7:22:00 AM
Peak
"Dalam iman mereka semua ini ... mengakui bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini" - Ibrani 11:13
Bacaan : Ibrani 11:8-16
Saya pernah bertualang seorang diri keliling Eropa selama sebulan, sebagai turis backpacker. Dengan menyandang ransel besar, saya mengunjungi kota demi kota dengan kendaraan umum. Kadang saya menginap di kereta, pada kesempatan lain menginap di hostel. Seru! Bagi turis seperti saya, berlaku prinsip penting: bawalah barang seringan dan sesedikit mungkin. Mau beli cenderamata pun mesti pikir-pikir-jangan sampai membebani diri terlalu berat. Toh saya berada di satu tempat hanya satu atau dua hari. Akibatnya saya tidak membawa barang-barang, kecuali yang benar-benar penting.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa kita hanya orang asing dan pendatang di bumi ini (ayat 13). Kita hanya transit dan tak akan tinggal lama. Tujuan akhir kita adalah tanah air surgawi. Karena itu, janganlah hati kita melekat pada kemewahan dunia, lalu membangun kerajaan di sini. Jangan terlalu merasa betah. Belajarlah dari Abraham. Ketika ia tiba di negeri perjanjian, ia tidak membangun rumah permanen. Ia mendirikan kemah yang mudah dibongkar kapan saja (ayat 9). Bagi Abraham, dunia ini hanya "tanah asing". Bahkan ketika ia tak memperoleh apa pun yang dijanjikan di dunia ini, ia tidak kecewa. Mengapa? Karena ia sadar dirinya hanya pendatang (ayat 13). Penggenapan seluruh janji Allah baru akan dialami kelak, ketika kita tiba di "tanah air".
Di tengah kesibukan bekerja, ada bahaya jika kita menjadi "terlalu betah" tinggal di dunia. Merasa menjadi penghuni tetap bumi ini, sehingga memusatkan perhatian untuk segala hal duniawi. Ingatlah: kita hanya pendatang dan perantau. Perjalanan masih panjang. Pastikan bawaan Anda sudah seringan dan sesedikit mungkin -JTI
JIKA ANDA TERLALU BETAH TINGGAL DI BUMI
SURGA TAMPAK TIDAK MENARIK LAGI
Yayasan Gloria
7:19:00 AM
Peak
Judi berjalan ke perpustakaan, melihat sekeliling, dan mengantri menemui penjaga perpustakaan.
Saat ia ketemu dengan penjaga perpustakaan, ia dengan keras berkata, "Aku mau kentang goreng dan satu minuman dalam gelas besar."
Si petugas perpustakaan menatapnya sejenak, lalu berbisik pada Judi, "Nyonya, ini perpustakaan! "
Judi mengangguk dan berkata, "Oh iya, aku lupa."
Kemudian dia berbisik sepelan mungkin, "Aku mau kentang goreng dan satu minuman dalam gelas besar."
7:09:00 AM
Peak
Ini cerita dari Jepang kuno. Mudah2an bisa diambil hikmahnya...
Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.
Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
"Bu, kita sudah sampai", kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya. Si ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata, "Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang. Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan'.
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan, merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.
Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita diatas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jkalau ada waktu saja. Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.