Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

03 December 2008

Humor : Penginjilan

"Pak Pendeta, apa rahasianya sehingga penginjilan Anda sangat berhasil?" tanya seorang jemaat kepada gembalanya.

"Di sawah, jadilah seorang petani, walaupun kamu sebenarnya seorang pelukis. Dengan menjadi petani, kamu dapat mengajak beberapa petani menuju kasih Allah. Di pasar, jadilah kamu pedagang, walaupun kamu seorang prajurit perang. Untuk mengajak beberapa pedagang menuju kasih Allah. Di pantai, jadilah kamu seorang nelayan untuk mengajak beberapa nelayan menuju kasih Allah."

Jemaat lain yang iseng bertanya pada pendeta itu, "Kalau kita di rumah sakit jiwa?"

Pak pendeta tampak termenung sejenak, lalu ia menjawab, "Aku akan menjadi seorang dokter untuk mengajakmu kembali ke jalan yang benar."

Kesialan Sebagai Berkat

Yeremia 29:11 : SEBAB AKU INI MENGETAHUI RANCANGAN-RANCANGAN APA YANG ADA PADAKU MENGENAI KAMU, DEMIKIANLAH FIRMAN TUHAN, YAITU RANCANGAN DAMAI SEJAHTERA DAN BUKAN RANCANGAN KECELAKAAN, UNTUK MEMBERIKAN KEPADAMU HARI DEPAN YANG PENUH HARAPAN.

Beberapa tahun lalu di Skotlandia, keluarga Clark memiliki impian, Clark dan istrinya telah bekerja dan menabung, memiliki beberapa rencana untuk mereka dan kesembilan anak mereka untuk berkunjung ke Amerika. Sudah bertahun-tahun, akhirnya tabungan mereka cukup dan sudah membuat paspor dan tiket kapal untuk semua keluarga berangkat ke Amerika.

Semua keluarga sudah bersiap-siap dan semangat. Namun, tujuh hari sebelum keberangkatan mereka, anak bungsunya di gigit anjing. Dokter menjahit lukanya, tetapi ia menaruh pita kuning di pintu depan Clark. Karena ada kemungkinan rabies, mereka di karantina selama 14 hari.

Impian keluarga itu hancur. Mereka tidak bisa pergi ke Amerika seperti yang sudah direncanakan. Clark sangat kecewa dan juga marah. Ia berdiri di pinggir pelabuhan dan menyaksikan kapal itu berangkat, tanpa keluarganya. Ia mencucurkan air mata kekecewaan dan memaki anaknya, juga Tuhan karena kesialan mereka.

Lima hari kemudian, berita tragis menyebar ke seluruh Skotlandia. Kapal Titanic yang besar itu tenggelam. Kapal besar itu tenggelam dan menyebabkan ratusan korban meninggal. Keluarga Clark seharusnya ada di dalam kapal itu, tetapi karena seorang anaknya di gigit anjing, mereka terpaksan batal berangkat.

Ketika Clark mendengar berita itu, ia memeluk anaknya dan berterima kasih karena menyelamatkan seluruh keluarga. Ia juga bersyukur kepada Tuhan karena menyelamatkan nyawa mereka dan mengubah pandangannya tentang kesialan itu sebagai sebuah berkat.

Apa yang kita lihat sebagai kesialan, bisa jadi adalah cara Tuhan untuk menyelamatkan kita. Ia tidak pernah merancangkan kesialan dalam hidup kita. Seringkali kita yang menganggapnya sebagai kesialan melalui kacamata kita dan menyalahkan Tuhan dan orang lain karena telah membuat rencana kita hancur. Padahal Tuhan sedang bekerja untuk memperbaiki atau mengubah rencana kita, sekaligus merancangkan berkat dan kebaikan buat kita.

Jaguar Driver

Dave, seorang eksekutif muda yang sukses sedang menyusuri jalan menuju rumahnya mengendarai jaguar barunya. Ia memperhatikan seorang anak yang terlihat diantara mobil-mobil yang parkir di tepi jalan. Sedikit mengurangi kecepatan mobilnya, kemudian Dave kembali tancap gas.

Waktu mobilnya lewat, tiba-tiba ia dikejutkan dengan bunyi keras. Brakk! Sebuah batu menghatam sisi samping mobil barunya. Dave segera menginjak rem dan mundur ke belakang, ke tempat lemparan batu tadi berasal. Dengan marah ia turun dari mobilnya, memeriksanya dan berteriak! "Siapa yang melakukannya?"

Kemudian muncul seorang anak dari antara mobil-mobil yang parkir di tepi jalan. Ia nampak pucat pasi. Segera setelah Dave menarik baju anak itu dan membawanya ke samping mobil dengan menunjukkan tangannya ke arah cat mobil yang rusak. "Siapa kamu? Tahukan apa yang baru saja kamu lakukan? Tahu ngga berapa harga mobil ini? Mengapa kamu melakukannya?"

Anak itu benar-benar ketakutkan. Dengan pucat pasi, air matanya mulai menetes di pipinya. Anak itu meminta maaf.

"Tuan, maafkan aku. Aku sungguh-sungguh menyesal, tapi aku tidak tahu lagi harus berbuat apa.."

Kembali dia terisak dengan ketakutkan. "Aku melempar batu tadi karena tidak ada orang yang mau berhenti.."

Dengan tangan yang gemetar, ia menunjuk ke arah belakang mobil yang sedang parkir. "Kakakku ada disana dan dia terjatuh dari kursi rodanya, aku tidak kuat mengangkatnya, kasihan dia.."

Dengan memohon anak itu meminta Dave untuk menolong kakaknya. "Kakakku terluka dan ia terlalu berat, maukah Tuan menolongnya?"

Dave menelan ludah dan serasa tercekik tak bisa berkata apa-apa. Air matanya segera ia sembunyikan dari anak itu secepat ia menolong kakaknya. "Terima kasih, Tuhan memberkati," kata kakak bocah itu. Dave masih tidak bisa berkata apa-apa, ia begitu terharu. Dengan lambat, ia kembali lagi ke mobil barunya. Kerusakannya memang parah, tapi Dave tidak mempersoalkannya. Ia baru saja belajar sesuatu yang berharga.

"Jangan melalui hidup terlalu cepat, sampai seseorang harus melempar batu untuk mendapatkan perhatianmu."

Bagaimana dengan hidupmu? Apakah kamu lebih kuatir dengan yang kamu pakai daripada hidupmu sendiri? Apakah kamu lebih mengasihi yang kamu pakai daripada hidupmu sendiri? Apakah kamu lebih mengasihi yang kamu pakai dari pada orang lain? Kedatangan-Nya adalah bukti karena Ia lebih mengasihi kita daripada apapun juga.