Lewat tengah malam, segerombolan perampok mulai beraksi. Setelah berkeliling desa, mereka mendapati sebuah rumah dengan pintu terbuka sedikit. Aha! Ini mangsa yang tak boleh dilewatkan.
Saat masuk, mereka melihat banyak sekali kado. Rupanya di rumah ini baru saja ada pesta. Tak mau berlama-lama, mereka pun mulai bekerja. Kado-kado yang ada di ruang tamu langsung mereka angkut. Dari ruang makan, peralatan masak dan makan yang masih baru-baru habis mereka gotong.
Ketika masuk ke kamar, mereka tercengang. Terpampang jelas sepasang manusia sedang berbaring saling memunggungi. Tapi kok diam kayak patung, tidak bergerak sama sekali. Siapakah mereka? Apakah mereka pemilik rumah? Saat pandangan mereka berkeliling, terlihat baju pengantin. Mereka baru sadar, rupanya ini rumah pengantin baru. Karena berpacu dengan waktu, gerombolan itu pun beraksi tanpa memedulikan keduanya. Baju pengantin, kotak perhiasan, dan perkakas lain tandas disikat.
Kisah ini dimulai pagi tadi, sepasang kekasih menikah di depan penghulu. Pesta besar pun berlangsung, suasana begitu meriah. Tamu-tamu berdatangan, mereka makan, minum, menari, bergembira merayakan sukacita besar ini.
Malam pun tiba. Tetamu sudah pulang. Tinggallah kedua pengantin. Karena berpesta seharian, mereka kelelahan, memasuki kamar, lalu naik ke ranjang pengantin.
Belum apa-apa, terdengar derit pintu depan tertiup angin malam. Si suami ingat, pintu memang belum ditutup. Berkatalah ia, “Sayang, pintu depan belum dikunci. Turun dong sebentar, tutup pintunya ya.”
Tetapi istrinya menjawab, “Kamu ini gimana sih, aku kan capek juga, kamu aja yang turun.”
“Kamu ini istri apaan sih? Baru beberapa jam jadi istriku, sudah berani membantah. Brengsek! Emangnya kamu siapa, hah? Hayo, tutup pintunya!” balas si suami dengan suara tinggi.
Si istri tak mau kalah dan dengan kasar ia menyembur, “Sialan kamu, baru berapa jam jadi suamiku, sudah kayak raja memerintah seenak perut, main bentak. Emangnya aku budakmu, apa?”
Mereka pun bertengkar panjang lebar sambil mempertahankan argumentasi masing-masing, siapa yang seharusnya menutup pintu.
Tak tahan, akhirnya si suami berkata, “Sudah, sudah, aku capek. Gini aja: kita saling diam, tidur, dan siapa yang duluan ngomong, diayang harus menutup pintu.”
Mereka berdua pun menutup mulut rapat-rapat. Mereka pura-pura tidur, namun sebenarnya keduanya tidak bisa tidur karena saling mengintip, siapakah yang bakal kalah dalam pertarungan ego besar ini.
Saat itulah para perampok beraksi.
Ketika perampok itu sudah pergi agak jauh, si istri tidak tahan lagi lalu menyemburkan makian penuh amarah, “Lelaki guooobloook! Kamu ini gimana siiih? Sudah tahu rumah dirampok, masih aja diam kuaayak bangkeee!”
Tetapi si suami menjawab tenang dengan perasaan bahagia, “Haaa, aku menang! Sekarang, kamu turun! Tutup pintunya!”





Saat melanjutkan langkah ke rumah, pikiran saya sedikit terganggu karena perkataan terakhir teman saya itu. Timbul dalam pikiran saya waktu itu sebuah pertanyaan, "Apakah benar bahwa pertemuan saya tadi merupakan sebuah kebetulan?" Jawaban akan hal ini cukup lama saya temukan bahkan sampai berminggu-minggu. Hingga suatu pagi ketika sedang membaca Alkitab, mata saya tertuju pada Yeremia 29:11 yang menuliskan bahwa Allah telah merancangkan segala sesuatu yang ada pada manusia dan rancangan tersebut adalah rancangan damai sejahtera. Berdasarkan ayat tersebut, berarti Allah telah mengatur kehidupan manusia dan tidak ada sesuatu di dunia ini yang terjadi tanpa diketahui-Nya.