Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

23 February 2010

Ia Menjawab Doa, Bahkan Sebelum (sempat) Berdoa

Percayakah Anda dengan pernyataan saya di atas? Jika tidak, izinkan saya berbagi mengenai dua moment terakhir yang terjadi dalam hidup saya.

Senja itu hujan rintik-rintik membuat jalanan licin. Ayah saya berusia limapuluh sembilan tahun namun masih kuat mengendarai motornya, dan senja itu ia membonceng saya. Rumah saya terletak di pinggiran Bandung dengan jalanan sulit meliputi dua tanjakan curam, yang selama sepuluh tahun terakhir ini tidak menawarkan masalah apa-apa pada ayah saya, sampai senja itu.

Entah karena ban motornya yang gundul, entah karena jalan licin yang baru terguyur hujan, yang pasti di tikungan kedua, ayah saya kehilangan kendali akan motornya, dan motor itu jatuh ke arah kanan.

Saya bukan perempuan yang bisa bereaksi cepat jika ada sesuatu yang terjadi. Pada saat kedua anjing saya berkelahi dan yang satu mencakar bola mata yang lain (sampai tergantung keluar seperti film kartun), saya cuma bisa menangis melihatnya sementara suami saya langsung menelepon dokter hewan kami. Saya juga tidak pernah berlatih karate, dan terus terang bukan penggemar olahraga, sehingga sampai saat ini saya masih terheran-heran apa yang menyebabkan saya bisa bereaksi begitu cepat, tangkas, dan tepat.

Pada saat motor ayah saya oleng ke kanan (saya menggunakan rok sehingga posisi duduk saya miring), ayah saya terkena akibat terlempar ke kiri, tapi dengan posisi seperti harimau mengaum dengan kedua tangannya terangkat ke atas. Ia tidak bisa menahan gravitasi bumi yang menariknya dan didepannya adalah pohon tinggi serta benteng rumah orang. Tidak ada alternatif yang lain. Entah keningnya akan menghantam pohon, atau dinding. Tinggal pilih saja.

Ayah saya punya sejarah stroke dua kali. Jika kepalanya terbentur keras seperti itu saya bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi. Dan kejadian itu berjalan sangat cepat dalam hitungan tiga sampai lima detik.

Anehnya, bahkan sampai saat ini, saya masih bisa melihat kejadian itu di depan mata saya, karena saya menyaksikannya dalam adegan slow motion, benar, seperti ada remote kehidupan yang tombol slow motion nya ditekan. Saya masih bisa mengingat gerakan ayah saya yang seperti harimau mengaum siap menerkam pohon atau benteng rumah orang di depannya.

Dan saya, perempuan yang tidak pernah bereaksi cepat kecuali jika adegan hidup adalah rutinitas yang selalu berulang setiap hari, melompat turun dari motor yang oleng ke kanan, dan dengan gagah berani (sambil menyandang tas berat di bahu kanan), mencengkeram jaket ayah saya yang tebal, dan entah kenapa, punya kekuatan untuk menarik ayah saya sehingga tidak jadi menerkam pohon di depannya.

Cuma tiga sampai lima detik.

Tak ada waktu untuk berpikir. Tak ada waktu untuk berdoa. Tak ada waktu bahkan untuk memanggil nama Tuhan sekalipun. Secepat kedipan mata, bahkan saya pun tidak terpikir untuk melakukan hal itu. Tubuh saya yang melakukannya. Reflek saya yang melakukannya. Reflek? Yang benar saja. Handphone yang meluncur jatuh dari genggaman tangan saya saja, saya tidak mampu menangkapnya. Dalam keadaan nyaman di depan televisi menggenggam cangkir kopi panas saja, kopi saya tumpah tanpa ada yang menyenggolnya. Reflek?

Senja itu saya belajar bahwa Tuhan, penguasa semesta alam dengan galaksi besar tidak terhitung banyaknya, masih bisa memperhatikan seseorang (dua orang) yang berada di galaksi bima sakti, di planet bumi, di benua Asia, di negara Indonesia, di kota Bandung, di pinggiran jalan basah setengah kilometer dari rumah saya. Ia masih sempat menolong dengan menggerakkan tangan saya untuk menarik kembali ayah saya yang sedang terjun bebas ke sebuah batang pohon. Padahal, benar, saya bahkan tidak sempat memanggil nama Nya, apalagi berdoa melipat tangan.

Moment yang kedua, adalah pada saat adik saya terkena usus buntu. Ia sudah merasakan itu sejak dua minggu sebelumnya, namun tidak pernah mengeluhkan tentang itu. Hingga pada hari minggu ia menderita kesakitan, dan didiagnosa penyakit maag nya kambuh kembali. Senin esoknya penyakitnya makin parah, dan kami memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit saja.

A atau R? Saya memikirkan dua alternatif itu. R lebih dekat ke rumah tapi A memiliki reputasi yang lebih bagus. Saya tidak bisa memilih dan manusia lama saya masih berpikir untuk mengandalkan logika, sampai untunglah saya teringat untuk meminta petunjuk pada Tuhan. Saya tidak masuk ke dalam kamar menutup pintu dan berlutut berdoa, karena itu belum jadi kebiasaan saya, namun saya mengucapkannya dalam hati sambil beraktivitas.. (Tuhan, bantu saya memilih rumah sakit A atau R?)

Saya bahkan tidak punya gambaran bagaimana Tuhan akan menjawabnya. Yang pasti saya yakin bukanlah berupa suara mengguruh disertai halilintar menyambar.. AAA!!!! Atau e-mail yang tiba-tiba muncul, atau sms nyasar..

Namun jawaban Nya ternyata cepat, bahkan tidak sampai dalam satu jam. Bagaimana? Bagaimana Ia menjawab? Saya yakin Anda sangat ingin sekali tahu. Ya, beginilah Ia menjawab, ia menanamkan keyakinan pada hati saya untuk memilih rumah sakit R.

Anda kecewa? Ya, saya bisa melihatnya. Kenapa bukan berupa sesuatu yang ajaib? Kenapa bukan berupa sesuatu yang menakjubkan?

Tapi memang begitulah terkadang Tuhan berbicara, manusiawi dan lembut. Mari kita belajar untuk mendengar suara Nya. Sore itu saya belajar mendengar Nya. Pilihan yang semula 50% - 50% menjadi 80% - 20%, namun itu sudah cukup untuk saya. Kami pun menunggu suami saya pulang yang akan mengantarkan kami ke rumah sakit R.

Setengah delapan, setengah sembilan.. kenapa suami saya belum datang juga? Jam enam sore tadi, saat kami berbicara melalui telepon, ia mengatakan sedang dalam perjalanan menuju rumah dosennya. Saya memperkirakan ia tiba di rumah jam tujuh. Tapi sekarang sudah hampir setengah sembilan. Suami saya sudah di akhir skripsi, dan itu berarti pertemuan dengan dosennya tidak mungkin selama itu. Ketika akhirnya ia tiba juga jam setengah sembilan lebih, ia bercerita ada dua mahasiswa yang mengambil kelas malam juga, tengah berkonsultasi dengan dosen tersebut, dan mereka kemudian mengobrol tentang hal-hal biasa lama sekali! Saat giliran suami saya, dosen tersebut cuma memerlukan waktu sepuluh menit untuk melakukan acc dan pertemuan itu berakhir. Tapi suami saya menunggu lebih dari dua jam, yang berarti kepergian kami ke rumah sakit juga tertunda lebih dari dua jam!

Percayakah Anda bahwa Ia mengatur segala sesuatu indah pada waktu Nya?

Sepertinya tidak. Adik saya sudah sangat kesakitan di rumah. Bergerak sedikit saja ia mengerang dan merintih. Entah kenapa sama sekali tidak terlintas di pikiran saya untuk memanggil taksi, atau meminta bantuan tetangga, atau saudara. Adik saya mengatakan ia takut usus buntunya sudah pecah, kalau memang itu usus buntu. Saya mengatakan padanya berdoa saja.

Kami pun tiba di UGD rumah sakit jam setengah sepuluh malam. Dan seperti dugaan saya sebelumnya memang penyakit yang diderita adik saya adalah usus buntu. “Dan ini harus segera ditangani, ada dokter yang sedang mengoperasi pasien usus buntu juga di atas, Anda mau langsung dioperasi malam ini?”

Tentu saja, adik saya sudah sangat kesakitan seperti itu. Ibu dan ayah saya mengurus pengambilan sample darah untuk memastikan diagnosa dokter UGD itu, suami saya menelepon perusahaan asuransi, sementara saya menunggu adik saya di ruang darurat UGD yang dibatasi tirai-tirai. “Kita berdoa yuk..” aku mengajak.

Doa yang jauh dari sempurna, kami panjatkan malam itu. Agar Tuhan memilihkan dokter untuk kami, agar Tuhan ikut campur tangan dalam operasi itu.

Operasi pun dilakukan. Jam satu malam, dokter keluar dari ruang operasi untuk memperlihatkan usus buntu yang berhasil ia potong. “Kenapa baru sekarang datang?” dokter itu sedikit marah. “Usus buntunya sudah lama pecah, dan sudah bernanah ke mana-mana, sampai-sampai yang baru kami ambil saja sudah 50 cc!”

Kami terbengong dan ternganga.

Ketika operasi selesai dan dokter itu keluar dengan pakaian biasa, ia berkata adik saya masuk ICU. Meremang rasanya tubuh ini. Saya mengira ini cuma operasi usus buntu biasa, tapi nyatanya adik saya sekarang di ICU dengan tiga selang dipasang dalam perutnya.

Kami menunggu mondar-mandir di ICU tengah malam itu, memperhatikan foto-foto para dokter yang ada di rumah sakit itu. Dan menemukan suatu kenyataan. Dokter yang melakukan operasi tadi, yang memarahi kami tadi, adalah direktur rumah sakit ini! Ia punya deretan gelar yang banyak sekali di belakang namanya. Ia orang yang pintar sekali yang bahkan pernah melakukan operasi dengan dokter asing di luar negeri. Dan kami bahkan sebelumnya tidak tahu namanya, kami bahkan tidak pernah meminta ingin dioperasi oleh dokter itu.

“Oh ya, ia dokter terkenal..” tante saya mengatakannya pada saat ia tahu siapa yang melakukan operasi itu.

“Oh ya, ia biasanya praktek setelah jam sembilan malam..” om saya mengatakannya pada saat ia tahu siapa yang melakukan operasi itu.

Apakah Anda merinding? Saya juga. Tuhan telah menjawab doa bahkan jauh sebelum doa itu diucapkan naik ke hadirat Nya. Ia sudah menyediakan jauh sebelum segala peristiwa terjadi. Percakapan dua mahasiswa kelas malam itu dengan dosen, yang cuma berbicara tentang basa-basi. Apakah itu ada tujuan Nya? Oh ya. Menurut Anda, kalau suami saya tiba jam tujuh dan kami sampai rumah sakit lebih awal, apakah mungkin dokter yang melakukan operasi adalah dokter lain, yang mungkin saja terkejut dengan kondisi adik saya yang usus buntunya sudah pecah dan nanah mengalir ke mana-mana? Adik saya bisa saja meninggal.

Anda tahu ucapan direktur rumah sakit itu pada siang hari setelah adik saya sadar di ICU? Ia bilang, “..kamu ini paling menyusahkan operasi!” Seorang direktur rumah sakit besar dengan deretan gelar di belakangnya, dan pernah melakukan operasi dengan dokter asing di luar negeri mengatakan itu operasi yang sulit!

Bukankah Tuhan kita Tuhan yang luar biasa?

Pada saat saya bertanya pada Nya, rumah sakit A atau R, ya Tuhan? Ia menjawab, R saja, Aku memilihkan yang terbaik untukmu. Kusediakan ia di sana, sedang melakukan operasi usus buntu juga, karena cuma ia yang bisa melakukan operasi yang sulit ini. Tapi jangan datang terlalu cepat, nanti kau diberikan pada dokter lain. Datanglah tepat pada waktu Ku. Segala sesuatu indah pada waktu Ku.

Dan malam itu di UGD, saya berdoa dengan adik saya, pilihkan dokter untuk kami, Tuhan, campur tangan dalam operasi ini, ya Tuhan.

Anda tahu, saya membayangkan saat itu Tuhan tersenyum. Anakku, Aku sudah memilihkan dokter untukmu jauh sebelum kau meminta padaKu, Aku sudah turut campur dalam segala sesuatunya untuk mengantarmu tepat pada waktu Ku.

Ya. Ia menjawab doa, bahkan sebelum kita (sempat) berdoa.

***

.. karena Bapa mu mengetahui apa yang kamu perlukan,

sebelum kamu minta kepada Nya (Matius 6:8)

 

Oleh : Jelitta Swetta

20 February 2010

Bapak Yang Baik

Pada suatu hari ada seorang bapak yang kaya raya melewati sebuah kampung yang terpencil, ketika ia sedang mengendarai mobilnya ia melihat seorang ibu-ibu yang sedang memakan rumput, lalu bapak itu pun turun dari mobilnya dan menghampiri ibu itu, lalu ia bertanya...
Bapak: "*Bu, kenapa ibu makan rumput?*"
Ibu: "*Saya sangat miskin pak, sehingga saya tidak sanggup untuk membeli
nasi*.."
Bapak: "*Kalau begitu mari ikut kerumah saya, bu!*"
Ibu: "*Tapi saya punya anak 7 orang pak*.."
Bapak: "*Tidak apa-apa, ibu bawa aja semua anak ibu sekalian!*"
Lalu si ibu dan anak-anaknya naik kedalam mobil menuju ke rumah bapak itu, dan karena penasaran si ibu bertanya lagi...
Ibu: "*Kenapa bapak baik sekali kepada kami?*"
Bapak: "*Ah nggak apa-apa bu, kebetulan aja rumput di rumah saya sudah
panjang-panjang*..."
Ibu: #$%@$

19 February 2010

Cina Bagi Kristus Di Era Pasca Revolusi

Sebagaimana kita ketahui, orang Kristen di Cina ditangkap, disiksa dan dibunuh karena iman mereka, tetapi lebih dari 40 tahun setelah revolusi budaya, orang Kristen di Cina semakin berani membagikan iman mereka di hadapan publik.

Sebagai contoh, di berbagai pelosok negeri Cina, pengusaha Kristen secara terbuka mendedikasikan perusahaan dan juga hidup mereka untuk menyebarkan Injil - walaupun mereka harus menghadapi resiko tindakan keras dari pemerintah.

Beberapa blok dari lapangan Tiananmen yang terkenal di Beijing, pada sebuah toko yang terletak di Jalan Liullichang nomor 37, Liu Xixian dan Chen Zejin melakukan apa yang mereka ingin lakukan, meskipun hal tersebut bukanlah tujuan awal usaha mereka.

"Impian kami adalah membuka toko dan menghasilkan sebanyak mungkin uang," ujar Liu Xixian. "Tapi segera setelah kami membuka toko kami, pandangan kami mulai berubah. Kami memiliki visi yang baru."

Pasangan tersebut beranjak dari menjual mebel antik dan lukisan menjadi pemilik dari salah satu toko Kristen yang terbesar dan paling terkenal di Beijing.

"Saya dan suami memutuskan bahwa bisnis kami akan menjadi sebuah pelayanan," ujar Xixian menjelaskan. "Sebuah tempat di mana kami dapat membagikan iman kami di dalam Yesus Kristus secara terang-terangan."

Saat ini mereka menjual semua jenis pernak-pernik Kristen dari buku, hiasan dinding, kerajinan tangan sampai berbagai karya seni Cina.

"Kami menggabungkan budaya Cina tradisional dengan tema yang kuat dari Alkitab. Kami memiliki ayat-ayat Alkitab di mana-mana," ujarnya. "Saya ingin mereka yang datang ke toko kami tahu dan belajar tentang Tuhan. Saya ingin mereka tertarik kepada Yesus Kristus."

Keluarga ini telah membuka toko mereka di sepanjang pasar antik yang paling terkenal di Beijing semenjak tahun 1994 dan sejak saat itu bisnis mereka terus berkembang. Tapi hari ini mereka memiliki pelayanan yang lain - sebuah pelayanan yang dapat ditemukan di balik layar.

Mereka mengatakan bahwa ini adalah pelayanan mereka yang ‘sebenarnya'. Terselip di sudut toko, sebuah kelompok kecil dari orang Kristen baru sedang belajar begaimana mengembangkan diri secara ekonomi di era baru Cina.

Selama beberapa jam setiap minggu, pria dan wanita berkumpul untuk menyembah, berdoa dan belajar bagaimana mengelola keuangan mereka dari perspektif Alkitab.

"Kami mengajarkan kepada mereka betapa pentingnya menjadi pelayan yang baik atas uang mereka," ujar Liu. "Tuhan ingin kita jujur dan etis dengan keuangan kita. Jika tidak, Tuhan tidak akan memberkati kita dan pada gilirannya kita juga tidak bisa menjadi berkat bagi bangsa ini."

Melintasi kota, di sisi barat Beijing, pengusaha lainnya Joshua Zhou, baru sekarang menikmati buah dari berkat Tuhan. Tapi tidak selalu seperti itu.

"Dulu saya suka berbohong, menipu dan mencuri. Saya membuat transaksi gelap dan menyogok orang setiap saat. Saya menghasilkan uang, tapi juga kehilangan banyak uang," ujarnya.

Beberapa tahun yang lalu, Zhou hidup layaknya seorang milyuner, tetapi di sisi gelap dari keajaiban ekonomi Cina.

"Saya minum, mengkonsumsi obat-obatan, berjudi dan mengkhianati istri saya," kenangnya. "Bisnis saya sedang berkembang, tapi sebagian besar itu karena saya tidak membayar pajak."

Dalam kelimpahan hidupnya, tetap saja Zhou merasakan kehampaan di dalam hidupnya.

"Saya merasa sangat hampa. Tak satupun dari kesenangan duniawi ini dapat memuaskan saya," kenangnya. "Jadi sayapun mencoba untuk menjadi orang yang beragama, tapi itupun tidak dapat memuaskan saya. Saya bahkan mempekerjakan seorang pemimpin spiritual untuk selalu berdoa bagi saya."

"Hal itu tidak berhasil. Saya mulai putus asa," tambahnya. "Pernikahan saya berantakan. Saya ingin bunuh diri."

Kemudian pada suatu hari, seorang teman mengundangnya datang ke gereja.

"Saat itulah untuk pertama kalinya saya mendengar tentang Yesus," ujar Zhou. "Hari itu Yesus menyelamatkan saya, pernikahan saya dan bisnis saya."

Zhou menyerahkan perusahaan farmasinya yang bernilai multi-juta dolar dan menutupnya.

"Saya memang tidak menghasilkan uang sebanyak dulu, tapi paling tidak saya tidak lagi berbuat curang. Saya juga membayar pajak," ujarnya. "Semua yang saya lakukan saat ini adalah menceritakan kepada orang lain apa yang telah Yesus lakukan bagi saya. Itulah tujuan dari perusahaan saya saat ini."

Zhou memiliki lebih dari 200 pekerja. Sebagian besar dari mereka telah menjadi orang Kristen karena kesaksiannya.

Para staffnya berkumpul setiap pagi untuk berdoa dan menyembah di ruang rapat perusahaan. Zhou dan juga istrinya, Grace, mengadakan studi Alkitab mingguan.

"Saya percaya bahwa bangsa yang percaya kepada Tuhan adalah bangsa yang diberkati," ujarnya. "Kami ingin menanamkan nilai-nilai kerajaan surga pada orang-orang kami dan juga di dalam bisnis kami. Itulah yang sedang kami doakan dan kami persiapkan saat ini."

Masih banyak Zhou lainnya yang merupakan sebagian kecil dari kelompok yang bertumbuh dan menjadi pengusaha bisnis Kristen generasi pertama, dimana mereka bertemu secara teratur di seantero negeri untuk bertumbuh dan berkembang secara spiritual.

Benny Yang dari pelatihan LDI membantu mengkoordinasi kelompok kecil ini.

"Kami saling mendorong satu sama lain, saling mendoakan dan belajar Alkitab bersama-sama," ujarnya.

Yang mengatakan begitu banyak pria dan wanita Kristen yang saat ini mengubah budaya bisnisnya dengan menerapkan prinsip-prinsip Alkitab seperti kebenaran dan integritas ke dalam dunia kerja.

"Karena hal ini, saya pikir seluruh komunitas bisnis akan berubah," ujarnya. "Ketika Anda melihat tingkat integritas, Anda akan melihat cara mereka menjalankan bisnis sedang berubah."

Sebuah perubahan yang dibawa oleh orang-orang seperti Chen dan Zhou memberi harapan bahwa suatu hari nanti dapat mengubah bangsa mereka.

"Saya berjalan dalam lembah bayang-bayang kematian. Saya tahu rasanya hampa dan tanpa pengharapan," ujar Zhou. "Tapi saya juga tahu bagaimana rasanya mengalami kebebasan dan memiliki pengharapan. Yesus adalah jawaban dan saya ingin memberitahu setiap orang tentang Yesus."

Sumber : Jawaban.com

14 February 2010

Berhenti Merokok

"Bolehkah saya minta rokokmu sebatang?" tanya John pada George.

"Lho, saya sangka anda sudah berhenti merokok. Anda khan sudah tahu bahwa merokok itu merusak tubuh!" kata George.

"Saya memang sedang dalam proses berhenti merokok. Dan sekarang saya
sedang dalam taraf pertama."

"Apa tahap pertama itu?" "Berhenti membeli rokok!"

13 February 2010

Ada Yang Tertinggal

Di sebuah Rumah Sakit yang begitu megah di Jakarta, di mana banyak sekali orang yang berlalu lalang baik itu yang berobat, para pembesuk ataupun yang sedang menunggui pasien. Utom adalah satu dari sekian banyak orang yang ada di Rumah Sakit tersebut, karena istrinya baru saja melahirkan anak pertamanya. Otomatis saat itu ia berada di ruangan bersalin. Sudah dua hari ia berada di situ dan dia sedang berbahagia karena anak lelaki yang didambakannya sudah hadir ke dunia ini.

Saat dia sedang melamun di depan ruang bersalin tiba-tiba dia melihat seorang lelaki dengan tergesa-gesa dan terburu-buru menyerobot masuk ke ruang bersalin, dan beberapa saat kemudian lelaki itu tampak keluar didorong memakai kursi roda oleh seorang suster karena pingsan, Utom heran kenapa lelaki ini, karena penasaran Utom segera menghapiri beberapa suster yang ada di ruang bersalin, dia bertanya, "Sus, boleh tau kenapa lelaki yang baru datang tadi tiba-tiba pingsan?"

Dengan tenang si suster menjawab, "Oh itu, dia terburu-buru datang kesini karena isterinya akan segera melahirkan, tapi dia lupa sesuatu."

"Lupa apa, sus?" tanya Utom lagi. "Dia lupa membawa istrinya."

12 February 2010

Kisah Seekor Unta

Alkisah, pada jaman dahulu kala, Sang Unta bisa berbicara dengan manusia, suatu hari Sang Unta diajak majikan-nya pergi mengembara, melintasi gurun gurun gersang yang sangat panas pada siang hari dan dingin menusuk pada malam hari.

Malam itu, Sang Unta tidur di luar tenda, sedangkan majikannya tidur nyenyak di dalam. Tengah malam, Sang Unta membangunkan majikannya, dia bilang, "Tuan, saya kedinginan, ijinkanlah saya menitipkan UJUNG KAKI saya masuk ke dalam tenda". Sang majikan tidak keberatan, ujung kaki tidak akan mengganggu dia sama sekali.

Satu jam kemudian, Sang Unta kembali berkata, "Tuan, saya sangat kedinginan, ijinkanlah KAKI DEPAN saya berada dalam tenda agar besok bisa kuat berjalan membawa tuan di atas punggung saya".

"Benar juga", pikir si majikan, maka dia kembali memberikan ijinnya. Satu jam kemudian Sang Unta berkata, "Hidung saya mulai ber-air, besok saya akan sakit dan tidak bisa membawa Tuan di atas punggung saya, ijinkanlah KEPALA saya berada dalam tenda, saya rasa besok saya akan kuat kembali ".

Begitulah jam demi jam, hingga akhirnya pada pagi harinya Sang Unta sedang tidur nyenyak di dalam tenda sedangkan tuannya menggigil kedinginan di luar tenda.

Kita mengenal beberapa "Tipe" Manusia:

Innovator, hanya 2,5% dari populasi manusia, cepat mengambil keputusan untuk
mencoba sesuatu yang baru, termasuk gesit sekali kalau join sesuatu, beli sesuatu.

Early Adopter, populasi 13,5% manusia, hampir mirip dengan jenis pertama, Cuma agak lambat sedikit, pake mikir beberapa saat dahulu.

Early Majority, 34% dari populasi, baru bertindak setelah mendapatkan 'pencerahan' dua tiga kali.

Late Majorty, 33% dari populasi, baru akan bertindak untuk join, bangkit, bergerak, membeli kalau sudah di-prospek beberapa kali dan setelah tertanam kepercayaan dalam hati-nya.

Laggard, hanya 16% dari manusia yang ada, sulit berubah, sangat sulit diajak bergabung dalam kegiatan yang baru, mengganti barang yang biasa dipakai-nya setelah hampir semua teman/sanak keluarga nya mengganti produk lama dengan tipe baru, selama televisi lama nya masih berfungsi, dia mustahil akan mengantinya dengan televisi yang teletex, surraund atau layar datar atau digital ....masih enak kok, katanya. Bukan mustahil kalau saat ini masih ada yang memakai komputer AT dan ws6 untuk pekerjaannya walaupun dia punya uang yang cukup untuk membeli computer 1 Gb dan semua mahluk sudah memakai ms word.

Kisah Sang Unta di atas selalu kami ingat bahwa untuk menawarkan sesuatu kepada calon pelanggan memerlukan suatu perjuangan dan masa 'inkubasi' serta
kecerdikan. Banyak salesman, agent asuransi, brooker rumah, dan profesi pemasaran lainnya yang selalu lupa bahwa FOLLOW UP adalah kunci untuk mencapai sebuah keberhasilan.

10 February 2010

Penayangan Khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong

PENAYANGAN KHOTBAH PDT. DR. STEPHEN TONG di STASIUN TV

Ditayangkan serentak mulai 31 Januari 2010, setiap hari Minggu, Pk.15.00-16.00 (seluruh kota disesuaikan dengan WIB)

1. SUN TV di Indovision Ch. 83
2. SUN TV di Top TV Ch. 83
3. SUN TV di OkeVision Ch.101
4. Deli TV Medan
5. Minang TV Padang
6. Sky TV Palembang
7. Lampung TV
8. Urban TV Batam
9. TV3 Jakarta
10. IM TV Bandung
11. ProTV Semarang
12. BMS TV Purwokerto/ Banyumas
13. MH TV Surabaya
14. MG TV Magelang
15. BMC Denpasar Bali
16. KC TV Pontianak

31 Januari : Seminar Keluarga : Tahta Tuhan Dan Pengenalan Nilai Keluarga
07 Februari : Seminar Keluarga : Tahta Tuhan Dalam Relasi Suami Istri
14 Februari : Seminar Keluarga : Tahta Tuhan Dan Ordo Alam Semesta
21 Februari : Seminar Keluarga : Tahta Tuhan Dalam Mengembalikan Kebahagiaan Keluarga
28 Febuari : Seminar Keluarga : Mazmur 128, Gambaran keluarga Bahagia

7 Maret : Quo Vadis Pendidikan
14 Maret : Quo Vadis Pendidikan
21 Maret : Quo Vadis Pendidikan
28 Maret : Quo Vadis Pendidikan

Tema-tema selanjutnya :
- Siapakah Kristus ( 3 Minggu)
- Pencurahan Roh Kudus ( 5 Minggu)
- Pengudusan Emosi (Sanctification of Emotions)
- Tujuh Kwalifikasi Yesus sebagai Juru Selamat Dunia

08 February 2010

Kisah Pramugari

Seorang pramugari selain mengenakan pakaian cantik seperti yang diketahui banyak orang, tentu saja ada kala nya saya menghadapi saat-saat sulit. Pramugari harus kerja lembur, di dalam pesawat harus mengantar makanan pada ratusan orang, menjual barang duty free, melayani tamu, sibuk sekali sampai tidak bisa tersenyum. Dalam keadaan demikian tetap harus mengingatkan diri bahwa pekerjaanku adalah pelayanan, harus melayani banyak orang. Walaupun bagaimana memberitahu diri kadang-kadang ada saat dimana saya kehabisan tenaga, tak bisa bersabar dan tersenyum.

Sampai pada suatu hari teman baik saya bercerita tentang bagaimana dia melayani seorang kakek tua yang pikun, saya baru bisa mengubah sikap kerja saya.

Ini adalah sebuah penerbangan dari Taipei ke New York. Pada saat pesawat terbang take off tak berapa lama, ada seorang kakek yang tidak bisa mengontrol untuk buang air besar. Dan akhirnya memngeluarkannya di tempat. Keluarga yang melihat hanya merasa jijik dan memaksa kakek ini untuk membersihkan diri di toilet sendirian. Orang tua ini tampak ragu sejenak, lalu kemudian seorang diri berjalan menuju toilet yang berada di belakang.

Pada saat kakek itu keluar dari toilet, walau bagaimana pun ia mengingat, ia tetap tidak mampu mengingat tempat duduknya sendiri. Kakek yang berumur 80-an ini menjadi cemas, takut, dan menangis seorang diri di teras toilet. Seorang pramugari datang membantu kakek ini, bau yang teramat sangat memenuhi badan kakek. Ternyata kakek ini tidak mengetahui dengan jelas letak tissue di dalam toilet tersebut sehingga ia membersihkannya dengan menggunakan bajunya. Toilet yang digunakannnya tadi jadi kotor dan berantakan sekali.

Setelah mengantarkan kakek kembali ke tempat duduknya. Para penumpang di sekitarnya mulai mengeluh bau busuk yang berasal dari badannya. Pramugari menanyakan kepada saudaranya apakah mereka masih memiliki baju pengganti yang bisa digunakan oleh kakek ini. Saudaranya mengatakan, semua pakaian ada di bagasi pesawat, jadi kakek ini tidak memiliki baju pengganti. Dan saudaranya berkata, "Sekarangkan penerbangan ini tidak terisi full, saya melihat ada beberapa baris bagian belakang yang masih kosong, bawa saja kakek ini untuk duduk di belakang." Pramugari ini hanya bisa mengikuti keinginan dari saudaranya dan membawa kakek ini ke barisan belakang.

Kemudian mengunci toilet yang telah digunakan oleh kakek ini agar penumpang lain tidak salah masuk toilet. Akhirnya kakek ini duduk di bangku belakang seorang diri, menundukan kepala dan tak henti-hentinya menghapus air matanya yang terus mengalir.

Siapa sangka satu jam kemudian, kakek ini sudah berganti pakaian, dengan badan yang bersih dan tersenyum riang kembali ke tempat duduknya semula. Di depan mejanya tersaji seporsi makanan baru yang masih hangat. Semua orang saling bertanya siapa gerangan yang membantunya? Ternyata teman baik saya ini yang mengorbankan waktu makan malamnya. Dia menggunakan tissue dan lap basah pelan-pelan membersihkan badan kakek ini sampai bersih.dan meminjam baju baru dari co-pilot untuk mengganti baju kakek ini. Terlebih lagi, pramugari ini membersihkan toilet yang telah digunakan oleh kakek ini hingga bersih dan menyemprotkan parfumnya sendiri ke dalam toilet tersebut.

Rekan kerjanya mengatakan dia bodoh, harus begitu susah payah membantu orang lain, bukankah sampai akhirnya tidak akan ada orang yang mengenang dan berterimah kasih. Sudah lelah, namun tidak mendatangkan keuntungan apa pun. Dia dengan tenang dan tegas menjawab, "Jam penerbangan masih belasan jam, kalau saya menjadi orang tua tersebut, saya pastilah sangat sedih, siapa yang berharap kalau awal dari perjalanan ini bisa jadi begini. Lagi pula tigapuluhan orang harus menggunakan satu toilet, kurang satu toilet tentu sangat merepotkan. Saya bukan hanya membantu orang tua itu tapi juga membantu penumpang yang lain."

Setelah mendengar cerita ini saya sangat menyesali sikap saya. Teman baikku pernah menyampaikan kepada saya bahwa pekerjaan yang paling membahagiakan adalah pekerjaan yang mengantarkan orang lain dari satu tempat ke tempat lain dengan selamat. Sejak mendengar pengalaman indah dari teman baik ini, saya baru menyadari bahwa pelayanan sungguh merupakan sebuah berkah yang harus dihargai.

Pengalaman teman baikku ini telah mengubah sikapku dalam bertugas

07 February 2010

Minum Kopi

Pasien : "Dok, setiap saya minum kopi dari cangkir, rasanya mata kanan saya seperti ada yg menusuk gitu dok"

Dokter : "Kalo begitu, setiap mau minum kopi keluarkan dulu sendoknya dari dalam cangkir.. "

Pasien : "O... Terima kasih, Dok.."

06 February 2010

Sales vs Petani

Seorang sales sedang mencoba membujuk seorang petani untuk membeli sebuah sepeda.

Si petani menolak untuk membeli sebuah sepeda, tapi ternyata si sales tampaknya tidak mudah menyerah.

"Hei ... daripada membeli sepeda, lebih baik aku habiskan uangku untuk pelihara sapi," kata si petani.

"Ah," jawab si sales, "tapi coba pikir deh ... Anda akan sangat terlihat bodoh jika Anda bepergian dengan mengendarai seekor sapi."

"Huhh!!" hardik si petani. "Apakah tidak lebih bodoh jika orang melihatku memerah sebuah sepeda!"

05 February 2010

Allahpun Menangis Bahagia

Suatu musim panas dimana hujan belum turun hampir satu bulan lamanya. Tanaman jagung hampir mati. Sapi-sapi tidak menghasilkan susu. Sungai-sungai mengering. Itu adalah musim kering yang cukup parah bahkan ada mungkin sebelum musim panas berakhir banyak dari para petani sudah harus mengalami kebangkrutan. Setiap hari suamiku dan adik laki-lakinya berusaha semaksimal mungkin mengairi ladang kami walau dengan proses yang amat sukar. Dan akhirnya proses ini melibatkan sebuah truk yang harus di bawa ke pabrik penyimpan air setempat dan mengisinya dengan air. Penjatahan air yang ketat  membuat banyak orang kesusahan. Kalau hujan tidak turun juga dengan segera kami akan kehilangan segalanya.

Hari itu aku mendapatkan satu pelajaran yang sangat berharga tentang memberi dan aku menyaksikan sendiri mujizat terjadi. Saat sedang di dapur menyiapkan makan siang, aku melihat anak laki-lakiku, Billy, 6 tahun, sedang berjalan ke hutan. Langkahnya tidak seperti anak kecil pada umumnya, sepertinya sedang berjalan dengan satu tujuan yang sangat penting sekali. Aku hanya bisa melihat punggungnya saja.

Dengan upaya yang besar, ia mencoba berjalan dengan tenang. Setelah menghilang ke dalam hutan, segera dia sudah terlihat kembali, berlari kencang menuju rumah. Aku tidak terlalu perduli, rasanya ia sudah selesai dan aku meneruskan kegiatanku. Tetapi, sesaat aku kembali melihat Billy, seperti tadi lagi langkahnya tetap tenang.

Hampir satu jam dia melakukan hal itu terus menerus. Akhirnya aku tidak tahan lagi, langsung keluar mencoba untuk mengikutinya (tapi berusaha untuk tidak diketahui... rasanya dia tak mau ibunya tahu apa yang sedang dikerjakannya).

Dia berjalan dengan tangan yang sedang menangkup air, mencoba untuk tidak menumpahkan satu tetespun Air ditangannya yang kecil itu paling hanya sebanyak 1 atau 3 sendok makan. Aku  mencoba lebih mendekat saat dia sedang berjalan menuju hutan. Ranting-ranting pohon dan duri mengenai wajah kecilnya, tapi dia sama sekali tidak mencoba untuk menghindar. Dia lebih memusatkan perhatiannya kepada tugas yang sedang dia kerjakan.

Ketika aku sedang mengawasinya, disaat itulah aku melihat pemandangan yang sangat luar biasa. Beberapa rusa besar bermunculan dihadapannya. Billy berjalan tepat ke arah mereka. Hampir aku berteriak untuk menyuruhnya menjauh. Seekor rusa jantan besar dengan tanduknya yang indah datang mendekat. Tapi rusa itu tidak melakukan apa-apa, bahkan ketika Billy duduk berlutut. Dan aku melihat seekor anak rusa kecil tergelak di tanah dan jelas sekali sedang menderita dehidrasi dan keletihan yang amat sangat. Aku melihat anak rusa itu dengan usaha yang keras mencoba mengangkat kepalanya untuk bisa menjilat air dari tangan kecil anakku. Demikian Billy melakukannya.

Ketika airnya habis, segera Billy berdiri, kembali berlari ke rumah, berjalan menuju keran yang telah kami tutup. Billy membukanya dan aliran air yang sangat kecil meluncur turun. Dia menadahkan tangannya sambil berjongkok, menunggu air yang mengalir sangat lambat itu memenuhi tangannya dan sinar matahari yang panas menyinari punggungnya.

Butuh waktu kira-kira 2 menit untuk air itu bisa memenuhi tangan kecilnya. Setelah penuh dia berdiri dan  kembali ke hutan, disaat itulah dia baru menyadari bahwa aku telah berada di hadapannya. Dengan air mata yang hampir mengalir dia berkata, "aku nggak sedang buang-buang air," katanya.

Akhirnya aku menemaninya...kali ini dengan membawa mangkuk kecil yang sudah berisi air. Aku menunggu di kejauhan, membiarkannya memberi minum anak rusa itu. Itu pekerjaannya. Aku berdiri di pinggir hutan sambil memandangi sebuah hati yang luar biasa indah, dengan usaha yang besar sedang berusaha untuk menyelamatkan sebuah kehidupan lain.

Ketika air mata membasahi wajahku, tiba-tiba aku merasakan ada tetesan air yang lain menimpa wajahku, lagi, lagi dan lebih banyak lagi. Aku memandang ke langit dan bisa merasakan bahwa Allah pun turut menangis dengan bangga.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah kebetulan. Bahwa mujizat itu tidak ada. Bahwa kebetulan saja hujan memang harus turun. Aku tidak dapat mendebatnya... dan tidak ingin melakukannya. Yang ingin aku katakan hanyalah bahwa hujan hari itu sungguh-sungguh telah menyelamatkan pertanian kami, seperti yang telah dilakukan seorang anak laki-laki kecil yang telah menyelamatkan nyawa makhluk lain.

04 February 2010

Tujuh Keajaiban Dunia

Sekelompok pelajar belajar mengenai "Tujuh Keajaiban Dunia". Pada akhir pelajaran, para pelajar diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan "Tujuh Keajaiban Dunia" saat ini.

Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi :

1) Piramida Besar di Mesir
2) Taj Mahal
3) Grand Canyon
4) Panama Canal
5) Empire State Building
6) St. Peter's Basilica
7) Tembok China

Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.

Gadis pendiam itu menjawab, "Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya."

Sang guru berkata, "Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya."

Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, Saya pikir Tujuh Keajaiban Dunia adalah :

1) Bisa menyentuh
2) Bisa mencicip
3) Bisa melihat
4) Bisa mendengar
Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan :
5) Bisa merasakan
6) Bisa tertawa
7) Dan bisa mencintai

Ruang kelas tersebut sesaat sunyi seketika! Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya "keajaiban", sementara saat kita melihat dan menikmati  semua yang telah Allah lakukan untuk kita, lalu menyebutnya sebagai "biasa-biasa saja"?

03 February 2010

Gratis Tetapi Tidak Murah

Matius 16:24 "Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 34; Kisah Para Rasul 6; Keluaran 17-18

Pada awal abad 20, hiduplah seorang pria dari keluarga kaya raya se-antero Amerika Serikat yang bernama Bill Borden. Karena rasa cintanya yang besar kepada Tuhan Yesus, ia tinggalkan semua kekayaannya dan mengambil keputusan untuk menjadi misionaris ke Cina. Namun, itu tinggallah mimpi karena di Mesir, nyawanya sudah tidak ada akibat demam tinggi. Sebelum kematiannya ia menulis, "Tidak ada yang tersembunyi, tidak ada kata mundur, tidak ada penyesalan!"

Pemuridan selalu mahal. Mungkin itu tidak menuntut nyawa kita, tetapi itu akan menuntut diri kita. Itu akan menuntut rencana-rencana, kehendak, dan keinginan pribadi kita. Standar Yesus belum berubah sampai sekarang, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku" (Matius 16:24). Kita tidak lagi berhak mengendalikan kehidupan kita sendiri, tetapi harus menyerahkannya kepada Kristus sebagai Tuhan.

Seseorang pernah berkata, "Keselamatan memang gratis, tetapi tidak murah." Itu menuntut nyawa Kristus, demikian juga itu akan menuntut kita. Namun, adakah sesuatu yang lebih besar dari keselamatan? Adakah yang lebih memuaskan dari hal itu?

Ikutilah Kristus, dan di akhir kehidupan Anda akan mampu berkata, "Tidak ada penyesalan!"

Memelihara iman kepada Kristus sampai mati adalah tanda penghargaan Anda terhadap keselamatan yang telah Dia berikan di dalam hidup Anda.

Sumber: Hope for Each Day; Billy Graham; Penerbit Metanoia

Harapan Seorang Pemabuk

Berikut ini adalah kesaksian dari salah seorang misionaris (pendeta dari Korea) yang melakukan pelayanannya di Afrika Selatan :

Ladang misiku adalah suatu wilayah di Naral, yang ada di bagian timur Afrika Selatan. Saat ini, aku bekerja di dua tempat yaitu di suatu daerah perkotaan bernama Kwamashu dan daerah pertanian bernama Ruganda. Sehubungan dengan kebijaksanaan apartheid yang diberlakukan di Afrika Selatan, banyak daerah perkotaan -- terdiri atas kota- kota mono-ethnis yang didiami orang-orang "campuran" (keturunan dari pasangan yang berbeda ras), orang-orang Indian dan orang-orang berkulit hitam -- berkembang pesat di daerah-daerah pinggiran kota- kota, tempat di mana penduduk asli Afrika (keturunan Eropa) tinggal.

Kota Kwamashu terkenal dengan tindak-tindak kekerasan yang terjadi hampir setiap hari sebelum dilangsungkannya pemilihan bersejarah di negara Afrika yang melibatkan setiap ras yang ada di negara tersebut, tepatnya pada tanggal 28 April 1994.

Menyadari resiko yang harus dihadapi karena situasi kekerasan yang ada di Kwamashu, beberapa peristiwa tertentu terus menguatkanku untuk meneruskan pelayanan misi di kota tersebut. Salah satu dari peristiwa-peristiwa tersebut terjadi ketika aku sedang melakukan penginjilan dari rumah ke rumah di sebuah desa di Kwamashu.

Pada sebuah rumah yang aku kunjungi, aku menjumpai dua orang pria sedang minum bersama. Kami mulai berbincang-bincang dan aku memperkenalkan diri kepada mereka sebagai pendeta Korea.

Nampaknya mereka tertarik dengan pembicaraan tentang gereja dan mereka mulai melontarkan banyak pertanyaan yang berkaitan dengan kekristenan. Untuk menanggapi rasa ingin tahu mereka, aku mulai mensharingkan Injil -- berita keselamatan yang diberikan kepada mereka melalui pengorbanan Yesus Kristus.

Selain itu aku juga mensharingkan tentang pentingnya berpartisipasi dalam kehidupan bergereja untuk menguatkan dan menumbuhkan ke kedewasaan mereka dalam iman. Meskipun kedua pria tersebut dalam keadaan benar-benar mabuk, mereka mengundangku untuk datang lagi, sebagai ungkapan kerinduan mereka untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Injil.

Setelah menyelesaikan kunjungan di desa tersebut, aku kembali ke gereja untuk mengadakan PA bersama-sama anggota-anggota gereja lainnya. Begitu aku bersiap-siap hendak pulang setelah PA, salah satu dari dua orang pria peminum yang aku kunjungi tadi datang menghampiriku.

"Misionaris Kim," katanya memanggilku, "Apakah anda memiliki waktu luang malam ini?" "Saya ingin anda menceritakan lebih banyak lagi tentang Injil kepada saya dan tunangan saya," lanjutnya menjelaskan.

Salah satu anggota gereja yang kebetulan ikut mendengarnya sangat terkejut. Demikian pula aku yang merasa ragu karena Kwamashu bukanlah kota yang aman. Namun demikian, aku terima juga undangan tersebut.

Matahari telah terbenam dan hembusan angin mengantarkan kami memasuki Wilayah "J" di kota Kwamashu -- wilayah yang paling berbahaya di kota Kwamashu. Setelah kami tiba di rumah pria pemabuk itu, dia mulai memperkenalkan anggota keluarganya yaitu ibu, adik, kakak, dan juga tunangannya.

"Ini tunangan saya," katanya kepada saya, "Dulu ia biasa pergi ke gereja yang dipimpin oleh misionaris dari Barat. Bahkan waktu dia kecil, dia juga pernah mengikuti Sekolah Minggu. Tetapi sekarang ia tidak mau melakukannya lagi. Tolong sharingkan Injil kepadanya dan bantulah dia untuk memulai kehidupan kristennya lagi."

Begitu mendengar permintaan tersebut, sebuah doa terucap dalam hatiku, "Oh Tuhan, Engkau sungguh Allah yang Mahakuasa."

Aku benar-benar heran saat melihat bagaimana Allah membuat diriku memiliki keberanian untuk memasuki daerah berbahaya tersebut, sehingga seorang pemabuk dan tunangannya dapat mendengar berita Injil. Aku berdoa memuji Tuhan yang telah mengatur dunia dengan kuasa-Nya.

~ Bahan diambil dan diterjemahkan dari:  Judul Majalah: Living Life, Volume 3, Number 12 Judul Artikel: The Drunkard's Wish  Penerbit : Tyrannus International Ministry, 1994 Halaman : 110

02 February 2010

Anak Elang

Pada zaman dahulu hiduplah seorang petani di sebuah desa di lereng bukit. Namanya Kusno. Kusno mempunyai sebidang sawah yang cukup luas, yang sedang ditanami padi. Setiap hari ia selalu pergi pagi dan pulang pada sore hari untuk merawat padi-padinya. Selain bertani Kusno juga mempunyai beberapa hewan peliharaan, seperti ayam, kambing dan sapi. Ayamnya sudah mencapai puluhan ekor, ada yang kecil, besar, ada yang bertelor dan ada juga yang sedang mengeram. Kambingnya baru beranak, sedang sapinya berjumlah 5 ekor.

Suatu sore ketika Kusno dalam perjalanan pulang, ia menemukan sebutir telur dipematang sawah yang biasa ia lalui. Diambil dan diamatinya telur tersebut sambil bertanya dalam hati “Telur apa ini, ya? Kok bentuk dan ukurannya agak beda ya dengan telur ayam dirumah? Punya siapa?”

Setelah beberapa saat ia mengamati dan berpikir, kemudian dia memutuskan untuk membawa pulang telur tersebut. Sepanjang perjalanan, Kusno terus berpikir, ”Mau saya apakan telur ini ya? Digoreng lalu dimakan atau ditetaskan saja biar hewan peliharaanku tambah banyak?”

Akhirnya ketika sampai dirumah, Kusno memutuskan untuk menaruh telor tersebut dierami oleh seekor induk ayam. Setelah 21 hari mengerami, akhirnya semua telor-telor yang dierami menetas. Termasuk telor yang ditemukan Kusno di sawah.

Setelah sekian waktu hidup dalam asuhan induk ayam, mulailah nampak perbedaan antara anak ayam dengan anak dari telor yang ditemukan di sawah. Ternyata telor yang ditemukan Kusno adalah telor burung elang. Maka anaknya namanya anak elang.

Sang induk ayam memperlakukan anak-anaknya sama semua. Bagaimana cara mencari makan, berlari-lari dll semuanya serba mengikuti ayam. Termasuk anak elang tersebut berpolah tingkah sebagaimana yang dia lihat dari induk maupun dari sesama saudaranya.

Pada suatu hari, datanglah bayangan terlihat terbang memutar-mutar disekitar induk dan anak-anak ayam tersebut. Sang induk dengan paniknya berteriak mengumpulkan anak-anak ayam untuk memberi perlindungan. Anak elang melihat kejadian tersebut, melihat ada hewan yang bisa terbang berputar kemana-mana kemudian dia berpikir ”Alangkah enaknya dia bisa terbang kemana-mana, andai aku bisa seperti dia”

Singkat cerita, anak elang tersebut menjadi dewasa, kemudian tua dan akhirnya mati dalam kondisi yang tidak berubah masih seperti ayam. Kadang kita tidak menyadari bahwa kita sesungguhnya punya kemampuan yang luar biasa, sesungguhnya kita dapat menjadi orang yang bukan seperti saat ini. Jika saat ini kondisi ekonomi (penghasilan) kita pas-pasan bahkan kurang, itu karena kita mempunyai pikiran seperti elang. Kita berpikir bahwa kita ya, hanya seekor ayam, padahal sesungguhnya kita adalah elang.

Pola pikir dan lingkungan kitalah yang akhirnya membentuk dan menjadikan kita seperti saat ini. Kita bukan ayam dan juga bukan elang, kita adalah manusia yang dikaruniai akal. Dengan akal, kita mampu berpikir dan bertindak untuk meraih apapapun untuk kesuksesan hidup kita.

Selamat berkarya, Tuhan Yesus Memberkati…

01 February 2010

Hiduplah Dengan Suatu Sikap Iman

Apakah SITUASI & KEADAAN menjadikan Anda tidak adil atau bermasalah pada hari-hari yang lalu maupun sampai hari ini juga?

Mulailah katakan, "Bapa, aku bersyukur kepada-Mu karena kasih karunia-Mu yang sedang turun ke atasku dalam suatu cara yang baru, dan semua itu akan mengubah keadaan ini. KEMURAHAN-MU ya TUHAN akan menjadikan keadaan ini mengubah kehidupanku dengan baik."

Demikian juga jika Anda sedang bergumul secara Finansial, katakan segera kepada-Nya, "Bapa, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau sedang menjadikan aku berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat. Engkau sedang membawa kesempatan-kesempat an finansial yang luar biasa kepadaku."

Semua ini harus Anda jalankan dan hidup dengan SIKAP IMAN, seperti orang-orang kudus di zaman Kuno, sehingga Kasih Karunia Tuhan akan segera tampak, dan akan mengubah demi Keberuntungan Anda dan menjadikan Anda "BERKELIMPAHAN".

Kita boleh mengambil pelajaran tentang AYUB. Ia mengalami salah satu dari masa-masa paling sukar dan paling pahit yang dapat ditanggung oleh manusia, Dalam kurun waktu kurang dari setahun ia kehilangan segala-galanya; kehilangan keluarga, bisnisnya serta kesehatannya. Diseluruh tubuhnya timbul bisul, tak ayal lagi ia hidup dalam keadaan sakit yang tak berkeputusan!

Tetapi ditengah-tengah masa-masa GELAP itu, Ayub menengadah ke langit dan berkata, "Tuhan, hidup dan kasih setia-Mu, Kau karuniakan kepadaku, aku tidak peduli bagaimanapun KEADAANKU. Aku tidak peduli seberapa buruk PERASAANKU. Sebab aku tahu, Engkau adalah Tuhan yang baik dan pemurah, kemurahan-Mu akan mengubah KEADAAN ini."

Apakah kita akan menjadi terheran-heran, jika Tuhan mengembalikan kepada Ayub dua kali lipat apa yang ia miliki sebelumnya atau apakah mengherankan jika musuh-musuhnya tidak dapat menang atasnya?

Sungguh! Inilah pernyataan sikap IMAN YANG SEJATI, maka jika Anda dapat belajar tetap dalam SIKAP IMAN, dan dalam saat-saat paling gelap yang menimpa Anda, dengan tegas Anda menyatakan belas kasihan Tuhan, tidak ada yang akan sanggup mengalahkan Anda!!!

Anda mungkin ada dalam keadaan yang tampak mustahil hari ini, tetapi jangan remehkan BELAS KASIHAN TUHAN. Karena hanya dengan "SATU JAMAHAN SAJA" maka "BELAS KASIHAN TUHAN" dapat dengan segera MENGUBAH segala sesuatu dalam kehidupan Anda!

Alkitab mengatakan, "Berharaplah terus sampai akhirnya Belas Kasihan Ilahi" yang sedang datang segera memenuhi Anda." Dengan kata lain, "JANGAN MENYERAH." Teruslah PERCAYA, TERUSLAH BERHARAP, MENGUCAP SYUKUR DAN NYATAKAN ITU/CLAIM IT!

Teruslah hidup dengan cara berpikir yang berkenan bagi Tuhan, maka janji-janji Tuhan akan segera datang kepada Anda. Jagalah harapan Anda pada Tuhan sebab Tuhan mengatakan, "Belas Kasihan Ilahi" sedang datang kepada Anda. Anda mungkin tidak sanggup melihatnya sekarang, segala sesuatunya mungkin tidak tampak jelas dalam dunia fisik ini, tetapi Anda harus tetap terus mengharapkan dan menyatakannya sehingga akan tampak Belas Kasihan Tuhan. Teruslah berharap dan katakan, "Tuhan, aku tahu bahwa "Kemurahan-Mu" sedang mendatangiku."

Pada tahun 1996, ada pertandingan Golf PRO-AM (Profesional- Amatir) di Golfcourse MATOA-Ciganjur, Jakarta- Indonesia, aku ikut berpartisipasi dalam tournamen tersebut. Pada Hole 12 Par 3 dengan jarak 160 Yards disediakan hadiah untuk yang "Hole In One". Jika seseorang dapat memasukan bola golf kedalam lobang itu dengan hanya sekali pukul, maka ia akan mendapatkan hadiah besar. Sesungguhnya hal ini adalah sangat mustahil, sebab dengan jarak 160 Yards, seseorang tentu sangat sulit dapat memukul bola golf kedalam lobang tersebut.

Pada saat giliranku memukul bola di Par 3, Hole 12 itu, aku tetap yakin dengan IMAN sesuai dengan Firman Tuhan dalam Alkitab yang mengatakan, "Kita tidak akan mendapat karena kita tidak meminta. Jadi berusahalah."

Ketika aku sudah siap memukul bola dari Tee-Box.

Aku berkata, "Tuhan, ini hole 12, ada hadiahnya lho Tuhan, sebuah mobil BMW. Tolong dong aku, Tuhan, bantulah memasukan bola ini kedalam lobang tersebut." Tanpa disengaja tahu2 stick golfku memukul bola tersebut dengan tiba-tiba. Dan aku berteriak, "Lho, kok aku belum siap memukul tahu-tahu sudah memukul, kenapa?. Tapi teman-teman Pairing (pasangan satu flight, 4 orang) mengatakan, bolanya lurus, bolanya lurus dan tahu-tahu masuk kedalam lobang! Semua orang-orang dilapangan golf tersebut berteriak keras, "Hole In One, Hole In One, Hole In One!" mereka berteriak berkali-kali! Maka hadiah akbar berupa sedan mobil merk "BMW" pun berada di tanganku.

Teman2, sahabat, sanak famili & handai tolan, itulah Kasih Karunia Tuhan. Jangan pernah menyerah demi Tuhan. Alkitab katakan, "Jika engkau mau BERHARAP TERUS sampai pada akhirnya, maka Kasih Karunia Tuhan akan datang kepadmu". Mintalah dan berharaplah terus, sebab Anda mempunyai keuntungan dalam kehidupan ini, Anda mempunyai harapan dan keistimewaan, Anda mempunyai Kasih Karunia Tuhan !

Alkitab katakan :
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. - Matius 7:7-8