Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

15 December 2011

Berdoa Dalam Kehendak Tuhan

Ketika melintasi Samudera Atlantik di atas kapal pesiar besar, pendeta F.B. Meyer diminta untuk berkhotbah di hadapan para penumpang kelas satu. Atas permintaan kapten kapal, ia berbicara dengan topik “Doa yang Dijawab“.

Seorang agnostik yang juga berada di antara penumpang kelas satu itu telah ditanya oleh teman-temannya, “Apa pendapatmu tentang khotbah Dr. Meyer itu?”

Ia menjawab, “Aku sama sekali tidak percaya sedikitpun!”

Di sore harinya, Meyerpun berbicara kepada penumpang kelas geladak. Di antara pendengar pada pagi hari, banyak yang hadir pula pada pertemuan sore hari itu, termasuk orang agnostik itu, dengan alasan ingin mendengar “apa saja yang dikatakan orang cerewet ini”.

Sebelum ibadah dimulai, orang agnostik itu membawa dua buah jeruk dalam sakunya. Dalam perjalanannya ke tempat ibadah, ia melewati seorang perempuan paruh baya yang sedang berbaring di kursi geladak sambil tertidur dengan nyenyaknya. Dengan spontan, orang itu meletakkan dua buah jeruk itu ke tangan perempuan itu yang sedang terbuka.

Setelah kebaktian usai, ia melihat perempuan itu dengan senang sedang memakan sebuah jeruk yang dia berikan sebelumnya.

“Agaknya, Anda sedang menikmati buah jeruk itu”, katanya dengan tersenyum.

“Benar, pak”, jawab perempuan itu. “Bapaku amat sayang kepadaku”

“Bapamu? Aku tahu dengan pasti bahwa ayah Anda sudah meninggal!”

“Puji Tuhan”, jawab perempuan itu, “Ia sungguh hidup”

“Apa yang Anda maksudkan?”, tanya orang agnostic itu.

Perempuan itu menjelaskan, “Anda tahu, aku selama beberapa hari ini mabuk laut. Aku telah memohon kepada Tuhan, entah dengan cara bagaimana mengirimiku jeruk. Agaknya aku baru saja tertidur ketika aku sedang berdoa. Ketika aku terbangun, aku menemukan bahwa Tuhan bukan mengirim sebuah jeruk, melainkan dua buah!” Orang agnostik itu tercengang dan tak dapat berkata-kata.

Kemudian orang itu bertobat dan menjadi orang percaya.

“Ya, berdoa dalam kehendak-Nya benar-benar dijawab!”

Our Daily Bread

Berebut Kepemimpinan

Bacaan Setahun : Titus 1-3, Filemon 1
Nats : ... sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28)

Bacaan : Matius 20:20-28

Perilaku anak-anak kerap membuat kita geli dan gemas. Kita memaklumi tingkah mereka sebab mereka memang tengah dalam tahap pertumbuhan dan pencarian jati diri. Akan tetapi, apabila perilaku itu terus terbawa sampai orang itu dewasa, itu bisa membuat muak. Kita menyebutnya kekanak-kanakan.

Sikap kekanak-kanakan itulah yang diperlihatkan oleh para murid ketika mempertengkarkan siapa yang lebih besar, siapa yang paling pantas memimpin, di antara mereka. Mereka ingin berada di posisi kepemimpinan, suatu posisi yang menuntut kedewasaan, tetapi mereka memandang kepemimpinan sebagai dunia yang berpusat pada aku, diriku, dan milikku. Kepemimpinan disambut sebagai wahana untuk memuaskan kepentingan dan ambisi pribadi.

Tuhan Yesus mengoreksi pandangan tersebut. Dia mengajukan cara pandang yang menjungkirbalikkan perspektif para murid. Kepemimpinan sejati tidak berfokus pada diri sendiri, tetapi pada kesejahteraan orang lain. Bekal utamanya ialah kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani sesama. Seorang pemimpin akan rela menyingkirkan kepentingan pribadinya demi memberikan sumbangsih yang bermakna bagi orang banyak. Kepemimpinan, dalam pandangan Yesus, bukan terutama mengacu pada kedudukan, melainkan pada sikap dan motivasi hati.

Bagaimana kecenderungan kita? Mengejar posisi atau mengutamakan kesediaan untuk melayani sesama? Mengincar keuntungan pribadi atau sungguh-sungguh rindu untuk memberkati orang lain, kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan diri? Bersediakah kita merendahkan diri sebagai pelayan? --ARS

KEPEMIMPINAN ADALAH PANGGILAN YANG LUHUR DAN TINGGI
SEHINGGA UNTUK MERAIHNYA KITA HARUS MERENDAHKAN DIRI

Sabda.org