Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

05 August 2009

Semangat Peter

Peter adalah seorang anak yang baru saja bertobat. Walaupun baru berusia 12 tahun, ia ingin sekali bisa melakukan sesuatu untuk menyaksikan kabar baik, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Ayahnya menyuruh Peter untuk berdoa dan meminta pertolongan Tuhan untuk mewujudkan kerinduan Peter.

Seminggu telah lewat. Namun rasanya belum ada cara yang tepat untuk bersaksi. Siang itu di gereja, Peter sedang menunggu ayahnya. KEtika ia melihat ke arah halaman, ia melihat rumput yang sudah meninggi tidak teratur. Tiba-tiba saja ia berkeinginan untuk menjadi sukarelawan memotong rumput di gereja. Ketika ia mengutarakan keinginannya, niat itu langsung disetujui oleh bapak pendeta.

Hari Sabtu pagi, Peter berangkat ke gereja untuk memotong rumput. Berbekal mesin pemotong yang dipinjamnya dari Pak Smith, tetangganya. Peter mulai bekerja seorang diri. Tidak ada yang menegurnya. Tidak ada yang memperhatikannya. Peter terus bekerja dengan tekun.

Sore harinya, pak pendeta tampak terkejut melihat halaman gereja. Memang tidak serapi jika dikerjakan oleh tukang, tetapi apa yang Peter lakukan sebagai seorang bocah berusia 12 tahun sudah membuatnya tercengang. Halaman itu sekarang terlihat bersih. Keesokan harinya, pak pendeta sudah mengadakan rapat dengan seluruh kepemimpinan gereja dan mengusulkan agar apa yang sudah dilakukan Peter, bisa menjadi sebuah program di komunitas itu. Hal itu disetujui.

Minggu berikutnya, gereja mengadakan kerja bakti untuk memotong rumput di komunitas sekitar. Hal itu tentu saja disambut dengan baik oleh warga disana. Lingkungan menjadi baik dan juga menghemat ratusan dollar biaya kebersihan. Hal ini kemudian terdengar oleh Walikota. Ia sangat senang kemudian menyampaikan kisah Peter ini ke Gubernur negara bagian. Minggu berikutnya, gereja di negara bagian itu mengadakan kerja bakti memotong rumput di daerah mereka masing-masing.

Dimulai dari kerinduan Peter untuk menjadi berkat, ia mau melakukan hal yang sepele, tetapi Tuhan bekerja di dalamnya, sehingga kisah tentang Peter ini terus bergulir meluas dan terus diingat disana. Kamu tidak perlu melakukan hal besar untuk bisa membawa kabar baik kepada banyak orang, tetapi kamu bisa memulainya dari hal kecil yang sederhana, dan biarlah Tuhan melakukan bagian yang lebih besar.

Harapan Memberikan Kekekalan

Amsal 23:18 : "Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 36; 2 Tesalonika 3; Yesaya 25-26

Salah satu pemberian terbesar yang dapat diberikan para pemimpin kepada orang-orang di sekitar mereka adalah harapan. Jangan pernah meremehkan kekuatannya. Winston Churchill pernah ditanya seorang reporter tentang senjata terbesar negaranya melawan rezim Nazi Hitler. Tanpa berhenti sejenak pun ia menjawab: "Senjata Inggris terbesar dari dahulu adalah harapan."

Orang akan terus bekerja, berjuang, dan berusaha jika mereka mempunyai harapan. Harapan mengangkat moral orang. Harapan memperbaiki citra diri mereka. Harapan memberikan kekuatan lagi pada mereka. Harapan membangkitkan keinginan mereka.

Tugas seorang pemimpin adalah menjaga harapan tetap tinggi, menanamkannya dalam diri orang-orang yang dipimpinnya. Para pengikut Anda akan mempunyai harapan hanya Anda memberikannya kepada mereka. Dan Anda akan mempunyai harapan untuk diberikan jika Anda menjaga sikap yang benar.

Menjaga harapan berasal dari melihat potensi dalam setiap keadaan dan tetap berpikir positif walaupun keadaan tidak demikian. Sebagai anak-anak Tuhan, bersyukurlah Anda karena Tuhan memberikan pengharapan dalam hidup Anda dan pengharapan itu membawa Anda kepada kekekalan.

Hidup di dalam Tuhan pasti penuh pengharapan dan hukum itu berlaku selama-lamanya.

Jawaban.com