Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

28 January 2008

Los Felidas

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota. Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorang pun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya.

Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu,mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong. Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun.

Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh. Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: “Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini.”

Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali. Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya, dan bila malam tidur di emperan toko itu.

Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu, orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan berikutnya. Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja. Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula. Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat. “Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita”.

Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya. Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti. Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit. Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya.

Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota. Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah dipusat kota. Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun. Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa.

Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi. Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya, dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat.

Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figure gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo. Setahun setelah perkawinan mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu. Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu.

Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayahnya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam. Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi.

Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni. Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, dimana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang.

Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan - pertanyaannya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.

Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama. Matanya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: “Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?” Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna.

Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil. Ia membentuk yayasan-yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita.

Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad. Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian.

Pagi, siang dan sore ia berdoa: “Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya”. Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik.

Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.

Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka. “Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi.” Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil , kemudian masih belok lagi kejalanan berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan.

Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. “Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang”. Ia mulai berdoa “Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja”. Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: “Tuhan beri saya sebulan saja”. Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya, dan ia mulai menangis: “Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan”.

Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing - puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak. Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis-pengemis yang segera memenuhi tempat itu. “Belum bergerak dari tadi.” Lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun. Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. “Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu.”

Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat. “Tuhan”, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, “beri kami sehari, Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Jadi mama tidak menyia-nyiakan saya”. Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda. “Mama….”, ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara waras dan tidak - dan tiap hari - antara sadar dan tidak - kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas. Perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam.

Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya. “Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu… Mama…”

Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: “Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan….. satu jam saja…. …satu jam saja…..” Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia

Surga Itu Nyata

Apakah anda benar2 percaya surga dan neraka itu nyata ??? Jika saudara masih di ambang2 keraguan berikut ulasan yg kiranya dapat membantu Saudara menemukan jawaban itu.Tulisan di bawah ini dibuat hanya dibuat untuk tujuan memuliakan Tuhan di akhir zaman bukan bermaksud mempublikasikannya.

Surga itu nyata (Heaven is so real) by Choo Thomas (penulis) adalah sebuah buku
kesaksian fenomenal seseorang yang telah 17 kali dibawa ke surga, 2 kali ke neraka, berjalan dan bertemu dengan Tuhan Yesus secara pribadi.

KerajaanNya telah siap
Surga adalah suatu tempat yang jauh lebih baik dari Bumi, kehidupan di sana mirip dengan di Bumi hanya saja di sana manusia yang diselamatkan tidak akan merasakan kekhawatiran, kegelisahan, kesusahan dan penyakit. Digambarkan bahwa Surga sangat indah sekali dimana terdapat jalan, kota,dan rumah-rumah berhiaskan emas, permata,zamrud dan batu2 indah yg belum pernah dilihat di bumi. Keserasian, kasih, kebahagiaan, ketentraman dan keharmonisan yang tidak pernah ditemukan di bumi, dimana terdapat sungai, danau, rumput, bunga-bunga berwarna-warni, pohon kehidupan, ikan dan hewan2 lain, manusia bersukacita dan bersorak-sorai, mereka dapat melakukan aktivitas mereka ketika mereka masih di bumi, sebab malam hari tidak ada di sana.Sungguh kesukaan di Surga seribu kali lebih daripada yang didapat di Bumi. Setiap orang percaya yang diselamatkan mendapat rumah masing2 di dalam KerajaanNya.

Pada suatu terdapat istana putih, semuanya warna-warni dan bercahaya. Ruangan besar itu dipenuhi oleh orang-orang yang memakai pakaian-pakaian yang indah, dan setiap orang sedang memakai sebuah mahkota yang bertahtakan bermacam-macam permata, mereka memuji dan menyembah Tuhan dengan tarian dan lagu pujian. Penulis merasa seakan-akan dia ada di dalam dunia cerita dongeng seperti yang dilukiskan dalam buku-buku gambar yang diberikan pada anaknya - kecuali yang ini bukanlah khayalan.

Di suatu ruangan yang sangat besar sekali, seperti sebuah gudang dan tidak
menarik atau bagus. Ruangan ini dipenuhi oleh bayi-bayi yang telanjang dan berbaring dekat satu sama lainnya, di sini terdapat bayi-bayi dari ibu-ibu yang tidak menghendaki mereka. Tuhan akan memelihara bayi-bayi itu. Jikalau ibu-ibu mereka diselamatkan, mereka dapat memilikinya kembali sebaliknya jika mereka tidak diselamatkan maka ibu-ibu yang lain akan memiliki mereka ketika semua anak-anakNya datang dalam kerajaan.

Lalu tampak pada suatu tepian lautan dimana ombak berbuih merah tua memecah
seakan-akan darah itu kotor. Ini adalah darah Tuhan yang menyucikan semua dosa-dosa anak-anakNya. Ia telah menumpahkan darahNya untuk anak-anakNya. Ia yang tak mengenal dosa telah menjadi dosa supaya anak-anakNya berpakaian kebenaran Tuhan.

Dalam pesannya Tuhan Yesus berkata, "KerajaanKu telah siap bagi anak-anakKu. Barangsiapa telah siap dan ingin datang akan diijinkan untuk kemari". Tuhan mengulangi undangan yang disampaikan kepada semua orang yang ingin mengikuti Dia dan mendapat rumah yang abadi bersama Dia di Surga, "Mereka yang dapat kemari adalah mereka yang hatinya telah dimurnikan semurni air".

Suatu tempat yang dinamakan Neraka
Pada suatu tempat tampak gunung-gunung di dekat laut ini sedang menyala dengan
nyala merah terang. Terangnya nyala segera diganti oleh kabut asap yang tebal yang menutupi seluruh pemandangan. Manusia melarikan diri dari tempat yang tak diketahui dan menuju ke arah pantai. Beberapa diantara mereka telanjang, seolah-olah mereka telah meninggalkan tempat tidur mereka begitu tergesa-gesanya sehingga tidak punya waktu berganti baju. Rasa ketakutan nampak pada wajah-wajah mereka, dan mereka sedang lari secepat mungkin. Beberapa diantara mereka tersandung dan gerombolan orang-orang yang berlarian melanggar dan menginjak mereka. Mereka seakan-akan sedang melarikan diri dari mahluk yang sangat mengerikan. Api yang menyebabkan mereka melarikan diri sekarang telah memenuhi daerah sekitarnya. Yang paling mengejutkan adalah nyala api itu mulai menyala dari lautan darah seolah-olah dunia sedang kiamat.

Dari puncak gunung itu, dapat terlihat uap dan asap yang hitam keluar dari
sebuah lubang yang dalam. Bentuknya seperti kawah sebuah gunung berapi, dan didalamnya terlihat nyala api sedang membakar banyak orang yang menjerit-jerit dan menangis seperti dalam kesakitan yang amat sangat. Hanya yang merasakan terbakar hangus sendiri dapat mengeluarkan jeritan dan tangisan seperti itu.

Orang-orang itu telanjang, tanpa rambut, dan berdiri berdekatan satu sama lainnya, bergeliat-geliat seperti cacing, sementara nyala api sedang membakar tubuh mereka. Tidak ada jalan keluar bagi mereka yang terperangkap di dalam lubang itu - dinding-dindingnya terlalu tinggi untuk dipanjat, dan bara api yang panas mengelilingi tepinya. Mereka adalah korban dosa yang tidak mengenal Tuhan Yesus. Ia tidak boleh memaksakan nasib orang-orang yang dengan sengaja memilih untuk menolak Dia.

Pada bagian lain di sebuah lembah berwarna coklat dan mati. Semuanya serba
coklat. Seluruh kawasan seolah-olah dipenuhi oleh rumput mati. Terlihat banyak orang yang memakai jubah berwarna pasir berjalan-jalan tak tentu arah dekat dengan lubang neraka yang menganga. Kepala mereka tertunduk, dan mereka keliatan sedih dan tiada pengharapan. Tuhan berkata, "Mereka adalah orang-orang Kristen yang tidak taat. Mereka yang akan masuk KerajaanKu adalah yang murni hati - anak-anakKu yang taat". Ia terus menerangkan: "Banyak yang menamakan diri mereka 'Kristen' tidak hidup menurut firmanKu, dan beberapa diantaranya mengira bahwa pergi ke gereja seminggu sekali sudah cukup. Mereka tidak pernah membaca FirmanKu, dan mereka mengejar hal-hal duniawi. Beberapa yang meskipun tahu FirmanKu hati mereka tidak pernah bersamaKu."

Hari-hari akhir sungguh sedang berlaku dalam hidup kita sekarang. Kesabaran Tuhan tiada taranya sampai sekarang, tetapi Ia sudah siap untuk datang lagi bagi menerima anak-anakNya bagi Dia. Tuhan tidak ingin satupun dari anak-anakNya pergi ke Neraka. Ia terus memperingatkan tentang pentingnya ketaatan serta kekudusan.

Ia terus mengingatkan penulis, "Aku memberitahumu semua ini dan menunjukkan
kepadamu hal-hal ini supaya engkau dapat memberitahu dunia. Aku telah menyiapkan segalanya untuk anak-anakKu. Aku mempercepat semuanya sebab KerajaanKu telah lama sekali siap, tetapi banyak sekali anak-anakKu belum siap untukKu, karena mereka terlalu mencintai dunia."

Kemudian Ia mengulangi pentingnya semua pengalaman-pengalaman ini dengan
berkata," Aku tahu, bahwa banyak anak-anakKu yang tidak mengira Aku akan kembali untuk mereka dengan segera. Malahan ada beberapa yang berpikir Aku tidak pernah akan kembali untuk mereka, tetapi Aku mau engkau katakan kepada mereka bahwa kerajaanKu telah siap untuk mereka yang telah bersedia dan menantiKu , Aku akan datang dengan segera."

Untuk keselamatan (pesan penulis)
Saya telah mendengar banyak orang berkata bahwa mereka percaya Tuhan tetapi tidak percaya Yesus. Saya mohon Saudara percaya apa yang saya katakan. Meskipun jikalau Saudara percaya Tuhan, tetapi Saudara tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tidak ada keselamatan. Keselamatan datang hanya melalui Yesus. Yesus mati untuk kita semua sebab Ia sangat mengasihi kita sekali. Ia berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6)

Yesus adalah satu-satunya yang dapat menyelamatkan Saudara dan mengampuni semua dosa-dosa Saudara sehingga Saudara mendapat kehidupan kekal bersama Dia. Kerjakanlah keselamatan Saudara, bacalah Alkitab, tekun berdoa dan pergilah ke gereja untuk mendengarkan Firman Tuhan dan bergaul dengan umat Tuhan.

Kehidupan Saudara akan menjadi berbeda; Saudara akan memperoleh hidup yang
sangat bahagia di bumi ini dan hidup selama-lamanya dengan Yesus di Surga.

Tuhan memberkati Saudara.


Tentang Penulis
.
Choo Thomas membagikan kesaksiannya yang luar biasa tentang
pertemuan-pertemuannya dengan Tuhan Yesus Kristus, di mana ia banyak kali mengunjungi surga dan melihat neraka dua kali. Buku Heaven is so Real adalah lebih daripada sebuah bacaan - buku ini adalah pesan kasih Kristus kepada angkatan yang sebagian besarnya lupa, salah mengerti, atau acuh-tak-acuh mengenai Dia. Ini buku akhir zaman Tuhan kita. Ia menghendaki semua orang percaya dan tidak percaya untuk membacanya dan bersiap untuk kedatangan-Nya.

Segala hormat, puji dan kemuliaan bagi Nama-Mu yang Kudus !!!

Anggap Saja Kita Sedang Melayani Tuhan

Menguping pembicaraan orang lain bukanlah tindakan terpuji. Lagi pula, apa untungnya mendengarkan sesuatu yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Namun, kadang-kadang ada situasi dimana kita tidak bisa menghindarinya. Sehingga mau tidak mau kita mendengarnya juga. Tidak jarang mereka lepas kendali, dan lupa bahwa pembicaraan mereka bisa didengar oleh orang lain. Seperti yang dilakukan oleh dua orang karyawan yang saling menggosipkan atasannya di toilet sebuah gedung perkantoran. Keduanya tertawa terbahak-bahak ketika mengatakan betapa ’tolol’-nya atasan mereka. Keesokan harinya, kedua orang itu dipanggil sang atasan. Kemudian atasannya menceritakan setiap kata yang mereka perbincangkan kemarin di toilet. Rupanya, atasannya sedang berada di bilik toilet yang bersebelahan!

Sesekali saya tidak mengendarai mobil ketika berangkat ke kantor. Saya cukup naik ojek dari rumah ke tempat mangkal mobil omprengan. Lalu, dengan membayar Rp. 8,000.- saya sudah bisa sampai ke kantor. Anda yang tinggal diluar Jakarta mungkin bertanya-tanya; mobil omprengan itu apa sih? Mobil omprengan adalah mobil pelat hitam yang dijadikan angkutan umum tidak resmi. Biasanya mereka itu karyawan yang berangkat menggunakan mobil, tetapi sekalian mengangkut penumpang.

Sepulang kantor, saya tinggal melintasi jembatan penyeberangan yang terhubung dengan terminal bus way. Lalu melompat kedalam mobil omprengan yang searah dengan tempat tinggal saya. Didalam mobil itu ada sepuluh orang penumpang. Jadi, pengendara mobil itu mendapatkan penghasilan sebesar Rp. 80,000.-. Tidak terlalu buruk. Karena itu berarti dalam sebulan dia bisa mendapatkan penghasilan tambahan lebih dari 2 juta rupiah setelah dipotong bensin dan tol. Saya duduk dibagian belakang mobil itu - bagian yang selalu diisi oleh 6 orang. Tentu agak berdesakan. Dan mobil omprengan itupun mulai meninggalkan tempatnya mangkal. Beberapa orang mengobrol disepanjang perjalanan. Salah satu topik pembicaraan mereka adalah tentang orang-orang ’menyebalkan’ dikantornya.

”Bayangkan saja,” kata Ibu yang satu. ”Dia itu ya, datang ke kantor jam delapan cuma untuk njeglek kartu absen doang.” Lanjutnya. ”Habis itu ngilang seharian. Ntar jam empat sore datang lagi….”
”Emang kemana aja itu orang ?” temannya menyahut.
”Tahu…,” imbuhnya tak acuh. ”Mestinya kan atasannya yang mengontrol ya. Lha kok ini nggak ada yang berani negur, gitu loh….”
”Ya sudah Mbak, biarkan saja…” hibur temannya.
”Yah, aku sih ndak apa-apa, toh.” tukas si Ibu. ”Tapi itu lho, teman-teman pada komplen. Kan jadinya nggak sehat.” katanya. ”Masak kita kerja mati-matian, tapi kok dia malah seenaknya saja.”

Saya memejamkan mata. Nikmat rasanya setelah menjalani kepenatan seharian dikantor. Tetapi, saya tidak dapat menutup telinga dari pembicaraan mereka.

”Ya sudahlah Mbak.” kata si Ibu didepan saya. ”Anggap saja kita sedang melayani Tuhan.” Tiba-tiba saja telinga saya menangkap sebuah kalimat yang sarat dengan makna. Nyaris tak bisa dibendung, kalimat itu kembali terngiang; ”Anggap saja kita sedang melayani Tuhan.” Terngiang. Terngiang. Berulang-ulang.

Saya sudah tidak terlalu memikirkan lagi pembicaraan mereka. Sebab, perhatian saya langsung terpenjara oleh kalimat indah itu. Dan sekali lagi saya mendengarnya, kini dari hati sanubari saya; Anggap saja kita sedang melayani Tuhan.

Guru ngaji saya pernah mengajarkan bahwa salah satu ciri manusia yang luhur adalah; ketika bekerja, dia merasakan bahwa Tuhan selalu mengawasinya. Jadi, manusia-manusia dari jenis ini pasti bekerja bukan karena ada manusia lain yang mengawasi. Dan mereka juga tidak mudah terpengaruh oleh perilaku tak terpuji orang lain. Meskipun orang-orang disekitarnya tidak bekerja dengan baik, dia tidak ikut memburuk. Dia terus saja bekerja dengan setulus hatinya. Sebab, dia tahu; Tuhan mengawasinya.

Dia memang digaji perusahaan. Tetapi didalam hatinya, seolah-olah tengah melayani Tuhan. Dengan sikap seperti itu, dia tidak berani mempermainkan etika dalam bekerja. Dia juga tidak mau berkompromi dengan norma-norma. Sebab, ketika seseorang melayani Tuhan, dia tahu bahwa Tuhan akan memberikan imbalan yang sepadan. Itulah kenapa, orang-orang seperti ini selalu bisa diandalkan. Baik oleh perusahaan. Oleh atasan. Juga oleh teman. Dan tentu saja, mereka layak untuk menjadi teladan.

Hari ini, saya kembali diingatkan bahwa; menguping pembicaraan orang lain itu tidak terpuji. Tetapi hari ini, saya juga mendapatkan pelajaran lain dari hasil menguping yang tidak bisa saya hindari. Begitulah rupanya cara Tuhan mengingatkan saya tentang pekerjaan. Saya kembali diingatkan bahwa bekerja, tidaklah semata-mata untuk melakukan sesuatu atas perintah atasan. Sebab, melalui kerja; kita melayani Tuhan.

Melayani manusia itu berbeda dengan melayani Tuhan. Oleh karenanya, respon yang kita dapatkan pun pasti berbeda. Dari manusia, belum tentu anda mendapatkan respon yang layak. Beruntung jika anda memiliki atasan yang baik dan adil. Anda mungkin mendapatkan perlakuan yang sama dengan apa yang didapatkan orang lain. Anda juga memperoleh kesetaraan. Tetapi, banyak orang yang tidak seberuntung itu. Jika anda bekerja diperusahaan yang baik, anda juga beruntung. Anda bisa mendapatkan imbalan yang pantas atas pekerjaan yang anda lakukan. Sebab, ada saja perusahaan yang dengan dalih apapun berusaha mengurangi bayaran dan fasilitas yang seharusnya didapatkan oleh karyawan. Tidak usah heran. Karena, memang tidak semua perusahaan sebaik itu. Buktinya, begitu banyak orang yang harus turun kejalan untuk sekedar mendapatkan bayaran yang sudah menunggak berbulan-bulan.

Bekerja melayani Tuhan sangat lain. Anda pasti mendapatkan apa yang telah anda usahakan. Tidak akan pernah berkurang. Bahkan mungkin, jika anda melakukannya dengan segenap ketulusan, Tuhan berkenan memberikan bonus tambahan. Matematika perusahaan dikendalikan oleh sesuatu yang disebut sebagai neraca profit and loss. Meskipun anda membuat perusahaan untung, tetapi porsi keuntungan terbesar diperuntukkan bagi sang pemilik modal. Tolong jangan merasa terhasut oleh pernyataan ini. Karena hal ini berlaku secara universal. Bahkan jika nanti anda memiliki perusahaan; anda akan melakukan hal yang sama. Jadi, itu sama sekali bukan sebuah kesalahan. Matematika Tuhan tidak dikendalikan oleh neraca semacam itu, melainkan neraca imbalan dan keadilan.

Apa itu neraca imbalan-keadilan? Neraca yang tidak didasarkan pada pengumpulan keuntungan untuk Tuhan. Melainkan sebuah skema yang ditujukan untuk memberikan imbalan terhadap setiap perbuatan dan tindakan baik yang dilakukan oleh seseorang. Itu sisi imbalannya. Sisi keadilannya apa? Sisi keadilannya adalah ketika Tuhan memberikan raport merah atau hukuman kepada orang-orang yang berbuat curang. Tuhan bisa saja tidak menghukum manusia-manusia bertabiat buruk. Tetapi, dia itu adil. Ketika seseorang menindas orang lain misalnya; maka sisi keadilanNya berfungsi melindungi sang tertindas dari kesewenang-wenangan.

Kembali kepada konteks bekerja. Anggap saja kita sedang melayani Tuhan. Sekalipun kita pernah diperlakukan tidak adil oleh atasan, teman, atau perusahaan; kita tidak perlu terlampau risau. Karena imbalan sesungguhnya ada di tangan Tuhan. Itu jika kita bicara soal imbalan. Lain lagi kalau kita bicara tentang dedikasi. Kita, jika merasa tengah melayani Tuhan, pasti tidak akan pernah menyalahgunakan kedudukan untuk menindas anak buah. Lalu memerintah mereka sesuka hati. Bahkan memaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak senonoh. Kalau jadi bawahan, kita tidak berulah hingga atasan dibuat susah. Tak akan pula mengkhianati kepercayaan perusahaan. Kita pasti bekerja dengan sebaik-baiknya. Sebab, seperti nasihat yang saya dapatkan dari hasil menguping di mobil omprengan; Anggap saja, kita sedang melayani Tuhan.

Catatan Kaki:
Atasan anda bisa salah menilai. Perusahaan tidak jarang mengemplang hak-hak karyawan. Tapi Tuhan; pastilah menyerahkan seluruh hasil dari setiap tindakan yang kita lakukan. Jadi, Anggap saja kita sedang melayani Tuhan.


Diambil dari : Dadang Kadarusman

Fix Your Eyes

Today's Scripture

Let us fix our eyes on Jesus, the Author and Perfecter of our faith…” (Hebrews 12:2).

Today's Word from Joel and Victoria

Are your eyes fixed on Jesus today? It’s so easy to let the distractions of the world and the cares of everyday life change your focus. And whatever you fix your eyes on, you open your spirit to. You can choose to fix your eyes on Jesus no matter what distractions of life are going on around you. You see, when you fix your eyes on Jesus, you are opening yourself to the Healer. You are opening yourself to the Deliverer. You are opening yourself to the Prince of Peace, the Mighty God, the Everlasting Father, the Provider, the Redeemer, the Strong Tower of refuge. What do you need in your life today? Peace? Fix your eyes on Jesus. Do you need healing? Fix your eyes on Jesus. Do you need a safe retreat? Fix your eyes on Jesus. Now you may have to turn off other things that you’ve been watching so that you can fix your eyes on Him. But remember, He is your source of life and the Author and Perfecter of your faith. Fix your eyes on Him and allow Him to work in your life so that you can experience the victory He has in store for you!

A Prayer for Today

Heavenly Father, today I choose to tune out the negative voices of the world so that I can fix my eyes on You. I acknowledge that You are my source and strength for every good thing in life. I open myself to You today. In Jesus’ Name. Amen.

From : Joel Osteen Ministries

Terima Kasih

Halo semua,

Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kiriman email2 yang banyak, ada cerita, kesaksian-kesaksian, dllnya. Dan saya masih berharap dapat kiriman lebih banyak lagi, pasti akan saya muat di Rumah Renungan. semoga artikel2 yang ada di Rumah Renungan dapat menjadi berkat bagi siapa saja orang yang membacanya yang sekarang sudah mencapai 1200 pengunjung yang telah mengunjungi blog Rumah Renungan ini, jika memang ada yang berasa diberkati dengan artikel2 yang ada disini, sebarkan keberadaan blog ini, karena blog ini saya buat karena saya terbeban ingin membagikan artikel2 yang saya dapat melalui email. Saya tunggu artikelnya lebih banyak lagi, kirim ke rumahrenungan[at]yahoo[dot]com.

Mengenai posting saya yang terakhir ini yang judulnya "Mimpi Pewahyuan Mengenai Indonesia", moga2 yang baca tidak ngeri dan ada yang salah mengartikan. Mengenai tempat yang juga disebutkan, saya sendiri juga tidak bisa komentar apa2, saya cuman ingin tidak perlu takut. Berdoa.. berdoa.. berdoa.. dan jangan lupa minta petunjuk dan bimbingan-Nya. Seperti pesan penulis kesaksian jg, sebarkanlah kesaksiannya, jika memang tidak terjadi apa2, tidak apa2, dan jika memang ini bakal terjadi nanti, setidaknya kita bersiap2 dan mengajak jiwa-jiwa yang banyak supaya diselamatkan.

Dan saya juga mohon bantuan Doa ya .. temen saya lagi sakit gejala tipes dan DB katanya, masuk rumah sakit tadi malem. Mohon bantuan doanya supaya cepet sembuh. Terima kasih dan Tuhan Yesus Memberkati. Saya tunggu kiriman2 artikel2nya dan kalian semua. :)

Lukas 14:23
Matius 28:19
Yesaya 60:5


Samuel MS