Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

06 January 2012

Kasih Terjadi dalam Sekejab Mata

Walaupun hari masih pagi, segala sesuatu kelihatannya sudah serba salah.

Keadaannya semakin lama semakin parah ketika aku menjatuhkan sepotong jeruk di atas lantai. Gelas dan air jeruknya yang lengket tumpah sampai ke sudut terjauh dari dapur, mengotori almari-almari dan isinya.

Dengan hati yang masgul, aku memandang segala sesuatu yang serba berantakan itu dan akhirnya aku melemparkan diri di atas kursi sambil menangis karena perasaan kesal bahwa “hari ini benar-benar bukanlah hariku”.

Namun, terlepas hari baik atau tidak, aku harus pergi belanja. Dengan dihinggapi rasa khawatir dan perasaan mental negative, aku masuk mobil untuk pergi ke pusat kota. Dalam waktu beberapa menit yang kuperlukan untuk ke bank, aku telah mengambil suatu keputusan. Aku tidak mau agar orang lain menjadi korban dari hariku yang buruk ini. Sebaliknya aku ingin tetap sopan dan ramah. Dan akupun tidak mau MEMBALAS DENDAM ketika pengemudi yang ceroboh itu yang berada di depanku yang tiba-tiba berhenti sehingga menyebabkan aku harus menginjak rem mobilku dengan mendadak sehingga isi dari botol minumku tumpah mengotori mobilku.

Selagi aku antri menanti giliranku untuk dilayani, aku sedang berbicara dengan diriku sendiri. Sebenarnya, aku sedang menyalahkan diriku sendiri. Semua kejadian di pagi hari ini yang serba salah dan berakumulasi menjadi hari yang buruk bagiku, adalah hal-hal yang kecil, tidak penting dan sepele. Aku bertindak berlebihan. Aku menuruti perasaanku dan kasihan terhadap diri sendiri. Aku ingat akan ratusan, bahkan ribuan jiwa yang telah menjadi korban dari kekejaman para teroris, perang di Irak dan tsunami.

Untuk kedua kalinya di hari itu aku mengeluarkan air mata ketika aku merasa betapa aku sebenarnya merasa terputus hubungannya dengan mereka yang berusaha untuk mengatasi akan penderitaan mereka dalam hidup ini. Mereka rasanya berada begitu jauh dan tak dikenal, sehingga aku menjadi lebih sadar dan yakin bahwa aku sedang menjadi seseorang yang hanya mementingkan diri sendiri dan orang yang egois.

Aku menjadi sadar bahwa kerinduanku dan usahaku menjadi seseorang yang peduli dan sayang terhadap mereka yang membutuhkannya merupakan sesuatu yang kosong dan sia-sia.

Suatu suara mengejutkan aku dari hasil perenungan mentalku. Entah bagaimana, aku berhasil menyelesaikan transaksi perbankanku untuk kemudian menjadi sadar bahwa pegawai bank itu berusaha untuk mendapat perhatianku.

“Nyonya”, katanya, “Nyonya!”

Kemudian ia melakukan sesuatu yang luar biasa. Kedua tanganku berada di atas counter. Ia kemudian meletakkan kedua tangannya di atas tanganku. Sentuhan terjadi cepat namun dirasakan seakan-akan seperti aliran listrik. Dan dalam sekejap mata itulah, duniaku bergeser.

Pada saat tangannya menyentuh aku, maka pikiranku yang penuh dengan kepentingan diri sendiri sirna. Aku telah menemukan pengertian dan dukungan. Aku tahu bahwa kasih disalurkan dari hati wanita yang hangat itu dan masuk ke dalam hatiku. Aku telah diberi suntikan infus dengan keyakinan yang kuat – bahwa aku telah mendapat kasih sayang. Aku tak dapat berbicara. Aku hanya tersenyum, dan inilah senyumku yang pertama di hari itu. Namun itu bukanlah senyumku yang terakhir, karena dari saat itu seluruh hariku mengalami perubahan.

Annie

Andalkan Yesus!

Bacaan Setahun : Ayub 10-13
Nats : Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali (Matius 8:23-27)

Bacaan : Matius 8:23-27

Anak saya, Sam, tidak dapat memejamkan matanya. Suara tikus yang berlari di langit-langit kamar membuatnya takut. Saya mengingatkannya tentang cerita Yesus meredakan angin ribut. Segera setelah itu Sam berteriak sambil mengangkat tangannya, "Yesus tolong. Tikus pergi!" Sam memandang saya, sambil tersenyum ia berkata, "Ma, Yesus pintar. Tikusnya pergi!" Hanya dengan mengingat satu cerita itu, Sam yakin bahwa Yesus juga berkuasa mengatasi tikus-tikus yang mengganggunya.

Banyak orang menuntut bukti untuk dapat memercayai Tuhan. Namun, jika kita mau jujur, melimpahnya bukti tidak menjadi jaminan bahwa seseorang akan lebih percaya kepada Tuhan. Ini masalah hati. Murid-murid Yesus, misalnya. Mereka bu-kan hanya mendengar satu cerita, tetapi menyaksikan langsung berbagai mukjizat yang dilakukan Yesus (lihat ayat 1-17). Toh, begitu angin ribut mengamuk dan gelombang menerpa, mereka dilanda ketakutan yang sangat. Ketika mereka datang minta tolong, Yesus menegur mereka (ayat 25-26). Yesus tahu bahwa hati murid-murid lebih dikuasai ketakutan daripada keyakinan akan kuasa-Nya.

Alam semesta dan Alkitab dipenuhi berbagai kesaksian akan keajaiban karya Tuhan. Demikian pula kehidupan orang-orang per-caya, termasuk Anda tentunya. Seberapa banyak kita menyimak-nya? Tuhan tidak berubah. Dia memegang kendali atas kehidupan, dulu, sekarang, dan selamanya. Masalah apa yang membuat Anda terombang-ambing dalam ketakutan hari ini? Ingatlah siapa Tuhan dan serahkanlah masalah Anda kepada-Nya. Anda dapat mengandalkan-Nya --SWS

KUASA YESUS TIDAK PERLU DIRAGUKAN
APAKAH ANDA MEMERCAYAI-NYA

Sabda.org