Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

19 April 2008

Jangan Tunggu Esok Hari

Segalanya berawal ketika saya masih berumur 6 tahun. Ketika saya sedang bermain di halaman rumah saya di California, saya bertemu seorang anak laki-laki. Dia seperti anak laki-laki lainnya yang menggoda saya dan kemudian saya mengejarnya dan memukulnya.

Setelah pertemuan pertama dimana saya memukulnya, kami selalu bertemu dan saling memukul satu sama lain di batas pagar itu. Tapi itu tidaklah lama. Kami selalu bertemu di pagar itu dan kami selalu bersama. Saya menceritakan semua rahasia saya.

Dia sangat pendiam, dia hanya mendengarkan apa yang saya katakan. Saya menganggap dia enak diajak bicara dan saya dapat berbicara kepadanya tentang apa saja. Di sekolah, kami memiliki teman-teman yang berbeda tapi ketika kami pulang kerumah, kami selalu berbicara tentang apa yang terjadi di sekolah.

Suatu hari,saya bercerita kepadanya tentang anak laki-laki yang saya sukai tetapi telah menyakiti hati saya. Dia menghibur saya dan mengatakan segalanya akan beres. Dia memberikan kata-kata yang mendukung dan membantu saya untuk melupakannya. Saya sangat bahagia dan menganggapnya sebagai teman sejati. Tetapi saya tahu bahwa sesungguhnya ada yang lainnya dari dirinya yang saya suka. Saya memikirkannya malam itu dan memutuskan kalau itu adalah rasa persahabatan.

Selama SMA dan semasa kelulusan, kami selalu bersama dan tentu saja saya berpikir bahwa ini adalah persahabatan. Tetapi jauh di lubuk hati, saya tahu bahwa ada sesuatu yang lain.

Pada malam kelulusan, meskipun kami memiliki pasangan sendiri-sendiri, sesungguhnya saya menginginkan bahwa sayalah yang menjadi pasangannya. Malam itu, setelah semua orang pulang, saya pergi ke rumahnya untuk mengatakannya. Malam itu adalah kesempatan terbesar yang saya miliki tapi saya hanya duduk di sana dan memandangi bintang bersamanya dan bercakap-cakap tentang cita-cita kami. Saya melihat ke matanya dan mendengarkan ia bercerita tentang impiannya. Bagaimana dia ingin menikah dan sebagainya. Dia bercerita bagaimana dia ingin menjadi orang kaya dan sukses. Yang dapat saya lakukan hanya menceritakan impian saya dan duduk dekat dengan dia.

Saya pulang ke rumah dengan terluka karena saya tidak mengatakan perasaan saya yang sebenarnya. Saya sangat ingin mengatakan bahwa saya sangat mencintainya tapi saya takut. Saya membiarkan perasaan itu pergi dan berkata kepada diri saya sendiri bahwa suatu hari saya akan mengatakan kepadanya mengenai perasaan saya.

Selama di universitas, saya ingin mengatakan kepadanya tetapi dia selalu bersama-sama dengan seseorang. Setelah lulus, dia mendapatkan pekerjaan di New York. Saya sangat gembira untuknya, tapi pada saat yang sama saya sangat bersedih menyaksikan kepergiannya. Saya sedih karena saya menyadari ia pergi untuk pekerjaan besarnya. Jadi saya menyimpan perasaan saya untuk diri saya sendiri dan melihatnya pergi dengan pesawat. Saya menangis ketika saya memeluknya karena saya merasa seperti ini adalah saat terakhir. Saya pulang ke rumah malam itu dan menangis. Saya merasa terluka karena saya tidak mengatakan apa yang ada di hati saya.

Saya memperoleh pekerjaan sebagai sekretaris dan akhirnya menjadi seorang analis komputer. Saya sangat bangga dengan prestasi saya. Suatu hari saya menerima undangan pernikahan. Undangan itu darinya. Saya bahagia dan sedih pada saat yang bersamaan. Sekarang saya tahu kalau saya tak akan pernah bersamanya dan kami hanya bisa menjadi teman. Saya pergi ke pesta pernikahan itu bulan berikutnya. Itu adalah sebuah peristiwa besar.

Saya bertemu dengan pengantin wanita dan tentu saja juga dengannya. Sekali lagi saya merasa jatuh cinta. Tapi saya bertahan agar tidak mengacaukan apa yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi mereka. Saya mencoba bersenang-senang malam itu, tapi sangat menyakitkan hati melihat dia begitu bahagia dan saya mencoba untuk bahagia menutupi air mata kesedihan yang ada di hati saya.

Saya meninggalkan New York merasa bahwa saya telah melakukan hal yang tepat. Sebelum saya berangkat, tiba-tiba dia muncul dan mengucapkan salam perpisahan dan mengatakan betapa ia sangat bahagia bertemu dengan saya. Saya pulang ke rumah dan mencoba melupakan semua yang terjadi di New York. Kehidupan saya harus terus berjalan.

Tahun-tahun berlalu, kami saling menulis surat dan bercerita mengenai segala hal yang terjadi dan bagaimana dia merindukan untuk berbicara dengan saya. Pada suatu ketika, dia tak pernah lagi membalas surat saya. Saya sangat kuatir mengapa dia tidak membalas surat saya meskipun saya telah menulis 6 surat kepadanya. Ketika semuanya seolah tiada harapan, tiba-tiba saya menerima sebuah catatan kecil yang mengatakan, "Temui saya di pagar dimana kita biasa bercakap-cakap"

Saya pergi ke sana dan melihatnya di sana. Saya sangat bahagia melihatnya tetapi dia sedang patah hati dan bersedih. Kami berpelukan sampai kami kesulitan untuk bernafas. Kemudian ia menceritakan kepada saya tentang perceraian dan mengapa dia tidak pernah menulis surat kepada saya. Dia menangis sampai dia tak dapat menangis lagi. Akhirnya kami kembali ke rumah dan bercerita dan tertawa tentang apa yang telah saya lakukan mengisi waktu. Akan tetapi, saya tetap tidak dapat mengatakan kepadanya bagaimana perasaan saya yang sesungguhnya kepadanya.

Hari-hari berikutnya, dia gembira dan melupakan semua masalah dan perceraiannya. Saya jatuh cinta lagi kepadanya. Ketika tiba saatnya dia kembali ke New York, saya menemuinya dan menangis. Saya benci melihatnya harus pergi. Dia berjanji untuk menemui saya setiap kali dia mendapat libur. Saya tak dapat menunggu saat dia datang sehingga saya dapat bersamanya. Kami selalu bergembira ketika sedang bersama.

Suatu hari dia tidak muncul sebagaimana yang telah dijanjikan. Saya berpikir bahwa mungkin dia sibuk. Hari berganti bulan dan saya melupakannya. Suatu hari saya mendapat sebuah telepon dari New York. Pengacara mengatakan bahwa ia telah meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil dalam perjalanan ke airport. Hati saya patah. Saya sangat terkejut akan kejadian ini. Sekarang saya tahu, mengapa ia tidak muncul hari itu. Saya menangis semalaman. Air mata kesedihan dan kepedihan. Bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi terhadap seseorang yang begitu baik seperti dia?

Saya mengumpulkan barang-barang saya dan pergi ke New York untuk pembacaan
surat wasiatnya. Tentu saja semuanya diberikan kepada keluarganya dan mantan istrinya. Akhirnya saya dapat bertemu dengan mantan istrinya lagi setelah terakhir kali saya bertemu pada pesta pernikahan. Dia menceritakan bagaimana mantan suaminya. Tapi suaminya selalu tampak tidak bahagia.

Apapun yang dia kerjakan tidak bisa membuat suaminya bahagia seperti saat pesta pernikahan mereka. Ketika surat wasiat dibacakan, satu-satunya yang diberikan kepada saya adalah sebuah diary. Itu adalah diary kehidupannya. Saya menangis karena itu diberikan kepada saya. Saya tak dapat berpikir, mengapa ini diberikan kepada saya?

Saya mengambilnya dan terbang kembali ke California. Ketika saya di pesawat, saya teringat saat-saat indah yang kami miliki bersama. Saya mulai membaca diary itu. Diary dimulai ketika hari pertama kami berjumpa. Saya terus membaca sampai saya mulai menangis. Diary itu bercerita bahwa dia jatuh cinta kepada saya di hari ketika saya patah hati. Tapi dia takut untuk mengatakannya kepada saya.

Itulah sebabnya mengapa dia begitu diam dan mendengarkan segala perkataan saya. Diary itu menceritakan bagaimana dia ingin mengatakannya kepada saya berkali-kali, tetapi takut. Diary itu bercerita ketika dia ke New York dan jatuh cinta dengan yang lain. Bagaimana dia begitu bahagia ketika bertemu dan berdansa dengan saya di hari pernikahannya. Dia berkata bahwa ia membayangkan bahwa itu adalah pernikahan kami.

Bagaimana dia selalu tidak bahagia sampai akhirnya harus menceraikan istrinya. Saat-saat terindah dalam kehidupannya adalah ketika membaca huruf demi huruf yang saya tulis kepadanya. Akhirnya diary itu berakhir dengan tulisan, "Hari ini saya akan mengatakan kepadanya kalau saya mencintainya"

Itu adalah hari dimana dia terbunuh. Hari dimana pada akhirnya saya akan mengetahui apa yang sesungguhnya ada dalam hatinya.

Jika engkau mencintai seseorang, "JANGAN TUNGGU ESOK HARI UNTUK MENGATAKAN KEPADANYA" karena esok hari itu mungkin takkan pernah ada..


Oleh: Bidin

Pasir & Batu

Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang dua orang sahabat karib yang berjalan melintasi padang pasir.

Pada suatu saat, mereka sedang berargumentasi satu dengan yang lain. Akibatnya, salah seorang menampar wajah kawan akrabnya. Kawan yang ditampar itu merasa kesakitan, namun tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia menulis di atas pasir, “HARI INI, KAWANKU YANG PALING AKRAB MENAMPAR MUKAKU.”

Mereka melanjutkan perjalanan sehingga menemukan sebuah oasis. Di tengah oasis itu terdapat sebuah kolam dengan airnya yang jernih. Mereka berhenti di tempat itu untuk mandi. Kawan yang ditampar sampai kesakitan tadi, mulai tenggelam. Untunglah kawan akrabnya berhasil menolongnya. Setelah ia tenang lagi dari ketakutannya, ia menulis di atas batu, “HARI INI KAWANKU YANG PALING AKRAB MENYELAMATKAN JIWAKU”

Kawan akrabnya yang telah menolong dan menamparnya, bertanya kepadanya, “Mengapa kamu menulis di pasir setelah aku menamparmu, untuk kemudian kamu menulis di batu setelah aku menyelamatkanmu?”

Kawannya tersenyum dan berkata, “Bila seorang kawan menyakitimu, maka hendaknya kamu menulis di atas pasir. Hembusan angin pengampunan akan menghapusnya lenyap. Dan bila kawanmu berbuat sesuatu yang besar, hendaknya kamu mengukirnya di atas batu sebagai suatu kenangan hatimu. Tidak pernah ada hembusan angin yang dapat menghapusnya.”

Humor : Banyak Amplop

Frans barusan diangkat sebagai lurah di desanya. Ia lalu mengadakan pesta syukuran di rumahnya. Banyak yang memberinya hadiah, termasuk amplop tentunya. Setelah acara selesai, di kamar pribadinya, Frans dengan anak dan istrinya sibuk menghitung satu persatu amplop yang telah diterima. Wah! Bukan main! Banyak sekali.

Tetapi mengetahui hal itu, anaknya, si Pedro justru menjadi sangat kecewa. Ia segera berlari keluar dan menangis di ruang tamu. Ibunya langsung memburu dan bertanya kepadanya, "Kenapa menangis Pedro? Bukankah seharusnya kamu gembira, Bapak menerima banyak amplop. Nanti kamu bisa dibelikan baju baru, mainan, dan macam-macam hal lagi yang menyenangkan. "

"Tidak, Pedro tidak mau Bapak jadi Lurah."

"Lho, mengapa kamu tidak setuju kalau Bapak jadi Lurah, kan kita bisa terima banyak amplop." jelas ibunya.

"Dari dulu kan Pedro sudah bilang, supaya bisa terima amplop lebih banyak lagi, lebih bagus Bapak kerja di Kantor Pos saja."

Sebuah Kisah Kasih

Suatu hari, aku bangun dini hari untuk menyaksikan sang surya terbit. Dan keindahan karya ciptaan Tuhan sungguh tak terlukiskan.

Ia bertanya kepadaku, "Apakah engkau mengasihi Aku?"

Aku menjawab, "Tentu saja Tuhan! Engkaulah Allah dan Juruselamat- ku!"

Kemudian Ia bertanya, "Seandainya engkau cacat jasmani, apakah engkau akan tetap mengasihi Aku?"

Aku terpana. Aku memandangi tanganku, kakiku dan seluruh bagian tubuhku yang lain sambil memikirkan betapa banyak pekerjaan yang tidak akan dapat aku lakukan, pekerjaan-pekerjaan yang selama ini aku anggap biasa.

Dan aku menjawab, "Akan sangat berat Tuhan, tetapi aku akan tetap mengasihi Engkau."

Dan Tuhan bertanya, "Apakah engkau sungguh mengasihi Aku?"

Dengan tegas dan penuh keyakinan, aku menjawab lantang, "Ya Tuhan! Aku pikir aku telah menjawab dengan benar, tetapi..."

Tuhan bertanya, "JIKA DEMIKIAN, MENGAPA ENGKAU BERDOSA?"

Aku menjawab, "Karena aku hanyalah seorang manusia yang tidak sempurna."

"JIKA DEMIKIAN, MENGAPA PADA SAAT SUKA ENGKAU MENYIMPANG JAUH? MENGAPA HANYA PADA SAAT DUKA SAJA ENGKAU BERDOA DENGAN KHUSUK?"

Tidak ada jawaban. Hanya air mata.

Tuhan melanjutkan: "Mengapa melantunkan pujian hanya di gereja dan di tempat-tempat retret? Mengapa datang kepada-ku hanya pada saat doa? Mengapa meminta dengan demikian egois? Mengapa tidak setia?"

Air mata mengalir jatuh di pipiku.

"Mengapa engkau malu akan Aku? Aku berusaha menjawab, tetapi tidak ada jawab yang keluar. Aku memberkati engkau dengan talenta-talenta untuk melayani Aku, tetapi engkau senantiasa menghindar. Aku berbicara kepadamu, tetapi telingamu tertutup rapat. Aku menunjukkan belas kasih-Ku kepadamu, tetapi matamu tidak melihat. Aku mengirimkan penolong-penolong bagimu, tetapi engkau duduk berpangku tangan sementara mereka engkau singkirkan. Aku mendengarkan doa-doamu dan Aku telah menjawab semuanya."

"APAKAH ENGKAU SUNGGUH MENGASIHI AKU?"

Aku tidak mampu menjawab. Bagaimana mungkin? Aku amat malu. Aku tidak punya penjelasan. Apa yang dapat aku katakan? Ketika hatiku menjerit dan air mata telah membanjir, aku berkata, "Ampuni aku, Tuhan. Aku tidak layak menjadi anak-Mu."

Tuhan menjawab, "Itu Rahmat, Anak-Ku."

Aku bertanya, "Jika demikian, mengapa Engkau terus-menerus mengampuni aku? Mengapa Engkau demikian mengasihi aku?"

Tuhan menjawab, "Karena engkau adalah Ciptaan-Ku. Engkau adalah Anak-Ku. Aku tidak akan meninggalkan engkau."

"Jika engkau menangis, hati-Ku hancur dan Aku akan menangis bersamamu. Jika engkau bersorak kegirangan, Aku akan tertawa bersamamu. Jika engkau putus asa, Aku akan menyemangatimu. Jika engkau jatuh, aku akan mengangkatmu. Jika engkau lelah, Aku akan menggendongmu. Aku akan menyertaimu sampai akhir jaman, dan Aku akan selalu mengasihimu selamanya."

Belum pernah aku menangis sedemikian pilu sebelumnya. Bagaimana mungkin aku melukai hati-Nya dengan segala kelakuanku? Aku bertanya kepada Tuhan, "Berapa besar Engkau mengasihi aku, Tuhan?"

Tuhan merentangkan kedua belah tangan-Nya, dan aku melihat tangan-Nya yang berlubang tertembus paku.

Aku bersimpuh di kaki Kristus, Juruselamat-ku. Dan untuk pertama kalinya aku berdoa dengan segenap hati.

Oleh: Tidak Diketahui

Take Refuge in Him

Today's Scripture

“Taste and see that the Lord is good; blessed is the man who takes refuge in Him” (Psalm 34:8).

Today's Word from Joel and Victoria

Where do you take refuge when the storms of life come? Where do you go for comfort and safety? Some people find it easy to turn to their friends, their job, or even a bowl of ice-cream! There’s nothing wrong with any of those things, but God the Father wants us to turn to Him first. He wants us to take refuge in Him. He longs to protect us and defend us and give us His strength. We serve a good God, and when we take refuge in Him, He will pour out His abundant blessing in our lives. Taste and see that the Lord is good today. Taste and see that His promises are good. When you turn to God, the Bible promises that you will find rest and refuge for your soul. No matter what you may be facing today, come to the Father. He will give you His peace and strength, and you’ll live the blessed life He has prepared for you!

A Prayer for Today

Heavenly Father, today I open my heart to You and choose to take refuge in You. Thank You for Your peace and rest and for showing me Your hand of blessing in every area of my life. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries