8:21:00 AM
Peak
1 Tesalonika 4:13 Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.
Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 34; Kisah Para Rasul 6; Keluaran 17-18
Banyak dari kita walaupun adalah orang percaya, telah menganggap dukacita dan kepedihan sebagai bagian kehidupan yang sedemikian wajar sehingga kita bahkan tidak mempertanyakannya. Bahkan sebenarnya, jika kita jujur, kita harus mengakui ada kalanya kita merasa sedih dan mengasihani diri sendiri.
Mengapa kita memilih untuk berdukacita? Karena dukacita mempunyai gejolak emosi di dalamnya, suatu gelora perasaan yang pada tahap permulaan sifatnya hampir sama seperti candu.
Tetapi kesedihan dan dukacita adalah hal-hal yang berbahaya. Beberapa tahun yang lalu Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa kedua hal itu bukanlah emosi yang tidak berbahaya seperti yang kita duga. Kekuatan di balik emosi-emosi ini sebenarnya adalah roh-roh yang diutus oleh iblis sendiri untuk membunuh, mencuri dan membinasakan damai sejahtera dan sukacita yang ada pada Anda.
Kesedihan dan dukacita adalah bagian dari serangan gencar si iblis yang menghancurkan. Yesus telah menerimanya ketika Dia mati di kayu salib (Yesaya 53). Dia menanggung kesedihan dan dukacita supaya kita tidak perlu menanggungnya. Jika kedua emosi ini datang mengetuk di pintu hati Anda, ingatlah, itu bukan emosi yang tidak berbahaya. Itu adalah musuh yang mematikan dan telah disingkirkan oleh Yesus di Golgota.
Jangan hidup seperti orang-orang yang tidak mempunyai pengharapan. Anda adalah orang yang beriman. Anda tahu bahwa Yesus Kristus mati bagi Anda dan bangkit kembali. Itu bukan hanya memberikan Anda harapan sehubungan degan kematian fisik, namun juga memberikan Anda harapan dalam setiap keadaan. Janganlah berdukacita!
Musuh yang mematikan seringkali lahir dari sikap hati kita saat meghadapi permasalahan hidup. Jagalah hati kita dengan segala kewaspadaan.
Jawaban.com
7:48:00 AM
Peak
Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, “Pak, mau beli kue, Pak?”
Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab “Tidak, saya sedang makan”. Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab “tidak dik, saya sudah kenyang”.
Setelah pemuda itu membayar kekasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir “Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah”.
Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini. Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan.
“Pak mau beli kue saya?”, pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp. 1.500,00 dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja. “Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik”. Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasih kepada orang lain.
“Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?” Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, “Saya sudah berjanji sama ibu dirumah ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang kerumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis”. Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa “kerja itu adalah sebuah kehormatan”, kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja dihadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang, dan suatu pantangan bagi ibunya, anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang kerumah ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.
Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu “kerja adalah sebuah kehormatan” ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.