Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

08 July 2008

Humor : Mr. Bean

Mr. Bean di sekolah

Guru: Berapakah 5 plus 4?
Mr. Bean: 9
Guru: Berapakah 4 plus 5?
Mr. Bean: He, he, Anda mau menjebak saya, Anda hanya membalik hitungannya, jawabnya 6!


Mr. Bean di apotik

Mr. Bean: Saya ingin membeli vitamin untuk cucu saya.
Karyawan: Vitamin apa, A, B atau C?
Mr. Bean: Apa saja, cucu saya belum bisa membaca!!

The Smell Of Rain

A cold March wind danced around the dead of night in Dallas as the doctor walked into the small hospital room of Diana Blessing. Still groggy from surgery, her husband David held her hand as they braced themselves for the latest news. That afternoon of March 10, 1991, complications had forced Diana, only 24-weeks pregnant, to undergo an emergency cesarean to deliver the couple's new daughter, Danae Lu Blessing. At 12 inches long and weighing only one pound and nine ounces, they already knew she was perilously premature. Still, the doctor's soft words dropped like bombs. 'I don't think she's going to make it', he said, as kindly as he could. "There's only a 10-percent chance she will live through the night, and even then, if by some slim chance she does make it, her future could be a very cruel one."

Numb with disbelief, David and Diana listened as the doctor described the devastating problems Danae would likely face if she survived. She would never walk, she would never talk, she would probably be blind, and she would certainly be prone to other catastrophic conditions from cerebral palsy to complete mental retardation, and on and on. "No! No!" was all Diana could say. She and David, with their 5-year-old son Dustin, had long dreamed of the day they would have a daughter to become a family of four. Now, within a matter of hours, that dream was slipping away. Through the dark hours of morning as Danae held onto life by the thinnest thread, Diana slipped in and out of sleep, growing more and more determined that their tiny daughter would live-and live to be a healthy, happy young girl.

But David, fully awake and listening to additional dire details of their daughter's chances of ever leaving the hospital alive, much less healthy, knew he must confront his wife with the inevitable. David walked in and said that we needed to talk about making funeral arrangements. Diana remembers 'I felt so bad for him because he was doing everything, trying to include me in what was going on, but I just wouldn't listen, I couldn't listen.' I said, "No, that is not going to happen, no way! I don't care what the doctors say; Danae is not going to die! One day she will be just fine, and she will be coming home with us!"

As if willed to live by Diana's determination, Danae clung to life hour after hour, with the help of every medical machine and marvel her miniature body could endure. But as those first days passed, a new agony set in for David and Diana. Because Danae's under-developed nervous system was essentially 'raw,' the lightest kiss or caress only intensified her discomfort, so they couldn't even cradle their tiny baby girl against their chests to offer the strength of their love. All they could do, as Danae struggled alone beneath the ultraviolet light in the tangle of tubes and wires, was to pray that God would stay close to their precious little girl. There was never a moment when Danae suddenly grew stronger.

But as the weeks went by, she did slowly gain an ounce of weight here and an ounce of strength there. At last, when Danae turned two months old, her parents were able to hold her in their arms for the very first time. And two months later-though doctors continued to gently but grimly warn that her chances of surviving, much less living any kind of normal life, were next to zero. Danae went home from the hospital, just as her mother had predicted.

Today, five years later, Danae is a petite but feisty young girl with glittering gray eyes and an unquenchable zest for life. She shows no signs, what so ever, of any mental or physical impairment. Simply, she is everything a little girl can be and more-but that happy ending is far from the end of her story.

One blistering afternoon in the summer of 1996 near her home in Irving, Texas, Danae was sitting in her mother's lap in the bleachers of a local ballpark where her brother Dustin's baseball team was practicing. As always, Danae was chattering non-stop with her mother and several other adults sitting nearby when she suddenly fell silent. Hugging her arms across her chest, Danae asked, "Do you smell that?" Smelling the air and detecting the approach of a thunderstorm, Diana replied, "Yes, it smells like rain." Danae closed her eyes and again asked, "Do you smell that?" Once again, her mother replied, "Yes, I think we're about to get wet, it smells like rain." Still caught in the moment, Danae shook her head, patted her thin shoulders with her small hands and loudly announced, "No, it smells like Him. It smells like God when you lay your head on His chest." Tears blurred Diana's eyes as Danae then happily hopped down to play with the other children.

Before the rains came, her daughter's words confirmed what Diana and all the members of the extended Blessing family had known, at least in their hearts, all along. During those long days and nights of her first two months of her life, when her nerves were too sensitive for them to touch her, God was holding Danae on His chest and it is His loving scent that she remembers so well.

Stepping Stones Take Us Closer To God

Today's Scripture

"I will restore the years that the locust has eaten and I will bring you out with plenty and you shall be satisfied." (Joel 2:25)

Today's Word from Joel and Victoria

God wants you to live a satisfied life. He has promised to restore all the things that the enemy has stolen. However, just because God gives us this great promise, doesn't mean it will automatically come to pass. We've got to do our part, and develop a restoration mentality. We must expect things to change in our favor. We must be strong-willed and determined, and do everything we can to recover what the enemy has stolen from us. Remember, obstacles are simply opportunities for advancement. If you'll do your part to have a restoration mentality, God will take every obstacle that comes into your life and turn it into a stepping-stone that will take you to a place of higher honor and greater blessing.

A Prayer for Today

God, help me develop an attitude of hopeful expectancy. I know that You only want the best for me and that sometimes means learning to be strong even through hard times. Regardless of my circumstances, please remind me to be patient and to wait for you to reveal the perfect plan you have for my life. I want to have a "restoration mentality!" In Jesus' name - Amen.

 

Joel Osteen Ministries

Tergerak Bertindak

Nats : Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit (Matius 14:14)

Bacaan : Matius 14:13-21

Kalau Anda hanya punya tabungan Rp3.300.000,00, maukah Anda menyumbangkannya untuk orang lain? Elly Liligoli mau. Ia mempergunakan seluruh uang yang ia miliki untuk membeli buku pelajaran, alat tulis, dan kapur tulis untuk anak-anak Suku Rana di pedalaman Pulau Buru, Provinsi Maluku. Semua itu berawal dari air matanya yang mengucur ketika menyaksikan kenyataan bahwa ratusan anak Suku Rana tak dapat mengenyam bangku sekolah, sehingga mereka tidak dapat membaca, menulis, dan berhitung. Hati Elly tergerak oleh belas kasihan.

Ia pun nekat membangun sekolah darurat dan harus berupaya keras meyakinkan masyarakat yang telanjur apatis terhadap upaya pengadaan pendidikan. Bahkan, Elly memberi dirinya menjadi guru pengajar dari 125 anak Suku Rana. Ia mengajar membaca, menulis, berhitung, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan mata pelajaran lain. Dari upaya yang dirintis tahun 2001 itu, akhirnya ada 17 murid Sekolah Dasar Suku Rana pertama yang lulus Ujian Akhir Nasional. Murid-murid itu pun kemudian melanjutkan ke SMP.

Tentu kita juga pernah tergerak oleh belas kasihan ketika melihat, mendengar, atau membaca pengalaman menyedihkan yang dialami orang lain. Lalu kita bersimpati dan merasa iba. Alkitab juga kerap mencatat bahwa Tuhan Yesus "tergerak hatinya oleh belas kasihan". Bedanya, pada saat-saat demikian Yesus tidak hanya tergerak hati-Nya tetapi juga bertindak secara praktis, yaitu menyembuhkan mereka yang sakit (ayat 14). Ya, simpati yang diikuti tindakan sekecil apa pun akan jauh lebih berarti daripada sekadar rasa kasihan -AYA

HATI YANG TERGERAK OLEH SIMPATI ITU MANUSIAWI
SIMPATI YANG DIIKUTI TINDAKAN ITU KRISTIANI

SABDA.org

Setelah Kau Menikahiku Bag. VIII

Pram merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Dibelakangnya ia menuliskan sederet nomor. "Hubungi aku kalau kau bersedia. Aku menunggu."

Malamnya aku berbaring di kamar, menatap kartu itu lekat-lekat seperti gadis belia yang sedang mabuk kepayang. Aku bukan remaja lagi dan seharusnya aku lebih bisa menguasai diriku sendiri. Tapi aku tak bisa membohongi hatiku sendiri. Kehadiran Pram membangunkan lagi semua harapan dan khayalan yang kukira telah lama lenyap. Tapi masih adakah kemungkinan antara aku dan Pram? Ia mengira dan aku telah meyakinkannya, kalau aku telah menikah dan segalanya telah berakhir. Yang ia tidak ketahui, pernikahanku dengan Idan hanya sebuah permainan yang bisa kusudahi kapan pun aku mau. Tapi, kalau pun ia tahu, apakah segalanya akan berbeda? Apa pendapatnya kalau aku menceritakan semua padanya? Aku ingin tidak memikirkan Pram lagi. Apa yang kuharapkan bersamanya mustahil terjadi. Tapi, hidup dengan Idan seperti ini selamanya juga tidak mungkin. Semua ini hanya sandiwara yang akan berakhir, cepat atau lambat. Apakah kembalinya Pram suatu kesempatan kedua yang semestinya kuraih karena mungkin tidak akan pernah ada lagi? Tapi bagaimana? Kiriman bunga kedua datang dua hari kemudian.

Aku memikirkanmu. Tahukah ia bahwa aku pun tak bisa menghapuskan senyum, mata, wajah dan suaranya dari benakku? Kotak mawar yang ketiga datang di akhir pekan. Maaf kalau kau menganggapku lancang karena terus mencintaimu. Tapi bisakah kau menghentikan badai? Aku tak bisa. Aku bahkan tak kuasa membendung gemuruh di hatiku sendiri. Aku ingin bersamanya, selamanya. Dan itu mustahil. Sore itu, sebelum aku pulang, kutekan nomor yang sudah kuhapal diluar kepala itu. "Kalau kau ada waktu, kita bisa melihat pameran lukisan di galeribaru dekat kantorku."

"Kau yang menentukan apa aku punya waktu atau tidak, Ita."

Dan esok harinya kuhabiskan bersama Pram, mendiskusikan lukisan dan benda seni, sesuatu yang lama ingin kuulangi lagi. Aku tak bisa memungkiri betapa menyenangkannya bercakap-cakap dengan Pram, membicarakan seribu satu hal yang tak pernah kusinggung saat bersama Idan. Setelah lama membicarakan masalah seni rupa, Pram tiba-tiba bertanya.

"Kenapa kau menikah dengan Idan?"

"Kenapa kau bertanya?"

"Seingatku, ia bukan tipemu."

Aku tertunduk. "Kenapa, Ita?"

"Idan mencintaiku", bisikku pelan.

"Apa kau mencintainya."

Kebisuanku mem berinya jawaban.

"Apa kau bahagia?" lanjutnya lirih.

Kutatap matanya yang teduh dan hangat. "Ya."

"Jangan berbohong."

"Idan suami yang baik."

"Tapi apa kau bahagia?"

Bagaimana mengatakan bahwa aku tidak pernah merasa sebahagia saat itu, melewatkan waktu bersamanya?

"Berapa lama kau menikah dengan Idan?"

"Setahun."

"Maaf kalau ini menyinggung perasaanmu. Tapi apa kau menikahinya karena terpaksa? Karena usia dan...."

"Stop." Aku bangkit dan meninggalkannya. Maafkan aku kalau perasaanmu terluka karena pertanyaanku. Tapi bisakah kau renungkan perasaanku sendiri? Bagaimana hatiku tersiksa ketika tahu pernikahan tidak membuatmu bahagia? Kartu itu bergetar ditanganku dan tulisannya kabur dalam genangan air mataku.

"Ita," tanya sekretarisku yang, entah kapan, telah memasuki ruangan.

"Ada apa?"

"Tidak apa-apa," bisikku, mencoba mengendalikan diri. "Tolong keluar sebentar. Aku harus menelepon Idan."

Begitu ia keluar, dengan sangat enggan kudial nomor kantor Idan. Aku tiba-tiba sadar bahwa sejak menikah dengannya aku tak lagi pernah mengadu dan bertanya kepadanya tentang segala hal yang menyangkut hati dan perasaan. Dan kini, aku tahu aku sangat membutuhkan masukannya, seperti dulu, sebelum ia menjadi suami simulasiku.

"Idan."

"Upit? Ada apa pagi-pagi begini?"

"Aku .... Kau tahu ..., " aku terbata. Bagaimana mulai menceritakan kepada suamiku -- walaupun hanya simulasi -- bahwa aku sedang dirundung kasmaran kepada lelaki lain? Idan tidak akan marah, aku tahu. Dia tidak berhak untuk itu. Tapi itu tidak membuat segalanya mudah. Ia bukan lagi sekadar seorang sahabat tempat curahan keluh kesah dan semua masalahku. Ia adalah suamiku, simulasi atau bukan sekalipun. Dan menceritakan hal seperti kartu dari Pram dan bunga mawar putihnya terasa sangat tidak pantas dan kejam untuk dilakukan.

"Ya?" desak Idan.

"Aku.... Idan, kau kenal Indri, kan?"

"Sekretarismu? Tentu."

"Bekas pacarnya yang pilot itu kembali."

"Lalu?"

"Sekarang mereka sering bertemu. Suami Indri tidak tahu, tentu. Tapi sekarang Indri bingung. Ia mengaku jatuh cinta lagi dengan bekas pacarnya itu. Dan si bekas pacar ini pun ingin menikahi Indri."

"Tapi Indri sudah punya anak dua kan?"

"Ya. Tapi menurut si pilot ini, anak bukan masalah. Mereka boleh memilih untuk tinggal dengan siapa."

"Lalu apa hubungannya semua itu denganmu?"

Aku menghela napas. "Indri bertanya apa yang mesti dia lakukan. Aku tak bisa menjawab."

"Dan kau bertanya pada pak gurumu. Baik. Eh! Tunggu sebentar," meskipun ia menutup mikrofon telepon, aku bisa mendengarnya berteriak kepada seseorang di ujung sana, "Tunggu sebentar, ini istriku! Ya, mulailah dulu. aku menyusul."

Istriku. Aku istrinya. Istrinya. Dan jantungku rasanya melesak ke dalam bumi.

"Maaf. Mereka benar-benar tidak bisa apa-apa tanpaku ...," suara Idan kembali di telepon.

"Karena kau yang membuatkan kopi?"

"Kau!" ia tertawa, lalu segera kembali serius. "...Kupikir Indri dan pacarnya terlalu egois. Mereka tidak bisa lagi hanya memikirkan keinginan mereka sendiri. Ada suami Indri dan anak-anaknya yang juga harus diperhitungkan."

"...Tapi kalau Indri tidak bahagia lagi menikah dengan suaminya, apa perkawinan itu harus dan bisa dipertahankan?"

"Sebaiknya kau tanya Indri, apa dia benar-benar mencintai bekas pacarnya itu, atau mereka hanya terpesona dengan nostalgia masa lalu? Apa mereka benar-benar saling membutuhkan atau mereka hanya ingin mengulang keindahan masa pacaran mereka dulu? Kalau hanya itu yang mereka inginkan, mereka akan kecewa kalau terus bersama, karena Indri dan pacarnya sudah jadi orang-orang yang berbeda, sudah lebih dewasa, bukan lagi remaja yang masih hijau."

"Indri bilang dia hanya mencintai lelaki itu, bukan suaminya. Ia tidak pernah mencintai suaminya."

"Kalau begitu kenapa dulu ia menikah?"

"Keadaan."

"Maksudnya?"

"Adik-adiknya sudah ingin menikah semua, tapi orang tuanya tidak mengizinkan karena mereka tidak mau Indri dilangkahi."

"Astaga. Kasihan sekali."

"Jadi bagaimana?"

Idan diam sejenak. "Aku tidak tahu, Pit. Yang aku tahu, aku tidak mau jadi penyebab ketidakbahagiaan seseorang. Kalau aku sarankan Indri untuk meninggalkan pacarnya, siapa tahu ia tidak akan pernah bahagia karena merasa terpaksa terus bersama suaminya. Kalau ia meninggalkan suaminya, aku juga tidak menjamin ia akan bahagia dengan orang yang hanya mengenalnya dipermukaan, tidak utuh, seperti suaminya."

"Lantas aku mesti bilang apa?"

"Sampaikan saja petuahku ini kepada Indri. Bilang saja ini saran dari pakar pernikahan kelas dunia yang reputasinya tidak diragukan lagi."

"Kau sama sekali tidak membantu," desahku.

"Ini bukan keran bocor atau teve rusak yang bisa diperbaiki begitu saja, Pit. Sedangkan memperbaiki teve rusak saja aku menyerah, jangan lagi mengurusi rumah tangga orang."

"Bodohnya lagi, aku bertanya kepadamu."

"Itulah, Pit. Aku sendiri heran kenapa aku mau membuang waktuku dan terpaksa terlambat ikut rapat untuk memberimu saran yang tak berguna."

Aku tertawa pahit. "Ya, sudah. Pergilah buat kopi sekarang. Terima kasih untuk saran dan waktumu."

"Sama-sama. Oh! Bosku ke sini. Aku harus pergi. I love you, Darling!" ia berteriak. Lalu kudengar suaranya, sedikit jauh dari telepon.

"Iya, Pak, sebentar. Istri saya ...."

 

Bersambung ke Bagian IX