Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

28 July 2008

Sebuah Kemauan

Roma 5:3-4 : "Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan."

Pada tahun 1883, seorang insinyur bernama John Roebling terinspirasi untuk membangun sebuah jembatan yang menghubungkan kota New York dengan Long Island. Para pakar dunia berpikir bahwa ide John itu mustahil dan menyuruhnya untuk melupakannya. Tidak bakal terealisasi. Tidak praktikal. Tidak akan terselesaikan.

John tidak bisa mengacuhkan visi di dalam pikirannya tentang jembatan ini. Dia memikirkannya sepanjang waktu dan dia tahu dalam hatinya kalau itu pasti bisa terjadi. Dia hanya perlu membagikan impian itu kepada orang lain. Setelah diskusi yang panjang dan lama, ia berhasil meyakinkan anaknya, Washington, seorang insinyur muda bahwa jembatan itu bisa dibangun. Bekerja sama untuk pertama kalinya, ayah dan anak itu membangun konsep jembatan itu. Dengan penuh semangat dan tantangan yang menghadang, mereka mulai memperkerjakan tukang dan membangun jembatan impian itu.

Awalnya proyek ini berjalan baik, tetapi beberapa bulan kemudian terjadi kecelakaan di proyek yang menewaskan John. Washington saat itu selamat dengan luka-luka dan mengalami sedikit kerusakan otak yang menyebabkan ia tidak bisa berjalan, berbicara bahkan bergerak.

"Sudah dibilang kan, orang gila dan impian gila, suatu kebodohan untuk mengejar visi gila". Semua orang melontarkan komentar dan berpikir kalau proyek itu akan berhenti karena hanya John yang tahu cara membangunnya. Tetapi Washington tidak pernah kecewa. Ia masih punya semangat untuk menyelesaikan jembatan itu. Ia mencoba untuk mendorong dan membagikan semangatnya kepada teman-temannya, tetapi mereka terlalu takut dengan tugas itu.

Washington tidak pernah menyerah. Yang bisa ia lakukan adalah hanya mengobarkan hatinya untuk menggunakan otak dan menggerakkan jarinya untuk memberi instruksi kepada istrinya. Kelihatannya bodoh, tetapi proyek akhirnya berjalan kembali. Selama 13 tahun, Washington menggunakan jarinya untuk memberi instruksi kepada istrinya sampai jembatan itu benar-benar selesai.

Hari ini, Jembatan Brooklyn berdiri dengan kokoh menyiratkan semangat dan kemauan yang tidak pernah padam karena keadaan. Sebuah kebanggan bagi para mandor dan tukang kepada seoarang yang dicemooh oleh setengah penduduk dunia. Juga sebuah monumen cinta dan pengabdian seorang istri yang dengan sabar menyampaikan pesan suaminya dalam pembangunan selama 13 tahun.

Sumber : Devoted Failing Forward

Temukan "Sweet Spot" Anda!

"Sweet Spot" (titik tertentu dalam diri kita yang membuat kita merasa senang melakukan sesuatu). Hidup di sweet spot bergulir seperti kalau ada kita bersepeda menuruni sisi bukit dan di dorong oleh angin. Hidup menjadi manis rasanya apabila anda menemukan sweet spot anda itu. Namun, bagaimana anda melakukannya? Yang diperlukan hanyalah menggali keunikkan anda.

Periksalah kemampuan Anda dan temukanlah apa yang Tuhan tetapkan bagi anda. "Jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus" (1 Petrus 4:11). Apabila Allah memberi tugas, dia juga memberi keahlian. Pelajarilah keahlian-keahlian anda untuk menyingkapkan tugas anda.

Anda mempunyai sebuah panggilan luar biasa untuk suatu kehidupan yang luar biasa. "Roh Kudus telah mengaruniakan kepada masing-masing kita jalan istimewa untuk melayani orang lain (1 Korintus 12:7). Betapa kelirunya dalih "saya tidak punya apa-apa untuk diberikan".

Jangan khawatir akan keahlian-keahlian yang tidak anda miliki. Anda hanya perlu mengembangkan keunikan anda. Dan lakukanlah itu untuk membuat perkara besar dari Allah.

"Segala sesuatu berasal dari Allah. Segala sesuatu hidup oleh kuasa-Nya dan segala sesuatu itu untuk kemuliaan-Nya" (Roma 11:36). Kita hadir untuk memperlihatkan Allah, untuk mempertunjukkan kemuliaan-Nya.

Nyatakanlah Dia. Wartakanlah Dia. "Allah telah memberikan berbagai karunia kepada kamu masing-masing dari beraneka ragam kasih karunia-Nya. Kelolalah karunia itu dengan baik ... Maka Allah akan dimuliakan" (1 Petrus 4:10-11)

Perlihatkanlah Allah dengan keunikan Anda. Ketika peran serta anda meningkatkan keharuman nama Allah, hari-hari anda tiba-tiba menjadi manis. Dan agar bisa benar-benar mempermanis dunia anda, pakailah keunikan anda untuk memuliakan Allah ... dalam hidup anda sehari-hari.

Yahweh bekerja pada enam hari pertama penciptaan. Yesus berkata, "Bapa-Ku tidak pernah berhenti bekerja, maka Aku tetap bekerja juga" (Yohanes 5:17). Karier anda menghabiskan setengah dari waktu hidup anda. Apakah empat puluh sampai enam puluh jam seminggu itu tidak menjadi milik-Nya juga?

Dikutip dari : Temukan "Sweet Spot" Anda!, Max Lucado, Gloria Graffa, 2008

Humor : Penjaga Toko

Penjaga toko sangat marah karena di sebelahnya dibuka toko yang mirip dengan tokonya, dan memasang papan pengumuman besar: "Harga Terjangkau".

Kemudian di sebelah kanan tokonya, dibuka juga toko lain yang memasang papan pengumuman yang lebih besar: "Harga Termurah".

Si penjaga toko panik, sampai akhirnya dia dapat ide. Ia memasang papan pengumuman paling besar di tokonya sendiri dengan tulisan

"Pintu Masuk Utama".

Rancanganmu Bukan Rancangan-NYA

Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa Suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawanya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Allah, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Allah dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Allah yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Allah. Ia tahu bahwa Allah ada, namun tidak mempercayai-Nya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Allah yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru. Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.

Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Allah mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, "Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan." Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis. Lalu Tuhan berkata, "Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju." Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah. Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.

Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Allah telah memakainya sebagai alat-Nya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu.

(Diambil dari Inspirational Christian Stories oleh Vincent Magro-Attard)
------------ ---------
Untuk dapat melihat kehendak Allah digenapkan di dalam hidup anda, anda harus mengikuti Allah dan bukan mengharapkan Allah yang mengikuti anda. (Dave Meyer, Life In The Word, Juni 1997)
------------ ---------
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.... " (Pengkotbah 3:11)
------------ ---------
Apa yang kau alami kini, mungkin tak dapat engkau mengerti, Satu hal tanamkan di hati, indah semua yang Tuhan beri. Tuhan-mu, tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti, Cobaan yang engkau alami takkan melebihi kekuatanmu.

Avoid Strife

Today's Scripture

“ It is an honor for a man to cease from strife ” (Proverbs 20:3)

Today's Word from Joel and Victoria

Strife is a very destructive force. It can creep into relationships by starting small, maybe through a comment or a wrong look from someone, and can then escalate into something much bigger. But when you choose to cease from strife and overlook an offense, you are acting honorably, and you are honoring God. How do you avoid strife? The Bible tells us that love covers over many offenses. It means that you give people the benefit of the doubt. You consider what they may be going through over how they reacted to you. Maybe someone was short with you at the office, but they may have a loved one in the hospital, or they may have some other concern. Instead of getting upset, walk in love—be patient, be kind to them. Choose to avoid strife. Look for ways to walk in unity with the people in your life. The Bible says that He has commanded the blessing when we walk and live in unity. Choose unity today and watch the hand of the Lord move mightily on your behalf!

A Prayer for Today

Father God, today I choose Your ways. I invite Your plan to unfold in my life. Help me to avoid strife so I can walk in peace and unity and honor you all the days of my life. In Jesus’ Name. Amen.

Joel Osteen Ministries