Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

26 October 2008

Burned-Out On Religion?

Then Jesus said, “Come to me, all of you who are weary and carry heavy burdens, and I will give you rest. Take my yoke upon you. Let me teach you, because I am humble and gentle, and you will find rest for your souls. For my yoke fits perfectly, and the burden I give you is light.” Matthew 11:28-30 (NLT)

Jesus might have asked: “Aren’t you tired and burned-out on all that religious stuff? Look, come walk with me, and I’ll help you recover your life – your real purpose – and even though it will require some hard, very hard work, you’ll be energized by it because you’ll be living life to its fullest. You’ll be doing exactly what my Father created you to do, and more importantly, you’ll be exactly who I want you to be.”

In taking on the Jesus-yoke, he is asking us to join the school of Christ. In ancient times, when a student studied under a specific teacher, it would be said that the student took on the teacher’s yoke; the student was yoked to the master.

Within that context, consider these words from Jesus: “Take my yoke upon you. Let me teach you, because I am humble and gentle, and you will find rest for your souls. For my yoke fits perfectly, and the burden I give you is light.” (Matthew 11:29-30, NLT)

Jesus says, by walking with him, we’ll learn how to walk with God. We don’t learn from afar; we learn from a caring and committed teacher-student relationship – caring and committed on both sides.

The Christian walk is not a lesson in how to run off doing things for Jesus while we ignore him. Our Christ-walk is a journey with Jesus, where he is very personal and specific about our growth and spiritual maturity.

What does this mean?

· Are you tired? – Jesus will teach you how to find rest in God, not a rest absent of stress, but the rest that results from believing in God’s faithfulness. Ask God to show you what blocks you from believing fully in his faithfulness, and then ask him to break those blockages down.

· Are you confused? – Join Jesus at his school of Christ, and watch him, listen to him, ask him to renew your purpose.

· Ask to be teachable – Tell Jesus you want to be yoked to him, and that you want to learn from him. Ask him to keep your heart teachable.

by Jon Walker

© 2008 Purpose Driven Life. All rights reserved.

Menjaga Tubuh Tetap Bugar

"Tukar kursi goyang Anda dengan sepatu olahraga". Ya, kursi goyang identik dengan kemalasan.

Sama halnya dengan menu makanan berkualitas, olahraga tak dapat digantikan oleh aktivitas apapun. Berolahraga secara rutin membuat tubuh menjadi bugar. Tubuh bugar mengantar kita hidup lebih panjang.

Kita tidak harus memilih olahraga khusus apapun menggunakan alat tertentu. Berjalan kaki adalah pilihan paling murah, tetapi bukan sekedar berjalan kaki. Kita mesti berjalan dengan penuh semangat (brisk walking), yaitu jenis jalan kaki yang menghasilkan degup jantung optimal. Ketika jantung berdegup optimal. Ketika jantung berdegup optimal, tingkat aerobik akan tercapai. Aerobik terjadi ketika enam puluh persen degup jantung maksimal tercapai, yaitu enam puluh persen dari (220-umur). Yang berumur lima puluh tahun degup jantungnya mencapai 102 per menit. Pertahankan degup jantung tersebut selama 40-45 menit.

Berolahraga tidak identik dengan mencari keringat. Apa pun olahraga yang Anda pilih, targetnya adalah aerobik. Namun, seiring dengan usia yang terus bertambah dan persendian yang tidak utuh lagi, tidak semua olahraga aman bagi Anda. Joging, lari, atau lompat, tak cocok lagi dilakukan saat usia baya. Tulang rawan dan minyak sendi sudah menipis. Karena itu, olahraga berat membuat sendi lutut, pinggul, dan pinggang "rontok". Padahal, berjalan kaki saja sudah bisa meraih aerobik tanpa perlu merusak sendi.

Dan, supaya persendian aman, kita mesti menggunakan alas kaki saat berolahraga. Bukan sembarang sepatu, kita perlu memilih yang empuk dan konstruksinya sesuai dengan anatomi kaki. Kualitas sepatu yang kita pakai menentukan nasib sendi yang memikul tubuh. Jika sepatu tak berkualitas, bobot tubuh akan dipikul lebih berat oleh lutut, pinggul dan pinggang.

Sepatu empuk menjadi semacam pegas (shock absorbent) bagi bobot tubuh. Karena itu, tanpa pegas, sendi harus memikul bobot lebih berat; akibatnya bisa mencederai sendi. Sendi yang cedera inilah yang memunculkan keluhan encok.

Bernapaslah Setiap Kali Anda Ingat
Selain berolahraga, kesegaran tubuh dapat kita capai saat sel tubuh mendapatkan asupan makanan yang cukup. Dan, sel tubuh mendapatkan makanan dari oksigen yang kita hela. Namun, porsi oksigen yang masuk ke dalam tubuh belum tentu mencukupi; tergantung seberapa dalam napas dihela dan seberapa tebal kandungan oksigen yang tersedia di udara.

Sehari-hari, kita jarang mengambil napas dalam, terlebih jika kita kurang melakukan aktifitas fisik. Hasilnya, paru-paru kita kurang mengembang dan laju napas pun melamban karena kurangnya asupan oksigen.

Kekurangan oksigen membuat sel-sel menjadi layu, kurang gizi, dan lekas mati. Fungsi organ tubuhpun akan menurun jika sel kekurangan makanan. Organ akan terganggu jika pasokan oksigen tak mencukupi. Dan pada titik tertentu akan membuat organ tak berfungsi lagi. Serangan jantung koroner dan stroke merupakan akibat kurangnya oksigen yang diserap jantung dan otak. Sementara itu, bagi pengidap jantung koroner, pascastroke, atau anemia, udara pengap akan membuat penyakit menjadi semakin berat. Jika sebagian pembuluh darah koroner dan otak sudah tersumbat, akhirnya darah mesti mengangkut oksigen lebih pekat.

Selain jarang menghirup napas dalam, kondisi oksigen di udara yang semakin menipis juga mempengaruhi sel-sel kita. Sel tak dapat bertahan hidup lebih lama karena tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup.

Menghela napas dalam dapat kita lakukan saat kita tengah berolahraga. Atau, kita mesti menyempatkan menghela napas dalam selama kurang lebih 10-20 menit setiap hari. Lakukanlah setiap saat dan dimana pun Anda mengingatnya : ketika di ruang tunggu, menonton televisi, membaca dan sebagainya.

Jika kita berada di ruang yang berpendingin udara, hendaknya masih ada ventilasi supaya sirkulasi udara tetap terjaga. Ruang pengap berpendingin udara sesungguhnya menambah tipis oksigen yang kita hirup.

Oleh sebab itu, kita perlu menarik napas dalam dan memilih tempat yang menyediakan udara yang lebih segar.

Oleh : Hendrawan Nadesul