10:18:00 AM
Peak
Bacaan : Mazmur 51
Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.- Mazmur 51:7
Apa yang ada dalam benak Anda ketika menatap seorang anak kecil? Kepolosan, keluguan, wajah tanpa dosa, lucu, imut, dsb. Mungkin itulah jawaban Anda. Tetapi benarkah mereka manusia yang dilahirkan tanpa dosa? Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa semua manusia yang terlahir ke dunia ini sebagai keturunan Adam adalah orang yang berdosa (Roma 3:10). Hanya Yesus Kristus lah yang dilahirkan bukan dari benih keturunan Adam sehingga hanya Dia satu-satunya yang terlahir tanpa dosa.
Ada ungkapan yang mengatakan bahwa anak-anak adalah ibarat selembar kertas putih yang belum dicorat-coret. Ungkapan ini tidak sepenuhnya salah karena mereka memang dibesarkan dengan “coretan” alias didikan dari orang dewasa. Mereka akan terbentuk sebagaimana coretan yang kita buat. Namun soal dosa, mereka tidaklah dilahirkan dalam keadaan suci tanpa dosa bak selembar kertas putih.
Mengapa hari ini kita perlu menyadari kebenaran ini? Sebagai orang dewasa, khususnya orang tua, sudah sewajibnya kita menyadari bahwa anak-anak juga perlu diselamatkan oleh Kristus. Mereka adalah orang-orang yang suatu saat kelak akan diadili di pengadilan Allah sama seperti kita. Apabila kita mengabaikan keselamatan mereka, ini sama halnya dengan membiarkan mereka berjalan ke arah kebinasaan.
Anggapan lainnya yang sungguh menyesatkan adalah bahwa anak-anak belum bisa menerima Kristus dalam hati mereka. Hanya orang dewasa saja yang bisa menerima Kristus dan diselamatkan. Bila memang demikian, betapa kejamnya Allah. Anak-anak bisa menerima Kristus dalam hati mereka dan memiliki kehidupan yang sungguh-sungguh diubahkan. Siapakah yang mengetahui umur anak-anak kita? Selama masih ada kesempatan yang Allah berikan kepada Anda dan saya, marilah kita memberitakan kabar keselamatan kepada mereka. Ajaklah mereka mengenal Kristus dengan sungguh-sungguh.
Soal perbuatan, memang seorang anak kecil ibarat kertas polos tanpa coretan, namun soal dosa, mereka sudah membawanya sejak dalam kandungan.
(TMS)
Sumber : Renungan Harian Spirit
8:09:00 AM
Peak
One thing can always cheer me
When I'm feeling sad and low
When I tired of daily trials
That I have to undergo,
When those who should
Seem closest, seem like
People I don't know,
One thing can always cheer me
I know that God is near me.
One thing can always cheer me
When I do not understand
How pain and sadness
In our lives
Can get so out of hand,
When the best of human efforts
Doesn't meet the days demands,
One thing can always cheer me
I know that God is always near me.
One thing can always cheer me
More than anything I've known
And show me I will never
Have to struggle on my own
For no matter what might happen
I will never be alone
The thing that will always cheer me
Is just knowing God is near me.
Our lives are in God's loving
Hands, in everything we do
He is with us constantly,
He always sees us through.
And if our faith is strong enough
We'll never walk alone,
For with His great and perfect love
He takes care of His own.
8:07:00 AM
Peak
"Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya. Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya. Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan. Orang fasik melihatnya, lalu sakit hati, ia menggertakkan giginya, lalu hancur; keinginan orang fasik akan menuju kebinasaan." - Mazmur 112
8:01:00 AM
Peak
Dua minggu lalu saya baru menyadarinya. Seorang rekan bule saya bertanding tenis meja dengan saya. Dalam timnya, dia merupakan pemain urutan kedua, saya sendiri pemain nomor satu dalam tim saya. Udara dingin kota Armidale tidak menghalangi serunya pertandingan saat itu. Mike, rekan saya tersebut, dengan mudah saya kalahkan pada game pertama. Tiba-tiba dia bangkit kembali di game selanjutnya, sehingga memaksa dilakukan game ketiga. Di saat kritis, bola dari si Mike bergulir tipis sehingga sulit saya jangkau. Pada saat itulah Mike berteriak, "God loves me!"
Saya kalah. Dan Mike tersenyum sambil mengatakan, "Tuhan mencintai saya!" Setelah itu saya dekati Mike. Dia dengan enteng kemudian berkata, "Ada sebuah lagu populer. Tuhan mencintai anjing kecil, anak kecil dan para pemabuk." Mike, yang saya tahu memang gemar menenggak minuman keras, melanjutkan lagi, "Malam ini sebelum bertanding saya sudah minum dua gelas wine."
Saya terkejut. Bukan karena memang saya mencium aroma wine dari mulutnya, dan juga bukan karena sulit menerima kenyataan bahwa seorang pemabuk mampu mengalahkan saya, akan tetapi saya terkejut karena teringat kembali teriakan Mike, "God loves me!" Bagaimana mungkin seorang pemabuk dicintai oleh Tuhan?
Pertandingan berikutnya telah menjawab rasa terkejut saya. Dalam pertandingan ganda, Mike dan pasangannya menelan pil pahit dan kalah dengan mudah. Saat itulah saya mendengar Mike sekali lagi berteriak, namun kali ini isi teriakannya penuh dengan kata-kata kotor. Rupanya dia kesal dengan kekalahannya. Tuhan tidak lagi disebut dalam kalimatnya. Jangan-jangan inilah makna Tuhan bagi seorang pemabuk seperti Mike. Tuhan disebut ketika dia mendapat sesuatu yg baik, dan Tuhan dilupakan pada kejap berikutnya ketika dia mendapat kemalangan.
Lambat laun saya teringat bahwa jangan-jangan kita selama ini beragama dengan cara seperti seorang Mike memandang Tuhan. Kita puji Tuhan ketika kita mau, dan kita lupakan Dia ketika kita mau. Ah, tampaknya pertanyaan di awal tulisan ini perlu diganti dengan : "Apa makna Tuhan bagi kita?". Bersediakah kita mengingat Tuhan dalam suka dan duka? Tak disangka, saya bukan saja kalah bermain tenis meja dari si Mike yang pemabuk itu, namun saya juga belajar memandang makna Tuhan gara-gara si Mike itu!