Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

18 April 2008

The Way

Today's Scripture

“‘…how can we know the way?’ Jesus answered, ‘I am the way and the truth and the life. No one comes to the Father except through Me’” (John 14:5-6).

Today's Word from Joel and Victoria

Do you need direction in your life today? Not only is Jesus the way to life in eternity, but Jesus is the way to everything you need in this life here on earth. Do you need to know the way out of debt? Look to the Father through Jesus. Do you need to know the way to having better relationships…the way to overcome an addiction…to live in peace and joy? When you know Jesus, you know the Way. No matter what you are facing today, no matter what challenges or obstacles are in your life, He will make a way for you even when you don’t see how. God loves you so much that He wants to strengthen and empower you to live in total victory. That’s why He sent His Son, Jesus, to this earth—to show you the way to live an abundant life! Open your heart today and receive all that God has given you through Jesus. As you do, you’ll see His hand lead you in the way of victory in every area of your life!

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for sending Your Son, Jesus, to show me the way. I invite You into every area of my life. Keep me close to You always. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Humor : Puisi Cinta Anak Accounting

Wahai Kekasihku ..
Debetlah cintaku di neraca hatimu
Kan ku jurnal setiap transaksi rindumu
Hingga setebal Laporan Keuanganku


Wahai kekasih hatiku...
Jadi kan aku manager investasi cintamu
Kan ku hedging kasih dan sayangmu
Di setiap lembaran portofolio hatiku
Bila masa jatuh tempo tlah tiba
Jangan kau retur kenangan indah kita
Biarlah ia bersemayam di Reksadana asmara
Berkelana di antara Aktiva dan Passiva


Wahai mutiara kalbu ku
Hanya kau lah Master Budget hatiku
Inventory cintaku yang syahdu
General Ledger ku yang tak lekang ditelan waktu

Wahai bidadariku
Rekonsiliasikanlah hatiku dan hatimu
Seimbangkanlah neraca saldo kita
Yang membalut laporan laba rugi kita..
Dan cerahkanlah laporan arus kas kita selamanya
Jika di hari closing nanti, Tidak ada kecocokkan saldo..
mungkin cinta kita harus dijurnal balik…

Perlawanan Todd Beamer & Mazmur 23

Pada jam 9:45 pagi, 11 September, Todd Beamer, 32 tahun, ayah dua anak berumur 3 dan 1 tahun, menelepon dari pesawat. Pada akhir percakapannya, sebelum ia tewas, ia sempat mengutip Mazmur 23. Operator GTE yang berada diujung telepon mendengarnya memimpin sesama penumpang berusaha menggagalkan rencana pembajak pesawat yang ditumpanginya. Hubungan telepon itu terputus ketika pesawat itu jatuh di Pennsylvania.

Waktu itu, dunia baru saja tahu bahwa tiga pesawat komersial telah dibajak dan diterbangkan ke World Trade Center dan Pentagon. Pada saat banyak umat Kristiani didarat berdoa agar tidak ada lagi serangan seperti itu, Beamer juga sibuk berdoa. Ia kemudian melibatkan diri dalam suatu aksi yang membuat doa yang dipanjatkan dari seluruh Amerika itu menjadi kenyataan, setidaknya sebagian. Memang tak ada lagi lambang keadidayaan Amerika diserang pagi itu, tetapi penerbangan United 93 jatuh di tanah kosong dekat Pittsburg dan Amerika kehilangan beberapa pahlawannya.

Beamer, yang lulusan Wheaton College, adalah manajer akunting pada perusahaan software raksasa Oracle di Hightstown, New Jersey. Pada akhir minggu ia mengajar di Sekolah Minggu. Saat itu Beamer, sedang terbang dari Newark ke Los Angeles. Pada saat pembajak mengambil alih pesawat dan melukai pilot dan kopilot, Beamer digusur ke arah belakang pesawat bersama sembilan penumpang lainnya dan lima awak kabin. 27 penumpang lainnya digiring ke kabin kelas satu di bagian depan pesawat. Pembajak yang mengawal di bagian
belakang pesawat tampaknya membawa sebuah bom yang diikatkannya ke pinggang.

Sedikitnya ada tiga penumpang lainnya yang berusaha melakukan hubungan telepon di belakang pesawat, tetapi ketika Beamer mencoba menghubungi isterinya yang telah dinikahinya tujuh tahun dengan telepon di pesawat, kartu kreditnya macet dan panggilan telepon itu tertangkap oleh operator GTE Lisa D. Jefferson. Kedua orang yang belum saling mengenal itu melakukan percakapan telepon selama 13 menit sebelum hubungan itu terputus. Beamer tahu dari Jefferson tentang pembajakan pesawat lainnya yang terjadi pagi itu dan mereka curiga bahwa penerbangan 93 itu juga akan digunakan untuk membunuh banyak orang di darat. Beamer berusaha memberikan informasi sebanyak mungkin tentang pembajak yang saat itu menguasai pesawatnya. Beamer meminta agar Jefferson menyampaikan pesannya pada isterinya yang ia cintai, yang saat itu sedang mengandung anaknya yang ketiga.

Pada hari Jum'at 14 September, Jefferson memperoleh izin FBI untuk menghubungi isteri Beamer, Lisa, untuk menyampaikan kisah kepahlawanan suaminya. Lisa Beamer - yang juga lulusan Wheaton College ­- dalam wawancara dengan Joann Loviglio dari Associated Press memberikan komentar, "Orang-orang bertanya apakah saya kecewa bahwa saya tidak sempat berbicara dengan suami saya, tetapi saya senang bahwa ia berbicara dengan Jefferson. Saat itu tentunya saya sedang tak berdaya. Pada akhirnya toh saya tahu kata-kata terakhirnya. "Lisa Beamer memperoleh kehormatan pada pidato Presiden Bush pada tanggal 20 September yang menyebut Todd Beamer - sebagai suami yang "luar biasa" dan Lisa memperoleh tepuk tangan panjang sambil berdiri.

Sebelum Todd Beamer dan beberapa penumpang lainnya menyerbu para teroris yang mengawalnya, ia meminta Jefferson berdoa bersama dia di telepon dan mereka membaca Mazmur 23 bersama, "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4)

Tampaknya para penumpang di belakang pesawat telah berunding dan memutuskan untuk menggagalkan rencana pembajak pesawat itu. Apa yang terjadi setelah itu tak ada yang tahu, tetapi kata-kata terakhir Beamer yang didengar oleh Jefferson adalah,"Anda siap kawan?' dan "Ayo mulai."

Pada tanggal 11 September, 19 teroris mengira mereka telah mengorbankan diri demi suatu tujuan yang besar, namun hasilnya adalah tewasnya ribuan orang tak berdosa. Todd Beamer, di pihak lain, telah mengikuti teladan yang diberikan oleh Bapanya di sorga - ia mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkan hidup banyak orang lainnya. ".Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya." (Mazmur 23:3)


By Candice McGarvey

Orang Kristen & Penderitaan

Mazmur 73

Hari-hari ini, banyak orang Kristen bukan saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri mengalami kesulitan khususnya akibat bencana alam, terorisme dan krisis ekonomi. Pergumulan di negara Indonesia, banyak jemaat yang mengeluh dengan mahalnya harga komoditi akibat perubahan iklim sementara penghasilan tidak bertambah. Di tengah krisis demikian, pergumulan kita menjadi tidak gampang. Bagaimanakah seharusnya orang Kristen menghadapi pergumulan?


Di dalam Alkitab, ada tiga tokoh besar yang bergumul dengan penderitaan yakni Ayub, Pemazmur 73 dan Habakuk. Dalam ketiga orang ini, mempunyai kemiripan pergumulan sekalipun modelnya bervariasi tetapi yang pasti jawaban pergumulan, perubahan dan komitmennya sama. Inilah yang kita mau belajar, khususnya dari Mazmur 73.

Bagian pertama, dari pergumulan si Pemazmur, ia akhirnya menjadi berkat bagi orang lain. Inilah paling tidak satu dari sekian banyak maksud Tuhan dalam penderitaan supaya setelah kita mendapatkan jawaban, kita menguatkan orang lain. Dalam ayat 1, si Pemazmur mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya”. Di sini, menandakan bahwa ia telah selesai bergumul dan menang karena dalam penderitaan itu, ia tidak menghujat Allah dan mengatai Allah itu buruk atau jahat melainkan mengakui Allah itu baik. Selain Mazmur 73, memang inilah ciri khas seluruh kitab Mazmur. Sebagaimana dikatakan John Calvin, inilah kitab yang membuka anatomi jiwa, membuka anatomi perasaan manusia. Kitab yang sangat jujur.

Ada satu ciri khas yang diungkapkan oleh Martin Llyod-Jones yakni Mazmur seringkali dimulai oleh kesimpulan dari pergumulan. Seperti Mazmur 23, seluruh kredo pergumulan Daud disimpulkan, “Tuhan adalah gembalaku, tak akan kekurangan aku”. Demikian pula di sini, ia ingin memberikan kesimpulan kepada orang percaya yang membaca refleksinya, Allah itu baik, bagi mereka yang sungguh-sungguh mengikuti Tuhan.


Selain kesimpulan, ayat 1 juga merupakan undangan. Pemazmur seolah ingin berkata, “jika saudara adalah orang percaya yang sungguh bersih dan tulus hatimu, dan engkau menderita, Mazmur ini untuk saudara.
Sebuah mazmur tentang kebaikan Allah. Sekalipun saudara menderita, Allah itu baik”.

Bagian kedua, dalam Mazmur ini kita belajar bahwa orang percaya pun bukan saja bisa bergumul tetapi bahkan penuh dengan pergumulan. Tidak usah kita heran akan hal ini, karena bukan rancangan kita melainkan rancangan Tuhan yang terjadi. Kadang kita berpikir bahwa seharusnya jalannya akan begini dan begitu tetapi Tuhan mempunyai cara pikir yang berbeda.

Bergumul bukan dosa. Tuhan Yesus sendiri bergumul, bahkan bergumul dalam pencobaan. Dicobai bukan dosa. Jatuh dalam pencobaan barulah dosa. Memakai terminologi Paulus, “habis akal” bukan dosa. Putus asa barulah sesuatu yang tidak benar (2 Kor. 4:8b). Jika saudara dalam bisnis, keluarga, pendidikan mengalami habis akal, itu bukan dosa. Jangan takut. Tetapi yang harus saudara lakukan adalah tetap berpengharapan, jangan putus asa.

Saya mencatat, sejumlah pergumulan si Pemazmur.
1. Bergumul untuk mempertahankan hati yang bersih (ayat 13). Pergumulan ini tidak gampang karena di setiap detik dan setiap inci kehidupan, godaan untuk membengkokkan hati begitu banyak dan kuat, baik dari kedagingan dalam diri, dunia, setan, dan sebagainya.

2. Bergumul untuk setia dalam kesulitan (ayat 14). Mempertahankan hati yang bersih satu hal tetapi mempertahankan hati yang bersih dalam penderitaan adalah hal lain. Jikalau kita mengatakan “orang ini setia tapi hidupnya susah” maka konotasinya negatif. Tetapi jika kita mengatakan, “orang ini hidupnya susah tetapi ia setia” maka konotasinya lebih positif. Dan kalimat pertamalah yang muncul ketika Lukas menggambarkan Zakaria dan Elizabeth, orang tua Yohanes Pembaptis. Mereka setia tetapi mandul, tidak punya anak. Dalam pergumulan demikian, seringkali ada perbandingan dari dalam diri dan dari orang lain antara setia dan sulit. Kedua kata itu seperti bertentangan, seperti air dan minyak, sulit bertemu.

3. Bergumul dengan kecemburuan ketika melihat orang fasik yang maju (ayat 3). Susah untuk menerima bahwa mereka yang tidak setia, hidupnya lebih lancar. Ada beberapa gambaran obyektif yang dicatat oleh Pemazmur. Dalam ayat 4a dikatakan kesakitan tidak ada mereka. Dalam bahasa asli, adalah kesakitan maut. Maksudnya, si Pemazmur melihat bahwa ada orang jahat yang sampai matinya tidak mengalami penyakit. Mati tua bukan mati sakit atau mati celaka. Dalam ayat 4b dikatakan sehat dan gemuk tubuh mereka. Tidak semua yang sehat dan gemuk itu fasik tetapi orang fasik biasanya sehat-sehat. Bagaimana kalau pencuri atau perampok tetapi menderita penyakit stroke. Sulit dinalar. Sebaliknya, banyak orang yang setia dalam Alkitab, hidup mereka sakit-sakitan seperti Paulus, Calvin, dan sebagainya. Dalam ayat 5a dikatakan mereka tidak mengalami kesusahan manusia. Kasarnya, semua orang mengalami harga tempe dan terigu yang melambung tinggi, mereka tidak mengalaminya. Ayat 8b dikatakan bahwa hal pemerasan mereka bicarakan dengan tinggi hati. Maksudnya, sudah dosa masih dibanggakan lagi. Ayat 12b dikatakan, "Mereka menambah harta benda dan senang selamanya”. Barangkali inilah gambaran yang paling menyakitkan. Orang jahat, penipu, yang bisnisnya kotor, semakin hari harta bendanya bertambah-tambah dan senang seterusnya. Sebaliknya, orang yang setia, ikut Tuhan, beriman, bisnisnya jujur, hidup bersih, malah harta benda semakin berkurang karena uang habis, tabungan habis, emas dijual, mobil dijual ganti sepeda motor, rumah yang besar dijual ganti yang kecil. Malah susah seterusnya.

4. Bergumul mengalami cercaan dari orang fasik (ayat 3a, 8a, 9). Setia itu sulit. Setia dalam kesulitan lebih sulit. Setia dalam kesulitan dengan kecemburuan, tambah sulit. Sekarang, malah harus dengar caci maki. “Katanya ikut Tuhan, kok hidup susah”, “katanya anak Raja, kok ngontrak”, “katanya Allahnya yang empunya alam semesta, kok rumah saja tidak punya” dan seterusnya yang sangat menyakitkan dari orang fasik.
Pergumulan yang paling sulit dari semuanya adalah di dalam penderitaan orang setia, si Pemazmur melihat Tuhan diam dan tidak memberikan jawaban. Setidaknya kalau ia tidak mengasihi orang percaya, paling tidak mengadili orang fasik. Malah yang terlihat adalah Tuhan mengasihi orang fasik dan menghukum orang percaya, menulahi yang hatinya bersih (ayat 14).

Bagian ketiga, setelah pergumulan ini kita sekarang melihat jawaban yang diterima Pemazmur. Langkah pertama menuju jawaban adalah si Pemazmur menguasai diri. Seperti yang dinyatakan dalam 1 Petrus 4:7, kuasailah diri, jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa. Menguasai diri memang tidak menyelesaikan persoalan apapun tetapi setidaknya tidak menambah persoalan baru supaya tidak terjadi sudah jatuh, tertimpa tangga.

Menguasai diri berarti si Pemazmur tenang, tidak emosional dan sebaliknya berpikir. Istilah “seandainya” dalam ayat 15 menandakan bahwa si Pemazmur sedang berpikir. Prinsipnya, jangan ambil keputusan penting apapun pada waktu emosi. Jangan ambil keputusan putus pacar, pindah pekerjaan, pindah kota dan sebagainya sebab pada waktu emosi, sulit berpikir dengan tenang. Bagaimana mengatakan itu kehendak Allah jika tidak berpikir dengan akal sehat? Sebab kehendak Allah tidak pernah membuang akal sehat. Melampaui akal sehat ya. Tetapi, melampaui berarti sudah pakai akal sehat masih tidak cukup.

Selain itu, menguasai diri juga berarti, sebagaimana yang dilakukan Ayub, menjaga bibirnya agar tidak berdosa. Dalam ayat 15, si pemazmur sedang berpikir, jika ia mengucapkan kalimat kekecewaan maka ia akan mengkhianati angkatan anak-anak Tuhan. Lebih baik kita mendengar perkataan dari Yakobus, janganlah cepat bicara atau cepat marah tetapi cepat mendengar supaya setelah masalah selesai kita tidak menyesal karena pernah mengucapkan kalimat yang tidak enak (1:19).

Menguasai diri juga berarti menghitung konsekuensi. Ia sedang menghitung resiko-resiko kalau ia bicara demikian maka akan mengkhianati angkatan umat Tuhan. Pada waktu kita terjepit, kita diajar untuk menguasai diri sehingga menghitung resiko agar jangan salah melangkah.
Bagaimana pun terjepit tetap harus menguasai diri untuk menghitung resiko.

Bahkan yang disebut menguasai diri adalah setidaknya sampai ayat 16, Si Pemazmur puas dengan kondisi menggantung, belum ada jawaban, tetapi ia tidak memaksakan diri untuk mengambil jawaban sendiri sesuai dengan keinginan sendiri. Sabar menanti jawaban Tuhan, itulah penguasaan diri orang percaya dalam pergumulan penderitaan yang berat.

Dalam ayat 17 dikatakan bahwa ia mendapatkan jawaban ketika masuk ke tempat kudus. Konteks waktu itu adalah bahwa firman Tuhan tidak didapatkan di rumah melainkan dengan berada di rumah ibadah. Ia masuk dan memperhatikan.
Perhatikan istilah “memperhatikan” dalam ayat 17. memperhatikan kesusahan orang fasik berarti ia berkonsentrasi pada waktu mendengar firman. Banyak orang percaya, sayangnya, pada waktu mereka bergumul, mereka menjauhi firman baik menjauhi ibadah maupun saat teduh. Akhirnya mereka tidak mendapatkan jawaban dan kondisinya tambah buruk.

Memperhatikan firman Tuhan adalah jawaban mutlak dalam pergumulan penderitaan. Dalam Daniel 9, dikatakan ia memperhatikan firman Tuhan melalui Yeremia. Ayub dan Habakuk juga mendapatkan jawaban dari firman Tuhan. Jika bukan firman Tuhan, apalagi jawaban bagi pergumulan kita?

Si Pemazmur mendapatkan jawaban tentang kenikmatan orang fasik dan penderitaan orang percaya adalah ketika mendengar khotbah tentang penghakiman. Lucu yah. Bagaimana bisa orang lagi susah kok mendengar firman tentang neraka? Psikologi sekuler tidak bisa menerimanya. Matthew Arnold mengatakan, kalau memperhatikan kehidupan orang harus utuh. Jangan lihat enaknya sekarang tetapi lihatlah akhiratnya. Jadi, kesimpulan Pemazmur bahwa orang fasik senang selamanya, tidak sepenuhnya benar. Itu kesimpulan emosionalnya. Yang benar adalah bahwa memang mereka kelihatan senang sekarang tetapi nanti belum tentu. Kalau kita melihat kehidupan orang benar yang senang sekarang, jangan lupa melihat masa lalunya, mungkin banyak penderitaan. Kalau kita melihat kehidupan orang fasik yang senang sekarang, jangan lupa melihat masa depannya, mungkin banyak penderitaan.

Sampai di sini, kita mendapatkan pelajaran berharga. Yang disebut dengan jawaban pergumulan itu bukan perubahan keadaan. Nanti di ayat selanjutnya juga kita lihat bahwa keadaan si Pemazmur tidak dicatat berubah.
Dari tiga orang besar yang bergumul dengan penderitaan, hanya Ayub yang dicatat mengalami perubahan keadaan. Tetapi itu terjadi setelah ia mendapatkan jawaban firman yang merubah hidupnya dan membangun komitmen baru. Pemazmur dan Habakuk tidak mendapatkan perubahan keadaan tetapi perubahan hidup melalui firman. Jadi, yang disebut jawaban pergumulan bukan perubahan keadaan tetapi perubahan hidup oleh firman yang diwujudkan dengan komitmen baru. Jangan bermimpi perubahan keadaan karena itu bukan jawaban Alkitab. Namun demikian, konsep ini tidak berarti kita tidak berusaha mencari jalan keluar. Itu hal lain yang tidak kita bicarakan di sini.

Bagian terakhir, akhir dari pergumulan itu, si Pemazmur membangun komitmen baru. Ada tiga komitmen di sini. Komitmen pertama, tetap dekat dengan Tuhan dalam penderitaan (ayat 23-24). Komitmen dalam keadaan sulit (ayat 21-22) bahkan ia merasa diri dungu dan seperti hewan. Dekat itulah baru ia mendapat kekuatan. Jika ia lari dari Tuhan, di manakah jawabannya? Banyak orang Kristen waktu susah malah menjauh dari Tuhan sehingga hidup mereka tambah parah. Jika saudara menjauh, sekarang kembalilah supaya Tuhan menjawab hidup saudara!

Dalam komitmen pertama itu kemudian kita melihat pertolongan Tuhan, persis seperti menolong orang yang pingsan. Dikatakan ”Engkau memegang tangan kananku”. Kalau Alkitab menyatakan bahwa Allah memegang kita dengan tangan kananNya itu berarti kekuatan (mis. Yes. 41:10). Kalau Alkitab mengatakan Allah memegang tangan kanan kita, itu berarti kenyamanan, supaya tidak jatuh tergeletak. Setelah itu, dituntun selangkah demi selangkah menuju ke tempat yang lebih baik secara kerohanian supaya ia tidak tergelincir (bdk. Ayat 2).

Komitmen yang kedua adalah tetap mengasihi Tuhan sekalipun dalam penderitaan (ayat 25-26).
Kalau komitmen pertama adalah tetap dekat Tuhan sekalipun masih merasa tidak enak atau pusing maka yang kedua ini mulai menikmati dan mengasihi Tuhan. Komitmen ketiga adalah selama-lamanya berjalan bersama Allah. NIV menerjemahkan ”adalah baik bagi ku untuk dekat dengan Allah”. Selama-lamanya, entah susah atau senang, entah mendung, hujan atau cerah tetap berjalan bersama dengan Allah. Sehingga, komitmennya adalah kasih dari hati terdalam kepada Allah, tidak tergantung kondisi enak atau tidak.
Sampai di sini, si Pemazmur menang. Puji Tuhan. Ingin menang dalam penderitaan? Jangan jauhi Tuhan dan cintailah firman-Nya. Semoga!


oleh: Ev. Antonius Steven Un, S.Kom., M.Div.


Ev. Antonius Steven Un, S.Kom., M.Div.
adalah gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Malang , Ketua Sekolah Theologia Reformed Injili Malang (STRIM) dan peneliti pada Reformed Center for Religion and Society. Beliau meraih gelar Master of Divinity (M.Div.) dari Institut Reformed, Jakarta .


"For I am not ashamed of the gospel of Christ: for it is the power of God unto salvation to every one that believeth; to the Jew first, and also to the Greek." (Romans 1:16; King James Version)

Sepercik Hikmat

Bersyukurlah selalu karena kita masih diberi hidup karena dalam hidup yang sedang kita kecap, kita masih mempunyai kesempatan untuk bertumbuh di dalam roh. Kebahagiaan dan kesedihan yang kita alami adalah suatu rahmat dari Tuhan yang janganlah tersia-siakan nikmatnya.

Dalam kebahagiaan yang kita alami, kita bertumbuh dalam berbagi sukacita dengan sesama, dalam kesedihan yang terjadi kita bertumbuh dalam pematangan dan pemurnian diri. Tiada hari duka cita hanya suka cita karena semuanya baik adanya, selama kita selalu berjalan dalam tuntunanNya.

Tiada masalah yang tak terselesaikan selama kita tahu kemana kita harus bergantung, hanya Tuhanlah pautan hidup kita tiada yang lain. Dengan kuasa dan alur yang tak terselami. Dia akan menggerakkan hati kita untuk melepaskan diri dari jeratan dunia.

Tetaplah berserah pada Tuhan dan berkarya sesuai kemampuan terbaik kita, tidak melebihi ataupun mengurangi dari takaran yang ada. Tuhanlah sumber hidup kita.

Hati yang indah ataupun bahagia, adalah hati yang dapat selalu bersyukur atas rahmatNya. Hati yang indah dan bahagia adalah seperti hati seorang anak kecil yang tak menyimpan dendam, prasangka dan kebencian dalam hatinya.

Bukanlah harapan jika ada dan terlihat di depan mata, harapan adalah sesuatu yang tak ada yang kita yakini akan ada dan menjadi milik kita. Percayalah selalu dalam harapan dan doa yang engkau yakini, Tuhan pasti akan mengabulkannya selama kita selalu berjalan di jalanNya. Yakinlah apapun yang diberikanNya pada kita adalah yang terbaik bagi kita.

Janganlah pernah kuatir akan hidup selama kita selalu menghidupkan firmanNya dalam hidup kita karena itulah kebenaran yang hakiki. Burung di udara saja selalu diperhatikanNya apalagi kita manusia. Tuhan adalah penguasa segalanya janganlah pernah berpaling dariNya karena Dialah sumber kehidupan yang abadi.

Jangan sekalipun berusaha memikirkan apa yang orang pikirkan tentang kita karena hanya akan menjadi bumerang bagi ketenangan pikiran kita. Jangan pula mempermasalahkan apa yang orang lain lakukan karena diapun hanya bertanggung jawab pada dirinya dan Tuhan semata. Saat hatimu resah tetaplah bertenang diri dan dekatkanlah dalam doa dan permohonan padaNya, jika jawaban itu tak jua datang tetaplah tenang karena mungkin yang Dia minta adalah hanya kamu bertenang diri dan sabarlah dalam menanti maka jawaban itu akan datang dalam waktu yang tidak kita sangka.

Tiadalah salah jika kita terkadang masih melakukan kesalahan baik disadari maupun tidak disadari, terimalah pertentangan batin pada diri kita sendiri sebagai upaya untuk terus menyadarkan diri, kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata, maka saat kesalahan itu terjadi mohon ampun, mintalah anugerah maaf dariNya dan tetapkan hati untuk segera beranjak dari kesalahan itu. Janganlah pernah ingin mencobai Allah kita dengan perbuatan salah yang sengaja dan sadar kita lakukan, karena Tuhan tahu apa yang tersembunyi di hati kita dan apa yang kita tabur jika telah melukai kita maka bekas luka itu akan masih ada sebagai peringatan bagi kita.


Tuhan Berkati