Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

31 December 2011

Happy New Year 2012

Tahun 2012 sebentar lagi akan datang, saya berterima kasih kepada semua pengunjung dan partisipasinya untuk Rumah Renungan, yang membuat blog ini selalu dapat menjadi berkat dan inspirasi buat kita semua.

Saya berdoa semoga tahun depan menjadi tahun yang lebih baik dari tahun ini.

Tuhan Yesus Memberkati…

Happy New Year 2012

30 December 2011

Bersyukur

Tina, seorang gadis yang baik hati satu kali ingin memberi kejutan pada Nenek Omi yang hidup sendiri. Ia datang membuat sebuah kue yang enak lalu membawanya ke rumah si nenek.

"Oh, buat Nenek? Puji Tuhan! Terima kasih, Tina. Nenek sangat suka,"kata nenek
waktu menerima kue itu. Melihat nenek Omi suka, seminggu kemudian Tina kembali membawa kue yang sama.

"Terima kasih,"jawab nenek singkat.

Lebih dari seminggu, komentar Nenek Omi kembali berbeda. "Tumben, kamu telat
sehari,"sahutnya.

Minggu selanjutnya, "kuemu agak kemanisan. Nenek lebih suka rasa buah daripada
coklat."

Karena sibuk, minggu selanjutnya Tina tidak sempat membuat kue, dan ketika ia berangkat kerja dan melewati rumah si nenek, nenek Omi keluar dan berteriak, "Hei Tina, mana kue nenek?"

Satu kutipan berkata, "Saat kita melihat berkat yang sama setiap hari, kita akan tidak memperhatikannya lagi. Ketika tidak lagi memperhatikan, kita berhenti menghargai. Ketika tidak menghargai, kita berhenti bersyukur. Ketika kita tidak bersyukur, kita mulai mengeluh."

Jika hari ini kamu menangis, bersyukurlah karena kamu tidak membuat orang lain
menangis...
Jika hari ini kamu disakiti, bersyukurlah karena kamu tahu rasa sakit dan tidak
menyakiti orang lain...
Jika hari ini kamu dikecewakan , bersyukurlah karena kamu tidak membuat orang
lain kecewa...
Apapun yang kamu alami hari ini, tetaplah bersyukur karena kita belajar untuk
menjadi lebih baik…

Kasih Penguin Kaisar

Bacaan Setahun : Wahyu 16-19
Nats : Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (1 Yohanes 3:18)

Bacaan : 1 Yohanes 3:11-18

Penguin kaisar bertelur satu butir setiap musim kawin. Si jantan bertugas mengerami telur itu dengan menjepitnya di antara kaki dan lipatan lemak di sekitar perutnya selama kira-kira 64 hari. Ia berada dalam kumpulan besar penguin jantan yang berdempetan saling menghangatkan di tengah musim dingin Antartika. Sementara itu, si betina kembali ke laut untuk mencari makan. Ia akan kembali ke sarang menjelang anaknya menetas. Apabila ia terlambat, si jantan dapat memberi makan anaknya dengan cadangan yang diambil dari saluran pencernaannya sampai selama sepuluh hari. Itu akan membuatnya kehilangan setengah bobot tubuhnya. Begitu si betina muncul, giliran si jantan pergi ke laut. Selanjutnya mereka bergantian mencari makan untuk membesarkan si kecil.

Kehidupan unggas kutub tersebut menggambarkan bahwa kasih itu bukan konsep atau kata-kata manis belaka. Kasih adalah kata kerja. Kasih sejati diungkapkan melalui tindakan yang mengutamakan kesejahteraan orang lain, bahkan apabila perlu dengan mengorbankan kepentingan pribadi. Sebagaimana Kristus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, kita pun diperintahkan untuk menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

Actions speak louder than words (Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata). Kasih tidak cukup hanya dinyatakan dengan perkataan, tetapi mesti diwujudkan dalam perbuatan. Sejauh mana tindakan kita mengungkapkan kasih kita bagi saudara-saudara kita? Apakah kita secara bermurah hati menyerahkan nyawa kita waktu, tenaga, talenta, uang bagi saudara-saudara yang memerlukan pertolongan? --ARS

KASIH ADALAH MEMBERI DENGAN PENUH PENGORBANAN TANPA SYARAT DAN TANPA PAMRIH

Sabda.org

29 December 2011

Bersiaplah!

Bacaan Setahun : Wahyu 12-15
Nats : Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya (Matius 25:13)

Bacaan : Matius 25:1-13

Kita tentu punya kenangan tentang para guru yang pernah mengajar kita di sekolah. Sebagian besar guru biasanya memberi tahu apabila hendak mengadakan ulangan. Namun, ada juga sebagian guru yang lebih suka mengadakan ulangan mendadak, tanpa pemberitahuan. Bagi siswa yang tak pernah berkonsentrasi saat guru memberikan pelajaran atau hanya belajar pada jam-jam menjelang ulangan maka ketika berhadapan dengan guru tipe kedua, dijamin ia akan mendapat nilai buruk. Akan tetapi, siswa yang bijaksana adalah siswa yang tahu persis kebiasaan guru yang demikian sehingga ia selalu belajar untuk berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu diadakan ulangan.

Walau kenyataannya sangat berbeda, tetapi kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali kurang lebih dapat digambarkan seperti ulangan mendadak yang biasa diadakan oleh sebagian guru. Tuhan kita, dalam hikmat-Nya yang besar, telah dan akan memberikan tanda-tanda menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali. Namun, kapan waktunya tidak Dia sampaikan secara persis. Itulah sebabnya kita perlu selalu berjaga-jaga. Sebab, kapan pun harinya, bisa menjadi hari kedatangan Tuhan Yesus!

Mari terus memohon hikmat Tuhan, agar kita dapat menjalani hidup dengan bijaksana. Setiap hari yang kita jalani merupakan kesempatan untuk menanti-nanti kedatangan-Nya yang kedua kali. Sebab, kita tidak tahu kapan hari itu tiba. Jangan sampai kita menjadi orang kristiani yang, ketika Tuhan Yesus datang, malah sedang "terlelap" seperti perumpamaan lima gadis yang bodoh. Jadilah seperti lima gadis yang bijaksana, yang senantiasa berjaga-jaga menanti sang mempelai --PK

BERSIAP DAN BERJAGA-JAGALAH SEOLAH-OLAH HARI INI ADALAH HARI KEDATANGAN-NYA YANG KEDUA

Sabda.org

Suatu Pelajaran Kasih

Aku mengamati dengan teliti, ketika adik lelakiku yang bernama John tertangkap basah karena perbuatannya. Ia sedang duduk di sebuah sudut ruang keluarga dengan sebuah pena di tangan satunya dan buku puji-pujian milik Ayah yang baru sama sekali di tangan yang lain.

Ketika Ayah memasuki ruangan, adikku agak ketakutan; ia merasa bahwa ia telah membuat suatu kesalahan. Dari kejauhan aku bisa melihat bahwa ia telah membuka buku puji-pujian yang baru itu serta mencorat-coret selebar serta sepanjang lembar pertama dari buku itu dengan penanya. Sekarang, ia sedang menatap Ayah dengan rasa ketakutan sambil dia dan aku bersama menunggu apa yang Ayah akan perbuat. Dan ketika kami menunggu hukuman apa yang Ayah akan kenakan kepada adik, kami tidak menerka sedikitpun bahwa Ayah akan mengajarkan kepada kami suatu pelajaran yang mendalam dan tak terlupakan tentang kehidupan dan kekeluargaan. Ajaran-ajarannya itu semakin menjadi lebih dimengerti dengan lewatnya tahun lepas tahun.

Ayah memungut buku puji-pujiannya yang amat ia sayangi itu, mengamatinya dengan teliti, kemudian duduk tanpa mengatakan apapun.

Semua buku merupakan sesuatu yang amat berharga bagi dia; ia adalah seorang hamba Tuhan dan pemegang beberapa gelar akademis. Bagi dia, buku-buku merupakan pengetahuan, namun ia pun menyayangi anak-anaknya. Apa yang ia lakukan kemudian sungguh luar biasa.

Ia tidak menghukum adikku, ia pun tidak memaki atau berteriak-teriak secara emosional, melainkan ia duduk, mengambil pennya dari tangan adik dan kemudian menulis di buku pujian itu di samping corat-coret yang telah dibuat oleh adik. Tulisannya berbunyi: Karya John, 1959, umur 2 tahun. Betapa seringnya aku memandang wajahmu yang tampan dan kepada matamu yang hangat dan cerah yang sedang memandangku. Akupun bersyukur kepada Tuhan untuk dia yang kini mencorat-coret di dalam buku pujianku yang baru.

“Aduh!”, aku pikir. “Hukuman apa ini?”

Tahun lepas tahun serta buku-buku datang dan pergi. Keluarga kita mengalami hal-hal yang juga dialami oleh keluarga lain, mungkin lebih banyak sedikit: suka cita dan kesusahan, kejayaan dan kehilangan, tawa dan air mata. Kami memperoleh cucu-cucu dan kehilangan seorang anak laki-laki. Kami selalu tahu bahwa orang tua kami mengasihi kami. Dan salah satu bukti dari kasih itu adalah buku nyanyian di dekat piano itu. Kadang-kadang, kami membukanya, memandang kepada corat-coret itu, membaca ekspresi dari Ayah dan merasakan syukur yang amat dalam.

Sekarang aku baru mengerti bahwa melalui perbuatan Ayah yang sederhana itu, beliau mengajar kami bahwa setiap kejadian di dalam hidup ini mempunyai segi yang positif – bila kita bersedia untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda – dan betapa besar nilainya bila hidup kita disentuh oleh tangan-tangan kecil. Namun ia pun mengajar kepada kami, apa sebenarnya yang penting dalam hidup ini: manusia bukan barang; toleransi bukan penghukuman; kasih bukan kemarahan.

Kini, akupun menjadi seorang ayah. Dan seperti Ayahku, seorang hamba Tuhan dan pemegang beberapa gelar akademis. Namun, tidak seperti Ayah, aku tidak menunggu sampai putri-putriku dengan diam-diam mengambil buku nyanyianku dari rak buku dan mencorat-coret di dalamnya.

Kadang-kadang, aku mengambil sejilid – bukan sejilid buku murahan, melainkan sebuah buku yang aku akan memilikinya bertahun-tahun, dan memberikan kepada salah seorang putriku untuk menulis namanya di dalam buku itu.

Dan bila aku memandang hasil tulisannya, aku ingat akan Ayahku, pelajaran-pelajaran yang ia ajarkan kepadaku, kasihnya terhadap kami, anak-anaknya – kasih yang demikian besarnya terhadap keluarganya.

Aku mengenang akan hal itu dan tersenyum, “Terima kasih, Pap!”

Arthur Bowler

28 December 2011

Mumpung Masih Muda

Bacaan Setahun : Wahyu 9-11
Nats : Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam (Mazmur 90:4)

Bacaan : Mazmur 90

Andai seseorang bertanya, "Kapan Anda akan mati?", apa jawaban Anda? Ini pertanyaan yang sulit. Banyak orang meninggal di usia tua, tetapi tidak sedikit juga yang meninggal di usia muda, bahkan kanak-kanak. Kematian memang bisa menjemput manusia kapan saja, sesuai waktu Tuhan. Walaupun demikian, ternyata ada banyak orang yang tidak mau berpikir mengenai kematian. Hal-hal yang berbau kematian kerap dibuang jauh-jauh dari pikiran. Dianggap tabu untuk dibicarakan. Ini memang ironi. Akibatnya, sebagian dari kita kemudian tidak berpikir: "Bagaimana saya mempersiapkan kematian?", "Mau ke mana saya setelah mati?" Sebaliknya, lebih kerap berpikir: "Selagi masih muda, nikmatilah hidup", "Apa lagi yang harus saya capai di hidup ini?"

Kita perlu belajar dari Musa. Berapakah usia Musa saat meninggal? Ia berusia 120 tahun (Ulangan 34:7) cukup panjang. Akan tetapi, apa yang ia katakan mengenai hidup? Hidup itu singkat, seperti rumput yang tumbuh pada waktu pagi dan layu pada waktu petang (ayat 5-6). Oleh sebab itu, Musa memohon hikmat Tuhan agar mampu menghitung hari. Artinya, ia sangat menyadari bahwa hidup itu singkat. Karena itu, ia minta dimampukan untuk mengisi hidupnya secara bijaksana.

Kita memang tidak akan tahu kapan hidup kita akan berakhir. Namun, selagi masih ada kesempatan, gunakanlah waktu dengan bijaksana. Apa yang paling bijaksana bagi kita? Pertama, memastikan keselamatan kita. Kedua, mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan. Ketiga, mengisi hidup dengan hal-hal yang berkenan di mata Tuhan serta memasyhurkan nama-Nya --RY

WAKTU BEGITU CEPAT BERLALU AMBILLAH KEPUTUSAN YANG TEPAT SEBELUM MENYESAL

Sabda.org

24 December 2011

Merry Christmas

Rumah Renungan mengucapkan :

Selamat Hari Natal…

May the Joy of Jesus bring you and your family new hope, love, faith and grace…

Amen.

23 December 2011

Tok! Tok! Tok!

Bacaan Setahun : 2 Petrus 1-3
Nats : ... ia melahirkan seorang anak laki-laki ... dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Lukas 2:7)

Bacaan : Lukas 2:1-7

Tego bingung. Sutinah, istrinya, akan segera melahirkan. Karena kondisi Sutinah yang lemah, bidan kampung merujuknya ke rumah sakit terdekat yang mempunyai program Jamkesmas. Sesampai di sana, Sutinah ditolak karena semua kamar untuk rawat inap sudah penuh. Tego tidak berani membawa Sutinah ke rumah sakit swasta karena tak sanggup membayar, tetapi juga tidak tega melihat istrinya kesakitan. Dengan langkah penuh harap, ia menyusuri setiap lorong rumah sakit, berharap ada satu tempat tidur kosong yang lupa terdata oleh petugas rumah sakit supaya Sutinah bisa segera ditolong.

Langkah penuh harap itu mungkin juga dialami Yusuf sesampainya di Betlehem saat berusaha menemukan tempat menginap, sebab Maria hendak bersalin. Mungkin memang tak ada tempat di rumah penginapan yang mereka datangi. Mungkin juga ada, tetapi bukan untuk mereka. Atau memang ada, tetapi pemiliknya tak mau repot karena melihat kondisi Maria yang hamil tua. Penulis Injil Lukas tidak menjelaskan lebih jauh selain bahwa akhirnya Maria melahirkan anak laki-laki yang dibungkus lampin dan dibaringkan di palungan, karena tak ada tempat bagi mereka di penginapan.

Kali ini, "pintu" itu diketuk lagi. Bukan pintu rumah penginapan, melainkan "pintu hati" kita, sebab ke sanalah Yesus ingin "lahir". Ada baiknya mengambil waktu memeriksa hati. Jangan-jangan hati kita sesak oleh berbagai urusan sehingga tak ada ruang lagi bagi Yesus. Atau jika ada, ruang kosong di hati kita sudah diperuntukkan bagi hal lain. Atau, kita terlalu sibuk untuk sekadar membuka hati bagi kelahiran Sang Juru Selamat. Tok! Tok! Tok! --SL

ADA BANYAK TEMPAT DI HATI KITA SUDAHKAH YESUS MENEMPATI BAGIAN UTAMANYA?

Sabda.org

22 December 2011

Mami Pulang Dibulan Natal

Aku sudah merasa bahwa hari-hari hidup Mami bakal tidak lama lagi. Sejak memasuki tahun 2006 rasanya Mami mulai kelihatan mundur kesehatannya. Tidak seperti biasanya yang selalu bergairah. Kebiasaan yang dilakukan setiap pagi setelah mandi ialah duduk di kursi meja makan lalu membaca Alkitab dan berdoa. Di dalam Buku Renungannya selalu ada catatan hari ulang tahun anak-anak, menantu-menantu dan cucu-cucunya pada lembar tepat pada hari renungan itu dibaca. Aku bersyukur bahwa aku mempunyai Mami yang setiap hari berdoa untuk keluarga besar kami.

Kerinduannya untuk ke gereja tetap ada, namun karena kondisi tubuhnya yang semakin lemah maka Mami terpaksa di rumah saja. Satu bulan sebelum Mami dipanggil pulang Tuhan, ia berkata ingin pergi ke Rumah Tuhan. Aku dan saudara-saudaraku bingung menerjemahkan arti Rumah Tuhan itu. Apakah itu berarti Mami ingin ke gereja atau suatu tanda bahwa sebentar lagi Mami mau meninggalkan kami semua. Dan lagi setiap kali selalu menyebut angka 3 (tiga) berulang-ulang: ” tiga…….tiga….tiga…..” Apa arti kata tiga itu ,ketika aku bertanya, Mami hanya tertawa kecil.

Mami selalu hadir dalam Persekutuan Lansia (Lanjut Usia) ketika masih sehat. Mendengar bahwa mami ingin ke Rumah Tuhan, maka kami, anak-anak meminta diadakan Natal di rumah Mami oleh teman-teman dari Persekutuan Lansia. Dan telah dilakukan pertengahan bulan Desember. Mami mendengar Firman Tuhan namun tidak seperti biasanya penuh dengan sukacita. Wajahnya seperti memendam sesuatu yang kami tidak tahu apakah Mami merasakan sakit tuanya atau Mami memang sedih.

Ibadah Natal dan Perayaan Natal di Gereja-gereja telah berlalu, hari itu aku diberitahu bahwa mami dibawa ke Rumah Sakit karena kondisinya buruk dan mulai tidak sadar. Tepat pada tanggal 28 Desember 2006, mami benar-benar telah menghadap Tuhan dengan damai sejahtera Kristus. Hanya semalam mami berada di Rumah sakit.

Kesaksian ini aku tulis untuk mengenang Mami dan kebaikan Tuhan yang luar biasa. Bahwa Tuhan Yesus memanggil Mami masih dalam suasana Natal dan kami – sebagian besar anak-anak, menantu dan cucu-cucunya – yang terlibat dalam kegiatan Natal di gereja masing-masing sudah selesai tugas-tugas kami. Puji Tuhan! Hari-hari perkabungan itu kami bersyukur kepada Tuhan karena hampir sebagian besar anak-anak, menantu dan cucu-cucu bisa berkumpul semuanya. Mami pulang ke Rumah Tuhan seperti Simeon yang berkata: ”Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Lukas 2:29-30)

Aku baru sadar bahwa yang dimaksud Mami dengan berkali-kali mengatakan angka tiga mungkin adalah tiga hari sebelum tahun itu berakhir , yaitu tanggal 28 Desember. Melalui kesaksian ini ada hal-hal yang indah ingin saya bagikan kepada pembaca.

Mendampingi orang lanjut usia apalagi orangtua sendiri dalam kondisi sakit, benar-benar dibutuhkan kesabaran tinggi. Jangan melayani dengan amarah atau ketidak senangan hati karena perasaan atau kondisi orang yang mendekati dipanggil pulang Tuhan adakalanya penuh dengan teka-teki, tetapi juga rewel dan ada semacam ketakutan untuk menghadapi semuanya itu.

Sebagai orang lanjut usia yang cinta Tuhan, aku banyak belajar bahwa di hari tua, kalau kita makin dekat dengan Tuhan, aku mengamati seakan-akan Mami tahu kapan waktunya Tuhan Yesus datang menjemput dirinya. Aku belajar juga bahwa tidak terlihat sedikitpun Mami berontak atau menyangkal Tuhan meskipun kondisi kesehatannya makin menurun. Juga kehadiran para hamba Tuhan dan teman-teman gereja yang menengoknya selalu disambut dengan baik. Berkali-kali meskipun sudah sulit bicara, bila ada orang datang menjenguk, Mami selalu memberi isyarat menyatukan tangan yang artinya minta untuk didoakan. Saat-saat terakhir aku mendengar dari saudara-saudaraku bagaimana Mami menyambut “kedatangan Tuhan Yesus” itu dengan pasrah persis seperti anak yang lari kepangkuan bapanya untuk mendapat belaian dan kasih sayang.

Kita semua akan menjadi tua. Dulu waktu aku masih bayi, orangtuaku merawat aku tanpa merasa lelah. Kalau aku sakit, rasanya orangtua juga ikut merasakan sakitku. Setelah orangtua menjadi sepuh, maka sekarang tiba gilirannya akulah yang merawatnya. Aku tidak merasa berbeban berat merawat orangtuaku sendiri. Setiap kali Mami rewel atau tidak senang hati karena permintaannya tidak kuturuti demi kesehatannya, dalam hati aku berkata: ”Mami, dulu Mami juga melarang aku, demi kebaikanku, sekarang aku juga melarang Mami demi kebaikan Mami, maafkan aku.” Setelah itu aku pun menangis sendiri karena ada suatu pertentangan batin di antara ingin memberi dan tidak memberi apa yang diinginkannya demi kebaikan.

Sampai hari ini aku tidak bisa melupakan ketekunan, kesetiaan dan kedisiplinan Mami yang setiap pagi setelah mandi selalu duduk menghadapi Kitab Suci untuk bersaat teduh dan berdoa. Baru setelah itu Mami mulai membaca surat kabar agar tidak ketinggalan informasi. Di hari Natal ini, aku mengenang dan makin menyadari bahwa umurku juga semakin tua. Natal bukan saja peringatan menyambut Kedatangan Tuhan Yesus. Natal juga mengingatkan bahwa Tuhan akan datang kembali untuk memanggil setiap orang secara pribadi atau Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya, yang kita semua tidak tahu kapan waktunya terjadi.

Semoga kesaksian ini memberkati semua orang yang membacanya.. Amin

Di kisahkan kembali oleh : Magdalena

Ibuku, Idolaku

Bacaan Setahun : 1 Petrus 1-5
Nats : Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya ... ? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau (Yesaya 49:15)

Bacaan : Yesaya 49:14-23

Semasa saya kecil, keluarga kami ada di ambang kemiskinan. Apabila kami makan, Ibu kerap mengambil lagi lauk di piringnya, untuk dibagi ke anak-anaknya. Hingga ia tinggal berlauk garam. Jika ditegur, ia berkata, "Mama sudah cukup. Kita mesti hemat supaya bisa mendukung kakak-kakakmu yang sekolah di luar kota." Pada kali lain, saya sakit sampai berguling-guling. Dengan gemetar, Mama memeluk dan menguatkan saya. Lalu, sambil menangis ia berlutut dan berdoa, "Bapa, jika boleh biar saya saja yang menanggung derita anak ini, tolong jamah dia." Berbagai pengalaman tentang kasih, pengorbanan, dan perlindungan Ibu, sangat menolong saya memahami kasih Allah yang nyata. Bahkan, membawa saya untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Israel pernah kehilangan jati diri dan hidup tercela dalam pembuangan karena mengandalkan kekuatan sendiri serta bersandar kepada Mesir, sekutunya. Dalam kesusahannya, Israel kemudian menganggap Tuhan tak peduli pada penderitaan umat. Bahkan, menuduh-Nya bagai seorang ibu yang tega meninggalkan bayinya. Namun, Tuhan menuntut Isreal membuktikan hal itu. Sebab, sekalipun ada ibu yang melupakan bayinya, Tuhan sekali-kali tidak akan melupakan umat-Nya. Apabila kasih ibu sudah dianggap paling besar di bumi ini, betapa lebih besar dan kuatnya lagi kasih Allah yang tak pernah putus asa mendampingi dan menguatkan umat-Nya.

Para ibu yang terkasih, hidup Anda meninggalkan jejak yang dalam di kehidupan anak-anak. Teladanilah kasih Allah yang tak pernah melupakan anak-anak-Nya. Dan, jagalah hidup Anda agar menjadi jembatan bagi anak-anak untuk mengenal Allah --SST

IBU ADALAH SOSOK YANG SEHARUSNYA MEMBERI BANYAK KASIH
AGAR ANAK TAK HANYA KENAL DUNIA, TETAPI JUGA KENAL TUHAN

Sabda.org

21 December 2011

Seorang Penelepon Yang Anonim

Pada suatu hari Sabtu malam, seorang pendeta sedang bekerja lembur di kantornya dan ingin menelpon istrinya sebelum ia pulang. Saat itu sudah kurang lebih pukul 10.00 malam. Namun, istrinya tidak menjawab telponnya.

Pendeta itu membiarkan telponnya berdering beberapa saat. Ia merasa heran bahwa isterinya tidak menjawab. Ia kemudian bergegas untuk pulang, namun sebelumnya ia mencoba untuk menelpon lagi. Kali ini istrinya langsung menjawab. Ia bertanya, mengapa ia tidak menjawab telpon sebelumnya? Istrinya mengatakan bahwa ia tidak mendengar telponnya berdering.

Esok harinya pendeta itu menerima telpon di kantornya dari seorang yang tak dikenal. Orang itu menanyakan mengapa si pendeta itu menelponnya pada Sabtu malam itu? Pak pendeta pada mulanya tidak mengerti apa maksud penelpon itu.

Penelpon itu mengatakan, “Telponku berdering-dering, tetapi aku tidak mengangkatnya!” Pendeta kemudian baru ingat akan kejadian Sabtu malamnya dan memohon maaf akan kecelakaan kecil itu karena ia merasa mengganggu penelpon itu sambil menjelaskan bahwa ia sebenarnya ingin menelpon istrinya di rumah.

Penelpon itu menjawab, “Ah, tidak mengapa. Aku ingin menceritakan sesuatu yang aneh kepadamu. Aku pada Sabtu malam itu sebenarnya ingin bunuh diri. Namun, sebelum melakukannya, aku berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, bila Engkau berada di sini dan tidak mengizinkan aku akan melakukan bunuh diri, tolong aku diberi suatu tanda, Tuhan”

“Tidak lama setelah itu, telponku berdering. Aku melihat pada ID penelponnya dan membaca, “Tuhan Mahakuasa”. Aku tidak berani mengangkat telponnya.”

Alasan mengapa di ID penelpon itu tertera tulisan “Tuhan Mahakuasa”, adalah karena pendeta itu bekerja di jemaat yang bernama Jemaat Tuhan Mahakuasa!

Lukisan Esquivel

Bacaan Setahun : Yakobus 4-5
Nats : Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya, "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, " dan di antara mereka akulah yang paling berdosa (1 Timotius 1:15)

Bacaan : Matius 1:1-17

Adolfo Esquivel, seniman Argentina, mengeluarkan serial lukisan ilustrasi Jalan Salib yang unik. Ia menggambarkan bagaimana Kristus keluar dari sebuah penjara modern, dan memikul salib di antara jalanan kota yang sibuk, pabrik yang mencemari udara, penebangan pohon, rumah kumuh, dengan ditemani oleh orang-orang negro korban rasisme, remaja pengangguran yang kecanduan obat, dan ibu-ibu yang anaknya "dihilangkan" oleh para politisi. Interpretasi modern terhadap karya Kristus ini mengingatkan saya kembali bahwa Kristus sesungguhnya juga datang bagi setiap mereka yang menderita di luar sana, saat ini.

Silsilah Kristus yang dicatatkan oleh Matius menegaskan bahwa Kristus hadir untuk semua orang. Ya, kita melihat nama Daud, sang raja besar Israel, di sana. Akan tetapi, ada juga Rahab, seorang perempuan Sundal, dan Rut, si wanita asing. Kristus datang dari silsilah dengan berbagai latar belakang hidup. Dan, semasa hidup di dunia pun, Dia bahkan bersedia ada bersama mereka yang dinomorduakan dan direndahkan masyarakat: perempuan, janda, pemungut cukai, orang miskin, penderita kusta, sampai nelayan dari Galilea (yang kala itu terkenal sebagai daerah kaum "kafir" dan warganya gemar berkelahi).

Mari kita terus mengingat bahwa Kristus ada bersama mereka yang merasakan kerasnya kehidupan. Dia ada bersama orang-orang yang kita pinggirkan karena persaingan ekonomi dan perbedaan tingkat sosial. Apakah kita juga ada bersama mereka? Atau, jangan-jangan kita terlalu sibuk beraktivitas di dalam gedung gereja dan tidak memberkati keluar? --OLV

KRISTUS BERSEDIA HADIR DALAM PENDERITAAN MANUSIA
KIRANYA KITA MENELADANI PELAYANAN-NYA ITU

Sabda.org

20 December 2011

Ketika Marta Marah

Bacaan Setahun : Yakobus 1-3
Nats : Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku (Lukas 10:40)

Bacaan : Lukas 10:38-42

Melayani Tuhan jelas merupakan aktivitas yang mulia, apa pun bentuknya. Oleh karena itu, seharusnya pelayanan dilakukan dengan sikap yang benar pula. Namun, terkadang orang mengalami kesamaran arah sehingga tidak dapat bersikap sebagaimana seharusnya. Banyak aktivis gereja bisa marah karena mereka merasa sudah banyak berkorban untuk melayani, tetapi tidak dihargai. Tidak dibantu, malah dicela.

Inilah mungkin yang terjadi pada Marta. Bagaimana bisa Maria membebankan semua kerepotan di pundaknya saja, seolah-olah hanya ia yang berkewajiban melayani tamu? Sampai-sampai Marta memprotes kepada Tuhan Yesus. Namun, Yesus malah membela Maria, membenarkan pilihan Maria untuk duduk di kaki-Nya dan mendengarkan-Nya. Dan, Marta ditegur karena telah menyusahkan diri dengan hal-hal di luar itu. Maria telah memilih yang terbaik, yakni membiarkan Tuhan melayaninya. Jika Marta disibukkan dengan pelayanannya bagi Yesus, Maria disibukkan oleh pelayanan Yesus baginya. Dan, Yesus menghargai sikap Maria yang seperti seorang murid mau belajar dan mau mendengar.

Sudahkah kita juga bersikap seperti seorang murid? Ingatlah bahwa menjadi murid bukan hanya dengan terus-menerus menyibukkan diri dalam pelayanan. Jangan sampai kita menempatkan sesuatu yang baik, seperti pelayanan, menjadi lebih utama daripada yang terbaik, yaitu berpaut kepada Allah mendengar firman-Nya. Ingatlah: kesibukan melayani Tuhan tak bisa jadi alasan untuk tak punya waktu merenungkan firman-Nya. Sebaliknya, keakraban dengan firman-Nya mesti selalu menjadi dasar dalam kita melayani --ENO

SEBELUM FIRMAN TUHAN MELAYANI KITA TIDAK MUNGKIN KITA SIAP MELAYANI TUHAN

Sabda.org

19 December 2011

Hidup Arif

Bacaan Setahun : Ibrani 11-13
Nats : Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif (Efesus 5:15)

Bacaan : Efesus 5:15-21

Ada sebagian orang yang menjalani hidupnya dengan "tawar" segala sesuatu ia biarkan berjalan seadanya; hingga tiba-tiba segala sesuatu lenyap tanpa bekas dan tanpa makna. Hari-harinya berlalu begitu saja. Tahu-tahu umur sudah makin bertambah dan akhirnya tinggal rasa sesal berkepanjangan yang menguasai hari-harinya di usia senja. Orang semacam ini hidup, tetapi tidak sungguh-sungguh hidup. Menurut Anthony de Mello, orang semacam ini seperti sedang "tidur" dalam hidupnya.

Dalam istilah Paulus, orang yang tidak saksama memperhatikan hidup disebut orang bebal. Ia hanya memancarkan kekelaman dan kesuraman dari hidupnya. Orang yang berkebalikan dengan itu disebut orang arif. Tentu kita tidak suka dijuluki orang bebal. Akan tetapi, menjadi orang yang arif sangatlah tidak mudah. Orang arif itu "cakap mempergunakan waktu, selalu rindu mengerti kehendak Tuhan, dan menjaga diri dari hal-hal yang memabukkan. Ia penuh roh, berkata-kata penuh makna dan berkat, serta mampu bersyukur dalam segala keadaan. Ia juga hidup rendah hati karena meneladani Kristus." Sebuah daftar yang sangat panjang, bukan? Akan tetapi, sebenarnya daftar itu dapat diringkas; yakni bahwa orang arif itu mengalami, kemudian memancarkan keilahian Kristus dalam pemikiran, perkataan, dan tindakannya. Maka, dari hidupnya "terpancar cahaya Kristus" (ayat 14).

Apa yang kita pancarkan kepada dunia ini: pantulan cahaya Kristus atau kesuraman hati? Apa hasrat yang paling kuat menarik kita: hidup untuk membagikan terang Kristus kepada sesama atau sekadar membuang waktu tanpa makna? --DKL

KETIKA HIDUP DIJALANI DENGAN ARIF MAKA TAK SIA-SIA KITA DIHADIRKAN DI DUNIA INI

Sabda.org

16 December 2011

Kisah Sebuah Natal

Di permulaan abad ke-18, seorang anak muda berumur kira-kira 14 tahun bernama John hidup di dalam sebuah panti yatim-piatu di Inggris bersama dengan sejumlah anak-anak yang lain. Panti yatim-piatu ditakuti oleh orang. Seorang yatim-piatu berarti tidak dikehendaki dan tidak dikasihi. Panti itu dikepalai oleh seorang guru dan isterinya. Kedua orang ini yang jaga merupakan hasil dari latar belakang yang miskin tidak memiliki rasa kasih sayang namun sangat berdisiplin. Mereka tidak suka bersendau gurau, tidak memiliki ekspresi kasih sayang dan pengertian.

Setiap hari sepanjang tahun dilalui dengan kerja. Anak-anak itu bekerja di ladang, bersih-bersih, menjahit dan kadang-kadang memasak untuk anak-anak orang kaya. Mereka sudah bangun di pagi hari buta dan bekerja sampai jauh malam dan biasanya mereka diberi makan hanya sekali sehari. Namun mereka merasa berterima kasih karena mereka memang diajar untuk menjadi pekerja-pekerja yang keras.
John sama sekali tidak memiliki apa-apa, demikian pula anak-anak lainnya.

Natal merupakan satu-satunya hari mereka tidak bekerja dan disamping itu memperoleh hadiah. Sebuah hadiah untuk setiap anak – sesuatu yang mereka dapat menganggap sebagai miliknya sendiri. Pemberian yang istimewa itu adalah sebuah jeruk. John sudah lama berada di panti itu untuk menanti datangnya Natal itu untuk dapat menikmati hari yang khusus dan menerima jeruknya sebagai pemberian yang istimewa.

Pada jaman itu di Inggris dan demikian pula untuk John dan kawan-kawannya sepanti, sebuah jeruk merupakan suatu pemberian yang langka dan luar biasa. Ia memiliki aroma yang mereka dapat cium hanya pada waktu hari Natal. Anak-anak menganggap dimikian tinggi nilainya, sehingga mereka menyimpan jeruk itu sampai berhari-hari, berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan, untuk disimpan, dicium, disentuh dan disayangi. Biasanya mereka menyimpannya sampai demikian lamanya sampai buah itu menjadi busuk, sebelum mereka akhirnya mengupasnya dan menikmati jusnya yang manis. Semakin waktunya mendekati hari Natal, semakin ramai mereka membicarakan hal pemberian hadiah jeruk itu. Anak-anak mengatakan, “Aku akan menyimpannya paling lama”. Mereka sering membicarakan betapa besarnya jeruk yang mereka terima pada tahun lalu dan betapa lamanya mereka berhasil menyimpannya.

John biasanya tidur dengan jeruk yang ia akan terima nanti. Ia meletakkan jeruknya dekat dengan hidungnya sehingga ia dapat mencium aromanya, memegangnya dengan lembut dan hati-hatiagar tidak sampai merusak kulitnya. Ia akan bermimpi tentang anak-anak di seluruh dunia yang mencium aroma yang manis dari jeruk itu. Hal itu memberikan kepadanya rasa aman dan kaya harapan dan impian yang dipenuhi dengan segala makanan yang lezat dan suatu kehidupan yang amat berbeda dengan kahidupan miskin yang ia sedang jalani sekarang ini.

Tahun ini, John merasa amat senang dengan datangnya hari Natal. Sebentar lagi dia menjadi dewasa. Ia tahu ia akan menjadi tambah kuat dan tak lama lagi ia akan cukup dewasa untuk meninggalkan panti asuhan ini. Ia sangat bersuka cita akan Natal. Ia akan menyimpan jeruknya sampai hari ulang tahunnya di bulan Juli. Bila ia menyimpannya dengan baik dan hati-hati, diletakkan di tempat yang dingin dan tidak dijatuhkan, mungkin ia dapat memakannya pada hari ulang tahunnya.

Akhirnya hari Natal tiba. Anak-anak begitu senangnya ketika mereka memasuki ruang makan. John dapat mencium aroma dari masakan daging. Dalam sukacitanya yang luar biasa dan karena ukuran kakinya yang memang besar, ia tersandung sehingga mengakibatkan kekacauan. Dengan segera kepala panti asuhan membentaknya dengan suara kencang, “John, tinggalkanlah ruang makan sekarang dan tidak ada jeruk untukmu tahun ini.”

John merasa hatinya hancur lebur. Ia mulai menangis. Ia membalikkan badannya dan dengan cepat masuk ke dalam ruang tidurnya yang dingin dan memojok supaya anak-anak lain tidak dapat melihat kesedihan hatinya yang mendalam.

Kemudian ia mendengar pintunya terbuka dan melihat anak-anak masuk. Elizabeth yang kecil dengan rambutnya sepanjang pundaknya, dengan sebuah senyuman di wajahnya serta air mata di matanza, ia menggenggam selembar kain kumal di tangannya yang diulurkan kepada John.

“Ini John”, katanya, “Ini untukmu”. John tersentuh hatinya dan mengambil bungkusan kain dari tangannya. Ketika ia membuka kainnya, ia melihat sebuah jeruk yang besar yang sudah dikupas sehingga kelihatan warnanya yang menggiurkan. Kemudian ia baru mengerti apa yang sudah terjadi. Setiap anak telah mengorbankan seperempat dari miliknya masing-masing untuk dibagi sehingga menciptakan sebuah jeruk yang utuh untuk John.

John tidak pernah melupakan kasih sayang dan pengorbanan pribadi dari teman-temannya yang bersedia membagi jeruknya dengan dirinya seperti yang diperlihatkan kepadanya pada hari Natal itu.

John memulai hidupnya dalam keadaan miskin. Namun, setelah menjadi dewasa, ia menjadi kaya raya dan amat berhasil.

Sebagai kenang-kenangan akan hari itu, setiap tahun ia mengirim kepada setiap anak di seluruh dunia jeruk dalam jumlah yang amat besar.

Kerinduannya adalah supaya setiap anak jangan sampai merayakan Natal tanpa buah Natal yang istimewa!

Pelukan Kecil Dari Surga

1 Korintus 13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 18; Ibrani 12; Ayub 13-14

Elena Desserich adalah seorang gadis mungil yang baru berusia 6 tahun. Ia didiagnosa menderita kanker otak yang tak dapat dioperasi di usianya yang baru menginjak 5 tahun di tahun 2006. Sembilan bulan melawan penyakit yang dideritanya ternyata Elena kecil tahu apa yang harus ia lakukan untuk menjalani hari-hari akhir dalam hidupnya. Ia tetap hidup penuh sukacita bersama dengan ayah, ibu dan adiknya Grace.

Pada bulan Agustus 2007, Elena meninggal akibat kanker yang dideritanya. Beberapa hari setelah kematiannya, keluarganya mulai menemukan ratusan lembar pesan cinta yang diselipkan di antara halaman buku, di laci, di lemari, tas-tas milik keluarga, di pakaian, bahkan sampai di temapt penyimpanan dekorasi Natal. Dan pesan-pesan itu terus muncul sampai terkumpul hingga 3 kotak besar.

Apa yang tertulis di lembaran pesan tersebut sangat sederhana, berupa coretan tangan Elena yang bertuliskan “I love you mom, dad, grace” dan coretan gambar lainnya. Semuanya menunjukkan besarnya cinta Elena bagi keluarganya. Lembaran demi lembaran pesan yang ditemukan kedua orangtua dan adiknya itu bagaikan pelukan kecil dari sorga. Semua catatan itu kemudian dikumpulkan dan dijadikan buku berjudul “Notes Left Behind”.

Kematian adalah suatu hal yang menyedihkan dan mengharukan bagi mereka yang ditinggalkan. Namun Elena telah melakukan sesuatu yang tak terlupakan bagi orang yang dikasihinya. Ia tahu apa artinya hidup. Dalam umurnya yang singkat, Elena mewariskan sesuatu yang abadi dan memiliki kekuatan yang tak tergoyahkan oleh apapun juga, yaitu kasih. Menghargai kehidupan adalah suatu hal yang baik, namun meninggalkan warisan yang tak lekang oleh waktu adalah suatu hal yang luar biasa.

Raga ini akan berakhir suatu hari nanti namun kasih yang Anda wariskan kepada orang lain akan tersimpan selamanya di hati.

Jawaban.com

15 December 2011

Berdoa Dalam Kehendak Tuhan

Ketika melintasi Samudera Atlantik di atas kapal pesiar besar, pendeta F.B. Meyer diminta untuk berkhotbah di hadapan para penumpang kelas satu. Atas permintaan kapten kapal, ia berbicara dengan topik “Doa yang Dijawab“.

Seorang agnostik yang juga berada di antara penumpang kelas satu itu telah ditanya oleh teman-temannya, “Apa pendapatmu tentang khotbah Dr. Meyer itu?”

Ia menjawab, “Aku sama sekali tidak percaya sedikitpun!”

Di sore harinya, Meyerpun berbicara kepada penumpang kelas geladak. Di antara pendengar pada pagi hari, banyak yang hadir pula pada pertemuan sore hari itu, termasuk orang agnostik itu, dengan alasan ingin mendengar “apa saja yang dikatakan orang cerewet ini”.

Sebelum ibadah dimulai, orang agnostik itu membawa dua buah jeruk dalam sakunya. Dalam perjalanannya ke tempat ibadah, ia melewati seorang perempuan paruh baya yang sedang berbaring di kursi geladak sambil tertidur dengan nyenyaknya. Dengan spontan, orang itu meletakkan dua buah jeruk itu ke tangan perempuan itu yang sedang terbuka.

Setelah kebaktian usai, ia melihat perempuan itu dengan senang sedang memakan sebuah jeruk yang dia berikan sebelumnya.

“Agaknya, Anda sedang menikmati buah jeruk itu”, katanya dengan tersenyum.

“Benar, pak”, jawab perempuan itu. “Bapaku amat sayang kepadaku”

“Bapamu? Aku tahu dengan pasti bahwa ayah Anda sudah meninggal!”

“Puji Tuhan”, jawab perempuan itu, “Ia sungguh hidup”

“Apa yang Anda maksudkan?”, tanya orang agnostic itu.

Perempuan itu menjelaskan, “Anda tahu, aku selama beberapa hari ini mabuk laut. Aku telah memohon kepada Tuhan, entah dengan cara bagaimana mengirimiku jeruk. Agaknya aku baru saja tertidur ketika aku sedang berdoa. Ketika aku terbangun, aku menemukan bahwa Tuhan bukan mengirim sebuah jeruk, melainkan dua buah!” Orang agnostik itu tercengang dan tak dapat berkata-kata.

Kemudian orang itu bertobat dan menjadi orang percaya.

“Ya, berdoa dalam kehendak-Nya benar-benar dijawab!”

Our Daily Bread

Berebut Kepemimpinan

Bacaan Setahun : Titus 1-3, Filemon 1
Nats : ... sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28)

Bacaan : Matius 20:20-28

Perilaku anak-anak kerap membuat kita geli dan gemas. Kita memaklumi tingkah mereka sebab mereka memang tengah dalam tahap pertumbuhan dan pencarian jati diri. Akan tetapi, apabila perilaku itu terus terbawa sampai orang itu dewasa, itu bisa membuat muak. Kita menyebutnya kekanak-kanakan.

Sikap kekanak-kanakan itulah yang diperlihatkan oleh para murid ketika mempertengkarkan siapa yang lebih besar, siapa yang paling pantas memimpin, di antara mereka. Mereka ingin berada di posisi kepemimpinan, suatu posisi yang menuntut kedewasaan, tetapi mereka memandang kepemimpinan sebagai dunia yang berpusat pada aku, diriku, dan milikku. Kepemimpinan disambut sebagai wahana untuk memuaskan kepentingan dan ambisi pribadi.

Tuhan Yesus mengoreksi pandangan tersebut. Dia mengajukan cara pandang yang menjungkirbalikkan perspektif para murid. Kepemimpinan sejati tidak berfokus pada diri sendiri, tetapi pada kesejahteraan orang lain. Bekal utamanya ialah kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani sesama. Seorang pemimpin akan rela menyingkirkan kepentingan pribadinya demi memberikan sumbangsih yang bermakna bagi orang banyak. Kepemimpinan, dalam pandangan Yesus, bukan terutama mengacu pada kedudukan, melainkan pada sikap dan motivasi hati.

Bagaimana kecenderungan kita? Mengejar posisi atau mengutamakan kesediaan untuk melayani sesama? Mengincar keuntungan pribadi atau sungguh-sungguh rindu untuk memberkati orang lain, kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan diri? Bersediakah kita merendahkan diri sebagai pelayan? --ARS

KEPEMIMPINAN ADALAH PANGGILAN YANG LUHUR DAN TINGGI
SEHINGGA UNTUK MERAIHNYA KITA HARUS MERENDAHKAN DIRI

Sabda.org

13 December 2011

Balas Melukai

Bacaan Setahun : 1 Timotius 4-6
Nats : Janganlah berkata: "Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlakukan dia. Aku membalas orang menurut perbuatannya" (Amsal 24:29)

Bacaan : 1 Petrus 2:16-25

Adi yang berusia tujuh tahun menangis di ruang tamu. Ketika ditengok ibunya, ternyata ia menangis karena rambutnya ditarik-tarik oleh Bram, adiknya. "Sudahlah, Adi, jangan marah, " kata si ibu. "Adikmu baru tiga tahun. Ia belum tahu bahwa rambut itu sakit kalau ditarik." Setelah tangisnya reda, si ibu kembali ke dapur. Namun, sesaat kemudian terdengar Bram yang menangis! "Ada apa lagi ini?" tanya si ibu kesal. Seketika Adi menjawab dari ruang tamu: "Bu, sekarang Bram sudah tahu rasanya!"

Orang yang terluka biasanya terdorong untuk membalas. Terkadang tanpa disadari. Rasa dendam yang menyelinap di hati membuat kita tak lagi bebas mengasihi semua orang. Bagaimana mengatasinya? Petrus menasihati agar kita "hidup sebagai orang merdeka". Seseorang disebut merdeka jika jiwanya bebas dari dendam. Bebas dari niat membalas kejahatan dengan balik berbuat jahat. Dengan jiwa yang merdeka, kita bisa menghormati semua orang, termasuk majikan yang bengis terhadap kita (ayat 18-19). Petrus menjadikan Yesus sebagai contoh. Ketika dicaci maki hati-Nya terluka, tetapi Dia tidak balas melukai orang. Apa rahasianya? Dia menyerahkan urusan pembalasan itu kepada Bapa!

Adakah dendam dalam hati Anda? Niat balas dendam membuat hati tidak bisa lagi bening. Pikiran menjadi ruwet. Bahkan, bisa membuat kita nekat berbuat jahat. Kadang kala orang yang tidak melukai kita pun bisa kena getahnya. Pembalasan itu melumpuhkan dan membahayakan! Lebih baik serahkan sakit hati kita kepada Allah. Mintalah kepada Dia untuk mengambil alih perkara itu dan membebaskan jiwa Anda --JTI

PEMBALASAN HANYA AKAN MELUMPUHKAN ANDA IA TIDAK BISA MEMBEBASKAN ANDA

Sabda.org

12 December 2011

Orang Fasik, Orang Benar

Bacaan Setahun : 1 Timotius 1-3
Nats : Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan (Mazmur 1:6)

Bacaan : Mazmur 1:1-6

Kitab Mazmur mengisahkan hubungan antara orang beriman dan Tuhan. Maka, tak salah jika pengumpul kitab Mazmur meletakkan Mazmur 1 ini menjadi bagian pertama dari kumpulan mazmur. Dengan tegas, pemazmur menasihati agar orang beriman jangan hidup sembrono. Sekalipun "cuma" duduk di lingkungan pencemooh dan berdiri di lingkungan orang berdosa, itu bisa membuatnya terjerumus. Sebab, dosa akan melahirkan dosa. Maka, kita dinasihati supaya mengenali siapa orang fasik, siapa orang benar, dan menjaga hati kita saat bergaul dengan banyak orang.

Orang fasik ialah orang yang mengetahui kebenaran, tetapi mengabaikannya. Malah, hidupnya begitu banyak diisi dengan keinginan guna menyenangkan orang lain. Ia tak memiliki prinsip, hidupnya menjadi seperti sekam yang diterbangkan kian kemari oleh badai hidup. Walau bisa tampak hebat, tetapi dengan mudah ia bisa lenyap hingga tak berbekas.

Orang benar ialah orang yang bergaul dekat dengan Tuhan lewat firman-Nya. Hidupnya terus "bertumbuh seperti pohon yang ditanam di tepi sungai". Maka, sekalipun badai mengguncang dan panas terik melanda, ia tetap kokoh, bahkan terus berbuah. Inilah tandanya orang yang bergaul dengan Tuhan: hidupnya banyak memberkati orang lain dengan kebaikan dan kebenaran. Selain itu, secara pribadi ia diberkati dengan kebahagiaan dan kepuasan, sebab hidupnya melekat kepada Sang Sumber hidup.

Jaga hati kita dalam pergaulan dengan penuh kewaspadaan. Jadilah orang benar yang mengalami kepuasan dan kebahagiaan, serta menjadi berkat bagi orang lain. Yakni, dengan bergaul karib dengan Tuhan, melalui firman-Nya --SST

RAHASIA HIDUP YANG BERHASIL ADA PADA KETERLEKATAN KITA KEPADA SANG PENCIPTA

Sabda.org

10 December 2011

Christmas on Social Network

Buat yang tidak bisa lihat video ini klik disini.

Tidak Mempermalukan

Bacaan Setahun : 1 Tesalonika 4-5
Nats : Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam (Matius 1:19)

Bacaan : Matius 1:18-25

Pernikahan Anda dengan tunangan Anda sudah dekat. Anda berdua saling mencintai dan menjaga diri sampai pernikahan terjalin secara sah. Namun, tiba-tiba tunangan Anda mengaku hamil ... dan bukan karena Anda. Itulah tamparan yang dialami Yusuf. Berdasar apa yang diketahuinya, ia berhak mempersoalkan ketidaksetiaan itu sampai masyarakat mengetahuinya. Namun, ia memilih tidak mempermalukan Maria. Ia mengambil jalan sulit: hendak menceraikannya diam-diam agar gadis itu tak menanggung aib. Sikap itu juga memperlihatkan bahwa ia rela dianggap turut bersalah dalam perkara itu.

Kita tak tahu persis apa yang bergejolak di hati Yusuf. Kita maklum jika darahnya mendidih mendengar pengakuan Maria. Namun, setelah amarahnya surut, mungkin ia tercenung, sadar bahwa tak seorang pun bebas dari kesalahan. Mungkin ia terkenang riwayat leluhurnya yang tak luput dari berbagai peristiwa memalukan (Matius 1:1-17). Atau, mungkin terlintas dalam hatinya, perkataan yang kelak diucapkan Anak dalam kandungan itu: "Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (Yohanes 8:7).

Matius mencatat Yusuf sebagai orang yang tulus hati. Dalam terjemahan lain: orang mursyid; orang benar; orang saleh. Ia benar, justru karena tidak membenarkan diri dan mempertahankan haknya. Ia benar, dan karenanya menunjukkan belas kasihan. Alih-alih mempermalukan, ia mengejar pemulihan. Dalam kasus Maria, "pelanggaran" yang terjadi bukanlah kesalahannya. Namun, andaikata kita diperhadapkan pada orang lain yang melakukan pelanggaran, siapakah di antara kita yang bersedia mengikuti jejak Yusuf? --ARS

ORANG BENAR BAHKAN BERSEDIA "MENYERAP" KESALAHAN
UNTUK MEMULIHKAN SI PELAKU PELANGGARAN

Sabda.org

09 December 2011

Habis Gelap Terbitlah Terang

Bacaan Setahun : 1 Tesalonika 1-3
Nats : ... seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (Yesaya 9:5)

Bacaan : Yesaya 8:23-9:6

Masa depan yang suram kerap digambarkan seperti sebuah lorong gelap yang terasa tak berujung. Tanpa keyakinan bahwa di ujung lorong itu ada titik terang, sedikit sekali orang yang sanggup bertahan menjalani masa "lorong gelap" ini. Hanya pengharapan bahwa masa depan akan lebih baik dari masa kini yang dapat membangkitkan semangat hidup.

Nubuat Yesaya ini juga hadir dan menjadi harapan: "habis gelap terbitlah terang". Secara ekonomis, bangsa Israel bersukacita karena terlepas dari hukuman Tuhan dan merasakan kegembiraan karena panen yang melimpah. Secara politik, mereka tidak lagi terancam oleh bangsa adikuasa. Namun, sejatinya nubuat ini lebih menunjuk pada masa depan yang lebih gemilang, yaitu ketika Mesias, keturunan Daud, hadir dalam panggung sejarah Israel dan dunia. Dialah yang akan membawa pemulihan. Dan, tidak sekadar pemulihan ekonomi dan politik. Lihat saja gelar-gelar-Nya: Penasihat Ajaib, Allah Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (ayat 5). Dengan kebesaran-Nya itu, Dia akan menegakkan Kerajaan Allah di bumi ini! Dan, kerajaan-Nya yang kekal akan menghasilkan keadilan, kebenaran, dan kedamaian bagi setiap penduduknya.

Dulu, ketika kita terbelenggu dalam dosa, hidup kita tak punya pengharapan karena ada di bawah bayang-bayang penghukuman Allah yang adil. Namun kini dan kemudian, kelahiran, kematian, dan kebangkitan-Nya mematahkan belenggu dosa itu sehingga kita benar-benar dimerdekakan oleh Kristus. Jadi, marilah kita, sebagai orang yang menang, hidup di dalam kebenaran dan membagikan harapan damai sejahtera kepada setiap orang --ENO

WALAU DUNIA MEMBUAT DAMAI SEJAHTERA TERENGGUT
KRISTUS MAMPU MEMBERI PENGHARAPAN DAN SEMANGAT BARU

Sabda.org

05 December 2011

Bukan Tanda Jasa

Bacaan Setahun : Efesus 1-3
Nats : Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan (Keluaran 20:2)

Bacaan : Keluaran 20:1-17

Perikop kali ini adalah tentang Sepuluh Perintah Allah yang menjadi kunci hukum Taurat. Ada banyak peringatan (delapan perintah diawali kata "Jangan"), satu pengingat (hukum tentang hari Sabat), dan satu lagi perintah (untuk menghormati ayah ibu). Dalam perkembangannya, kelompok Farisi membuatnya amat detail hingga mencapai 631 hukum. Sebaliknya, Yesus meringkaskannya menjadi padat dalam dua perintah saja: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.

Tentu para penerima hukum tersebut (orang Israel dulu dan kita pada masa sekarang) diharapkan untuk memperhatikan dan melakukan perintah-perintah ini. Hasil yang diharapkan adalah kehidupan moral yang terjaga, serta kehidupan rohani yang murni dalam ketaatan kepada Allah. Ini tentu sangat positif. Namun, kita perlu menjaga diri agar tidak terjatuh pada kecenderungan hati yang merasa telah hidup dengan baik sehingga merasa layak mendapat "tanda jasa" dari-Nya.

Sejak awal, ketika hukum Taurat diberikan, Musa telah memberi peringatan kepada umat supaya waspada terhadap mentalitas batin yang merasa telah "berjasa" karena mematuhi perintah Tuhan. Sebaliknya, motivasi benar yang seharusnya kita miliki adalah bahwa kita mematuhi perintah-Nya karena menanggapi karya Allah: "Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan" (ayat 2). Karena itu, marilah kita membuka hati agar dapat melihat bahwa Allah lebih dulu berkarya luar biasa bagi diri kita. Serta, teruslah meyakini bahwa apa yang kita berikan kepada Allah adalah wujud ungkapan syukur atas kasih-Nya yang tiada terukur --DKL

BIARLAH SEGALA KETAATAN YANG KITA TUNJUKKAN
MERUPAKAN TANGGAPAN ATAS KASIH TUHAN YANG MENGAGUMKAN

Sabda.org

03 December 2011

Setengah Ketaatan

Bacaan Setahun : Galatia 1-3
Nats : ... aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas (1 Samuel 15:20)

Bacaan : 1 Samuel 15:1-28

Apa akibatnya jika kita tidak melakukan perintah Tuhan dengan segenap hati? Tentu, apa yang kita lakukan menjadi tidak berkenan di hadapan-Nya. Suatu ketika, Saul menerima perintah Tuhan untuk menyerang Amalek dan membinasakan mereka tanpa terkecuali. Saul pun membunuh semua orang Amalek. Hanya, ia menyisakan satu orang, yaitu raja Agag (ayat 8). Pula, ia membiarkan rakyat "menyelamatkan" kambing domba serta lembu yang terbaik dengan alasan hendak dipersembahkan kepada Tuhan. Apa akibat dari ketaatan Saul yang setengah-setengah ini? Tuhan menolak Saul menjadi raja dan memberikan jabatan itu kepada orang lain. Tidak adilkah Tuhan? Bukankah satu orang saja yang dibiarkan hidup? Apakah artinya satu orang dibandingkan ribuan orang Amalek yang sudah dibunuh Saul? Apakah artinya sebuah "dosa kecil" dibandingkan hal spektakuler yang sudah Saul lakukan untuk membinasakan bangsa Amalek?

Justru di sinilah masalahnya! Ketaatan yang setengah-setengah takkan pernah berkenan di hadapan Tuhan-sebab itu sama dengan ketidaktaatan. Jangan berpikir Tuhan terpesona pada keperkasaan Saul yang telah membinasakan ribuan orang Amalek. Tuhan tidak kenal istilah kompromi. Tuhan menginginkan ketaatan yang total.

Apakah Tuhan berkenan dengan persembahan kita yang sangat banyak, pelayanan kita yang spektakuler dan penuh mukjizat, sementara kita masih menyimpan dosa di hati? Keliru besar kalau kita berpikir bahwa Tuhan akan mengangguk-angguk senang atas jerih lelah kita dalam pelayanan. Taatlah secara total dan tinggalkan dosa sekarang juga --PK

MENAATI TUHAN DENGAN SETENGAH HATI SAMA ARTINYA DENGAN TIDAK MENAATI

Sabda.org

02 December 2011

Takkan Menyerah

Bacaan Setahun : 2 Korintus 11-13
Nats : ... mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring (Markus 2:4)

Bacaan : Markus 2:1-12

Iman dan usaha untuk berbuat sesuatu adalah ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang tak terpisahkan. Tanpa ada perbuatan yang dilakukan, diragukan bahwa di situ ada iman (Yakobus 2:14-18). Bukankah perbuatan kita merupakan penampakan dari apa yang kita imani?

Sekumpulan orang yang beriman kepada Yesus menyaksikan bagaimana Yesus mengajar dengan kuasa dan mukjizat, serta menyembuhkan orang sakit (Markus 1:21-28). Dari situ, hati mereka tergerak untuk menolong teman sekampung mereka yang sejak kecil lumpuh dan tersisih hidupnya. Mereka beriman Yesus mampu menyembuhkan maka mereka tidak diam saja. Meski banyak rintangan: mungkin rumah si lumpuh jauh, mungkin tubuhnya berat. Ditambah lagi, ketika sampai di tempat Yesus, ternyata rumah itu penuh sesak dan orang-orang tak mau memberi jalan. Namun, sekali lagi iman itu mereka wujudkan dengan usaha yang pantang menyerah. Mereka membuka atap rumah, dengan risiko si empunya rumah marah. Iman yang besar kepada Yesus memampukan mereka mengatasi segala hambatan. Ketika si lumpuh diturunkan, Yesus melihat iman mereka yang mau berusaha itu dan memberi kesembuhan. Iman itu menjadi kenyataan karena anugerah Allah di dalam Kristus, bukan karena kemampuan mereka sendiri.

Apabila kita sedang menghadapi sebuah tugas atau tantangan hidup yang butuh iman dan perjuangan keras, ingatlah kisah ini. Teguhkan iman dengan memandang kebesaran Allah yang sanggup menolong sehingga menguatkan kita untuk berjuang pantang menyerah. Serahkan ketidakberdayaan kita ke alamat yang tepat, yakni Yesus yang mampu membuat iman kita menjadi kenyataan --SST

IMAN MENGARAHKAN MATA KITA KEPADA YESUS YANG HEBAT
AGAR DENGAN IMAN ITU KITA MEMBERI USAHA TERBAIK KITA

Sabda.org

01 December 2011

Rajawali Anak Ayam

Intrapersonal intelejen penting dalam keberhasilan. Bagian dari intrapersonal inteligence adalah self image atau citra diri. Mengapa citra diri penting dan berpengaruh dalam keberhasilan? Karena citra diri mempengaruhi seseorang membawakan dirinya, mempengaruhi bagaimana dia berhubungan dengan orang lain. Dan tentunya mempengaruhi batas tertinggi yang bisa diraih.

Saya berikan kisah ilustrasi. Suatu ketika ada seekor ayam, dia berjalan-jalan di kaki bukit dan menemukan telor. Dia berfikir, wah ada telor ayam tercecer, dia ambil telor itu dan dia erami bersama telornya yang lain. Singkat cerita menetaslah si telor-telor ini termasuk telor yang ia temukan. Dan rupanya telor yang ia temukan itu menetas dan tumbuh menjadi anak yang berbeda, karena sebenarnya telor itu telor rajawali yang jatuh menggelinding dari bukit dan dierami sama si ayam. Walaupun dierami sama si ayam tentu ia tetap menetas sebagai rajawali. Tapi sirajawali ini hidup bersama-sama ayam. Ia punya kakak ayam, cici ayam, punya koko ayam, hidup bersama-sama ayam, makan bersama ayam, punya mama ayam, punya tetangga ayam.

Sirajawali ini tidak merasa bahwa dirinya rajawali. Ia merasa dirinya ayam, karena berbicara bahasa ayam, makan bersama ayam. Tapi ia merasakan hidupnya aneh, kenapa kaki saya, kukunya melengkung tidak seperti ayam yang menapak, ia berlaripun susah sering terpeleset. Lalu ia mulai frustrasi dengan dirinya sendiri kenapa saya begini, ia mulai bertanya pada ibunya ”Mama, mama, saya ini ayam atau bukan? Kok saya kakinya beda.”

Ibunya berkata ”Nak. Aku yang melahirkan kamu, aku yang mengerami kamu, jadi kamu ayam juga. bersyukurlah dengan dirimu, nak. Kamu itu ayam. Maka si rajawali ini melanjutkan hidupnya, dia juga makan dengan susah karena paruhnya bengkok tidak seperti ayam yang lain yang paruhnya runcing. Jalan susah, makan susah, dia frustrasi dengan dirinya, dia bertanya pada ibunya lagi ”Mama saya ini ayam atau bukan sih ma? Kenapa saya ini tidak seperti yang lain.

Ibunya berkata,”Nak kamu memang beda dengan yang lain, tapi aku mencintai kamu apa adanya. Mama mau bilang ya nak, kamu adalah ayam.”

Sirajawali yang hidup bersama ayam ini melanjutkan hidupnya dan ketika dia berlari sayapnya lebih panjang dari yang lain, nabrak-nabrak pagar, ketika yang lain masuk celah yang sempit dengan mudah, dia cukup kesulitan.

Singkat cerita, ibunya sudah tua, hampir mati, maka si rajawali mendatangi si induk ayam ini. Bertanya lagi, ”Ma, mumpung mama masih hidup, mama sudah sakit keras, saya mau nanya, Ma. Katakan sebenarnya jangan ada rahasia di antara kita, saya ini ayam atau bukan sih, Ma?”

Mamanya ambil nafas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya lalu dia berkata, ”Nak, Mama jadi ingat, dulu mama menemukan telur, lalu mama erami kamu, jadi kamu ini adalah a..a..a..a petok!” lalu matilah si induk ayam.

Wah, ibunya belum selesai bicara sudah mati. Si anak ini bingung, nemu telor, lalu dierami, kamu ini a..a..a. apa ya? Ayamlah masa anjing..yah sudahlah memang saya ayam. Maka si rajawali ini hidup sebagai ayam, menilai dirinya ayam, hidup susah bersama ayam. Lalu singkat cerita rajawali itu mati, di kuburannya dipasang ada nisan “Telah mati seekor ayam”.

Betapa banyak orang sebenarnya punya kemampuan lebih, tapi hidup susah, cari makan susah, frustrasi dengan dirinya sendiri karena tidak mengenal jati dirinya sendiri. Dia tidak mengenal hidupnya sendiri, jati dirinya, kemampuan dirinya. Kenapa? karena lingkungan. Rajawali yang hidup bersama ayam, dia menjadi hidup seperti ayam. Orang belajar jati diri sering kadang-kadang mengadopsi dari orang lain. Orang menyerap self image atau gambar diri dari orangtua, dari teman, karena itu orang sering mengatakan bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan baik.
Orang lain mengatakan, bila ingin tahu siapa dia? Lihat empat orang terdekatnya, maka itulah dia. Orang bergaul dengan maling jadi maling, orang bergaul dengan pemalas, jadi pemalas. Orang bergaul dengan orang optimis jadi optomis, orang bergaul dengan yang rajin jadi rajin. Karena dalam hal membangun gambar diri sesorang memang tidak bisa dihindari orang menyerap gambar-gambar diri yang ada dilingkungannya. Bapaknya memukul ibunya, maka si anak akan memukul adiknya, dia akan memukul istrinya nanti kalau dia nanti menikah. Lingkungannya kasar dia akan menyerap nilai-nilai kasar, dan gambar diri kasar. Karena itu penting sekali kita membangun keluarga dengan nilai-nilai, value-value yang baik, karena itu akan menjadi nilai-nilai dan value-value pada anak kita.

Kita punya keyakinan yang bagus, optimis, hidup benar, maka anak-anak kita juga akan seperti itu. Oleh sebab itu, sudah saatnya kita membangun sebuah generasi baru dengan nilai-nilai yang baik. Inilah saatnya kita juga menentukan dan mengawasi lingkungan anak-anak kita, sampai dia besar dan dewasa dan bisa mengambil keputusan untuk menentukan lingkungannya sendiri. Tapi tetap orang tua boleh mengarahkan anak-anaknya untuk mengambil lingkungan yang positif. Karena lingkungan akan mempengaruhi seseorang menentukan, menilai dan membangun gambar dirinya.

Salam Sukses

Janganlah Mengecewakan TUHAN

ALLAH: Para malaikat, apakah kalian tahu, apa yang Aku sedang pikirkan?

MALAIKAT: Apa yang sedang Engkau pikirkan, Tuhan?

ALLAH: Orang-orang percaya agaknya lupa kuasa apa yang tersedia bagi mereka sedangkan si Iblis senantiasa menipu mereka!

MALAIKAT: TUHAN, apa yang sebenarnya Engkau maksudkan?

ALLAH: Aku telah menciptakan anak-anak-Ku sedemikian rupa sehingga ketika dunia sedang duduk, mereka berdiri dan bila dunia itu berdiri, anak-anak-Ku berdiri dengan menonjol, dan apabila dunia menonjol, anak-anak-Ku harus lebih menonjol lagi. Dan apabila si Iblis menantang dunia untuk mengetahui siapakah yang lebih menonjol, anak-anak-Kulah yang akan merupakan norma untuk dipergunakan!

YESUS KRISTUS: Orang-orang percaya pun melupakan Firman yang terdapat di Efesus 1:3

ALLAH: Tolong dibaca!

MALAIKAT: TERPUJILAH ALLAH DAN BAPA TUHAN KITA YESUS KRISTUS YANG DALAM KRISTUS TELAH MENGARUNIAKAN KEPADA KITA SEGALA BERKAT ROHANI DI DALAM SORGA.

MALAIKAT: Kini apa yang hendak kita lakukan, karena akhir zaman sudah amat dekat?

ROH KUDUS: Kehadiran-Ku masih di antara manusia dan Aku akan mengajar dan mengingatkan orang-orang percaya akan segala sesuatu yang Kita telah perbincangkan. Akupun akan pastikan untuk meneruskan pesan ini!

YESUS KRISTUS: Aku pun akan tetap mengetengahi mereka dan menggantikan mereka dalam kelemahannya.

ALLAH: Aku akan memastikan bahwa Aku akan memberikan apa yang mereka minta dari Aku, mencari-Ku dan berusaha untuk mendapatkan Aku, berkat-berkat yang telah Aku janjikan melalui Anak-Ku, Yesus Kristus akan dilimpahkan kepada semua orang yang menyadari bahwa Aku, Yehova, senantiasa bersedia untuk memberkati mereka!

Bukan sebagai akibat dari sesuatu yang khusus mereka telah lakukan, melainkan karena AKU MENGASIHI MEREKA!

IBLIS (Sedang diam-diam memasang telinga di balik pintu): Kalian mendengar sendiri! Aku akan mengerahkan lebih banyak pasukan Iblis lagi untuk memastikan bahwa orang-orang percaya tidak sering berdoa lagi serta tidak banyak membaca Alkitab dan kurang menyebarkan Injil…

Kini Anda mendengar sendiri apa yang menjadi rencana Iblis. Buktikanlah bahwa Ibils salah dan tunjukkanlah kuat kuasa yang Anda miliki dalam Kristus Yesus.

Sebagai orang percaya, berdoalah lebih banyak lagi, bacalah Alkitab lebih sering lagi dan bersukalah dalam menyebarkan Kabar Baik kepada dunia! Hendaknya Anda tidak mengecewakan Tuhan!

Kiriman: Ev. Andreas Christanday

Mengejar Ekor

Bacaan Setahun : 2 Korintus 8-10
Nats : Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian ... juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan ... (1 Raja-raja 3:12-13)

Bacaan : 1 Raja-raja 3:4-14

Seekor kucing keasyikan mengejar ekornya sendiri. Berputar-putar, dan berputar-putar lagi, berharap segera mendapati ekornya tertangkap. Ia pikir, ketika ia sudah mendapatkan ekornya, ia akan bahagia. Ia tidak akan khawatir kehilangan ekor, karena ia telah memegang ekornya. Padahal itu salah sama sekali! Berputar sampai pingsan pun ia takkan dapat menangkap ekornya. Ia hanya akan kelelahan. Dan sesungguhnya, bukankah tanpa dikejar pun, ekor itu selalu setia mengikutinya?

Sadar atau tidak, kerap kali orang memakai waktu hidupnya untuk banyak mengejar kesuksesan, kekayaan, pengakuan, dan sebagainya, agar hidupnya bahagia. Segala upaya, waktu, dan energi, dicurahkannya untuk mengejar hal-hal itu. Padahal, itu sebenarnya adalah target hidup yang salah! Segala target yang tidak bernilai kekal, tidak layak kita kejar sedemikian rupa. Kita malah kehilangan target yang utama, yang Tuhan ingin agar kita raih dan miliki, supaya hidup kita berarti.

Mari simak lagi, bagaimana Tuhan berkenan pada permintaan Salomo (ayat 10). Yakni, ketika Salomo meminta hikmat sebagai hal terpenting yang ia rindukan, bukan yang lain-lain (ayat 9). Dan, ketika target utama itu telah ia sasar, Tuhan ternyata menambahkan hal-hal lain yang Salomo perlukan, meski Salomo tidak memintanya (ayat 13). Tanpa perlu dikejar, Tuhan memberinya kekayaan, kemuliaan, umur panjang. Itu semua bonus! Sebab itu, kita diajar untuk tidak mengejar bonus, tetapi target utama: hikmat. Yakni, hati yang berpadanan dengan hati Tuhan. Mata yang melihat seperti mata Tuhan. Hidup yang berjalan sebagaimana Tuhan berjalan. Mari kenali pribadi Tuhan lebih intim. Dan, milikilah hikmat dari-Nya --AW

HIDUP KITA DI DUNIA INI TERBATAS ADANYA MAKA TENTUKAN TARGET YANG BENAR DAN KEKAL NILAINYA

Sabda.org