7:56:00 AM
Peak
Bacaan : Matius 10:34-36
Sebuah kalimat yang kontras dari Tuhan Yesus. Damai adalah tenang dan aman, sementara pedang adalah gambaran pertentangan dan ketegangan.
Di hari Natal pertama, damai dan pedang telah menjadi kenyataan. Di langit atas sana, sejumlah besar bala tentara sorga memuji Allah (Luk 2:13-14), tetapi di bumi pada hari-hari berikutnya sejumlah besar tentara Romawi membunuh semua bayi laki-laki dengan pedang atas perintah Herodes. (Mat.2:16).
Peringatan Natal dengan damai dan pedang, masihkah terjadi saat ini? Setiap kali Natal tiba kita diingatkan bahwa ada kehidupan dan ada kematian, tetapi juga ada JURUSELAMAT yang bisa mengubah kematian kekal menjadi kehidupan kekal.
Pilihan kepada Juruselamat itulah yang kadang-kadang bagaikan orang dihadapkan kepada pedang. Pilih Tuhan Yesus atau pilih yang lain. Setiap kali Natal tiba kita diperhadapkan kepada pilihan untuk mengutamakan yang mana. Yesus yang menyelamatkan atau merasa aman dengan kekerabatan dan persaudaraan dalam keluarga. tetapi mereka semua tidak dapat menolong kita untuk hal-hal yang kekal.
Setiap kali Natal tiba kita ditantang lagi komitmen kita untuk tetap mengasihi Dia lebih dari segalanya dalam hidup ini. Sebab karena kasih-Nya dan untuk kitalah Allah telah rela turun ke dunia menjadi manusia Natal yang damai baru benar-benar terjadi bila kita sudah pernah merasakan hati dan hidup ini bagaikan ditusuk-tusuk pedang. Sebuah penyesalan dan pertobatan untuk kembali kepada Allah. Sebuah pilihan yang sangat menentukan hidup dan mati kita : dikucilkan, disingkirkan, dicemoohkan. Hidup damai dengan Allah, atau hidup dalam ancaman pedang kematian kekal?
Amin.
Pdt. Andreas Gunawan Pr, STh.
Sumber : Reflecta
7:47:00 AM
Peak
Pada suatu kaetika seorang ahli pikir berbangsa Yunani yang terkenal diberi tugas yang aneh. Ia diperintahkan oleh gurunya untuk memberikan uang kepada siapapun yang menghinanya selama tiga tahun. Karena murid ini ingin mencapai kemajuan hidup spiritualnya, ia telah melakukan apa saja yang diperintahkannya.
Setelah ujian yang memakan waktu cukup panjang ini usai, gurunya meminta muridnya untuk datang di tempat kediamannya dan berkata kepadanya, “Kini kamu boleh berangkat ke Athena, karena kamu telah siap untuk belajar tentang kebijakan.”
Dengan gembira murid itu berangkat ke Athena. Sebelum ia memasuki kota besar itu, ia melihat seorang bijak sedang duduk di dekat gerbang kota sedang memaki-maki semua orang yang lewat di tempat itu. Dengan sendirinya, ketika orang bijak itu melihat murid yang sedang berjalan memasuki kota itu, iapun dapat makiannya.
“Hei,” teriak orang itu kepada murid tersebut. “Bagaimana kamu bisa menjadi demikian buruk dan tololnya? Aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang lebih brengsek dari padamu”.
Murid itu sama sekali tidak merasa terhina. Sebaliknya ia meledak tertawa.
“Mengapa kamu tertawa ketika aku menghinamu?”, tanya orang bijak itu.
“Karena,” jawab sang murid, “selama tiga tahun aku memberi uang untuk hal semacam itu dan sekarang Anda memberikan kepadaku secara GRATIS!”
“Masuklah ke dalam kota,” kata orang bijak itu. “Kota ini menjadi milikmu!”
7:17:00 AM
Peak
Seorang hamba Tuhan di suatu dusun yang miskin, menjadi amat geram ketika dihadapkan kepada istrinya dengan sebuah tagihan sebanyak Rp. 2.500.000,-- untuk sebuah pakaian wanita yang sang istri baru saja beli.
“Bagaimana kamu kok tega melakukannya?” keluh suaminya.
“Aku juga ndak tahu,” meratap istrinya.
“Aku sedang di toko melihat pakaian itu. Kemudian aku menemukan diriku sedang mencoba pakaian itu. Kemudian seolah-olah iblis berbisik kepadaku, “Aduh, kamu kelihatannya begitu cantik dengan pakaian itu. Kamu seharusnya membelinya!”
“Nah, kamu toh tahu bagaimana menghadapi si iblis itu?”, kata suaminya.
“Perintahkanlah dia berdiri di belakangmu!”
“Sudah kulakukan,” jawab istrinya.
“Namun, kemudian ia berkata, dari belakangpun kamu kelihatannya juga cantik dalam pakaian itu”