Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

07 July 2008

Earthly Treasures

Knowing he would die soon, a rich man had all his assets converted into gold bars, put them in a big bag on his bed, draped his body over the bag of gold, and breathed his last. When he woke up, he was at the gate of Heaven.

Saint Peter met him at the gate and with a concerned look on his face said, "Well, I see you actually managed to get here with something from earth! But unfortunately, you can't bring that in."

"Oh please, sir," said the man. "I must have it. It means everything to me."

"Sorry, my friend," said Saint Peter. "If you want to keep that bag, then I'm afraid you'll have to go to, you know, the other place. You don't want to go there, believe me."

"Well, I won't part with this bag."

"Have it your way," returned Peter.

"But before you go, would you mind if I looked in the bag to see what it is that you're willing to trade eternal life for?"

"Sure," said the man. "You'll see. I could never part with this."

Saint Peter looked in the bag and with a puzzled look on his face said to the man, "You're willing to go to hell for... pavement?"

Where to take it from here... What's coming between you and God? Your money? Your possessions? Your status? Your friends? Your fun? You may be sure that none of it can compare with what God has prepared for you (1 Corinthians 2:9). "What good will it be for a man if he gains the whole world, yet forfeits his soul?" (Matthew 16:26).

Author Unknown

Humor : Bebas Kolekte

Seorang bocah pulang ke rumah sambil makan sebatang coklat. Ibunya ingat bahwa anaknya telah menghabiskan seluruh uang sakunya. Oleh karena itu ia bertanya, ”Dari mana kamu mendapat uang untuk membeli coklat itu?”

“Aku membelinya dengan uang yang ibu berikan kepadaku pagi ini.”

“Namun itu kan uang untuk kolektemu di sekolah Minggu?” jawab ibunya.

“Aku tahu, mam,” kata anak itu, ”tetapi guru sekolah minggu bertemu dengan aku di pintu masuk dan aku tidak perlu membayar uang masuknya.”

Shamilla

Dulu pernah ada teman bertanya padaku, "Seandainya engkau meninggal hari ini kemudian Tuhan bertanya kepada kamu : 'Mengapa Aku harus mengijinkan engkau masuk surgaku?'"

Kira-kira jawabannya? Ada yg menjawab karena aku telah berbuat baik.

Kalau dipikir lagi, perbuatan baik apa yg bisa kita lakukan? Kalau kita berbuat baik untuk mendapat surga, apakah itu berbuat baik? Kalau kita memberi sesorang 500 rupiah untuk mengharap imbalan 1 milyar, apakah itu perbuatan baik?

Kira-kira standar Tuhan masuk surga apa ya, agak baik, setengah baik, atau mutlak baik? Standar Tuhan adalah sempurna, mutlak baik.

Kalau dipikir lagi, bisa nggak ya, manusia ciptaan Tuhan bisa memenuhi standar Tuhan yang sempurna? Sepertinya manusia tidak akan ada yg dapat memenuhi standar Tuhan yang suci dan sempurna itu. Terus bagaimana?

Sebenarnya surga itu diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada manusia. Surga diberikan bukan karena usaha manusia. Tetapi tidak semua manusia mendapatkan surga itu, mengapa? Karena dosa.

Apakah itu 'dosa'? Dosa itu berbuat jahat, ini betul. Tidak berbuat baik itu dosa juga lho. Misal ada anak kecil yg tergelincir, dan kita tidak menolong itu juga dosa. So kalau seperti ini, dosa manusia bisa banyak sekali. Misal ada orang yang baik sekali, karena dia baik sekali maka dosanya hanya 3x sehari.

1 bulan berarti ada 90 dosa, dibulatkan menjadi 100. 1 tahun berati ada 1200 dosa dibulatkan menjadi 1000. Andai umur manusia 70 tahun, berarti ada 70.000 dosa. Sehingga manusia yg baik sekali ada 70.000 dosa, bisa masuk surga nggak ya? Kalau demikian harus ada cara lain supaya manusia bisa selamat dari neraka, dan untunglah ada cara Tuhan.

Apakah sifat Tuhan itu? Tuhan itu maha besar, betul. Tuhan maha adil, betul. Tuhan maha pengasih, betul

Kadang-kadang orang berpikir kasih Tuhan itu seperti seorang kakek kepada cucunya. Cucunya mecahin piring, oh gak apa-apa cu, cucunya merusakkan lemari es, gak apa-apa cu, eh cucu lucu.

Atau kadang-kadang orang berpikir Tuhan itu seperti polisi, sedikit salah menghukum, sedikit salah lagi menghukum.  Sebenarnya Tuhan itu adil dan kasih.

Dulu ada penglima pasukan di Rusia namanya Shamila. Karena pemerintahan kaisar waktu itu sangat otoriter maka dia bersama pasukannya lari ke padang gurun untuk melakukan konsolidasi melawan kaisar.

Karena ada di padang gurun maka semua makanan harus dihemat supaya seluruh pasukan bisa bertahan hidup. Suatu ketika ada laporan bahwa sekarung beras telah hilang Shamila marah, ia memberi peringatan kepada seluruh pasukannya "Siapa yang mencuri beras akan dihukum cambuk 50 kali"

Hari berikutnya ada sekarung beras lagi yang hilang. Shamila sangat marah kemudian dia memerintahkan pasukannya "Siapapun yang mencurinya, tidak peduli pria atau wanita, muda atau tua harus dihukum cambuk 50 kali."

Shamila kemudian memerintahkan pasukan untuk mencari pencurinya. Beberapa saat kemudian anak buahnya datang : "Panglima ada kabar baik, pencurinya sudah ketemu".

Shamila menjawab : "Bagus"

Anak buahnya menjawab lagi : "Tetapi ada berita buruknya, Panglima".

Shamilla menjawab lagi: "Apa itu ?"

Anak buahnya menjawab lagi: "Yang mencuri adalah ibu Panglima". Shamila terdiam, dia bingung, ibunya sudah lanjut usia, kalau diberi hukuman, jangankan 50 kali cambukan, 2 kali cambukan saja ibunya pasti meninggal.

Tapi kalau tidak dihukum, ia tidak adil.

Akhirnya Shamilla berkata : "Keputusan ditunda besok pagi"

Semalaman ia berpikir keras bagaimana mengambil keputusan. Seluruh pasukan juga bingung, ada yg tidak tega kalau ibunya dihukum, ada yg bersikeras yang bersalah harus dihukum.

Akhirnya pagi hari tiba. Seluruh anggota pasukan berkumpul. Semua mata menatap kepada Shamilla menanti keputusan yang akan diambil Shamila maju dan berkata : "Seperti yang sudah ditetapkan yang mencuri beras harus dihukum cambuk 50 kali. Pasukan, bawa pencurinya ke depan".

Kemudian pencurinya yang juga ibunya dibawa ke depan. Shamilla berkata "Segera laksanakan hukum cambuk 50 kali".

Sesaat sebelum algojo menjalankan cambukan yang pertama, Shamilla berkata, "Stop".

Kemudian dia berkata kepada ibunya, "Ibu, aku menyayangi ibu, tapi keadilan harus ditegakkan.Harus ada hukuman untuk suatu pelanggaran."

Tiba tiba ia memeluk ibunya dan berkata, "Ibu, aku menyayangi ibu, aku yang akan menggantikan ibu menerima hukuman ini. Ibu jangan mencuri lagi ya".

Kemudian dia membawa ibunya ke pinggir. Shamilla berkata kepada algojo, "Algojo cambuk aku 50 kali".

Kemudian Shamilla dihukum cambuk 50 kali. Dengan demikian Shamilla sebagai pemimpin mempunyai kasih dan sekaligus menjalankan keadilan.

Itulah yang dilakukan Tuhan kepada manusia. Setiap manusia pasti akan mendapatkan hukuman karena dosanya. Tapi Tuhan tidak tega melihat seluruh manusia binasa, sehingga Tuhan mengorbankan diriNya menanggung dosa manusia. Manusia yang mau menerima penggantian hukuman ini menerima keselamatan.

Setelah Kau Menikahiku Bag. VII

"Selamat ulang tahun, Pit."

Aku terlonjak duduk dan menyalakan lampu. "Idan! Untuk apa kau sepagi ini di kamarku!"

"Memberimu selamat ulang tahun," jawabnya polos. Dan ia bangkit dari kursinya di sisi tempat tidur dan menarikku hingga berdiri.

"Ayo! Aku mau menunjukkan hadiah ulang tahunmu dariku!"

Ia menyeretku ke ruang kerja dan menyuruhku duduk di depan komputerku. Ada dua komputer di ruangan itu, satu milik Idan, yang sarat dengan berbagai programming software yang digunakannya untuk bekerja. Dan satu lagi milikku, lebih sederhana dan tidak secanggih milik Idan. Idan menyalakan komputerku dan duduk di sebelahku dengan mata berbinar. Sambil tersenyum geli, aku mencoba menebak apa yang telah disiapkan Idan untukku. Pisi? Personal website, dengan foto dan lagu? Aku menggeleng dalam hati, Idan tidak cukup romantis untuk itu.

"Kau lihat?"

Idan memotong renunganku.

"Apa?"

"Hadiahku."

Keningku berkerut. Tidak ada yang berbeda dengan tampilan komputer itu. Dengan ragu kuraih mouse dan mengklik tombol Start. Tidak ada yang berubah. Tapi Idan kentara sekali menjadi semakin antusias. Setelah membuka file-file-ku dan sekali lagi tidak menemukan apa pun, aku berpaling kepada Idan dengan ekspresi tak berdaya.

"Kau tidak menemukannya?" tanya Idan, dengan setitik kecewa dalam suaranya. Aku menggeleng.

"Aku menambah memori komputermu," akunya kemudian. Dan melihat raut wajahku yang tak berubah, menambah.

"Komputermu sekarang bisa bekerja lebih cepat."

Aku ingin sekali berbagi kegembiraannya. Ia kelihatan begitu bangga dengan hadiahnya, setidaknya beberapa detik yang lalu, sebelum ia sadar bahwa aku kecewa.

"Oh", hanya itu yang bisa kukatakan. "Terima kasih."

"Kau boleh memelukku kalau mau," katanya tersenyum dan membentangkan kedua tangannya. Kupukul lengannya dan tertawa. Dan pagi itu berlalu seperti hari-hari kemarin.

Di kantor teman-temanku menyambutku dengan ucapan selamat dan senyum pernuh arti. Ketika aku memasuki ruang kerjaku, aku mengerti kenapa mereka tampak seperti menyembunyikan sesuatu. Di meja kerjaku ada sebuah kotak panjang dengan tutup selofan. Setangkai mawar putih. Sesaat jantungku rasanya berhenti berdenyut. Hati-hati kuambil kartu yang menempel pada kotak itu, lupa seketika kepada teman-temanku yang pasti mengawasi lewat kaca ruang kerjaku. Selamat ulang tahun. Masih ingatkah kau kepadaku? Jika ya, aku menunggu di tempat biasa. Mungkinkah?

Aku keluar untuk makan siang lebih awal, mengabaikan godaan teman-temanku yang tak kenal ampun. Pram berjanji akan membahagiakan Puspita. Tapi sayang semuanya sudah terlambat. Dia sudah menikah, sekalipun hanya simulasi. Dalam perjalanan aku kembali memikirkan mawar putih itu. Sejak aku melihatnya, aku tahu kalau itu bukan dari Idan. Idan mustahil bisa seromantis itu. Hanya satu orang yang kutahu pernah dan selalu memberiku mawar putih. Dan ia adalah milik masa lalu yang tak pernah kubayangkan bisa dan akan kembali. Tapi pesan itu? Restoran itu masih seperti yang kukenang. Sederhana dan tidak mencolok di bagian luarnya; tetapi begitu aku masuk, aku menemukan kedamaian dan ketenangan dalam interiornya yang lapang dan asri, dengan kolam-kolam kecil berisi teratai merah jambu dan putih serta suara gemericik air terjun buatan di sepanjang satu dindingnya. Tidak ada yang berubah. Dan meja nomor lima itu masih sedikit di sudut, terhalangi serumpun gelagah. Ketika aku menghampiri meja itu, aku tidak lagi merasa sebagai Puspita yang berusia tiga puluh empat tahun, yang dewasa dan percaya diri, tapi seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun, yang tercabik di antara cinta dan ambisi. Di meja itu harusnya seseorang menantiku, seperti sepuluh tahun yang silam. Sebagian hatiku mengingatkan untuk tidak terlalu berharap. Masa lampau mustahil kembali lagi. Tapi segalanya masih begitu serupa dulu, hingga aku sulit memisahkan kini dan saat itu. Apalagi saat lelaki di meja itu bangkit menyambutku, menggenggam tanganku dan mengucapkan namaku. "Ita," kelembutan suaranya masih seperti yang kuingat. Dan wajahnya, walau mulai sedikit berkerut, masih persis seperti yang kukenang.

"Kau datang."

"Halo, Pram," sapaku sembari duduk di hadapannya, tak melepaskan mataku dari senyumnya. Aku tiba-tiba sadar dengan rasa rindu yang lama tak pernah kugubris, dahaga yang bertahun-tahun tak kuizinkan untuk ada. Perasaanku berkecamuk, galau yang belum pernah lagi kurasakan tentang siapapun juga. Menggelikan sekali kalau seorang perempuan seusiaku masih demikian terguncang karena pertemuan dengan bekas kekasihnya.

"Terima kasih mawarnya," ujarku, sedatar yang mampu kulakukan. Sayangnya getaran di suaraku membeberkan semuanya.

"Kau masih ingat."

"Aku tak bisa lupa, meski mau sekalipun," katanya tersenyum.

"Kapan kau pulang?"

"Tadi pagi."

"Dengan anak istrimu?"

Pram tertawa kecil. "Ini agak memalukan. Tapi aku masih sendiri, Ita."

Jawabannya begitu mengejutkanku hingga sesaat aku tak tahu harus mengatakan apa.

"Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan siapa pun selain denganmu," senyumnya padam dan di matanya bergelora lagi pesona yang pernah dan mungkin masih bisa meluluhkan hatiku. "Sepuluh tahun aku mencari, dan aku tetap tak bisa menemukan penggantimu."

Aku menunduk, bibirku terkatup erat. Sepuluh tahun lalu, di tempat ini juga, ia melamarku, dan aku menolak. Aku tak bisa membiarkan peluang karier yang telah susah payah kurebut tersia-sia begitu saja, bahkan untuk satu-satunya lelaki yang ingin kunikahi. Aku tak bersedia hanya menjadi bayangannya, terperangkap dan layu di negeri asing, walau ia adalah orang yang menguasai separuh jiwaku. Dan ia pergi. Di awal perpisahan surat-suratnya datang dengan teratur, tak satu pun kubalas. Bertahun-tahun ia tetap mengirim kartu ulang tahun dan Lebaran, yang semua kubakar, sampai aku tak lagi peduli, sampai suatu hari tidak ada lagi kartu yang datang. Dan dengan sedih aku harus mengakui bahwa lelaki sesempurna Pram pun suatu ketika akan lupakanku.

"Kau sendiri bagaimana, Ta?"

"Aku sekarang editor senior," jawaban itu terdengar menyedihkan, hampa makna. Apa artinya seuntai jabatan di sisi... cinta? Kesetiaan?

"Selamat!", ia kedengaran tulus, tapi di hatiku kata itu menyakiti.

"Aku selalu yakin kau yang terbaik untuk pekerjaan itu."

"Kau pernah ingin merenggutku dari ini semua," ujarku lirih. Apa jadinya kalau dulu kukatakan "ya"? Sepuluh tahun bersama Pram, seperti apa?", Ia menggeleng.

"Aku hanya memintamu memilih."

Matanya tertambat pada cincin di jari manisku. Suaranya pelan saat ia bertanya, "Kau sudah menikah?"

Aku mengangguk. Ia tertawa kecil, agak gugup . "Siapa?" tanyanya lirih.

"Idan," jawabku kaku.

"Idan? Irdansyah temanmu?"

"Sahabatku."

"Sahabatmu," desahnya.

"Sudah berapa putramu?"

Aku menggeleng. "Belum ada," bisikku.

Pram menatapku lekat. Dua kali ia tampak seolah akan bicara, tapi setiap kali, ia berhenti. Akhirnya, dengan senyum kecil ia mengeluarkan sebuah kotak mungil dari sakunya.

"Aku...," dibukanya kotak itu. "Aku sendiri menganggap diriku gila, karena membawakanmu ini. Tapi, Ta, maaf kalau aku terus-terang seperti ini, di benakku kau masih Ita-ku yang dulu. Aku tahu dalam sepuluh tahun segalanya bisa terjadi dan kau pasti sudah menikah. Tapi...."

Dikeluarkannya sebuah gelang mungil berhias batu-batu semi-mulia. Aku terkesima.

"Aku tahu kau suka perhiasan antik. Ada kenalanku yang membuka toko barang antik di Muenchen. Aku membeli ini darinya," tanpa meminta izinku, ia telah memasangkan gelang itu di tanganku.

"Terima kasih," gumamku terpesona.

"Cantik sekali."

"Kau suka?"

Aku mengangguk. Dan teringat lagi hadiah ulang tahun dari Idan.

"Kau....Sebetulnya kau tidak perlu repot-repot...," suaraku keluar dengan susah payah.

"Sebetulnya aku mau membawakanmu karpet antik yang aku yakin akan membuatmu tergila-gila. Aku sudah membelinya karena itu mengingatkanku padamu. Setiap kali aku berbelanja barang antik aku tak bisa tidak mengingatmu," ia tertawa kecil.

"Tapi aku tidak bisa membawanya ke sini. Bawaanku sudah banyak sekali. Ibuku memesan oleh-oleh untuk semua sanak famili dalam radius dua ratus lima puluh kilometer."

Aku tersenyum kecil. Tapi dalam benakku berkelebat pertanyaan demi pertanyaan. Apakah Idan tahu hadiah seperti apa yang akan membuatku bahagia? Apa ia mengenal selera dan kegemaranku? Aku menggeleng dalam hati. Tidak. Tidak. Pram masih bicara panjang lebar tentang bisnis yang  dilakukannya di Jerman. Aku kembali diingatkan tentang kecerdasan dan  keluasan wawasannya. Apalagi sepuluh tahun berada di negara lain telah menjadikan Pram yang dulu  kukenal lembut dan peka, semakin lapang hati dan terbuka. Kalau ada yang  berubah dalam dirinya, semua itu hanya menjadikannya sempurna. Dan pikiran itu menorehkan nyeri dihatiku. Sudah terlambat, sambatku kepada diri sendiri. Ia bercerita tentang barang-barang antik yang juga jadi salah satu kegemarannya.

"Kalau saja kau bersamaku, Ta," katanya dengan mata berbinar. "Kita bisa menghabiskan waktu mengaduk-aduk Eropa mencari barang antik...."

Ia melihat ekspresi wajahku dan berhenti bicara. "Maaf," katanya sejenak kemudian. "Aku harus kembali ke kantor," gumamku kaku.

"Baiklah. Mau kuantar?"

"Aku ada mobil."

Ia menahan tanganku saat aku hendak berdiri. "Ita, aku tahu semuanya berbeda sekarang. Tapi, kalau kau tidak keberatan, bisakah kita bertemu lagi sekali-sekali selama aku di sini? Aku perlu teman yang bisa mengantarku jalan-jalan mengunjungi galeri dan art shop". Undangan yang sangat menggoda, yang memenuhi benakku serta merta dengan masa lalu dan janji akan sesuatu yang lebih istimewa lagi, kalau saja aku bisa mengucapkan ya. Pram membaca keraguanku dan sesaat sorot matanya meredup.

"Kita bisa jalan-jalan bertiga, kau, Idan dan aku," katanya. "Aku tidak punya banyak teman di sini."

"Aku pikir-pikir dulu," jawabku cepat-cepat, sebelum hatiku dikuasai kehausan untuk berlama-lama dengan Pram.

 

Bersambung ke Bagian VIII

Bersama Yesus

Nats : Siapa saja yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5)

Bacaan : Yohanes 15:1-8

Saat memasuki hari atau minggu yang baru, banyak orang merasa gembira dan bersemangat. Bagi mereka, hari baru adalah kesempatan baru, peluang baru, dan karena itu mereka menyambutnya dengan hati gembira, dengan semangat baru, dan tekad baru. Tetapi bagi sebagian orang yang lain bisa jadi tidak demikian. Hari baru bagai perpanjangan derita hidup yang membawa beban baru, persoalan baru, dan kepahitan baru, sehingga mereka pun merespons hari baru dengan muka masam dan hati galau.

Berada di kelompok manakah Anda saat ini? Apabila Anda termasuk kelompok pertama, puji Tuhan, itu berarti Anda sudah berada "di jalur" yang benar. Berjalanlah terus di sana dan biarlah orang-orang yang ada di sekitar Anda turut merasakan semangat dan kegembiraan hati Anda.

Namun, bisa jadi Anda berada di kelompok kedua. Anda merasa seolah-olah tak sanggup lagi meneruskan hidup ini. Anda sudah kehilangan semangat hidup. Anda enggan. Anda bingung. Anda merasa berat untuk memulai hari dan melanjutkan hidup. Jangan berkecil hati. Yesus mengasihi Anda apa adanya. Di dalam Yesus, Anda masih dapat melakukan banyak hal. Yang Anda butuhkan adalah menyerahkan kembali hidup Anda kepada Tuhan. Naikkan doa sederhana ini, "Yesus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Aku ingin tinggal di dalam-Mu. Sejak hari ini, saya adalah milik-Mu." Dia akan memberikan keteduhan dan kelegaan (Matius 11:28). Sungguh. Dia akan memberikan kekuatan baru, memampukan Anda untuk melangkah tegar, sehingga kita tetap dapat "berbuah" banyak -MNT

TERSENYUMLAH!
YESUS MENGASIHI ANDA

SABDA.org