8:53:00 AM
Peak
Nats : Ketika hatiku merasa pahit ... aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu (Mazmur 73:21-23)
Bacaan : Mazmur 73:1-5, 21-26
Aku memanggil-Mu, ingin bergantung pada-Mu, tetapi Engkau tak menjawab. Aku sendirian .... Di mana imanku? Yang ada hanya kehampaan dan kegelapan." Demikianlah Ibu Teresa menuliskan salah satu suratnya. Ketika surat-surat pribadinya dipublikasikan, orang kaget. Tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang rohaniwan terkenal seperti dia bisa mengalami kebimbangan hidup? Bahkan, meragukan imannya? Bukankah dunia mengenalnya sebagai tokoh yang begitu mencintai Tuhan dan sesama?
Hal ini tidak mengherankan. Pemazmur pun pernah bimbang akan kehadiran Tuhan. "Seperti hewan aku di dekat-Mu," katanya. Anjing peliharaan hanya paham beberapa instruksi tuannya. Pengertiannya terbatas sekali. Tak bisa ia memahami maksud sang tuan sepenuhnya. Seperti itulah kondisi pemazmur. Ia tak mengerti, mengapa Tuhan membiarkan orang jahat hidup enak dan jaya. Ia yang hidup bersih justru "nyaris tergelincir". Namun ia bertekad, "aku tetap didekat-Mu." Itulah yang membuatnya tetap bertahan di masa bimbang. Akhirnya, pelan-pelan Tuhan membukakan rencana-Nya dan membuat ia mengerti maksud-Nya.
Saat hidup tampak tidak adil, bisa jadi kita pun bimbang. Merasa Tuhan seolah-olah tak ada dan tak berkuasa. Kita meragukan pimpinan-Nya. Ini wajar. Tiap orang percaya pernah mengalaminya. Yang penting bagaimana sikap kita ketika menjalani masa itu. Dalam kebimbangan, Ibu Teresa tetap giat melayani sesama. Pemazmur memilih tetap mendekat pada Tuhan. Kita pun dapat memilih untuk tetap ada di jalan-Nya, sekalipun ada saat di mana hadir-Nya tidak nyata terasa -JTI
MATAHARI SELALU ADA SEKALIPUN AWAN MENUTUPINYA
TUHAN SELALU ADA SEKALIPUN MASALAH KITA MENUTUPINYA
SABDA.org
8:42:00 AM
Peak
Pada suatu peperangan, pasukan Napoleon menderita kekalahan yang hebat hingga hanya tersisa seratus pasukan lebih. Hal ini tentu saja membuat mereka bersembunyi sambil menunggu saat yang tepat untuk menyerang secara gerilya.
Namun yang membuat Napoleon berpikir adalah bagaimana cara membangkitkan semangat anak buahnya. Makanan sudah menipis, istirahat kurang sedangkan perang yang tidak mengenal waktu itu tak kunjung selesai. Belum lagi kekalahan yang baru saja mereka derita membuat mereka kehilangan banyak pasukan dan amunisi. Tentu saja hal ini membuat semangat pasukannya lemah.
Ia memutuskan untuk menambah jumlah pasukan dengan merekrut anak-anak muda dari kota yang mereka taklukkan minggu sebelumnya. Jumlah yang didapat tidak terlalu menggembirakan, hanya sepuluh orang, namun Napoleon sudah memutuskan untuk melanjutkan gerilya pada keesokkan harinya.
Seorang anak muda tuna rungu mendapat bagian untuk menabuh genderang. Dia dianggap kurang cocok untuk memegang senjata. Yang lainnya hanya menggunakan senjata seadanya karena keterbatasan amunisi.
Saat peperangan pun tiba. Ketika genderang menyerang ditabuh, pasukan Napoleon maju. Setelah beberapa saat, Napoleon merasa pasukannya terdesak, lalu ia berteriak kepada si penabuh genderang untuk memukul isyarat mundur. Tetapi karena ia tuna rungu, ia tidak dapat mendengar perintah Napoleon. Ia terus bersemangat menabuh genderang sambil maju ke depan. Ia tidak tahu keadaan yang sebenarnya, ia hanya menjalankan tugasnya.
Pasukan Napoleon yang sedang terdesak melihat keberanian si penabuh genderang maju ke depan, sambil menabuh isyarat menyerang. Mereka heran sekaligus kagum melihat keberaniannya. Semangat mereka tiba-tiba muncul seperti api yang menyambar bensin. Mereka maju dengan berani dan memukul mundur pasukan musuh. Hari itu mereka menang besar, tanpa kerugian yang berarti.
Allah bisa memakai kekurangan kita sebagai kelebihan. Ia mampu mengubah hal buruk menjadi kebaikan untuk kita, juga untuk mereka yang menganggap rendah diri kita.
8:36:00 AM
Peak
Gereja yang hidup adalah gereja yang meminjam istilah Dietrich Bonhoeffer (ke dalam bermakna, ke luar relevan). Dengan kata lain, kehadirannya dirasakan tidak hanya oelh umat, tetapi juga oleh masyarakat di sekitarnya. Gereja yang hidup pada dirinya sendiri adalah Injil, kabar baik, bukan hanya bagi para warga jemaat di dalamnya, melainkan juga bagi masyarakat di luar gereja. Ia seperti "oase" di tengah padang gurun dunia. Berikut ini adalah 7 karakteristik gereja yang hidup.
-
Visi yang jelas
Visi seumpama titik terang di ujung lorong yang gelap, kepadanya segala daya dan upaya diarahkan. Visi tidak hanya akan menjawab pertanyaan untuk apa gereja itu ada, tetapi juga kemana gereja itu akan mengarah. Oleh sebab itu, gereja ada tidak sekadar "menggelinding". Padat programnya, sibuk aktivitasnya, tetapi tidak jelas maknanya. Gereja mesti tahu kemana arah tujuan dan apa yang ingin di capai. Ia tidak berjalan bagai dalam labirin tak berujung.
Dalam
Amsal 29:18 versi King James dikatakan, "
Where there is no vision, the people perish." Tanpa visi, rakyat binasa (Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan : "Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat"). Memiliki visi sempurna anak panah yang punya sasaran bidik, titik dimana semua energi, kemampuan, dan perhatian seluruh anggota diarahkan, landasan sekaligus tujuan dari semua kegiatan dan program gereja.
-
Struktur organisasi yang dinamis
Tidak ada yang meragukan peran Roh Kudus dalam gereja. Namun, hal itu bukan berarti gereja tidak perlu ditata. Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur (
1 Korintus 14:40). Struktur organisasi yang dinamis memungkinkan "aturan main" yang jelas, tegas, sekaligus terarah, sehingga gereja cepat tanggap, bereaksi secara akurat, dan berinteraksi secara tepat. Ketidakharmonisan bisa diminimalkan, potensi yang ada pun bisa disalurkan lebih efektif dan efisien untuk mencapai visi.
-
Ibadah yang hangat
Guru Sekolah Minggu bertanya kepada seorang anak, "Mengapa tidak boleh berisik di gereja?" Si anak menjawab, "Karena mengganggu orang tidur!" Cerita ini memang hanya lelucon, teapi lelucon biasanya berangkat dari sebuah realitas tertentu. Ibadah yang hangat memungkinkan jemaat pulang dari beribadah dengan mendapatkan "sesuatu", baik dari khotbah yang disampaikan, maupun dari suasana ibadah yang di bangun, sehingga dapat dijadikan "bekal" dalam hidup keseharian mereka.
Akan tetapi, jangan salah, ibadah yang "hidup" tidak sama dengan ibadah yang ingar bingar, penuh musik, dan sorak sorai. John Stott berpendapat tentang ibadah yang penuh kekhidmatan sekaligus penuh seukacia, yaitu keika warga jemaat turut terlibat dengan penuh antusias, khotbah disampaikan oleh hamba Tuhan yang secara sungguh-sungguh menyiapkan dan menggumuli firman Tuhan, tim musik dan pemandu pujian yang disiapkan dengan baik.
-
Persekutuan yang akrab
Relasi akrab antarwarga jemaat itu penting. Relasi yang akrab akan mengikat mereka dalam sebuah persekutuan yang harmonis. Seumpama, sebuah keluarga, perbedaan bisa tetap ada, bahkan juga konflik. Namun, itu semua tidak akan sampai memisahkan. Sebab ada dasar kokoh yang melandasi, yaitu kasih Kristus.
Paulus sangat menekankan relasi kasih ini (
Kolose 3:12-17;
Filipi 2:1-11). Tuhan Yesus juga menasihatkan para murid untuk saling mengasihi (
Yohanes 15:12). Bahkan, relasi kasih ini dikatakan sebagai identitas para murid-Nya (
Yohanes 15:14-16). Bisa jadi kedengarannya "klise", tetapi itulah yang harus dibangun. Tanpa dasar kasih Kristus, tidak akan ada keakraban. Ciri-ciri persekutuan yang akrab, yaitu adanya kerinduan untuk bertemu, rasa "nyaman" dan "aman" bila bersama-sama, dan ada keinginan untuk saling berbagi dan melindungi.
-
Pembinaan yang berkesinambungan dan terarah
Pembinaan kelompok-kelompok di dalam jemaat sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa muda, dewasa dilakukan secara berkesinambungan dan terarah; tidak sporadis; tidak berjalan sendiri-sendiri; bukan suka-suka kelompok yang bersangkutan. Begitu juga kelompok-kelompok lain, seperti persekutuan wilayah, kelompok sel, dan pendalaman Alkitab. Pertanyaan kunci guna menunjang pembinaan yang berkesinambungan dan terarah adalah apa yang mau dicapai pada masa yang akan datang.
-
Pelayanan ke luar dan ke dalam
Pelayanan yang dimaksud disini adalah "pelayanan sosial", seperti ketika para rasul menunjuk ke tujuh orang diaken dalam
Kisah Para Rasul 6:1-7. Jadi, sementara para rasul fokus pada "pelayanan firman", "pelayanan sosial" tidak terabaikan. Gereja tidak semestinya hanya berkutat dengan "masalah rohani", tetapi juga perlu "menggarap pelayanan sosial", kepada jemaat perkunjungan, diakonia, dan sebagainya dan kepada masyarakat di sekitar gereja. Beasiswa, poliklinik, posyandu, pelatihan keterampilan, dan sebagainya. Untuk itu, gereja memerlukan inovasi-inovasi baru. Intinya adalah bagaimana agar kehadiran gereja betul-betul dapat dirasakan sebagai berkat.
-
Membawa perubahan hidup
Apabila misi ke luar gereja adalah supaya semakin banyak orang merasakan sapaan kasih Allah, mengenal, dan mengakui Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat, misi ke dalam gereja adalah menjadikan warganya memiliki sikap hidup yang "berbeda" dalam keseharian mereka di mana pun dan dalam peran apapun. Seperti jemaat mula-mula yang tidak hanya bertumbuh di dalam, tetapi juga "bersinar" di luar.
Kisah Para Rasul 2:47 menyatakan, "Dan mereka disukai semua orang."
Setiap orang kristiani memiliki identitas ganda, dipanggil dari dunia dan diutus ke dalam dunia. Artinya, dipanggil untuk menjadi berbeda dari "orang dunia", tanpa menjadi terpisah dari dunia. Identitas kekristenan semestinya tidak hanya tampak dalam kehidupan kultis (ibadah), tetapi juga nyata dalam kehidupan etis. Menjadi garam dan terang dunia (
Matius 5:13-16).
Oleh : Ayub Yahya, Renungan Harian