Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

17 January 2012

Aku Memalingkan Diriku dari Allah

Ketika aku berumur empat belas tahun, aku memalingkan diriku dari Tuhan. Aku tidak pernah memikirkan tentang iman, kecuali ketika aku sedang mencemoohkan seseorang yang menganggap dirinya seorang percaya. Aku berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan rasionalisme, kemanusiaan dan filosofi adalah lebih baik. Selama bertahun-tahun aku mempunyai keyakinan yang demikian itu. Kini aku ingin semua itu aku tarik kembali, namun aku tidak dapat.

Setelah menyelesaikan pendidikanku di perguruan tinggi, aku masuk ke dalam angkatan laut dan mulai melihat dunia di luar Amerika Serikat. Terdapat begitu banyak kekerasan, begitu banyak kemiskinan, hal-hal yang membuat orang putus asa dan penderitaan. Aku mulai bertemu dengan orang-orang yang percaya bahwa iman merupakan sesuatu bagian yang amat penting dalam hidup mereka. Aku mulai berfikir dalam diriku sendiri, “Alangkah indahnya, bila seandainya bisa percaya akan sesuatu yang melebihi dari dirinya sendiri, bahkan melebihi dari dunia.

Betapa besar kekuatan mereka yang percaya terhadap “Tuhan”.

Tentu,… aku terlalu intelektual dan terlalu terpelajar serta berpendidikan untuk dapat percaya tentang semua yang serba bodoh itu.

Aku sedang rindu tentang sesuatu yang aku tak dapat menemukan kata-kata untuk memintanya.

Aku adalah seorang peminum berat. Aku rindu akan keluargaku. Aku telah patah hati. Adik tiriku perempuan telah meninggal. Aku telah mengunjungi Yerusalem dan laut Galilea, namun aku tak banyak mengerti apa yang didapatkan oleh para peziarah dan apa yang mereka alami. Aku sebenarnya iri hati, walaupun aku tidak tahu terhadap siapa dan tentang apa. Hal yang paling aku ingat adalah betapa aku merasa seorang diri, berlayar di tengah lautan di atas sebuah kapal perang. Kita pernah berada di Teluk Persia, kemudian di lautan Adriatik selama perang di Yugoslavia. Saya masih ingat pembunuhan-pembunuhan yang mengerikan. Kita mengangkat begitu banyak mayat-mayat dari lautan Adriatik. Lalu kejadian di Rwanda. Rabin telah dibunuh ketika aku berada di Hiafa. Semua biarawan telah di bunuh di Aljazair. Agaknya maut sedang mengelilingi aku. Aku tidak tahu harus berbuat bagaimana. Aku merasa tersesat.

Kemudian, pada suatu senja, aku sedang mengamati tenggelamnya surya di ufuk dari geladak kapal di mana aku bekerja. Aku menemukan diriku sedang merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang besar dalam hidupku. Kemanakah aku sedang berjalan? Mengapa hal-hal itu terjadi dalam dunia ini maupun dalam hidupku? Apa yang aku inginkan dari hidupku? Apa yang aku inginkan dari diriku? Bagaimana aku dapat beriman bila aku tidak percaya segala sesuatu di luar akal sehatku?

Aku merasakan seakan-akan aku melalui dan keluar dari api dan yang tersisa yang hanya segenggam abu.

Aku bertanya kepada Tuhan bahwa aku tidak percaya bahwa Tuhan dapat menolong aku…dan Ia menjawab. Aku tidak mau mengatakan lebih lanjut tentang hal ini, namun dalam kurun waktu sesaat, hidupku telah berubah untuk selamanya.

Kejadian itu sepuluh tahun yang lalu. Perjalanan imanku telah mengalami banyak belokan dan tikungan, namun aku tetap di atas jalan yang benar. Aku telah menemukan begitu banyak hikmah dan perdamaian dalam kisah dan pelajaran dari Yesus, dan aku tahu bahwa Tuhan besertaku, menolongku, memegang tanganku, membimbing aku ketika aku bertumbuh dan berubah.

Tetapi yang paling indah adalah bahwa aku kini mempunyai seorang puteri berumur enam bulan, dan aku tidak dapat menunggu untuk mengajarnya tentang keajaiban dan keindahan Allah. Tuhan telah mengubah hidupku. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang lebih terkejut dari pada aku sendiri yang telah menemukan iman. Ia pun dapat merubah anda!!

Michael J.C., Massachusetts

Hanya Satu Jalan?

Bacaan Setahun : Kejadian 16-18
Nats : Tidak ada keselamatan di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lainyang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kisah Para Rasul 4:12)

Bacaan : Kisah Para Rasul 4:1-13

Apakah Yesus satu-satunya jalan bagi keselamatan manusia? Menjawab pertanyaan ini, Robertson McQuilkin memberi suatu analogi. Bayangkan Anda adalah satpam rumah sakit yang bertugas di lantai 10. Anda tahu lokasi tangga darurat yang denahnya sudah ditandai dengan jelas. Ketika terjadi kebakaran besar, tepatkah jika Anda mendiskusikan kemungkinan adanya jalan aman selain melalui tangga darurat tersebut atau kemungkinan selamat jika terjun dari lantai 10? Tanggapan paling tepat adalah membawa semua pasien secepat mungkin menuju tangga darurat.

Petrus dan Yohanes ditangkap, ditahan, dan disidang. Mereka diancam dan dilarang keras untuk berbicara tentang Yesus. Namun, mereka tidak dapat dihentikan. Alasannya lugas dan logis: Jika keselamatan bagi manusia di seluruh dunia hanya ada di dalam iman kepada karya Yesus (ayat 12), bagaimana mungkin tidak menyebarluaskan pengalaman dan kabar baik ini kepada semua orang (ayat 20)? Tidak mungkin. Yesus sendiri pernah mengajar mereka, "Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6).

Pertanyaan besarnya bukanlah mengapa jalan keselamatan hanya satu atau bagaimana nasib kekal dari orang-orang yang terhilang. Misteri besarnya ialah mengapa kita sibuk melakukan banyak hal yang baik, tetapi tak sempat mengusahakan agar semua orang mendengar Firman kehidupan dalam Kristus yang memerdekakan.

Daripada mencari alasan pemaaf bagi kita untuk tidak membagikan kabar kelepasan ini, mari kita mencari cara kreatif untuk menyampaikannya kepada sebanyak mungkin orang --JOO

PAKAILAH SETIAP KESEMPATAN YANG ADA
MEMBAWA ORANG SELANGKAH LEBIH DEKAT KEPADA KRISTUS

Sabda.org