Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

15 October 2008

Sebuah Ironi

Nats : Lalu Tamar menaruh abu di atas kepalanya, mengoyakkan baju kurung yang maha indah yang dipakainya, meletakkan tangannya di atas kepalanya dan pergilah ia sambil meratap dengan nyaring (2Samuel 13:19)

Bacaan : 2Samuel 13:1-22

Kebahagiaan dan kesedihan biasanya berawal dari keluarga. Kita boleh sukses dalam segala hal, tetapi kalau misalnya anak-anak berantakan hidupnya, kita akan merana. Benar seperti isi petikan lagu pengiring sinetron Keluarga Cemara: "Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga."

Ironisnya, orang lebih kerap menomorduakan keluarga. Lebih mengutamakan karier atau hobi. Daud adalah salah satu contohnya. Daud mampu mengurus banyak hal dengan sukses. Ia berhasil menyatukan dua belas suku Israel menjadi satu bangsa. Ia adalah arsitek militer yang hebat. Ia berhasil mendirikan ibukota, membawa pulang tabut Allah ke Yerusalem, dan membuka jalan bagi pembangunan Bait Allah. Ia menulis banyak mazmur yang indah. Namun, menyangkut urusan keluarga, Daud gagal total. Bacaan kita hari ini adalah salah satu contoh tragedi yang terjadi dalam keluarga Daud. Absalom, anaknya, pun kemudian juga memberontak kepadanya (2Samuel 15:1-12).

Tampaknya Daud memang kurang memerhatikan keluarga. Ia banyak sekali menulis mazmur, tetapi tidak ada mazmur yang ia tulis mengenai atau untuk anak-anaknya. Ia berdoa memohonkan pengampunan bagi pasukannya, mendoakan Yonatan, sahabatnya, juga Saul, musuh bebuyutannya, tetapi tidak untuk keluarganya. Ya, kita tidak pernah membaca mazmur dan doa yang ditulis oleh Daud untuk keluarganya. Daud pun menuai hasil dari sikapnya itu. Sebuah ironi -AYA

KEBAHAGIAAN IBARAT SEBUAH RUMAH
DAN KELUARGA ADALAH FONDASINYA

Yayasan Gloria

Jujurlah Dengan Allah

Jangan mengatakan BAPA
kalau sehari-hari tidak berlaku sebagai anak

Jangan mengatakan KAMI
kalau engkau hidup tersendiri dalam egoismemu

Jangan mengatakan YANG ADA DI SURGA
kalau hanya memikirkan hal-hal duniawi

Jangan mengatakan DIMULIAKANLAH NAMAMU
kalau tidak menghormatiNya

Jangan mengatakan TERJADILAH KEHENDAKMU
kalau tidak mau menerimanya bila ternyata adalah berat dan pahit

Jangan mengatakan BERILAH KAMI REJEKI PADA HARI INI
kalau tidak prihatin akan mereka yang lapar, orang buta huruf dan tanpa harapan untuk besok

Jangan mengatakan AMPUNILAH KESALAHAN KAMI
kalau masih menyimpan kebencian terhadap saudaramu

Jangan mengatakan JANGANLAH KAMI BIARKAN JATUH DALAM PERCOBAAN
kalau masih bermaksud berbuat dosa

Jangan mengatakan BEBASKANLAH KAMI DARI YANG JAHAT
kalau tidak berani mengambil posisi melawan kejahatan

Jangan mengatakan AMEN
kalau tidak menganggap serius setiap kata doamu BAPA KAMI

Humor : Gangguan Pendengaran

Seorang pria berkata kepada dokternya, "Rasanya pendengaran istriku agak terganggu. Apa yang harus kulakukan?"

Dokter menjawab, "Coba lakukan ini. Saat istrimu mencuci, berdirilah tiga meter di belakangnya dan tanyalah suatu hal padanya. Jika ia tak menjawab, mendekatlah dan bertanyalah padanya sampai ia mendengarnya. "

Pria itu pulang ke rumah dan melihat istrinya menyiapkan makan malam. Berdiri tiga meter di belakangnya, pria itu bertanya, "Makan malamnya apa, Sayang?"

Tidak ada jawaban, ia maju semeter dan bertanya lagi. Masih tidak ada jawaban, jadi ia maju semeter lagi. Tidak ada jawaban juga. Akhirnya ia berdiri tepat di  belakangnya dan berkata, "Sayang, makan malamnya apa?"

Untuk keempat kalinya, aku berkata "Sebaiknya kamu cek ke dokter telinga."