Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

04 February 2008

Supir Taksi

Dua puluh tahun yang lalu, saya jadi supir taksi untuk membiayai hidup. Saya hidup mandiri, suatu kehidupan untuk seseorang yang tidak menginginkan adanya atasan. Yang tidak aku sadari juga hidup ini sebagai suatu penginjilan.

Karena aku bekerja pada malam hari, taksi saya menjadi tempat pengakuan dosa jalan-jalan. Penumpang meningkat, duduk di belakangku tanpa tahu siapa mereka, dan bercerita kepadaku mengenai kehidupan mereka. Saya bertemu dengan kehidupan beberapa orang yang membuat saya kagum, ada yang membuat saya gembira dan ada juga yang membuat saya terharu.

Tetapi tidak ada yang menyentuh hati kecuali cerita seorang wanita yang aku bawa di suatu malam pada bulan Agustus.

Saya mengangkat telepon dari suatu tempat. Saya mengira saya dikirim untuk menjemput beberapa orang yang habis berpesta, atau seseorang yang baru saja bertengkar dengan kekasihnya, atau seorang pekerja yang ingin bekerja lebih awal di suatu pabrik atau industri di suatu bagian kota.

Ketika saya sampai jam 2:30 AM, gedungnya gelap hanya sebuah cahaya yang nampak di sebuah jendela. Melihat situasi yang ada, beberapa supir taksi biasanya membunyikan klakson sekali atau dua kali, tunggu sebentar, kemudian pergi. Tetapi saya sering melihat orang-orang yang menggantungkan taksi sebagai alat satu-satunya transportasi mereka. Kecuali situasinya berbahaya, saya selalu pergi ke pintu. Penumpang ini mungkin membutuhkan bantuan saya, saya berpikir seperti itu. Kemudian saya berjalan menuju pintu dan mengetuk pintunya.

"Tunggu sebentar", jawab seseorang seperti orang tua. Saya dapat mendengar sesuatu diseret. Setelah menuggu lama, pintu kemudian dibuka. Seorang wanita tua yang berusia 80-an berdiri di depanku. Dia memakai rok cetakan dan topi kotak dengan kerudung yang menutupinya, seperti seseorang di film tahun 1940-an.

Di sebelahnya ada kopor nilon kecil. Bangunan apartemennya kelihatan seperti bangunan yang tidak ada orang yang tinggal selama bertahun-tahun. Furniturnya di tutupi dengan seperai. Tidak ada jam di dinding. Tidak ada perhiasan atau alat-alat apapun di meja. Di sebuah ujung ruangan ada kardus yang berisi foto-foto dan barang-barang pecah belah.

"Apakah kamu mau membawa tas saya ke mobil?", kata orang itu. Aku membawa tas itu ke taksi, kemudian kembali membantu wanita itu. Dia menggandeng tanganku dan kami berjalan perlahan-lahan. Dia terus berterima kasih karena kebaikanku.

"Tidak masalah", kataku. "Aku hanya mencoba memperlakukan penumpangku seperti aku memperlakukan ibuku".

"Oh, kamu orang yang baik", dia berkata.

Ketika sampai di dalam taksi, dia memberiku sebuah alamat, kemudian dia berkata, "Dapatkah kamu melewati kota?"

"Itu bukan jalan singkat", aku kemudian menjawabnya. "Oh, saya tidak keberatan", balasnya. "Saya tidak terburu-buru. Saya hanya menuju ke tempat program penyembuhan bagi pasien".

Saya melihat melalui kaca untuk melihat bagian belakang. Matanya berkaca-kaca. "Saya tidak punya siapa-siapa lagi", kata wanita itu. "Dokter bilang umurku tidak akan lama lagi".

Saya sudah sampai dan saya mematikan argo. "Rute mana yang mau kamu lalui?", aku bertanya.

Selama 2 jam, kamu berjalan-jalan di kota. Dia menunjukkan kepadaku sebuah bangunan dimana tempat dia bekerja sebagai operator elevator. Kami menuju ke lingkungan dimana dia pernah tinggal bersama suaminya pada saat mereka jadi pengantin baru. Dia mengajak saya ke sebuah ruangan yang dulunya adalah ballroom dimana dia pernah menari-nari sewaktu masih muda. Kadang-kadang dia memintaku untuk memelankan taksi jika melewati bangunan-bangunan tertentu atau suatu tempat.

Pada saat hari sudah hampir fajar, dia berkata, "Aku lelah, mari kita berangkat".

Kamu pergi ke alamat yang dia berikan kepadaku. Tempat itu sebuah gedung yang kecil, seperti rumah sakit, kami menuju halaman yang banyak tiang-tiangnya. Ada 2 orang muncul begitu kami sampai. Mereka sangat senang, dan memandang setiap langkahnya. Mereka pasti sudah menunggu-nunggu kedatangan wanita itu.

Saya mengambil tas yang ada di bagasi dan meletakkannya di dekat pintu. Wanita itu sudah duduk di kursi roda.

"Berapa banyak aku berhutang padamu?", dia bertanya, sambil mengambil dompet.

"Tidak perlu", jawabku.

"Kamu kan harus bekerja", dia menjawab lagi.

"Akan ada penumpang yang lain", jawabku lagi.

Tanpa berpikir, saya membungkuk dan memberinya pelukan. Dia juga memelukku dengan erat. "Kamu memberikan sebuah kenangan kecil yang indah buat wanita tua seperti aku", dia berkata. "Terima kasih".

Saya menjabat tangannya, kemudian saya perlahan-lahan pergi. Di belakangku, suara pintu di tutup. Itu adalah suara pintu kehidupan yang akan di tutup. Saya tidak mencari penumpang lagi di shift itu. Saya berputar-putar tanpa tujuan, dan tidak berpikir apa-apa. Selamat hari itu, aku malas untuk berbicara. Bagaimana jika wanita itu bertemu dengan supir taksi yang mudah marah, atau tidak sabar? Bagaimana jika saya menolak untuk jalan, atau membunyikan klakson sekali, dan kemudian pergi?

Saya kira, saya tidak pernah melakukan hal yang istimewa dalam hidup saya. Kita berpikir hidup kita dikelilingi kenangan2 yang indah. Tapi kenangan yang indah datang ke kita tanpa kita sadari, terbungkus indah.


Pesan:
Banyak orang mungkin tidak ingat apa yang kamu lakukan, tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana kamu membuat mereka merasakan.

Terjemahan dari : Taxi Driver

Tuhan & Burung Yang Mati

Seorang ayah bermain-main dengan anak-anaknya di sebuah pantai. Si bungsu yang baru empat tahun umurnya, berlarian kepadanya, memegang tangan serta memimpinnya ke suatu tempat di mana seekor burung camar mati tergeletak di pantai.

Anak itu bertanya, “Pap, apa yang telah terjadi dengan burung itu?”

Ayahnya menjawab, “Ia telah mati dan pergi ke surga”.

Anak kecil itu berpikir sejenak lalu berkata, “Apakah Tuhan melempar dia kembali ke bumi?”

Mulailah Dari Diri Sendiri

"Berusahalah untuk selalu menjadi pihak pertama yang menunjukkan cinta dan perhatian Anda kepada orang lain. Jangan menuntut perhatian dan cinta mereka untuk diperlihatkan lebih dahulu. Itulah satu-satunya cara yang saya ketahui untuk ke luar dari kegelapan hidup", demikian dikatakan Ny.Eunice Chew (52 tahun), salah satu finalis pemilihan ibu teladan se-Singapura tahun lalu.

Diadopsi oleh pasangan Teochew yang kaya-raya dan sudah memiliki seorang putra tapi masih ingin punya anak perempuan, maka masa kanak-kanak Chew dipenuhi kemewahan. Liburan keluarga sering dilewatkan di luar negeri.

Pasangan Teochew menyayangi putrinya dengan cara mereka. Menurut cerita Chew, mereka adalah produk pendidikan kuno yang tidak mengenal pelukan kepada anak-anak untuk meyakinkan mereka dari waktu ke waktu bahwa orangtua menyayangi anak-anak.

Akibatnya, Chew tumbuh menjadi wanita yang haus kasih sayang. Ia menikah pada usia 17 tahun dengan seorang pegawai transportasi yang bangkrut. Dari pria itu diharapkannya akan datang kasih sayang yang dicarinya.

Ternyata ia menikah dengan pria yang suka menyiksa istri. Perkawinan itu bertahan lima tahun, dikaruniai dua anak. Tak lama setelah bercerai, ayah angkat Chew wafat karena sakit. Pembagian warisan menimbulkan pertikaian di dalam keluarga besar Teochew. Akhirnya Chew ternyata tidak kebagian apa-apa selain kewajiban mengurusi ibu angkatnya yang sudah buta dan lumpuh. Chew menjual susu coklat Milo untuk menyambung hidupnya.

"Ini pengalaman pertama saya harus bekerja mencari uang. Setiap malam saya menangis karena tidak mengerti berbisnis. Apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakannya? ," kata Chew dalam wawancara kepada harian Singapura The Straits Times.

Ia bertahan dua tahun di pekerjaan itu. "Bagaimanapun susahnya saya mendapatkan uang, saya selalu memastikan bahwa ibu mendapat ayam goreng dan ikan setiap hari. Dia memang buta dan lumpuh, tetapi dia membantu saya mengurus anak-anak sehingga saya bisa bekerja mencari uang," katanya.

Ia kemudian ganti pekerjaan, menjadi koki sebuah toko makanan. Sekitar dua tahun kemudian ganti lagi menjadi penjual pakaian. Setiap hari ia membopong empat kantong penuh berisi baju untuk dijual. Tentu saja dengan menumpang kendaraan umum.

Pada waktu bersamaan, ia menambah pekerjaannya dengan dua hal lain, yaitu menjadi makelar rumah dan mobil bekas, serta memanfaatkan bakatnya di bidang seni. Setiap malam Chew mendesain beberapa pola kain untuk sebuah perusahaan garmen di Jepang. Lumayan pendapatannya. Tapi akhir 1970-an, pasar retail tekstil melemah, Chew beralih menjadi pelayan restoran.

Beberapa lama kemudian meningkat jadi pimpinan pelayan dan kemudian menjadi manajer untuk bidang seni.

"Ketika itu saya mulai sering terbang ke luar negeri untuk bernegosiasi dengan artis-artis terkenal agar mereka tampil di restoran saya. Sementara itu, saya tetap meneruskan pekerjaan sambilan yang dulu, yaitu menjual rumah dan mobil,
baik yang baru maupun bekas pakai."

Chew kemudian berhasil mengumpulkan uang cukup banyak untuk mendirikan bisnis sendiri di bidang perlengkapan mode, tetapi dua asistennya kemudian membawa pergi semua tabungannya.

"Ketika itu saya sedang sangat membutuhkan uang karena ibu berkali- kali masuk-ke luar rumah sakit. Hidup saya yang tadinya sudah enak, harus mulai dibangun lagi dari nol. Betapa bodohnya saya mempercayai mereka dengan uang sedemikian banyak," kata Chew.

Sempat terlintas pikiran untuk bunuh diri, tetapi bagaimana nasib anak-anak kelak? "Saya bersyukur memiliki teman-teman yang memberi dukungan moral dan bahkan meminjamkan uang. Atas bantuan mereka, saya berhasil melewati kesulitan."

Chew sekarang memiliki penghasilan besar dari merawat orang-orang Indonesia yang berduit, yang sedang dirawat di Singapura karena baru melahirkan atau sedang terbaring di rumah sakit. Ia juga menjalankan bisnis yang amat menguntungkan juga, yaitu membuat dan menjual tonik tradisional Tiongkok.

Chew menambah kegiatannya dengan menjadi konsultan tanpa bayaran bagi kaum istri yang menderita karena suaminya tidak setia, dan bagi orang-orang yang lama menderita sakit, atau berpenyakit tak tersembuhkan.

"Hidup telah mengajarkan saya bahwa selalu ada jalan ke luar dari setiap kesulitan. Pasti ada solusi yang masuk akal," kata Chew. "Yang Anda butuhkan adalah waktu untuk menenangkan diri, mengatasi gejolak emosi, dan melangkah setapak demi setapak."

Ia menyarankan kepada mereka yang menghadapi kesulitan, agar menulis daftar kesulitan itu pada sehelai kertas. Kemudian bacalah apa yang ditulis itu, dan tanyakan pada diri sendiri, 'Apa hal terkecil yang dapat saya lakukan hari ini untuk mengatasi kesulitan itu?'

"Gelindingkan batu-batu karang yang kecil dari hidup
Anda, sampai akhirnya Anda punya kekuatan untuk mendorong batu karang yang besar. Saya melihat orang-orang yang sakit berusaha keras untuk bisa hidup. Dunia ini berubah terus sepanjang waktu. Anda tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Maka jangan sakiti hati siapapun. Selalu pertimbangkan perasaan orang lain terlebih dahulu, bukan perasaan Anda sendiri. Kita memang cenderung untuk melihat sisi buruk orang lain, walaupun karakter mereka mungkin 99 persennya baik, hanya satu persen yang buruk. Mengapa tidak bersabar dengan memberikan mereka waktu untuk menunjukkan yang 99 persen itu? Di pagi hari, Anda dapat membuatkan minuman panas untuk keluarga Anda, dan duduk menemani mereka beberapa menit, kemudian memeluk dan menciumi mereka sebelum semuanya pergi ke tempat kerja atau ke sekolah. Sekitar 10 menit sebelum tidur malam setiap hari, berkumpullah bersama keluarga untuk berbagi cerita mengenai peristiwa sepanjang hari tadi," demikian Ny.Chew.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)