Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

25 November 2011

Bagaimana Kita Menemukan Kebahagiaan

Konon pada suatu waktu, Tuhan memanggil ketiga malaikatnya. Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, “Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan di tempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan itu disia-siakan. Tetapi jangan pula terlalu sukar sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih.”

Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi di mana meletakkannya? Malaikat pertama mengusulkan, “Letakkan di puncak gunung yang tinggi” Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju. Lalu malaikat kedua berkata, “Letakkan di dasar samudera.” Usul itu pun kurang disepakati. Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.

Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan.

Kita ingin merasa bahagia. Tetapi di mana mencarinya? Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencari ke pantai, ada yang mencari di temat yang sunyi, ada yang mencari di tempat yang ramai. Kita mencari rasa bahagia di sana-sini: di pertokoan, di restoran, di tempat ibadah, di kolam renang, di lapangan olah raga, di bioskop, di layar televisi, di kantor dan lainnya.
Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebalikkanya ada pula yang bermalas-malasan. Ada yang ingin merasa bahagia dengan mencari pacar, ada yang mencari gelar, ada yang menciptakan lagu, ada yang mengarang buku, dan lain-lain.
Pokoknya semua orang ingin menemukan kebahagiaan.

Pernikahan misalnya, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan.
Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah berarti belum bahagia. Padahal semua orang juga tahu bahwa menikah tidaklah identik dengan bahagia.

Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan. Alangkah bahagianya kalau aku punya ini atau itu, pikir kita.

Tetapi kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan. Kita ingin menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi.
Dimana mereka meletakkannya?
Bukan di puncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat pertama. Bukan di dasar samudera seperti usulan malaikat kedua. Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh malaikat ketiga.

Dimanakah tempatnya???

Saya menuliskan sepenggal kisah perjalanan hidup saya untuk berbagi rasa dengan teman-teman semua, bahwa untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan itu tidaklah mudah. Perlu perjuangan. Ibarat sebuah berlian, dimana untuk mendapatkan kilauan yang cemerlang, harus terus diasah dan ditempa sehingga kemilauan yang dihasilkan terpancar dari dalamnya.

Begitu juga hidup ini. Kita harus rendah hati. Seringkali kita merasa minder dengan keberadaan diri kita. Seringkali kita berkata, “akh... gue mah belum jadi orang. Tinggal aja masih ama ortu, ngontrak, TMI deelel.”
Kita harus ingat, bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Tuhan. Dan kita harus menyadari bahwa jalan Tuhan bukan jalan kita.

Tuhan akan membuat semuanya INDAH pada waktunya.

Menurut buku ada 7 faktor (mental, spiritual, pribadi, keluarga, karir, keuangan dan fisik) yang menentukan sukses seseorang, mengapa tidak kita coba untuk mencapai semuanya itu?
Setelah kita mencapainya, bagaimana kita membuat ke 7 faktor tersebut menjadi seimbang?

Yang penting di sini adalah hikmat.
Barangsiapa yang bijaksana dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dalam hidup ini.

Oh ya..., dimanakah para malaikat menyimpan kebahagiaan itu?

DI HATI YANG BERSIH......?

Uji Kelayakan

Bacaan Setahun : 1 Korintus 4-7
Nats : Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku (Mazmur 139:23)

Bacaan : Mazmur 139:17-24

Kita tidak dapat menilai karya kita sendiri secara objektif. Itulah sebabnya, selalu dibutuhkan pihak yang independen dan tepercaya untuk menguji dan menilai. Sebagai contoh, makanan dan obat-obatan harus diuji kelayakannya untuk dikonsumsi, oleh BPOM. Sebuah laporan keuangan dapat dipercaya kelayakan penyajiannya setelah diperiksa oleh auditor independen. Di sini, kualitas dan integritas sang penguji sangat menentukan apakah hasil pengujiannya dapat dipercaya atau tidak.

Demikian pula dengan hati kita. Sesungguhnya kita tak dapat menilai hati kita sendiri. Kita mungkin berpendapat bahwa apa yang kita lakukan sudah memiliki motivasi yang benar. Akan tetapi, belum tentu itu terbukti benar di hadapan Tuhan. Pemazmur juga merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah benar, walau demikian ia tetap meminta Tuhan menyelidiki hati dan pikirannya. Semua ini didasari dengan kesadaran bahwa Tuhan itu Mahatahu Dia benar-benar mengetahui segala isi hati dan pikirannya. Dan, karena Tuhan adalah kebenaran maka semua penilaian Tuhan pasti benar. Lebih jauh, pemazmur juga menunjukkan hati yang mau diajar dan dituntun ke jalan yang benar.

Mungkin kita sudah merasa bahwa semua yang kita kerjakan telah kita lakukan dengan cara dan motivasi yang benar, bagi kemuliaan Tuhan. Namun, kerap kali kita tidak menyadari bila motivasi kita perlahan mulai berubah. Maka, kita perlu selalu terbuka di hadapan Tuhan. Mintalah Tuhan melihat hati kita yang terdalam. Dan, apa pun yang Tuhan singkapkan, biarlah kita memiliki hati yang mau ditegur dan mau dituntun ke jalan yang benar --VT

AGAR DAPAT HIDUP BERKENAN DI HADAPAN TUHAN
KITA HARUS SELALU TERBUKA UNTUK DIUJI DAN DITUNTUN TUHAN

Sabda.org