Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

19 January 2008

Inspiration Today - Hati-Hati Di Jalan

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja.

"Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil terus melaju.

Prit!!! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu.

Hati Jono agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya. "Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!"

"Hai, Jon." Jawab Bobi, tanpa senyum.

"Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah."

"Oh ya?" Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.

"Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong."

"Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini."

O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.

"Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala..."

Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

"Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu."

Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang.

Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela.

Tapi, hei apa ini. Ternyata SIM-nya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku? Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa?

Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.

"Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)".

Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan...

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain...
Bisa jadi, suka kita tak lebih dari duka rekan kita...
Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati...

Menara Api Di Tengah Kegelapan Dunia

Mahatma Gandhi pernah berkata bahwa jika setiap orang Kristen hidup sesuai dengan ajaran Kristus, maka tidak akan ada orang yang tidak mengikut Yesus di India. Pernyataan ini merupakan satu tantangan bagi setiap pengikut Yesus apakah di India ataupun di belahan dunia yang lain. Bagi kita yang mengetahui apa yang terjadi di dalam gereja, di antara orang-orang Kristen, seringkali kita hanya dapat menangis saat melihat kualitas kehidupan orang-orang yang memanggil diri mereka Kristen tetapi tidak ditemukan ciri-ciri Kristus di dalam diri mereka. Tetapi syukurlah, walaupun jarang tetapi terkadang masih dapat kita menemukan bintang-bintang cerah yang bagaikan menara api di tengah-tengah kegelapan lautan dunia ini.

Pada tanggal 23 Januari 1999, seluruh dunia, bukan saja umat Kristen dikagetkan apabila koran-koran utama memberitakan tentang seorang misionari, Graham Staines bersama kedua putranya, mati apabila mobil mereka hangus dibakar massal. Peristiwa ini terjadi di Orissa, India tempat di mana Graham sudah melayani selama 35 tahun di Rumah Sakit Kusta Mayurbhanj. Pada malam itu mereka baru saja selesai mengadakan kebaktian bersama umat Kristen di sebuah desa dan saat mereka sedang tidur nyenyak di dalam mobil, massal yang tidak menyukai kegiatan mereka mengepung dan membakar mereka hidup-hidup. Peristiwa ini sudah tentu sangat mengguncang India. Tetapi hal yang terjadi setelah itulah yang benar-benar membuat masyarakat umum mulai bertanya siapa mereka ini dan apa yang memotivasi keluarga Staines meninggalkan kenyamanan kehidupan di Australia dan mengabdikan diri mereka untuk membantu orang sakit kusta di tempat terpencil di utara India itu. Saat berdiri di hadapan tiga peti mati berisi mayat suami dan kedua putranya yang tercinta, istri Graham, Glades dengan tenang dan penuh kasih mengumumkan pengampunan kepada orang-orang yang sudah membunuh keluarganya. Di hadapan krew televisi dan kerumunan orang banyak yang menghadiri pemakaman itu, Glades bersama putrinya, Esther, menyanyikan lagu “Because He Lives” [Karena Dia Hidup]. Kristus diproklamirkan dari halaman utama koran-koran di India. Tidak lama setelah peristiwa ini seorang pekerja sedang membagi traktat tentang Kristus di sebuah kota di India, dan orang yang menerima traktat itu bertanya, “Apakah ini Yesus yang dipercayai oleh Glades Staines itu? Jika ya, saya juga mau mengenal-Nya.”

Hanya apabila Yesus itu nyata bagi kita barulah dapat kita menyatakan-Nya kepada orang lain. Glades mempunyai hubungan yang nyata dan hidup dengan Tuhan yang dilayaninya. Inilah yang dikisahkan oleh Glades saat ia ditanya bagaimana ia dapat dengan tenang melewati pencobaan yang berat itu, “Saya percaya Tuhan secara khusus berbicara kepada saya pada tanggal 14 Januari, [6 hari sebelum pembunuhan sadis keluarganya], saat saya sedang melakukan renungan pagi. Saya menggunakan buku renungan harian. Kisah pada hari itu adalah: Seorang anak perempuan berusia 12 tahun di rumah sakit yang sedang kehilangan penglihatannya. Pendetanya mengunjungi dia dan gadis itu memberitahu pendetanya, “Pak Pendeta, Tuhan sedang mengambil penglihatan saya.” Buat waktu yang lama, pendeta itu tidak berkata apa-apa, kemudian ia menjawab, “Jessie, jangan mengijinkan-Nya.” Jessie bingung dan pendeta yang bijaksana itu berkata, “Berikan kepada-Nya.”

Saat merenungkan kisah ini, suara hati saya bertanya apakah saya juga rela untuk memberikan semua yang saya kasihi - suami saya, anak-anak dan segala harta milik saya kepada-Nya. Saya meluangkan waktu yang lama merenungkan hal ini. Dengan air mata berlinangan di pipi, saya berkata kepada Tuhan, “Yesus, ya saya sanggup. Ambil semua yang ku-miliki bagi Engkau - suamiku, anak-anak dan semua yang ku-miliki. Aku menyerahkan semuanya kepada Engkau…”

Tanpa hubungan yang hidup dan akar yang mendalam di dalam Kristus, tidaklah mungkin bagi Glades untuk bertahan melewati peristiwa yang begitu menyedihkan itu. Siapakah kita sebenarnya, apakah kita berakar atau tidak terlihat bukan saat segalanya mulus, saat kita tersenyum manis ketika bertemu dengan teman-teman sekali seminggu di gereja. Seperti buah jeruk, apakah manis atau asam hanya diketahui saat jeruk itu diperas. Begitu jugalah dengan kita, siapa kita sebenarnya, apakah kita menebarkan bau harum kehidupan atau bau busuk kematian, hanyalah terlihat saat penindasan dan penganiayaan datang.

Setelah tragedi yang terjadi ke atas keluarganya, banyak orang yang menduga Glades dan putrinya akan meninggalkan India dan kembali ke Australia. Namun hal itu tidak terjadi. Sampai ke saat ini Glades masih dengan tekun dan penuh kasih melanjutkan pekerjaan yang sudah dimulai oleh suaminya. Satu menara api yang masih dengan terang menerangi dunia yang gelap ini.

Hidup Adalah Sebuah Anugerah

Ada seorang perempuan yang membenci dirinya sendiri karena dia buta. Dia membenci semua orang, kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada untuk dia. Perempuan itu berkata andai dia dapat melihat dunia, dia akan menikahi kekasihnya.

Suatu hari, seseorang menyumbangkan sepasang mata untuk perempuan itu kemudian perempuan itu dapat melihat segalanya, termasuk kekasihnya.

Kekasihnya bertanya kepada perempuan itu, "Sekarang kamu dapat melihat dunia, maukah kamu menikah denganku?". Perempuan itu terkejut ketika melihat kekasihnya juga buta, dan dia menolak permintaannya untuk menikah.

Kekasihnya pergi dengan sedih, dan kemudian dia menulis surat kepada perempuan itu dan berkata, "Jagalah baik-baik mata saya, sayang."

Inilah bagaimana otak manusia berubah ketika status kita berubah. Hanya beberapa yang ingat hidup yang sebelumnya dan siapa saja yang ada di sana ketika berada di situasi yang menyakitkan.



Hari ini sebelum kamu berpikir untuk mengatakan kata-kata yang tidak mengenakkan, pikirkan orang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum kamu mengeluh tentang rasa makananmu, pikirkan orang yang tidak bisa makan.

Sebelum kamu mengeluh tentang suamimu atau istrimu, pikirkan orang yang meminta kepada Tuhan Yesus seorang pasanga hidup.

Sebelum kamu mengeluh tentang hidup, pikirkan orang yang pergi ke Surga terlalu cepat.

Sebelum kamu mengeluh tentang anak2mu, pikirkan orang yang menginginkan anak tapi mereka tidak bisa.

Sebelum kamu mengomel tentang rumahmu yang kotor, seseorang tidak membersihkannya atau menyapunya, pikirkan orang yang hidup di jalanan.

Sebelum kamu merengek karena jarak yang kamu harus tempuh ketika kamu menyetir, pikirkan orang yang hanya dapat berjalan dan menempuh jarak seperti jarak yang kamu tempuh dengan kaki mereka.

Dan ketika kamu bosan dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan orang yang tidak punya pekerjaan, tidak mampu dan yang ingin punya pekerjaan seperti pekerjaan kamu.

Sebelum kamu ingin mengarahkan jarimu atau menyalahkan orang lain, pikirkan tidak ada orang yang sempurna.

Dan ketika depresi, tersenyumlah dan berterima kasihlah kepada Tuhan Yesus kamu masih hidup.

Hidup adalah anugerah, hiduplah, nikmatilah, rayakanlah, dan jalanilah.


>>Life is a gift, Live it, Enjoy it, Celebrate it, And fulfill it.