Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

Showing posts with label Doa. Show all posts
Showing posts with label Doa. Show all posts

28 April 2012

Lima Jari Berdoa

images (1)

JARI JEMPOL

Jari ini adalah yang paling dekat dengan Anda, ketika Anda sedang melipat tangan dan berdoa. Jadi, mulailah berdoa bagi orang-orang yang sangat akrab dan dekat dengan Anda. Sebutkan nama-nama mereka yang Anda kenal dengan baik. Bagi CS. Lewis, mendoakan orang-orang yang kita kasihi adalah "a sweet duty."

JARI TELUNJUK

Jari berikutnya adalah si telunjuk. Doakan bagi mereka yang mengajar. Ini termasuk hamba-hamba Tuhan, guru, dokter, dan para pendidik lainnya. Mereka butuh dukungan dan hikmat, agar dapat menunjukkan arah yang tepat bagi mereka yang membutuhkan jasa mereka. Doakan mereka selalu.

JARI TENGAH

Ini jari yang paling tinggi, berarti kita harus ingat pada para pemimpin bangsa. Doakan presiden hingga para pejabat dibawahnya. Doakan para pemimpin organisasi sosial maupun bisnis. Mereka sering mempengaruhi bangsa kita dan membimbing opini publik. Mereka sangat butuh bantuan dariNya.

JARI MANIS

Jari keempat adalah jari yang paling lemah. Nah, guru piano pun biasanya cukup kebingungan ketika berhadapan dengan si jari yang lemah ini. Oleh sebab itu, mari kita doakan bagi saudara-saudara kita yang lemah, kena musibah, dan lain-lain. Kita doakan bagi mereka yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Mereka sangat membutuhkan doa-doa Anda, baik siang maupun malam. Tapi, bukan cuma doa, lho !

JARI KELINGKING

Jari terakhir ini adalah yang paling kecil diantara jari- jari manusia. Inilah jari yang menggambarkan sikap kita yang seharusnya rendah hati saat berhubungan dengan Tuhan dan sesama. Jadi, jangan lupakan berdoa bagi diri sendiri, agar memiliki buah roh dan meneladani kehidupan Kristus Yesus, Tuhan kita.

Saran saya yang terakhir, Saat Anda berdoa bagi keempat kelompok diatas, Anda harus menaruh kebutuhan pribadi Anda dalam perspektif yang tepat, agar Anda bisa mendoakan diri Anda sendiri dengan lebih efektif lagi."

13 February 2012

Siapakah Tuhan?

Sadar tidak sadar kita sering menjadikan Tuhan sebagai "Tukang ACC" permintaan kita.

"Tuhan, aku mau ini, tolong ya Tuhan kabulkan, please, aku mohon, please."

"Tuhan, aku suka dia, tolong satukan kami, jauhkan dia dari si pengganggu itu."

"Tuhan aku mau kuliah di sini, tolong Tuhan buat supaya aku bisa diterima."

Bahkan kadang kita suka "mendikte" Tuhan...

"Tuhan, kalau memang ini kehendak-Mu, biarlah terjadi ini dan ini..."

Pertanyaannya, who is the God anyway?

Kalau ditanya begitu jawaban kita jelas dan langsung, "Dia." (sambil menunjuk ke atas). Tapi kenapa sikap kita sering kali bertentangan dengan jawaban kita.

Tidak ada yang salah dengan meminta sesuatu kepada Tuhan. Itu sesuatu yang normal. Tapi kita harus ingat bahwa Dia adalah Allah Yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, penguasa alam semesta. Kita sudah diberi kesempatan untuk meminta apa saja dari Dia, itu sudah luar biasa. Jangan sampai kita memaksa Dia mengabulkan apa yang kita minta. Tetapi berhati-hatilah dengan cara kita meminta.

Mintalah dengan kesadaran bahwa Dia adalah Allah yang berkuasa. Artinya: berhak mengabulkan atau menolak permintaan kita.

Ikutilah teladan Yesus waktu Dia berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39)

1. Dia tahu kepada siapa Dia harus meminta, kepada Bapa-Nya, Bapa kita juga.

2. Dia meminta sesuatu kepada Bapa-Nya. Sesuatu yang jadi keinginan-Nya.

3. Tapi Dia mengakhiri doa-Nya dengan menyerahkan keputusan akhirnya pada Bapa.

Kita bisa selalu minta apa saja kepada Tuhan, tetapi akhirilah selalu dengan: "tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

15 December 2011

Berdoa Dalam Kehendak Tuhan

Ketika melintasi Samudera Atlantik di atas kapal pesiar besar, pendeta F.B. Meyer diminta untuk berkhotbah di hadapan para penumpang kelas satu. Atas permintaan kapten kapal, ia berbicara dengan topik “Doa yang Dijawab“.

Seorang agnostik yang juga berada di antara penumpang kelas satu itu telah ditanya oleh teman-temannya, “Apa pendapatmu tentang khotbah Dr. Meyer itu?”

Ia menjawab, “Aku sama sekali tidak percaya sedikitpun!”

Di sore harinya, Meyerpun berbicara kepada penumpang kelas geladak. Di antara pendengar pada pagi hari, banyak yang hadir pula pada pertemuan sore hari itu, termasuk orang agnostik itu, dengan alasan ingin mendengar “apa saja yang dikatakan orang cerewet ini”.

Sebelum ibadah dimulai, orang agnostik itu membawa dua buah jeruk dalam sakunya. Dalam perjalanannya ke tempat ibadah, ia melewati seorang perempuan paruh baya yang sedang berbaring di kursi geladak sambil tertidur dengan nyenyaknya. Dengan spontan, orang itu meletakkan dua buah jeruk itu ke tangan perempuan itu yang sedang terbuka.

Setelah kebaktian usai, ia melihat perempuan itu dengan senang sedang memakan sebuah jeruk yang dia berikan sebelumnya.

“Agaknya, Anda sedang menikmati buah jeruk itu”, katanya dengan tersenyum.

“Benar, pak”, jawab perempuan itu. “Bapaku amat sayang kepadaku”

“Bapamu? Aku tahu dengan pasti bahwa ayah Anda sudah meninggal!”

“Puji Tuhan”, jawab perempuan itu, “Ia sungguh hidup”

“Apa yang Anda maksudkan?”, tanya orang agnostic itu.

Perempuan itu menjelaskan, “Anda tahu, aku selama beberapa hari ini mabuk laut. Aku telah memohon kepada Tuhan, entah dengan cara bagaimana mengirimiku jeruk. Agaknya aku baru saja tertidur ketika aku sedang berdoa. Ketika aku terbangun, aku menemukan bahwa Tuhan bukan mengirim sebuah jeruk, melainkan dua buah!” Orang agnostik itu tercengang dan tak dapat berkata-kata.

Kemudian orang itu bertobat dan menjadi orang percaya.

“Ya, berdoa dalam kehendak-Nya benar-benar dijawab!”

Our Daily Bread

08 November 2011

Ya, Tuhan ...

Saat ini aku menemukan persimpangan di hadapanku.
Aku tidak tahu harus memilih yang mana.
Hatiku penuh keraguan, akalku sulit untuk berpikir jernih.
Jiwaku gelisah, aku tidak mau salah memilih.
Aku mau berseru kepada-Mu seperti pemazmur berdoa,
“Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh,
sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.”

Aku tahu, bahwa ketika aku berusaha memilih persimpangan
tanpa hikmat-Mu, aku akan keluar jalur.
Terima kasih karena ketika aku menjadi lemah
dan tersandung karena keraguan atau salah pertimbangan,
mujizat-Mu menolongku bangkit lagi dan terus melangkah.

Meskipun aku tidak dapat melihat ke mana sebenarnya tujuanku,
aku yakin bahwa Kau dapat dan akan memampukanku
untuk sampai ke tempat yang telah Engkau persiapkan bagiku.
Aku tidak boleh ragu terhadap kesetiaan dan kehendak-Mu.

Terima kasih Tuhan,
karena Kau mengajarku cara untuk
bergantung sepenuhnya kepada-Mu,
karena aku tahu di sana sudah tersedia
berkat yang terbesar bagiku.

Dalam nama Yesus aku berdoa,
Amin.

27 October 2011

Bapa Surgawi

securedownload

Terima Kasih untuk semua anugerah-Mu
dalam kehidupanku
Terima kasih untuk kasih-Mu yang tanpa batas bagiku,
keluargaku dan orang orang di sekitarku.
Terima Kasih menjadikan aku sebagai
alasan Engkau memberkati
lingkunganku,
pekerjaanku dan komunitasku.

Tahirkan lidah, mulut dan bibirku
sehingga hanya kata kata berkat dan Firman-Mu saja yang bisa aku katakan
Tahirkan mataku sehingga hanya hal hal yang daripadaMu saja yang aku lihat,
untuk pertumbuhan imanku
Tahirkan telingaku sehingga hanya kebenaranMu yang
aku dengar dan perdengarkan
Berkatilah aku,   pasangan hidupku,
anak-anakku, semua  keluargaku,
rumahku,  pekerjaanku serta
teman2ku.  Jadikanlah kami  perpanjangan hati
dan tanganMU.

Terima Kasih Bapa untuk semuanya
Dalam nama TUHAN  YESUS  aku
berdoa.

AMIN....

Kirimkan ke 10  orang pilihanmu, jangan sampe putus ditanganmu.  
GBU

PS: karena anda  telah berdoa dan mengajak orang2 berdoa

10 October 2011

Terima Kasih Tuhan Yesus

Tuhan Yesus,
Terima kasih jika sampai hari ini

ENGKAU masih memberikan kami pekerjaan.
ENGKAU mengerti akan kebutuhan hidup kami,
dan mencukupkannya melalui berkat - berkat

yang KAU curahkan kepada kami melalui berbagai caraMU,
baik dari gaji yang kami terima

atas pekerjaan yang kami lakukan,

ataupun melalui persembahan kasih dari sesama.
Ajarlah kami Tuhan 'tuk bersyukur

atas semua yang telah KAU berikan ini.
Ingatkan kami juga Tuhan,
untuk dapat menempatkan prioritas hidup kami secara benar,

dan membagi waktu secara seimbang
antara keluarga, pekerjaan, pelayanan,
rekreasi, sosialisasi dengan sesama,

dan berbagai aktifitas lainnya.
Jangan sampai kami menempatkan pekerjaan kami
di atas segalanya, mengejar kekayaan secara berlebihan
dengan mengorbankan hubungan pribadi kami dengan ENGKAU,
dengan keluarga dan sesama.

Kami tidak ingin seperti perumpamaan

yang KAU ajarkan kepada murid - muridMU,

menjadi orang kaya yang mati  sia - sia menumpuk harta.
Bimbinglah kami 'tuk belajar menerapkan
doa Bapa Kami yang KAU ajarkan yaitu
"berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya",

sehingga kami puas dan bersyukur
atas rejeki yang telah KAU berikan,

tanpa menjadi iri terhadap orang lain

yang secara materi lebih baik dari kami,

ataupun tidak menjadi kuatir akan hari esok,

karena ENGKAU akan senantiasa memelihara hidup kami

sebagaimana burung - burung di udara

dan bunga di padang KAU pelihara.
Arahkanlah hidup kami

'tuk terfokus kepada mencari kekayaan rohani,

semakin dekat kepadaMU,
lebih mengasihiMU dan sesama kami.
Terima kasih Tuhan Yesus,
kepadaMUlah kami naikkan doa kami ini.

Amin

05 July 2010

Semuanya Terjadi Karena Suatu Alasan

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington.

Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku. Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat. Saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku.

Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center. Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan
ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam? Aku berpaling pada ayahku. Katanya,"Semua terjadi karena suatu alasan."

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang, lalu aku teringat kata-kata ayahku, "Semua terjadi karena suatu alasan."

Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang. Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara :
1. Apabila Tuhan mengatakan YA. Maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta
2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK. Maka kita akan mendapatkan yang lebih baik
3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU. Maka kita akan mendapatkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak NYA

18 May 2010

Sulaman Benang Ruwet

Shalom,

Sobat... kadang kita mengalami hari dimana semuanya seperti kelam karena ada begitu banyak masalah yang kita hadapi. Pernahkan mengalaminya?

Hari ini saya mau bagi satu kisah yang menarik... met membaca ya.

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu diatas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang aku lihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut. “Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, engkau akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”

Aku heran mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara ibu memanggil, “Anakku, mari kesini dan duduklah di pangkuan ibu”.

Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata, “Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas engkau dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan”.

Sobat… Sering selama bertahun-tahun, kita melihat ke atas dan bertanya kepada Tuhan, “Bapa, apa yang Engkau lakukan?”.

Ia menjawab, “Aku sedang menyulam kehidupanmu”.

Dan aku membantah, “Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah”.

Kemudian Tuhan menjawab, “Kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu, satu saat nanti aku akan memanggilmu ke surga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlahFirman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.

Amin…

24 March 2010

Mengampuni

Pada hari Minggu pagi tanggal 8 November 1987 seorang pria Irlandia, Gordon Wilson, bersama putrinya yang berusia 28 tahun, Marie, pergi menonton pawai di kota Enniskillen di Irlandia Utara. Ketika mereka berdiri di samping sebuah dinding batu sembari menantikan kesatuan prajurit dan polisi Inggeris berbaris melewati mereka, sebuah bom dari teroris IRA (Irish Republican Army) meledak di belakang mereka.

Enam orang tewas seketika karena ledakan itu. Gordon dan putrinya terkubur beberapa meter di bawah tumpukan batu.  Gordon merasakan bahu dan lengannya terluka, tetapi ia tidak dapat bergerak. Kemudian, ia merasakan ada seseorang menyentuh jari-jarinya.

Ini Ayah, kan?” bisik Marie.

“Betul, Marie,” sahut ayahnya.

Gordon mendengar suara-suara samar orang-orang yang berteriak kesakitan, kemudian suara yang jauh lebih jelas, yakni teriakan maria. Ia meramas tangan putrinya kuat-kuat sambil berkali-kali bertanya apakah ia baik-baik saja. Di antara jerit kesakitannya, Marie berkali-kali meyakinkan ayahnya bahwa ia baik-baik saja.

”Ayah, aku sangat mengasihi Ayah,” itulah kata-kata terakhir putrinya yang didengar Gordon.  Empat jam kemudian, setelah mereka akhirnya diselamatkan, Marie meninggal dunia di rumah sakit karena mengalami kerusakan parah di otak dan tulang belakang.

Selanjutnya siang itu, seorang wartawan BBC ingin mewawancarai Gordon. Setelah ia menggambarkan apa yang sedang terjadi, wartawan itu bertanya kepada Gordon, ”Bagaimana perasaan anda terhadap orang yang memasang bom itu?”

Jawabannya sangat mengejutkan. ”Saya tidak membenci mereka,” sahut Gordon. ”Saya tidak dendam kepada mereka. Kata-kata yang sengit tidak akan menghidupakan Marie Wilson kembali. Saya akan berdoa malam ini dan setiap malam agar Allah mengampuni mereka.” Sebagian orang menduga bahwa pernyataan itulah yang akhirnya menenangkan kelompok-kelompok militer yang sebelumnya sangat marah terhadap pengeboman itu, dan hal itu mencegah terjadinya suatu serangan balasan yang berdarah.

Pada bulan berikutnya, banyak orang bertanya kepada Gordon yang pada akhirnya menjadi senator Republik Irlandia tentang bagaimana ia dapat mengampuni tindakan kejam yang didasari kebencian tersebut.

“Hati saya terluka,” ujar Gordon. “Saya telah kehilangan putri saya, tetapi saya tidak marah. Kata-kata terakhir Marie kepada saya, kata-kata kasih, menumbuhkan kasih saya.  Saya menerima anugerah Allah untuk mengampuni melalui kekuatan kasihNya bagi saya.Selama bertahun-tahun setelah tragedi yang merengut nyawa putrinya dan yang juga nyaris merengut nyawanya sendiri itu, Gordon Wilson bekerja tanpa mengenal lelah untuk memperjuangkan kedamaian dan rekonsiliasi di Irlandia Utara sampai akhir hayatnya.

Inspirasi

Gordon Wilson telah mengalami anugerah Allah, kasih dan pengampunanNya yang melingkupi segalanya. Manakala anugerah menyentuh kehidupan kita, maka kita merasa diampuni dan dibebaskan dari belenggu pada bagian terpenting dalam kehidupan kita, dan kita pun mendapatkan anugerah untuk mengampuni orang lain. Anugerah dan pengampunan semacam itu dapat membawa kedamaian di mana ada perselisihan, membawa pemulihan di mana ada keputusasaan. Anugerah semacam itu dapat mengubah kehidupan kita dan kehidupan orang-orang di sekeliling kita, bahkan mereka yang melukai hati kita untuk selama-lamanya.

”Mengampuni dengan alasan apa pun bukanlah bentuk dari kemurahan kristiani, melainkan keadilan semata.  Menjadi seorang kristiani berarti harus mengampuni hal yang tak terampuni, karena Allah telah mengampuni hal yang tak terampuni dalam diri Anda”. - C.S LEWIS

”Sebab itu, sebagai anak-anak yang terkasih, teladanilah Allah dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah.” - Epesus 5: 1

Sumber: Buletin BAIT Edisi 73.

Dikirim oleh : Widodo Gunawan

01 February 2010

Hiduplah Dengan Suatu Sikap Iman

Apakah SITUASI & KEADAAN menjadikan Anda tidak adil atau bermasalah pada hari-hari yang lalu maupun sampai hari ini juga?

Mulailah katakan, "Bapa, aku bersyukur kepada-Mu karena kasih karunia-Mu yang sedang turun ke atasku dalam suatu cara yang baru, dan semua itu akan mengubah keadaan ini. KEMURAHAN-MU ya TUHAN akan menjadikan keadaan ini mengubah kehidupanku dengan baik."

Demikian juga jika Anda sedang bergumul secara Finansial, katakan segera kepada-Nya, "Bapa, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau sedang menjadikan aku berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat. Engkau sedang membawa kesempatan-kesempat an finansial yang luar biasa kepadaku."

Semua ini harus Anda jalankan dan hidup dengan SIKAP IMAN, seperti orang-orang kudus di zaman Kuno, sehingga Kasih Karunia Tuhan akan segera tampak, dan akan mengubah demi Keberuntungan Anda dan menjadikan Anda "BERKELIMPAHAN".

Kita boleh mengambil pelajaran tentang AYUB. Ia mengalami salah satu dari masa-masa paling sukar dan paling pahit yang dapat ditanggung oleh manusia, Dalam kurun waktu kurang dari setahun ia kehilangan segala-galanya; kehilangan keluarga, bisnisnya serta kesehatannya. Diseluruh tubuhnya timbul bisul, tak ayal lagi ia hidup dalam keadaan sakit yang tak berkeputusan!

Tetapi ditengah-tengah masa-masa GELAP itu, Ayub menengadah ke langit dan berkata, "Tuhan, hidup dan kasih setia-Mu, Kau karuniakan kepadaku, aku tidak peduli bagaimanapun KEADAANKU. Aku tidak peduli seberapa buruk PERASAANKU. Sebab aku tahu, Engkau adalah Tuhan yang baik dan pemurah, kemurahan-Mu akan mengubah KEADAAN ini."

Apakah kita akan menjadi terheran-heran, jika Tuhan mengembalikan kepada Ayub dua kali lipat apa yang ia miliki sebelumnya atau apakah mengherankan jika musuh-musuhnya tidak dapat menang atasnya?

Sungguh! Inilah pernyataan sikap IMAN YANG SEJATI, maka jika Anda dapat belajar tetap dalam SIKAP IMAN, dan dalam saat-saat paling gelap yang menimpa Anda, dengan tegas Anda menyatakan belas kasihan Tuhan, tidak ada yang akan sanggup mengalahkan Anda!!!

Anda mungkin ada dalam keadaan yang tampak mustahil hari ini, tetapi jangan remehkan BELAS KASIHAN TUHAN. Karena hanya dengan "SATU JAMAHAN SAJA" maka "BELAS KASIHAN TUHAN" dapat dengan segera MENGUBAH segala sesuatu dalam kehidupan Anda!

Alkitab mengatakan, "Berharaplah terus sampai akhirnya Belas Kasihan Ilahi" yang sedang datang segera memenuhi Anda." Dengan kata lain, "JANGAN MENYERAH." Teruslah PERCAYA, TERUSLAH BERHARAP, MENGUCAP SYUKUR DAN NYATAKAN ITU/CLAIM IT!

Teruslah hidup dengan cara berpikir yang berkenan bagi Tuhan, maka janji-janji Tuhan akan segera datang kepada Anda. Jagalah harapan Anda pada Tuhan sebab Tuhan mengatakan, "Belas Kasihan Ilahi" sedang datang kepada Anda. Anda mungkin tidak sanggup melihatnya sekarang, segala sesuatunya mungkin tidak tampak jelas dalam dunia fisik ini, tetapi Anda harus tetap terus mengharapkan dan menyatakannya sehingga akan tampak Belas Kasihan Tuhan. Teruslah berharap dan katakan, "Tuhan, aku tahu bahwa "Kemurahan-Mu" sedang mendatangiku."

Pada tahun 1996, ada pertandingan Golf PRO-AM (Profesional- Amatir) di Golfcourse MATOA-Ciganjur, Jakarta- Indonesia, aku ikut berpartisipasi dalam tournamen tersebut. Pada Hole 12 Par 3 dengan jarak 160 Yards disediakan hadiah untuk yang "Hole In One". Jika seseorang dapat memasukan bola golf kedalam lobang itu dengan hanya sekali pukul, maka ia akan mendapatkan hadiah besar. Sesungguhnya hal ini adalah sangat mustahil, sebab dengan jarak 160 Yards, seseorang tentu sangat sulit dapat memukul bola golf kedalam lobang tersebut.

Pada saat giliranku memukul bola di Par 3, Hole 12 itu, aku tetap yakin dengan IMAN sesuai dengan Firman Tuhan dalam Alkitab yang mengatakan, "Kita tidak akan mendapat karena kita tidak meminta. Jadi berusahalah."

Ketika aku sudah siap memukul bola dari Tee-Box.

Aku berkata, "Tuhan, ini hole 12, ada hadiahnya lho Tuhan, sebuah mobil BMW. Tolong dong aku, Tuhan, bantulah memasukan bola ini kedalam lobang tersebut." Tanpa disengaja tahu2 stick golfku memukul bola tersebut dengan tiba-tiba. Dan aku berteriak, "Lho, kok aku belum siap memukul tahu-tahu sudah memukul, kenapa?. Tapi teman-teman Pairing (pasangan satu flight, 4 orang) mengatakan, bolanya lurus, bolanya lurus dan tahu-tahu masuk kedalam lobang! Semua orang-orang dilapangan golf tersebut berteriak keras, "Hole In One, Hole In One, Hole In One!" mereka berteriak berkali-kali! Maka hadiah akbar berupa sedan mobil merk "BMW" pun berada di tanganku.

Teman2, sahabat, sanak famili & handai tolan, itulah Kasih Karunia Tuhan. Jangan pernah menyerah demi Tuhan. Alkitab katakan, "Jika engkau mau BERHARAP TERUS sampai pada akhirnya, maka Kasih Karunia Tuhan akan datang kepadmu". Mintalah dan berharaplah terus, sebab Anda mempunyai keuntungan dalam kehidupan ini, Anda mempunyai harapan dan keistimewaan, Anda mempunyai Kasih Karunia Tuhan !

Alkitab katakan :
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. - Matius 7:7-8

29 January 2010

Waktu Teduh

Apa Itu Waktu Teduh
Waktu teduh adalah waktu dimana kita menjalin relasi pribadi dengan Tuhan, saat kita menghayati dan mengalami kembali kehadiran-Nya secara pribadi. Di sana kita tunduk luruh dalam keagungan kasih-Nya, bertelut dalam kebesaran kuasa-Nya. Bayangkan, seorang anak yang bersimpuh di hadapan ayah yang sangat mengasihi dan dikasihinya. Seperti itulah kita dalam melakukan waktu teduh. Kita “berbicara” kepada Bapa, bersyukur, memohon, mengucapkan segala isi hati. Sekaligus kita membuka diri untuk “mendengarkan suara-Nya”, menerima penghiburan dan tuntutan-Nya, nasihat dan teguran-Nya, sehingga kita pun dapat menjalani hari-hari kita dengan lebih baik dan lebih bermakna.

Kata “teduh” sendiri tidak semata merujuk pada suasana di luar diri, suasana yang hening, jauh dari kebisingan dan gangguan, sekalipun itu juga penting. Akan tetapi, jauh lebih penting keteduhan di dalam diri.Suasana tenang diluar hanyalah sarana untuk mencapai keteduhan di dalam diri.

Bisa diumpamakan begini : kita tengah berlari di sebuah taman. Kita terus berlari dan berlari. Lalu ada saatnya sejenak kita berhenti, menariknapas panjang, membiarkan semilir angin sejuk menerpa wajah, merasakan kedamaian suasana sekitar.  Tenang. Teduh, sehingga kelegaan melingkupi jiwa kita.

Atau, bisa juga diumpamakan seperti cerita ini : Seorang pemuda tengah memotong kayu dengan kapak.Dari pagi hingga siang hari ia terus bekerja. Tanpa jeda. Tanpa waktu untuk sejenak beristirahat. Ia harus mengejar target. Seorang tua yang  melihat itu menghampiri. “Anak Muda, kapakmu sudah  tumpul,” katanya. “Berhentilah sejenak untuk mengasahnya.”

Seperti itulah waktu teduh. Jiwa kita pun akan “tumpul” apabila terus menerus digedor dan digelontor dengan kesibukan dan hiruk pikuk rutinitas sehari-hari. Kita perlu sejenak mengambil “jarak” dari segala kegaduhan itu dengan bersaat teduh, menutup mata, menutup telinga. Sambil kita membuka hati kepada Tuhan, menghayati kehadiran-Nya, membiarkan Dia menyapa melalui cara-Nya.

Jadi, waktu teduh adalah kebutuhan kita, sebagaimana tubuh jasmani kita membutuhkan makan dan minum, seperti itulah tubuh rohani kita membutuhkan waktu teduh. Karenanya, waktu teduh perlu kita jalani dengan rasa suka dan syukur, bukan dengan terpaksa, apalagi sekedar kewajiban.

Teladan Tuhan Yesus
Tuhan Yesus juga tidak lepas melakukan waktu teduh. Di tengah segala kesibukan-Nya melayani orang banyak, Dia selalu menyediakan diri untuk “mengasingkan” diri, “berteduh” bersama Sang Bapa (Matius 14:13, Markus 1:35, Lukas 5:16).

Dua momen terpenting dalam “masa bakti-Nya” di dunia, Dia lalui dalam persekutuan pribadi dengan Sang Bapa. Pertama, di Taman Getsemani (Matius 26:36-46), saat via dolorosa (jalan penderitaan) sudah diambang mata.

Secara manusiawi, Dia sungguh layak merasa takut dan gentar. Betapa tidak? Derita hebat tidak terperi tengah menanti-Nya, seolah siap “melumat” tubuh ringkih-Nya yang teramat sangat, berubah menjadi penyerahan diri seutuhnya. “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”, demikian Dia berkata.

Kedua, di Padang Gurun (Matius 4:1-11). Saat “panggilan hidup” menyelamatkan dan memenangkan manusia, membentang di depan mata. Sebuah tugas “mahaberat” dan mahal pula harganya. Di padang gurun nan sunyi, dalam persekutuan pribadi dengan Sang Bapa, Dia bersiap diri, meneguhkan hati, menata langkah guna mewujudkan visi dan misi yang mesti diemban-Nya. Dan, disana Dia juga lulus dengan predikat summacum laude dari jerat si Penggoda licik, yang dimasa lalu berhasil membuat Adam dan Hawa jatuh bertekuk lutut.

Tentang kisah pencobaan di padang gurun ini, ada pendapat bahwa itu pengalaman rohaniah. Sebab tidak ada gunung yang demikian tinggi hingga orang bisa melihat seluruh kerajaan dunia (ayat 8). Jadi, pastilah itu merupakan pencobaan rohaniah, yang munculnya bisa melalui angan-angan atau pikiran manusiawi. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa itu pengalaman lahiriah. Sebab di antara Yerusalem dan Laut Mati memang terdapat sebuah gurun pasir, yang dalam Perjanjian Lama disebut Yeshimmon, artinya Pembinasaan. Disebut demikian karena tempatnya sangat “mengerikan”, tanahnya coklat berkapur, tandus, berbatu terjal dan berlereng curam, ditambah udara panas yang menyengat. Disanalah Tuhan Yesus menyediri.

Kita dapat menerima kisah ini dari kedua sudut itu, pengalaman lahiriah maupun batiniah, bahwa perjuangan-Nya bukan fisik semata, melainkan juga batin. Kisah pencobaan di padang gurun ini juga menunjukkan, bahwa persekutuan pribadi dengan Sang Bapa adalah titik awal kiprah-Nya di dunia. Selanjutnya, Dia menjalani panggilan hidup-Nya dengan taat dan rela, dari awal hingga akhirnya.

Oleh : Ayub Yahya, Renungan Harian Edisi Januari 2010

14 January 2010

Berdoa Sampai Sesuatu Terjadi

Seorang laki-laki sedang tidur di pondoknya ketika kamarnya tiba-tiba menjadi terang, dan nampaklah Sang Juruselamat. Tuhan berkata padanya bahwa ada pekerjaan yang harus dilakukannya. Lalu Tuhan menunjukkan padanya sebua batu besar di depan pondoknya. Tuhan menjelaskan bahwa ia harus mendorong batu itu dengan seluruh kekuatannya.

Hal ini dikerjakan laki-laki itu setiap hari. Bertahun- tahun ia bekerja sejak matahari terbit sampai terbenam, pundaknya sering menjadi kaku menahan dingin, ia kelelahan karena mendorong dengan seluruh kemampuannya. Setiap malam laki-laki itu kembali ke kamarnya dengan sedih dan cemas, merasa bahwa sepanjang harinya kosong dan tersia-sia.

Ketika laki-laki itu mulai putus asa, si Iblispun mulai mengambil bagian untuk mengacaukan pikirannya "Sekian lama kau telah mendorong batu itu tetapi batu itu tidak bergeming. Apa kau ingin bunuh diri? Kau tidak akan pernah bisa memindahkannnya."

Lalu, ditunjukkannya pada laki-laki itu bahwa tugas itu sangat tidak masuk akal dan salah. Pikiran tersebut kemudian membuat laki-laki itu putus asa dan patah semangat.

"Mengapa aku harus bunuh diri seperti ini?" pikirnya.  "Aku akan menyisihkan waktuku, dengan sedikit usaha, dan itu akan cukup baik."

Dan itulah yang direncanakan, sampai suatu hari diputuskannya untuk berdoa dan membawa pikiran yang mengganggu itu kepada Tuhan.

"Tuhan," katanya "Aku telah bekerja keras sekian lama dan melayaniMu, dengan segenap kekuatanku melakukan apa yang Kau inginkan. Tetapi sampai sekarang aku tidak dapat menggerakkan batu itu setengah milimeterpun. Mengapa? Mengapa aku gagal?"

Tuhan mendengarnya dengan penuh perhatian, "Sahabatku, ketika aku memintamu untuk melayaniKu dan kau menyanggupi, Aku berkata bahwa tugasmu adalah mendorong batu itu dengan seluruh kekuatanmu seperti yang telah kau lakukan. Tapi tidak sekalipun Aku berkata bahwa kau mesti menggesernya. Tugasmu hanyalah mendorong. Dan kini kau datang padaKu dengan tenaga terkuras, berpikir bahwa kau telah gagal. tetapi apakah benar? Lihatlah dirimu. Lenganmu kuat dan berotot, punggungmu tegap dan coklat, tanganmu keras karena tekanan terus- menerus, dan kakimu menjadi gempal dan kuat. Sebaliknya kau telah bertumbuh banyak dan kini kemampuanmu melebihi sebelumnya. Meski kau belum menggeser batu itu. Tetapi panggilanmu adalah menurut dan mendorong dan belajar untuk setia dan percaya akan hikmatKu. Ini yang kau telah selesaikan. Aku, sahabatku, sekarang akan memindahkan batu itu."

Terkadang, ketika kita mendengar suara Tuhan, kita cenderung menggunakan pikiran kita untuk menganalisa keinginanNya, sesungguhnya apa yang Tuhan inginkan adalah hal-hal yang sangat sederhana agar menuruti dan setia kepadaNya....

Dengan kata lain, berlatih menggeser gunung-gunung, tetapi kita tahu bahwa Tuhan selalu ada dan Dialah yang dapat memindahkannya. Ketika segalah sesuatu kelihatan keliru.... lakukan P.U.S.H. (PUSH = dorong) Ketika pekerjaanmu mulai menurun.... lakukan P.U.S.H.

Ketika orang-orang tidak berlaku seperti yang semestinya mereka lakukan....
lakukan P.U.S.H.

Ketika uangmu seperti "lenyap" dan tagihan-tagihan mulai harus dibayar....
lakukan P.U.S.H.

P. Pray
U. Until
S. Something
H. Happens

PUSH = Pray Until Something HAPPENS !! (Berdoalah sampai sesuatu terjadi)

01 January 2010

Tolong Ajarkan Saya Doa, Ya Tuhan

Saya ingin tahu bagaimana berdoa dengan tepat.

Saya butuh beberapa kata-kata, mana yang benar?

Tolong beritahu saya apa yang harus dikatakan.

Saya harus menundukkan kepala, saya harus berlutut atau saya harus berdiri tegak?

Saya harus menutup mata saya, saya harus mengangkat tangan saya, atau haruskah saya melipat tangan?

Apakah saya harus berdiri? Atau harus duduk?

Ya Tuhan ... manakah yang Kau sukai?

Apakah lampu harus dinyalakan? Atau dimatikan?

Mungkin pakai lilin?

Apakah saya harus berbisik atau berteriak?

Apakah saya harus mengutip dari firman Tuhan?

Bagaimana dengan masalah waktu?

Apakah Kau lebih suka fajar?

Apakah saya harus berdoa dengan cepat atau lambat?

Lebih baik pendek ... atau panjang?

Saya masih baru dengan ini, bagaimana aturannya Tuhan?

Saya ingin melakukannya dengan benar.

Bagaimana saya tahu Kau mendengarkan.

Dan memandang saya?

27 October 2009

Apa Yang Tuhan Kehendaki

Apakah anda ingin mendapatkan apa yang anda kehendaki, bila anda merindukannya?
Apakah anda berdoa dan menanti dengan segera suatu jawaban?
Dan bila tidak memperoleh suatu jawaban secara langsung,
Apakah anda merasa dilupakan oleh Tuhan?

+++

Nah, doa yang dilakukan dengan cara ini
Sebenarnya sama sekali bukan doa,
Karena anda tak dapat datang kepada Tuhan dengan tergesa-gesa
Dan kemudian berharap mendapat jawaban akan doa anda dengan segera

+++

Doa bukanlah dimaksudkan untuk memperoleh
Keinginan kita yang bersifat egois,
Karena Tuhan dalam kearifan-Nya menolak
Hal-hal yang kita inginkan secara salah

+++

Dan janganlah berdoa untuk bebas dari masalah
Atau berdoa agar kiranya pencobaan dalam hidup kita dapat kita lewati,
Sebaliknya berdoalah untuk mendapatkan kekuatan dan keberanian
Dalam menghadapi saat-saat yang tergelap dan tidak menangis…
Bila Tuhan tidak ada di sana, ketika anda memanggilNya,
Dan seakan-akan menutup telinga menghadapi doa anda
Dan justru saat anda benar-benar memerlukan-Nya
Ia seakan-akan meninggalkan anda dalam keputus asaan

+++

Sadarlah! Anda sama sekali tak mengerti akan
Alasan dan tujuan dari doa.
Yang benar adalah agar kita tetap bahagia bahwa
Tuhan senantiasa mendekap kita dengan aman

+++

Dan Tuhan hanya menjawab permohonan kita
Bila Ia tahu, bahwa apa yang kita inginkan adalah untuk memenuhi suatu kebutuhan,
Dan bila selalu kehendakku menjadi kehendakNya
Maka tidak ada doa yang Tuhan tidak pedulikan.

03 September 2009

Doa Yang Membangkitkan

"Tante.. pegangin minuman Axel ya, soalnya Axel mau berdoa untuk mama supaya mama cepat sembuh dan boleh pulang sama Axel", begitulah tutur seorang anak laki-laki sederhana yang berumur 4-5 tahun. Setelah dirawat satu malam di rumah sakit Husada di Jakarta karena pendarahan yang dialami mamanya Axel yang sedang mengandung 5 bulan, diperbolehkan untuk beristirahat di rumah.

Beberapa hari kemudian, mama Axel merasa sakit di perutnya, seketika itu juga dilarikan ke rumah sakit tempat dia dirawat kemarin. Beberapa kali terjadi kontraksi dan sesaat kemudian lahirlah seorang bayi berumur lima bulan dalam kandungan yang sangat mungil sebesar botol Aqua ukuran sedang pada tanggal 7 Juli 2004.

"Pak, 99,9 persen tidak ada harapan lagi, bagaimana nih? Apa masih mau diteruskan?", kata salah satu suster yang menangani.

"Biar hanya tinggal 1 persen sekalipun, anak saya harus terus hidup", jawab papanya Axel.

Cukup menggemparkan memang berita ini sehingga kerabat dari papa dan mamanya Axel langsung datang menjenguk. Banyak air mata yang mengalir pada setiap orang yang datang menjenguk, terlihat hati yang hancur, kesedihan yang terlalu dalam dan perasaan pasrah pada Tuhan dikedua raut muka orangtua Axel.

"Mama.. Axel udah lihat dede, kok dia kecil sekali ya ma? Tapi Axel sayang dede. Mama.. kita pulang bawa dede yuk", ajak si Axel.

Mama Axel menatap sedih dengan linangan air mata dan mencoba menjelaskan keadaan, "Axel.. dede Axel masih lemah, dia terlalu lembut untuk digendong pulang dan dia harus tetap dirawat di sini, Axel berdoa saja ya sama Tuhan Yesus, minta Tuhan Yesus beri kekuatan untuk dede, supaya dede bisa pulang ke rumah."

Keesokan harinya, Axel yang di rumah minta omanya ajak dia ke rumah sakit untuk menengok dede barunya. Sesampainya dia di ruang incubator yang terpisahkan oleh kaca yang lebar, di situ dia berdoa, "Tuhan Yesus yang baik, terima kasih sekarang Axel udah punya dede baru, Tuhan lihatkan, tangannya terlalu kecil gak seperti tangan Axel, kepalanya juga dan kata mama dede sangat lemah, Axel percaya sama kekuatan Tuhan, Tuhan maukan pegang tangan dede supaya dede bisa menjadi besar kayak Axel, Amin."

Setelah berdoa, Axel masih mau lihat dedenya sebentar lagi, sambil digendong omanya, Axel menyanyikan lagu Ku mau cinta Yesus selamanya. Setelah berulang-ulang menyanyikan lagu itu, lalu dia berkata, "Dede udah denger kan kokoh Axel nyanyi untuk dede? Besok kokoh Axel nyanyi lagi untuk dede ya.."

Oma Axel menangis terharu melihat apa yang dilakukan cucunya. Kami semua kerabat papa mamanya Axel berdoa untuk mereka khususnya untuk bayi mereka. Sekarang dede Axel sudah bisa bernafas secara teratur, semuanya berjalan lancar dan hari makin hari dia beroleh kekuatan untuk berkembang. Semuanya karena nyanyian dan doa dari seorang anak laki-laki sederhana yang berumur 4-5 tahun yang mengatakan betapa dia menyayangi dedenya.

Pelajaran yang bisa dipetik dalam cerita ini adalah dimanapun kita, seberat apapun pergumulan masalah kita sehingga terlintas di benak bahwa tidak ada lagi harapan, Tuhan Yesus bekerja pada saat itu, Dia yang tidak pernah meninggalkan kita akan selalu menolong kita, asalkan kita datang merendahkan diri kepadanya sama seperti doa polos Axel kepada Tuhan Yesus dan mengandalkan kekuatanNya.

19 August 2009

Berkat Tuhan Yesus

"Saya yakin Tuhan Yesus Kristus selalu memberkatiku dan mengobatiku dalam suka maupun duka."


13 August 2009

Apakah Tuhan Masih Berbicara Kepada Kita?

Seorang anak muda pergi ke sebuah tempat Pemahaman Alkitab (PA) yang diadakan pada setiap hari Rabu.  Di sana sang Pendeta membawakan tema mengenai mendengarkan Tuhan dan mentaati perintah-Nya.  Si anak muda, sambil menyimak kemudian bertanya-tanya di dalam hatinya “Apakah Tuhan masih berbicara kepada kita?”.

Setelah kelas PA selesai, dia pergi bersama dengan beberapa temannya ke sebuah kedai kopi untuk mendiskusikan kata-kata Pendeta tadi sambil makan kue dan secangkir kopi sebelum pulang ke rumah masing-masing.  Hal yang hampir sering mereka lakukan setelah PA selesai.  Mereka saling memberikan kesaksian bahwa Tuhan telah memimpin hidup mereka dengan cara yang berbeda-beda.

Setelah hampir jam 10 malam, mereka keluar dari kedai tersebut untuk pulang ke rumah masing-masing. Sang anak muda pun mengendarai mobilnya pulang.  Di dalam mobil dia berdoa, “Tuhan, kalau Engkau masih suka berbicara kepada kami, berbicaralah kepadaku, aku akan mendengar, aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk mentaatinya”.

Selama perjalanan pulang, dia mendadak mempunyai ide yang aneh untuk membeli satu galon susu.  Dia menggelengkan kepalanya dan berkata "Tuhan, Engkaukah itu?". 

Tetapi dia tidak mendengar jawaban apapun dan dia tetap berjalan pulang.  Akan tetapi keinginan untuk membeli satu galon susu tersebut terus ada di kepalanya.  Kemudian si anak muda ini berpikir mengenai Samuel yang tidak mengenali suara Tuhan and bagaimana Samuel berlari ketakutan menghampiri Eli. 

"Baik Tuhan, kalau ini Engkau, aku akan membeli susu tersebut", pikirnya ini bukan merupakan hal yang sulit untuk suatu tes ketaatan and susu ini masih bisa dipakai untuk hal lain.  Dia kemudian berhenti, membeli satu galon susu dan kembali menyetir menuju rumah.

Pada saat melewati sebuah perempatan yang menuju ke Seventh Street, dia merasa bahwa dia harus berbelok ke jalan tersebut.  "Tidak mungkin" pikirnya dan dia terus menyetir melewati perempatan tersebut.  Akan tetapi, kembali pikiran itu ada di kepalanya dan dia merasa bahwa dia harus berputar arah untuk kembali ke Seventh Street.  Akhirnya pada perempatan berikutnya, dia memutar mobilnya dan menuju Seventh Street. 

Setengah bercanda dia berteriak "Baik Tuhan, aku taat".  Dia berjalan beberapa saat sebelum dia merasa bahwa dia harus berhenti.  Dia berhenti dan memperhatikan sekelilingnya.  Dia berada di suatu daerah pertokoan yang agak lumayan, tidak kumuh tapi juga bukan daerah yang mahal.  Sudah tidak ada kegiatan sama sekali dan semua rumah di sana sudah gelap yang sepertinya semua orang sudah berada di tempat tidur.            

Kembali dia merasakan sesuatu di dalam hatinya "Pergi dan berikan susu ini ke rumah yang ada di seberang jalan". 

Si anak muda melihat ke rumah tersebut.  Rumah tersebut sudah gelap dan tampaknya si pemilik rumah sedang pergi atau sudah tidur.  Dia kembali duduk di mobilnya dan berkata "Tuhan, ini kelewatan, orang di dalam rumah tersebut sedang tidur dan kalau aku membangunkan mereka, mereka pasti marah dan aku akan terlihat seperti orang bodoh".                                        

Akan tetapi kembali dia merasa bahwa dia harus memberikan susu ini.  Akhirnya dia membuka pintu mobilnya "Baik Tuhan, apabila ini Engkau, aku akan pergi ke rumah itu dan memberikan susu ini kepada mereka.  Apabila Engkau memang ingin melihat aku seperti orang bodoh, tidak apa-apa, aku ingin menjadi orang yang taat.  Pasti hal ini akan ada manfaatnya, akan tetapi jika aku mengetuk pintu dan tidak ada jawaban, aku akan pergi dari sini".

Dia membuka pintu mobilnya dan menekan bel di depan pintu.  Dia mendengar ada ribut-ribut di dalam rumah dan ada teriakan laki-laki "Siapa di situ? Apa maumu?". 

Kemudian pintu terbuka sebelum si anak muda tersebut dapat pergi menghindar.  Lelaki tersebut berdiri dengan celana jeans dan kaos oblong, sepertinya dia baru bangun dari tempat tidur.  Dia tampak tidak senang melihat orang asing di depan pintu rumahnya.  Si anak muda memberikan susu tersebut "Ini saya membawa susu". 

Laki-laki tersebut segera mengambil susu tersebut dan sambil membawa susu tersebut ke dalam rumah dia berteriak dalam bahasa Spanyol.  Kemudian seorang wanita menghampiri dan membawa susu tersebut ke dapur.  Laki-laki tersebut mengikutinya sambil menggendong seorang bayi.  Bayi tersebut sedang menangis.  Air mata mengalir di muka lelaki tersebut.  Lelaki tersebut berkata sambil setengah menangis "Kami baru saja berdoa. Kami banyak tagihan dan kami sudah tidak punya uang lagi bahkan tidak ada uang untuk membeli susu untuk bayi kami.  Kami meminta Tuhan untuk menunjukkan bagaimana caranya kami dapat mendapatkan susu untuk bayi kami". 

Istrinya kemudian berteriak "Kami meminta Tuhan untuk mengirimkan malaikat dengan membawa ........, hei apakah kamu seorang malaikat?"

Anak muda tersebut kemudian mengambil dompetnya dan memberikan semua uangnya ke tangan lelaki tersebut.  Dia berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya dan air matanya mengalir membasahi pipinya.  Dia yakin sekarang kalau Tuhan masih menjawab doa.

06 August 2009

Cara Tuhan

Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.

Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut.

Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu.

Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak.

Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.

Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain.

Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang “menyembunyikan” penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan -- setelah kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya.

Namun ketika keadaan yang terburuk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya benar-benar buntu. Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu?

Kadang, dalam keputusasaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup,” ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.

Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.

Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah.

Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.

Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain.

Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya.

Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu.

Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun.. Sama persis!

Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib.

Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit.. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan.

Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya.

Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. Tuhan Maha Besar.

Warm Regards,
-Limmy Hernywati Liunardy-

20 May 2009

Berdoa Hingga Mencapai Kemenangan Akhir

APAKAH ARTINYA : BERDOA HINGGA MENCAPAI KEMENANGAN AKHIR ITU?

Elizabeth Dabney adalah seorang ibu rumah tangga Amerika, keturunan Negro, yang telah membiasakan diri untuk berdoa berjam-jam lamanya. Ia tidur hanya supaya dapat berdoa kembali dengan tubuh yang segar di waktu siang maupun malam hari. Ia membatasi diri untuk makan makanan yang sederhana, hanya sekali sehari, dan tidak menghabiskan waktunya untuk mengobrol dengan orang lain. Biasanya ia datang dengan tenang dalam kebaktian, sejam sebelum acara dimulai, untuk berdoa sendiri. Seusai kebaktian, dengan diam-diam ia kembali ke dalam biliknya, tempat pelayanannya yang SESUNGGUHNYA, yaitu tempat ia berdoa dengan sebulat hati bagi pembebasan jiwa-jiwa, dan hal ini berlangsung hingga jauh malam. Dalam suatu wawancara, diungkapkannya tentang apa yang menyebabkannya untuk memasuki pelayanan yang bermanfaat ini bagi Tuhan dan jiwa-jiwa yang sesat. Suaminya adalah seorang pendeta, yang diutus oleh sebuah gereja yang makmur di kota Filadelfia. Pada kebaktian yang pertama tidak seorangpun hadir, kecuali mereka berdua. Nyonya Dabney menyadari bahwa itulah suatu ladang yang sulit karena termasuk daerah hitam yang paling buruk di kota itu. Oleh sebab itu, ia sadar bahwa hanya doalah yang dapat mengubah situasi di sana.

IA MENGAMBIL KEPUTUSAN UNTUK SIANG-MALAM BERTEKUN DI DALAM DOA

Ia berjanji kepada Tuhan bahwa apabila Tuhan mengirim orang-orang berdosa ke tempat kebaktian itu serta menyelamatkan jiwa-jiwa mereka, maka ia akan bergumul di dalam doa selama tiga hari tiga malam setiap minggunya, dalam jangka waktu tiga tahun. Di samping itu, bukan saja ia akan berdoa, melainkan juga berpuasa.

Ketika ia untuk pertama kalinya memberitahukan kepada suaminya mengenai niatnya itu, sang suami merasa segan utnuk mengizinkannya bergumul dalam doa seorang diri selama tiga hari tiga malam setiap minggunya. Namun segera ia menyadari bahwa hal itu terjadi karena dorongan Tuhan. Segera setelah isterinya mulai berdoa seorang diri bagi pelayanan suaminya, Tuhan mulai bekerja. Orang-orang berdosa berdatangan dan tidak lama kemudian, ruang gereja mereka dipenuhi oleh orang-orang yang bertobat kepada Tuhan.

Suaminya meminta agar ia berdoa untuk tempat yang lebih besar. Tuhan menggerakkan hati seorang pengusaha untuk menyediakan sebuah rumah yang lebih besar dan lebih indah di seberang jalan. Sementara ibu itu melanjutkan pergumulannya di dalam doa, maka gedung itu pun tidak dapat memuat para pengunjung yang semakin meningkat. Kembali suaminya meminta kepadanya untuk berdoa bagi sebuah gedung gereja yang lebih besar lagi. Maka berdoalah ia untuk maksud tersebut dan Tuhan memberi sebuah gedung gereja yang besar dan indah di tepi jalan raya kepada mereka. Kebaktian-kebaktian itu selalu penuh dan jiwa-jiwa dilepaskan dari dosa. Orang-orang beriman itu kemudian dibaptiskan dalam kelompok-kelompok besar.

Pada suatu hari, di depan pintu gereja, ketika ia hendak masuk untuk memenuhi janjinya dalam hal berdoa, tuhan berkata, “Pulanglah.” Akan tetapi, ia tidak berminat untuk pulang ke rumahnya. Ia rindu untuk berdoa! Kemudian Tuhan bertanya kepadanya, apakah ia mengetahui, hari apakah saat itu? Ia merasa terdorong untuk membuka dompetnya dan membaca janjinya kepada Tuhan. Akhirnya ia tahu dari catatannya itu, bahwa ia telah memenuhi janjinya untuk berdoa dalam jangka waktu tiga tahun! Hatinya sangat rindu untuk memasuki gedung gereja itu, untuk memuji dan menyembah Tuhan, tetapi, sekali lagi, ia mendengar Suara Tuhan yang mengatakan, “Pulanglah.” Maka ditaatinya perintah Tuhan itu. Jiwanya penuh dengan sukacita di depan hadirat Tuhan. Kemudian ia mendengar Tuhan berkata, “Pergilah ke ruangan di bawah tanah.” Ia merasa takut dan ragu-ragu, kemudian berkata kepada Tuhan, “Ya Tuhan, jika Engkau hendak membawa saya pulang ke rumah Tuhan yang penuh kemuliaan itu, izinkan saya terlebih dulu menemui suami dan anakku.” Meskipun demikian, ia pergi juga ke ruangan dibawah tanah itu, sesuai dengan perintah Tuhan. Ruangan itu yang biasanya gelap, pada saat itu tampak dipenuhi dengan terang yang ajaib. Kemudian kata Tuhan kepadanya, “Engkau telah berdoa terus-menerus, sampai pada akhirnya. Sekarang Aku datang untuk memberkatimu.” Dari plafon tampak turunlah suatu pancaran air kehidupan yang mulai mengisi ruangan itu! Tuhan berfirman kepadanya bahwa ke mana pun ia pergi dan berdoa, Ia akan melepaskan orang-orang berdosa dari ikatan dosa mereka, serta memenuhi orang-orang yang percaya itu dengan Roh-Nya. Semua ini terjadi beberapa tahun yang lalu dan Tuhan telah memegang janjiNya! Ke mana pun Nyonya Dabney pergi dan bergumul di dalam doa, maka orang-orang berdosa dilepaskan dan para saleh disegarkan kembali. Ia tidak berkhotbah, hanya menasihati para saleh dan mendorong orang-orang berdosa untuk mencari Wajah Tuhan hingga mereka menemukan Dia. (Luk. 11:9; Yes. 55:6,7; Hos. 10:12).

Petikan dari surat-suratnya di bawah ini kiranya memberi pengertian yang mendalam mengenai kehidupan doanya:

“Pagi ini saya sangat terbeban, hingga hampir mati rasanya. Jantungku terasa berhenti berdetak. Beban orang-orang berdosa menekan lebih berat di atas bahuku daripada waktu sebelumnya! Siang malam aku dapat mendengar jeritan orang yang akan binasa dalam dosa-dosa mereka.”

“Tuhan Allah merindukan suatu pencurahan Roh Kudus. Inilah masa tuaian yang besar! Karena beberapa alasan, Tuhan menganggap diriku patut untuk menderita sengsara, hingga hampir mati rasanya — supaya orang-orang berdosa yang patut dikasihani itu dapat dibebaskan, sebelum terdengar suara orang berseru: Mempelai datang. Songsonglah Dia!”

“Pada saat ini, kita harus memiliki kuasa untuk menolong orang-orang terbelenggu ini. Apabila kita akan memecahkan materai Iblis dalam hati orang-orang berdosa ini, maka diperlukan doa yang tiada berkeputusan kepada Tuhan Allah.”

“Marilah, Saudara-saudara yang kekasih, ke tempat Yesus akan turun tangan melalui Saudara untuk melepaskan banyak orang berdosa dengan perantaraan doa-doa Saudara … Ia memiliki bukit-bukit doa yang tak pernah ada orang yang memohon dariNya. Kaki Saudara dapat berdiri di atas ketinggian baru, setiap hari dan setiap malam.”

“Berkhotbah itu baik. Pengajaran itu penting. Tetapi yang menjadi kunci rahasianya adalah DOA! Sebuah doa yang didengar dan dijawab oleh Tuhan dapat mengguncangkan alam ciptaanNya.”

Disadur dari “Herald of His Coming”

27 April 2009

Pengakuan Iman

Kami percaya bangsa Indonesia adalah bangsa yang :

1. Takut akan Tuhan dan hanya kepada-Nya kami menyembah. – Filipi 2:10-11

2. Penuh belas kasihan dan mengalami lawatan Tuhan di akhir jaman. – Yudas 1:22 “dan beberapa orang mempunyai belas kasihan, sehingga membuat perbedaan [KJV]” & Lukas 1:78

3. Bersatu dalam ketulusan dan saling mengasihi. Membuang semua dendam dan sakit hati. Semua perbedaan jadi kekuatan dan bukan penyebab kehancuran. – Yohanes 17:21 & Kolose 3:12-13

4. Bebas dari hutang, kutuk, luka masa lalu dan putus hubungan dengan semua kuasa iblis / okultisme. – 1 Korintus 7:23 & Kolose 1:13

5. Semua kutuk diubah jadi berkat dan semua rancangan si jahat digagalkan. Hanya rancangan Tuhan yang jadi. – Kejadian 50:20

6. Memiliki kemampuan untuk mewarisi, mengelola dan mengembangkan semua potensi dan kekayaan yang Tuhan berikan. – 1 Tawarikh 4:10

7. Diberkati dan berkelimpahan roh, jiwa, tubuh dan jadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. – Yohanes 10:10B & Ulangan 28:2-8, 10