Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

22 December 2008

Humor : Persembahan

Pada hari Minggu seorang Bapak memberi anak laki-lakinya uang seribuan dan limaratusan.

"Masukkan uang seribuan ini dalam kantong persembahan, " kata ayahnya.

"Lalu kamu gunakan uang limaratusan ini buat jajan."

Ketika anak itu pulang, ditangannya masih tergenggam uang seribuan.

"Mengapa kamu tidak memasukkan uang seribuan itu dalam kantong persembahan? " tanya ayahnya.

Anak itu menjawab, "Guruku mengatakan bahwa Allah mengasihi orang yang memberi dengan suka cita.

Aku lebih bersuka cita untuk memasukkan uang limaratusan dalam kantong persembahan daripada uang seribuan."

Alasan Untuk Memberi

Saya sudah terlalu tua untuk mengingat masa Depresi Besar yang terjadi pada tahun 30-an. Selama beberapa tahun keluarga kami tidak memiliki mobil, saluran ledeng, ataupun listrik. Namun kami memiliki sebuah rumah, sebuah mata air di dekat situ, kamar mandi di luar rumah, kayu bakar, pakaian, dan makanan yang cukup. Miskinkah kami? Tidak, menurut standar waktu itu.

Namun untuk standar waktu sekarang kami pasti dianggap miskin dengan keadaan seperti itu. Berapa banyak uang yang harus dimiliki seseorang agar dianggap kaya? Dan berapa banyak uang yang harus diberikan seseorang agar dianggap dermawan?

Sangat sulit menjawabnya, bukan? Sebenarnya, tidak ada jawaban yang tepat untuk kedua pertanyaan itu. Rasul Paulus tidak membuat peraturan tentang seberapa besar seseorang harus memberi, dan juga tidak mengatakan bahwa hanya orang kaya yang harus memberi. Sebaliknya, ia menantang jemaat di Korintus dengan menceritakan kepada mereka tentang orang-orang percaya di Makedonia yang “sangat miskin” namun memberi “melampaui kemampuan mereka,” yakni “memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah” (2 Korintus 8:2-5).

Ia mengingatkan para pembaca suratnya akan Juruselamat mereka, Tuhan Yesus, yang mampu mengubah kemiskinan duniawi menjadi kekayaan surgawi supaya mereka menjadi kaya dalam kehidupan yang kekal. Lepas dari apakah kita merasa diri miskin atau kaya, kasih kita kepada Tuhan seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk bersikap murah hati dalam hal memberi.

Bangku Natal

"Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" - Markus 10:45

Bacaan : Roma 15:1-6

Ketika saya tengah menempuh studi di China, seorang sahabat menceritakan sebuah pengalaman malam Natal di suatu gereja rumah. Sebelum Natal, pendeta di gereja itu mengingatkan jemaat untuk mengundang sebanyak mungkin keluarga dan teman yang belum percaya, agar hadir dalam kebaktian malam Natal. Saat Natal tiba, rumah tempat mereka mengadakan ibadah dibanjiri banyak orang. Sebagian besar dari mereka baru pertama kali beribadah di gereja. Karena banyak sekali yang datang, bangku yang tersedia tidak mencukupi. Tanpa perlu dikomando, beberapa jemaat yang melihat hal itu segera memberikan bangku mereka. Lalu mereka masuk ke kamar dan berdoa supaya orang yang duduk di bangku mereka mendengar Injil dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Mendengar kisah itu, saya ingat kata Paulus dalam surat Filipi. Bahwa Kristus, sekalipun setara dengan Allah, rela mengosongkan diri-Nya (Filipi 2:7) ketika datang ke dunia ini. Dia merelakan hak yang sesungguhnya patut Dia nikmati. Dia tidak hendak dilayani, tetapi hendak melayani dan memberikan nyawa-Nya.

Bagaimana dengan kita? Kerap kali Natal kita buat semegah dan semeriah mungkin demi kepuasan diri. Mungkin kita menyisihkan uang untuk kegiatan sosial, tetapi terkadang itu hanya embel-embel dan bukan inti acara Natal. Ini saatnya kita kembali ke berita Natal, yaitu meneladani Allah yang memberi. Merelakan hak-hak kita, agar orang lain dimudahkan untuk mengenal Tuhan. Kita dapat segera memulainya, bahkan dari hal kecil seperti berbagi bangku -GS

ANTARKAN SESAMA UNTUK MENGENAL ALLAH
LEWAT SEGALA CARA YANG DAPAT KITA UPAYAKAN

Yayasan Gloria