07 October 2008
Bukan Aib
Nats : Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauan (Matius 19:12)
Bacaan : 1Korintus 7:25-40
Sebuah cerita humor. Seorang gadis lajang berdoa begini: "Ya Tuhan, kalau memang ia jodohku, dekatkanlah. Kalau bukan jodohku, jodohkanlah. Kalau ia bukan jodohku, jangan sampai ia dapat jodoh yang lain, selain aku. Amin."
Status melajang kerap kali dianggap menyusahkan atau bahkan dirasa sebagai aib bagi yang menyandangnya. Perasaan itu muncul biasanya karena si lajang mendengarkan perkataan orang lain. Padahal sebetulnya yang penting bukan statusnya, tetapi sikap dalam menghadapinya. Jika disikapi secara positif, maka sisi-sisi positifnya akan tampak. Bukankah orang yang melajang punya waktu luang dan konsentrasi lebih besar untuk berkarya? Melajang juga bukan berarti hidup sendiri, karena orang yang melajang justru punya kesempatan lebih banyak untuk membangun relasi dengan orang lain.
Mempunyai pasangan hidup atau menikah, tak serta merta membuat segalanya menjadi lebih baik. Paulus malah mengingatkan akan "harga" yang harus dibayar dalam hidup berpasangan (ayat 33-34). Intinya kalaupun berpasangan, janganlah sampai kita terbelenggu perkara duniawi. Jangan sampai riak-riak pernikahan malah menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Jadi baik sendiri ataupun berpasangan, tanggung jawab kita di hadapan Tuhan tetap sama; berkarya memuliakan nama-Nya. Bila menikah, bijaklah membina keluarga. Bila hidup lajang, bajiklah membawa diri. Bagi lajang yang sangat ingin menikah, ingatlah bahwa hidup kita ada di tangan-Nya. Jalani apa pun hidup Anda dengan rasa syukur. Percayakanlah hidup Anda pada rencana dan kebijaksanaan-Nya. Tuhan tahu yang terbaik -DYA
MELAJANG MAUPUN MENIKAH
KITA SAMA-SAMA MESTI MEMULIAKAN NAMA-NYA!
Yayasan Gloria
Humor : Linglung
Salah satu dari ilmuwan terbesar di dunia juga terkenal sebagai profesor yang linglung. Suatu hari, ketika profesor itu naik kereta, ia tidak dapat menemukan tiketnya. Kondektur kereta itu berkata, "Pelan-pelan saja nyarinya, anda pasti akan menemukan tiket itu."
Ketika kondektur itu tiba kembali, profesor itu masih belum juga menemukan tiketnya. Kondektur itu, yang tahu bahwa profesor itu adalah orang terkenal, berkata, "Saya yakin bahwa anda membeli tiket. Tidak jadi masalah bila anda tidak dapat menemukannya. "
"Anda baik sekali," jawab profesor itu, "tapi saya harus tetap menemukannya. Kalau tidak, saya tidak tahu dimana saya harus turun."





