Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

06 November 2008

Humor : Waktu Minum Kopi

Seorang laki-laki meninggal dunia dan kemudian sampai di neraka.

Iblis bertemu dengan orang itu di pintu masuk neraka dan mengatakan, “OK, Anda meninggal dan telah datang di neraka. Anda akan menghabiskan waktumu untuk selamanya di sini, namun Anda boleh memilih satu di antara tiga pintu masuk. Begitu Anda sudah memilih pintu masukmu, Anda tak boleh menggantinya. Nah, mari kita mulai”

Si Iblis membuka pintu kesatu. Orang itu memandang ke dalam dan melihat beberapa pasang suami isteri berdiri dengan kepalanya ke bawah di atas sebuah lantai beton. Orang itu berkata, “Tidak, mari kita meneruskan perjalanan kita.”

Iblis membuka pintu kedua. Orang itu melihat lebih banyak orang lagi yang berdiri dengan kepalanya di bawah, di atas lantai kayu. “Tidak mau. Kita teruskan.”

Si Iblis membuka pintu ke tiga. Orang itu melihat lebih banyak orang sedang berdiri setinggi lutut di kubangan yang penuh dengan kotoran sapi sambil minum kopi. Orang itu berkata, “Bagus. Aku memilih ini” Iblis menjawab, “OK, aku akan mengambil kopi untukmu.”

Orang itu berpikir, ini tidak terlalu jelek seraya menikmati kopi hangatnya.

Sepuluh menit kemudian, suatu suara terdengar dari pengeras suara yang mengatakan, “Waktu minum kopi sudah usai. Kini kembali berdiri dengan kepala di bawah dalam kubangan ini.”

Takut Salah

Nats : Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia adalah suci (1Yohanes 3:3)

Bacaan : 1Yohanes 2:28-3:10

"Ada adegan di mana aku takut salah. Aku takut ngabisin can (gulungan film-red) apalagi kita pakai tiga kamera. Jadi, aku akting sambil mikirin harga can." Begitu salah satu kesan Artika Sari Devi tentang pengalamannya berperan sebagai Siti dalam film Garin Nugroho, Opera Jawa. Kesadaran bahwa aktingnya tengah direkam, dan film perekamnya berharga mahal, mendorong Tika untuk tampil secara berhati-hati. Takut salah.

Seluruh hidup kita sebenarnya juga tengah "direkam". Seperti pemain film yang akan mempertanggungjawabkan kinerjanya pada sutradara, produser, dan penonton, kelak kita juga harus mempertanggungjawabkan seluruh hidup kita di hadapan Sang Pencipta. "Film" yang dipakai untuk merekam hidup kita juga sangat mahal karena kita ditebus "bukan dengan barang yang fana ... melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus" (1Petrus 1:18,19).

Di hadapan takhta pengadilan Allah, kita harus mempertanggungjawabkan seluruh aspek kehidupan kita: sikap, motivasi, pikiran, ucapan, dan tindakan. Kita harus mempertanggungjawabkan baik perkara-perkara yang kelihatan maupun perkara-perkara yang tersembunyi. Semuanya akan dihakimi menurut tolok ukur kebenaran dan keadilan-Nya.

Seberapa jauh kesadaran ini berpengaruh pada cara kita menjalani hidup ini? Apakah kita tampil secara sembrono dan meremehkan darah penebusan Kristus? Ataukah kita menjalaninya dengan luapan rasa syukur karena telah ditebus dan diizinkan untuk turut mengambil bagian dalam drama kehidupan yang mulia ini?

Kamera siap? Action! -ARS

HIDUP BERTANGGUNG JAWAB ADALAH UNGKAPAN SYUKUR
DAN PERNGHORMATAN ATAS ANUGERAH serta KEMURAHAN ALLAH

Yayasan Gloria

Si Buruk

Setiap orang di kompleks apartemen di mana aku tinggal, mengenal si Buruk. Si Buruk adalah kucing jantan dan menjadi “milik” apartemen itu. Si Buruk amat suka akan tiga hal dalam dunia, berkelahi, makan dari tong sampah dan seks.

Kombinasi dari tiga hal itu ditambah kehidupan di luar apartemen telah meninggalkan akibat di tubuh si Buruk itu. Pertama, ia hanya memiliki satu biji mata saja. Dan di matanya yang lain, terdapat sebuah lubang. Iapun kehilangan satu daun telinga di sisi yang sama. Kaki kirinya pernah patah tulang kemudian menjadi sembuh kembali membentuk sudut yang aneh, sehingga kalau ia berjalan, kelihatannya selalu mau jalan berbelok. Setiap kali orang bertemu dengannya, mereka memberi komentar yang hampir sama, ”Aduh, betapa buruknya kucing itu!”

Semua anak di kompleks itu telah diperingatkan untuk tidak menyentuh si Buruk. Anak-anak yang lebih dewasa sering melempar batu-batu kepadanya, menyemprotnya dengan slang air sehingga ia basah-kuyup bila ia ingin memasuki rumah mereka, atau menjepit kakinya di pintu bila ia tidak mau keluar. Si Buruk selalu bereaksi sama.

Bila ia disemprot air, ia tetap berdiri dengan basah-kuyup sampai mereka merasa lelah dan berhenti sendiri. Bila mereka melemparinya dengan sesuatu, ia lalu melingkarkan badannya di kaki mereka seakan-akan meminta ampun.

Bilamana ia mengamati anak-anak bermain, ia akan datang berlari, sambil mengeong dan menyodorkan kepalanya ke dalam tangan-tangan anak-anak itu, seolah-olah memohon kasih-sayang. Dan bila ada yang menggendongnya, ia dengan segera mulai mengusap-usap baju, anting-anting dan lain-lain yang ia dapat temukan.

Pada suatu hari, ia bermain-main dengan anjing-anjing tetangga. Mereka kelihatannya tidak begitu suka dengan kucing jelek itu. Mereka bersama menganiaya dan melukai si Buruk dengan sangat parah. Aku berusaha untuk menolongnya. Ketika aku sudah mendekatinya ia tergeletak, kelihatannya ia sudah hampir mati.

Aku mengangkatnya dan berusaha membawanya pulang rumah. Aku bisa mendengar ia sedang mendesah dan terengah-engah di dalam pergumulannya dengan kematian. Dapat diduga bahwa ia sedang sangat menderita di dalam kesakitannya. Kemudian aku merasakan suatu sentakan yang tak asing bagiku, suatu usapan yang nyaman di telingaku. Si Buruk, di dalam pergumulannya dengan kematian, masih berusaha untuk mengusap-usap telingaku. Aku mendekatkan tubuhnya dengan diriku dan dia menyodorkan kepalanya ke dalam tanganku serta kemudian memandang aku dengan mata-satu-satunya yang ia miliki.. Aku dengan jelas mendengar suara dari dengkurannya.

Bahkan dalam penderitaan sakit yang hebat, kucing jelek yang penuh dengan luka itu masih memohon sedikit belas kasihan dan kasih sayang. Pada saat itu, aku kira si Buruk merupakan makhluk yang paling indah yang aku pernah temui. Tidak pernah ia berusaha untuk menggigitku, mencakar atau berlari meninggalkan aku atau memberontak. Si Buruk hanya memandangiku dengan penuh kepercayaan bahwa aku akan mampu meringkankan penderitaannya.

Si Buruk telah mati dalam pelukanku sebelum aku dapat masuk ke dalam rumah. Aku duduk di sana sambil menggendong tubuhnya dalam waktu yang lama. Aku berpikir, bagaimana seekor kucing yang cacat, dipenuhi oleh ketakutan, dapat mengubah sedemikian rupa pandangan hidupku tentang apa artinya untuk memiliki jiwa yang demikian murninya, untuk mengasihi dengan segala ketulusan dan kesungguhan.

Si Buruk telah mengajarku tentang kasih sayang lebih banyak lagi dari pada kemampuan ribuan buku, kuliah, pidato-pidato yang berapi-api, dan untuk ini aku merasa sangat berterima kasih. Aku sadar bahwa waktunya sudah tiba untuk melanjutkan perjalananku dan belajar untuk mengasihi dengan tulus dan murni terhadap mereka yang membutuhkan kepedulian.

Banyak orang menghendaki untuk menjadi lebih kaya, lebih berhasil, lebih disukai oleh orang lain dan lebih manis serta cantik- kecuali aku! Karena aku akan selalu berusaha untuk menjadi sebagaimana si Buruk!

God's Little Acre

Menikmati Kebosanan

Ini sebuah cerita ringan tentang kebosanan.

Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu : “Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?”

Pak Tua : “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”

Tamu : “Kenapa kita merasa bosan?”

Pak Tua : “Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.”

Tamu : “Bagaimana menghilangkan kebosanan?”

Pak Tua : “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.”

Tamu : “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”

Pak Tua: “Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”

Tamu : “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.”

Pak Tua : “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”

Tamu: “Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?”

Pak Tua : “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.”

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu : “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”

Pak Tua : “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”

Tamu : “Contohnya?”

Pak Tua : “Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.”

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu : “Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”

Sambil tersenyum Pak Tua berkata: “Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.”