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada Lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu?

Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan?

Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia. Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu,permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.

Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protocol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.

Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung. Bagaimana dengan fashion? Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.

Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti 'harta karun', yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.

Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.

Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan ..

Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya... Dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?

Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.

Banyak orang yang berkomentar pada saya, "Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja." Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.

Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.

Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari.

Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.


oleh Dewi Lestari

Established in Love

Today's Scripture

“May you be rooted and grounded in love…” (Ephesians 3:17)

Today's Word from Joel and Victoria

Did you know there is tremendous power in love? In the same way that a tree will grow taller and stronger when its roots grow deep, you’ll be stronger and have more of God’s power operating in your life when you are rooted and established in love. Faith works by love, and I Corinthians 13 gives us a picture of what that looks like…among other things, love is patient and kind. It does not seek its own way. It is not jealous or boastful or proud. When you choose love instead of choosing your own way, you are showing that God is first place in your life. You are establishing yourself in love. The more you choose to walk in love, the deeper and stronger your roots will grow. And when you are established in love, you’ll have more of God’s favor and blessing upon your life! Choose love today, and let it be firm within you. Let that love build security in you and empower you. As you do, you’ll see God working through you, and you’ll live as an overcome in every area!

A Prayer for Today

Heavenly Father, I come to You today and invite You to search my heart and mind. Show me how to love others better so that I can be established in Your love. Thank You for loving me so that I can show Your love to others. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries