Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

01 April 2008

Pelawak Yang Bertobat

Bersama ini saya kirimkan kesaksian dari seorang Sunda yang jadi anggota group lawak dari Bandung dan pimpinannya adalah saudara Us-us (mantan bintang film di thn 60 an). Kesaksian ini saya dengar sendiri waktu ada rubrik kesaksian di Pers doa yang dirumahnya Jendral (Purn) Pranowo, mantan dirjen Imigrasi. Fisik dari orang tersebut ialah pendek sekitar 150 cm tapi giginya ada 4 buah yang copot karena dipukulin sama ex teman-temannya karena pindah agama.

Kesaksian yang dibawah ini saya ambil dari majalah Narwastu Namanya ialah Kang Maman alias Pak Elisa dari Sungai Ciliwung ke Sungai Yordan Sebelumnya ia bernama Muhammad Shalat karena ia dilahirkan pas jam sembayang.
Panggilan akrabnya adalah Maman. Tapi, kata dia, karena sekarang sudah menyeberang dari Sungai Ciliwung ke Sungai Yordan, maka namanya diganti menjadi Elisa. Wajahnya kelihatan awet muda. Padahal usianya sudah 55 tahun. Boleh jadi, karena ia memang selalu gembira. Atau, mungkin lantaran ia seorang pelawak. Ditemui NARWASTU, di sebuah gereja di bilangan Depok. Kang Maman atau Pak Eliza memberikan kesaksiannya berikut ini.

Dulu saya bukan orang Kristen. Karena saya pernah juara membaca kitab suci agama saya yang dulu maka saya diangkat menjadi pegawai di Kantor Kecamatan. Saya juga mantan pelawak Grup Sangkuriang Bandung. Saya mengikut Kristus baru dua tahun ini. Ceritanya mula-mula ada orang datang ke kantor untuk ngurus surat-surat. Setelah saya baca, dia orang Kristen, saya tidak mau layanin.

Saya benci orang Kristen. Lalu saya pulang padahal dia masih nunggu terus. Di rumah saya sembahyang saya memang tidak pernah ketinggalan sembahyang. Waktu itu saya bersujud minta ampun kepada Tuhan. "Ampunilah perbuatan-perbuatan saya yang salah tadi siang". Tahu-tahu ada suara angin. Dan saya langsung melek. Ternyata ada yang berdiri di situ. Dia menampakkan wajahnya dan badannya dengan pakaian yang putih, pakai selendang merah bawa tongkat. Merahnya menyala tidak ada bandingnya. Sendalnya seperti bakiak dan berwarna emas.

Lalu Dia bilang begini, "Syalom, syalom."

Saya tidak mengerti apa syalom itu. Tapi, seperti langit mau pecah itu suaranya. Waktu itu saya mengucap, "Astagafirullah aladzin". Saya didatangi itu kira-kira ada 5 menit. Lalu, dia bilang begini, "Anakku, akulah Isa Almasih, dan akulah Yesus Kristus. Akulah jalan yang lurus dan akulah yang terkemuka di dunia dan di akhirat."

Saya seperti tidak sadar, lalu bertanya, "Kau ini siapa?" Lalu Dia menaruh tangan di kepala saya: "Aku menumpangi kepala kamu. Aku akan memberkati kamu. Ikutlah aku. Jalan yang lurus."

"Astagafirullah aladzin". Waktu saya melek lagi Dia sudah tidak ada. Lalu, saya membangunkan istri.

"Mah, bangun." Dia tanya, "Aya naon (Ada apa)?". Lalu saya ceritakan kejadian itu. Dia malah bilang, "Itu the jurik, setan, iblis." Dia suruh saya berdoa.

Saya berdoa lagi. Istri saya tidur, saya tidak bisa tidur. Sampai satu minggu, saya tidak bisa tidur. Pikiran saya tidak tenang. Saya merasa masih melihat wajahnya terus-menerus. Rumah tangga saya jadi guncang, dan akhirnya saya keluar dari pekerjaaan. Suatu sore, saya berjalan-jalan, sampai kedekat gereja. Waktu itu ada kebaktian, jemaatnya tidak banyak. Saya dengerin saja dari luar. Tapi Pak Pendeta mengajak saya untuk masuk. "Nanti diberkati Tuhan", katanya. Saya takut masuk, nanti saya disalib, pikir saya begitu. Saya pulang saja.

Minggu berikutnya saya ikut seminar di Gereja itu. Ada pelepasan katanya. Tapi saya tidak tahu apa artinya. Sampai saya ikut pelepasan, lalu dikasih Alkitab sama Pak Pendeta. Tapi, tidak pernah saya bawa ke rumah. Saya taruh saja di kebun singkong. Takut mertua saya kan ulama. Tapi saya belajar terus di gereja itu. Selama tiga bulan saya membohongi istri. Kalau ditanya, "Bapak dari mana?" Saya jawab, "Kondangan, Mah". Istri saya nggak percaya. "Kok siang malam kondangan terus. Punya pacar kali?". Saya nggak mau begitu terus. Saya kan umat Kristus.

Lama-lama, saya mendoakan orang sakit, tidak dibawa ke dokter, tapi sembuh. Yang lumpuh, saya doakan demi Nabi Isa Almasih, dia sembuh. Tapi suatu hari ada yang datang ke mertua saya, dan bilang, "Pak, sekarang mantunya jadi dukun Kristen lho!". Malam itu juga jam dua subuh saya dibangunin sama mertua saya. "Bangun setan. Anjing laknat lu!". Saya dibilang orang kafir, terus diusir. Saya pergi malam itu juga, membawa istri dan anak saya. Istri saya langsung minta dicerai, tapi saya tidak mau.

Lalu, saya sujud kepada-Nya, "Tuhan sekarang saya hidup di dalam namaMu, Yesus Kristus. Jangan sampai sia-sia. Berkati istri saya karena dia tidak mengenal Engkau". Tuhan memberkati saya. Saya bisa ngontrak rumah, sampai 2 hari. Tapi kemudian saya dianiaya oleh penduduk di situ. Waktu itu hari Jumat. Saya dipukuli. Gigi saya dimasuki kayu, sampai rontok. Waktu itu saya sedang jalan ke rumah. Saya ditarik sepanjang jalan ke rumah sampai tangan saya habis. Di dalam rumah, tangan saya dijepit pakai meja, sampai patah. Kira-kira 5 bulan, waktu itu saya sudah sembuh, terus dianiaya lagi. Dipukuli lagi, kaki saya sampai cacat. Puji Tuhan, sampai sekarang saya bisa jalan.

Istri saya minta dicerai lagi, tapi saya tidak menceraikan. Saya masih dianiaya terus, sampai akhirnya saya minta cepat-cepat dibabtis. "Pak Pendeta, saya minta cepat dibabtis. Takut umur saya pendek." Saya memang takut mati karena setiap hari berdarah trus. Setelah dibabtis itu, saya masih juga dianiaya. Suatu hari, saya dipanggil oleh saudara-saudara saya di daerah Ciapus, Bogor. Saya disuruh minum kopi. Yang lain, empat orang, pada minum teh. Jadi saya curiga apa lagi mereka kelihatan bisik-bisik. Saya belum berani minum. Tapi, Roh Kudus bilang, "Anakku, minumlah kopi itu. Karena sudah dikuduskan oleh namaKu. Yesus Kristus. Hormatilah saudaramu". Lalu saya minum kopi itu. Waktu itu mereka bisik-bisik. Tapi, Puji Tuhan. Sampai pulang ke rumah, saya tidak apa-apa.

Kemudian, saya dipanggil oleh kakak saya. Disuruh betulin kandang kambing. Saya tidak tahu kalau di belakang saya waktu itu ada minyak tanah dalam ember. Tiba-tiba saya diguyur dan sempat dibakar. Katanya sih apinya sudah nyala, tapi saya nggak merasa apa-apa. Terus pernah juga kuku saya dicabut, copot satu. Tapi dua hari lagi sudah sembuh. Saya berdoa, agar Tuhan memberkati mereka yang menganiaya saya. Tapi kemudian, mertua saya meninggal. Sebelumnya dia pernah paksa saya supaya pindah lagi ke agama dulu.

Jadi saya ini kenyang dianiaya. Saya dibenci masyarakat. Dibilang setan, kafir, anjing, dan segala macam. Tapi, Puji Tuhan. Saya selalu merasakan berkat dan pertolonganNya. Kalau agama saya diejek orang, saya bilang, "Lho, kenapa. Ini kan untuk keselamatan saya sendiri." Saya dulu belum bisa menerangkan firman, buta rohani. Tapi, saya kemudian belajar. Saya mulai bertumbuh, sampai sekarang. Saya mulai bersaksi di mana-mana. Lama-lama makin banyak yang kenal. Saya sering diundang ke sana-sini. Saya juga dikenalkan sama pendeta ini pendeta itu. Saya selalu bertanya kepada istri saya "Setelah jadi Kristen, saya jahat nggak?" Puji Tuhan, istri saya tidak mau diceraikan sekarang. Sedikit-demi sedikit, istri saya dikasih tahu Injil. Dia mulai berubah, walaupun masih sedikit. Saya percaya, Tuhan akan memberkati dan memperlihatkan kuasa-Nya seperti ke saya. Sekarang, di dalam rumahtangga saya ada damai sejahtera dan tidak kekurangan apa-apa. Saya sering diminta berdoa untuk orang sakit. Puji Tuhan, mereka sembuh setelah saya doakan. Ada adik saya dari Bandung, dulu benci saya.

Suatu hari dia datang. Katanya, "Kang saya disantet dukun dari Cirebon." Matanya sampai keluar. Dioperasi habis dua juta juga tidak sembuh-sembuh. Terus saya bilang sama dia. "Mau nggak kamu didoain?" Lalu dia menginap di rumah saya. Saya pakai minyak urapan, karena kemana-mana saya selalu bawa minyak zaitun. Saya tumpangi tangan ke dia. "Tuhan Yesus, sembuhkan adik saya. Kalau ada roh-roh jahat, roh-roh santet, roh-roh apa saja dalam tubuh adik saya, kau aku hancurkan." Saat itu, keluar dari hidungnya mimisan. Malam harinya dia mimpi begini: "Yesus yang menyembuhkan. Yesus yang memgeluarkan roh-roh jahat dari tubuhku. Dia rambutnya panjang." Saya bilang, "Makanya percaya pada Gusti Yesus Kristus. Karena kalau percaya kepada Gusti Yesus, akan sembuh".

Setelah pulang ke Bandung, dia bilang mau ngikut Gusti Yesus. Kata adik saya, "Bilangin ya pada saudara-saudara di Bandung, di Garut, kalau saya sudah sembuh tanpa dokter. Yesus itu dokter di atas segala dokter." Saya dikaruniai anak. yang paling besar sudah SMP, yang paling kecil umurnya 5 tahun. Istri saya namanya Siti Cholifah. Sekarang ini saya ajari mereka tentang Kristus. Saya tidak mau mereka sia-sia. Kenapa orang lain diselamatkan, kok keluarga saya tidak. Saya terus beritakan Injil kepada semua orang.

Ke kampung-kampung, ke pegunungan, sampai tempat yang terpencil saya beritakan. Pokoknya saya jalan terus, meskipun nggak punya kendaraan. Saya tidak takut bersaksi di mana-mana. Sebab, saya tidak menjelekkan agama. Kalau orang lain tidak menghormati saya, kita sih tetap hormati. Saya terus memberitakan Injil, sambil mendoakan orang sakit. Saya mau mereka mengenal Yesus. Untuk apa saya dianiaya kalau bukan untuk Yesus. Kalau saya memberitakan Injil, saya tidak melihat suku.

Mau suku apapun, pokoknya saya rangkul. Ke Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan kemana lagi, saya juga pernah. Saya beritakan injil ke gembel-gembel, gelandangan-gelandangan, tukang becak, ulama-ulama. Pejabat-pejabat, penyanyi-penyanyi. Puji Tuhan, banyak yang terima. Tapi saya tidak mengkristenkan orang. Pokoknya saya beritakan dengan kasih. Pernah ada sudara saya yang datang. Dia tanya, "Ngapain kamu jadi Kristen? Miskin, sengsara. Sudah ini tanda tangan!" Saya mau dikasih rumah kalau saya mau kembali ke agama dulu. Saya sampai menangis. Saya berdoa di kebun waktu magrib. Saya pilih surga. Teman-teman saya di Sangkuriang, ada yang sudah tahu. Malah ada yang mulai bertobat, rumahnya di Cirebon. Sekarang memang jarang tampil, karena rumahnya jauh-jauh.

Tapi setiap Agustus banyak undangan menghibur di masyarakat. Kalau ada peresmian, saya tampil memainkan calung. Saya pernah ditawarkan sekolah teologi, tapi saya belum kepengin. Saya pengin beritakan Injil saja. Saya selalu minta pertolongan Roh Kudus, supaya mengerti. Kuku saya sekarang sudah tumbuh lagi, yang bekas cabutan tadi. Jadi orang Kristen memang tidak selalu enak. Tapi, sekarang banyak yang maunya enak-enak, maunya besar-besar. Coba lihat saya, yang dianiaya begini. Ini sekarang masih sakit, tapi saya hanya serahkan pada Yesus saja.

Kiranya kesaksian ini menjadi berkat bagi saudara-saudar semuanya. Adapun ayat yang saya sukai adalah Filipi 4:13,19 : "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dia dalam Kristus Yesus."

"The LORD bless you and keep you; the LORD make his face shine upon you."

Harapan

“Ia akan segera meninggal dunia,” demikian kata dokter kepada seorang juru rawat. Dengan rasa prihatin, juru rawat itu mencoba untuk menjadi kawan dari wanita yang sedang sekarat itu. Setelah beberapa waktu kemudian, ia dapat memenangkan kepercayaan wanita itu.

Wanita itu mengatakan dengan suara yang sedih dan lirih, “Aku telah membuat perjalanan jauh dari California seorang diri. Di setiap kota besar antara San Francisco dan Boston aku berhenti. Di setiap kota aku mengunjungi dua tempat: Kantor polisi dan rumah sakit. Pasalnya, anak lelakiku telah meninggalkan aku dan kini aku tidak tahu di mana dia berada. Aku harus menemukannya…”

Di dalam mata ibu yang sekarat itu agaknya terlihat sekilas harapan ketika ia melanjutkan, “Pada suatu hari, ada kemungkinan ia akan datang di rumah sakit ini, dan bila ia benar datang, tolong berjanjilah kepadaku untuk mengatakan kepadanya bahwa ada dua orang sobat yang tidak pernah meninggalkannya.”

Dengan membungkukkan tubuhnya mendekati ibu yang sekarat itu, juru rawat itu berbisik lembut, “Katakanlah kepadaku, siapa nama kedua sobat itu sehingga bila aku dapat menemukan puteramu, aku dapat meneruskan pesanmu kepadanya.”

Dengan bibir yang bergetaran dan mata yang dipenuhi dengan air mata, ibu itu menjawab, “Katakanlah kepadanya bahwa dua sobat itu adalah Tuhan dan ibunya”. Kemudian ia menutup mata untuk selama-lamanya.

Apa yang kita dapat belajar dari kisah ini?
Seandainya Anda mempunyai seratus ekor domba dan Anda kehilangan seekor, apakah Anda tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor dalam padang belantara dan mencari yang seekor ini sampai dapat ditemukannya kembali? Dan bila Anda dapat menemukannya kembali, Anda pasti akan menggendongnya di atas pundak Anda dan bersukacita lalu bila Anda kembali di rumah, Anda akan mengundang semua tetangga dan kawan-kawan serta mengatakan, “Rayakanlah dengan aku, karena aku telah menemukan kembali dombaku yang hilang!”

Percayalah- didalam surga terdapat sukacita yang jauh lebih besar untuk jiwa seseorang berdosa yang telah diselamatkan dari pada sembilan-puluh sembilan jiwa yang baik yang tidak memerlukan keselamatan”. (Baca Luk.15:3-7)

By : Betty John

5 Pelajaran Penting

Ini lima buah Pelajaran Berharga, yang sangat bagus untuk kita, mari kita renungkan bersama.

1. Pelajaran Penting Pertama

Pada bulan kedua diawal kuliah saya, seorang Profesor memberikan kuiz mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal yang terakhir. Isi Soal terakhir ini adalah : "Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah?". Saya yakin soal ini cuma “bercanda”. Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi, berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya tahu nama depannya?

Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong. Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan “dihitung” atau tidak. “Tentu Saja Dihitung!!”, kata si Profesor.

”Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting! Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman, atau sekilas “halo”! Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah “Dorothy”.


2. Pelajaran Penting ke-2 : Penumpang Yang Kehujanan.

Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil.

Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda.

Tujuh hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an!) khusus dikirim kerumahnya. Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah : “Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu” Tertanda Ny. Nat King Cole.

Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn.60-an di USA.


3. Pelajaran penting ke-3

Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani. Di zaman es krim khusus (ice cream sundae) masih murah, seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, dan duduk di meja. Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air putih dihadapannya. Anak ini kemudian bertanya “Berapa ya harga satu ice cream sundae?”, katanya.

“50 sen”, balas si pelayan. Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan mempelajari koin-koin di kantongnya. “Wah, kalau ice cream yang biasa saja berapa?”, katanya lagi. Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah mulai banyak dan pelayan ini mulai tidak sabar. “35 sen”, kata si pelayan sambil uring-uringan. Anak ini mulai menghitungi dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya. “Bu, saya pesen yang ice cream biasa saja ya”, ujarnya. Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan. Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi. Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu. Rapi tersusun disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen dan 5 buah koin 1-sen. Anda bisa lihat, anak kecil ini tidak bisa pesan ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk memberi sang pelayan uang tip yang “layak”


4. Pelajaran penting ke-4 - Penghalang di Jalan Kita.

Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan. Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan. Tetapi tidak ada satu pun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu. Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu. Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan.

Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.


5. Pelajaran penting ke-5 - Memberi, ketika dibutuhkan

Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang. Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu. Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya. Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata “Baiklah, saya akan melakukan hal tersebut, asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku”.

Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur, disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang. Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang bergetar, katanya, “Apakah saya akan langsung mati dokter?”

Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya. Lihatlah, bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya.

Bekerjalah seolah anda tidak memerlukan uang, mencintailah seolah anda tidak pernah dikecewakan.

DALAM GELAPNYA MALAM, KITA JUSTRU DAPAT MELIHAT INDAHNYA BINTANG

“Unknown”

Humor : Sebuah Hadiah Natal

“Terima kasih untuk hadiah berupa harmonika yang Bapak beri kepadaku,” kata Joni kecil kepada Pak Denya.
Ia melanjutkan, “Itulah hadiah yang terbaik yang pernah aku terima!” “Bagus,” jawab Pak Denya. “Apakah kamu tahu bagaimana memainkannya?”

“O, aku tidak memainkannya,” jawab si bocah kecil itu. “Ibuku memberiku satu dolar sehari, bila aku tidak memainkannya selama siang hari dan ayah memberiku 3 dollar setiap minggu, bila aku tidak memainkannya di malam hari.”

By His Spirit

Today's Scripture

“Not by might nor by power, but by my Spirit,’ says the LORD Almighty” (Zechariah 4:6).

Today's Word from Joel and Victoria

In this day and age, we are equipped with so many wonderful resources in the natural: technology, education, abilities. It’s easy to rely on our own natural strength for so many things. We have to remember that this natural world is only temporary, but the spiritual realm is eternal. We aren’t limited to the earth’s resources; we have unlimited spiritual resources by the Spirit of God. There are things in life that can’t happen by human thinking and reasoning. There are things that won’t be solved by natural power and might. But God is not limited by the resources of this world. When you open the door of faith in your heart, God will move through you in powerful ways by His Spirit. By His Spirit, you can overcome temptation. By His Spirit, you can receive healing. By His Spirit, you can fulfill every dream and desire in your heart. No matter what challenges or obstacles you may be facing today, know that you can live in complete victory by His Spirit!

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for giving me access to all Your spiritual blessings by Your Spirit today. I choose to rely on You and trust that You are working in my life. I praise and bless You, knowing that You are leading me in victory in every area of my life. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Sebelum Kita Mengeluh

Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang harus meminta-minta di jalanan.

Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.

Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri Anda, pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.

Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan.

Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.

Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti Anda.

Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

Kita semua menjawab kepada Tuhan Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan, tersenyum dan mengucap syukurlah kepada Tuhan bahwa kamu masih diberi kehidupan.