Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

03 October 2011

Tuhan Berjanji Membebaskanmu

Oleh David Wilkerson

Dalam suatu seremoni yang serba rahasia yang diciptakan oleh Tuhan, nabi Samuel mengurapi Daud menjadi raja dari Israel. Samuel mengatakan kepada anak muda yang takut akan Tuhan ini, “Kamu telah diurapi oleh Tuhan untuk memerintah bangsa ini” Namun, bagi Daud, hal ini merupakan jalan yang amat panjang sebelum ia mencapai tahta kerajaan.

Sebelum janji akan pengurapannya terwujud, hamba Tuhan yang penuh pengabdian dan setia ini akan menghadapi banyak pencobaan dan ujian.

Hanya beberapa waktu kemudian, kita melihat bagaimana Daud terburu-buru melalui bukit-bukit dan jalan-jalan untuk menghindari raja Saul.yang telah bersumpah untuk membunuhnya.

Betapa sahajalah bagi seorang yang takut dan setia terhadap Tuhan seperti Daud ini. Di sini kita melihat seorang hamba yang dipilih oleh Tuhan sendiri dan baru saja diurapi, sedang berlari-lari untuk menyelamatkan nyawanya, diburu-buru, tanpa pertolongan, tanpa rumah dan seorang diri.

Pikiran Daud satu-satunya adalah, “Aku harus keluar dari negeri ini secapatnya. Bila tidak, aku akan mati.”

Ia berlari ke batas negeri yang terdekat, yaitu kota Gath di negeri Filistin, yang dikuasai oleh raja Abimelekh. Ketika ia mendekati benteng musuh itu, ia berusaha untuk melewatinya sebagai seorang pejalan yang biasa dengan harapan bahwa ia tidak akan dikenali. Namun penjaga-penjaga itu saling berbisik, “Bukankah orang itu Daud yang telah membunuh Goliath kita? Bukankah bangsa Israel memujinya dengan nyanyian bahwa ia mampu untuk membunuh sepuluh ribu orang Filistin? Kelihatannya kita sedang akan memperoleh hadiah yang besar. Biarlah kita menangkap dan membawanya ke istana dan mempersembahkannya kepada raja kita.”

Daud sadar bahwa jiwanya berada di dalam bahaya karena musuh mereka, orang Filistin akan menuduhnya sebagai seorang teroris. Kemungkinan besar ia akan dipukuli sampai mati dan akan dijadikan semacam pertunjukkan serta diarak dari kota yang satu ke kota yang lain. Alkitab mengungkapkan, “Daud…menjadi takut sekali terhadap raja Abimelekh” (1Sam 21:12)

A Living Dog Is Better Than A Dead Lion

Hari ini Firman Tuhan secara khusus memberi perhatian kepada dua jenis binatang yang sangat berlawanan dalam hidup masyarakat Yahudi di zaman Perjanjian Lama yaitu : Anjing dan singa. Pengkotbah 9:4 berbunyi, “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati. Ada perbedaan sangat besar antara dua hewan yang disebutkan dalam ayat ini. Bagi banyak orang di masa sekarang ini, anjing adalah :

  • Binatang peliharaan (pets) yang sangat akrab dengan manusia.
  • Binatang yang sangat bermanfaat bagi manusia : Menjaga rumah, menuntun orang buta, melacak narkoba yang tersembunyi, membantu dalam berburu, dsb.
  • Binatang yang bisa dijadikan sumber gizi yang lezat.

Bagi masyarakat Yahudi, anjing dipandang rendah sebagai hewan najis yang tidak berhak diberi penghargaan apapun. Sesuatu yang buruk dan hina selalu dikaitkan dengan anjing.

  • Goliath marah karena Daud memandang dirinya seperti anjing. (1 Samuel 17:43)
  • Para penyesat atau guru ajaran sesat disebut sebagai anjing (Filipi 3:2)
  • Orang non-Jews acap kali dihina dengan sebutan anjing (Matius 15:26)

Sebaliknya, singa dipandang sebagai hewan yang gagah, mulia dan patut mendapat penghargaan tinggi, lambang dari kududukan dan kekuasaan :

  • Orang benar dilambangkan bagaikan singa. (Amsal 28:1)
  • Singa muda menggeram gambaran Tuhan yang berperang. (Yesaya 31:4)
  • Yesus diberi predikat singa dari Yehuda. (Wahyu 5:5)

Perpaduan antara dua binatang yang sangat berlawanan dalam Pengkhotbah 9:4 memberikan sebuah pelajaran rohani yang sangat aktuil untuk kita semua yang hidup di akhir zaman. Kalau ayat ini diterjemahkan secara bebas untuk dunia modern sekarang ini, bunyinya adalah sbb :

  • Seorang tukang becak yang masih hidup lebih baik dari jendral bintang lima yang sudah mati.
  • Seorang pemuda buta huruf di desa terpencil lebih baik dari profesor terkenal yang mati.
  • Seorang pengemis yang masih hidup lebih baik dari konglomerat yang sudah jadi mayat.