Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

26 June 2009

Sadar Hukum

Mazmur 119:7 : Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil.

Bacaan Alkitab setahun: Amsal 27; Filipi 4; 2 Tawarikh 12-13

Sebagai anak-anak Tuhan yang baik, kita semua harus lulus menjadi “sarjana hukum”. Allah telah menjadikan “hukum” sebagai salah satu pelajaran terpenting yang harus dikuasai oleh umat-Nya. Mengapa pelajaran “hukum” sangat penting bagi orang Kristen? Karena Allah bekerja di dunia berdasarkan hukum yang Ia ciptakan.

Alam semesta dan kehidupan bekerja, bergerak dan diatur berdasarkan hukum. Pada waktu manusia mampu bekerja sesuai dan selaras dengan hukum, maka manusia akan mendapatkan hasil yang efektif. Hukum akan membantu kita menghasilkan hasil selama tindakan kita sesuai dan selaras dengan bunyi hukum tersebut. Hukum diberikan untuk kepentingan dan kebaikan manusia.

Hal yang penting untuk kita tahu ialah “Waktu kita melakukan suatu tindakan yang melawan hukum, maka hukum itu akan berbalik melawan kita”. Itu sebabnya Alkitab memberi kita perintah untuk mentaati hukum-hukum-Nya dengan setia. Karena pada saat kita melawan hukum, maka hukum itu akan menghancurkan kita. Tetapi sebaliknya, selama kita tidak melawan hukum, hukum tersebut tidak dapat menghancurkan kita. Melainkan hukum itu akan bekerja untuk kita dan membantu kita menghasilkan hasil-hasil yang luar biasa.

Selama kita tidak melawan hukum gravitasi, kita tidak akan terluka. Selama kita tidak melawan hukum suatu negara, kita tidak akan dipenjara. Selama kita tidak melawan hukum-hukum kehidupan Allah yang terdapat di dalam Alkitab, maka hidup kita akan maksimal, penuh damai sejahtera dan bahagia. Problem terbesar dari sebagian besar masalah manusia ialah “ketaatan”.

Banyak orang yang hidupnya sudah hancur berantakan karena mereka melanggar hukum Allah sejak mereka muda. Beberapa orang terjebak ke dalam lingkaran kehancuran karena tidak tahu apa yang salah dengan hidup mereka. Karena itu, pelajarilah hukum-hukum Allah sejak kita muda. Biarlah hidup kita dituntun oleh-Nya melalui hukum-hukum tersebut sepanjang kita hidup, maka kita akan menikmati hidup yang maksimal hari ini dan hari-hari selanjutnya dalam hidup kita.

Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Sumber : Ps. Ferry Felani, S.Th. Pastor of City Gate Apostolic Community

Peer Pressure

Suatu hari aku dan ketiga temanku sepakat untuk coba-coba mempraktekkan sebuah pemikiran baru dari sebuah buku yang kami baca. Di buku itu di tulis, kalau kita dengan yakin, secara bersama-sama mempengaruhi seseorang tentang suatu hal, sekalipun itu adalah hal negatif, maka orang itu akan mempercayainya dengan sendirinya.

Dan orang pertama yang terbersit dalam pikiran kami adalah Joko. Ia adalah seorang primadona kampus. Ganteng, pintar, kaya dan begitu populer. Kebetulan Joko sedang lewat di depan perpustakaan.

Aku menghampirinya dan pura-pura memperhatikan wajahnya. Tiba-tiba aku bilang, “Kok hari ini kamu kelihatan pucat, seperti mau sakit deh.” Joko agak terkejut. Namun ia dengan yakin mengatakan, “Aku baik-baik saja kok. Kamu ini ada-ada saja.”

Orang kedua pun menghampirinya di dalam kamar mandi. Ia juga mengatakan hal yang sama. Kali ini Joko mulai menanggapinya dengan serius. Ia langsung memperhatikan wajahnya di cermin.

Orang ketiga membicarakan hal yang sama kepada Joko di kantin. Joko mulai terlihat was-was. Ia memesan juice jeruk dan meminum sebutir vitamin C yang diyakininya bisa memulihkan kondisinya. Joko benar-benar mulai menanggapi perkataan kami.

Orang keempat pun melakukan hal yang sama ketika bertemu dengan Joko di tempat parkir. Ia melakukannya dengan sangat baik pada bagian, “Vitamin C itu untuk mencegah, bukan mengobati. Sebaiknya kamu periksa deh.” Joko benar-benar menjadi kuatir.

Apa yang terjadi berikutnya? Keesokan harinya Joko tidak masuk dua hari. Ketika masuk, kami menanyakan kabarnya. Joko menjawab dengan yakin, “Kemarin aku benar-benar sakit. Terima kasih ya atas perhatiannya.” Kami tidak bisa menahan tawa. Lalu aku menjelaskan apa yang yang sebenarnya terjadi. Jawaban Joko benar-benar mengejutkan kami. “Lho, kalian ini bagaimana sih? Aku itu benar-benar sakit. Kemarin aku ke dokter dan di opname satu hari. Lalu hari ini saja aku paksakan masuk, padahal kondisinya masih belum sehat betul.”

Perkataan orang-orang disekitar kita bisa membuat kita gagal. Cara mereka berbicara, intensitas dan topiknya, bisa membuatmu meragukan kebenaran. Kamu harus berhati-hati dalam mendengar setiap masukan mereka.