Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

10 January 2008

Kisah Pelayan Hotel

Beberapa tahun yang lalu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam.

"Dapatkan anda memberi kami sebuah kamar disini ?" tanya sang suami. Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga konvensi besar di kota itu. "Semua kamar kami telah penuh," pelayan berkata. "Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya ? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini."

Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. "Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja," kata sang pelayan.

Akhirnya pasangan ini setuju. Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, "Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda." Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.

Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan sesesorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut.

Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah disana, sebuah istana dengan batu kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit.

"Itu," kata laki-laki tua, "adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola". "Anda pasti sedang bergurau," jawab laki-laki muda itu. "Saya jamin, saya tidak," kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.

Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bagunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel. Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt.

Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.

Pelajarannya adalah perlakukanlah semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat dan anda tidak akan gagal.

"Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya." (Yoh 13:13-17)

"Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan." (Luk 22:26)

Kisah Terciptanya Sajak 'Foot Prints'

Tahukah anda cerita di balik terciptanya sajak 'FOOTPRINTS' (Telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul : Jejak - Jejak kaki).

Sajak tersebut telah menyentuh hati jutaan orang di seluruh dunia. Namun tidak banyak orang mengetahui siapa pengarang sajak itu. Juga tidak banyak orang tahu apa latar belakang lahirnya sajak itu. Lebih-lebih lagi tidak banyak orang tahu bahwa sajak yang berjudul 'Jejak' (aslinya: 'Footprints' ) sebenarnya adalah buah pena masa berpacaran di suatu senja di tepi danau.

Pengarang sajak itu adalah Margaret Fishback, seorang guru sekolah dasar Kristen untuk anak-anak Indian di Kanada. Margaret sangat pendek dan kecil untuk ukuran orang Kanada. Tinggi badannya hanya 147 cm. Tubuhnya ramping dan wajahnya halus seperti anak kecil. Karena itu walaupun ia sudah dewasa dan sudah menjadi ibu guru ia sering diberi karcis untuk anak-anak kalau berdiri di depan loket atau kalau naik bis.

Margaret dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana hangat dan penuh kasih. Namun ada beberapa peristiwa yang terasa pahit dalam kenangan masa kecilnya.. Yang pertama adalah pengalamannya ketika ia menjadi murid kelas satu sekolah dasar. Ia mempunyai kenangan buruk tentang gurunya.
Margaret berlogat Jerman karena ayahnya berasal dari Jerman. Lalu tiap kali Margaret melafalkan sebuah kata Bahasa Inggris dengan logat Jerman jari-jari tangannya langsung dipukul oleh gurunya dengan sebuah tongkat kayu. Tiap hari jari-jari tangan Margaret memar kemerah-merahan. 'Jangan bicara dengan logat Jerman. Pakai logat yang betul, kalau tidak ... !'
Itulah ancaman dan amarah yang didengar Margaret setiap hari. Dan ia sungguh takut. 'Tiap hari aku berangkat ke sekolah dihantui oleh rasa takut. Aku heran mengapa aku dimarahi. Apa salahku ? Apa salahnya orang berbicara dengan logat Jerman ? Baru kemudian hari aku tahu bahwa pada waktu itu sedang berlangsung Perang Dunia II, sehingga orang Jerman dibenci di Amerika dan Kanada,' ucap Margaret mengenang masa kecilnya.

Kenangan pahit lain yang diingat Margaret adalah tentang dua teman perempuannya di kelasnya. 'Aku akrab dengan semua teman dan mereka senang bermain dengan aku, kecuali dua orang teman perempuan yang kebetulan berbadan besar. Kedua teman itu sering menjahati aku. Untung ada seorang teman laki-laki yang selalu melindungi aku. Namun pada suatu hari teman laki-laki itu tidak masuk ke sekolah. Lalu kedua teman perempuan yang berbadan besar itu menjatuhkan aku dan duduk di atas perutku sambil menggelitiki aku. Aku kehabisan nafas. Untung tiba-tiba ada orang yang lewat sehingga aku dilepas. Langsung aku lari ketakutan sampai aku jatuh dan pingsan. Selama beberapa hari aku terbaring sakit.
Tetapi yang lebih parah lagi, selama beberapa bulan aku ketakutan,' kenang Margaret.

Juga tentang masa dewasanya Margaret mempunyai pengalaman yang menakutkan. Pada suatu siang yang bercuaca buruk, ketika ia sedang mengajar di kelas, tiba-tiba jendela terbuka dan petir menyambar sekujur tubuh Margaret. Ia jatuh terpental di lantai. Setelah dirawat di rumah sakit, ia tetap mengidap penyakit yang tidak tersembuhkan. Urat syarafnya terganggu sehingga ia sering bergetar. Bukan mustahil semua pengalaman buruk itu turut mewarnai lahirnya sajak 'Jejak' ini, yang dikarang oleh Margaret ketika ia sudah mempunyai tunangan yang bernama Paul.

Hari itu Margaret dan Paul berangkat menuju suatu tempat perkemahan di utara Toronto untuk memimpin retret. Di tengah perjalanan, mereka melewati danau Echo yang indah. 'Mari kita jalan di pantai,' usul Margaret. Dengan semangat mereka melepaskan sepatu lalu berjalan bergandengan tangan di pantai pasir.

Ketika mereka kembali dan berjalan ke arah mobil mereka, dengan jelas mereka mengenali dua pasang jejak kaki mereka di pasir pantai. Namun di tempat-tempat tertentu gelombang air telah menghapus satu pasang jejak itu. 'Hai Paul, lihat, jejak kakiku hilang,' seru Margaret. 'Itukah mungkin yang akan terjadi dalam impian pernikahan kita? Semua cita-cita kita mungkin akan lenyap disapu gelombang air,' lirih Margaret.
'Jangan berpikir begitu,' protes Paul. 'Aku malah melihat lambang yang indah.
Setelah kita menikah, yang semula dua akan menjadi satu. Lihat itu, di situ jejak kaki kita masih ada lengkap dua pasang.' Mereka berjalan terus. 'Paul, lihat, di sini jejakku hilang lagi.'
Paul menatap Margaret dengan tajam, 'Margie jalan hidup kita dipelihara Tuhan.

Pada saat yang susah, ketika kita sendiri tidak bisa berjalan, nanti Tuhan akan mengangkat kita. Seperti begini...' Lalu Paul mengangkat tubuh Margaret yang kecil dan ringan itu dan memutar-mutarnya. Malam itu setibanya mereka di tempat retret, Margaret yang adalah pengarang kawakan menggoreskan pena dan menuangkan ilham pengalamannya tadi di pantai. Kalimat demi kalimat mengalir. Dicoretnya sebuah kalimat, diubahnya kalimat yang lain. Ia berpikir, menulis, termenung, mencoret, menulis lagi, termenung lagi, mencoret lagi.......Seolah- olah bermimpi, dalam imajinasinya ia merasa berjalan bersama dengan Tuhan Yesus di tepi pantai. Ketika berjalan kembali ia melihat dua pasang jejak kaki, satu pasang jejaknya sendiri dan satu pasang jejak Tuhan. Tetapi... dan seterusnya. Margaret melihat lonceng. Pukul 3 pagi ! Cepat-cepat diselesaikannya tulisannya, lalu ia tidur. Keesokan harinya, begitu bangun, ia langsung membaca ulang tulisannya. Ah, belum ada judulnya. Margaret berpikir sejenak lalu membubuhkan judul 'Aku Bermimpi'. Ia mengubah beberapa kata dan kalimat. Dan lahirlah sajak yang sekarang kita kenal dengan judul 'Jejak'.

Pada hari itu juga dalam kebaktian, sajak itu dibacakan Paul. Paul berkata, '... ada saat di mana kita merasa seolah-olah Tuhan meninggalkan kita. Musibah menimpa kita dan jalan hidup kita begitu sulit. Kita bertanya mengapa Tuhan tidak menolong kita. Sebenarnya Tuhan sedang menolong kita. Tuhan sedang mengangkat kita.' Lalu Paul membacakan sajak karya Margaret :


One night I dreamed a dream.
I was walking along the beach with my Lord.
Across the dark sky flashed scenes from my life.
For each scene, I noticed two sets of footprints in the sand,
One belong to me and o­ne to my Lord.
When the last scene of my life shot before me,
I looked back at the footprints in the sand.
There was o­nly o­ne set of footprints.
I realized that this was the lowest and the saddest times of my life.
This always bothered me and I questioned the Lord about my dilemma.
'Lord, You told me when I decided to follow,
You would walk and talk with me all the way.
But I'm aware that during the most troublesome times of my life,
There is o­nly o­ne set of footprints.
I just don't understand why, when I need You most, You leave me.'
He whispered, 'My precious child, I love you and will never leave you
never, ever, during your trials and testings.
When you saw o­nly o­ne set of footprints,
It was then that I carried you.'


Seluruh peserta retret duduk terpaku mendengarnya. Mereka termenung menyimak kedalaman arti yang terkandung sajak itu. Sekarangpun tiap orang termenung setiap kali membaca sajak itu. Sajak itu mengajak kita menelusuri perjalanan hidup kita. Dalam perjalanan itu telapak kaki kita dan telapak kaki Tuhan Yesus membekas bersebelahan. Tetapi pada saat-saat dimana musibah menimpa dan perjalanan menjadi sulit serta berbahaya, ternyata yang tampak hanya telapak kaki Tuhan. Telapak kaki kita tidak tampak, padahal telapak kaki Tuhan membekas dengan jelas. Mana telapak kaki kita ? Telapak kaki kita tidak ada, sebab pada saat-saat seperti itu kita sedang diangkat dan digendong Tuhan.


JEJAK-JEJAK KAKI

Suatu malam aku bermimpi
Aku berjalan di tepi pantai dengan Tuhan
Di bentangan langit gelap tampak kilasan-kilasan adegan hidupku
Di tiap adegan, aku melihat dua pasang jejak kaki di pasir
Satu pasang jejak kakiku, yang lain jejak kaki Tuhan.
Ketika adegan terakhir terlintas di depanku
Aku menengok kembali pada jejak kaki di pasir.
Di situ hanya ada satu pasang jejak.
Aku mengingat kembali bahwa itu adalah bagian yang tersulit Dan paling
menyedihkan dalam hidupku.
Hal ini menganggu perasaanku maka aku bertanya Kepada Tuhan tentang
keherananku itu.
"Tuhan, Engkau berkata ketika aku berketetapan mengikut Engkau, Engkau
akan berjalan dan berbicara dengan aku sepanjang jalan,
Namun ternyata pada masa yang paling sulit
Dalam hidupku hanya ada satu pasang jejak.
Aku tidak mengerti mengapa justru pada saat aku sangat membutuhkan
Engkau,
Engkau meninggalkan aku?"
Tuhan berbisik, "Anakku yang Kukasihi
Aku mencintai kamu dan takkan meninggalkan kamu
Pada saat sulit dan penuh bahaya sekalipun.
Ketika kamu melihat hanya ada satu pasang jejak ,
ltu adalah ketika Aku menggendong kamu."


Wrote by Joice Karyadi

Kesaksian Dari Mesir

Saya tidak mau menunggu sampai keluarnya newsletter terbaru untuk memberitahukan cerita ini. Cerita ini bermula sebagai tragedi kemudian berakhir sebagai keajaiban yang luar biasa. Seorang teman menerima ceriita ini melalui E-mail pada tanggal 20 Mei 2004 dan meminta keluarganya di Mesir untuk mengkonfirmasikan cerita ini.

Seorang muslim di Mesir telah membunuh isterinya dan menguburnya bersama dengan bayi dan anak perempuannya berumur 8 tahun. kedua anak tersebut dikubur hidup-hidup. Sang suami melapor kepada polisi bahwa seorang paman telah membunuh kedua anaknya. 15 hari kemudian, ada seorang anggota keluarganya yang lain meninggal, Ketika mau dikubur, mereka menemukan kedua anak tersebut, yang telah dikubur hidup-hidup oleh bapaknya, berada dibawah pasir dan dalam keadaan hidup!

Sang anak ditanya bagaimana caranya sehingga dia bisa bertahan hidup. "Seorang laki-laki dengan pakaian putih bersinar dengan luka ditangan yang masih berdarah, memberi makan kami setiap hari. Ia membangunkan ibu saya sehingga ibu saya bisa menyusui adik saya yang masih bayi," jawab sang gadis kecil yang diwawancarai di TV nasional Mesir oleh seorang presenter Muslim.

Presenter tersebut mengatakan "Orang yang melakukan ini pasti Yesus, karena tak mungkin orang lain melakukan hal ini. Umat Islam saat itu percaya bahwa Isa yang melakukan ini. Luka ditangannya menunjukan bahwa Ia sungguh-sungguh yang telah disalibkan dan Ia sungguh Hidup. Seluruh Mesir sangat marah akan kejadian ini dan akan menghukum mati sang suami pembunuh keluarga. Sangat jelas bahwa sang anak kecil ini tidak mungkin berbohong akan cerita ini! Dan tidak mungkin juga bahwa anak kecil ini dapat bertahan hidup tanpa keajaiban.

Pemimpin Islam saat ini sedang berpikir keras bagaimana menangani cerita ini. Walaupun film "The Passion" tidak beredar di Mesir, namun dengan Mesir sebagai pusat media dan pendidikan di Timur Tengah, Saya yakin bahwa cerita ini akan menyebar lebih luas lagi.

Sumber : Deborah Khalil, MIRACLE IN EGYPT

The New Has Come

Today's Scripture

“Therefore, if anyone is in Christ, he is a new creation; the old has gone, the new has come!” (2 Corinthians 5:17)

Today's Word from Joel and Victoria

As a follower of Christ, you are a new creation! You have a new spirit, a new walk, a new life! Are there “old” things in your life that you are trying to get rid of? Maybe you have old behaviors or addictions that you want to change. Remember, the new has come. It’s a new year and it’s time to be the new you. Let this year be the year you break old habits and addictions. Let this be the year that you move forward into a new life of victory. And your new life includes all the spiritual blessings the Lord has promised in His Word. You have a promise of peace. Health. Protection. Provision. Be encouraged today and know that no matter what is happening in your life right now, you can embrace the new life God has prepared for you. Make the choice today to leave the old behind—leave behind old behavior, old thinking, old words. Embrace the new by faith and you’ll move forward into the life of blessing the Lord has in store for you.

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for making me new. Help me to understand Your plan for me so that I can fully embrace Your promises. I choose today to leave behind the old life and ask that You empower me by Your spirit today. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Expect Good Things

Today's Scripture

“Surely goodness and loving-kindness will follow me all the days of my life…” (Psalm 23:6).

Today's Word from Joel and Victoria

What are you expecting today? Are you expecting to rise higher in life? Are you expecting good breaks? Are you expecting goodness to follow you everywhere you go? If you are expecting to get the short end of the stick, your own wrong thinking will keep you in mediocrity. Remember, God will meet you at the level of your expectations. Pay attention to what you are thinking about and make the choice to believe God for good things. Every day, imagine there are blessings, favor, increase, and promotion in your path. They already have your name on it! It’s just a matter of time before you come across them. Start confessing everyday “Something good is going to happen to me today.” Stand strong when trouble comes, knowing that your best days are ahead. Believe that God’s blessings will overtake you! Expect goodness and mercy to chase you down. If you’ll learn to raise your level of expectancy, God will pour out His blessings and favor on you. You’ll rise to new levels and live the life of victory He has in store.

A Prayer for Today

Heavenly Father, today I expect your goodness and loving-kindness to surround me. I choose to believe that my best days are right out in front of me. Help me stand strong in You so that I can see Your blessing in every area of my life. In Jesus’ Name.

From : Joel Osteen Ministries