Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

13 December 2007

Berlari Dalam Hujan

Anak kecil itu telah berbelanja dengan ibunya di Wal-Mart, sebuah Toserba yang terkenal di Amerika. Anak itu baru berumur 6 tahun, dengan rambutnya yang kemerah-merahan dan wajah yang masih tulus dan kekanak-kanakan.

Di luar hujan cukup deras. Kami semua sedang berkumpul di bawah kanopi pada pintuk masuk Wal-Mart. Kami semua menunggu, sebagian dengan hati yang sabar, sebagian merasa kesal bahwa hujan mengacaukan rencana hari mereka.

Aku selalu terpesona oleh hujan yang turun. Aku terbawa akan suara dan pandangan langit yang sedang membersihkan semua kotoran dan debu dari dunia. Aku terkenang sewaktu masih anak-anak ketika berlari dan mencebur di tengah turunnya hujan dengan kebebasan seorang anak. Kenangan itu datang mengguyur pergi semua kekhawatiran dan keresahan dari kehidupan sehari-hari.

Suaranya yang manis memecahkan keheningan kita semua yang seakan-akan terpukau oleh turunnya hujan yang deras itu.

"Mam, ayolah kita berlari dalam hujan," katanya dengan lugu. "Apa?" jawab ibunya dengan kaget. "Marilah kita berlari dalam hujan," ulang anaknya.

"Tidak, sayang, kita menanti sebentar sampai hujan agak mereka sedikit," jawab ibunya. Anak kecil itu menunggu beberapa menit untuk kemudian mengulangi lagi, "Mam, ayolah, kita berlari dalam hujan." "Kita akan basah kuyup bula kita melakukannya," jawab ibunya. "Tidak mam, seperti yang ibu katakan pagi hari ini," seraya menarik-narik lengan ibunya.

"Pagi hari ini?Kapan saya mengatakan bahwa kita dapat berlari di dalam hujan dan tidak menjadi basah?"

"Apakah ibu tidak ingat? Ketika ibu berkata kepada ayah tentang penyakit kankernya, dan kemudian ibu mengatakan, bila Tuhan dapat menolong kita untuk dapat mengatasi masalah ini, maka Allah-pun dapat menolong kita mengatasi hal-hal yang lain!"

Orang-orang di sekitarnya hening dan yang terdengar hanyalah turunnya hujan melulu. Tidak ada seorangpun yang meninggalkan tempatnya pada saat-saat itu.

Mam berdiam sejenak untuk memikirkan apa yang hendak ia katakan.

Mungkin ada sebagian orang yang akan menertawakannya, dan mungkin ada yang mengganggap ia sebagai orang yang tolol. Mungkin ada orang-orang yang tidak peduli apa yang ia katakan. Namun, baginya, ini merupakan saat yang maha penting di dalam kehidupan spiritual seorang anak kecil, dimana kepercayaan seorang anak kecil yang lugu dan tulus dapat berkembang dan kelak menjadi iman yang penuh kuasa.

"Sayang, kamu benar. Marilah kita berlari dalam hujan. Bila TUHAN menghendaki kita menjadi basah, mungkin karena kita memang perlu dibersihkan," kata ibunya. Kemudian merekapun berlari dalam hujan.

Yang lain melihat, tersenyum dan tertawa bagaimana mereka berlarian di antara mobil-mobil yang diparkir, dan melalui kubangan air dan lumpur. Mereka berdua menutupi kepala mereka dari hujan dengan kantong belanja. Mereka basah kuyup. Namun mereka diikuti oleh beberapa orang lain yang berteriak-teriak dan tertawa seperti anak-anak kecil dalam perjalanan mereka ke mobilnya masing-masing.

Dan, ya, akupun ikut berlarian dan ikut basah kuyup. Aku kira, aku pun perlu di bersihkan.

AnugerahMU

Kubawa hormat
Dari dalam hatiku
Menyatakan kebenaran
Bahwa tanpa Mu
Ku tak dapat hidup.

Ku ucap syukur
Atas anug'rah yang terbesar
Kau berikan hidup Mu
Agar Ku beroleh
Hidup yang baru

Yesus Kau angkatku
Dari kegelapan
Dan Kau bawaku
Kedalam terang Mu

Engkau menuntunku
Dijalan yang benar
Itulah anug'rah terbesar
Dalam kehidupanku

Takkan kuragu
'tuk s'lalu bersama Mu
Tak kan kusia-siakan
Hidupku.


Cipt. Rocky Pentury.
Album No Greater Love
Jeffry S Tjandra.

Everyday's Valentine

Sebentar lagi Valentine. Hari yang sangat ditunggu oleh banyak sekali orang. Di sini, suasana valentine sudah sangat terasa. Kemanapun aku jalan, pasti bisa ngerasain dan nemuin pernak pernik berbau Valentine. Masuk ketoko apapun, pasti ada warna Valentine.

Toko coklat menawarkan segala macam coklat yang dikemas dengan cantiknya dengan ´bau´ Valentine. Yum yum...

Toko pakaian memajang segala macam pakaian dengan warna-warna yang lembut, manis, dietalasenya. Cantiknya...

Toko parfum memberikan discount dengan pelayanan bungkus kado yang sangat apik dan membuat orang tertarik membelinya. Hmmmm....

Toko musik berkali-kali dalam sehari memasang lagu yang bertema cinta. Duuuh...

Benar-benar menggoda! :)

Tapi toko yang aku paling suka masuki adalah toko buku. Terutama pada hari-hari special.

Bukan hanya karena aku suka baca. Aku sangat suka melihat segala macam pernak pernik alat tulis yang lucu-lucu. Dari pensil sampai buku-buku kecil yang menuliskan arti cinta didalamnya. Kadang membuatku ingin kembali ke masa sekolah.

Minggu lalu aku pergi ke salah satu toko buku dan ketika sedang mencari buku untuk anak temanku yang akan berulang tahun, pandanganku tertumbuk pada tumpukan buku di meja tengah ruangan.

Judulnya (dalam bahasa Indonesia):

Tahukah kamu sebenarnya seperti apa sayangnya aku padamu?

Kubuka lembar demi lembar. Ternyata cerita tentang dua ekor kelinci. Satu kelinci besar dan satu kelinci kecil. Ceritanya sangat menyentuh hatiku dan aku ingin sekali membagikannya. Dan, hm, agak panjang juga tapi aku coba untuk ´mencatatnya´, menyimpannya dalam hati dan menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia sehari-hari. Tapi, begini kira-kira isinya...

Sebenarnya sekarang sudah waktunya bagi kelinci kecil untuk tidur. Tapi ia masih memegang erat-erat kuping kelinci besar. Ia ingin meyakinkan bahwa kelinci besar mendengarkannya dengan baik.

"Coba tebak, seperti apa sayangnya aku padamu?" tanya kelinci kecil.

"Wah, rasanya sih aku enggak bisa menebaknya." jawab kelinci besar.

"Begini besar...." kata kelinci kecil sambil merentangkan tangannya kesamping selebar-lebarnya.

Kelinci besar memiliki tangan yang lebih panjang.

"Tapi aku sayang padamu seperti ini..." katanya sambil ikut merentangkan tangannya kesamping seperti kelinci kecil. Tangannya jauh lebih panjang daripada kelinci kecil.

Hmmm, itu banyak sekali...pikir kelinci kecil.

"Aku sayang padamu seperti ini." kata kelinci kecil sambil merentangkan tangannya keatas tinggi-tinggi.

"Dan aku sayang kamu seperti ini." kata kelinci besar. Rentangan tangannya lebih tinggi daripada kelinci kecil.

Wah, itu tinggi juga, pikir kelinci kecil. Coba aku punya tangan sepanjang itu...

Lalu kelinci kecil mendapat ide.

Ia berdiri dengan kepala dibawah. Tangannya menopang tubuhnya. Ia merenggangkan badannya panjang-panjang. Ujung jari kakinya menyentuh batang pohon.

"Sampai kejari kakiku aku sayang kamu..." kata kelinci kecil.

"Dan aku sayang kamu sampai keujung jari kakimu." kata kelinci besar sambil mengangkat kelinci kecil dan mengayunkannya tinggi-tinggi sehingga kakinya naik tinggi keatas.

"Aku sayang padamu seperti tinggi lompatanku." kata kelinci kecil sambil melompat dan melompat dan melompat.

Kelinci besar juga melompat hingga telinganya menyentuh dahan pohon yang tinggi.

"Aku sayang padamu seperti dari sini sampai ke sungai" kata kelinci kecil sambil memandang kearah sungai yang jauh dibawah mereka.

"Dan aku sayang padamu seperti dari sini sampai kesungai dan sampai ke gunung dibelakangnya" kata kelinci besar.

Kelinci kecil mulai lelah dan mengantuk. Ia menengadahkan kepalanya tinggi-tinggi melewati rerumputan dan daun-daun, dan melihat kelangit. Sepertinya tidak ada lagi yang lebih tinggi daripada langit diatas sana.

"Aku sayang padamu seperti jauhnya jarak dari sini sampai ke bulan" katanya sambil menutup matanya.

"Oh, itu sangat jauh!" kata kelinci besar.

"Sangat, sangat jauh."

Kelinci besar menggendongnya dan meletakkannya diatas tempat tidur yang terbuat dari daun-daun.

"Kita saling sayang seperti jauhnya jarak dari sini ke bulan dan kembali lagi."

Ia menundukkan kepalanya dan memberi kelinci kecil kecupan selamat malam.
-- Oleh Sam McBratney & Anita Jeram.

Saudara, sungguh suatu kebiasaan untuk kita ingin selalu membuktikan cinta kita pada orang yang mengasihi dan kita kasihi di hari Valentine, seperti kedua kelinci diatas.

Entah lewat hadiah, makan malam romantis, kata-kata cinta yang memabukkan, mawar merah 7 lusin, atau apa saja.

Suatu kebiasaan yang membuat banyak orang juga kecewa dan merasa dirinya dilupakan bila Valentine berlalu dan ia ´tidak´ mendapat apa pun juga.

Aku, dulu termasuk salah satu dari orang-orang itu.

Kadang, aku bisa mengira-ngira dan mengkhayal sendiri, hmmm...Valentine kali ini dapet apa yah dari suami???

Atau, wah...kali ini aku akan diajak makan kemana yah? Dan lain-lain.

Sehingga seringkali aku justru lupa sebenarnya bahwa Valentine´s Day itu adalah hari biasa. Hanya sehari dalam setahun. Bukankah sebenarnya menyedihkan menunggu satu hari dalam setahun hanya untuk menyatakan dan mendapatkan pernyataan cinta kasih??? Bagaimana dengan 364 hari lainnya?

Aku datang dari keluarga yang selalu ingat dan merayakan hari-hari khusus. Hari ultah, hari Natal, Tahun Baru, Imlek, hari Paskah, hari Valentine, hari pernikahan Papa dan Mama, hari Ibu...dll.

Sudah menjadi kebiasaan untukku memberikan sesuatu dan mendapatkan (juga mengharapkan) sesuatu pada hari-hari khusus tersebut.

Dan bila hari itu lewat begitu saja, kecewa menyapa begitu dalam.

Tapi lalu, aku menikah dengan suami yang aku tahu sekali sangat sayang padaku tapi paling tidak peduli dengan hari-hari tersebut.

Jangankan hari Valentine. Bisa ingat ulang tahunku pun sudah bagus...hehehee...

Pertama-tama sungguh sulit. Tapi sekarang aku sudah mengerti.

Mengerti bahwa tidak perlu menunggu hari khusus untuk menyatakan cinta kasih kita. Karena dengan demikian, kita bisa mendapatkan hadiah yang luar biasa setiap hari.

Tidak harus berupa barang yang wah...

Bukankah mendapat kecupan selamat pagi disertai dengan senyum manis merupakan hadiah yang indah?

Dan, sepiring nasi goreng yang dibuat mama penuh sayang merupakan berkat?

Atau, pujian yang diberikan sahabat merupakan hal yang manis?

Kadang, hadiah Valentine yang sesungguhnya datang bukan berupa wanginya parfum yang kita dapatkan, atau romantisnya makan malam bersama kekasih..., melainkan berupa hal-hal kecil yang sudah menjadi kebiasaan, yang sebenarnya bagi banyak orang lainnya merupakan hal langka yang didambakan.

Tentu saja, merayakan hari Valentine bukan suatu hal yang salah. Apalagi bisa mendukung perekonomian...:)

Tapi jangan sampai kita lupa bahwa setiap hari bisa menjadi hari Valentine, jika kita mau.

* * * *

Pagi ini suamiku menelpon dari kantor dan bertanya apa ada sesuatu yang sangat aku inginkan saat ini?

Dulu aku paling sebel kalo ditanya seperti ini. Aku ingin inisiatif itu berasal dari dia.

Tapi sekarang, pagi ini, yang aku rasakan hanya perasaan hangat yang mengalir dihati dan membuatku tersenyum.

Terima kasih.
Mencintaiku seperti ini.
GBU!
Mainz, 13 Februari 2004