Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

23 September 2011

Hidup = Mengalami Masalah

Dalam hidup ini, sering kita mengalami yang namanya masalah. Tak jarang kita bertanya-tanya sendiri kok rasanya tidak putus-putusnya kita dirundung masalah. Lepas masalah yang satu, ehhh masalah yang lain datang. Entah masalah keuangan, masalah pekerjaan, masalah cinta, masalah dengan teman, masalah dengan rekan kerja, dst.

Hal yang sering tragis adalah makin kita berusaha untuk dekat dengan Tuhan, semakin banyak permasalahan datang. Lalu kemudian kita akan bertanya:

"Tuhan kok begini? Saya sudah mengikuti Engkau, tetapi mengapa masalah tidak habis-habis? Orang yang hidupnya seenaknya malah bisa nyaman, enak, tenang, kok saya yang sudah all out melakukan yang terbaik untuk Tuhan kok malah seperti ini?"

Anda tahu, inilah hal-hal yang perlu kita renungkan. Hidup esensinya adalah untuk mengalami. Sebenarnya apakah segala sesuatu itu masalah atau cara pandang kita yang keliru? Mengapa Tuhan mengizinkan adanya masalah dalam kehidupan kita? Mari kita tinjau satu persatu.

1. Masalah bukanlah masalah sampai Anda menyatakan hal tersebut sebagai masalah.

Ini adalah masalah cara pandang dalam hidup. Masalah bisa ditinjau sebagai masalah atau justru dipandang sebagai kesempatan. Kesempatan untuk apa? Untuk lebih maju, dalam segala hal.

Ingat kasus Rasul Paulus. Ia yang tadinya adalah penganiaya umat Tuhan, menjadi berbalik 180 derajat karena dijamah Tuhan. Kalau Paulus terus-menerus menganggap bahwa masa lalunya adalah masalah, ia tidak akan bisa maju. Bagaimana bisa maju?

Saya yakin sangat tidak mudah baginya untuk berkarya. Mengapa? Coba Anda pikirkan, seorang pembunuh umat Tuhan yang sangat bersemangat tiba-tiba secara ekstrim malah mendukung Tuhan dan berkarya bagi Tuhan.

Kasih Yang Berani

Bacaan Setahun : Daniel 7-9
Nats : ... tidak boleh engkau mengambil Herodias!" Walaupun Herodes ingin membunuhnya ... (Matius 14:4-5)

Bacaan : Matius 14:3-12

Yohanes Pembaptis adalah nabi yang unik. Umur dan masa pelayanannya sangat pendek. Khotbahnya juga pendek, tetapi "menyambar" semua golongan tanpa kecuali membuat telinga panas, muka merah, hati gelisah. Orang dunia menganggapnya bodoh karena membuat kesalahan besar yang menyebabkan usia dan pelayanannya pendek. Mengapa? Ia berani menegur Herodes karena merebut Herodias, istri Filipus, saudaranya sendiri. Ah, siapakah ia sehingga berani menegur raja?

Namun benarkah Yohanes mencemarkan nama raja karena telah menegur langsung? Atau, ia mengasihi rajanya dan tak ingin sang raja hidup dalam dosa yang membinasakan? Memang dari sudut pandang duniawi, Yohanes melanggar tata krama. Namun dari sudut pandang kebenaran, keberanian Yohanes patut diacungi jempol, sebab ia mengasihi raja dan rakyatnya. Bukankah dosa raja berdampak buruk bagi bangsanya? Sayangnya, kejujuran dan kebenaran tak dihargai di dunia ini. Suara kenabian dan kejujuran biasanya dijauhkan dari raja. Yang ada di sekitar raja hanya para penjilat dan penggembira hati yang memabukkan. Kalaupun ada orang yang baik dan jujur di sekitar raja, biasanya ia cenderung memilih diam agar selamat.

Saudara, apabila Anda adalah "raja" baik di rumah, di tempat kerja, di gereja, di lembaga pelayanan, atau di masyarakat, waspadalah! Jagalah hati. Peliharalah persekutuan dengan Tuhan. Bukalah pintu hati bagi teguran, sekalipun itu membuat wajah merah dan hati gerah. Jangan tergesa mematikan suara itu. Siapa tahu itu adalah suara Tuhan yang berseru-seru di padang gersang kehidupan, agar jalan Anda yang bengkok diluruskan (Matius 3:3) --SST

SEORANG PENJILAT MEMBUNUH DENGAN PUJIAN
TETAPI SAHABAT SEJATI MENYELAMATKAN DENGAN TEGURAN

Sabda.org