Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

30 November 2008

Happiness is The Way

We convince ourselves that life will be better after we get married, have a baby, then another. Then we are frustrated that the kids aren't old enough and we'll be more content when they are. After that, we're frustrated that we have teenagers to deal with. We will certainly be happy when they are out of that stage. We tell ourselves that our life will be complete when our spouse gets his or her act together, when we get a nicer car, are able to go on a nice vacation, when we retire.

The truth is, there's no better time to be happy than right now. If not now, when? Your life will always be filled with challenges. It's best to admit this to yourself and decide to be happy anyway. One of my favorite quotes comes from Alfred D. Souza. He said, "For a long time it had seemed to me that life was about to begin - real life. But there was always some obstacle in the way, something to be gotten through first, some unfinished business, time still to be served, or a debt to be paid. Then life would begin. At last it dawned on me that these obstacles were my life."

This perspective has helped me to see that there is no way to happiness. Happiness is the way. So, treasure every moment that you have and treasure it more because you shared it with someone special, special enough to spend your time and remember that time waits for no one. So, stop waiting until you finish school, until you go back to school, until you lose ten pounds, until you gain ten pounds, until you have kids, until your kids leave the house, until you start work, until you retire, until you get married, until you get divorced, until Friday night, until Sunday morning, until you get a new car or home, until your car or home is paid off, until spring, until summer, until fall, until winter, until you are off welfare, until the first or fifteenth, until your song comes on, until you've had a drink, until you've sobered up, until you die, until you are born again to decide that there is no better time than right now to be happy.

Happiness is a journey, not a destination. Work like you don't need money, Love like you've never been hurt, And dance like no one's watching. God has given each of us a "gift" that we are to use to glorify His name! Do you know yours???

Humor : Percuma

Percuma, Pak," kata seorang murid yang putus asa kepada guru bahasa Inggrisnya.

"Aku mencoba belajar, tapi semua yang Anda bilang masuk lewat dua lubang telinga dan keluar dari lubang lainnya."

"Masuk dua lubang telinga dan keluar dari lubang lainnya?" tanya gurunya yang bingung. "Kamu kan cuma punya dua lubang telinga!"

"Nah kan, Pak? Saya juga ngga pandai dalam berhitung."

29 November 2008

Seputih Kertas

Bacaan : Mazmur 51

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.- Mazmur 51:7

Apa yang ada dalam benak Anda ketika menatap seorang anak kecil? Kepolosan, keluguan, wajah tanpa dosa, lucu, imut, dsb. Mungkin itulah jawaban Anda. Tetapi benarkah mereka manusia yang dilahirkan tanpa dosa? Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa semua manusia yang terlahir ke dunia ini sebagai keturunan Adam adalah orang yang berdosa (Roma 3:10). Hanya Yesus Kristus lah yang dilahirkan bukan dari benih keturunan Adam sehingga hanya Dia satu-satunya yang terlahir tanpa dosa.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa anak-anak adalah ibarat selembar kertas putih yang belum dicorat-coret. Ungkapan ini tidak sepenuhnya salah karena mereka memang dibesarkan dengan “coretan” alias didikan dari orang dewasa. Mereka akan terbentuk sebagaimana coretan yang kita buat. Namun soal dosa, mereka tidaklah dilahirkan dalam keadaan suci tanpa dosa bak selembar kertas putih.

Mengapa hari ini kita perlu menyadari kebenaran ini? Sebagai orang dewasa, khususnya orang tua, sudah sewajibnya kita menyadari bahwa anak-anak juga perlu diselamatkan oleh Kristus. Mereka adalah orang-orang yang suatu saat kelak akan diadili di pengadilan Allah sama seperti kita. Apabila kita mengabaikan keselamatan mereka, ini sama halnya dengan membiarkan mereka berjalan ke arah kebinasaan.

Anggapan lainnya yang sungguh menyesatkan adalah bahwa anak-anak belum bisa menerima Kristus dalam hati mereka. Hanya orang dewasa saja yang bisa menerima Kristus dan diselamatkan. Bila memang demikian, betapa kejamnya Allah. Anak-anak bisa menerima Kristus dalam hati mereka dan memiliki kehidupan yang sungguh-sungguh diubahkan. Siapakah yang mengetahui umur anak-anak kita? Selama masih ada kesempatan yang Allah berikan kepada Anda dan saya, marilah kita memberitakan kabar keselamatan kepada mereka. Ajaklah mereka mengenal Kristus dengan sungguh-sungguh.

Soal perbuatan, memang seorang anak kecil ibarat kertas polos tanpa coretan, namun soal dosa, mereka sudah membawanya sejak dalam kandungan.

(TMS)

Sumber : Renungan Harian Spirit

God is Always Near

One thing can always cheer me
When I'm feeling sad and low
When I tired of daily trials
That I have to undergo,
When those who should
Seem closest, seem like
People I don't know,
One thing can always cheer me
I know that God is near me.

One thing can always cheer me
When I do not understand
How pain and sadness
In our lives
Can get so out of hand,
When the best of human efforts
Doesn't meet the days demands,
One thing can always cheer me
I know that God is always near me.

One thing can always cheer me
More than anything I've known
And show me I will never
Have to struggle on my own
For no matter what might happen
I will never be alone
The thing that will always cheer me
Is just knowing God is near me.

Our lives are in God's loving
Hands, in everything we do
He is with us constantly,
He always sees us through.
And if our faith is strong enough
We'll never walk alone,
For with His great and perfect love
He takes care of His own.

Arsip Weekend's Scripture - Mazmur 112

"Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya. Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya. Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan. Orang fasik melihatnya, lalu sakit hati, ia menggertakkan giginya, lalu hancur; keinginan orang fasik akan menuju kebinasaan." - Mazmur 112

Apa Makna Tuhan Bagi Pemabuk?

Dua minggu lalu saya baru menyadarinya. Seorang rekan bule saya bertanding tenis meja dengan saya. Dalam timnya, dia merupakan pemain urutan kedua, saya sendiri pemain nomor satu dalam tim saya. Udara dingin kota Armidale tidak menghalangi serunya pertandingan saat itu. Mike, rekan saya tersebut, dengan mudah saya kalahkan pada game pertama. Tiba-tiba dia bangkit kembali di game selanjutnya, sehingga memaksa dilakukan game ketiga. Di saat kritis, bola dari si Mike bergulir tipis sehingga sulit saya jangkau. Pada saat itulah Mike berteriak, "God loves me!"

Saya kalah. Dan Mike tersenyum sambil mengatakan, "Tuhan mencintai saya!" Setelah itu saya dekati Mike. Dia dengan enteng kemudian berkata, "Ada sebuah lagu populer. Tuhan mencintai anjing kecil, anak kecil dan para pemabuk." Mike, yang saya tahu memang gemar menenggak minuman keras, melanjutkan lagi, "Malam ini sebelum bertanding saya sudah minum dua gelas wine."

Saya terkejut. Bukan karena memang saya mencium aroma wine dari mulutnya, dan juga bukan karena sulit menerima kenyataan bahwa seorang pemabuk mampu mengalahkan saya, akan tetapi saya terkejut karena teringat kembali teriakan Mike, "God loves me!" Bagaimana mungkin seorang pemabuk dicintai oleh Tuhan?

Pertandingan berikutnya telah menjawab rasa terkejut saya. Dalam pertandingan ganda, Mike dan pasangannya menelan pil pahit dan kalah dengan mudah. Saat itulah saya mendengar Mike sekali lagi berteriak, namun kali ini isi teriakannya penuh dengan kata-kata kotor. Rupanya dia kesal dengan kekalahannya. Tuhan tidak lagi disebut dalam kalimatnya. Jangan-jangan inilah makna Tuhan bagi seorang pemabuk seperti Mike. Tuhan disebut ketika dia mendapat sesuatu yg baik, dan Tuhan dilupakan pada kejap berikutnya ketika dia mendapat kemalangan.

Lambat laun saya teringat bahwa jangan-jangan kita selama ini beragama dengan cara seperti seorang Mike memandang Tuhan. Kita puji Tuhan ketika kita mau, dan kita lupakan Dia ketika kita mau. Ah, tampaknya pertanyaan di awal tulisan ini perlu diganti dengan : "Apa makna Tuhan bagi kita?". Bersediakah kita mengingat Tuhan dalam suka dan duka? Tak disangka, saya bukan saja kalah bermain tenis meja dari si Mike yang pemabuk itu, namun saya juga belajar memandang makna Tuhan gara-gara si Mike itu!

28 November 2008

Piano Merah Mahogany

Bertahun-tahun lalu, ketika saya masih seorang pemuda berusia dua puluhan saya bekerja sebagai sales perusahaan piano St. Louis. Kami menjual piano seluruh negara bagian melalui iklan-iklan kecil di surat kabar. Jika ada tanggapan yang cukup serius, barulah kami mengangkut piano itu ke atas mobil-mobil pick up kami, pergi ke alamat yang dituju, dan menjual piano-piano kami kepada orang-orang yang sudah memesan.

Setiap kali kami mengiklankan barang dagangan kami di daerah kapas Southeast Missouri, kami selalu berulang2 menerima pesanan dari seorang nenek lewat sebuah kartu post mengatakan, "Tolong kirimkan sebuah piano baru untuk cucu kecil saya. Warnanya harus merah mahogany. Saya sanggup membayarnya sepuluh dollar sebulan dari hasil menjual telur."

Tulisan wanita tua itu memenuhi seluruh halaman belakang kartu posnya, sampai terisi semua. Lalu dia melanjutkan tulisannya ke bagian depan kartu postnya, bahkan sampai ke pinggirannya, sehingga hanya menyisakan sedikit sekali ruang untuk menulis alamat. Kami tidak mungkin menjual piano dengan cicilan sepuluh dollar sebulan. Tidak akan ada satupun lembaga keuangan yang mau menyetujui kontrak pembayaran sekecil itu. Jadi, kami abaikan saja kartu postnya.

Tetapi, pada suatu hari, kebetulan saya sedang berada di wilayah itu, melayani tanggapan-tanggapan dari pelanggan lain, dan hanya iseng-iseng saya mencari alamat wanita tua itu. Saya menemukan suatu tempat yang hampir sama dengan yang ada dalam bayangan saya. Dia tinggal di sebuah gubuk kecil satu ruang, di tengah hamparan ladang pohon kapas. Lantai kotor, dan ayam berkeliaran di dalam rumah.

Jelas, wanita ini tidak memenuhi syarat untuk membeli barang dengan kredit. Dia tidak punya mobil, tidak punya telepon, tidak punya pekerjaan. Yang dia punya hanyalah atap yang menaungi kepalanya, dan sama sekali bukan tipe yang bagus Bahkan saya bisa melihat sinar matahari lewat celah-celahnya. Cucu kecilnya berumur kira-kira sepuluh tahun, telanjang kaki, dan mengenakan baju dari karung goni.

Saya menjelaskan kepada wanita itu bahwa kami tidak bisa menjual sebuah piano baru dengan bayaran sepuluh dollar sebulan, dan bahwa dia tidak perlu lagi menulis surat kepada kami setiap kali dia melihat iklan kami disurat kabar lokalnya. Saya beranjak dari tempat itu dengan perasaan pedih, tetapi ternyata saran saya sama sekali tidak mempengaruhinya. Dia tetap saja mengirimkan kartu post dgn bunyi yang sama, setiap enam minggu. Meminta piano baru dengan warna merah mahogany, dan berjanji tidak menunggak cicilan sepuluh dollar sebulan itu.

Hati saya berkecamuk. Beberapa tahun kemudian, saya memiliki perusahaan piano sendiri, dan ketika saya mengiklankan barang dagangan saya ke wilayah itu, kartu postnya mulai datang ke kantor saya. Berbulan-bulan lamanya, saya mengabaikannya.

Saya tidak tahu harus berbuat apa? Lalu, suatu hari, saya kembali berada di wilayah itu, sesuatu terlintas dalam hati saya. Kebetulan saya membawa piano merah mahogany di pickup kecil saya. Meski saya tahu, bahwa saat itu saya akan membuat suatu keputusan bisnis yang edan, saya memutuskan untuk datang lagi ke gubuknya, dan memberitahunya bahwa saya bisa menerima kontrak itu secara pribadi. Saya katakan, dia boleh membayar sepuluh dollar sebulan tanpa bunga, dan berarti harus membayar sebanyak lama puluh dua kali cicilan. Saya bawakan piano baru itu ke dalam rumahnya dan menempatkannya di suatu sudut yang kira-kira tidak akan kena air hujan. Saya menasehati wanita itu dan cucu kecilnya untuk menjaga agar ayam jangan sampai menyentuh pianonya, lalu saya pergi dengan pikiran bahwa saya baru saja membuang sebuah piano baru. Tetapi cicilan ternyata benar-benar datang, lunas sampai lima puluh dua kali, seperti yang telah disepakati - kadang ada uang receh di dalam amplop yang berukuran tiga kali lima inci itu. Luar biasa!

Dua puluh tahun lamanya, saya melupakan kejadian itu begitu saja. Lalu, pada suatu hari di Memphis, ketika sedang melakukan perjalanan bisnis lain, dan setelah makan di hotel Holiday Inn, saya masuk ke lobbynya. Saya mendengar alunan musik piano yang begitu indah dari arah belakang saya. Saya menoleh dan melihat seorang wanita muda yang cantik, sedang memainkan sebuah grand-piano mewah. Karena saya sendiri juga bisa bermain piano, saya merasa kagum pada kepiawaiannya memainkan alat musik itu. Saya mengangkat gelas minuman saya dan berpindah ke meja di sebelah sang pianis, supaya saya bisa mendengarkan dan memperhatikan permainannya dengan lebih jelas. Dia tersenyum pada saya, menanyakan apa lagu yang saya minta, dan ketika beristirahat sejenak, dia duduk didepan meja saya.

"Bukankah Anda orang yang dulu menjual piano kepada nenek saya?" tanyanya. Saya sama sekali tidak ingat, maka saya minta dia menjelaskan. Mulailah dia bercerita, dan mendadak saya ingat. Ya Tuhan, ternyata dia adalah gadis kecil telanjang kaki berbaju karung goni itu! Dia memberitahu bahwa namanya Elise. Karena neneknya tidak bisa membiayainya les piano, maka dia belajar memainkan pianonya dengan mendengarkan radio. Lalu dia mulai bermain piano di gereja, yang harus ditempuh oleh dia bersama neneknya dengan jarak dua mil dari rumah mereka. Dia juga bermain piano di sekolah, dan telah meraih banyak penghargaan dan akhirnya beasiswa sekolah musik. Lalu dia menikah dengan seorang pengacara di Memphis, dan dia membelikannya sebuah grand-piano yang sekarang dimainkannya itu.

Sesuatu terlintas di kepala saya. "Elise," sapa saya, "Ruangan ini agak gelap. Apa warna piano itu?" 

"Merah mahogany," katanya. "Kenapa?"

Saya membisu. Mengertikah dia arti kata merah mahogany itu? Sadarkah dia akan kegigihan neneknya yang tidak masuk akal itu, yang memaksa harus piano merah mahogany, padahal tidak seorang waraspun saat itu yang mau menjual piano apapun padanya? Saya rasa tidak.

Kalau begitu apakah dia menyadari kesuksesan hebat yang telah berhasil diraih seorang gadis kecil hina berpakaian bahan karung goni itu? Tidak, saya yakin dia juga tidak mengerti hal itu. Tetapi saya sangat mengerti, dan kerongkongan saya terasa tersumbat. Akhirnya, saya berhasil menemukan lagi suara saya. "Saya hanya ingin tahu apa warna piano itu," kata saya. "Saya bangga pada Anda. Maaf, saya harus kembali ke kamar saya."

Saat itu saya benar-benar harus segera masuk ke kamar saya, sebab saya sadar bahwa laki-laki tidak pantas menangis di muka umum.

JOE EDWARDS
Joe Edwards menghabiskan hampir seluruh usia produktifnya sebagai seorang pianis jazz di klub-klub malam Kansas City. Sekarang dia telah pensiun, tetapi masih sering bermain piano pada acara-acara resepsi pernikahan di sekitar Springfield, Missouri

Dari buku Heartwarmers
Karisma press

Anjing Pandai

anjingBaru-baru ini,seekor anjing dari Pingtong, Taiwan yang bernama Hallo menjadi top di internet, dipuji-puji sebagai anjing paling cerdas di muka bumi. Ternyata, ia bisa ke supermarket untuk membeli hotdog, bisa membantu penjual pinang membuka lemari es mengamnbil barang dan memberikannya pada tamu, bahkan juga bisa berdiri dengan ke empat kakinya di atas gelas kaca.

Menurut laporan China Post Taiwan, pemilik anjing ini mengelola toko pinang, banyak pembeli yang menunjuk anjing ini untuk membeli pinang, melihatnya membuka pintu lemari es, menggigit bungkusan pinang dan ketangkasannya meletakkan bungkusan pinang di atas meja, sehingga para tamu dibuatnya senang oleh tingkah lakunya.

Dulu, anjing ini bisa mengantar pinang, melewati jalan sambil menggigit kantong berisi buah pinang, kemudian pembeli menaruh uang ke dalam kantong. Suatu ketika, hampir saja ia ditabrak sepeda motor, karena pemilikknya merasa terlalu bahaya, maka baru menghentikan tugas si anjing mengantar pinang.

Anjing bernama “Hallo” ini menggigit kantong plastik berisi uang, pergi ke supermarket sebelah membeli barang. Menurut pelayan supemarket, bahwa melihat uang dikantongnya, ia sudah tahu apa yang mau dibelinya, uang koin senilai 10 dollar Taiwan untuk membeli peppermint, 22 dollar uang koin untuk membeli Hotdog. Jika sang pemilik hendak membeli daging kalengan, maka pemiliknya akan melampirkan sehelai catatan di dalam kantong dengan keterangan rasa daging sapi, sebab “Hallo” tidak suka makan daging kalengan rasa ayam.

Petugas supermarket menuturkan, “Hallo” adalah anjing pelanggan yang baik, bahkan bisa ikut antri saat lagi ramai, dan ketika tiba gilirannya,ia meletakkan kaki depannya ke atas meja kasir, menunggu petugas menghitung uang pembayaran baru kemudian memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam kantong; terkadang ia akan mondar mandir di supermarket yang ber-AC karena ingin merasakan sejuknya tiupan Air Conditioner, sang pemilik juga berpesan padanya untuk “segera kembali, jangan bersejuk-sejukan dengan AC”.

Humor : Potong Rambut

Berikut adalah perbedaan wanita dan pria ketika mereka akan memotong rambut di salon.

Versi wanita:

Wanita 1 : "Oh! Kamu potong rambut ya!? Cantik sekali!"

Wanita 2 : "Apa iya? Aku ngga begitu yakin potongan rambutku ini cocok. Maksudku, apa model seperti ini ngga konyol?"

Wanita 1 : "Ngga! Potongan rambutmu sempurna. Aku juga ingin dipotong seperti itu, tapi aku rasa wajahku terlalu lebar. Aku rasa aku sudah terlalu lama menggunakan model potongan rambut seperti ini terus."

Wanita 2 : "Serius kamu?! Aku rasa wajahmu cantik. Dan kamu bisa dengan mudah potong dengan model seperti ini -- dan model potongan rambut itu kan pas sekali. Aku juga ingin potong seperti itu sebenarnya, tapi aku takut nanti leherku terkesan panjang."

Wanita1 : "Ngga juga! Aku aja ingin punya leher sepertimu loh! Punya leher sepertimu pasti akan membuat orang tidak melihat bahuku yang jelek ini."

Wanita 2 : "Kamu ngga bercanda itu! Banyak wanita yang ingin punya bahu sepertimu. Semuanya sempurna. Maksudku, lihatlah lenganku, lihatlah betapa pendeknya lenganku. Jika aku punya bahumu, aku pasti bisa cari baju yang pas buatku dengan lebih mudah."


Versi pria:

Pria 1 : "Potong rambut?

Pria 2 : "Iya!"

27 November 2008

Beware of This Book : Conversations With God

Conversations with God
If you have children or grandchildren, work with children at church, or you have neighborhood children whose parents you know, please take note of the information below and pass it along to others. Schools are distributing this book to children through the Scholastic Book Club.

The name of the book is Conversations with God.

Two particular books are, Conversations with God and Conversations with God for Teens, written by Neale D. Walsch.

Sound harmless by their titles alone. The books have been on the New York Times best-sellers list  for a number of weeks. But, beware.

The author purports to answer various questions asked by kids using the 'voice of God'.

However, the 'answers' given are not Bible-based and go against the very infallible word of God.

For instance (and I paraphrase):

  • When a girl asks the question 'Why am I a lesbian?' His answer is that she was 'born that way' because of genetics (just as you were born right-handed, with brown eyes, etc.). Then he tells her to go out and 'celebrate' her differences.
  • Another girls poses the question 'I am living with my boyfriend. My parents say that I should marry him because I am living in sin. Should I marry him?' His reply is, 'Who are you sinning against? Not me, because you have done nothing wrong.'
  • Another question asks about God's forgiveness of sin. His reply 'I do not forgive anyone because there is nothing to forgive. There is no such thing as right or wrong and that is what I have been trying to tell everyone, do not judge people. People have chosen to judge one another and this is wrong, because the rule is ''judge not lest ye be judged.' Not only are these books the false doctrine of the devil, but in some instances quote (in error) the Word of God.

And the list goes on..

These books (and others like it) are being sold to school children through (The Scholastic Book Club), and we need to be aware.

Pass this information to your dear ones, friends and relatives.

Push Up

Ada seorang Profesor mata kuliah Religi yang bernama Dr.Christianson yang mengajar di sebuah perguruan tinggi kecil di bagian barat Amerika Serikat. Dr. Christianson mengajar ke-Kristenan di perguruan tinggi ini dan setiap siswa semester pertama diwajibkan untuk mengikuti kelas ini. Sekalipun Dr. Christianson berusaha keras menyampaikan intisari Injil kepada kelasnya, ia menemukan bahwa kebanyakan siswanya memandang materi yang diajarnya sebagai suatu kegiatan yang membosankan. Meskipun ia sudah berusaha sebaik mungkin, kebanyakan siswa menolak untuk menanggapi Kekristenan secara serius.

Tahun ini, Dr. Christianson mempunyai seorang siswa yang spesial yang bernama, Steve. Steve belajar dengan tujuan untuk melanjutkan studinya ke seminari dan mau masuk ke dalam pelayanan. Steve seorang yang popular, ia disukai banyak orang, dan seorang atlet yang memiliki fisik yang prima dan ia merupakan siswa terbaik di kelas professor itu.

Suatu hari, Dr Christanson meminta Steve untuk tidak langsung pulang setelah kuliah karena ia mau berbicara kepadanya. "Berapa push up yang bisa kamu lakukan?"

Steve menjawab, "Saya melakukan sekitar 200 setiap malam."

"200? Lumayan itu, Steve," Dr. Christianson melanjutkan. "Apakah kamu dapat melakukan 300?"

Steve menjawab, "Saya tidak tahu. Saya tidak pernah melakukan 300 sekaligus."

"Apakah kamu pikir kamu dapat melakukannya?", tanya Dr.Christianson.

"Ok, saya bisa coba," jawab Steve.

"Saya mempunyai satu proyek di kelas dan saya memerlukan kamu untuk melakukan 10 push up setiap kali, tapi sebanyak 30 kali, jadi totalnya 300. Dapatkah kamu melakukannya?", tanya sang profesor.

Steve menjawab, "Baiklah, saya pikir saya bisa. Ok, saya akan melakukannya."

Dr. Christianson berkata, "Bagus sekali! Saya memerlukan Anda untuk melakukannya Jumat ini."

Dr Christianson menjelaskan kepada Steve apa yang ia rencanakan untuk kelas mereka pada Jumat itu. Pada hari Jumat, Steve datang awal ke kelas dan duduk di bagian depan kelas. Saat kelas bermula, sang profesor mengeluarkan satu kotak besar donut. Bukan donut yang biasa tetapi yang besar dan yang punya krim di tengah-tengah. Setiap orang sangat bersemangat karena kelas itu merupakan kelas terakhir pada hari itu dan mereka bisa menikmati akhir pekan mereka setelah pesta di kelas Dr Christianson.

Dr. Christianson pergi ke baris pertama dan bertanya, "Cynthia, apakah kamu mau salah satu dari donut ini?"

Cynthia menjawab, "Ya".

Dr. Christianson lalu berpaling kepada Steve, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Cynthia bisa mendapatkan donut ini?"

"Tentu saja!"

Steve lalu melompat ke lantai dan dengan cepat melakukan 10 push up. Lalu Steve kembali ke tempat duduknya. Dr.Christianson meletakkan satu donut di meja Cynthia.

Dr. Christianson lalu pergi siswa selanjutnya, dan bertanya, "Joe, apakah kamu mau suatu donut?"

Joe berkata, "Ya."

Dr. Christianson bertanya, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Joe bisa mendapatkan donutnya?"

Steve melakukan 10 push up, dan Joe mendapatkan donutnya. Begitulah selanjutnya, di baris yang pertama. Steve melakukan 10 push up untuk setiap orang sebelum mereka mendapatkan donut mereka. Di baris yang kedua, Dr. Christianson berhadapan dengan Scott. Scott seorang pemain basket, dan fisiknya sekuat Steve. Ia juga seorang yang sangat popular dan punya banyak teman wanita.

Saat profesor bertanya, "Scott apakah kamu mau donut?" Jawaban Scott adalah, "Baiklah, bisakah saya melakukan push up saya sendiri?"

Dr. Christianson berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya."

Lalu Scott berkata, "Kalau begitu, saya tidak mau donutnya."

Dr. Christianson mengangkat bahunya dan berpaling kepada Steve dan meminta, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Scott bisa mendapatkan donut yang tidak ia kehendaki?"

Dengan ketaatan yang sempurna Steven mulai melakukan 10 push up. Scott berteriak, "HEI! Saya sudah berkata, saya tidak menginginkannya!"

Dr Christianson berkata, "Lihat di sini! Ini kelas saya dan semuanya ini donut saya. Biarkan saja di atas meja jika kamu tidak menginginkannya." Ia lalu menempatkan satu donut di atas meja Scott.

Di waktu ini, Steve sudah mulai melakukan push up dengan agak perlahan. Ia hanya duduk di lantai saja karena terlalu capek untuk kembali ke tempat duduknya. Ia mulai berkeringat. Dr. Christianson mulai di baris ketiga. Para siswa sudah mulai merasa marah. Dr Christianson bertanya kepada Jenny, "Jenny, apakah kamu mengingikan donut ini?"

Dengan tegas Jenny menjawab, "Tidak."

Lalu Dr. Christianson bertanya Steve, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up lagi agar Jenny bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?"

Steve melakukan 10 push up dan Jenny mendapatkan satu donut. Ruang sudah mulai dipenuhi oleh rasa tidak nyaman. Para siswa sudah mulai berkata, "Tidak!" dan semua donut dibiarkan di atas meja tanpa ada yang memakannya. Steve sudah kelelahan dan harus berusaha keras untuk tetap terus melakukan push up untuk setiap donut itu. Lantai tempat ia melakukan push up sudah dibasahi keringatnya dan lengannya sudah mulai kemerahan. Dr Christianson bertanya kepada Robert, seorang ateis yang paling lantang suaranya kalau berdebat di kelas, apakah ia mau membantu untuk  memastikan bahwa Steve tidak curang dan tetap melakukan 10 push up untuk setiap donut karena dia sendiri sudah tidak sanggup melihat Steve melakukan push up-nya.

Dr. Christianson sudah sampai ke baris ke-empat sekarang. Dan beberapa siswa dari kelas yang lain yang sudah bergabung di kelas itu dan mereka duduk di tangga. Saat profesor menghitung kembali, ternyata ada 34 siswa sekarang di kelas. Ia mulai khawatir apakah Steve dapat melakukannya. Dr. Christianson melanjutkan dari satu siswa ke siswa yang selanjutnya sampai ke akhir baris itu. Dan Steve sudah mulai bergumul. Ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan push up-nya. Steve bertanya kepada Dr. Christianson, "Apakah hidung saya harus menyentuh lantai untuk setiap push up yang saya lakukan?" Dr.Christianson berpikir sejenak dan berkata, "Semuanya ini push up kamu. Kamu yang pegang kendali. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau." Dan Dr. Christianson melanjutkan ke siswa yang selanjutnya.

Beberapa saat kemudian, Jason, seorang siswa dari kelas lain dengan santai mau masuk ke kelas, dan sebelum ia melangkahi masuk, seluruh kelas berteriak serentak, "JANGAN! Jangan masuk! Kamu berdiri di luar saja!"

Jason kaget karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Steve mengangkat kepalanya dan berkata, "Tidak, biarkan dia masuk."

Professor Christianson berkata, "Kamu sadar bahwa jika Jason masuk, kamu harus melakukan 10 push up untuk dia?"

Steve berkata, "Ya, biarkan dia masuk. Berikan donut kepadanya."

Dr. Christianson berkata, "Ok Steve. Jason, kamu mau donut?" Jason yang baru masuk ke kelas dan tidak tahu apa-apa menjawab, "Ya, tentu saja, berikan saya  donut."

Steve melakukan 10 push up dengan sangat perlahan dan bersusah payah. Jason yang kebingungan diberikan satu donut. Dr. Christianson sudah selesai dengan baris ke-empat dan mulai ke tempat siswa-siswa dari kelas lain yang duduk di tangga. Tangan Steve sudah mulai gemetaran dan ia harus bergumul untuk mengangkat dirinya melawan tarikan gravitas. Di waktu ini, keringatnya bercucuran, dan tidak kedengaran apa-apa kecuali bunyi nafasnya yang kencang. Mata setiap orang di kelas itu mulai basah. Dua siswa terakhir adalah dua siswa perempuan yang sangat popular, Linda dan Susan.

Dr. Christianson pergi ke Linda, "Linda, apakah kamu mau donut?" Linda dengan sedih berkata, "Tidak, terima kasih"

Professor Christianson dengan perlahan bertanya, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Linda bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?"

Dengan pergumulan yang berat, Steve dengan perlahan melakukan push-up untuk Linda. Lalu Dr Christianson berpaling kepada siswa yang terakhir, Susan.

"Susan, kamu mau donut ini?" Susan dengan air mata yang berlinangan di pipinya mulai menangis. "Dr Christianson, mengapa saya tidak boleh membantunya?"

Dr. Christianson, dengan mata yang berkaca-kaca berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya sendiri; saya telah memberinya tugas itu dan ia bertanggungjawab untuk memastikan setiap orang mempunyai kesempatan untuk mendapat donut itu, tidak kira apakah mereka menginginkannya atau  tidak. Hanya Steve seorang saja yang mempunyai nilai yang sempurna. Setiap orang telah gagal dalam ujian mereka, mereka entah bolos kelas atau memberikan saya tugas yang di bawah standar. Steve memberitahu saya di latihan football, saat seorang pemain buat salah, ia harus buat push up. Saya memberitahu Steve bahwa tidak seorang pun dari kalian yang boleh datang ke pesta saya melainkan ia membayar harga dengan melakukan push up bagi kalian. Steve dan saya telah membuat perjanjian demi kalian semua."

"Steve, maukah kamu membuat 10 push up supaya Susan bisa mendapatkan donut?"

Steve dengan sangat perlahan melakukan 10 push up yang terakhirnya. Ia tahu ia sudah menyelesaikan semua yang harus dia lakukan. Secara total, Steve telah melakukan 350 push up, tangannya tidak tahan lagi dan ia jatuh tersungkur ke lantai. Dr. Christianson lalu berpaling ke kelas dan berkata, "Dan, demikianlah, Juru Selamat kita, Yesus Kristus, di atas kayu salib, ia telah melakukan semua yang dibutuhkan olehnya. Ia menyerahkan semuanya. Dan seperti mereka yang ada di ruangan ini, banyak di antara kita yang membiarkan hadiah itu begitu saja di atas meja, sama sekali tidak kita jamah."

Dua siswa mengangkat Steve dari lantai untuk duduk di kursi, walaupun sangat lelah secara fisik, Steve tersenyum bahagia.

"Engkau sudah berbuat dengan baik, hambaku yang baik dan setia," kata professor dan ia menambahkan, "Tidak semua khotbah disampaikan dengan kata-kata."

Berpaling kepada kelas, profesor berkata, "Harapan saya adalah kalian dapat memahami dan sepenuhnya mengerti akan semua kekayaan kasih karunia dan rahmat yang telah diberikan kepada kalian lewat pengorbanan Yesus Kristus. Allah tidak menyayangkan Putra Tunggal-Nya, tetapi menyerahkan-Nya untuk kita. Entah kita memilih untuk menerima ataupun menolak karunia-Nya, satu hal yang pasti: harganya sudah lunas dibayar."

"Apakah kita akan menjadi orang yang bodoh dan yang tidak bersyukur dengan meninggalkan hadiah itu di atas meja?"

Humor : Atheis

Seorang Atheist sedang berjalan di tengah hutan.

"Wah! sungguh indah pohon-pohon, sungai dan binatang-binatang disini!" katanya sambil menikmati pemandangan disekelilingnya.

Saat sedang berjalan dipinggiran sungai, tiba-tiba ia mendengar suara dari balik semak. Seekor beruang besar setinggi 2 meter muncul menyerangnya. Dia berusaha lari, tapi malah tersandung dan tersungkur ke tanah. Pada waktu ia berusaha untuk bangun, ia melihat beruang itu sudah tepat diatasnya dengan cakarnya yang sudah siap merobek-robek.

Si Atheist kontan menjerit,"O Tuhaaannn... !!!" dan mendadak waktu berhenti. Beruang itu menjadi diam, aliran sungai terhenti dan seisi hutan menjadi sepi. Seberkas sinar muncul menerpa wajah dan suara dari langit terdengar, katanya, "Selama ini kau menentangKu, menghasut semua orang bahwa Aku ini tidak ada, serta menyangkal semua ciptaanKu. Berani-beraninya kau menyebut namaKu untuk minta tolong! Haruskah Aku menolongmu?"

"Mungkin terlalu munafik dan tidak adil bagiMu jika aku mendadak meminta untuk menganggapku orang kristen dan langsung menolongku", jawab si Atheist, "tapi sudikah Kau menjadikan beruang ini Kristen?"

Suara itupun menjawab, "Baiklah".

Sinar surgawi itupun lenyap dan seketika itu juga semua kembali seperti semula. Beruang itu masih berdiri di depan si Atheist namun tidak jadi menyerangnya, malah melipat kedua cakarnya, menundukkan kepalanya sambil berkata, "Ya Tuhan, berkatilah makanan yang sudah tersedia di depanku ini... agar menjadi kekuatan bagiku untuk memuliakan namaMu... Amin.."

Happy

Cracked Pot

26 November 2008

Humor : Cegukan

Seorang laki-laki masuk ke sebuah apotek dan bertanya kepada si apoteker, apakah ada obat yang dapat menghilangkan cegukan.

Tiba-tiba si apoteker langsung menampar pipi pria tersebut.

"Kenapa Anda melakukan hal itu pada saya?" tanya si pria itu.

"Ohh ... itu adalah obat untuk mengatasi cegukan ... lihat Anda sudah tidak cegukan lagi!" kata si apoteker dengan bangganya.

"Memang saya tidak cegukan! Istrikulah yang sedang cegukan sekarang ini!"

Beattitudes Of Marriage

Blessed are the husband and wife who continue to be affectionate, considerate, and loving after the wedding bells have ceased ringing.

Blessed are the husband and wife who are as polite and courteous to one another as they are to their friends.

Blessed are they who love their mates more than any other person in the world, and who joyfully fulfill their marriage vow of a lifetime of fidelity and mutual helpfulness to one another.

Blessed are they who attain parenthood, for children are a heritage of the Lord.

Blessed are they who remember to thank God for their food before they partake of it, and who set apart some time each day for the reading of the Bible and for prayer.

Blessed are those mates who never speak loudly to one another, and who make their home a place "where seldom is heard a discouraging word."

Blessed are the husband and wife who faithfully attend the worship service of the church, and who work together in the church for the advancement of Christ's kingdom.

Blessed are the husband and wife who can work out the problems of adjustment without interference from relatives.

Blessed is the couple which has complete understanding about financial matters, and have worked out a perfect partnership, with all money under the control of both.

Blessed are the husband and wife who humbly dedicate their lives and their homes to Christ, and who practice the teachings of Christ in the home by being unselfish, loyal and loving.

Present

25 November 2008

Nasihat Buat Pria Lajang

Seringkali kita mendengar pria lebih memilih untuk melajang lebih lama dengan alasan2 ekonomi. Lebih spesifiknya mungkin ingin punya rumah pribadi dulu, punya mobil dulu, punya gaji sekian juta dulu atau beberapa ratus juta untuk sebuah pesta pernikahan. Karenanya, sebelum mencapai pernikahan, para pria bekerja ekstra keras mengumpulkan uang demi kemapanan.

Ini tidak salah. Sudah selayaknya untuk punya kehidupan yang aman secara finansial saat berumah tangga dan memberikan kenyamanan bagi istri. Tapi, pada saat kemapanan itu sudah dimiliki, ada situasi yang bisa menjebak para pria.

Saat seorang pria sudah begitu kaya, maka semua jenis wanita akan datang kepada dia menawarkan cinta. Tapi akhirnya semua menjadi buram, apakah mereka datang karena cinta, atau mencintai uang kita. Sampai akhirnya sesuatu yang buruk terjadi, hingga kita menyesal kenapa kita bisa menjadi begitu kaya.

Wanita mana yang tidak akan datang bila kamu begitu tampan, cerdas, kaya dan muda? Semua ingin merasakan Jaguar-mu, tidur di atas Tempur Pedic-mu, tinggal di pent house-mu, dan berdampingan dengan pria berjas Kiton. Itu semua gambaran bahwa uang bisa memanipulasi perasaan. Dan parahnya, itu adalah uangmu!

Bila saat ini kamu memiliki mobil dan seorang pacar, kamu tidak akan pernah tahu, apakah wanita ini masih mencintamu kalau suatu saat kamu hanya naik sepeda motor. Bagaimana kalau kamu tak lagi punya rumah pribadi dan hanya ada tempe di atas meja makan. Tahukah kamu?

Tidak. Karena dia datang pada saat kamu bisa memberikannya kenyamanan2 finansial yang dia idam-idamkan. Cintakah yang kamu punya? Bukan. Kamu hanya memiliki wanita yang mencintai kenyamanan yang bisa kamu sediakan.

Beruntunglah bagi pasangan yang telah menikah dan mereka berdua memulainya dari bawah. Mensyukuri mobil mereka, karena mereka berdua pernah merasakan panas-hujan dengan sepeda motor. Menyenangi spring bed baru mereka, karena mereka berdua pernah tidur bersama di atas sebuah kasur busa kecil. Terharu dengan rumah pribadi mereka, karena dulu mereka pernah tinggal hanya di sebuah kost. Beruntunglah para pria yang memiliki wanita yang begitu mencintai mereka dan mendampingi di saat-saat berjuang menuju kehidupan yang lebih baik.

Bila ini tidak juga mengubah pikiranmu, maka teruskanlah mengumpulkan uang dan berjuang menjadi tersohor. Sampai suatu saat kamu sadar, bahwa menjadi kaya seringkali adalah sebuah kutukan.

 * Thx Lyn buat kiriman artikelnya .. :)

Humor : Statistik

Seorang mahasiswa jurusan statistik yang sedang mengendarai mobilnya, selalu saja meningkatkan kecepatan mobilnya secepat

mungkin ketika melewati perempatan dan melambatkan kembali mobilnya ketika dia sudah melewati setiap perempatan.

Suatu hari temannya menumpang di mobil itu dan memperhatikan gaya si mahasiswa dalam mengendarai mobilnya.
Temannya menanyakan mengapa ia menyetir seperti itu. Bukankah kalau di perempatan kecepatan mobil justru harus dikurangi.

Si mahasiswa menjawab, "Menurut angka statistik, kecelakaan lebih sering terjadi di perempatan, jadi aku tidak ingin menghabiskan waktuku terlalu lama di setiap perempatan yang aku lewati."

24 November 2008

Humor : Kotak Hitam

Alkisah 3 (tiga) orang perempuan (orang Jawa, Menado dan Papua) naik pesawat terbang dari Jayapura ke Jakarta. Tiba-tiba ditengah perjalanan pesawat oleng dan rasanya mau jatuh.

Seketika perempuan Jawa tadi ambil bedak dan gincu berdandan cantik sekali, temannya disebelah bingung dan bertanya, "Kenapa koq dandan?"

Dia bilang, "Biasa kalau pesawat mau jatuh yang ditolong pertama kan yang paling cantik."

Aehhh..perempuan Menado disebelahnya ga bisa terima, lalu dia angkat roknya sampai tinggi. Teman disebelahnya tanya, "Kenapa kau angkat rok sampai tinggi begitu?"

Dia jawab, "Biasa kalau pesawat jatuh yang pertama ditolong kan yang pahanya putih-putih."

Hehhh..perempuan Papua sudah emosi sekali mendengar ocehan kedua teman disebelahnya. Dia lalu membuka baju dan telanjang bulattt, semuanya tampak hitam. Kedua temannya kaget dan bertanya, "Kenapa telanjang bulat gitu?"

Dengan enteng dia jawab, "Biasa kalau pesawat jatuh yang paling pertama dicari kan KOTAK HITAM."

:)

Saya Sembuh

Segala pujian, hormat dan syukur saya naikkan kepada Bapa di sorga di dalam Tuhan Yesus Kristus atas kesembuhan yang diberikan-Nya kepada saya lewat minyak urapan. Setahun yang lalu saya menderita penyakit gatal-gatal. Gatal-gatal yang bermula dari jari-jari tangan lalu kemudian menyebar ke bagian tubuh yang lain dengan rasa gatal yang tidak tertahankan. Penyakit gatal-gatal ini sudah saya periksakan ke beberapa dokter, tapi semuanya tidak menghasilkan kesembuhan. Saya sudah memeriksakan diri , dari dokter umum sampai ke dokter spesialis kulit, juga segala pantangan yang dianjurkan dokter saya lakukan dengan baik, tetapi usaha-usaha tersebut tidak memberikan kesembuhan bagi penyakit saya. Akhirnya saya pasrah dan tidak mau berobat lagi, sedangkan penyakit gatal-gatal pada kulit saya semakin menyebar dan menjadi-jadi.

Setelah beberapa waktu lewat, saya bertemu lagi dengan teman seorang pengerja di Gereja Rumah Doa Segala Bangsa-Bali. Saya ceritakan tentang penyakit saya yang saya derita sudah satu tahun lamanya. Mendengar itu, serta merta teman saya memberi saya satu botol minyak urapan untuk dioleskan pada bagian tubuh yang sakit.

Minyak urapan tersebut saya pakai, didahului dengan doa. Rasa gatal dari penyakit saya semakin berkurang bahkan setiap saya usap dengan minyak urapan, seperti ada sesuatu yang keluar yang menyerupai pasir yang warnanya ada yang putih dan hitam. Semakin saya usap, semakin banyak yang keluar. Akhirnya saya sembuh! Saya percaya bahwa urapan Allah telah menjamah saya melalui minyak urapan-Nya yang membawa kesembuhan bagi penyakit saya.

Minyak yang diurapi Allah juga bekerja dengan dahsyat dan ajaib bagi seorang ibu yang saya beri minyak urapan. Juga setahun yang lalu saya memberikan minyak urapan kepada seorang ibu. Baru-baru ini suaminya membangun gudang dan ia mempekerjakan saudaranya yang baru datang dari Sumatera untuk menjaga gudang itu. Pada malam hari pegawainya yang tidur di gudang ini melihat sosok-sosok bayangan orang yang hitam dan besar. Ketika tengah tidur dia merasa ditindih dan dicekik orang tersebut, sampai susah bernafas. Pagi harinya saat bangun, ada guratan kuku dipunggungnya berjajar lima kuku dari atas ke bawah.

Ketika ibu ini mengetahui akan hal itu, dia lalu berdoa dan mengolesi dengan minyak urapan yang saya berikan setahun yang lalu pada pegawainya. Dan mujizat terjadi, bekas guratan kuku-kuku tersebut langsung lenyap tanpa bekas. Glory!

Tuhan Yesus tidak pernah berubah dari dulu sekarang dan selama-lamanya. Hal ini saya saksikan, sebagai tanda sukacita dan pujian syukur saya kepada Tuhan Yesus Kristus yang menjadi Tuhan, Penolong, dan Juru Selamat saya sepanjang masa. Biarlah kesaksian ini menjadi berkat bagi banyak orang, bahwa Tuhan Yesus itu luar biasa, oleh bilur-bilur-Nya saya telah sembuh.

Segala pujian dan hormat bagi Bapa di Sorga di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus Halleluya..........A M I N.

Oleh : Petra F. Leman

Pemecahan Suatu Masalah

Seringkali kita terkecoh saat menghadapi suatu masalah, dan walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit. Mari kita coba lihat dalam tiga kasus di bawah ini :

1. Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan kertas) kosong. Dengan segera pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong. Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Tetapi saat ada seorang karyawan disebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang ringan.

2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!.

3. Suatu hari, pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya. Para pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di pintu lift terasa lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Dia (pemilik) mengundang sejumlah pakar untuk men-solve. Satu pakar menyarankan agar menambah jumlah lift. Tentu, dengan bertambahnya lift, waktu tunggu jadi berkurang. Pakar lain meminta pemilik untuk mengganti lift yang lebih cepat, dengan asumsi, semakin cepat orang terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tetapi, satu pakar lain hanya menyarankan satu hal, "Inti dari komplain pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu". Pakar tadi hanya menyarankan untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, agar pelanggan teralihkan perhatiannya dari pekerjaan "menunggu" dan merasa "tidak menunggu lift".

Moral cerita ini adalah sebuah filosofi yang disebut KISS (Keep It Simple Stupid), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada berfokus pada masalah.

Laut Galilea & Laut Mati

Di Palestina  ada dua laut. Keduanya sangat berbeda. Yang satu dinamakan Laut Galilea,  yaitu sebuah danau yang luas dengan air yang jernih dan bisa di minum.
Ikan dan manusia berenang dalam laut tersebut. Danau itu juga  dikelilingi oleh ladang dan kebun hijau, banyak orang mendirikan rumah di  sekitarnya.

Laut yang lain dinamakan Laut Mati, dan sungguh sesuai  dgn namanya. Segala sesuatu yg ada didalamnya mati. Airnya sungguh asin sehingga kita bisa sakit jika meminumnya. Danau itu tidak ada ikannya dan tidak ada sesuatupun yang sanggup tumbuh di tepiannya. Tak juga ada orang yg ingin tinggal di sekitarnya, sebab baunya sangat tak sedap.

Jadi yang  menarik tentang kedua laut itu adalah bahwa sungai yang mengalir ke keduanya  adalah satu sungai. Trus, apa yang membuatnya kemudian jadi beda?Bedanya, laut yang satu menerima dan memberi (Galilea), sedang laut  lainnya menerima  dan menyimpannya saja (Laut  mati).

Sungai Yordan mengalir ke Laut Galilea dan mengalir keluar dari dasar danau itu. Danau tersebut memanfaatkan air  sungai Yordan dan kemudian meneruskannya kepada danau lain yg  juga memanfaatkannya. Sungai Yordan kemudian mengalir ke Laut Mati namun  tdk pernah keluar lagi. Laut Mati menyimpan air Sungai Yordan bagi dirinya  sendiri. Hal itulah yang membuatnya mati : hanya menerima dan tidak mau memberi.

Semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akan menerima. The more you give, the more you get in return. Dalam marketing, ini mungkin disebut sebagai taktik public relations atau publicity. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ini juga berlaku tanpa diselipi dengan iming-iming tertentu.

(Author Unknown)

Humor : Ibu dan Anak

Ada seorang ibu yang menyuruh anaknya membeli gula di warung.

Ibu : "Andi, tolongin mama donk, Nak!" Beliin gula di warung.

Andi : "Enggak ah, Ma, males!"

Ibu : "Ayo donk, Nak, mama butuh banget gulanya nih, buat bikin kue. Ntar deh mama kasih seratus buat jajan, mau nggak?"

Andi : "Nggak mau ah, Ma. Mama aja yang pergi beli gulanya, ntar Andi kasih lima ratus deh ....

23 November 2008

Humor : 50

Seorang anak yang baru pulang sekolah berteriak kegirangan memasuki rumah.

Anak : "Ibu, hari ini saya senang sekali. Saya memang lebih pandai dari teman-teman saya yang lain. Hari ini saya dapat nilai 100."

Ibu : "Wah ..., anak ibu memang paling pintar. Mata pelajaran apa, Nak?"

Anak : "Matematika dan sejarah, Bu."

Ibu : "Dua-duanya? "

Anak : "Bukan, Matematika 50, Sejarah 50."

22 November 2008

Arsip Weekend Scripture - 2 Tim 1:7

"Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban" - 2 Timotius 1:7

Pemurnian

Pada suatu kaetika seorang ahli pikir berbangsa Yunani yang terkenal diberi tugas yang aneh. Ia diperintahkan oleh gurunya untuk memberikan uang kepada siapapun yang menghinanya selama tiga tahun. Karena murid ini ingin mencapai kemajuan hidup spiritualnya, ia telah melakukan apa saja yang diperintahkannya.

Setelah ujian yang memakan waktu cukup panjang ini usai, gurunya meminta muridnya untuk datang di tempat kediamannya dan berkata kepadanya, “Kini kamu boleh berangkat ke Athena, karena kamu telah siap untuk belajar tentang kebijakan.”

Dengan gembira murid itu berangkat ke Athena. Sebelum ia memasuki kota besar itu, ia melihat seorang bijak sedang duduk di dekat gerbang kota sedang memaki-maki semua orang yang lewat di tempat itu. Dengan sendirinya, ketika orang bijak itu melihat murid yang sedang berjalan memasuki kota itu, iapun dapat makiannya.

“Hei,” teriak orang itu kepada murid tersebut. “Bagaimana kamu bisa menjadi demikian buruk dan tololnya? Aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang lebih brengsek dari padamu”.

Murid itu sama sekali tidak merasa terhina. Sebaliknya ia meledak tertawa.

“Mengapa kamu tertawa ketika aku menghinamu?” tanya orang bijak itu.

“Karena,” jawab sang murid, “selama tiga tahun aku memberi uang untuk hal semacam itu dan sekarang Anda memberikan kepadaku secara GRATIS!”

“Masuklah ke dalam kota,” kata orang bijak itu. “Kota ini menjadi milikmu!”

Sumber : Reflecta

Humor : Rahasia

Ada sepasang suami-istri tua yang telah menikah selama lebih dari 50 tahun. Sepenglihatan dan sepengetahuan seluruh kerabat dan teman2 dekat mereka dari berbagi kalangan dan usia, pasangan suami-istri ini juga selalu kalem dan tidak pernah ada masalah apalagi ribut-ribut.

Ada pun seorang lelaki mapan yang baru saja menjalin hubungan pernikahan, kebetulan dia kenal dengan sang suami tua itu. Seperti biasa, kalo ada orang berhasil sukses, pasti ada aja yang nanya "apa rahasianya?". Dan si lelaki ini akhirnya pada saat yang tepat menanyakan apa "rahasianya" pada sang suami tua itu.

Sang bapak tua berkata, "Wah, kalo mao diceritakan panjang, nak. Dimulai dari 50 tahun lalu.." Wah dalam hati si lelaki ini, bisa jenggotan gw dengerin cerita si bapak tua ini.. "Ya uda, dipersingkat aja pak.." kata sang lelaki.

Sang bapak tua mulai bercerita, "Jadi begini, semua dimulai 50 tahun lalu. Saat itu saya sedang berbulan madu dengan istri saya. Kami menginap di Hotel terkenal dan bagus. Kemudian, pada suatu siang saya dan istri saya pergi menunggang kuda di halaman belakang hotel. Memang hobi saya dan istri saya menunggang kuda. Belum lama kami menunggang kuda. Tiba-tiba, kuda yg ditunggangi istri saya tersandung. Istri saya terlihat kesal, lalu dia berkata "SATU!". Saya tidak mengerti dan merasa tdk perlu bertanya, jadi saya lanjutkan kembali. Tidak beberapa lama kemudian, terulang lagi hal yang sama. Kuda istri saya tersandung lagi. Istri saya kesal lagi dan berkata "DUA!". Saya masih membiarkan sambil tersenyum. Lalu kami melanjutkan menunggang kuda lagi.

Eh, emang kudanya bego kali yah, sang kuda istri saya tersandung lagi. Tiba-tiba istri saya teriak "TIGA!" dan langsung berhenti. Saya bingung melihat istri saya berhenti. Istri saya langsung turun dari kuda itu, merogoh pinggangnya, dan mengeluarkan pistol nya. Langsung.. DOR!!. Kuda itu ditembak mati oleh istri saya.

Saya terkejut setengah mati melihat sikap istri saya. Saya turun dari kuda dan menghampiri dia. Saya berkata kalo tidak seharusnya dia melakukan hal itu, saya memarahi dia karena hal itu tidak baik..dst..dst..

Tiba2 dia melotot ke arah saya dan berkata dgn kencang "SATU!"

Dari saat itu sampai detik ini saya masi bersyukur kalo dia belum mengatakan "DUA"

Cerita Cinta

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal!

Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. "Ia sungguh cantik" kataku dalam hati, "Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik". Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya..

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku. Hmm… aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.

6 September 2001, Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra.. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati. Jantungku serasa mau berhenti...

23 Oktober 2001, Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui…

Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat  denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly.

4 Januari 2002, Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal daripadaMu.

Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.

14 Februari 2002, Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus  kuambil.

14 Februari 2003, Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!

18 Juli 2005, Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.

7 April 2006, Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.

Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah.

15 November 2007, Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk Vincent.

Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga. Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun… "Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun…" (ts)

------------ --------- -------

Jika manusia bisa mencintai pasangannya tanpa syarat. Bayangkan, bagaimana besarnya cinta Tuhan kepada kita yang adalah ciptaanNya… anakNya… sahabatNya… saudaraNya… sehingga Ia memberikan AnakNya yang kekasih untuk mati di kayu salib bagi kita.

BKM - Buletin Komunitas Mudika Edisi Oktober 2008

Have a blessed day!

Tere

Yoh 3:16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal"

21 November 2008

Seumur Hidup Jadi Tongkat Ibunya

Sebuah Kisah yang mungkin bisa memberika inspirasi tersendiri bagi kita masing-masing

noname 
(Erabaru.or. id) — Hawa udara di Changchun, Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi.

Menurut laporan “City Evening Post”, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.

Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.

Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya sang ayah. Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.

Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.

Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.

Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.

Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.

Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.

“Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……” (Dajiyuan/prm)

Kadangkala Hidupmu Menangis

Kadangkala hidup mengharuskanmu menangis tanpa sebab. Kamu merasa sudah berbuat baik dan benar, tetapi masih banyak kritikan yang dialamatkan kepadamu. Kamu mengira keputusan yang kamu ambil sudah tepat, ternyata perkiraanmu keliru. Jangan putus asa !! Bangkitlah !!

Matahari tanpa sinar tidak layak disebut matahari, demikian juga dirimu, kau adalah matahari yang seharusnya memancarkan sinar, sekalipun mendung kelabu menutupi pandangan orang untuk melihat keindahan cahayamu. AKU sering melihat melihatmu marah ketika kamu melihat orang lain berhasil. Untuk apa kamu menginginkan keberhasilan orang lain? Bukankah AKU udah menyediakan suksesmu sendiri? Kamu tidak pernah mengejarnya, jadi kamu tidak pernah bisa memilikinya.

Matamu tidak terfokus kepada rancangan-Ku yang dahsyat atas hidupmu, melainkan tertuju kepada karya-Ku yang luar biasa atas hidup orang lain.  Jadilah seperti air. Selalu mengalir melewati semua benda, menembus semua sisi dan tanpa batas. Anak-Ku, jangan mau dikalahkan oleh keadaan, tetapi kalahkan keadaaan!!

Anak-Ku yang terkasih, jangan sakit hati ketika kau ditegur, padahal kau merasa sudah mengerjakan yang terbaik. Sakit hati itu hanya akan membuat tidurmu tidak nyenyak dan perasaanmu tidak nyaman. Buanglah itu dari hatimu dan pikiranmu! Kuasailah dirimu sedemikian rupa hingga kamu bisa mengatasi perasaan diperlakukan tidak adil, dilecehkan, diremehkan ataupun dikhianati oleh sesamamu. Bukankah untuk itu kau hidup? untuk melihat kenyataan bahwa di dunia ini yang paling mengerti perasaanmu dan menerima dirimu apa adanya hanya AKU? Jauhilah segala bentuk kemarahan, tetapi jangan jauhi AKU.

Anak-Ku, ingatlah hal ini baik-baik. Aku selalu mebuka tangan-Ku lebar-lebar untuk memberimu rasa aman, kapanpun kau membutuhkannya. AKU senantiasa menyiapkan bahu untuk tempat kepalamu bersandar dan mencurahkan tangis. AKU melakukannya karena AKU sungguh-sungguh peduli padamu!!

Ayah yang selalu mengasihimu,

YESUS

20 November 2008

36 Stress Reducers

1. Pray
2. Go to bed on time.
3. Get up on time so you can start the day unrushed.
4. Say No to projects that won't fit into your time schedule or that will compromise your mental health.
5. Delegate tasks to capable others.
6. Simplify and unclutter your life.
7. Less is more. (Although one is often not enough, two are often too many.)
8. Allow extra time to do things and to get to places.
9. Pace yourself. Spread out big changes and difficult projects over time; don't lump the hard things all together.
10. Take one day at a time.
11. Separate worries from concerns. If a situation is a concern, find out what God would have you to do and let go of the anxiety. If you can't do anything about a situation, forget it.
12. Live within your budget; don't use credit cards for ordinary purchases.
13. Have backups; an extra car key in your wallet, an extra house key buried in the garden, extra stamps, etc.,
14. K.M.S. (Keep Mouth Shut.) This single piece of advice can prevent an enormous amount of trouble.
15. Do something for the Kid in You everyday.
16. Carry a Bible with you to read while waiting in line.
17. Get enough exercise.
18. Eat right.
19. Get organized so everything has its place.
20. Listen to a tape while driving that can help improve your quality of life.
21. Write thoughts and inspirations down.
22. Everyday, find time to be alone.
23. Having problems? Talk to God on the spot. Try to nip small problems in the bud. Don't wait until its time to go to bed to try and pray.
24. Make friends with Godly people.
25. Keep a folder of favorite scriptures on hand.
26. Remember that the shortest bridge between despair and hope is often a good "Thank you, Jesus!"
27. Laugh.
28. Laugh some more!
29. Take your work seriously, but yourself, not at all.
30. Develop a forgiving attitude (most people are doing the best they can).
31. Be kind to unkind people (they probably need it the most).
32. Sit on your ego.
33. Talk less; listen more.
34. Slow down.
35. Remind yourself that you are not the general manager of the universe.
36. Every night before bed, think of one thing you're grateful for that you've never been grateful for before.

** GOD HAS A WAY OF TURNING THINGS AROUND FOR YOU**

Penyambukan

Di suatu sekolah terdapat sebuah kelas yang tidak pernah dapat dikendalikan oleh guru siapapun. Pada tahun ajaran ini dua sampai tiga guru keluar dari sekolah karena tak sanggup mengendalikan murid-murid yang tak mengenal disiplin itu. Seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan studinya di perguruan tinggi mendengar tentang kelas itu dan kemudian melamar pekerjaan di sekolah yang bersangkutan.

Kepala sekolah bertanya kepada pemuda itu, ”Apakah Anda sadar akan tugas Anda? Tidak ada seorang gurupun yang dapat menangani kelas itu. Anda melamar pekerjaan itu untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak?”

Setelah beberapa saat berdoa di dalam keheningan, pemuda itu menatap wajah kepala sekolah dan berkata, ”Pak, dengan ijin Bapak, aku menerima pekerjaan dan tantangan ini. Berilah aku waktu untuk percobaan.”

Esok harinya, pemuda itu berdiri di depan kelas tersebut. Ia mengatakan kepada murid-muridnya, ”Anak-anak sekalian. Aku datang hari ini untuk memimpin kelas ini. Namun aku sadar, bahwa aku membutuhkan bantuanmu.”

Seorang anak yang bertubuh besar, Tom, si Raksasa, berbisik kepada teman-temannya di belakang kelas, ”Aku tak memerlukan bantuan kalian. Aku dengan mudah dapat mengalahkan burung kecil itu seorang diri.”

Guru muda itu mengatakan kepada anak-anak di kelasnya, bila mereka berada di dalam kelas, merekapun harus mempunyai peraturan untuk dipatuhi. Namun, ia tambahkan, ia memerlukan para murid untuk membuat peraturannya sendiri dan ia nanti akan membuat daftar peraturannya di atas papan tulis.

Ini sesuatu yang berbeda, pikir murid-murid!

Seorang murid menyarankan, ”TIDAK MENCURI”

Lain lagi berseru, ”HENDAKNYA KITA MASUK KELAS TEPAT PADA WAKTUNYA”

Tidak lama kemudian mereka memiliki 10 peraturan di papan tulis. Kemudian guru muda itu menanyakan, “Hukuman apakah harus diterapkan, bila peraturan itu dilanggar? Pasalnya, peraturan itu tak berguna tanpa penegakannya!“ katanya. Seorang murid menyarankan, bila peraturan itu dilanggar, mereka harus menerima 10 cambukan dengan sebatang cambuk di punggungnya dengan baju dilepas.

Gurunya mengira bahwa ini agak terlalu keras. Karenanya ia menanyakan murid-muridnya apakah mereka sanggup untuk menjalani hukuman itu. Mereka semua setuju. Segala sesuatu berjalan baik untuk dua hari lamanya. Kemudian si raksasa Tom datang sekolah dengan marah. Ia menyatakan, seseorang telah mencuri makan siangnya. Setelah berbicara dengan semua muridnya, mereka mendapatkan bahwa si Jimmy kecil telah mencuri makan siang si raksasa, Tom!Pasalnya, seorang murid melihat Jimmy memakan makanan siang milik Tom! Guru memanggil Jimmy di depan kelas. Jimmy kecil mengaku telah mengambil makanan siang si Tom besar.

Lalu guru itu bertanya kepadanya, ”Kamu tahu hukumannya?”

Jimmy kecil mengangguk. ”Kalau begitu, bukalah jaketmu,” kata guru.

Anak kecil itu datang dengan mengenakan jaket yang terlalu besar. Ia mengatakan kepada guru, bahwa ia bersedia untuk dihukum, tetapi tolong jangan suruh membuka jaketnya.

Namun guru mengingatkan Jimmy kecil akan peraturan dan hukumannya dan mengatakan lagi untuk membuka jaketnya serta menerima hukumannya seperti seorang jantan. Anak yang malang itu mulai membuka jaket tuanya. Setelah ia melakukannya, guru melihat bahwa ia tidak memakai baju di balik jaketnya. Bahkan lebih parah lagi, ia mengamati sebuah tubuh yang lemah dan kurus kering tersembunyi di balik jaket tua itu. Pak guru bertanya, mengapa ia ke sekolah tidak mengenakan baju?

Jimmy kecil menjawab, ”Ayahku sudah meninggal dan ibuku amat miskin. Aku hanya memiliki sepotong baju saja dan hari ini ibuku menyucinya. Aku mengenakan jaket saudara tuaku untuk menghangatkan badan.”

Guru muda itu memandang punggung yang kurus kering dengan tulang-tulang punggungnya yang menonjol. Ia bertanya-tanya, bagaimana ia tega untuk mencambuk punggung yang lemah bahkan tanpa baju itu?

Namun, ia tahu bahwa ia harus menjalankan hukuman itu, karena jika tidak, murid-murid tak akan mau mematuhi peraturan kelasnya. Maka, kemudian ia berancang-ancang untuk mencambuk si Jimmy kecil.

Pada saat itulah, Tom, si raksasa berdiri dan maju kedepan. Ia bertanya, ”Apa ada peraturan yang melarang untuk saya menerima hukumannya sebagai ganti si Jimmy kecil?”

Sang guru berdiam sejenak dan kemudian setuju.

Dengan demikian, Tom, si raksasa membuka bajunya dan membungkuk menutupi punggung Jimmy. Dengan bimbang sang guru mulai mencambuk Tom di punggungnya yang lebar.

Entah karena apa, setelah lima cambukan, cambuk patah menjadi dua. Guru muda itu menenggelamkan wajahnya di dalam kedua tangannya dan menangis. Ia mendengar suara ribut dan mendapati seluruh kelas ikut menangis. Jimmy kecil berbalik kepada Tom dan merangkulnya serta memohon maaf untuk perbuatan mencuri makan siangnya. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa ia akan selalu mencintai si Tom, raksasa bahkan ia bersedia untuk dicambuk sebagai gantinya.

Yesus Kristus telah menerima cambukan sebagai ganti kita serta mengucurkan DarahNya yang amat berharga di atas kayu salib, supaya Anda dan saya memperoleh kehidupan yang kekal di dalam kemuliaan-Nya dengan Dia.

Sebenarnya kita sungguh tidak layak untuk sebuah harga yang telah dibayarkan guna menebus kita. Namun semua itu terjadi karena KasihNya yang tak ada taranya terhadap kita.

Ayam & Bebek

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mendengar suara di kejauhan.

"Kuek! Kuek!"

"Dengar", kata si istri, "itu pasti suara ayam."

"Bukan, bukan, itu suara bebek," kata si suami.

"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.

"Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!' , bebek itu 'kuek! Kuek!' itu bebek, Sayang,' kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

"Kuek! Kuek!" terdengar lagi.

"Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.

"Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.

"Dengar ya! Itu a…da…lah…be…bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si suami berkata dengan gusar.

"Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras.

"Itu jelas-jelas bue…bek, kamu…kamu…"

Terdengar lagi suara, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.

Si istri sudah hamper menangis, "Tapi itu ayam…"

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, ingat kenapa ia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok."

"Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

"Kuek! Kuek! Terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek?"

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

"If you start judging people you will be having no time to love them....."

19 November 2008

Apakita Kita Bersama Bapa Hari Ini?

Berapa sering dalam hari-hari ini, kita menjadi sangat sibuk dengan kerjaan, dengan mainan baru dan kawan baru. Ke toko buku melihat buku-buku baru dan film-film baru tayang di bioskop. Seberapa sering kita meninggalkan Bapa, Putra maupun Roh Kudus di rumah, tepat di saat menutup lembar-lembar renungan harian, untuk hal-hal tadi.

Dan saat tiba di rumah sore harinya, kita lupa untuk menyapaNya dan langsung ngeloyor untuk memeriksa e-mail yang baru masuk. Dan saat Dia berbisik ingin mengobrol, rasa kantuk lebih kuat dari segalanya, tempat tidur menjadi lokasi yang paling menarik untuk bertengger. Obrolan denganNya hanya sekedar rutinitas, dengan sekali-kali terkantuk-kantuk dan tidak menghiraukan kata-kataNya. Ucapan bibir hanyalah kata-kata berulang tanpa arti.

Dan keesokan harinya semua terulang kembali. Tapi adakah Dia meninggalkan kita? Tidak. Sebab saat kita sibuk Ia mengerti pikiran kita, Ia tahu apakah kita sedang duduk atau berdiri, bahkan Ia memeriksa saat kita tidur (Mazmur 139) Bahkan segala jalan kita Ia MAKLUMI (Mazmur 139:3)

Itu sebabnya saat hati gundah gulana–saat yang paling tepat untuk ‘baru’ mengingat Dia Ia ada. Ia dengar tangismu.Dia mengikuti kemanapun kita pergi (Mazmur 139:9-12). Bahkan sekalipun kita ingin menjadikan terang disekeliling kita dengan kegelapan oleh ulah dan kebandelan kita, Dia tidak akan membiarkannya.

Tapi sampai kapan kita mau menunggu Dia berbicara pada kita. Kapan kita berbicara padanya. Menyerahkan semuanya padaNya? Apakah sampai saat di mana seperti Pengantin Pria menolak mengenal 10 wanita bodoh, seperti dalam perumpamaan Yesus?

Adakah kita mau berseru pada Tuhan, seperti Daud berseru, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenalilah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal” (Mazmur 139:24). Pernahkan kita bertanya, apa yang telah aku lakukan bagi Tuhan? Adakah aku cukup menyenangkan hatiNya? Atau adakah aku menyedihkanNya hari ini?

Burung Pipit

Hawa udara di Manhattan cukup dingin namun di dalam kedai kopi Starbucks yang terletak dekat Broadway hawanya hangat. Cuaca di akhir November di kota New-York masih dibilang belum terlalu dingin kalau dibandingkan dengan cuaca di akhir Desember atau Januari. Walaupun demikian, inilah cukup untuk mendorong banyak orang masuk ke dalam kedai kopi yang hangat itu.

Untuk seorang musikus, menurut orang, Starbucks ini mempunyai lokasi yang paling menguntungkan di seluruh dunia. Uang yang dapat dikumpulan oleh para pengamen dapat mencapai jumlah yang amat banyak, asalkan Anda dapat menunjukkan kebolehan bermain musik dengan baik.

Kami pada saat itu sedang menyanyikan lagu-lagu pop dari tahun 40 sampai 90-an. Di tengah-tengah permainan dan nyanyian “If You Don’t Know Me by Now” aku mengamati seorang wanita yang sedang duduk di kursi sofa dekat aku berada mengikuti irama dengan gerakan tubuhnya dan menyanyi bersama kami. Setelah lagunya selesai, dia menghampiri aku. Ia mengatakan, “Aku meminta maaf bahwa aku telah ikut menyanyi. Aku harap aku tidak mengganggumu”.

“Tidak,” jawabku. “Kami selalu senang bila hadirin ikut menyanyi. Apakah Anda selanjutnya mau menyanyi lagi dengan kami?” Aku senang ketika ia menerima undangan kami. “Anda memilih,” kataku. “Anda mau memilih bernyanyi apa?”
Ia menjawab: “Apa…apa Anda mengetahui lagu puji-pujian?”

Lagu puji-pujian? Wanita ini tidak tahu dengan siapa ia sedang berhadapan. Sejak kecil aku sudah mengenal lagu puji-pujian. Bahkan sebelum aku dilahirkan, aku sudah pergi ke gereja. Kemudian aku memandang tamu kami tersebut dengan suatu pandangan yang beda. ”Sebutkanlah lagunya,” kataku. “Aku tak tahu. Ada begitu banyak yang bagus. Anda saja yang memilih”, kata wanita itu.

“Baiklah,” jawabku. “Bagaimana dengan ’His Eye is on the Sparrow’?” Teman wanitaku tiba-tiba terdiam serta memalingkan mukanya. Kemudian ia mengarahkan mukanya kepada aku lagi dan berkata, ”Ya, marilah kita nyanyikan lagu itu.”

Ia meletakkan dompetnya, mengencangkan jaketnya dan memandang ke tengah-tengah kedai itu dan mulai menyanyi,” Why should I be discouraged? Why should the shadows come?

Semua tamu dalam kedai itu seakan-akan terpaku. Bahkan suara dari mesin cappuccino berhenti dan semua pelayan berhenti melayani. Lagu itu berakhir dengan ”I sing because I am happy. I sing because I am free For His eye is on the sparrow, and I know He watches me.

Ketika kalimat terakhir selesai dinyanyikan, suara tepuk tangan tambah lama tambah gemuruh dan menderu, seakan-akan mengalahkan suara penonton di Carnegie Hall yang penuh.. Dengan rasa malu, wanita itu mencoba berseru untuk mengatasi gemuruh tepuk tangan itu, “O, kembalilah lagi ke kopimu! Aku datang di sini tidak untuk mengadakan konser, melainkan ingin minum kopi seperti kalian!”

Namun sambutan terus berlanjut. Aku merangkul kawanku yang baru. “Itu bagus sekali!”

“Nah, lucu bahwa Anda justru memilih pujian yang satu itu, “ katanya.

“Mengapa?” tanyaku.

“Ah…”, ia berkata dengan ragu-ragu, ”itulah lagu kesayangan puteriku.”

“Benar?!” seruku.

“Ya!”, kata wanita itu, lalu memegang kedua tanganku. Pada saat itu, tepuk tangan sudah menjadi kurang dan semua orang berbalik lagi menikmati kopinya seperti biasa.

“Ia baru 16 tahun. Ia meninggal dunia minggu yang lalu.”

Aku mengatakan sesuatu untuk memecah keheningan, ”Anda baik-baik saja?”

Ia tersenyum dan melalui matanya basah, ia memegang erat kedua tanganku, “Aku baik-baik saja. Aku akan tetap percaya kepada Tuhan dan menyanyikan puji-pujian-Nya, dan segala sesuatu akan baik-baik saja” Ia mengambil tasnya, memberiku kartu namanya dan pergi keluar dari kedai itu.

Apakah merupakan sesuatu yang kebetulan bahwa aku menyanyi di kedai kopi itu dan pada malam bulan November itu? Apakah suatu kebetulan bahwa wanita itu masuk ke dalam kedai kopi tersebut? Kebetulan bahwa dari semua lagu-lagu, aku justru memilih lagu yang menjadi kesenangan dari anaknya yang baru meninggal minggu yang lalu? Aku tidak dapat percaya!

Tuhan telah merencanakan pertemuan sepanjang sejarah manusia dari sejak semula. Dan karena itu tidak terlalu sukar untuk membayangkan hal itupun terjadi di kedai kopi di pusat Manhattan dengan mengubah suatu perhimpunan biasa menjadi suatu kebangunan rohani. Aku kira, itu merupakan suatu peringatan, bila kita tetap percaya kepadaNya dan menyanyikan puji-pujianNya, segala sesuatu akan tetap OK!

18 November 2008

Kepada Anakku

Hanya untuk pagi ini, aku akan tersenyum bila aku melihat wajahmu dan aku tertawa, bila aku merasa seperti mau menangis. Hanya untuk pagi ini, aku membiarkan kamu untuk memilih apa yang kamu ingin kenakan dan tersenyum serta mengatakan, alangkah sempurna kelihatannya. Hanya untuk pagi ini, aku tidak mencuci pakaian, melainkan menjemput dan membawamu ke taman untuk bermain.

Hanya untuk pagi ini, aku tinggalkan gerabah dalam bak cuci dan membiarkan kamu mengajarku bagaimana bermain bersama dengan teka-teki. Hanya untuk sore ini, aku akan mencabut hubungan telepon dan mematikan komputer dan kemudian bersamamu duduk di kebun belakang meniup gelembung sabun. Hanya untuk sore ini, aku tidak akan berteriak, bahkan tidak mengomel sedikitpun bila kamu berteriak dan menangis untuk boleh membeli es cream dan aku akan membelikanmu bila penjualnya lewat rumah. Hanya untuk sore ini, aku mengijinkanmu untuk membantuku membuat kue dan membiarkanmu mengerjakan sendiri. Hanya untuk sore ini, kita akan pergi ke McDonald untuk makan malam bersama, supaya kamu mendapatkan barang mainan sebagai hadiah.

Hanya untuk malam ini, aku akan memelukmu dan menceritakan kisah kelahiranmu dan betapa sayangnya aku kepadamu. Hanya untuk malam ini, aku memperkenankanmu bermain di dalam bak mandi dan aku tidak akan marah. Hanya untuk malam ini, aku membiarkan kamu pergi tidur agak malam, sehingga kita dapat duduk di teras dan menghitung bintang-bintang di angkasa. Hanya untuk malam ini, aku akan memanjakanmu selama berjam-jam, dan aku rela tidak mengikuti acara TV favoritku. Hanya untuk malam ini, bila aku mengusap-usap rambutmu selama kamu berdoa, aku akan bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan hadiah yang terbesar yang pernah Ia berikan.

Aku akan ingat para ibu dan ayah yang sedang mencari anak-anaknya yang hilang, para ibu dan ayah yang mengunjungi makam anak-anak mereka ketimbang kamar tidurnya, para ibu dan ayah yang berada di rumah sakit menyaksikan penderitaan anak-anaknya yang tak semestinya sehingga membuat mereka menjerit-jerit bahwa mereka di dalam hati tidak tahan lebih lama lagi.

Dan bila aku menciummu selamat tidur, aku akan mendekapmu lebih erat dan lebih lama lagi. Pada saat itulah, aku amat bersyukur kepada Tuhan, dan aku tidak akan meminta apa-apa lagi, kecuali satu hari lagi……

Humor : Obat Tidur

Seorang lelaki yang terlihat begitu pucat dan lesu memeriksakan dirinya ke seorang dokter.

"Dokter, semua tetanggaku mempunyai anjing dan anjing-anjing itu menyalak siang dan malam, membuat aku tidak bisa tidur," kata lelaki itu.

"Oh, aku punya kabar baik untukmu," kata si dokter sambil menyodorkan beberapa botol pil. "Ini beberapa contoh obat tidur yang bagus. Beberapa masalahmu tadi pasti bisa terselesaikan. "

"Bagus!" kata laki-laki itu, "Aku akan mencoba apapun. Berikan aku yang paling bagus, Dok!"

Beberapa minggu kemudian si lelaki itu kembali. Wajahnya terlihat lebih berantakan dan pucat dari kunjungan pertamanya ke dokter itu.

"Dok, resep Anda tidak berhasil. Aku malah menjadi lebih lelah dari sebelumnya!"

"Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu," kata sang dokter sambil menggeleng-gelengka n kepalanya.

"Obat yang aku berikan pada Anda itu adalah obat tidur yang paling kuat yang dijual di seluruh apotik di negara ini!"

"Mungkin itu memang benar," jawab lelaki itu, "tetapi aku masih saja tidak tidur sepanjang malam untuk memancing anjing-anjing datang padaku.

Pada saat aku bisa menangkap satu anjing, ternyata sangat sulit untuk memaksa dia menelan obat tidur itu, Dok!"

Do Something!

Sewaktu liburan, suatu hari aku berjalan menyusuri pantai. Ketika sedang berjalan, aku melihat sesosok tubuh manusia bergerak seperti seorang penari. Aku tersenyum dan bertanya dalam hati siapakah orang itu.

Kemudian aku mempercepat langkahku untuk mengejar bayangan tersebut. Setelah mendekat aku melihat seorang laki-laki muda dan orang itu ternyata tidak sedang menari, tetapi sedang membungkuk ke pasir, mengambil sesuatu dan dengan senang hati melemparkannya ke laut.

Setelah lebih dekat lagi, aku berseru, “Selamat Pagi! Apa yang sedang anda lakukan?"

Anak muda itu berhenti, melihat kepadaku dan menjawab, “Melempar bintang laut.”

Aku bertanya, “Kenapa anda melakukan itu?”

Anak muda itu menjawab, “Matahari akan segera meninggi dan air akan surut. Jika saya tidak melakukannya, mereka akan mati.”

“Tapi anak muda, tidakkah anda sadar bahwa sepanjang pantai ini dipenuhi bintang laut?? 24 jam pun anda menghabiskan waktu, tidak mungkin anda lempar sepersejuta pun dari seluruh jumlah bintang laut disepanjang pantai ini. Anda tidak mungkin membuat perbedaan!”

Anak muda itu mendengarkan dengan sopan, kemudian dia membungkuk, mengambil bintang laut lainnya dan melemparnya ke laut, melewati gelombang yang menggemuruh, dan dia sebut, “pasti ada perbedaan untuk yang satu itu”.

Jawabannya mengejutkanku, dan aku kecewa bahkan tidak tahu bagaimana harus menjawab anak muda itu. Yang saya pikir hanya, anak muda ini mengerjakan hal yang sia-sia, pahlawan kesiangan. Saat itu berbalik dan berjalan menelusuri pantai.

Sepanjang hari ketika aku menikmati liburanku, bayangan anak muda itu tetap menghantui pikiranku. Aku mencoba untuk mengabaikannya, tapi bayangan itu tetap muncul. Akhirnya, pada sore harinya aku sadar bahwa aku telah melupakan hakekat penting dari tindakan anak muda tersebut. Anak muda tersebut tidak memilih menjadi pengamat yang pasif di alam semesta ini, tetapi menjadi pelaku yang membuat suatu perbedaan - do something! Aku merasa malu.

Aku kembali ke hotel, malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Ketika pagi menjelang, aku terjaga dan merasa harus melakukan sesuatu. Lalu aku bangun dan mengenakan pakaianku. Dan bersama anak muda itu, aku menghabiskan pagi itu melempar bintang-bintang laut. Anda lihat, tindakan anak muda itu mewakili sesuatu yang khusus dalam setiap diri kita.

Kita semua dikarunia kemampuan untuk membuat perbedaan. Dan jika kita seperti anak muda itu, sadar akan karunia itu, kita akan mendapat kekuatan melalui visi kita untuk membentuk dunia. Dan itulah tantangan anda, dan itulah tantangan saya.

Kita masing-masing harus menemukan bintang laut kita. Dan bila kita melempar bintang laut kita dengan baik dan bijaksana, saya yakin abad 21 akan menjadi tempat yang sangat luar biasa. Visi dengan tindakan dapat mengubah dunia, demikian ceritanya.

17 November 2008

Kisah Penuh Kesedihan

Hari itu sebuah mal penuh sesak dengan pengunjung. Tiada seorangpun yang memperhatikan ketika seorang anak kecil itu merangkak di atas lantai. Kelihatannya ia sehat-sehat saja dan tidak menunjukkan bahwa ia takut kepada sekelilingnya. Anak kecil itu kadang-kadang berhenti sejenak untuk beristirahat.

Ia seorang anak perempuan berumur kira-kira 8 sampai 9 tahun. Wajahnya lucu dan aku pun bertanya-tanya apakah aku seharusnya berhenti dan menanyakan apakah ia membutuhkan bantuanku. “Mungkinkah ibunya meninggalkannya seorang diri?” pikirku seraya bergegas untuk pulang.

Ketika aku meninggalkan mal itu, di dalam benakku, aku tak dapat melupakan anak kecil itu. Mungkinkah anak itu membutuhkan pertolonganku? Apakah aku bertindak seolah-olah aku buta?

Pikiran itu tetap menggangguku dan aku memutuskan untuk kembali ke mall itu supaya hatiku yang gelisah menjadi tenang kembali. Mal sudah mulai ditutup. Setelah aku mencari-cari, aku tidak menemukan gadis kecil itu.

Apakah imajinasikulah yang tak terkendalikan dengan berpikir bahwa aku kehilangan kesempatan untuk menolong seorang gadis kecil yang miskin dan tersesat itu?

Aku berusaha meredam hatiku yang gelisah dengan perkiraan bahwa gadis cilik itu pasti dalam keadaan baik-baik saja. Bila tidak, tentunya ia masih berada di mal itu. Dalam menghadapi hari-hari perayaan Paskah, aku menjadi emosional setiap tahun.

Setelah tidak menemukan gadis itu, aku kembali pulang. Sementara perkiraan cuaca memperkirakan akan datangnya badai dari Utara yang membawa kedinginan. Menjelang tengah malam stasiun cuaca mengumumkan bahwa cuacanya menjadi amat dingin dan salju turun dengan amat banyak. Sementara aku berada di tempat tidurku yang hangat.

Di pagi hari aku bangun dan mendapatkan cuaca amat dingin. Dengan cuaca yang tidak mendukung, aku tidak akan ke mana-mana, kecuali keluar sebentar untuk mengambil koran pagi. Dengan didampingi secangkir kopi yang hangat, aku mulai membaca kabar terakhir yang terjadi di kota kita yang kecil. Aku terkejut membaca di halaman pertama di bagian bawah sekali sebuah berita singkat yang berbunyi: “Seorang gadis kecil telah ditemukan meninggal di dalam mal!” Agaknya ia amat kedinginan sehingga tertidur untuk kemudian meninggal dunia karena kedinginan.

Aku tak dapat menyelesaikan membaca berita itu, karena aku menangis tersedu-sedu. Sementara aku dapat tidur nyenyak dan hangat di tempat tidur yang nyaman, seorang gadis kecil telah menjadi kaku kedinginan dalam tidurnya.

Setelah bertahun-tahun kemudian, kejadian itu tetap menghantuiku dalam impian-impianku. Apakah gadis yang ditemukan mati kedinginan itu sama dengan gadis yang pernah kutemui dalam mal itu? Aku tak dapat melupakan gadis itu, betapa aku telah berusaha. Dan kini, bila ada seseorang membutuhkan pertolonganku, aku tidak pernah menolak dan mengabaikannya.

Pelajaran yang kudapatkan dari kejadian ini adalah sesuatu yang menyedihkan namun nyata.

Ingatlah, kesempatan terakhir yang dimiliki seseorang yang membutuhkan pertolongan bisa jadi kamu. Janganlah menolak!