Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

11 November 2011

Pesan Yang Membesarkan Hati

“Hidup yang disirami dengan air mata tragedi dan penderitaan seringkali menjadi tanah yang subur untuk pertumbuhan spiritual.”

Seringkali agaknya hidup ini hanya terdiri dari hal-hal yang memprihatinkan. Kita semua pernah mengalami kekecewaan... kematian, penyakit, pengkhianatan, tragedi dan perasaan diri tidak berharga serta keputus asaan. Kadang-kadang, hidup ini begitu keras dan kejam sehingga seringkali kita cenderung untuk mengeluh dan mengasihani diri sendiri.

Aku hanya ingin mengulangi lagi... aku percaya bahwa kita di dunia ini diberi kesempatan untuk bertumbuh secara spiritual. Kita dapat mengalami banyak pertumbuhan pribadi justru karena semua penderitaan, keprihatinan dan kesukaran yang kita harus lalui selama hidup kita di dunia ini.

Ini adalah cara Tuhan untuk memurnikan kita supaya kita lebih memiliki belas kasihan, lebih peduli, lebih mengasihi dan lebih peka akan penderitaan orang lain. Betapapun, bagaimana kita dapat menyeka air mata orang lain, kalau kita tidak pernah menangis sendiri terlebih dahulu?

Kadang kala, kita menemukan diri kita di lembah penderitaan. Hal itu sering dirasakan, bahwa kita selalu dilanda keprihatinan, menderita sengsara dan menghadapi tantangan-tantangan. Namun kita harus berusaha untuk ingat bahwa pupuk yang membantu kita untuk “bertumbuh” justru berada di lembah dan tidak berada di puncak gunung.

Ketika kita berada di dalam ketakutan dan kebingungan, pada akhirnya kita menjadi lebih bijak sehingga kita bertumbuh lebih banyak dari pengalaman. Kita akan lebih mengerti tentang manusia dan kehidupan, menjadi lebih peka sehingga kita pun dapat menikmati hidup ini lebih banyak lagi setelah kita keluar dari saat-saat yang keras dan kejam.

Kita harus dapat mengalami kesedihan supaya kita dapat menghargai suka cita dalam arti yang sebenarnya. Hidup mempunyai cara untuk menyeimbangkan kesengsaraan dengan suka cita, kekecewaan dengan harapan, serta kekosongan dengan makna sejati.

pennyparker.com

Ada Saatnya Menyerah

Bacaan Setahun : Kisah Para Rasul 1-4
Nats : Beginilah firman TUHAN kepadaku: "Buatlah tali pengikat dan gandar, lalu pasanglah itu pada tengkukmu!" (Yeremia 27:2)

Bacaan : Yeremia 27

Yos memukul tengkuk lelaki itu hingga pingsan. Ia terpaksa melakukannya karena pria itu terus meronta dan menyulitkan saat hendak ditolong dalam proses evakuasi di laut. Ketika ia dibuat tak berdaya, Yos bisa merangkul leher pria itu dan berenang membawanya ke pantai.

Bacaan hari ini secara mencengangkan menceritakan bahwa ada saat untuk menyerah, untuk menaklukkan diri kepada orang yang mungkin bukan sahabat kita, bahkan merupakan musuh yang akan mengambil hak kita. Tentu sepanjang hal itu dikehendaki Tuhan. Gandar kayu di tengkuk Yeremia adalah gambarannya. Yeremia diminta memberi tahu raja-raja tetangga bahwa seluruh negeri telah diserahkan ke tangan Nebukadnezar, raja Babel, dan mereka harus takluk kepadanya agar tidak mati oleh pedang, kelaparan, penyakit. Ini pun berlaku bagi Yehuda yang saat itu diperintah Raja Zedekia. Ini perintah yang sulit dan tak menyenangkan untuk dilakukan, terutama oleh bangsa yang "tegar tengkuk".

Mungkin ada saat kita bertanya; mengapa Tuhan menaruh kita di posisi tidak berdaya, mengapa Tuhan seolah-olah melukai ego kita dan tidak membiarkan kita bangkit. Belajar dari kisah evakuasi laut yang dilakukan Yos, ada saatnya ketidakberdayaan itu membantu proses kita diselamatkan dari bahaya yang lebih besar. Sayangnya dalam lanjutan bacaan ini, kerajaan Yehuda tidak mau menyerah hingga mereka berakhir di ujung pedang dan pembuangan di Babel.

Kita mungkin diizinkan Tuhan untuk tidak berdaya, tetapi bukan berarti Tuhan juga sedang tanpa daya. Jika kita meyakini segala sesuatu tetap dalam kendali Tuhan, kita bisa belajar menyerah pada kehendak Tuhan tanpa takut dan ragu --SL

TUHAN TIDAK SEDANG TINGGAL DIAM SAAT DIA MEMINTA KITA UNTUK MENYERAH

Sabda.org