Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

25 February 2008

Patahkan Kakinya

Ada seorang hamba Tuhan di Australia yang selain melayani sebagai Gembala Sidang, dia juga adalah seorang gembala domba dan dia memiliki banyak domba peliharaan.

Dalam keseharian dia menggembalakan domba, memberi mereka makan, membawa mereka ke padang rumput, dia menemukan seekor domba yang nakal dan memiliki karakter yang sangat berbeda dengan domba-domba yang lain.

Domba nakal ini selalu memisahkan diri dari teman-temannya. Ketika domba-domba yang lain makan rumput secara berkelompok, dia akan keluar dari kelompoknya dan pergi ke tempat yang dia suka, atau ketika gembalanya sedang menggiring domba-dombanya ke padang rumput, si domba nakal akan lari sendirian ke arah yang berlawanan, jauh dari kelompoknya. Reaksi si gembala adalah selalu mengejar domba nakal ini dan menempatkannya kembali ke kelompoknya.

Dan hal ini selalu dia lakukan berulang kali, jadi, bila si domba nakal memisahkan diri, si gembala akan mengejar dan menggendongnya untuk mengembalikan dia ke kelompoknya.

Gembala ini sabar menghadapi hal ini karena dia juga seorang gembala yang Tuhan percayakan jemaat kepadanya (mungkin juga ada jemaat yang nakal kaya' begini..), tapi setelah berkali-kali hal ini terjadi, si gembala pusing juga ternyata dan dia mulai menyampaikan hal ini kepada Tuhan dalam doanya

"Tuhan,...Engkau adalah seorang Gembala yang baik,..dalam Mazmur, Daud pun mengilustrasikan Engkau sebagai Gembala yang membawa domba-domba-Mu ke padang rumput yang hijau. Daud, pada masa mudanyapun adalah seorang gembala domba dan apa yang dia ungkapkan tentang Engkau, sebagai seorang Gembala, aku percaya bahwa Daud pun menemukan hal-hal ini ketika dia sedang menggembalakan dombanya.

Tuhan,...Engkau Allah yang mengetahui segala sesuatu,... jadi kalo Engkau ada pada posisiku,....apa yang akan Engkau lakukan dalam menghadapi domba yang nakal ini?"

"Patahkan kakinya..." Kata Tuhan.

Haa....Tuhan,...patahkan kakinya..? (sambil mikir, ko' Tuhan tega amat) Tanya balik ke Tuhan. Tapi, kembali jawaban Tuhan, "..patahkan kakinya.."

Menyadari bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, dia ngikut apa yang Tuhan suruh dia buat. Maka, esok harinya, ketika sedang menggembalakan domba, si domba nakal melakukan kebiasaannya dan si gembala mengangkatnya, sambil berkata dalam hati, "Tuhan,... aku nggak tega, tapi karena Engkau yang suruh aku untuk patahkan kakinya, maka aku akan patahkan kakinya..."

Si domba nakal merintih kesakitan dan si gembala nggak tahan mendengarnya, hatinya sakit sekali mendengar rintihan itu, namun dia sangat mengasihi domba itu dan dia patuh dengan apa yang Tuhan suruh dia lakukan.

Setelah dia mematahkan kaki si domba nakal, kaki tersebut dia balut. Setiap hari dia menggendong domba nakal itu karena dia nggak bisa jalan. Si domba itupun dirawat olehnya, domba itu makan rumput di samping gembalanya karena bila dia makan rumput dengan teman-temannya - dia akan terinjak, bila sedang berjalan-jalan di padang rumput, si gembala akan menggendongnya.

Inilah yang terjadi, setiap kali domba nakal ini haus, dia akan menjilat keringat si gembala yang menggendongnya, kepalanya selalu bersandar pada dada si gembala dan menggosokkan kepalanya di bahu gembala bila sedang berjalan-jalan di padang rumput.

Selama kakinya patah, domba nakal ini sangat bersikap manis dan hampir setiap saat, dia menjilat keringat gembalanya dia tidak berdaya, sangat bergantung pada gembalanya.

Akhirnya, kakinya pun sembuh. Si gembala membuka balut pada kakinya dan melepaskannya untuk bermain-main dengan teman-temannya yang lain.

Namun, hal inilah yang terjadi, dia tidak berlari ke kelompoknya, tapi terus merapatkan dirinya di antara kaki gembalanya, sehingga si gembala mengangkatnya (dan si domba nakal masih terus menerus menjilat keringat si gembala!) dan harus meletakkan dia di kelompoknya, tapi si domba nakal selalu berlari mengikuti dan merapatkan dirinya kembali ke gembalanya!

Si gembala berulang kali melakukan hal ini,tapi, berulang kali pula si domba nakal kembali kepadanya...

Si gembala bingung dengan perilaku domba nakal ini, dan dalam kebingungannya Tuhan berkata kepadanya, "Itulah yang tidak dimengerti oleh umat-Ku, ketika Aku membiarkan mereka berbeban berat atau terluka atau Aku ijinkan sesuatu menimpa mereka, itu adalah untuk membawa mereka mendekat kepada-Ku. Aku melakukan itu untuk membuat mereka mengerti betapa berharganya mereka di hati-Ku, betapa Aku ingin mereka hidup bergantung hanya pada-Ku, dekat dan intim dengan-Ku. Tapi, seringkali, mereka semakin menjauh ketika hal-hal itu terjadi...."

Gembala itu akhirnya mengerti, mengapa Tuhan menyuruh dia mematahkan kaki domba nakal itu, yaitu untuk menyatakan isi hati-Nya, betapa manusia berharga di hati-Nya dan mengajar dia tentang kerinduan Allah untuk hidup intim dengan umat-Nya, namun, banyak orang yang nggak menyadari hal itu dan Allah mau dia menyatakan itu kepada jemaat-Nya.

Teman,...terkadang kita nggak sadar bahwa hal-hal kecil yang kita hadapi setiap hari, adalah proses pembentukan karakter.

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman Tuhan, dan Aku akan memulihkan keadaanmu..." (Yeremia 29:11-14b)

Diterjemahkan oleh: Karunia Grace

Sebarkan lah cerita ini agar banyak umatNya tahu bahwa Tuhan memberikan suatu rencana yang indah untuk membentuk mu menjadi manusia yang berarti di mata Tuhan ....

With God

Today's Scripture

“Jesus looked at them and said, "With man this is impossible, but not with God; all things are possible with God" (Mark 10:27).

Today's Word from Joel and Victoria

With God all things are possible! Now that’s a very broad statement. But, it doesn’t mean you can just do anything you want. You have to get with God first. In order to get with God, or align yourself with Him, you have to obey His Word. You have to submit yourself to Him and His plan for your life. You must turn your back on your old life and your old way of doing things. When you are in agreement with God and His Word, then all things will be possible. When you make your thoughts agreeable to His Word, than your plans will be established and you will succeed! Make whatever changes are necessary in your life today so that you can align yourself with God. Don’t hang around people that will try to drag you down. Guard what you watch on TV and what you listen to. Be determined everyday to spend time in prayer and studying the Word. The Bible promises that as you draw near to God, He will draw near to you. As you are in agreement with God, all things will be possible for you, and you will live the life of victory He has planned for you!

A Prayer for Today

Heavenly Father, I want everything You have in store for me. Today I choose to align myself with You. Show me if there is anything in my life that is displeasing to You so that I can walk with You all of my days. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Pemulihan Hati Bapa

Saat ini gelombang pemulihan hati Bapa sedang melanda gereja-gereja di GBI. Dalam suatu Retreat Pemulihan, banyak kesaksian menunjukkan betapa banyak orang yang mengalami gambar dirinya rusak, tidak mengenal figur bapak yang benar, mengalami luka-luka batin yang akibatnya mendatangkan keterikatan akan kuasa kegelapan. Yang mengerikan, adalah masalah dalam gambar diri yang rusak, tidak mengenal hati Bapa, luka batin dan keterikatan pada kuasa kegelapan itu menghasilkan “trans-generational curses” (kutukan dari generasi ke generasi).

Seorang wanita yang dibesarkan dalam keluarga yang cerai-berai, artinya ayahnya kawin lagi, lalu bercerai, lalu kawin lagi dan ibunya juga kawin lagi, bercerai lagi, mengaku benci sekali dengan ayahnya. Ia bertekad akan menikah dengan pria yang tidak seperti ayahnya. Namun apa yang terjadi, suaminya ternyata selingkuh. Ada trans-generational curse, kutukan antar generasi. Apa yang ia khawatirkan, ternyata menjadi kenyataan. Untunglah wanita ini mengikuti Retreat Pemulihan. Ia tidak malu bersaksi, karena dengan bersaksi ia mempermalukan iblis dan menyatakan bahwa ia tidak lagi di bawah kuasa dan kutuk iblis. Wahyu 12:11-12 menyatakan : "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.” Kuasa iblis dikalahkan oleh darah Tuhan Yesus dan oleh perkataan kesaksian kita.

Pada sesi Luka-Luka Batin, seorang gembala dengan penuh kerendahan-hati mengakui bahwa dirinya adalah seorang anak yang tidak mengenal kasih Bapa, karena sejak kecil beliau ditinggalkan ayahnya. Beliau dulu sering mempertanyakan, mengapa ayahnya yang seorang pendeta dipanggil pulang Tuhan begitu cepat. Ada kepahitan dan luka-luka batin karena beliau tidak terima. Karena beliau kurang mendapatkan kasih Bapa, maka setelah menikah beliau sibuk dalam pekerjaan, mengejar karier. Dan memang dalam kariernya berhasil, namun keluarganya tidak mendapatkan kasih yang memadai. Sebagai orang yang kurang kasih Bapa, beliau tidak dapat mengekspresikan kasih kepada isteri dan anak-anaknya.

Isteri gembala ini juga dengan kerendahan hati bersaksi, betapa sejak kecil ia merasa diperlakukan tidak adil. Ia dibesarkan dalam keluarga yang otoriter. Mereka berusaha di bidang katering. Diantara saudara-saudaranya, ia ditugaskan di bagian yang paling berat: mengumpulkan piring dan gelas yang baru dipakai dalam suatu resepsi pernikahan dan mencucinya dengan cepat karena akan dipakai dalam resepsi berikutnya. Ia ingat, pada waktu itu resepsi pernikahan di tahun 80-an, para undangan duduk di kursi, ia harus mengambil piring dan gelas dari kolong kursi. Kakak-kakak perempuannya bertugas di bagian yang lebih ringan: mengatur makanan atau mengisi kembali makanan yang kurang. Apalagi jika mengingat kakaknya yang kuliah di Bandung, ia merasa iri. Setiap ke Bandung menjenguk kakaknya, orang tuanya selalu membawa oleh-oleh kesukaan kakaknya (cokelat Silver Queen dan lain-lain), namun ia yang tinggal bersama orang tuanya tidak mendapatkan hal-hal itu.

Ketika ia dewasa, ia bertekad mendapatkan suami yang kebapakan. Namun ternyata suaminya, sang gembala, sangat sibuk di kantor. Apa yang ia harapkan ternyata tidak terkabul. Perlu diketahui, suaminya adalah seorang profesional yang bekerja di group perusahaan besar, namun merangkap menjadi gembala di suatu gereja.

Dalam membesarkan anak-anak, ia sangat keras mendidik mereka. Ia ingin berhasil sebagai ibu. Ia memaksa anak-anaknya belajar dengan keras. Ia sering mengata-ngatai anaknya: “Bodoh”, “Lamban” ketika anaknya cuma mendapat angka delapan. Padahal IQ anaknya 137, tergolong pandai. Hal ini membuat kepahitan pada anaknya.

Untunglah suami isteri ini, gembala dan isterinya tersebut di atas, sekarang telah mengalami kasih Bapa. Ia tidak malu menyaksikan kisah mereka, karena mereka bertekad mempermalukan iblis dengan kesaksian ini. Dan yang penting, trans-generational curse tidak akan melanda anak-cucunya. Mereka sudah dipulihkan gambar diri mereka, mereka menerima kasih Bapa, mereka sudah menerima kesembuhan luka batin.

Ada lagi peserta retreat yang bersaksi bahwa pada saat itu Tuhan tunjukkan hatinya. Luka batin yang tidak diselesaikan sesuai firman Tuhan akan membuat luka itu dipenuhi dengan “belatung”. Luka itu tambah lebar. Selama ini luka itu “ditambal” dengan upaya manusia, dengan kompensasi. Kompensasi atau tambalan itu bisa berupa : rendah diri, sombong (merasa hebat untuk menutupi luka hati), menarik diri, curiga kepada orang lain, takut disakiti orang lagi, benci kepada laki-laki (sehingga sampai saat ini kesulitan mendapatkan pasangan hidup). Luka yang dibiarkan menganga atau ditambal, akan mengundang kuasa kegelapan untuk masuk. Bentuk keterikatan itu tidak selalu berupa kerasukan. Ada orang-orang yang dikuasai amarah yang membabi buta, ada yang dikuasai perasaan iri hati yang ekstrim, ada yang dikuasai roh percabulan, ada yang dikuasai dengan roh cinta uang, dan lain-lain. Itu adalah bentuk keterikatan pada roh jahat, disamping bentuk kerasukan dan manifestasi lainnya.

Pada retreat itu juga banyak remaja yang dipulihkan. Mereka yang diperlakukan tidak adil oleh orang tua, dicuekkin, dikasari, menghadapi percekcokan antara papa dan mama, dipaksa berprestasi di sekolah. Akibatnya ada anak yang sampai mau bunuh diri. Namun mereka akhirnya dilawat kasih Bapa dan disembuhkan luka-luka hati mereka sehingga mereka mau mengampuni dan memohon ampun kepada ayah ibu mereka.

Dalam sesi Pemulihan Hati Bapa, Pdt. Rubin Ong menceritakan bahwa iblis merusak figur bapa-bapa di bumi ini, sehingga mereka otoriter dan sadis, sehingga mereka cuek dan tidak berkomunikasi dengan anak-isterinya, sehingga mereka membeda-bedakan di antara anak-anak. Seorang hamba Tuhan dari Papua, Nathanael, begitu menderita semasa kecilnya. Kalau ia salah, ayahnya yang bertubuh besar akan menendang, memukulinya dan mencambuk dengan kopel rim (ikat pinggang militer), sampai anak itu merangkak kesakitan. Kalau anak ini disiksa, ia akan menderita kesakitan selama tiga bulan. Ia begitu benci kepada ayahnya sehingga ia bertekad membunuh ayahnya. Namun ketika ia mendapatkan pemulihan hati Bapa, ia mengampuni ayahnya.

Suatu kali Bryan Duncan berlibur bersama-sama isteri dan anak-anaknya. Ketika ia menulis lagu-lagu kristiani ia tiba-tiba menangis. Isterinya yang melihat hal itu diam saja, namun setelah suaminya reda, isterinya bertanya : “Ada apa?” Bryan Duncan yang teman dekat Michael W. Smith, penyanyi lagu rohani, mendapatkan pesan Tuhan yang sangat menyentuh. Ia melihat anak-anak mereka berlari kian kemari, bermain-main dengan penuh keriangan, hidup mereka penuh keceriaan. Mengapa? “Karena anak-anak itu tahu bahwa mereka dilindungi, dipelihara, didukung oleh ayah mereka. Ketika mereka merasa aman, merasa di-support, didukung, hidup mereka indah dan penuh sukacita.” Begitulah kasih Bapa melingkupi, melindungi, mendukung, menjadi sumber kehidupan. Itulah yang membuat kita sebagai anak-anak-Nya dapat hidup dengan penuh sukacita. Ilham itu dituliskan Bryan Duncan dalam lagu yang berjudul “Child Love”. Kasih yang dialami oleh anak-anak karena mereka aman dalam pelukan Bapa.

Orang-orang yang mengalami kasih Bapa adalah orang-orang yang terhubung dengan “Sumber” (sumber kehidupan, sumber sukacita, sumber damai sejahtera, sumber kasih, sumber berkat, sumber kesembuhan, sumber keselamatan dll). Oleh karena itu orang yang mengalami kasih Bapa adalah orang yang merasa aman, secured, gambar dirinya tidak bergantung pada apa kata orang. Ia tidak takut gambar dirinya rusak karena dikritik orang lain atau difitnah orang. Ia merasa aman dan secured karena ia memiliki Bapa, ia hidup intim dengan Bapa, ia mengenal Bapa.

Filipus yang mewakili seluruh dunia ini pernah berseru kepada Tuhan Yesus, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Seluruh dunia membutuhkan Bapa. Seluruh dunia selalu merasa kurang, tidak cukup, ketika mereka belum mengenal Bapa. Seluruh dunia butuh di-bapa-i. Selama orang tidak mengenal Bapa, hidup mereka tidak akan cukup.