Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

17 November 2008

Kisah Penuh Kesedihan

Hari itu sebuah mal penuh sesak dengan pengunjung. Tiada seorangpun yang memperhatikan ketika seorang anak kecil itu merangkak di atas lantai. Kelihatannya ia sehat-sehat saja dan tidak menunjukkan bahwa ia takut kepada sekelilingnya. Anak kecil itu kadang-kadang berhenti sejenak untuk beristirahat.

Ia seorang anak perempuan berumur kira-kira 8 sampai 9 tahun. Wajahnya lucu dan aku pun bertanya-tanya apakah aku seharusnya berhenti dan menanyakan apakah ia membutuhkan bantuanku. “Mungkinkah ibunya meninggalkannya seorang diri?” pikirku seraya bergegas untuk pulang.

Ketika aku meninggalkan mal itu, di dalam benakku, aku tak dapat melupakan anak kecil itu. Mungkinkah anak itu membutuhkan pertolonganku? Apakah aku bertindak seolah-olah aku buta?

Pikiran itu tetap menggangguku dan aku memutuskan untuk kembali ke mall itu supaya hatiku yang gelisah menjadi tenang kembali. Mal sudah mulai ditutup. Setelah aku mencari-cari, aku tidak menemukan gadis kecil itu.

Apakah imajinasikulah yang tak terkendalikan dengan berpikir bahwa aku kehilangan kesempatan untuk menolong seorang gadis kecil yang miskin dan tersesat itu?

Aku berusaha meredam hatiku yang gelisah dengan perkiraan bahwa gadis cilik itu pasti dalam keadaan baik-baik saja. Bila tidak, tentunya ia masih berada di mal itu. Dalam menghadapi hari-hari perayaan Paskah, aku menjadi emosional setiap tahun.

Setelah tidak menemukan gadis itu, aku kembali pulang. Sementara perkiraan cuaca memperkirakan akan datangnya badai dari Utara yang membawa kedinginan. Menjelang tengah malam stasiun cuaca mengumumkan bahwa cuacanya menjadi amat dingin dan salju turun dengan amat banyak. Sementara aku berada di tempat tidurku yang hangat.

Di pagi hari aku bangun dan mendapatkan cuaca amat dingin. Dengan cuaca yang tidak mendukung, aku tidak akan ke mana-mana, kecuali keluar sebentar untuk mengambil koran pagi. Dengan didampingi secangkir kopi yang hangat, aku mulai membaca kabar terakhir yang terjadi di kota kita yang kecil. Aku terkejut membaca di halaman pertama di bagian bawah sekali sebuah berita singkat yang berbunyi: “Seorang gadis kecil telah ditemukan meninggal di dalam mal!” Agaknya ia amat kedinginan sehingga tertidur untuk kemudian meninggal dunia karena kedinginan.

Aku tak dapat menyelesaikan membaca berita itu, karena aku menangis tersedu-sedu. Sementara aku dapat tidur nyenyak dan hangat di tempat tidur yang nyaman, seorang gadis kecil telah menjadi kaku kedinginan dalam tidurnya.

Setelah bertahun-tahun kemudian, kejadian itu tetap menghantuiku dalam impian-impianku. Apakah gadis yang ditemukan mati kedinginan itu sama dengan gadis yang pernah kutemui dalam mal itu? Aku tak dapat melupakan gadis itu, betapa aku telah berusaha. Dan kini, bila ada seseorang membutuhkan pertolonganku, aku tidak pernah menolak dan mengabaikannya.

Pelajaran yang kudapatkan dari kejadian ini adalah sesuatu yang menyedihkan namun nyata.

Ingatlah, kesempatan terakhir yang dimiliki seseorang yang membutuhkan pertolongan bisa jadi kamu. Janganlah menolak!

Humor : Berkhotbah Itu Tidak Sukar

Seorang Imam, seorang pendeta Pantekosta dan seorang Rabi bersama melakukan pekerjaan pelayanan sebagai pendeta mahasiswa di sebuah universitas.

Pada suatu hari ada sesorang yang memberi komentar bahwa berkhotbah terhadap manusia itu sebenarnya tidak terlalu sukar. Sebalikya mengkhotbahi seekor beruang merupakan suatu tantangan yang hebat.

Akhirnya mereka bersepakat untuk mengadakan suatu eksperimen. Mereka akan pergi ke dalam hutan untuk menemukan seekor beruang liar, mengkhotbahinya dan berusaha untuk menjadikan dia seekor beruang yang bertobat.

Seminggu kemudian mereka berkumpul lagi untuk memperbincangkan pengalaman mereka

Romo Flannery, yang lengannya berada di dalam kain gendongan dan berjalan dengan sebuah tongkat ketiak serta mempunyai bagian-bagian dari tubuhnya yang penuh verban, mendapat giliran pertama:

“Nah,” katanya, “aku pergi ke hutan untuk mencari seekor beruang. Setelah aku menemukannya, aku mulai membaca dari buku Katekismus. Nah, ternyata beruang itu sama sekali tidak senang dan mulai menampar aku. Jadi aku secepatnya mengambil air suciku dan memercikinya dan, Ibu Tuhan yang suci, beruang itu menjadi lemah-lembut seperti seekor domba. Minggu depan uskup akan datang untuk memberikan komuninya yang pertama.”

Pendeta Billy Bob mulai dengan kesaksiannya. Ia berada di dalam sebuah kursi roda dengan lengan dan kedua kaki di dalam cetakan gips sedang ia diberi infus untuk membantu pernapasannya.

Dengan caranya yang lantang, ia bercerita, “Nah, saudara-saudaraku seiman, aku pergi ke hutan dan menemukan beruangku. Kemudian aku mulai membaca dari Alkitab! Namun, agaknya beruang itu tidak begitu senang terhadap aku. Dengan demikian aku memegangnya dan kamipun mulai bergulat. Kami bergulat sambil menggelundung turun bukit sampai kami tiba di sebuah anak sungai. Akupun secepatnya menenggelamkan kepalanya dan membaptis jiwanya yang berbulu itu. Dan seperti Anda mengatakan tadi, ia menjadi lemah-lembut seperti seekor domba. Nah, kami kemudian menghabiskan harinya dengan bersama memuji dan memuliakan Yesus.”

Kemudian mereka berdua mengunjungi Rabi yang berada di ICU sebuah rumah sakit. Seluruh badannya berada di cetakan gips dan ia sedang memakai berbagai infus di tubuhnya. Keadaannya cukup parah dan mengkhawatirkan.

Dengan susah payah ia mengenali teman-temannya dan berkata dengan suara yang lemah, “Setelah aku tinjau kembali, agaknya sunatan bukanlah cara yang terbaik untuk membuat seekor beruang bertobat.”

From An Angel

Dear Mommy,
I am in Heaven now, sitting on God’s lap.
He loves me and cries with me;
for my heart has been broken.
I so wanted to be your little girl.
I don’t quite understand what has happened.
I was so excited when I began realizing my existence.

I was in a dark, yet comfortable place.
I saw I had fingers and toes.
I was pretty far along in my developing,
yet not near ready to leave my surroundings.
I spent most of my time thinking or sleeping.
Even from my earliest day,
I felt a special bonding between you and me.

Sometimes I heard you crying and I cried with you.
Sometimes you would yell or scream, then cry.
I heard Daddy yelling back.
I was sad, and hoped you would be better soon.
I wondered why you cried so much.
One day you cried almost all of the day.
I hurt for you.
I couldn’t imagine why you were so unhappy.

That same day, the most horrible thing happened.
A very mean monster came
into that warm, comfortable lace I was in.
I was so scared, I began screaming,
but there was no sound.
I guess they had you all pinned down
because you never once tried to help me.
Maybe you never heard me.

The monster got closer and closer
as I was screaming and screaming,
“Mommy, Mommy, help me, please; Mommy, help me.”
Complete terror is all I felt.
I screamed and screamed
until I thought I couldn’t anymore.

Then the monster started ripping my arm off.
It hurt so bad; the pain I can never explain.
It didn’t stop.
Oh, how I begged it to stop.
I screamed in horror as it ripped my leg off.
Though I was in such complete pain,
I realize I was dying.
I knew I would never see your face,
or hear you say how much you love me.
I wanted to make all your tears go away.
I had so many plans to make you happy.
Now, I couldn’t; all my dreams were shattered.
Though I was in utter pain and horror,
I felt the pain of my heart breaking, above all.

I wanted more than anything; to be your daughter.
No use now, for I was dying a painful death.
I could only imagine that terrible things
they had done to me.
I wanted to tell you that I love you before I was gone,
but I didn’t know the words you could understand.
And soon no longer I had the breath to say them;
I was dead.

I felt myself rising.
I was being carried by a huge angle
into a big, beautiful lace.
I was still crying, but the physical pain was gone.
The angle took me to Jesus and set me on His lap.
He said that He loved me, and He was my Father.
Then I was happy.
I asked Him what the thing was that killed me.
He answered, “Abortion. I am sorry, my child;
for I know how it feels.”

I don’t know what abortion is;
I guess that’s the name of the monster.

I’m writing to say that I love you,
and to tell you how much I wanted to be your little girl.
I’d tried very hard to live.
I wanted to live.
I had the will, but I couldn’t;
the monster was too powerful.
It sucked my arms and legs off and finally got all of me.
It was impossible to live.
I just wanted you to know how I tried to stay with you.
I didn’t want to die.

Also, Mommy,
please watch out for that abortion monster.

Mommy,
I love you and I wouldn’t hate for you
to go through the kind of pain I did.
Please be careful.

Love,
Your baby girl

This was written by a 16 year old girl on the horror of abortion from the baby’s point of view. It is touching and may sway some minds to become pro-life. We must do all we can to stop abortion!!!