Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

05 November 2008

Tanpa Judul

Setelah menyanyi beberapa puji-pujian, gembala sidang berdiri dan berjalan ke mimbar. Sebelum ia mulai dengan khotbahnya, dengan singkat ia memperkenalkan seorang tamu pembicara yang hadir dalam ibadah malam itu. Dalam perkenalannya, pendeta bercerita kepada jemaatnya bahwa tamu itu merupakan salah seorang teman akrabnya sejak ia masih kanak-kanak. Ia memohon agar temannya memberi sedikit sambutan serta berbagi rasa akan pengalamannya yang ia rasakan bisa menjadi berkat untuk jemaatnya.

Kemudian, seorang yang sudah tua maju ke mimbar dan mulai berbicara. “Seorang ayah dan puteranya serta seorang teman dari anaknya sedang berlayar di samudra Pasifik, ketika mereka diterpa oleh sebuah badai besar sehingga mereka tidak dapat kembali ke arah pantai. Ombak yang ditimbulkan badai itu menjadi begitu tinggi, sehingga ayahnya, yang adalah seorang pelaut yang berpengalaman, tidak dapat menguasai kapalnya sehingga akhirnya kapalnya terbalik dan ketiga orang itu terlempar ke dalam samudra.”

Orang tua itu sejenak ragu-ragu seraya perhatiannya tertuju kepada dua orang pemuda yang sejak semula kelihatannya tertarik terhadap jalannya cerita itu. Kemudian orang tua itu melanjutkan ceritanya.

“Dengan meraih sebuah tambang penyelamat jiwa, ayah itu harus mengambil suatu keputusan yang amat dahsyat yang ia pernah alami selama hidupnya: kepada anak yang mana ia akan melemparkan ujung tambang penyelamat itu. Ia hanya punya beberapa detik waktu untuk mengambil keputusannya. Ia tahu bahwa puteranya adalah orang yang sudah percaya dan ia pun tahu bahwa teman anaknya masih belum percaya. Penderitaan batin yang amat mendalam akan keputusannya itu tidak dapat dibandingkan dengan keganasan dari ombak badai itu. Seraya ia menjerit, “Aku mengasihimu anakku”, ia melemparkan tambang penyelamat itu ke arah teman anaknya. Ketika ia menarik tambang kembali dari teman anaknya ke kapalnya yang sedang karam itu, anaknya sendiri sementara sudah hilang ditelan oleh gelombang-gelombang yang sedang mengamuk dalam kegelapan malam hari. Tubuhnya tidak pernah ditemukan lagi.”

Pada saat itu, kedua pemuda yang duduk dengan tegak di bangku itu sangat ingin mengetahui kelanjutan dari cerita itu. “Ayahnya,” orang tua itu meneruskan, “tahu bahwa anaknya masuk ke dalam keabadian dengan Yesus dan ia tidak dapat menanggung beban untuk membayangkan teman anaknya bila seandainya ia harus memasuki keabadian tanpa Yesus. Karena itulah ia rela mengorbankan anaknya sendiri untuk dapat menyelamatkan teman anaknya. Betapa besar kasih Tuhan bahwa Ia dapat melakukan yang sama untuk kita. Bapa kita sorgawi telah mengorbankan Anak-Nya yang tunggal agar kita dapat diselamatkan. Maka aku sangat menghimbau, kiranya Anda pun menerima kesediaan-Nya yang menyelamatkan Anda dengan memegang erat-erat Tambang Penyelamat”

Sesudah mengatakan kalimat terakhir itu, orang tua itu kembali duduk sementara terdapat keheningan di antara jemaat. Gembala sidang kemudian menaiki mimbar dan menyampaikan khotbah singkatnya seraya mengundang jemaat untuk menerima tawaran keselamatan. Namun, tidak seorangpun memberikan responnya.

Beberapa menit setelah usai kebaktian, kedua pemuda itu berada di sisi orang tua tersebut. “Kisahnya bagus sekali, pak”, kata salah seorang pemuda itu, “namun aku khawatir bahwa sungguh tidak realistis bagi ayah itu untuk mengorbankan anaknya dengan pengharapan bahwa temannya akan menjadi seorang percaya.”

“Ah, pemikiran Anda memang masuk akal”, jawab orang tua itu, sambil matanya ditujukan kepada Alkitabnya yang sudah tua itu. Kepedihan mulai mengambil alih senyum wajahnya ketika ia memandang kedua pemuda itu seraya berkata, “Memang benar, hal itu tidak terlalu realistis, bukan? Namun aku pada hari ini berada di sini untuk mengatakan kepadamu, aku bisa lebih mengerti daripada kebanyakan orang lain, betapa dahsyat kepedihan Bapa sorgawi yang dialami dan dirasakan ketika Ia mengorbankan AnakNya yang tunggal. Sebab, akulah orang yang kehilangan anakku di tengah samudera pada hari kejadian itu dan teman anakku yang kuselamatkan adalah pendetamu sekarang ini.”

Ibu

Pada suatu sore yang cerah, seorang anak menghampiri ibunya di dapur yang sedang menyiapkan makan malam ,dan ia menyerahkan selembar kertas yang selesai dia tulis. Si ibu tersenyum menyambut kertas itu, dan setelah mengeringkan tangannya dengan celemek, ia membacanya.

Dan inilah tulisan si anak itu:
Untuk memotong rumput minggu ini Rp. 7.500,00
Untuk membersihkan kamar minggu ini Rp. 5.000,00
Untuk pergi ke toko menggantikan Mama Rp. 10.000,00
Untuk menjaga adik waktu Mama belanja Rp. 15.000,00
Untuk membuang sampah setiap hari Rp. 5.000,00
Untuk raport yang bagus Rp. 25.000,00
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 12.500,00
Total jumlah hutang Rp. 80.000,00

Si ibu memandang anaknya yang berdiri di situ dengan penuh harap, dan berbagai kenangan terlintas dalam pikiran ibu itu. Kemudian ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya, dan menulis:

Untuk sembilan bulan ketika Mama mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut Mama, GRATIS.

Untuk semua malam ketika Mama menemani kamu, mengobati kamu, dan mendoakan kamu, GRATIS.

Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini, GRATIS.

Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan untuk rasa cemas di waktu yang akan datang, GRATIS.

Untuk mainan, makanan, baju, dan juga menyeka hidungmu, GRATIS.

Anakku, dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati Mama adalah GRATIS.

Setelah selesai membaca apa yang ditulis ibunya, ia menatap wajah ibunya dan berkata: “Ma, aku sayang sekali pada Mama”.

Dan kemudian ia mengambil pulpen dan menulis dengan huruf besar-besar: “LUNAS”

Apakah menurutmu ini cerita yang indah?
Jika ya, kabarkanlah pada semua orang, bahwa orang yang paling mencintainya, selalu ada di dekatnya: SEORANG IBU.

Ucapan Untuk Bapa

Pagi hari Dia menungguku bangun tuk mendengarkanku mengucapkan selamat pagi, namun ternyata, aku terlalu sibuk dengan dunia…

Siang hari, Dia masih menungguku menunggu sapaanku, di sela2 kesibukanku..

namun, aku pun masih terlalu sibuk dengan pekerjaan, ataupun bermain. bahkan saat makan siang pun..aku melupakan Dia

Sore hari, Dia terus menungguku.. sebuah ucapan selamat sore setelah semua kesibukanku selesai.

tapi..aku pun masih sibuk dengan teman teman..atau dengan keluarga..

Malam hari Dia masih terus menungguku.. mengucapkan salam menjelang aku tidur..

tetap saja..aku terlalu sibuk mengurusi kantuk dan lelahku..hingga tak sedikitpun aku berkata-kata padaNya.

Dari matahari terbit hingga kembali terbit..Dia terus menungguku ,, karna kasihNya yg tak terbatas,,Dia terus menantiku,,

Hanya untuk sebuah kata “terima kasih Bapa,” atau “aku bahagia Bapa,”

hari demi hari,,bulan demi bulan,,tahun demi tahun,,

“Apakah sungguh aku terlalu sibuk hingga tak pernah punya waktu untukNya? Dia yang sekalipun tak pernah melupakanku. Dia yang sekalipun tak pernah meninggalkanku, walau seluruh dunia membenciku.. Sungguhkah aku sesibuk itu hingga tak punya waktu untuk Dia? Sungguhkah?”

Hidup Dalam Kepenuhan Roh Kudus

Efesus 5:15-21

Bagaimana orang Kristen menggambarkan hidup dalam kepenuhan Roh Kudus?Ada yang menggambarkan seperti gelas yang diisi penuh dengan air sampai air itu melimpah keluar. Dengan demikian orang Kristen yang tidak dipenuhi Roh digambarkan seperti gelap yang hanya terisi air separoh atau seperempatnya saja.

Gambaran lain yaitu hati manusia. Orang Kristen yang dipenuhi Roh, maka hatinya putih dan di tengah gambar hati itu ada salib Kristus. Sedangkan yang tidak dipenuhi Roh maka gambar hatinya sebagian hitam dan sedikit putihnya serta tidak ada salibnya. Apakah gambaran tadi bisa menjelaskan tentang hidup dalam kepenuhan Roh secara benar dan sesuai dengan Firman Tuhan?

Alkitab menjelaskan bahwa Roh Kudus itu Pribadi Allah: ”Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain…..” Yoh 14: 16. Roh Kudus disebut Seorang bukan sebuah, sesuatu . Yesus juga berkata : ”..tetapi Penghibur yaitu Roh Kudus yang akan diutus Bapa dalam nama-Ku, Dia-lah yang akan mengajarkan….” Yoh 14:26.

Roh Kudus disebut dengan memakai kata ganti orang ketiga: Dia-lah. Roh Kudus adalah Allah yang berpribadi. Nama Roh Kudus disetarakan dengan nama Allah Bapa, dan Anak.(Mat 28: 20). Kepenuhan Roh Kudus berarti kepenuhan Pribadi Allah. Allah yang satu itu masuk secara utuh dalam hidup kita dan mempengaruhi kita.

Tidak ada Gereja yang menolak ajaran tentang Roh Kudus adalah Allah dan juga tentang karunia-karunia Roh Kudus. Semuanya tertulis dalam Alkitab Yang sering menjadi kontroversial adalah penafsiran manusia terhadap keberadaan Roh Kudus itu dan manifestasi-manifestasi-Nya.

Sebagai contoh ada seorang penderita kanker ganas yang sudah divonis dokter bahwa penyakitnya tidak akan sembuh. Tetapi bapak yang satu ini selama dua tahun terakhir tetap hidup dalam sukacita karena Tuhan. Ia mengunjungi pasien-pasien lain dengan kursi rodanya untuk menceriterakan kasih Tuhan Yesus bagi orang-orang yang senasib dengan dirinya. Semua orang melihat sukacita yang terpancar dari wajah bapak tersebut dan berkata : ”Benar bapak itu hidupnya dipenuhi dengan Roh Kudus sehingga ia masih bisa tersenyum sekalipun tahu bahwa penyakitnya tidak akan sembuh.”

Dari sinilah kita tahu bahwa apa yang dipikirkan Allah tidak sama dengan yang dipikirkan manusia. Allah menghendaki dipenuhi Roh Kudus itu merupakan karya-Nya yang amat luas, tetapi manusia kadang-kadang menafsirkannya dengan batasan-batasan yang sempit. Lalu dijadikan patokan bahwa yang ini yang disebut dipenuhi Roh Kudus dan yang lain bukan dipenuhi Roh Kudus.

Bagaimana sebenarnya hidup dalam kepenuhan Roh Kudus? Rasul Paulus menulis dalam surat Efesus ini suatu gambaran yang menjelaskan tentang hal itu :

  1. Dipenuhi Roh Kudus atau hidup dalam kepenuhan Roh adalah berada dibawah kuasa /kendali Allah.
    “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” Efesus 5:18.

    Pada zaman Paulus, ada upacara-upacara kafir yang memakai minum-minum anggur sebagai upaya untuk menjadi mabuk. Dan dengan itu orang-orang penyembah berhala itu mendapat ”pengalaman religius” Paulus membuat analogi antara mabuk anggur tersebut dengan hidup dalam kepenuhan Roh. Walaupun demikian tetap ada bedanya. Orang yang mabuk anggur dikuasai oleh minuman keras yang mengakibatkan gangguan dalam penilaian dan keputusan yang terjadi dalam hidupnya: ngelantur, terhuyung-huyung, bertindak membahayakan orang lain.
    Dipenuhi Roh Kudus juga berakibat, namun bukan menimbulkan gangguan tetapi perbaikan, pembaruan dalam penilaian dan keputusan hidup. Orang itu dikendalikan, dipengaruhi, dikuasai sedemikian rupa oleh Roh Kudus sehingga memancarkan sifat-sifat Allah dalam hidupnya.
    Orang Kristen yang dipenuhi Roh Kudus akan mengalami dua perkara besar dalam hidupnya : Pertama : menerima karunia-karunia Roh dan kedua : menghasilkan buah Roh dari dalam hidupnya. Karunia Roh untuk melengkapi pelayanan dan buah Roh adalah kebajikan dari dalam hidup kita setelah dipenuhi Roh untuk bersaksi.

  2. Hidup dalam kepenuhan Roh Kudus adalah hidup dalam suasana sukacita Kristus.
    “…dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani” ayat 19

    Orang-orang percaya yang dipenuhi Roh akan selalu merindukan adanya persekutuan dengan Tuhan maupun dengan sesamanya. Bukan asal berkumpul, tetapi persekutuan sukacita. Ada anak Tuhan yang kalau hari Minggu tidak datang beribadah rasanya ada sesuatu yang kurang, yaitu tidak adanya sukacita dalam hidupnya sepanjang hari itu/ minggu itu. Seorang bapak yang semula hanya mau mengantar isterinya ke gereja, tiba-tiba tergerak masuk ketika mendengar lagu : ”Tak tersembunyi kuasa Allah“ Bapak itu kemudian bersaksi bahwa Yesus seakan-akan berkata kepada dirinya bahwa isterimu sudah diselamatkan, sekarang bagaimana dengan kamu. Bapak itu bertobat dalam hidupnya dipenuhi dengan sukacita. Ini juga termasuk dipenuhi Roh Kudus.
    Keluarga itu sekarang hidup dengan penuh sukacita karena semua anggotanya sudah diselamatkan Tuhan Yesus.

  3. Hidup dalam kepenuhan Roh Kudus adalah hidup dalam pengucapan syukur senantiasa.
    “Ucapkanlah syukur senantiasa atas segala sesuatu….” Ayat 20

    Mengalami kepenuhan Roh dibuktikan dengan adanya hidup yang senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Tidak ada keluhan yang berlebihan, tidak ada rasa iri, tidak ada semangat untuk mencelakakan orang lain. Dulu terus berkata ini kurang itu kurang, sekarang apapun yang diterima diamini sebagai bagian yang ditentukan Tuhan.
    Semangat kompetisi untuk mengalahkan orang lain, diganti dengan semangat berbagi kepada yang lemah. Semangat menjatuhkan orang lain, diganti dengan semangat mengasihi orang lain.

    Fenomena kepenuhan Roh Kudus bisa kita lihat dengan jelas saat jemaat yang mula mula terbentuk. Ada fenomena-fenomena yang supranatural tetapi ada juga fenomena - fenomena sosial di mana jemaat berbagi dengan sesamanya sehingga jemaat Tuhan itu disukai semua orang. (Kisah 2: 47)
    Alangkah indahnya bila orang Kristen masa kini di zaman akhir ini bisa memunculkan fenomena-fenomena yang seperti pada jemaat mula-mula. Tidak ada yang menganggap dirinya paling luar biasa tetapi tetap menghargai bahwa apapun yang Roh Kudus kerjakan dalam karya-Nya yang lain juga luar biasa. Kepenuhan Roh Kudus bukan untuk diperdebatkan tetapi untuk ditujukan bagi kemuliaan Allah dan kedatangan Kerajaan-Nya di dunia ini.

Pdt. Andreas Gunawan Pr, STh.