Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

04 July 2009

Tidak Bisa atau Tidak Mau?

1 Yohanes 5:3 - Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 4; Matius 4; 2 Tawarikh 20-21

Ketika tiba saatnya untuk mengungkapkan perasaan kita, hanya sedikit dari kita yang lebih jujur dari anak-anak. Seorang ayah mengalami kesulitan untuk membuat anaknya patuh kepadanya. Ketika anak itu ditanya mengapa ia tidak mentaati ayahnya, ia menjawab, "Ayah, saya tidak ingin melakukannya!"

Sebagai orang Kristen, banyak di antara kita tidak sejujur anak itu. Kita sering mengungkapkan banyak alasan saat tidak taat pada kehendak Allah, padahal alasan yang sebenarnya karena kita tidak ingin melakukannya.

Ada seorang teman yang menikah dengan orang Jerman dan harus meninggalkan Indonesia untuk ikut dengan isterinya. Ketika keluarga mereka tinggal di Berlin Barat, teman saya mulai mengabaikan kebiasaan membaca Alkitab dan berdoa. Alasannya ia tidak punya waktu untuk itu. Ketika akhirnya mereka pindah ke Swiss dan pada kenyataannya waktu yang dimilikinya lebih banyak, ternyata untuk membaca Alkitab dan berdoa secara teratur pun tetap tidak dilakukannya.

Pada akhirnya ketika ia membuka Alkitab, ayat yang dibacanya adalah 1 Yohanes 5:3 yang berbunyi, "Inilah Inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perinyah-Nya." Setelah membaca ayat tersebut, ia pun menyesali sikapnya yang telah lama mengabaikan Tuhan. Dia mengatakan bahwa pada saat itu Tuhan memenuhi hatinya yang hampa dengan kasih pengampunan-Nya. Sejak saat itu, membaca Alkitab dan berdoa menjadi kegemarannya. Kasihnya kepada Tuhan yang telah diperbaharui membuat dirinya dan keluarganya ingin melakukan kehendak-Nya lebih daripada melakukan kehendaknya sendiri.

Apakah Anda mengetahui kehendak Allah bagi Anda? Apakah Anda mengasihi-Nya dan ingin melakukan kehendak-Nya?

Sikap hati yang mengasihi Allah adalah inti dari ketaatan Anda terhadap segala perintah-Nya.

Jawaban.com

Weekly Scripture - Roma 8-28

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." - Roma 8:28

Aku Datang Lagi

Seorang pendeta memasuki gerejanya di suatu siang dan memutuskan untuk berhenti sebentar di altar untuk melihat siapa saja yang datang untuk berdoa. Tidak lama kemudian, pintu belakang terbuka, seorang tua masuk melalui deretan bangku-bangku gereja. Sang pendeta mengerutkan dahi ketika melihat bahwa orang tersebut sepertinya tidak bercukur beberapa hari.

Kemejanya sudah lusuh, dan mantelnya sudah tua dan sobek-sobek. Orang itu belutut, menundukkan kepalanya, kemudian berdiri dan berjalan keluar. Hari-hari berikutnya, setiap siang pria itu datang, setiap saat berlutut hanya sebentar dengan tempat makan siang di pangkuannya. Sang pendeta mulai curiga, perampokan adalah ketakutan terbesarnya. Dia memutuskan untuk menghentikan pria itu dan menanyainya, “Apa yang kau lakukan disini?”

Pria tua itu menjawab, dia bekerja di sebuah pabrik. Waktu makan siang hanya setengah jam. Waktu makan siang adalah saat doa baginya, saat untuk menemukan tenaga dan kekuatan.

“Anda lihat, saya hanya tinggal sebentar, karena pabrik sangat jauh. Saat saya disini, berlutut dan berbicara pada Tuhan, Inilah yang kukatakan, “Aku datang lagi, hanya untuk mengatakan padamu, Tuhan, betapa bersuka-citanya aku sejak aku menemukan persahabatan di dalam Engkau dan Kau hapuskan dosaku. Aku tidak begitu mengerti caranya berdoa, tapi aku memikirkan-Mu setiap hari. Jadi, Yesus.. Ini Jim, datang hari ini.”

Sang pendeta, merasa malu, berkata pada Jim bahwa itu baik. Dia berkata pada pria itu bahwa ia boleh datang dan berdoa kapan saja. Waktunya pergi, Jim tersenyum dan berkata “terimakasih”, Ia cepat-cepat keluar. Sang pendeta berlutut di depan altar. Hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. Hatinya yang dingin mencair, dihangatkan oleh kasih, dan ia bertemu dengan Yesus disana.

Saat airmatanya mengalir, ia mengulangi doa Jim tua, “Aku datang lagi, hanya untuk mengatakan padamu, Tuhan, betapa bersuka citanya aku sejak aku menemukan persahabatan di dalam Engkau dan Kau hapuskan dosaku. Aku tidak begitu mengerti caranya berdoa, tapi aku memikirkan-Mu setiap hari. Jadi, Yesus..Ini aku, datang hari ini.”

Beberapa hari kemudian, pendeta tersebut melihat bahwa pak tua Jim tidak datang. Setelah beberapa hari tanpa kedatangan Jim, ia mulai khawatir. Ia pergi ke pabrik, ia bertanya tentang Jim dan diberitahu bahwa Jim sakit. Staff rumah sakit merasa khawatir, tapi ia menenangkan mereka. Minggu ketika Jim bersama mereka, ia membawa perubahan di bangsalnya. Senyumnya menularkan kebahagiaan ke semua orang. Ia mengubah orang-orang.

Kepala suster tidak bisa mengerti mengapa Jim begitu bahagia, padahal tidak ada kiriman bunga, telepon, maupun kiriman kartu-kartu ucapan, tidak ada seorangpun yang menjenguknya. Pendeta itu duduk di samping tempat tidurnya, dia menyampaikan kata-kata suster itu. Tidak ada teman datang untuk menunjukkan perhatian. Dia tidak memiliki tempat.

Pak tua Jim terkejut, dengan senyum bijaksanan ia berkata, “Suster itu salah, dia tidak pernah tau, setiap hari di siang hari, Dia disini, mendekatiku dan berkata, “Aku datang lagi hanya untuk mengatakan padamu, Jim, betapa bersuka-citanya Aku sejak Aku menemukan persahabatan ini dan Aku menghapus dosamu. Aku selalu suka mendengar doamu, Aku memikirkanmu setiap hari, jadi Jim, ini Yesus datang hari ini.”