Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

08 September 2009

Prophetic Journey Bengkulu Hari Ke 4

Hanya satu kata Luar Biasa Tuhan Yesus itu, apa yang Dia kerjakan selama perjalanan kami di Bengkulu. Puji Tuhan, kami semua bisa melewati dengan dengan luar biasa.

Pagi hari kami sarapan pagi dan siap – siap check out dari Hotel Madelin, kami pergi ke GBI Bengkulu untuk melayani di GBI Riak Siabun. GBI Riak Siabun adalah salah satu cabang dari GBI Bengkulu. GBI ini digembalakan oleh seorang ibu yang mempunyai tiga anak. Ibu Harni ini sejak anak – anaknya masih kecil ditinggal oleh suaminya untuk menghadap Bapa di Surga, Ibu ini dengan tekun menggembalakan jemaat di desa, perjalanan yang kami tempun sekitar 8 km dari kota Bengkulu. Jalan yang harus kami lalui dengan menggunakan mobil adalah jalan yang berbatu2 dan bila hujan sangat becek dan lengket. Kami di antar oleh Bapak Rendra, seorang hamba Tuhan yang saat ini duduk di kursi DPRD Kota Bengkulu. Mujijat Tuhan yang beliau katakan bahwa ia bisa duduk dikursi DPRD kota, sepanjang sejarah baru periode kali ini ada seorang anak Tuhan duduk di kursi DPRD Kota Bengkulu.

Sungguh membuat kami terharu, kami melihat jemaat ibadah dengan segala keterbatasan, alat musik yang sederhana dan lagu – lagu rohani yang lama. Bagi saya pelayanan ini merupakan kehormatan, kami di Jawa sangat nyaman segala fasilitas tersedia. Jujur, selama ini saya pikir saya adalah orang yang tidak pandai berbicara, saya cenderung pendiam, saya pikir saya akan menyampaikan kotbah hanya 10 menit ternyata saya bisa berbicara sekitar 30 menit.

Baca selengkapnya..

Sumber : Generasi Yoel

Prophetic Journey Bengkulu Hari Ke 3

Prophetic Journey Bengkulu
Hari Ketiga
Sabtu, 29 Agustus 2009

Indahnya mentari yang terbit dari ufuk timur kota Bengkulu, begitu hangatnya menyinari bumi ini, Puji Tuhan hari ketiga sudah kami lalui bersama Tuhan Yesus Kristus. Kami tim Bengkulu sebelum melakukan tugas kami, kami menyiapkan diri dalam doa dan perjamuan kudus.

Sekitar jam sembilan pagi kami berangkat ke GBI Bengkulu untuk sama – sama melakukan doa keliling dan disertai doa dan puasa. Jam 10.00 pagi kami menaikkan pujian dan penyembahan kepada Tuhan Yesus Kristus. Jam 11.00 kami melakukan doa keliling dengan dua buah kendaraan. Puji Tuhan kami disertai dengan 13 orang pendoa dari kota Bengkulu.

Route doa keliling kami mulai dari titik 0 km di Benteng Malborough, kemudian kita menyusuri kota Bengkulu. Setiap pintu – pintu gerbang kota kami mendoakannya, kami menutup setiap pintu masuk kuasa kegelapan yang akan masuk ke kota Bengkulu. Kami juga membuka pintu gerbang kota Bengkulu agar berkat dari Tuhan Yesus Kristus masuk ke kota ini. Kami juga masuki ke pintu gerbang pelabuhan (Tanjung Bai). Kami melakukan doa keliling sekitar dua jam.
Setelah doa keliling kami pulang ke GBI Bengkulu untuk doa penutup dan setelah itu kami melanjutkan dengan makan siang (buka puasa) bersama pengurus GBI Bengkulu (Ibu Gembala, Wakil Gembala dan Ibu Yunita).

Baca selengkapnya..

Terbiasa

II Timotius 2:1 "Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 70; Ibrani 4; 2 Raja-raja 20-21

Ada sebuah kisah tentang seorang lelaki tua yang pensiun setelah bertahun-tahun bergabung dalam Angkatan darat Inggris. Suatu hari, ada temannya yaitu seorang pria yang mengetahui benar tentang sejarah karier militernya yang panjang dan istimewa itu, berniat untuk mengerjainya.

Saat lelaki tua itu berjalan kaki dengan kedua tangannya yang dipenuhi dengan barang bawaan, temannya yang iseng itu kemudian mengendap-endap mendekati lelaki tua tersebut dan kemudian setelah pria iseng itu berada di belakangnya ia pun berteriak, "Perhatian!" kemudian tanpa ragu sedikitpun, lelaki tua itu langsung merapatkan kedua tangannya di samping tubuhnya dalam posisi siap. Akibatnya, semua barangnya berjatuhan di trotoar. Kemudian tertawalah pria yang iseng itu.

Tanpa sadar, apa yang dilakukan oleh lelaki tua adalah gerakan yang sudah menjadi kebiasaanya saat ia aktif dalam dunia kemiliteran. Sehingga hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya.

Demikian pula, sebagai pengikut Kristus, jika Anda mengatakan bahwa Anda hidup dalam Kristus dan Anda pun aktif dalam kegiatan pelayanan rohani, Anda seharusnya menanggapi segala sesuatu dengan cara yang sesuai dengan pola hidup Anda. Perilaku dan perkataan Anda harus senantiasa selaras dengan teladan hidup Yesus Kristus.

Memang, pada kenyataanya, Anda pasti masih berurusan dengan keinginan-keinginan yang penuh dosa, oleh karena itu Andas perlu mendisiplinkan diri Amda sendiri untuk menjadi orang yang dikehendaki Allah. Seperti halnya prajurit atau atlet yang berlatih (II Timotius 2:3-5), Anda pun berlatih berulang kali sampai kita terbiasa melakukannya dengan benar.

Melalui iman dalam Kristus, Anda adalah anak-anak Bapa Surgawi. Dengan kuasa Roh yang berdiam dalam hati, marilah mengembangkan kebiasaan untuk taat pada Firman Allah. Kemudian dalam setiap situasi kehidupan, Anda akan menyadari bahwa menaati Dia berarti terbiasa melakukan kehendak-Nya dengan benar.

Bila Anda berjalan bersama Kristus setiap waktu Anda akan menjadi semakin serupa dengan-Nya

Jawaban.com

Seorang Sarah

Pada pertengahan Desember yang dingin dan berangin, Sarah berjalan dengan agak tergesa-gesa menuju ke penampungan umum, sebuah tempat dimana dia dan 2 orang anaknya yang kecil menyebutnya sebagai rumah selama tiga bulan terakhir. Dia baru saja pulang dari tempat kerjanya.

Selama lima hari terakhir, Sarah sangat beruntung dapat menemukan pekerjaan. Meski bukan pekerjaan yang memberikan uang cukup baginya. Tetapi dia merasa senang karena dia dapat bekerja. Jaman sekarang adalah tidak mungkin untuk mendapatkan pekerjaan yang tetap dan gaji yang besar, hanya dengan bermodalkan ijazah SMA.

Bahkan hal itu akan semakin sulit jika anda adalah seorang wanita dan seorang ibu tunggal serta tidak mempunyai alamat tetap. Sarah bekerja paruh waktu sebagai pencuci piring di sebuah 'café'. Dan itu juga bukan pekerjaan yang tetap. Karena Sarah menggantikan tempat seorang pegawai yang sedang sakit.

Dan hari ini merupakan hari yang terakhir untuk Sarah bekerja menggantikan orang tersebut. Tetapi selama lima hari ini Sarah dapat memberi kedua anaknya makanan yang hangat dan cukup. Dan untuk sekarang, hal itu lebih dari apa yang dia inginkan.

Sarah berjalan menuju ke penampungan umum itu, kedua anaknya sedang menunggunya dengan perut yang kosong, dia memperhatikan keadaan sekitarnya banyak orang yang berlalu lalang tidak seperti biasanya. Karena Hari Natal akan tiba sebentar lagi.

Jalanan penuh sesak dengan orang-orang yang keluar masuk dari toko satu ke toko lainnya berbelanja untuk hari Natal. Sarah teringat bahwa dua tahun yang lalu, seperti waktu ini, dia juga sangat sibuk berbelanja untuk Natal.

Sarah dan suaminya berpergian bersama beberapa hari untuk mencari hadiah yang tepat bagi anak-anaknya. Semua tampaknya berjalan dengan baik. Sarah menjaga kedua orang anaknya dan rumah, sementara suaminya sibuk bekerja memperbesar usahanya.

Uang mengalir begitu mudahnya waktu itu.
Anak-anak suka dengan hadiah yang mereka terima. Merek berempat merayakan kebaktian Natal di gereja. Dan menyalami banyak orang yang bersama-sama memperingati kelahiran sang Juruselamat yang menjelma menjadi seorang bayi Yesus.

Tepat pada malam Tahun Baru, ketika Sarah dan suaminya pulang mengendarai mobil dari sebuah pesta, di sebuah perempatan jalan..tiba-tiba... sebuah mobil 'sport' menabrak samping mobil mereka tepat pada bagian pengemudi...dimana suami Sarah menyetir.

Sarah mengalami luka-luka kecil, tetapi suaminya mengalami pendarahan otak yang hebat. Dan...suaminya...tidak pernah bangun kembali... Sarah tidak pernah dapat melupakan siang hari yang dingin itu...ketika mereka meletakkan tubuh suaminya....di liang kubur.

Beberapa bulan kemudian, usaha suaminya ditutup, rumah mereka disita oleh bank. Dalam duabelas bulan, mobil mereka dan alat-alat perabot mereka terjual. Dan tiga bulan yang lalu, Sarah dan kedua anaknya diusir dari apartemen mereka. Lima bulan sewa tak terbayar. Semenjak itu mereka tinggal di penampungan umum.

Sarah tetap berjalan, dan dia berhenti pada depan sebuah toko perabot rumah. Didalam toko tampak sebuah televisi besar, seperti yang pernah dipunyainya dulu, menyiarkan sebuah acara mencari dana untuk hari Natal. Dengan menampilkan banyak artis-artis terkenal.

Seorang pengusaha terkenal maju ke depan dan memberikan sebuah 'cheque' dengan tertulis 5 juta dollar kepada panitia. Dan seketika penonton bangkit berdiri dan memberikan tepuk tangan yang panjang. Satu demi satu, pengusaha, bintang film, penyanyi, politikus maju kedepan dan menyumbangkan uang yang besar jumlahnya, seperti mereka hendak berlomba siapa yang terbanyak. Penonton pun semakin ramai bertepuk tangan.

Seorang penyanyi mendorong penonton untuk ikut menyumbangkan uang mereka. Lalu penyanyi itu menyanyikan sebuah lagu Natal sampai mengeluarkan air mata. Dengan tak sadar dari mata Sarah keluar air mata pula. Dia teringat ketika dia masih mampu menolong para tetangga yang sedang kekurangan. Tetapi sekarang dia tidak mampu lagi.

Dia tidak tahan untuk menonton lebih lama lagi, dan dengan cepat dia berlalu dari depan toko itu. Dibukanya dompetnya terlihat uang dua puluh dollar, hasil kerjanya siang hari ini. Tidak banyak. Tetapi paling tidak hal itu cukup untuk mengenyangkan dia dan anaknya malam ini.

Ketika Sarah mendekati toko makanan dan hendak masuk ke dalamnya, dia memperhatikan di samping pintu masuk toko, dua anak lelaki kecil, mungkin berumur 10 dan 13 tahun, yang sedang duduk di atas trotoar yang dingin, dengan saling berpelukan. Tubuh mereka terbungkus dengan selimut tua yang kotor. Tetapi selimut itu tidak dapat menutup semua tubuh mereka. Kaki mereka tampak memakai sepatu olahraga yang tidak sepasang. Anak lekaki yang lebih kecil sepatunya berlubang sehingga kelihatan jempol kakinya.

Rambut mereka kotor dan berminyak. Wajah dan kulit mereka tampak sekali kedinginan dalam keadaan yang beku seperti itu. Dan di depan mereka tampak sebuah kaleng kosong. Banyak orang yang keluar masuk dari toko makanan itu tetapi tidak banyak yang memperhatikan kedua orang anak lekaki itu. Sarah mendekati mereka.

Anak lelaki yang lebih besar mendongakkan kepalanya dengan pandangan mata yang sayu. Secara otomatis tangan Sarah membuka dompetnya dan memegang uang 20 dollar miliknya. Sarah termenung sejenak dan berpikir kedua anaknya sedang menunggunya pulang untuk membawa makanan yang hangat malam ini.

Duapuluh dollar tidaklah banyak. Tetapi dengan uang sebesar itu cukup berarti bagi Sarah saat ini. Dan itulah uang hanya dia punya.

Anak lelaki yang besar memeluk adiknya yang kedinginan lebih erat lagi. Kemudian tanpa ragu lagi, Sarah mengambil uang 20 dollar miliknya, dan memasukkan ke dalam kaleng kosong itu. Dan dengan cepat dia berbalik kembali ke penampungan umum tanpa menoleh sekalipun ke arah toko makanan itu.

Dari belakang, Sarah dapat mendengar suara anak lelaki yang lebih besar, membangunkan adiknya "Lihat...uang!" Dan Sarah tetap berjalan menjauh, dengan desiran angin, dia dapat mendengar perkataan anak lelaki yang besar, "Terima kasih..."

Maka malaikat pun bersorak dan Tuhan tersenyum dari surga.

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." Lukas 21:1-4