Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

29 November 2011

Sebuah Perjalanan Spiritual yang Indah

Aku ingin membagikan pengalamanku kepada Anda tentang perjalanan hidup rohani kami (isteriku dan aku) saat berjalan bersama Tuhan. Bagaimana Tuhan kita adalah Tuhan yang Luar Biasa.

Dimulai pada bulan Februari tahun 2008, putri tertua kami yang berumur 8 tahun (bernama Angela) diketahui menderita penyakit kanker ganas (MPNST). Lalu kami pergi ke dokter, dan dokter mengatakan bahwa harus dilakukan pembedahan untuk mengangkat kanker dari perut puteri kami. Akhirnya pada bulan Maret dilakukanlah pembedahan itu, namun dokter tidak dapat mengangkat kanker itu karena kanker itu telah menyebar ke lever, pankreas, ginjal, limpa, dan aorta.

Singkatnya, selama hampir 9 bulan, dia telah menghabiskan waktunya berada di rumah sakit dan tidak pernah mengeluh kesakitan sedikitpun terhadap penyakitnya. Bahkan Prof. Dr. Sumantri, yang merawat Angela mengatakan, “Dengan jenis penyakit kanker seperti ini, dia seharusnya merasa kesakitan, namun dia sama sekali tidak merasakan itu, jadi ini merupakan sebuah keajaiban.”

Sedikit mengingat pada bulan Mei 2008, dalam perjalanan dari rumah sakit ke rumah kami, Angela mengatakan bahwa suatu hari saat dia meninggal, dia ingin dikuburkan disamping makam kakeknya (ayahku). Dan pada tanggal 6 September, Angela menulis untuk ibunya seperti ini: “Kepada mama tercinta, terima kasih banyak untuk kasih, kebaikan, sehingga aku dapat menikmati hidupku. Jangan bersedih jika aku meninggal, Ma, karena aku meninggal untuk pergi ke surga.”

Pada tanggal 15 Oktober, di rumah sakit, Angela berkata kepadaku, “Pa, aku lelah sekali, aku ingin pulang dan berjumpa dengan Tuhan Yesus di surga.” Saat aku mendengar hal itu air mataku mengalir di pipiku. Pada tanggal 17 Oktober, pukul 04.30 saat berdoa bersama, Angela berdoa: “Tuhan Yesus, aku menyerahkan hidupku pada-Mu dan aku telah siap untuk berjumpa dengan-Mu.”

Tanggal 17 Oktober, sekitar pukul 16.25, Angela berkata kepada ketiga orang perawat yang merawatnya, “Suster, Tuhan Yesus menunjukkan kepadaku tiga ruangan”, dan kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Ya, Angela, minta pada Yesus ruangan yang terbaik untukmu.” dan Angela menjawab, “Ya, Tuhan Yesus memberiku kamar terbaik buatku yaitu kamar ke-3.” (Pada saat itu isteriku dan aku sedang berdoa dan memuji Tuhan di samping tempat tidur Angela) Setelah itu Angela memanggil pamannya yang baru saja tiba, “Om Totok..”, dan kemudian, Totok duduk di sebelah kiri tempat tidurnya dan memegang tangan Angela, dan berkata pada Angela, “Ya, Angela”. Tiba-tiba Angela menjawab kepada Paman Totok, “Ini waktunya, Om”. “Waktu apa, Angela?”, kata Totok kepada Angela. Angela berkata kepada Totok lagi, “Sekarang waktunya untuk pergi ke surga, Om.” Saat aku mendengar Angela berkata seperti itu pada pamannya, aku meminta kepada semua orang yang berada di ruangan itu untuk berlutut berdoa dan aku memimpin doa itu. Pada pukul 16.30 tepat Angela telah berpulang kepada Bapa di surga. Dan betapa Tuhan begitu baiknya.

Waktu yang terberat bagi kami adalah saat 1,5 bulan sebelum Angela meninggal. Saudara dan saudari, dari perjalanan rohani kami berjalan bersama Tuhan melalui berkat khusus yang kami terima (isteriku dan aku), kami belajar banyak hal dari Tuhan.

Aku berharap bahwa pengalaman pribadiku berjalan bersama Tuhan dapat membawa berkat bagi Anda semua. Doaku, semoga Tuhan memberkati dan melindungi Anda sekalian.

Terima kasih.

salam dalam Kasih Tuhan,
Zefanya Adi Walujo
Sri Edy Hernani

Tidak Untuk Diulang Kembali!

Roma 6 : 1 - 14

Salah satu pengajaran yang sering diabaikan oleh gereja-gereja Tuhan dan orang-orang percaya zaman ini adalah tentang hidup menderita bagi Kristus. Orang Kristen lebih suka mendengar khotbah tentang berkat, sukacita, bahagia, hidup sukses. Adalah baik kalau sebagai bukti kasih dan kesetiaan kita kepada Allah maka hidup kita menjadi berhasil dan diberkati Tuhan. Tetapi jangan lupa bahwa jauh sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia berkali-kali berbicara tentang kesengsaraan dan kematian-Nya untuk menebus dosa manusia bukan agar kita sukses dan kaya. Sukses, kaya, bahagia adalah akibat dari hidup kita yang senantiasa berpaut kepada Tuhan Yesus. Firman Tuhan berkata: “..Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5) Menjadi pengikut Kristus jangan cuma mengharap berkat dan sukses belaka, tetapi ketahuilah bahwa Ia telah rela menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2.Kor 8 : 9). Kita menjadi kaya karena ada yang mau berkorban untuk kita, bukan kita menjadi pengikut Kristus agar menjadi orang kaya. Kaya dalam hidup menurut Tuhan Yesus bukan cuma kaya materi. Kalau hanya itu, maka kekayaan itu sia-sia tidak bisa kita bawa mati. Dalam rangka Paskah kita diminta untuk kembali mengenang penderitaan Kristus, kematian dan kebangkitan-Nya.

Paulus dalam Surat Roma ini sedang menegur orang-orang percaya yang lebih suka berbuat dosa dari pada berbuat benar. Menurut pendapat mereka, makin banyak berdosa, makin besar juga kasih karunia Allah. Oleh sebab itu berdosalah terus karena Allah tidak kekurangan untuk senantiasa memberi pengampunan. Paulus mau mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus tidak semudah yang kita bayangkan. Apalagi membayangkan bahwa dengan menjadi Kristen maka berkat-berkat Tuhan akan melimpah-limpah.

  1. Menjadi pengikut Kristus akan semakin indah bilamana kita mau membayar harganya.
    Harga penebusan atas dosa-dosa kita terlalu mahal untuk dinilai dengan uang. Bagaimana mungkin orang yang tidak berdosa mau mati menggantikan orang berdosa. Bukankah sesungguhnya kita telah berhutang untuk karya Kristus yang agung itu? Saat kita lahir, kita telah berhutang kepada ibu yang mengandung dan melahirkan kita, bidan/dokter yang menolong persalinan ibu kita, belum orang-orang lain yang ikut repot ketika kita masih bayi.
    Juga ketika kita mati, kita berhutang kebaikan kepada orang-orang yang merawat jenazah kita dan sampai menguburkannya. Yang lebih besar dari pada itu ialah pada saat kita hidup di dunia ini, kita telah berhutang kepada Kristus yang ketika kita hidup, Ia telah memanggil kita untuk percaya. Dan oleh karenanya kita beroleh keselamatan dan hidup yang kekal. Berhutang kepada Kristus, harga inilah yang harus kita bayar. Apa yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan ketika kita masih sehat, kuat, hidup berkecukupan? Berpikirlah setiap hari bahwa kita “berhutang” kepada Tuhan dan berusahalah membayar harganya.
  2. Kematian Kristus membuka jalan ke surga dan semua permasalahan kita di dunia.
    Ada jalan baru untuk menggantikan jalan lama yang sudah tidak mungkin untuk dilalui lagi. Zaman ini orang suka mencari jalan alternatif, artinya jalan yang masih mungkin untuk dilalui. Dan itu mungkin jalan sempit, bergelombang, berbatu-batu dan tidak nyaman. Tetapi demi sampai tujuan maka terpaksa ditempuh juga. Tuhan tidak menawarkan jalan alternatif tetapi jalan melalui Diri-Nya sendiri. ( Yoh 14:6 ) Jalan, Kebenaran dan Hidup.
    Paulus menggambarkan jalan baru yang dibuat Yesus itu seperti ini: …jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia (ay.8). Dengan demikian kita diajak mengubah paradigma dengan jalan baru yang dibuat Yesus. Bukan mencari jalan alternatif yang lain.

    Adalah sangat memprihatinkan bahwa dalam tiga tahun terakhir (tahun 2005-2008) di negeri kita telah tercatat ada 50 ribu orang bunuh diri belum termasuk yang mati karena obat-obat terlarang / narkoba yang setiap tahunnya menelan jiwa 50 ribu orang banyaknya di negeri ini. Kemana kita akan membawa permasalahan hidup yang semakin hari semakin berat ini? Ada jalan yang ditawarkan Tuhan tetapi tidak semua orang mempercayainya bahwa jalan itu benar-benar memberi solusi atas segala problem hidup kita di dunia ini. Jalan itu juga bisa membawa kita untuk mengalami suasana surga dalam rangka menghadapi beban-beban hidup yang berat di dunia ini .

    Kebangkitan Kristus menjadi bukti bahwa Kristus benar-benar tidak mati, tetapi Ia hidup dan tetap hidup untuk menampung dan memberi solusi atas semua permasalahan manusia di dunia ini.

    Percayalah kepada Jalan Tuhan di saat jalan-jalan di dunia ini tertutup untuk semua permasalahan hidup kita. Bagi Anda masih ada harapan untuk hidup.

  3. Tinggalkan semua yang dosa dan katakan: ”TIDAK UNTUK DIULANG KEMBALI ”
    Diatas bukit Golgota ada tiga salib berdiri di sana, tetapi masing-masing berbeda kisahnya. Salib di kiri Tuhan Yesus adalah salib orang yang mati dalam dosa ( died in sin) Penjahat ini tidak mau bertobat dan bahkan menghina Yesus ( Luk 23: 39). Orang ini mati dalam dosanya.

    Salib di kanan Tuhan Yesus adalah salib orang yang mati terhadap dosa (died to sin). Penjahat ini menggunakan waktunya yang singkat untuk bertobat sebelum ia mati. (Luk 23: 42). Ia mati dengan tersenyum karena janji Tuhan Yesus bahwa hari ini juga ia akan bersama-sama masuk ke Firdaus.

    Salib yang ditengah adalah salib Tuhan Yesus. Ia telah mati untuk manusia-manusia yang berdosa (died for sinners). Pilatus yang mengadili Yesus tidak mendapati kesalahan Yesus sedikitpun. (Yoh 18:38)

    Kesengsaraan kita telah dipikul-Nya dan kita diminta untuk “jangan kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa “ (ayat 13) Oleh sebab itu tinggalkan semua dosa dan katakan “TIDAK UNTUK DIULANG KEMBALI ” Ibarat orang sakit yang sudah sembuh dan pulih, masakan kita mau sakit lagi dan terus sakit. Berarti tidak ada niat untuk sembuh dan memperbaiki diri.

Pengorbanan Tuhan Yesus cukup satu kali untuk selama-lamanya (Ibr 9: 12). Sungguh amat berdosa jikalau kita menodainya dengan berkali-kali melakukan pelanggaran dosa.

Mulai saat ini pikirkanlah ini: Apa yang dapat aku lakukan untuk membalas kasih Tuhan yang telah menyelamatkan aku? Aku percaya bahwa di dalam Dia ada jalan satu-satunya untuk menyelesaikan semua pergumulanku di dunia ini. Dan aku berjanji untuk tidak mengulang lagi semua perbuatan dosa yang membuat Tuhan menangis melihat aku.

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS ADALAH BAGAIKAN BAB BARU YANG MASUK DALAM LEMBARAN-LEMBARAN BUKU LAMA HIDUP KITA.
LEBIH MENARIK DAN MEMBUAT HIDUP INI LEBIH HIDUP KEMBALI.

Pdt.Andreas Gunawan Pr.

Gizi Bagi Jiwa

Bacaan Setahun : 2 Korintus 1-3
Nats : Berkatalah Israel kepada Yusuf: "Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup" (Kejadian 46:30)

Bacaan : Kejadian 46:28-30

Harold Kushner, seorang rabi dan penulis termasyhur, pernah mengemukakan bahwa pada usia di atas lima puluh, biasanya manusia mempunyai satu kerinduan khusus, yakni kerinduan akan makna. Ia pun menanyai dirinya sendiri, "Apa arti dari semua yang kumiliki, apa arti hidupku?" Ia ingin mendapatkan arti hidup. Demikian pula kurang lebih perasaan Yakub dalam kisah yang kita baca hari ini.

Yakub telah begitu lama terpisah dengan Yusuf, anak kesayangannya. Bayangkan, 22 tahun! Dan, selama itu pula ia seolah-olah kehilangan makna hidup. Saat berjumpa lagi, pertemuan mereka begitu mengharukan! Yusuf memeluk leher ayahnya dan lama menangis di bahunya (ayat 29). Pertemuan itu menghadirkan keharuan memuncak, juga kelegaan yang mendalam bagi Yakub. Katanya, "Sekarang, bolehlah aku mati setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup ..." (ayat 30). Kembali melihat Yusuf adalah hal yang menyempurnakan dan "memberi gizi" bagi jiwa Yakub pada masa tuanya.

Ada kalanya hidup seseorang begitu "pahit" sehingga ia melihat segala sesuatu dengan muram dan suram. Kehilangan, kerinduan akan sesuatu, harapan yang belum tercapai, masa lalu yang pedih, bisa menjadi musababnya. Dalam relasi dengan sesama, apakah kehadiran kita memberikan "nutrisi" atau "gizi" pada jiwa orang lain, sehingga hidup mereka kembali bermakna? Kita bisa memulainya, setidaknya dari lingkup terkecil, yakni keluarga. Hadirkan diri di situ. Berikan perhatian dan kasih yang nyata. Kita dapat menjadi penguat bagi mereka, agar tegar menghadapi serta mengelola segala kepahitan hidup yang mungkin menghampiri --DKL

JADILAH PRIBADI YANG SELALU SIAP MEMBERI MAKNA
KHUSUSNYA AGAR ORANG LAIN MERASAKAN HIDUPNYA BERHARGA

Sabda.org