Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

20 January 2009

Tawaran Menggiurkan

Daniel 1:8 - Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 20; Matius 20; Kejadian 39-40

Daniel masih remaja ketika diperhadapkan pada sebuah keputusan penting. Ia ditawari mengikuti pelatihan untuk sebuah posisi yag penting dan amat menjanjikan. Sebagai bagian dari kelompok elit yang bertugas melayani raja, pasti ia akan mendapatkan fasilitas istimewa. Namun Daniel sadar, untuk meraih kesempatan yang menggiurkan itu ia harus mengkompromikan hubungannya dengan Tuhan. Ia mesti melanggar perintah Tuhan. Akankah ia mengikuti sistem yang ada atau ia mengambil resiko untuk tetap mengambil jalan Tuhan apapun yang terjadi?

Rupanya Daniel cukup cerdas melihat ke depan dan menyadari apa yang penting. Ia sadar bahwa saat kehidupannya berakhir, yang penting bukanlah apa yang dipikirkan teman-teman, orang di sekitarnya atau bahkan rajanya sendiri tentang dirinya. Ia tahu bahwa yang terpenting adalah apa yang dipikirkan oleh Sang Pencipta tentang dirinya. Jadi, ia memilih untuk menahan hasratnya akan kedudukan dan memastikan bahwa ia memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan.

Dalam taraf yang berbeda, kita masing-masing pernah menghadapi pilihan serupa: menyenangkan manusia atau menyenangkan Tuhan. Mari kita belajar dari Daniel dan mengambil keputusan bukan berdasarkan kepentingan sementara, melainkan berdasarkan perspektif Tuhan yang kekal.

Kekuatan terbesar adalah kuasa untuk memilih. Kita tidak bisa melakukan segala sesuatu, tapi kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.

Jawaban.com

57 cents

Seorang anak gadis kecil sedang berdiri terisak didekat pintu masuk sebuah gereja yang tidak terlalu besar, ia baru saja tidak diperkenankan masuk ke gereja tersebut karena “sudah terlalu penuh”.

Seorang pastur lewat didekatnya dan menanyakan kenapa si gadis kecil itu menangis? “Saya tidak dapat ke Sekolah Minggu”, kata si gadiskecil. Melihat penampilan gadis kecil itu yang acak acakan dan tidak terurus, sang pastor segera mengerti dan bisa menduga sebabnya si gadis kecil tadi tdk disambut masuk ke Sekolah Minggu. Segera dituntunnya si gadis kecil itu masuk ke ruangan Sekolah Minggu di dalam gereja dan ia mencarikan tempat duduk yang masih kosong untuk si gadis kecil. Sang gadis kecil ini begitu mendalam tergugah perasaannya, sehingga pada waktu sebelum tidur di malam itu, ia sempat memikirkan anak anak lain yang senasib dengan dirinya yang seolah olah tidak mempunyai tempat untuk memuliakan Yesus. Ketika ia menceritakan hal ini kepada orang tuanya, yang kebetulan merupakan orang tak berpunya, sang ibu menghiburnya bahwa si gadis masih beruntung mendapatkan pertolongan dari seorang pastur.

Sejak saat itu, si gadis kecil “berkawan” dengan sang pastur. Dua tahun kemudian, si gadis kecil meninggal di tempat tinggalnya di daerah kumuh, dan sang orang tuanya meminta bantuan dari si pastur yang baik hati untuk prosesi pemakaman yang sangat sangat sederhana.

Saat pemakaman selesai dan ruang tidur si gadis di rapihkan, sebuah dompet usang, kumal dan sobek sobek ditemukan, tampak sekali bahwa dompet itu adalah dompet yang mungkin ditemukan oleh si gadis kecil dari tempat sampah. Didalamnya ditemukan uang receh sejumlah 57 cents dan secarik kertas bertuliskan tangan, yang jelas kelihatan ditulis oleh seorang anak kecil, yang isinya : “Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak anak-anak bisa menghadiri ke Sekolah Minggu”. Rupanya selama 2 tahun, sejak ia tidak dapat masuk ke gereja itu, si gadis kecil ini mengumpulkan dan menabungkan uang nya sampai terkumpul sejumlah 57 cents untuk maksud yang sangat mulia. Ketika sang pastur membaca catatan kecil ini, matanya sembab dan ia sadar apa yang harus diperbuatnya.

Dengan berbekal dompet tua dan catatan kecil ini, sang pastur segera memotivasi para pengurus dan jemaat gerejanya untuk meneruskan maksud mulia si gadis kecil ini untuk memperbesar bangunan gereja. Namun ceritanya tidak berakhir sampai disini, suatu perusahaan koran yang besar mengetahui berita ini dan mempublikasikannya terus menerus. Sampai akhirnya ada seorang pengembang membaca berita ini dan ia segera menawarkan suatu lokasi yang berada didekat gereja kecil itu dengan harga 57 cents, setelah para pengurus gereja menyatakan bahwa mereka tak mungkin sanggup membayar lokasi sebesar dan sebaik itu. Para anggota jemaat pun dengan sukarela memberikan donasi dan melakukan pemberitaan, akhirnya bola salju yang dimulai oleh sang gadis kecil ini bergulir dan dalam 5 tahun, berhasil mengumpulkan dana sebesar 250.000 dollar, suatu jumlah yang fantastik pada saat itu.

Inilah hasil nyata cinta kasih dari seorang gadis kecil yang miskin, kurang terawat dan kurang makan, namun perduli pada sesama yang menderita. Tanpa pamrih, tanpa pretensi. Saat ini, jika anda berada di Philadelphia, lihatlah Temple Baptist Church, dengan kapasitas duduk untuk 3300 orang dan Temple University, tempat beribu ribu murid belajar. Lihat juga Good Samaritan Hospital dan sebuah bangunan special untuk Sekolah Minggu yang lengkap dengan beratus ratus pengajar nya, semuanya itu untuk memastikan jangan sampai ada satu anakpun yang tidak mendapat tempat di Sekolah MInggu. Didalam salah satu ruangan bangunan ini, tampak terlihat foto si gadis kecil, yang dengan tabungannya sebesar 57 cents, namun dikumpulkan berdasarkan rasa cinta kasih sesama, yang telah membuat sejarah. Tampak pula berjajar rapih, foto sang pastur yang baik hati yang telah mengulurkan tangan kepada si gadis kecil miskin itu, yaitu pastor DR.Russel H.Conwell, penulis buku “Acres of Diamonds” - a true story.

Kenyataan sejarah yang collosal ini bisa memberikan petunjuk kepada kita semua apa yang dapat DIA lakukan terhadap uang 57 cents.