Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

30 November 2009

Saya Bisa Lakukan Tanpa Pria

Karena  saya  adalah  anak sulung dalam keluarga yang semua adalah  perempuan,  saya  tumbuh  menjadi  sosok pribadi yang mandiri. Saya tidak pernah membiarkan diri saya bergantung dengan yang namanya pria. Saya merasa  tanpa pria sekalipun saya tetap bisa menjalankan kehidupan saya apa adanya.

Dalam lubuk jiwa Windy tertanam konsep yang salah. Mungkin  karena  latar  belakang  keluarga  yang  lebih  suka  dengan  anak laki-laki,  sehingga  saya merasa seandainya saya menjadi seorang laki-laki maka saya akan lebih berharga bagi keluarga.

Windy  kemudian  tumbuh  menjadi  pribadi  yang  lebih  suka  memimpin  dan mendominasi  orang, termasuk para pria di sekitarnya. Tanpa disadari, sikap ini  ia  bawa  masuk  dalam  bahtera  pernikahannya.  Namun keburukan mulai terjadi  ketika  segala  sesuatunya  haruslah  Windy yang memegang kendali.

Menjadi  wanita  yang  terbiasa  mendominasi  membuat  Windy sulit menerima kelemahan  dan  kekurangan  suaminya. Bagi Windy, Hendrik Hidayat, suaminya harus menjadi suami yang sempurna dan harus mengerti semua keinginannya.

Saya  rindu  sekali  untuk  mendapat kejutan, entah itu di hari ulang tahun saya  atau  di hari ulang tahun pernikahan saya, atau saya bisa mendapatkan setangkai  bunga  mawar  atau  bunga  yang  lain.  Yang membuat saya merasa berarti  sebenarnya  bukan  bunganya, tapi yang membuat saya berarti adalah usaha yang dilakukannya, usaha yang dilakukan oleh dia untuk membayar harga pergi  ke  mall  untuk  membeli  bunga  yang bagus dan membawanya pulang ke rumah.  Tapi  hal  itu  yang saya tidak pernah dapatkan dari Hendrik, suami saya.

Selama  ulang  tahun pertama hingga keenam pernikahan kita yang jatuhnya di bulan  September  yang  bertepatan dengan ulang tahun saya, tidak ada tahun yang  kami  lewati  tanpa konflik yang besar. Selalu kami mengalami konflik dan  yang  menjadi  masalah  adalah hadiah kejutan seperti ini. Kejutan itu tidak pernah saya dapatkan.

Perlakuan  dan sikap Windy yang selalu menuntut membuat Hendrik hidup dalam tekanan.  Dengan  alasan  menghindari  konflik  Hendrik  cenderung bersikap pasrah dan menerima semua keputusan yang dibuat istrinya.

Selama   enam   tahun  itu  saya  tidak  pernah  mengambil  keputusan  yang benar-benar  mutlak.  Contohnya  waktu  anak  saya menanyakan kepada saya :

'Papi bolehkah saya makan es krim?'.

Sebenarnya  sebagai  kepala  keluarga  saya  bisa  mengatakan  'boleh' atau 'tidak'. Tapi yang saya lakukan adalah : 'Nak, coba tanya mami'.

Kenapa  saya  mengatakan seperti ini?, sebab ketika saya mengatakan 'boleh' dan istri saya bilang 'tidak boleh' maka kami akan mengalami konflik.

Ada juga beberapa kejadian lain seperti untuk menentukan warna dari pakaian saja saya tidak berani. Ketika saya mau membeli sesuatu, contohnya pakaian, ketika  saya  sudah  pilih  dan akan membelinya, istri saya akan mengatakan bahwa  pilihan  saya  tidak  bagus. Kalau saya tanyakan dia : 'Kenapa tidak bagus?',  istri  saya hanya mengatakan : 'Kalau saya bilang tidak bagus, ya tidak bagus'. Kalau saya teruskan hal ini maka akan terjadi konflik.

Sampai  suatu  ketika  Windy  mengikuti program pelatihan wanita bijak yang membahas  tentang  fungsi dan peranan wanita dalam sebuah keluarga. Melalui program ini Windy baru menyadari bahwa ia harus menerima keberadaan dirinya sebagai  wanita  dan  harus  belajar  untuk  lebih menghargai suami sebagai pemimpin dalam suatu keluarga. Tuhan berkata-kata dalam hati Windy.

Saya  ingat  sekali  hari  itu  Tuhan  bilang  pada saya : 'Apakah saya mau melepaskan apa yang menjadi kerinduan saya selama ini yang akhirnya menjadi ganjalan  dalam  kehidupan  rumah  tangga saya, walaupun mungkin bagi orang lain  hal  seperti itu adalah kecil?. Apakah saya mau serahkan semuanya itu kepada Tuhan'. Waktu itu saya bilang pada Tuhan bahwa saya 'mau'.

Saat  itu  juga  saya  bilang pada Tuhan : 'Ok Tuhan, saya janji. Saya janji bukan  pada  diri  saya  tapi kepada Tuhan. Ok, Tuhan saya janji tidak akan tanyakan  lagi  mengenai  bunga,  saya  tidak  akan  menanyai  lagi tentang kejutan. Saya akan belajar untuk menerima Hendrik itu apa adanya.'

Ketika  Windy  memutuskan  untuk tidak lagi menyatakan keinginannya tentang kejutan yang tidak pernah didapatkannya, tanpa sepengetahuan Windy, Hendrik dan   anak-anaknya  membawakan  bunga  Rose  Belanda  kesukaan  Windy  saat menjemput  Windy  setelah mengikuti program wanita bijak. Momen inilah yang menjadi momen awal pemulihan keluarga. Windy merasakan kesegaran baru dalam hidupnya.

Seperti  ada  air  yang  mengalir di hati saya. Dan itu saya rasakan hingga detik ini. Saya amat hargai apa yang sudah dia lakukan buat saya.

Kini Hendrik Hidayat telah menjadi kepala keluarga sejati. Ketika  istri  saya  dipulihkan,  otoritas  yang  sebelumnya  tidak  pernah dilakukan, menjadi imam dalam keluarga yang tidak pernah saya jalankan, itu dikembalikan dan dipulihkan oleh Tuhan.

Achen, teman Windy menyaksikan perubahan sahabatnya.

Windy  yang  saya  kenal dulunya adalah orang yang sulit sekali tunduk pada suaminya.  Dia  merasa  bahwa dia adalah orang yang paling benar. Saya juga sering melihat Windy marah pada suaminya, Hendrik dan mengelurkan kata-kata yang  menurut  saya  tajam  dan  juga  menyakitkan.  Tetapi  setelah  Windy mengetahui  kebenaran akan Firman Tuhan, saya melihat perubahan yang nyata.

Windy yang sekarang menjadi lebih lembut

Windy menjadi manusia yang baru sama sekali.

Saya sekarang telah jauh lebih mampu menghargai Hendrik sebagai suami saya, sebagai  imam dan kepala dalam rumah tangga saya. Bahwa dia adalah pemimpin dalam  keluarga  saya.  Bahwa  saya  sebagai  istrinya,  tugas  saya adalah mendampingi  dan  menolong  dia  pada  saat dia membutuhkan pertolongan dan dukungan dari seorang istri.

Sumber kesaksian : Windy Hidayat

29 November 2009

Humor : Interview

HRD : “Nama saudara siapa?”

Pelamar : “Budi, pak”

HRD : “Coba ceritakan tentang keluarga saudara!!”

Pelamar : “Saya 2 bersaudara, adik saya masih kuliah di Jogya. Orang Tua saya tinggal di Surabaya. Kakek dan nenek dari Bapak tinggal di Solo. Kakek dan nenek dari Ibu tinggal di Semarang. Paman dan Pakde semua tinggal di Tegal.”

HRD : “Apakan saudara dapat berbahasa inggris?”

Pelamar : “Yes, sir”

HRD : “Now tell me about your family in English!!”

Pelamar : “Sorry, sir. I don't have family in English, they're all living in Indonesia”

HRD : “????”

28 November 2009

Humor : Jalan Keselamatan

Seorang anak Sekolah Minggu pulang sekolah pada hari Senin, dimana pada hari Minggu kemarin guru Sekolah Minggu mengatakan bahwa kita harus penginjilan. Sewaktu naik becak anak tersebut dengan semangat mulai menginjili tukang becak :

Si Anak : "Bang..bang becak!!!???"

Tukang Becak : "Mau saya antar kemana, dik??"

Si Anak : "Sampai umur sekian Abang sudah tahu belum 'Jalan Keselamatan' (maksudnya Kristus)???"

Dengan wajah lugu pula, abang becak itu berkata dengan bersemangat dan antusias,

Tukang Becak : "Tahu, dik. Dua ribu rupiah saja!! ....Ayo!!"

Si Anak : "?????!!!!!!"

Weekly Scipture – Roma 12:12

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! – Roma 12:12

27 November 2009

Deliverance

26 November 2009

Cacing, Burung Dan Manusia

Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing.

Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus "puasa". Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus "berpuasa". Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya "kantor" yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis akan makanan yang dijanjikan Allah.

Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga. Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati.

Tapi kita lihat, dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari makan. Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan epalanya ke batu.

Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih.

Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing?

Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi?

Padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa. Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar banyak dari burung dan cacing.

25 November 2009

Tungguhlah Beberapa Saat Lagi

David dan Lynn mulai merasa kecil hati. Restoran yang mereka miliki tidak laku, bahkan meskipun mereka telah memperpanjang jam buka mereka dan menawarkan makan malam istimewa, berharap dapat menarik lebih banyak pelanggan. Namun tak seorangpun datang. Setelah beberapa minggu tanpa terlihat perubahan apapun, Lynn berkata, "Mungkin kita lebih baik tutup dan pulang saja".

Saat itu hampir jam sebelas malam.

"Kita buka beberapa jam lagi deh," David menyarankan.

"Mengapa?"

Lynn mengerutkan dahi. "Apa gunanya sih?"

"Karena malam ini mungkin adalah malam kita mendapatkan lebih banyak pelanggan". David nyengir, dan istrinya melihat harapan bersinar di mata coklatnya yg besar. Bahkan meskipun Lynn tidak menyukai gagasan itu, ia sependapat bahwa mereka seharusnya tetap membuka restoran itu.

Sekitar 30 menit kemudian, suatu mukjizat nampaknya terjadi. Sebuah bus larut malam masuk kedalam komunitas kecil itu dan segera merasakan dinginnya udara musim dingin. Mereka cepat-cepat masuk kedalam kafe yg hangat, karena itu merupakan satu-satunya restoran yg masih buka.

Keuntungan yg diperoleh David dan Lynn malam itu membantu mengkompensasi sebagian kerugian mereka sebelumnya, namun itu baru awalnya. Segera tersebar berita bahwa restoran kecil itu tetap buka larut malam. Pelanggan datang dari semua kalangan, orang-orang yang mengemudi mobil melewati kotaitu larut malam, bus-bus yg lewat, karyawan rel kereta api larut malam. Pasangan itu bahkan harus mempekerjakan pelayan tambahan untuk putaran larut malam.

Kadangkala ketika bekerja larut malam dan siap menyerah, bila kita menunggu dengan sabar, kita akan mencapai sasaran kita. Apa yg kita dambakan mungkin tiba dalam beberapa menit. Tenanglah dalam kenyataan bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Mungkin esok merupakan sebuah siang, atau malam yang istimewa bagi kita ( through the night with God )

Simon menjawab : "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga".

“Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak” - Lukas 5:5-6

24 November 2009

Sedikit Demi Sedikit

Keluaran 23:30 - "Sedikit demi sedikit Aku akan menghalau mereka dari depanmu, sampai engkau beranak cucu sedemikian, hingga engkau dapat memiliki Negeri itu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 146; Wahyu 2; Zakharia 13-14

Ada seorang anak lelaki dengan sebuah sekop kecil di tangannya. Ia bermaksud menyingkirkan salju tebal yang baru turun dan menutupi jalan depan rumahnya. Seorang pria berhenti dan mengamati pekerjaan berat yang dilakukan oleh anak itu. "Nak" tegur pria itu, "bagaimana anak sekecil kamu dapat menyelesaikan pekerjaan seberat ini?' Anak itu menoleh dan menjawab dengan yakin, " Sedikit demi sedikit, begitulah caranya!" lalu ia menyekop lagi.

Dalam kehidupan ini kita pasti menghadapi yang namanya ujian dan tantangan yang tidak lah sedikit. Bahkan seringkali dalam pandangan kita, hal-hal itu sangatlah berat untuk kita hadapi. Kita memandang rendah kemampuan yang diberikan Allah dalam kehidupan kita. Namun, tahukah Anda, bahwa dengan mengerjakan sedikit demi sedikit ujian maupun tantangan yang ada dalam hidup ini maka kita akan dapat berhasil mengatasi semuanya itu.

Tantangan-tantangan yang dihadapi Israel ketika hendak merebut Tanah Perjanjian tampaknya sulit disingkirkan. Namun, Allah tidak menyuruh menyelesaikannya dalam sekejap. Ingatlah akan hal ini, "Sedikit demi sedikit" adalah strategi untuk meraih kemenangan.

Percayailah Allah untuk menyingkirkan gunung Anda, namun tetaplah mendaki.

Sumber: Kingdom Magazine September 2009

Jawaban.com

Bejana Pilihan

Seorang  Tuan  sedang mencari sebuah bejana. Ada beberapa bejana tersedia, manakah  yang  akan  terpilih?

"Pilihlah  aku,"  teriak bejana emas,"Aku mengkilap dan bercahaya. Aku  sangat berharga  dan aku melakukan segala sesuatu dengan  benar. Keindahanku  akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang seperti Tuanku, emas adalah yang terbaik!"

Tuan  itu  hanya  lewat  saja  tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Kemudian ia melihat  suatu  bejana perak, ramping dan tinggi.

"Aku akan melayani engkau Tuanku,  aku  akan  menuangkan  anggurmu  dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memujimu."

Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana tembaga.

Bejana ini lebar mulutnya dan dipoles seperti kaca.

"Sini! Sini!" teriak bejana itu, "aku  tahu aku akan terpilih. Taruhlah aku dimejamu, maka semua orang akan memandangku."

"Lihatlah  aku!",  panggil  bejana  kristal  yang sangat jernih. Aku sangat transparan,  menunjukkan  betapa baiknya aku. Meskipun aku mudah pecah, aku akan  melayani  engkau dengan kebanggaanku. Dan aku yakin, aku akan bahagia dan senang tinggal dalam rumahmu."

Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh.

"Engkau dapat memakai aku, tuanku, kata bejana kayu. Tapi aku lebih senang bila engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti."

Kemudian  tuan  itu  melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan hancur, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana tuan itu.

Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan kupakai, dan akan aku buat sebagai milikku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai  kebanggaan.  Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di  rak.  Tidak  juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong.Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar.Tetapi  yang kucari adalah bejana yang sederhana yang akan kupenuhi dengan kuasa dan kehendakku.

Kemudian ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki dan membersihkannya dan memenuhinya, ia berbicara dengan lembut kepadanya, "Ada tugas  yang  perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah kuperbuat bagimu."

Demikianlah  halnya  dengan  Tuhan. Ia mencari orang-orang yang rendah hati dan  mau  berjalan  menurut  kehendak dan kemauan Tuhan.

Dan tentunya orang yang mau dibentuk, sekalipun harus melalui hal-hal menyakitkan.

23 November 2009

Kemanakah Tujuan Hidup Anda?

Filipi 3:14 - "dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."

Bacaan Kitab Setahun : Mazmur 145; Wahyu 1; Zakharia 11-12

Seorang pemuda dari desa berniat mengunjungi kerabatnya yang ada di Jakarta. Dengan membawa uang secukupnya, pergilah ia ke ibukota Indonesia tersebut menggunakan bis antar kota. Sesampainya di terminal bus terakhir, turunlah pemuda itu. Alangkah kagetnya ia ketika melihat keramaian yang ada di pemberhentian bus tersebut. Berbeda sekali dengan di daerahnya.

Merasa sudah sampai di kota, dalam pikirannya ia akan dapat dengan mudah menemukan kerabatnya tersebut. Namun, dugaannya itu salah. Setiap orang yang ditanya pemuda tersebut, selalu menjawab, "memangnya alamatnya dimana?" tentu pertanyaan yang tidak bisa ia jawab karena ia sendiri tidak tahu alamatnya dimana.

Begitulah gambaran orang-orang yang percaya saat ini. Banyak dari kita merasa sudah yakin tujuan akhir hidup kita tanpa perlu mengeceknya lagi. Padahal walaupun keselamatan itu sudah kita terima dari Tuhan bukan berarti kita seenaknya berjalan di dalam hidup ini. Ada kalanya Anda harus berhenti sejenak dan bertanya kepada diri Anda sendiri, "kemanakah tujuan hidupku? Apakah aku berjalan ke arah yang salah?" Ini bukanlah pertanyaan ketidakpastian atau keraguan-raguan, tetapi ini adalah pertanyaan refleksi tentang hari-hari yang telah Anda lalui selama ini.

Ketika Anda telah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu dan ternyata menyadari bahwa memang Anda sedang salah arah, segeralah berbalik dari jalan itu dan akuilah dosa-dosa Anda kepada Kristus dan mohonlah pengampunan dari-Nya. Mintalah kepada-Nya agar Dia memimpin dan memberikan petunjuk kemanakah Anda harus melangkah. Jadikan Tuhan sebagai Tuhan atas hidup Anda maka Anda pasti akan berada di jalan kebahagiaan bersama Dia dan kini menuju ke kehidupan yang kekal penuh kemuliaan.

Hidup bergaul karib dengan Tuhan adalah keputusan paling tepat agar Anda tidak keliru melangkah di dunia ini.

Sumber: Untaian kata-kata bijak; Yayasan Komunikasi Bersama.

Jawaban.com

Penantian Sang Ayah

Tersebutlah seorang ayah yang mempunyai anak. Ayah ini sangat menyayangi anaknya. Di suatu weekend, si ayah mengajak anaknya untuk pergi ke pasar malam. Mereka pulang sangat larut. Di tengah jalan, si anak melepas seat beltnya karena merasa tidak nyaman. Si ayah sudah menyuruhnya memasang kembali, namun si anak tidak menurut.

Benar saja, di sebuah tikungan, sebuah mobil lain melaju kencang tak terkendali. Ternyata pengemudinya mabuk. Tabrakan tak terhindarkan. Si ayah selamat, namun si anak terpental keluar. Kepalanya membentur aspal, dan menderita gegar otak yang cukup parah. Setelah berapa lama mendekam di rumah sakit, akhirnya si anak siuman. Namun ia tidak dapat melihat dan mendengar apapun. Buta tuli. Si ayah dengan sedih, hanya bisa memeluk erat anaknya, karena ia tahu hanya sentuhan dan pelukan yang bisa anaknya rasakan.

Begitulah kehidupan sang ayah dan anaknya yang buta-tuli ini. Dia senantiasa menjaga anaknya. Suatu saat si anak kepanasan dan minta es, si ayah diam saja. Sebab ia melihat anaknya sedang demam, dan es akan memperparah demam anaknya. Di suatu musim dingin, si anak memaksa berjalan ke tempat yang hangat, namun si ayah menarik keras sampai melukai tangan si anak, karena ternyata tempat ‘hangat’ tersebut tidak jauh dari sebuah gedung yang terbakar hebat.

Suatu kali anaknya kesal karena ayahnya membuang liontin kesukaannya. Si anak sangat marah, namun sang ayah hanya bisa menghela nafas. Komunikasinya terbatas. Ingin rasanya ia menjelaskan bahwa liontin yang tajam itu sudah berkarat, namun apa daya si anak tidak dapat mendengar, hanya dapat merasakan. Ia hanya bisa berharap anaknya sepenuhnya percaya kalau papanya hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya.

Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya, isi hatinya. Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa tersiksa, namun ia senantiasa berada disamping anaknya, setia menjaganya. Dia hanya bisa berdoa dan berharap, kalau suatu saat Tuhan boleh memberi mujizat. Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk mendoakan kesembuhan anaknya. Setiap hari.

Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah, sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak itu berteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah yg tertidur di sampingnya. Kemudian disusul oleh pengelihatannya. Ternyata Tuhan telah mengabulkan doa sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah memutih dan tangan sang ayah yg telah mengeras penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah, sambil berkata.

Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau telah setia menjagaku.

22 November 2009

Humor : Burung Garuda

Seorang murid Sekolah Minggu yang mempunyai sifat kritis bertanya kepada gurunya,

Murid : “Pak, mengapa lambang negara kita burung garuda?”

Guru : “Karena sesuai dengan hari kemerdekaan kita, 17 Agustus 1945, 17 adalah jumlah bulu di sayap, 08 (Agustus) adalah jumlah bulu di ekor, dan 45 adalah jumlah bulu yang berada di leher.”

Murid : “Lalu mengapa negara kita merdeka tanggal 17 Agustus bukan tanggal yang lain, tanggal 02 Januari misalnya?”

Guru : “Hmmm, kalau kita merdeka tanggal 02 Januari, berarti lambang negara kita bukan lagi burung garuda melainkan capung, dengan dua sayap dan satu ekor.”

Murid : “...?”

21 November 2009

Humor : Bertengkar

Lewat tengah malam, segerombolan perampok mulai beraksi. Setelah berkeliling desa, mereka mendapati sebuah rumah dengan pintu terbuka sedikit. Aha! Ini mangsa yang tak boleh dilewatkan.

Saat masuk, mereka melihat banyak sekali kado. Rupanya di rumah ini baru saja ada pesta. Tak mau berlama-lama, mereka pun mulai bekerja. Kado-kado yang ada di ruang tamu langsung mereka angkut. Dari ruang makan, peralatan masak dan makan yang masih baru-baru habis mereka gotong.

Ketika masuk ke kamar, mereka tercengang. Terpampang jelas sepasang manusia sedang berbaring saling memunggungi. Tapi kok diam kayak patung, tidak bergerak sama sekali. Siapakah mereka? Apakah mereka pemilik rumah? Saat pandangan mereka berkeliling, terlihat baju pengantin. Mereka baru sadar, rupanya ini rumah pengantin baru. Karena berpacu dengan waktu, gerombolan itu pun beraksi tanpa memedulikan keduanya. Baju pengantin, kotak perhiasan, dan perkakas lain tandas disikat.

Kisah ini dimulai pagi tadi, sepasang kekasih menikah di depan penghulu. Pesta besar pun berlangsung, suasana begitu meriah. Tamu-tamu berdatangan, mereka makan, minum, menari, bergembira merayakan sukacita besar ini.

Malam pun tiba. Tetamu sudah pulang. Tinggallah kedua pengantin. Karena berpesta seharian, mereka kelelahan, memasuki kamar, lalu naik ke ranjang pengantin.

Belum apa-apa, terdengar derit pintu depan tertiup angin malam. Si suami ingat, pintu memang belum ditutup. Berkatalah ia, “Sayang, pintu depan belum dikunci. Turun dong sebentar, tutup pintunya ya.”

Tetapi istrinya menjawab, “Kamu ini gimana sih, aku kan capek juga, kamu aja yang turun.”

“Kamu ini istri apaan sih? Baru beberapa jam jadi istriku, sudah berani membantah. Brengsek! Emangnya kamu siapa, hah? Hayo, tutup pintunya!” balas si suami dengan suara tinggi.

Si istri tak mau kalah dan dengan kasar ia menyembur, “Sialan kamu, baru berapa jam jadi suamiku, sudah kayak raja memerintah seenak perut, main bentak. Emangnya aku budakmu, apa?”

Mereka pun bertengkar panjang lebar sambil mempertahankan argumentasi masing-masing, siapa yang seharusnya menutup pintu.

Tak tahan, akhirnya si suami berkata, “Sudah, sudah, aku capek. Gini aja: kita saling diam, tidur, dan siapa yang duluan ngomong, diayang harus menutup pintu.”

Mereka berdua pun menutup mulut rapat-rapat. Mereka pura-pura tidur, namun sebenarnya keduanya tidak bisa tidur karena saling mengintip, siapakah yang bakal kalah dalam pertarungan ego besar ini.

Saat itulah para perampok beraksi.

Ketika perampok itu sudah pergi agak jauh, si istri tidak tahan lagi lalu menyemburkan makian penuh amarah, “Lelaki guooobloook! Kamu ini gimana siiih? Sudah tahu rumah dirampok, masih aja diam kuaayak bangkeee!”

Tetapi si suami menjawab tenang dengan perasaan bahagia, “Haaa, aku menang! Sekarang, kamu turun! Tutup pintunya!”

Bukan Kebetulan

Yeremia 29:11 - "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 143; Yohanes 20; Zakharia 7-8

Suatu hari ketika saya sedang berjalan kaki menuju ke rumah, di tengah perjalanan tersebut saya bertemu teman sebangku sewaktu SMP. Pertemuan itu sungguh mengagetkan karena kami berdua sudah tidak pernah berkomunikasi lagi sejak lulus dari SMP. Dalam perbincangan yang berlangsung cukup singkat itu, teman saya berkata seperti ini sesaat sebelum berpisah, "wah kebetulan banget bisa ketemuan disini, kapan-kapan ketemuan sama teman yang lebih banyak lagi yuk." Saya pun hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju.

Saat melanjutkan langkah ke rumah, pikiran saya sedikit terganggu karena perkataan terakhir teman saya itu. Timbul dalam pikiran saya waktu itu sebuah pertanyaan, "Apakah benar bahwa pertemuan saya tadi merupakan sebuah kebetulan?" Jawaban akan hal ini cukup lama saya temukan bahkan sampai berminggu-minggu. Hingga suatu pagi ketika sedang membaca Alkitab, mata saya tertuju pada Yeremia 29:11 yang menuliskan bahwa Allah telah merancangkan segala sesuatu yang ada pada manusia dan rancangan tersebut adalah rancangan damai sejahtera. Berdasarkan ayat tersebut, berarti Allah telah mengatur kehidupan manusia dan tidak ada sesuatu di dunia ini yang terjadi tanpa diketahui-Nya.

Kita seringkali kaget ketika bertemu atau berhadapan dengan hal yang tidak diperkirakan sebelumnya, namun tidak dengan Allah. Dia adalah Tuhan yang Maha besar dan Maha Tahu. Bahkan lebih dahsyatnya lagi, Dia sudah memiliki rancangan bagi setiap kehidupan manusia.

Apakah hari-hari ini Anda merasa bahwa Allah telah salah menempatkan Anda sehingga pekerjaan dan pelayanan menjadi berjalan di tempat? Anda menganggap bahwa rancangan-Nya keliru. Bila ini adalah sikap yang Anda ambil menghadapi situasi tersebut maka meminta ampunlah kepada-Nya. Ingat, bahwa Allah tidak tidak akan membuat Anda celaka atau jatuh ke dalam dosa, akan tetapi justru Anda sedang dibawa menggenapi tujuan-Nya di dalam hidup Anda. Jadi, bersyukurlah dimana Tuhan telah menaruhkan Anda saat ini dan percaya bahwa semuanya terjadi bukan karena kebetulan.

Allah sudah mengetahui segala sesuatu dalam hidup manusia sebelum kita sendiri mengetahuinya.

Jawaban.com

Weekly Scripture – Roma 8:28

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." - Roma 8:28

20 November 2009

Belum Terlambat

Galatia 6:10a : "Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang,"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 142; Yohanes 19; Zakharia 4-6

Dalam kehidupan ini, hampir setiap manusia pasti pernah menyesal dan keadaan itu tidaklah menyenangkan. Bagi seorang suami yang meninggalkan anak istrinya berpuluh-puluh tahun, ketika dia sadar bahwa perbuatannya salah maka rasa penyesalan timbul dan akan terus menghantui dirinya. Begitu pun dengan seorang dokter yang terlambat datang ke rumah pasiennya yang menyebabkan si pasien meninggal sebelum dia diperiksa olehnya. Hati dokter itu pasti tidak akan tenang dan akan terus teringat dengan peristiwa sedih tersebut.

Kesalahan di masa lalu seringkali terbawa hingga kepada kehidupan di masa kini. Rasa penyesalan yang dalam karena tidak dapat berbuat hal baik membuat seseorang lupa dengan keadaanya saat ini. Ia tidak ingat bahwa saat satu orang pasien meninggal, masih ada pasien-pasien lain yang membutuhkan bantuannya dan menunggu untuk disembuhkan. Oleh karena itu, daripada tenggelam dalam rasa sesal, lebih baik kita melakukan apa yang dapat kita lakukan.

Rasul Paulus menulis surat kepada Jemaat Galatia yang berisi nasihat agar mereka berbuat baik kepada semua orang selagi waktu masih ada. Ia mengingatkan orang-orang percaya di sana jangan menunggu waktu bila ingin membantu mereka yang dalam kesusahan. Dan perkataan itu masih berlaku sampai hari ini.

Tentu Anda mempunyai teman-teman dekat yang belum mengenal Tuhan, saksikan iman Anda sebelum terlambat. Tentu ada orang-orang menderita yang membutuhkan perhatian, ulurkan kasih dan perhatian Anda sebelum terlambat. Marilah kita gunakan kesempatan yang masih ada untuk melakukan kebaikan, agar kita tidak menyesal setelah kesempatan itu hilang. Maukah Anda berbuat baik selama belum terlambat?

Tak ada kata telat bagi mereka yang ingin berubah menjadi baik dan memberkati orang lain.

Sumber: Untaian kata-kata bijak: Yayasan Komunikasi Bersama

Jawaban.com

Lupakah Anda?

Saya kenal seorang teman yang membenci bosnya karena bosnya itu tidak pernah memberinya kenaikan gaji. Ia pulang ke rumahnya dari kantor dengan kemarahan pada bosnya. Dan, karena tak mampu mengontrol kejengkelannya sewaktu-waktu, ia melemparkan kemarahan itu pada istri dan anak perempuannya. Ia ke tempat tidur tapi tidak dapat tidur karena sementara itu ia merencanakan cara-cara membunuh bosnya. Pagi hari ia bangun dengan keputusan untuk mendamprat bosnya; kemudian ia duduk di kursinya dan mengubur kemarahannya untuk sementara waktu.

Akan datang saatnya ketika Anda datang ke tempat tidur dan membanting bantal. Anda sama sekali sendirian dengan pikiran-pikiran Anda sendiri, aset-aset Anda dan kekurangan-kekurangan Anda. Kemudian tanyakan pada diri Anda apa yang Anda lupa lakukan selama hari yang telah berlalu tadi.

Apakah Anda lupa tersenyum, setidak-tidaknya sekali sehari?

Apakah anda lupa untuk memuji seseorang atas perbuatan baiknya? Atas kata-kata baik yang ia ucapkan?

Lupakan bahwa Anda dapat bahagia, bahwa Anda dapat membiasakan kebahagiaan?

Apakah Anda melupakan kemarahan, kekesalan, perasaan-perasaan negatif ini yangmenjauhkan Anda dari diri Anda dan membuat Anda menjadi kerdil dari sesungguhnya?

Lupakah Anda dilahirkan untuk sukses dalam hidup?

Apakah Anda lupa bahwa Anda memiliki aset-aset dalam diri Anda yang Tuhan Anda berikan?

Apakah Anda lupa bahwa Anda bermartabat karena anda diciptakan sebagai Citra Allah?

Apakah Anda lupa untuk bersikap tulus?

Apakah Anda lupa untuk memahami kebutuhan orang lain?

Apakah Anda lupa untuk berbelaskasihan ?

Apakah Anda lupa untuk percaya diri?

Apakah Anda lupa untuk menerima diri Anda apapun Anda dan tidak mencoba menjadi orang lain?

Apakah yang Anda lupakan hari ini?

Pikirkanlah satu hal yang tidak Anda ingin lupakan besok. Ini akan membuat Anda relaks danlebih baik. Adakanlah pemeriksaan terhadap diri Anda setiap hari. Hal ini menyumbangkan citra diri Anda dan memberi Anda kedamaian pikirin untuk meraih cita-cita esok hari. Lakukan sesuatu yang berarti buat diri anda sendiri maupun orang lain dan Anda akan menpunyai makna buat hidup orang lain.

19 November 2009

Chance

Lainie's career flourished after her move to California. She loved her job, the mild weather, and the circle of close friends she acquired. At 35 years of age, Lainie was content with everything in her life, except the deafening tick of her biological clock!
Lainie's last few birthdays had been dreaded reminders that she was still single and childless. Being the product of a large family, five siblings to be exact, she yearned to have a child of her own. She worried, she stewed, and studied her financial situation. Once sure she could handle all aspects of being a single mother, she discussed the situation with close friends, as well as her mother. After a bit more deliberation, she opted to go for it. As if by design, her first attempt at invitro fertilization was successful. Lainie was thrilled!
The first 27 weeks of Lainie's pregnancy were perfect and each day her excitement soared. At 28 weeks things changed in a heartbeat; the situation became critical and she was terrified. When preeclampsia reared its ugly head, an emergency C-section was the only option. Moreover, it came with no promise of survival for Mother or child. Lainie had already named her unborn son, Chance, and she prayed to God for just that a chance of survival for her child.
Weighing in at 1 pound and 15 ounces, the premature baby boy had been aptly named, for he was given a 50-50 chance of making it through his first night. Should he survive, he faced the probability of numerous health problems: mental retardation, cerebral palsy, blindness, and cystic fibrosis, to name only a few. The doctors were straightforward and not encouraging.
Lainie remained in intensive care for 10 anxiety-ridden days while her tiny son struggled to live. She held him for the first time when he was one week old. After three months in Neonatal Intensive Care, an overjoyed, yet fearful Mother took her still-fragile infant home. Lainie's mother traveled from Kansas to aid her youngest daughter and brand new grandson.
Due to chronic lung disease in premature babies, Chance would not be a daycare candidate for 2 years and Lainie was forced to make several major decisions. She left California and moved into her mother's roomy home in Kansas. Mom was more than willing to provide the emotional support Lainie needed and to help care for her young grandson.
Lainie was unable to continue her established career path in Kansas. Instead, her employment took the route of temporary jobs. Chance's therapy sessions and endless doctor appointments required her schedule to be flexible.
At 18 months of age Chance lags behind developmentally for a child his age, but he makes progress daily. It appears he has avoided all of the possible maladies that once loomed in his future. Furthermore, Chance dodged two additional obstacles that were thrown in his path those being, kidney and heart surgery. Both issues resolved themselves with no logical or scientific explanation! Since birth, it seems Chance has been cradled in God's loving hands.
When I last visited Chance, his bright eyes danced and he giggled while giving grandma high fives one after the other. In addition, the smile that graced grandma's proud face was priceless.
Despite all adjustments and challenges encountered, Chance fills Lainie's life with love, light, and joy daily. With mountains of love, a multitude of prayers, and the grace of God, chances are that Chance will lead a completely normal life..
(Kathleene S. Baker)

18 November 2009

Heavens

Mengapa Ya Tuhan?

Ayub 42:2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 140; Yohanes 17; Hagai 1-2

Pada suatu hari ada seorang petani yang terkenal begitu rajin dibandingkan dengan teman-temannya. Saat musim tanam tiba, pergilah ia ke sawah untuk menanam padi. Cuaca yang sangat mendukung dan pikiran untuk mendapat keuntungan yang besar menambah semangatnya untuk terus bekerja. Hingga tibalah satu pekan sebelum musim panen. Tanpa diduga hujan turun dengan lebatnya selama beberapa hari dan tak kunjung reda yang membuat padi-padi yang sudah ditanamnya sudah terendam air. Hancur sudah impiannya untuk memperoleh hasil panen yang besar. Petani tersebut yang sudah kecewa lalu berteriak, "apa kesalahanku Tuhan sehingga aku mengalami kerugian seperti?"

Orang selalu mengajukan pertanyaan "mengapa" bila sedang menghadapi ketidakberuntungan dan kesukaran. Pertanyaan ini penting karena menunjuk pada kenyataan bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi secara kebetulan. Namun, bukan berarti kita berhak untuk mengatakan "mengapa" setiap kali datang kepada Tuhan.

Kisah Ayub dalam Alkitab adalah contoh nyata bagaimana karena selalu bertanya tentang kata yang satu ini, hukuman Tuhan datang kepada-Nya. Sering kali Allah menyembunyikan alasan/jawaban untuk diri-Nya sendiri. Bahkan Allah menyembunyikannya jauh melampaui pengertian dan kemampuan kita dengan maksud untuk memperkuat iman kita dan agar kita sepenuhnya bersandar kepada-Nya.

Percayalah kepada Allah dengan penuh ketaatan dalam segala situasi dan kondisi. Jangan ragukan perkataan-Nya dan ketahui sudah banyak hal-hal besar menanti bila Anda setia.

Bersungut-sungut adalah penghalang Anda untuk menerima berkat Allah yang luar biasa.

Sumber: Untaian Kata-kata Bijak; Yayasan Komunikasi Bersama

Jawaban.com

17 November 2009

Pemulihan

Yeremia 33:6 "Aku akan menyembuhkan mereka dan akan menyingkapkan kepada mereka kesejahteraan dan keamanan yang berlimpah-limpah"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 139; Yohanes 16; Ezra 3-4

Pada 18 Mei 1980, seluruh dunia dikegetkan dengan peristiwa meletusnya Gunung St.Helens. Kejadian itu sangatlah luar biasa sehingga tercatat sebagai salah satu bencana alam terbesar pada zaman modern. Saat meletus, puncak gunung itu menyemburkan batu-batu yang telah hancur menjadi kepingan mulai dari besar sampai kecil setinggi 17 kilometer dan menjadi awan kelabu. Pada saat yang bersamaan, banjir batu, lumpur, dan es melanda lereng gunung itu, menghancurkan semua yang dilaluinya, menutup sungai-sungai, dan menghentikan perahu-perahu.

Untuk memulihkan Gunung St.Helens dan perbaikan wilayah yang terkena dampak letusan, Pemerintah Amerika Serikat tidak hanya menguras dana kas negara yang tidak sedikit, tetapi juga harus menunggu waktu 25 tahun hingga kondisi sekitar gunung kembali seperti semula. Sungguh sebuah perjuangan yang tidak mudah.

Dalam proses pemulihan hidup kita, Allah pun sebenarnya melakukan hal yang sama. Dia menunggu dengan sabar kita untuk bertobat dan dipulihkan ketika kita melakukan pemberontakan kepada-Nya. Dia tahu bahwa perlu waktu yang lama agar hidup kita benar-benar berubah dan itu tidak menjadi masalah bagi-Nya.

Zaman akhir ini adalah masa-masa anugerah dimana pengampunan dan kasih setia Allah berlimpah bagi manusia. Masih ada waktu untuk kita berbalik kembali kepada-Nya dan mengizinkan Dia memulihkan kehidupan kita. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini dan ambillah sekarang juga.

Darah Kristus sanggup memutihkan kembali hidup kita yang penuh dengan noda dosa.

Sumber: Kingdom Magazine Edisi Oktober 2009

Jawaban.com

Anak Anjing

Seorang petani mempunyai beberapa anak anjing yang akan di jualnya. Dia menulisi papan untuk mengiklankan anak-anak anjing tersebut, dan memakukannya pada tiang di pinggir halamannya.

Ketika dia sedang dalam perjalanan untuk memasangnya, dia merasakan tarikan pada bajunya. Dia memandang ke bawah dan bertemu mata dengan seorang anak laki-laki kecil.

"Tuan," anak itu berkata, "Saya ingin membeli salah satu anak anjing anda."

"Yah," kata si petani, sambil mengusap keringat di lehernya, "Anak-anak anjing ini berasal dari keturunan yang bagus dan cukup mahal harganya."

Anak itu tertunduk sejenak, kemudian merogoh ke dalam saku bajunya, Ia menarik segenggam uang receh dan menunjukkannya kepada si petani.

"Saya punya tiga puluh sembilan sen. Apakah ini cukup untuk membelinya?"

"Tentu," kata si petani yang kemudian bersiul " Dolly, kemari!" panggilnya.

Dolly keluar dari rumah anjingnya dan berlari turun diikuti oleh anak-anaknya. Si anak laki-laki tersebut menempelkan wajahnya ke pagar, matanya bersinar-sinar. Sementara anjing-anjing tersebut berlarian menuju pagar, perhatian anak laki-laki tersebut beralih pada sesuatu yg bergerak di rumah anjing.

Perlahan keluarlah seekor anak anjing, lebih kecil dari yang lain. Ia berlari menuruni lereng dan terpeleset. Kemudian dengan terpincang-pincang berlari, berusaha menyusul yang lain.

"Aku mau yang itu," kata si anak, menunjuk pada yang anak anjing kecil itu.

Sang petani berjongkok disampingnya dan berkata," Nak, kau tidak akan mau anak anjing yang itu, dia tidak akan bisa berlari dan bermain bersamamu seperti yang bisa dilakukan anak-anak anjing lainnya."

Anak itu melangkah menjauh dari pagar, meraih ke bawah, menggulung celana di salah satu kakinya, memperlihatkan penguat kaki dari logam yang melingkari kakinya hingga sepatu yg di buat khusus untuknya.

Ia memandang sang petani, dan berkata, "Anda lihat, tuan, saya juga tidak bisa berlari, dan anak anjing itu memerlukan seseorang yang memahaminya. "

<<<<< ^-^ >>>>>

Dunia penuh dengan orang-orang yang memerlukan seseorang lain yang mau memahaminya.

"Sebab barangsiapa malu karena Aku, Aku-pun akan malu karena orang itu di hadapan Bapa-Ku" - Lukas 9:26 (diringkas)

16 November 2009

John Wesley

Ayah John Wesley adalah seorang pendeta dan ia  menghidupi keluarganya dari gajiannya yang kecil sebagai pendeta. John wesley melihat betapa miskin dan menderitanya  keluarganya saat  itu. Oleh karena hal inilah maka ketika ia memutuskan untuk terjun di dalam pelayanan, ia tidak pernah mengharapkan akan mendapatkan uang yang banyak dan menjalani kehidupan yang berkecukupan. Ternyata, ia mengalami  kehidupan yang lebih baik daripada ayahnya. Ia mendapatkan kesempatan untuk mengajar di  Universitas Oxford dan mulai dari situ keadaan keuangan membaik. kedudukan yang  cukup penting membuatnya mendapatkan bayaran yang lumayan banyak, yaitu 30 poundsterling per tahunnya, gaji yang yang lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya sebagai bujangan pada saat itu. uang yang banyak, membuat John memuaskan dirinya dengan berbagai kesenangan.

Suatu hari di musim dingin setelah John baru selesai memasang lukisan mahal yang dibelinya, seorang pembantu datang untuk  membersihkan kamarnya. Ia melihat bahwa pembantu itu tidak memiliki pakaian  tebal untuk menghangatkan tubuhnya, selain sehelai pakaian tipis yang membungkus tubuhnya di musim dingin itu. John bermaksud memberinya uang untuk membeli baju  hangat, tetapi uangnya di belanjakan untuk lukisan-lukisan mahal.

Saat itulah  John Menyadari bahwa Tuhan pasti tidak berkenan dengan caranya menggunakan  uang.  Peristiwa musin dingin itu, akhirnya mengubah pandangan hidup John. Maka mulailah ia membatasi penggunaan uangnya, agar  bisa memberi kepada mereka yang berkekurangan. setelah mencatat semua kebutuhan hidupnya, ternyata ia hanya membutuhkan 28 poundsterling dan ini berarti ia mempunyai 2 poundsterling untuk disumbangkan kepada orang miskin.
Tahun berikutnya, gajinya menjadi 60 poudsterling  atau dua kali lipat dari gajinya semula, tetapi ia masih dapat menekan kebutuhan hidupnya dengan jumlah semula, yaitu 28 poundsterling dan ia memiliki 32 poundsterling untuk diberikan kepada sesamanya yang benar- benar membutuhkan.

Tahun berikutnya, gajinya naik lagi menjadi 90  poundsterling, namun biaya hidupnya tetap 28 poundsterling dan sisanya 62 poundsterling ia berikan untuk orang-orang miskin. Selanjutnya gajinya terus naik, sehingga ia  mendapatkan jumlah yang semakin banyak untuk diberikan.

John Wesley mengajarkan sesuatu yang sudah semakin sulit kita temukan sekarang , yaitu semakin besar pendapatan, semakin besar pula pemberian kita. ‘Kita sudah terbiasa dengan pola' semakin besar pendapatan, semakin tinggi taraf hidup, semakin besar pengeluaran.

John Wesley berkata, "Bagaimana mungkin saya mengoleksi barang-barang yang mahal yang tidak terlalu penting sementara banyak orang yang membutuhkan roti untuk tetap bertahan hidup?"

Renungkanlah teladan John wesley ini, kita  harus bijaksana di dalam menggunakan uang dan berkat yang Tuhan  berikan. Semakin bijak kita menggunakan uang, semakin  besar yang Tuhan percayakan.

15 November 2009

Humor : Neraka

Seorang warga Indonesia meninggal dan karena amal perbuatannya buruk lalu ia dikirim menuju ke neraka. Di sana ia mendapatkan bahwa ternyataneraka itu berbeda-beda bagi tiap negara asal. Pertama ia keneraka orang-orang Inggris dan bertanya kepada orang-orang Inggris di situ, “Kalian diapain disini?”

Orang Inggris menjawab, “Pertama-tama, kita didudukan di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukan di atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Lalu, setan Inggris muncul dan memecut kita sepanjang sisa hari.”

Karena kedengarannya tidak menyenangkan, si orang Indonesia menuju ke neraka lain. Ia coba melihat-lihat bagaimana keadaan di neraka AS, neraka Jepang, neraka Rusia dan banyak lagi. Ia mendapati bahwa kesemua neraka-neraka itu kurang lebih mirip dengan neraka orang Inggris. Akhirnya ia tiba di neraka orang Indonesia sendiri, dan melihat antrian sangat-sangat panjang yang terdiri dari orang berbagai negara (tidak cuma orang Indonesia saja) yang menunggu giliran untuk masuk neraka Indonesia. Dengan tercengang ia bertanya kepada yang ngantri, “Apa yang akan dilakukan di sini?”

Ia memperoleh jawaban, “Pertama-tama, kita didudukkan diatas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukkan di atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Lalu setan Indonesia muncul dan memecut kita sepanjang hari.”

“Tapi itu kan sama persis dengan neraka-neraka yang lain toh.  Lalu kenapa dong begitu banyak orang ngantri untuk masuk ke sini?”

“Di sini service-nya sangat-sangat buruk, kursi listriknya nggak nyala, karena listrik sering mati... Kursi pakunya nggak ada, tinggal pakunya aja karena kursinya sering diperebutkan... Bensinnya juga nggak ada tuh, karena harganya melambung tinggi dan setannya adalah mantan anggota DPR, jadi ia cuma datang, tanda tangan absensi, lalu pulang.”

14 November 2009

Weekly Scripture – Amsal 15:3

"Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik" - Amsal 15:3

Humor : Balada Wadkidjan

Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil bertepuk tangan, ia berteriak, "Not a play! Not a play!"

Nadine bengong. "Not a play?"

"Yes. Not a play. Bukan main."

Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah.

"Bukan main itu bukan not a play, Djan."

"Your granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok.(Orang saya sudah periksa di kamus kok)"

Lalu berpaling ke Nadine. "Lady, let's corner (Mojok yuk). But don't think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan). I just want a meal together."

"Ngaco kamu, Djan," Tukidjo tambah gemes.

"Don't be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK toch.?" Nadine cuman senyum kecil. "I would love to, but ..."

"Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin kamu jadi nggak enak)" sambut Wakidjan ramah.

"Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not be various kok (Saya nggak akan macam-macam kok)."

Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal. "Disturbing aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor (Emang itu bahasa punya moyang lu)?"

Tukidjo cari kalimat penutup. "Just itchy Djan, because you speak English as delicious as your belly button." (Gatel aja, Djan, soalnya kamu ngomong Inggris seenak udelmu dewe).

Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, "His name is also effort." (Namanya juga usaha)

13 November 2009

Mengemudikan Hidup Kita

Kita tidak pernah mempertanyakan kemana supir bus kota yang kita tumpangi akan membawa bus-nya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan, kemana Dia akan membawa hidup kita.

Seorang ayah mengajak puterinya, Asa, 6 tahun, mengendarai mobil menuju ke sebuah museum.  Sudah lama Asa menginginkannya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.

Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah, “Ayah tahu tempatnya?”, tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.

“Tahu, jangan kuatir ...”, jawab Ayah sembari tersenyum.

"Emang Ayah tahu jalan-jalannya?”

“Tahu, jangan kuatir ...”

“Benar, tidak kesasar Ayah?”

“Benar, jangan kuatir ...”, jawab Ayah tetap dengan sabar.

“Nanti kalau Asa haus, bagaimana?”

“Tenang, nanti Ayah beli air mineral ...”

“Terus kalau lapar?”

“Tenang, Ayah ajak mampir Asa ke restoran ...”

“Emang ayah tahu tempat restorannya?”

“Tahu, sayang ...”

“Emang ayah bawa cukup uang?”

“Cukup, sayang ...”

“Kalau Asa pengin ke kamar kecil?”

“Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita ...”

“Emang di musium ada toiletnya?”

“Ada, jangan kuatir ...”

“Ayah bawa tissue juga?”

“Bawa, jangan kuatir ...”, kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.

“Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?”

“Ayah cari jalan yang lebih cepat ... supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti ...”

Tidak berapa lama,  Asa kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Giliran sang Ayah yang bingung, “Kenapa Asa diam, sayang?”

“Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pasti tahu, akan antar dan bantu Asa nanti!”

Kita ini seperti Asa si anak kecil ini.  Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan terjadi dalam hidup kita.  Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi.  Padahal sesungguhnya Tuhan “sedang mengemudi” buat kita semua. 

Kadang Ia membawa ke “gang sempit” yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari "kemacetan" di jalan yang lain.  Kadang Ia memperlambat "kendaraan-Nya", kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya.

Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal-hal yang di luar jangkauan kita kepada-Nya.  Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan di depan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.

12 November 2009

Dilarang Memancing

Ada sebuah legenda mengenai seorang pendeta di sebuah paroki kecil di daerah Midwestern yang sebagai seorang muda telah melakukan apa yang menurutnya adalah sebuah dosa yang amat besar. Sekalipun ia telah meminta pengampunan Tuhan, sepanjang hidupnya ia menanggung beban dari dosanya itu. Sekalipun ia telah menjadi seorang pendeta, ia tetap tak dapat dengan tuntas meyakini bahwa Tuhan telah mengampuninya. Tetapi ia mendengar mengenai seorang wanita tua dijemaatnya yang kadangkala mendapatkan penglihatan. Di saat mendapat penglihatan tersebut, sang wanita seringkali saling berkata-kata dengan Tuhan.
Suatu hari sang pendeta berhasil mendapat cukup keberanian untuk mengunjungi wanita tersebut. Sang wanita mempersilahkannya masuk dan menyuguhkan secangkir teh. Pada akhir kunjungannya, si pendeta menaruh cangkirnya diatas meja dan memandang pada sang wanita.
“Benarkah kadang kala ibu mendapat penglihatan?”, tanyanya.
“Ya”, ia menjawab.
“Apakah juga benar, bahwa saat penglihatan tersebut, ibu seringkali berkata-kata dengan Tuhan?”
“Ya”, jawabnya.
“Mmm... jika anda mendapatkan penglihatan lagi dan berkata-kata dengan Tuhan, maukah ibu tanyakan satu pertanyaan bagi saya?”.
Sang wanita memandang sedikit heran pada si pendeta. Belum pernah ia mendapat permintaan seperti itu. “Ya, dengan senang hati,” jawabnya. “Apa yang bapak ingin saya tanyakan?”
“Mmm..” sang pendeta memulai, “Tolong tanyakan pada Tuhan, dosa apakah yang pernah dilakukan pendetanya ini di masa mudanya.”
Sang wanita, benar-benar heran sekarang, segera saja setuju. Beberapa minggupun berlalu, dan sang pendeta sekali lagi mengunjungi wanita itu. Setelah menikmati secangkir teh, dengan hati-hati dan malu-malu ia bertanya, “Sudahkah ibu mendapatkan penglihatan baru-baru ini?”
“Oh ya, saya mendapatkannya”, jawab sang wanita.
“Apakah anda saling berkata-kata dengan Tuhan?”
“Ya.”
“Apakah ibu bertanya kepada Tuhan dosa apakah yang pernah saya lakukan dimasa muda saya?”
“Ya,” sang wanita menjawab, “Saya menanyakannya.”
Sang pendeta, gelisah dan takut, ragu-ragu sejenak dan kemudian bertanya, “Lalu,apa yang Tuhan katakan?”
Sang wanita mengangkat wajahnya dan memandang si pendeta dan kemudian menjawab dengan lembut, “Tuhan mengatakan Ia tidak dapat lagi mengingatnya.”
Tuhan tidak hanya mengampuni dosa, Ia juga memilih untuk melupakannya. Alkitab menyatakan pada kita bahwa Ia mengambil dosa-dosa kita dan membenamkannya di bagian laut yang terdalam. Dan kemudian, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Corrie ten Boom, “Sesudah itu ia memasang sebuah papan bertuliskan, Dilarang Memancing.”
Jika Tuhan mengampuni kita, dapatkah kita melakukan sesuatu yang  kurang dari itu?

11 November 2009

Peka Akan Suara Tuhan

Seorang anak muda berdoa pada Tuhan karena ingin melihat mujizatNya dinyatakan. “Tuhan apabila Engkau benar-benar berkuasa turunkanlah api dari langit seperti yang Kau lakukan pada Elia. Tuhan apabila Engkau benar-benar berkuasa redakanlah semua badai yang terjadi di bumi saat ini juga seperti yang telah Engkau lakukan saat menyeberang danau Galilea.”

Setelah menunggu lama, anak muda itu tidak melihat satupun dari doanya itu terjadi. karena itu dia mulai bertanya-tanya pada Tuhan. “Tuhan dimanakah kuasaMu yang dulu? Mengapa Engkau hanya diam tanpa menjawab doaku? Apakah Engkau sudah tidak sanggup melakukannya lagi? Atau barang kali Engkau sudah terlalu tua sehingga tidak bisa melakukan hal-hal yang besar seperti dulu lagi...”

Sebulan kemudian pemuda itu mendapat sebuah surat. Di amplop surat itu terdapat tulisan “YHWH - arsitek alam semesta”. Karena penasaran dengan cepat dia membuka suratnya. Sesaat kemudian sambil membaca surat itu dia mulai meneteskan air mata penyesalan karena kebodohannya selama itu.

Surat itu berisi :
Anakku mengapa engkau buta dan tuli... Bukankan aku telah menjawab semua doamu... Aku menurunkan api dari langit, bukan untuk membakar korban bakaran yang mati, tapi untuk membakar semangat orang-orang yang telah memberikan dirinya sebagai korban yang hidup, untuk menyalakan roh mereka sehingga mereka dapat menjadi saksiKu di dunia ini. Aku meredakan semua badai di bumi, bukan badai yang mengamuk di lautan atau angin puyuh di daratan, tapi Aku meredakan semua badai yang mengamuk di kehidupan anak-anak yang Kukasihi termasuk Engkau...

Salam,
Bapa yang sangat mengasihimu

10 November 2009

Mukjizat di Sepanjang Masa

Yohanes 14:12 - "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 132; Yohanes 9; Yeremia 40-42

Suatu kali seorang anak datang kepada ayahnya untuk minta diajarkan sulap. Awalnya sang ayah enggan untuk memenuhi permintaan sang anak karena dia sedang sibuk memperbaiki mobil. Namun, putranya itu tidak bergeming dan terus memaksa sang ayah agar mau mengabulkan permintaannya. Tak sampai menunggu lama, hati sang ayah pun luluh dan akhirnya mau juga mengajarkan permainan sulap kepada putranya tersebut.

Sang ayah mulai mengambil koin dari kantong celananya. Dengan sedikit permainan kata-kata, ia mulai menunjukkan aksinya di depan buah hatinya tersebut. Anaknya itu pun hanya bisa terkagum-kagum melihat permainan sulap ayahnya. Baginya, apa yang dilihatnya tersebut merupakan sebuah keajaiban.

Sepuluh menit kemudian, sang ayah mengakhiri permainan kecepatan tangan itu dan mulai meminta anaknya meniru apa yang telah dilakukannya. Seperti layaknya seorang pemula, anaknya itu pun masih terlihat kaku mengikuti gerakan sang ayah. Pria kecil ini tidak menyerah begitu saja. Berkat ketekunan dan dorongan yang kuat, ia pun bisa melakukan aksi sulap seperti yang diajarkan ayahnya. Sekarang, ia dapat menunjukkan keajaiban itu kepada orang-orang di sekitarnya.

Tuhan Yesus memiliki kerinduan yang sama bagi murid-muridNya di bumi ini. Dia ingin setiap kita menjadi alat kemuliaan nama-Nya dalam dunia yang gelap dan memerlukan jawaban. Yesus tidak mau kita hanya menjadi penikmat mukjizat dari-Nya saja, tetapi Dia rindu kita melakukan mukjizat itu juga di tengah-tengah orang-orang yang percaya dan belum percaya kepada-Nya.

Apa yang pernah Petrus, Yohanes, Lukas, Paulus lakukan ketika mereka masih hidup, Dia ingin itu terjadi dalam hidup kita. Orang sakit disembuhkan, makanan yang tadinya berkekurangan menjadi berlimpah, dan perkara-perkara ajaib lainnya dinyatakan oleh Allah hari-hari ini melalui kita.

Anda adalah umat-Nya dan telah memiliki otoritas dari-Nya. Pakai itu dan lihatlah mukjizat demi mukjizat terjadi kemana pun dan dimana pun Anda berada.

Perkara-perkara besar yang terjadi dalam hidup Anda adalah bukti bahwa Allah itu berkuasa dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya.

Jawaban.com

God Will

* Download slideshow, please click here or visit
http://www.ziddu.com/download/6990274/God_Will.pps.html

09 November 2009

Artikel Untuk Natal

Natal hampir tiba, kami mengajak siapa saja yang ingin membagikan cerita-cerita / artikel-artikel bertema Natal yang akan kami tampilkan di rumahrenungan.com. Yang ingin membagikan koleksi cerita / artikel-nya bisa kirim kesamuel@rumahrenungan.com atau ke samuelms@ovi.com, tulis "For Christmas" di SUBJECT emailnya.

For more information please visit here.

Thank you... And we waiting... JBU all.. :)

Waktu Yang Berharga

Jack baru saja mendapatkan pelajaran berharga. Ia membuka sebuah kotak keemasan dan ia mendapati di dalamnya sesuatu yang sangat berharga juga secarik kertas yang sangat berkesan.

Waktu kecil ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil. Ia bertetangga dengan seorang duda yang istrinya sudah meninggal. Duda itu tidak mempunyai anak dan hanya tinggal sendiri. Pria malang itu melihat Jack bertumbuh dari seorang anak-anak, sampai kencan pertamanya, lulus dari kuliah, bekerja dan menikah. Jack adalah seorang pekerja keras yang gila kerja.

Ia bahkan tak ada waktu untuk putrinya dan istrinya. Setelah ia menikah, ia dan keluarganya tidak lagi tinggal di sebelah rumah pria tua itu. Mereka pindah. Suatu hari Jack mendapat telepon dari ibunya, “Ingat Pak Belser? Ia meninggal dunia hari Selasa lalu. Pemakamannya hari Kamis pagi.”

Kenangan masa kecilnya berseliweran dalam dirinya. Ia mengenang kembali masa-masa kecilnya dengan Pak Belser.

“Halo?”, suara ibunya membangunkannya.

“Iya bu, aku akan ke sana hari Rabu”, kata Jack

“Tapi kupikir Pak Belser sudah lupa tentang diriku”

“Oh tidak, Jack,” kata ibunya,

“Pak Belser selalu ingat padamu. Ia ingat akan hari-hari di mana kamu main-main di balik pagar rumahnya dan hari ketika kamu duduk di pangkuannya ketika istrinya meninggal.”

“Beliau orang pertama yang mengajariku ilmu pertukangan. Tanpa beliau, aku tidak akan mungkin terjun ke usaha ini.” kata Jack.

Sesibuk-sibuknya Jack, ia kemudian mengatur ulang jadwalnya di hari Rabu dan Kamis. Ia menghargai Pak Belser seperti ayahnya sendiri dan ia sangat ingin ada di sana ketika pemakamannya.

Hari Rabu malam ia tiba di kampung halamannya. Ia dan ibunya kemudian berjalan ke rumah Pak Belser untuk terakhir kalinya. Di beranda, ia mengintip ke dalam rumah Pak Belser. Terbesit banyak kenangan tentang masa kecilnya. Sofa yang sering ia duduk, meja makan di mana ia pernah memecahkan piring, telepon di sudut ruangan dan hey… Jack terdiam sejenak.

“Kotak emas di ujung meja itu hilang!” seru Jack.

Ibunya bingung. Segera Jack menjelaskan tentang kotak emas di ujung meja itu. Ukurannya tak lebih dari satu jengkal orang dewasa dan bercat emas di luarnya.

“Pak Belser selalu mengatakan itu miliknya paling berharga dan akan diberikan kepada seseorang yang layak menerimanya. Tapi setiap kali aku menanyakan isinya, ia selalu menjawab ‘Pokoknya berharga deh’.”

Dan sekarang kotak emas itu sudah tidak ada lagi. Dugaan Jack, mungkin diambil oleh seorang keluarga jauhnya. Dua minggu kemudian setelah pemakaman, seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk Jack. Nama Jack tertulis di atas paket itu dengan tulisan yang sangat sulit dibaca. Jack membuka paket itu… Di dalamnya ada sebuah kotak emas (persis seperti kotak emas Pak Belser yang hilang itu) dan sepucuk surat. Jack membaca surat itu,

Setelah kepergianku, tolong sampaikan kotak ini kepada Jack Bennet. Ini adalah harta paling berharga yang kumiliki

Sebuah kunci ada dalam amplop itu, kunci untuk membuka kotak itu. Hatinya bergetar, tanpa sadar ia menangis terharu, Jack perlahan membuka kotak itu. Di dalamnya dia menemukan sebuah jam saku yang indah yang terbuat dari emas. Dengan perlahan Jack membuka jam itu. Di dalamnya terukir kata-kata yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya,

Terima kasih, Jack, untuk waktumu. Ini saya berikan jam untukmu, sesuatu yang paling berharga bagiku. Harold Belser

“Yang ia hargai dariku adalah… waktuku.” serunya perlahan.

Ia menggenggam jam itu beberapa saat. Kemudian ia menelepon sekertarisnya untuk membatalkan semua janjinya untuk dua hari ke depan.

“Mengapa?” tanya Janet, sekertarisnya.

“Aku ingin menghabiskan waktu untuk keluargaku,” kata Jack

“dan Janet, terima kasih untuk waktumu.”

…………

Sobat, di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa ditarik kembali : Perkataan dan Waktu.

Waktu yang sudah lewat tidak akan bisa dikembalikan lagi. Waktu tidak bisa dipaksa mundur, tidak bisa diperlambat dan juga tidak bisa dipercepat. Waktu akan terus bergerak maju dengan kecepatan konstan. Kita tidak akan bisa kembali ke masa kanak-kanak. Kita tidak bisa mengulang satu peristiwa yang sama di waktu yang lain. Sudahkah Anda memberi waktu pada diri Anda dan sesama? Sudahkah orang lain menghargai waktu yang telah Anda korbankan kepada mereka?

08 November 2009

Humor : Memancing

Dua orang sedang duduk sambil memancing di tepi danau sepanjang hari di musim dingin yang membeku. Yang seorang tidak beruntung sama sekali dan yang lainnya sedang menangkap ikan sebesar kepalan tangan. Orang yang tidak beruntung tadi bertanya kepada orang yang satunya tentang bagaimana rahasianya memancing selalu sukses.

“Mmmmmm... mm... mmmm.. mmm... mmm... mm,” jawab orang di sebelahnya.

“Maaf, tapi kamu berkata apa?”

“Mmmmmmm... mm... mmmm.. mmm... mmm.. mm”, jawab pemancing yang sukses itu sekali lagi.

“Aku betul-betul minta maaf, tapi aku tetap tidak mengerti ucapanmu.” Orang tadi kemudian memuntahkan sesuatu ke telapak tangannya sendiri dan berkata perlahan-lahan, “Kamu harus menjaga cacing umpanmu tetap hangat.”

07 November 2009

Weekly Scripture – Amsal 15:3

"Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik" - Amsal 15:3

Humor : Salah Membangunkan

Seorang penumpang naik pesawat terbang dari Jakarta-Surabaya. Ia berpesan kepada salah seorang pramugari agar membangunkannya bila pesawat sudah mendarat di Surabaya. Tetapi penumpang itu baru bangun ketika pesawat sudah jauh sampai di bandara Ngurah Rai, Denpasar. Tak pelak orang itu amat marah dan memanggil pramugari yang tadi diberi pesan untuk meminta suatu penjelasan. Pramugari itu dengan takut dan gagap memohon maaf sementara penumpang tadi dengan memendam kemarahan turun dari pesawat.

“Ya ampun, betapa gusarnya orang itu”, komentar seorang pramugari lain kepada koleganya yang sedang sial itu.

Kata pramugari tadi, “kamu kira dia marah, kamu’kan tidak tahu orang yang aku bangunkan dan turun di Surabaya tadi!” Ternyata…?!

06 November 2009

Biarkanlah Aku Memberi

Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan hidup
Namun, sementara aku masih hidup, Tuhan, biarkanlah aku memberi penghiburan kepada seseorang yang sedang membutuhkan
Entah melalui senyuman, anggukan kepala, tindakan atau sepatah kata keramahan

Dan biarkanlah aku berbuat apa yang mampu kulakukan
Untuk meringankan beban sesamaku
Aku hanya ingin berbuat bagianku
Untuk sekedar meringankan jiwa yang lelah dan putus harapan

Untuk mengubah kerutan dahi menjadi senyuman lagi
Sehingga hidupku tidak sia-sia
Aku tak peduli berapa lama aku masih berada di dunia
Asalkan aku dapat memberi…dan memberi…dan memberi

BJ. Morbitzer

05 November 2009

Ingin Membagikan Artikel Bertema Natal?

Shalom,

Natal hampir tiba, kami mengajak siapa saja yang ingin membagikan cerita-cerita / artikel-artikel bertema Natal yang akan kami tampilkan di rumahrenungan.com. Yang ingin membagikan koleksi cerita / artikel-nya bisa kirim ke samuel@rumahrenungan.com atau ke samuelms@ovi.com, tulis "For Christmas" di SUBJECT emailnya.

For more information please visit here.

Thank you... And we waiting... JBU all.. :)

Bazaar Dana Peduli Indonesia

Bazaar Dana Peduli Indonesia


Hari / Tanggal : Minggu 15 Nov 2009
Jam                 : 14.00 - 17.00
Tempat           : Gedung Gratia
                         Jln. Dr. Sudarsono 32
                         Cirebon.

Jika ada yang mau mampir ke Cirebon, jangan lupa berkunjung ke Bazaar.. :)

JBU all…

Keagungan Dan Kesederhanaan

Impresario konser, Sol Hurok pernah menyatakan bahwa Marian Anderson, bukan saja sudah menjadi besar, tetapi di samping itu ia memiliki sifat rendah hati. Ia mengatakan,” Beberapa tahun lalu seorang wartawan mengadakan wawancara dengan Marian dan bertanya kepadanya untuk menyebut saat-saat yang besar dan tak terlupakan dalam seluruh hidupnya.

Pada saat itu, aku berada di kamar riasnya dan aku ingin tahu apa jawabnya. Aku tahu bahwa ia telah mengalami begitu banyak saat besar dalam hidupnya. Misalnya, saat Toscanini memujinya, bahwa ia mempunyai suara yang terindah di seluruh negeri.

Selanjutnya, konser pribadi yang ia persembahkan di White House untuk keluarga Roosevelt dan Ratu serta Raja dari Inggris. Kemudian, ketika ia menerima penghargaan Bok Award sejumlah $10.000, sebagai seorang yang berprestasi bagi kota kelahirannya, Philadelphia.

Dan di atas semua itu, ketika hari Paskah di Washington, saat ia berdiri di bawah patung Lincoln dan menyanyi untuk hadirin sebanyak 75.000 orang, termasuk anggota Kabinet, para hakim dari Mahkamah Agung dan sebagian besar dari anggota Perwakilan Rakyat.

Dari saat-saat yang besar itu, ia hendak memilih yang mana?

“Tidak ada yang ia pilih di antara saat-saat yang telah membesarkan namanya”, kata Hurok.

“Nona Anderson menjawab kepada wartawan itu bahwa saat yang paling besar dalam hidupnya adalah, pada hari dia pulang rumah dan mengatakan kepada ibunya bahwa mulai hari ini, ia tidak perlu mencuci pakaiannya sendiri.”

04 November 2009

Book Of Job

03 November 2009

Kutu Dalam Botol

Pernahkah anda menonton sirkus kutu? Kutu-kutu yang kecil itupun dapat dilatih untuk melakukan sesuatu yang sama seperti apa yang dapat dilakukan oleh binatang-binatang besar dalam suatu sirkus. Mereka pun dapat melakukan hal-hal yang lucu yang membuat penonton tertawa.

Namun, ada sesuatu yang menarik tentang cara bagaimana kutu-kutu itu dilatih. Bila anda memasukkan beberapa kutu di dalam satu botol dan kemudian menutup rapat botol itu, maka kutu-kutu itu berusaha untuk lari. Mereka akan meloncat-loncat beberapa kali sehingga sering mereka membentur ke tutup botol. Di dalam waktu yang amat cepat, mereka dapat mengukur jarak ketinggian dari tutup botol itu dengan tepat. Dalam usaha selanjutnya untuk keluar dari botol itu, mereka akan meloncat mendekati tutup botolnya, namun tidak pernah membenturkan dirinya ke tutup botol itu.

Nah, setelah itu, sesuatu yang amat menarik dapat kita lakukan. Kita dapat melepaskan penutup botol itu sehingga botol tetap terbuka, namun anehnya, kutu-kutu itu tetap terus meloncat-loncat hanya tetap tidak melebihi dari ketinggian tutup botol yang sudah tidak ada lagi itu.

Mereka yakin, setelah mereka beberapa kali membentur ke penutup itu, mereka tidak berani lagi meloncat lebih tinggi lagi karena khawatir membentur tutup botol yang sebenarnya sudah tidak ada lagi.

Kejadian yang luar biasa ini sesungguhnya sama dengan manusia yang pernah mengalami kegagalan beberapa kali dalam hidup mereka dan setelah itu mengira bahkan yakin bahwa mereka tidak mampu untuk mencapai ketinggian puncak sukses yang pernah mereka capai sebelumnya.

Seperti juga kutu-kutu itu, mereka pun mengurangi ketinggian cita-cita mereka sampai kepada suatu tingkat yang “aman”, namun seperti juga kutu-kutu itu, mereka tetap terperangkap di dalam botol itu tanpa dapat keluar.

Lebih baik kalau kita menjadi seperti seorang tikus. Bila seekor tikus membentur kepada suatu penghalang, ia berbelok dan dengan segera menuju ke arah yang lain, sehingga pada akhirnya berhasil mencapai cita-citanya yang tertinggi.

Kita pun dapat melakukannya bila kita tetap mengarahkan visi kita terhadap tujuan kita yang utama.

02 November 2009

Jika Anda Marah

Menteri pertahanan, Edwin Stanton, dari presiden Amerika, Abraham Lincoln pada suatu ketika menjadi marah terhadap seorang opsir yang menuduhnya bahwa ia pilih kasih. Stanton mengeluh kepada Lincoln yang menyarankan agar ia menulis sepucuk surat kepada opsir itu.

Stanton melakukannya dan setelah suratnya selesai, ia menunjukkan isi suratnya yang keras dan tajam itu kepada Lincoln. Setelah membacanya, Lincoln bertanya,” Apa yang anda ingin lakukan dengan surat ini?” Dengan rasa heran, Stanton menjawab,” Disampaikan kepadanya, tentunya” Lincoln menggelengkan kepalanya. “Janganlah mengirim surat ini, melainkan buanglah ke dalam keranjang sampah. Itulah yang kulakukan bila aku menulis sepucuk surat dengan disertai dengan perasaan marah. Isi suratmu itu baik dan aku yakin bahwa anda merasa lega dan lebih tenang setelah menulisnya. Kini, buanglah surat itu dan menulislah untuk kedua kalinya.”

Today in the Word, February 1991

01 November 2009

Humor : Tembok Ratapan

Seorang wartawan diberi tugas untuk pergi ke Yerusalem. Ia mendapatkan sebuah apartemen yang mempunyai pemandangan ke arah Tembok Ratapan. Setelah berdiam kurang lebih beberapa minggu, ia baru sadar, bahwa setiap kali ia memandang ke arah Tembok Ratapan, ia melihat seorang Yahudi tua sedang berdoa secara bersemangat.

Wartawan itu bertanya-tanya, apakah mungkin ia bisa mendapatkan suatu cerita yang layak dimuat dalam korannya. Ia turun dan menuju ke Tembok Ratapan itu, memperkenalkan diri kepada orang tua itu dan berkata, “Anda setiap pagi datang ke sini untuk berdoa. Apa yang anda doakan?”

Orang tua itu menjawab, “Apa yang kudoakan? Pada pagi hari aku berdoa untuk perdamaian dunia, kemudian aku berdoa untuk persaudaraan manusia. Lalu aku pulang untuk minum teh, dan kembali ke sini untuk berdoa bagi pemusnahan akan segala penyakit dari bumi.”

Wartawan itu amat terkesan akan kegigihan orang tua tadi. “Maksud anda, anda datang ke tempat ini setiap hari untuk mendoakan hal-hal itu?”

Orang tua itu mengangguk kepalanya.

“Sudah berapa lama anda datang ke tempat ini berdoa untuk hal-hal itu?”

Orang tua itu termenung sejenak kemudian menjawab, “Berapa lama? Mungkin dua puluh, dua puluh lima tahun.”

Wartawan dengan heran akhirnya bertanya, “Bagaimana perasaan anda untuk datang berdoa selama 20 tahun akan hal-hal itu?”

“Bagaimana rasanya?”, jawab orang tua itu. “Rasanya seperti berbicara terhadap sebuah tembok!”