Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

08 December 2008

Jarak & Hati

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak". "Tapi...", sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan, "Ketika Anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang  mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda."

Humor : Ketiduran di Dalam Gereja

Seorang wanita berkonsultasi ke temannya mengenai suaminya yang selalu ketiduran ketika di gereja, "Masak tiap kali pendeta bercerita, dia ketiduran?Kadang-kadang ngorok lagi. Kan jengkel juga lama-lama, malu.'

Temannya menjawab, "Gini aja, kamu bawa jarum pentul sebiji, tiap kali dia ketiduran, kamu tusukin ke dia. Gimana?'

Maka hari Minggu berikutnya, wanita tersebut membawa beberapa jarum pentul di tasnya saat ke gereja. Dan ketika pendeta memulai berceramah, "Saudara-saudara yang terkasih. Tahukah anda, oleh siapa dan hanya oleh siapakah kita dapat hadir, berkumpul di sini?"

Sang suami mulai ketiduran. Si istri dengan sigap mengambil dan menusukkan jarum pentul ke lengannya dan "YA TUHANKU!", sang suami mengangkat tangan kanannya dan berteriak dari tengah-tengah kerumunan penonton.

Pendetapun berkata, "Benar anakku, sungguh jarang menemukan umat yang antusias  sepertimu, Tuhan memberkatimu, lalu..' dan pendetapun melanjutkan ceramahnya…

Sang istri pun berpikir, "Wah ampuh. Sip deh. Kalo ketiduran lagi aku tusuk lagi biar tahu rasa.'

10 menit kemudian. Sang suami mulai ketiduran lagi. Sang istri ragu-ragu antara untuk menusuknya lagi atau tidak.

Namun saat pendeta berkata, "Nah saudara2. Lalu tahukah anda siapa yang telah menanggung penderitaan kita, menebus dosa-dosa kita dan berkorban demi kita?"

Si Suami mulai ngorok sehingga sang istri tidak pikir-pikir lagi dan, "TUHAN YESUS!", sang suami berteriak kali ini berdiri dan memegang pantatnya'

Benar anakku, Tuhan memberkatimu, kemudian saudara-saudara dan pendeta melanjutkan ceramahnya…

Sang istri kembali berpikir 'Wah, untung saatnya tepat. Sip, ga bakal berani tidur lagi dia..'

Sekitar 30 menit kemudian. Sang suami kembali ketiduran. Sang istri kembali merogoh tasnya untuk mengambil jarumnya, namun ternyata suaminya masih setengah tidur, ia melihat apa yang akan dilakukan istrinya…

Saat pendeta bertanya, "Apa yang dikatakan oleh Hawa kepada Adam ketika Ia melahirkan anaknya yang ke-99?"

Dia berkata…' Sang suami langsung berdiri menunjuk ke istrinya, lalu berteriak, "SEKALI LAGI KAU TUSUKKAN BATANG TERKUTUK ITU, KUPATAHKAN JADI 2, LALU KUTANCAPKAN KE DALAM PANTATMU!"

Seluruh jemaat gereja berbarengan mengatakan, 'Amin…'

Terima Kasih

Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu?" - Lukas 17:17

Bacaan : Lukas 17:11-19

Terima kasih adalah kata-kata yang sederhana, tetapi betapa kerap orang sulit mengucapkannya. Mari kita hitung, selama seminggu ini berapa banyak kita menerima kebaikan orang lain? Tidak hanya untuk hal-hal besar, tetapi juga untuk hal-hal sederhana. Misalnya, istri yang menyeduhkan kopi, suami yang pulang dari kantor membawakan makanan kesukaan, anak yang telah menolong mengambilkan sesuatu. Atau juga orang-orang yang dengan pekerjaannya telah membantu kita; tukang sampah yang setiap hari mengangkut sampah dari rumah kita, sopir taksi yang mengantarkan kita ke tempat tujuan, pelayan restoran yang mengantarkan makanan ke meja kita, tukang parkir yang menjaga kendaraan kita.

Bandingkan dengan berapa kali dalam minggu yang sama kita mengucapkan "terima kasih". Jangan-jangan cuma "sembilan berbanding satu". Artinya, dari sepuluh kali kita menerima kebaikan orang lain, hanya satu kali kita menyatakan rasa terima kasih. Seperti yang ditunjukkan dalam bacaan kita; dari sepuluh orang kusta yang Tuhan Yesus sembuhkan, hanya satu yang kembali untuk berterima kasih. Secara jelas Lukas menyebut orang yang tahu berterima kasih itu adalah orang Samaria (ayat 16).

Waktu itu orang Samaria dipandang masyarakat sebagai kalangan rendah, kaum sepele, kelompok yang tidak berbudaya, bukan bangsa pilihan. Dengan sengaja menyebut orang Samaria yang kembali untuk menyatakan rasa terima kasihnya kepada Tuhan Yesus, Lukas seolah-olah hendak mengatakan bahwa justru orang yang dianggap rendah oleh kebanyakan orang itulah yang tahu berterima kasih. Semoga kita termasuk orang yang tahu berterima kasih -AYA

TAHU BERTERIMA KASIH
ITU BAGIAN DARI KARAKTER ORANG BERIMAN

Yayasan Gloria