Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

31 October 2011

HANDPHONE di dalam PENERBANGAN vs HANDPHONE di dalam GEREJA

Mungkin judul diatas, seperti sebuah pembanding yang Kontras dan Aneh. Tetapi itulah kenyataannya, dan apa yang saya akan share disini bukanlah mau menggurui, dsb.

Saya hanyalah sesorang yang merasa 'TERTEGUR' (secara pribadi) dengan apa yang sudah TUHAN ingatkan dalam diri saya.

NAIK PESAWAT?.
Yaa... bagi sebagian dari kita, itu adalah hal yang mungkin jarang atau tidak pernah sama sekali. Tetapi bagi sebagian dari kita, sudah sering kali naik pesawat, bahkan 'bekerja' di pesawat.

Seperti layaknya sebuah prosedur penerbangan, saat kita akan melakukan sebuah penerbangan, semua HANPHONE harus DIMATIKAN atau berada dalam OFLLINE/FLIGHT MODE. Karena dapat menggangu sistim navigasi pesawat. Hal itu berarti 'memutuskan' sementara terhadap semua hubungan dengan sinyal operator handphone kita masing-masing, dan menyalakannya kembali saat pesawat telah mendarat, dan berhenti dengan sempurna di bandara tujuan.

Tentu kita sudah paham akan hal ini, dan mengikuti prosedur ini, karena ingin 'nyawa' kita selamat selama penerbangan, dan tidak ingin juga mendapat masalah dengan awak pesawat karena menolak mematikan handphone.

Saya sekitar seminggu yang lalu, tepatnya hari Jumat siang, saya merasa TUHAN tegur langsung di dalam sebuah ibadah di salah satu kota saat saya sedang pelayanan disana. Biasanya saya hanya me-nonaktifkan nada dering saja, dan masuk dalam menu Vibrate, dan semua sms, telp masih dapat tetap masuk tanpa ada ringtonenya. Tetapi hari itu, saat ibadah baru dimulai, tiba-tiba seperti ada 'sesuatu' yg berbicara sangat tegas dalam batin saya. Secara umumnya seperti ini...

"Kamu, sangat menjaga dan aware dengan safety di dalam dunia penerbangan, dan mematuhi segala prosedurnya. Kamu sanggup mematikan handphone-mu selama penerbangan berlangsung demi menghormati dan menjaga sebuah prosedur keselamatan, dan menghindari masalah dengan awak pesawat karena menyalakan handphone. Masa dirimu tidak dapat mematikan handphonemu untuk AKU hanya dua sampai tiga jam saja?. Apakah AKU tidak lebih dari sebuah penerbangan dan awak pesawat sehingga kamu lebih mementingkan mematuhi mereka ketimbang menghormati KU?".

Ular Dan Katak

Baca: Galatia 5:1-6:2
Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus (Galatia 6:2)

Pada saat bencana banjir di Brisbane Queensland akhir tahun 2010 lalu, Armin Gerlach—seorang teknisi kantor berita—berhasil mengabadikan sebuah momen langka. Yakni rekaman foto tentang persahabatan seekor katak hijau yang mendapat tumpangan di punggung seekor ular coklat yang berenang melintasi genangan air akibat banjir. Bukankah seekor ular biasanya melahap katak yang lemah sebagai mangsanya? Namun, ketika bencana menimpa, dua hewan itu mampu mengesampingkan segala perbedaan di antara keduanya hingga si kuat memberi diri menyelamatkan si lemah.

Sebagai makhluk yang lebih mulia, seharusnya manusia bisa bersikap lebih dari itu. Namun kenyataannya, banyak orang hidup dengan memuaskan nafsu dagingnya sampai saling menggigit, menelan, dan membinasakan (ayat 15). Oleh sebab itu, Paulus mengingatkan bahwa kita telah dimerdekakan dari perbudakan dosa oleh penebusan Kristus (5:1). Maka, jangan sampai kita berbalik lagi ke dalam kehidupan lama (ayat 16-21). Setiap orang beriman harus menghidupi hakikat hidup barunya, yaitu hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh (ayat 25) agar menghasilkan buah Roh (ayat 22-23). Bagaimana hidup oleh Roh itu diwujudkan dalam relasi antar orang beriman, agar hidup ini menghasilkan buah Roh yang memberkati sesama dan memuliakan Tuhan?

Ingat dan terapkan firman ini sebagai petunjuk praktis hidup sehari-hari: Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Galatia 6:2). Sebagai orang yang sudah dibebaskan Kristus dari dosa, kiranya hidup kita jauh dari sikap egois, penuh dengki, saling menggigit dan menelan —SST

TUHAN MENYELAMATKAN KITA DENGAN KASIH YANG TIDAK EGOIS
MAKA BETAPA TAK TAHU MALUNYA KITA APABILA HIDUP EGOIS

Renungan Harian

28 October 2011

Diamlah & Tenanglah

Di dalam kehidupan manusia pasti ada masalah yang akan dihadapi, namun yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana sikap kita menghadapi masalah itu. Ada berbagai macam sikap orang ketika dia memiliki masalah : ada yang marah-marah, ada yang merajuk dan mengurung diri di kamar, ada yang menceritakan masalahnya pada orang lain, ada yang menutup dirinya pada semua orang dan ada orang langsung berdoa masuk kamar dan menceritakan masalahnya pada Tuhan.

Ada seorang ibu yang tegar dalam menghadapi masalah. Ibu ini adalah seorang yang takut akan Tuhan dan mengasihi Tuhan. Ibu ini juga adalah seorang yang ramah dan disukai oleh semua orang. Dia juga seorang yang rajin berdoa pada Tuhan. Keluarga ibu ini seringkali menghadapi masalah yang berat namun tidak pernah satu kalipun terlihat kesedihan di mukanya atau tercetus pernyataan bahwa Tuhan jahat. Dia selalu mengatakan bahwa Tuhan itu baik. Salah satu teladan yang patut dipelajari dari sang ibu adalah ketika dia menghadapi masalah, dia jarang tergesa-gesa/ kuatir, akan tetapi ketika dia menghadapi masalah pertamakali yang dia lakukan adalah berlutut dan berdoa mohon Tuhan mengasihi dia dan keluarganya.

Dalam perjanjian Lama, ada satu ayat dalam Mazmur 46:11 "Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah..." Diam disini artinya adalah kita berdiam diri ketika kita menghadapi masalah, kita tidak usah gegabah dan langsung berlutut mencari Tuhan. Menangislah di hadapan Tuhan dan Tuhan akan memulihkan dan menyelesaikan masalah kita.
Saat ini apa masalah kita? Pekerjaankah? Kesehatankah? Pelayanankah? Atau apapun juga masalah kita, belajarlah seperti Yesaya " diamlah ", tenanglah dan kenallah Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menyelesaikan masalah kita dan memberikan jalan keluar tepat waktu dan rencana Tuhan.
Kiranya artikel ini memberikan kekuatan baru kepada kita untuk menjalani masalah dengan penuh ketenangan dan hubungan yang dekat dengan Tuhan. Tuhan memberkati setiap kita yang membaca. Amin.

Sony Chow

Kelimpahan Anugerah

Bacaan Setahun : Markus 14-16
Nats : Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:44)

Bacaan : Matius 5:38-48

Pada 4 Agustus 1987, Carlina White yang baru berusia 19 hari diculik seorang wanita yang menyamar sebagai perawat di Harlem Hospital, New York. Saat masih kecil, ia kerap dipukul. Maka, saat remaja, White curiga apakah benar Pettway ialah ibu kandungnya. Terutama saat "sang ibu" menolak memberikan akta kelahirannya, saat ia hendak mengurus SIM. Kini, misteri itu terkuak dan si penculik sedang menjalani pemeriksaan FBI.

Ketika Joy White ibu kandung Carlina dipertemukan dengan anaknya pada 2010, ia berkata: "Saya ingin Pettway menderita seperti yang saya alami selama 23 tahun ini." Namun, sungguhkah Joy White bisa puas dan bahagia ketika si penculik dihukum seberat-beratnya? Ia memang telah menderita selama 23 tahun, tetapi bukankah seharusnya seluruh penderitaan itu sirna dan diganti dengan kebahagiaan serta syukur melimpah karena Tuhan mengembalikan anaknya? Begitulah kebanyakan manusia mengukur keadilan, yakni dengan hukum "mata ganti mata, gigi ganti gigi" (ayat 38). Bahkan dendam bisa menutupi kebaikan dan kasih Allah yang masih berlaku baginya.

Namun, seseorang yang telah mengalami anugerah Tuhan akan dimampukan untuk melihat bagaimana tangan Allah berkarya baginya. Dengan begitu, ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan juga, tetapi mengasihi musuh dan berdoa baginya (ayat 39, 44). Ini tidak gampang. Kekuatan manusiawi saja tak sanggup melakukannya. Itu sebabnya kita perlu kekuatan surgawi, yakni jamahan kasih Allah, supaya kita dapat menunjukkan sikap sebagai anak-anak Bapa (ayat 45): tidak mendendam dan tidak membalas segala hal tidak baik hanya untuk memuaskan hati --SST

DENDAM ITU TAK BERGUNA DAN TAK MENYELESAIKAN MASALAH
HANYA KASIH YANG MELEGAKAN DAN MEMUASKAN JIWA YANG RESAH

Sabda.org

27 October 2011

Bapa Surgawi

securedownload

Terima Kasih untuk semua anugerah-Mu
dalam kehidupanku
Terima kasih untuk kasih-Mu yang tanpa batas bagiku,
keluargaku dan orang orang di sekitarku.
Terima Kasih menjadikan aku sebagai
alasan Engkau memberkati
lingkunganku,
pekerjaanku dan komunitasku.

Tahirkan lidah, mulut dan bibirku
sehingga hanya kata kata berkat dan Firman-Mu saja yang bisa aku katakan
Tahirkan mataku sehingga hanya hal hal yang daripadaMu saja yang aku lihat,
untuk pertumbuhan imanku
Tahirkan telingaku sehingga hanya kebenaranMu yang
aku dengar dan perdengarkan
Berkatilah aku,   pasangan hidupku,
anak-anakku, semua  keluargaku,
rumahku,  pekerjaanku serta
teman2ku.  Jadikanlah kami  perpanjangan hati
dan tanganMU.

Terima Kasih Bapa untuk semuanya
Dalam nama TUHAN  YESUS  aku
berdoa.

AMIN....

Kirimkan ke 10  orang pilihanmu, jangan sampe putus ditanganmu.  
GBU

PS: karena anda  telah berdoa dan mengajak orang2 berdoa

Pintu

Bacaan Setahun : Markus 11-13
Nats : Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput (Yohanes 10:9)

Bacaan : Yohanes 10:1-10

Salah satu sebutan Yesus yang saya dapati sangat menarik adalah "pintu". Yesus sendiri yang membuat sebutan itu, seperti diuraikan bacaan hari ini. Seperti pintu kandang bagi domba-domba, demikianlah Yesus menjadi sumber keselamatan dan kehidupan bagi umat-Nya. Perumpamaan yang sangat indah.

Kita mengetahui bahwa domba-domba aman setelah mereka masuk kandang melalui pintu. Kita juga mengetahui, domba-domba bisa makan setelah mereka keluar kandang melalui pintu. Sebagai "Pintu", Yesus menjadi jalan masuk kita, domba-domba-Nya, menuju keselamatan. Melalui Dia kita aman. Melalui Dia pula, kita "makan" dan hidup.

Akan tetapi, hal lain yang saya dapati menarik adalah fakta bahwa banyak orang tertegun atau ragu tatkala berada di depan "Pintu" itu. Bukannya mencoba lewat untuk mengalami keselamatan dan kehidupan, mereka malah mempersoalkan banyak hal tentang "Pintu" tersebut. Ada yang tidak suka tampilan-Nya: tidakkah Dia terlalu sederhana anak tukang kayu untuk menjadi Penyelamat manusia? Ada yang membandingkannya dengan "pintu-pintu" lain: Bukankah Dia cuma satu dari sekian banyak tokoh agama? Ada juga yang menuntut penjelasan: bagaimana "Pintu" yang satu ini bisa menuntun kepada keselamatan dan kehidupan kekal?

Sebagai umat sang "Pintu", kita wajib menanggapi semua pertanyaan itu sebaik-baiknya. Namun, janganlah kita terpancing untuk terpaku dalam usaha memberi penjelasan logis. Kadang-kadang cara manjur untuk meyakinkan orang yang ragu di depan "Pintu" itu adalah cara Filipus: "Mari dan lihatlah" (Yohanes 1:46-49) --SAT

UMAT KRISTUS HARUS MENJADI SAKSI TEPERCAYA
TENTANG KEHIDUPAN DI BALIK PINTU KESELAMATAN

Sabda.org

26 October 2011

Belajar dari Po, Kung Fu Panda

Po, si Panda jantan, yang sehari-hari bekerja di toko mie ayahnya, memiliki impian untuk menjadi seorang pendekar Kung Fu. Tak disangka, dalam pemilihan Pendekar Naga, Po dinobatkan sebagai Pendekar Naga yang dinanti-nantikan kehadirannya untuk melindungi desa dari balas dendam Tai Lung.

Saat menonton film animasi ini, kita seperti diingatkan tentang beberapa hal:

1. The secret to be special is you have to believe you're special.
Po hampir putus asa karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab Naga, yang hanya berupa lembaran kosong. Wejangan dari ayahnya-lah yang akhirnya membuatnya kembali bersemangat dan memandang positif dirinya sendiri. Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik, berharga kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal yang spesial.

Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa.
Seperti kata Master Oogway, You just need to believe

image001

2. Teruslah kejar impianmu.
Po , panda gemuk yang untuk bergerak saja susah akhirnya bisa menguasai ilmu Kung Fu. Berapa banyak dari kita yang akhirnya menyerah, gagal mencapai impian karena terhalang oleh pikiran negatif diri kita sendiri? Seperti kata Master Oogway, kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, saat ini adalah anugerah, makanya disebut Present ( hadiah ) . Jangan biarkan diri kita dihalangi oleh kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah di masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu.

Makin Berkobar

Bacaan Setahun : Markus 8-10

Nats : Mengenai hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus (Filipi 1:6)

Bacaan : Filipi 1:3-11

Dalam Perjalanan Seorang Musafir, John Bunyan menceritakan perjalanan Si Kristen ke Celestial City, kota surgawi yang kekal. Saat singgah di rumah Juru Penerang, ia melihat api yang menyala-nyala di muka tembok. Di depannya ada orang yang berdiri sambil berkali-kali menyirami api itu dengan air, tetapi api itu malah semakin berkobar. Juru Penerang menjelaskan, api itu anugerah yang bekerja di hati orang percaya; orang yang menyiramkan air berusaha memadamkannya adalah si jahat. Lalu, mengapa api itu semakin berkobar? Juru Penerang memperlihatkan apa yang terjadi di balik tembok itu: Seseorang berdiri memegang bejana minyak dan terus-menerus, secara rahasia, menuangkannya ke dalam api itu. "Kristuslah, " kata Juru Penerang, "yang terus-menerus, dengan minyak anugerah-Nya, memelihara pekerjaan yang telah dimulai-Nya di hati seseorang."

Bunyan berpijak pada penjelasan Rasul Paulus tentang pertumbuhan dan pendewasaan orang percaya. Pekerjaan Allah di dalam diri kita berlangsung seumur hidup dan berakhir saat kita bertemu muka dengan Kristus Yesus. Pekerjaan-Nya bagi kita berlangsung pada saat Kristus disalibkan. Pekerjaan-Nya di dalam diri kita dimulai ketika kita percaya kepada-Nya. Dia mengaruniakan Roh-Nya, yang menyertai kita selama-lamanya (Yohanes 14:16), untuk meneruskan dan menyempurnakan pekerjaan tersebut.

Apabila kadang muncul keraguan, dapatkah kita mengakhiri pertandingan iman ini dengan baik; kiranya nas hari ini meneguhkan keyakinan kita. Kemenangan kita bukan ditentukan oleh usaha kita, melainkan terjamin oleh anugerah-Nya --ARS

APABILA MINYAK ANUGERAHNYA TERUS DICURAHKAN DALAM HATI KITA
SIAPAKAH YANG SANGGUP MEMADAMKAN NYALA APINYA?

Sabda.org

25 October 2011

Kepribadian

Bacaan Setahun : Markus 4-7

Nats : Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman ... hendaklah hatimu melimpah dengan syukur (Kolose 2:7)

Bacaan : Kolose 2:6-15

Melankolik, kolerik, sanguin, dan plegmatik. Teori penggolongan manusia menjadi empat tipe kepribadian ini lahir dari kepercayaan orang Yunani kuno bahwa tubuh manusia tersusun oleh empat macam cairan, yang dalam bahasa Yunani disebut melanchole (cairan empedu hitam), chole (cairan empedu kuning), phlegm (lendir), dan sanguis (bahasa Latin: darah). Menurut mereka, setiap orang memiliki kecenderungan kepribadian tertentu sejak lahir karena perbedaan komposisi cairan-cairan ini.

Kepercayaan ini sendiri sudah dibantah oleh para ilmuwan modern. Namun, sistem penggolongannya masih populer, terutama di kalangan awam. Sekadar sebagai bahan diskusi, tak menjadi masalah. Sayangnya, klasifikasi ini kerap dijadikan alasan orang untuk tidak mau memperbaiki diri. "Saya lahir dengan kepribadian begini, jadi memang saya lemah di hal-hal ini, " begitu kilah sebagian orang. Seakan-akan kepribadian dan karakternya tidak mungkin lagi berubah. Padahal, setiap manusia terus berubah sepanjang hidupnya. Masalahnya, ke arah manakah ia berubah?

Alkitab mengajarkan bahwa kita sebagai umat Allah harus berubah semakin sempurna. Sebab, setelah Kristus menebus kita, kita dipanggil untuk "dibangun di atas Dia" (ayat 7). Untuk semakin berpusat dan semakin sempurna di dalam Dia. Jadi, selama kita belum memiliki "kepribadian seperti Dia", kita harus terus memperbaiki diri. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita tekun mengejar kesempurnaan. Membangun karakter mulia, meninggalkan kecenderungan-kecenderungan yang kurang mulia, menjadi dewasa rohani dan menjadi saluran berkat bagi orang lain --ALS

KITA DIPANGGIL UNTUK TERUS MEMBANGUN DIRI
AGAR OLEH KASIH TUHAN KITA MENJADI SEPERTI KRISTUS

Sabda.org

24 October 2011

Percayai Tuhan Ubah Keburukan Jadi Keindahan

Anda mengalami sekian banyak situasi buruk di dunia yang telah terjatuh ini. Tetapi semakin Anda belajar untuk mempercayai bahwa Tuhan berada dalam kendali tertinggi atas apa yang telah Anda lewatkan, semakin banyak Anda akan melihat keindahan terkuak dari keburukan.

Berikut adalah beberapa hadiah terindah yang Tuhan akan berikan kepada Anda jika Anda mempercayai Dia untuk mentransformasikan situasi-situasi buruk menjadi sesuatu yang indah dalam hidup Anda:

Keindahan dari keberanian. Anda selalu bisa memperhitungkan pada Yesus untuk menolong Anda menaklukkan ketakutan-ketakutan Anda. Ia tidak datang untuk mengeluarkan Anda dari luka kehidupan; Ia datang pada Anda untuk melaluinya. Percayai Yesus untuk menguatkan Anda menangani bahkan situasi terburuk sekalipun. Yakinlah bahwa Ia bersama Anda dan Anda bisa bersandar pada kekuatan-Nya untuk menolong Anda.

Keindahan dari kerapuhan. Anda sebenarnya bisa melayani Tuhan dengan jalan paling berkuasa dengan menjadi terbuka dengan yang lainnya mengenai kerapuhan dalam kehidupan Anda dibandingkan Anda berjuang dengan kesempurnaan. Akui kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan Anda, dan tanyakan Tuhan untuk menggunakan itu semua untuk menolong yang lainnya menyadari Tuhan bekerja dalam diri sebagaimana Anda bertumbuh.

Keindahan dari keterbukaan. Hadapi realitas akan apa yang nyata mengenai diri Anda sendiri - termasuk semua dosa yang Anda digoda yang Anda coba untuk sembunyikan - dan jujurlah dengan yang lainnya mengenai siapakah diri Anda sebenarnya. Ingatlah bahwa Tuhan sudah mengetahui mengenai segalanya tentang diri Anda, dan Ia memilih untuk mencintai Anda begitu dalamnya. Sebagaimana Anda berbagi luka Anda dengan yang lainnya, ikatan-ikatan akan terkembang pada Anda yang akan membuat Anda semakin dekat satu dengan lainnya dan juga Tuhan. Sebagaimana Anda mempercayai bahwa Tuhan mencintai Anda sebagaimana diri Anda, Anda akan mampu untuk mengikutinya dalam petualangan-petualangan luar biasa.

Keindahan dari menunggu. Ketika Anda menunggu Tuhan untuk menjawab doa-doa Anda mengenai sesuatu dan tak melihat satupun kunjung datang untuk mendorong Anda, pilihlah untuk mempercayai bahwa Ia sedang bekerja di balik kejadian-kejadian itu. Jangan menahan kehidupan Anda selagi Anda menunggu. Melainkan, hiduplah setiap hari dengan kepenuhan, dengan keyakinan teguh bahwa Tuhan masih memiliki tujuan-tujuan yang baik untuk Anda penuhi selagi Anda menunggu. Percaya bahwa Tuhan akan menjawab doa-doa Anda dalam cara yang tepat di waktu yang tepat.

Keindahan meratap pada Yesus. Ketika Anda merasa Tuhan meninggalkan Anda dikarenakan Ia belum menjawab doa-doa Anda dengan cara yang Anda harapkan, janganlah putus asa. Pilihlah untuk tetap percaya, tak peduli seperti apa situasi yang Anda hadapi. Percaya bahwa Tuhan dengan tenang melakukan apa yang Ia bisa lakukan, dan bahwa Ia akan menolong Anda, untuk meningkatkan situasi menurut apa yang terbaik. Ingatlah bahwa Tuhan telah mendesain Anda untuk hidup dengan iman dan tidak dengan apa yang bisa dilihat saja. Jujurlah pada Tuhan mengenai luka Anda dan nantikan yang terbaik dari perspektifnya.

Tuhan Yesus Memberkati…

Memandang Salah

Bacaan Setahun : Markus 1-3

Nats : Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa ... (Mazmur 119:37)

Bacaan : Mazmur 119:33-37

Suatu kali Bung Hatta menginginkan sebuah sepatu bermerek yang berkualitas bagus, tetapi cukup mahal. Ia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung. Namun, tabungannya selalu berkurang untuk memenuhi keperluan keluarga atau orang-orang yang meminta bantuan. Akhirnya, hingga meninggal Bung Hatta tidak pernah membeli sepatu itu. Baginya, menjadi berarti bagi keluarga dan kerabat lebih membuatnya bahagia daripada memiliki sepatu mahal.

Secara lebih dalam, pemazmur memberitahukan sumber kebahagiaan yang sesungguhnya. Dalam terjemahan Today’s English Version, Mazmur 119:35 berbunyi: "Buatlah aku taat pada perintah-perintah-Mu, karena di situlah aku menemukan kebahagiaan." Itu sebabnya di ayat berikutnya pemazmur meminta: "Berilah saya kerinduan yang besar untuk menaati hukum-hukum-Mu, lebih besar dari keinginan saya untuk menjadi kaya" (ayat 36). Inilah yang menghindarkannya dari mengejar "hal yang hampa" (ayat 37, TB).

Sebagai sarana hidup, uang adalah benda netral. Sayang, banyak orang kemudian memandang salah. Ia mengira sumber kebahagiaannya ialah uang, agar ia dapat memiliki ini itu. Maka, ada uang, bahagia. Tak ada uang, susah, bingung, dan khawatir. Padahal semestinya tidak demikian. Kebahagiaan terjadi jika kita mengikuti kehendak Kristus dan menaati firman-Nya. Dengan begitu, secara berturutan kita akan menikmati damai, sukacita, dan hidup yang berarti. Dan, tentu saja Dia yang besar dan mengasihi kita akan mencukupkan apa yang kita perlu di hidup ini (Filipi 4:19). Kejarlah sumber bahagia yang sejati, bukan yang hampa --AW

KEMBALIKAN UANG KE POSISI SEMULA
YAKNI SEBAGAI HAMBA, BUKAN TUAN KITA

Sabda.org

19 October 2011

Breakfast at McDonald's

This is a good story and is true, please read it all the way through until the end! (After the story, there are some very interesting facts!):

I am a mother of three (ages 14, 12, 3) and have recently completed my college degree. The last class I had to take was Sociology. The teacher was absolutely inspiring with the qualities that I wish every human being had been graced with. Her last project of the term was called, 'Smile.'

The class was asked to go out and smile at three people and document their reactions. I am a very friendly person and always smile at everyone and say hello anyway. So, I thought this would be a piece of cake, literally.

Soon after we were assigned the project, my husband, youngest son, and I went out to McDonald's one crisp March morning. It was just our way of sharing special playtime with our son. We were standing in line, waiting to be served, when all of a sudden everyone around us began to back away, and then even my husband did.
I did not move an inch.... an overwhelming feeling of panic welled up inside of me as I turned to see why they had moved.

As I turned around I smelled a horrible 'dirty body' smell, and there standing behind me were two poor homeless men. As I looked down at the short gentleman, close to me, he was 'smiling'.

His beautiful sky blue eyes were full of God's Light as he searched for acceptance.. He said, 'Good day' as he counted the few coins he had been clutching. The second man fumbled with his hands as he stood behind his friend. I realized the second man was mentally challenged and the blue-eyed gentleman was his salvation.

I held my tears as I stood there with them. The young lady at the counter asked him what they wanted. He said, 'Coffee is all Miss' because that was all they could afford. (If they wanted to sit in the restaurant and warm up, they had to buy something. He just wanted to be warm). Then I really felt it - the compulsion was so great I almost reached out and embraced the little man with the blue eyes. That is when I noticed all eyes in the restaurant were set on me, judging my every action.

Tugas Dan Panggilan Suami

Bacaan Setahun : Matius 11-14

Nats : "Katakanlah bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik kerena engkau, dan aku dibiarkan hidup karena engkau" (Kejadian 12:13)

Bacaan : Kejadian 12:10-20

Hawa tidak dicipta dari tulang kaki, supaya istri tak menjadi budak suami. Hawa tidak dicipta dari batok kepala, supaya istri tunduk dan tidak menguasai suami (Efesus 5:22-23). Hawa dicipta dari tulang rusuk, agar istri menjadi penolong, bahkan pelindung hati suami. Namun secara seimbang, seorang istri sangat membutuhkan kasih sayang dan perlindungan suami, yang menjaganya agar tidak direbut darinya. Dan, seorang suami akan melindungi dan membela istrinya mati-matian, hanya jika ia menyadari bahwa sang istri adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Ketika bahaya kelaparan mengancam hidup keluarganya, Abram memboyong keluarganya ke Mesir. Namun betapa mengejutkan sikap Abram, suami Sarai. Ketika bahaya mengancam, ia malah berlindung di balik Sarai. Ia meminta Sarai tidak mengaku sebagai istri, tetapi sebagai adik Abram walau memang benar Sarai bukan hanya istri Abram, tetapi juga saudara sepupunya. Ia meminta demikian karena takut. Sarai itu sangat cantik. Apabila Firaun tertarik melihatnya dan hendak mengambilnya sebagai selir, maka Abram bisa dibunuh.

Sehebat, sekaya, dan sepopuler apa pun suami, yang terpenting dan diharapkan istri adalah ia bisa melindungi diri dan seluruh keluarganya. Sebab itu, ia tidak boleh hanya mengandalkan kemampuannya sendiri. Jika demikian, maka orang sehebat Abram yang diberi gelar bapa orang beriman pun bisa melarikan diri dari tugas dan panggilannya sebagai kepala keluarga. Sebab, kekuatan sejatinya bukan pada dirinya sendiri, melainkan dalam persekutuannya yang akrab dengan Tuhan, yakni iman. Anda memilikinya? --SST

SEORANG SUAMI MESTI HEBAT TAK HANYA DI TEMPAT PUBLIK
TETAPI JUSTRU TERUTAMA MENJADI HEBAT BAGI ANAK DAN ISTRI

Sabda.org

18 October 2011

Cinta Perkawinan

Di kota kecil Siroki Brijeg daerah Herzegovina, kurang lebih 20 mil dari Medjugorje, dikisahkan bahwa dalam catatan paroki sekitar 13 ribu umat tidak ada perceraian. Sepanjang ingatan orang, di sana tidak ada keluarga yang berantakan. Apakah orang-orang di sini mendapat siraman rahmat istimewa atau
previlese khusus dari surga untuk mengalami perkawinan yg kokoh kuat seperti ini? Padahal orang-orang ini selama berabad-abad menderita penindasan dan penganiayaan karena iman yang teguh ada Tuhan Yesus Kristus yang wafat dan
bangkit untuk menyelamatkan umat manusia. Dari pengalaman mereka sangat yakin bahwa sumber keselamatan satu-satunya datang dari Salib Kristus.

Orang-orang Kroasi mempunyai suatu tradisi perkawinan yang indah, yang menjadi inspirasi bagi peziarah dari manca negara. Bila pasangan muda-mudi akan menikah, orang-orang tidak akan menyatakan bahwa mereka telah menemukan pasangan ideal yang mereka impikan, melainkan imam akan mengatakan kepada mereka, "Kamu telah menemukan salibmu! Istri adalah salib untuk suami dan suami adalah salib untuk istri. Dan sebuah salib harus dicintai dan untuk dipanggul. Sebuah salib tidak untuk dibuang melainkan untuk disandang (panggul) dan disayangi."

Selanjutnya pada waktu pemberkatan pernikahan, pengantin wanita meletakkan tangan kanannya di atas salib dan mempelai pria menumpangkan tangannya di atasnya, dengan demikian kedua tangan mereka terikat bersama-sama satu di atas yang lain di atas salib Kristus. Kemudian imam menumpangkan stola ke atas tangan-tangan mereka. Pasangan itu lalu mengucapkan janji setianya, berdasarkan rumusan Liturgis Gereja. Setelah janji setia diucapkan keduanya tidak saling berciuman melainkan mencium salib! Mereka sadar bahwa yang mereka cium itu adalah sumber kasih! Pasangan itu dan semua orang yang menyaksikan peristiwa itu tahu bahwa bila sang suami melepaskan istrinya, berarti ia melepaskan salib demikian juga jika sang istri melepaskan suaminya maka ia pun melepaskan salib! Dengan begitu mereka kehilangan segala-galanya karena mereka melepaskan Kristus. Buah dari cinta kasih mereka, adalah buah dari salib mereka yaitu anak. Berbicara mengenai kesatuan keluarga berarti berbicara mengenai kesatuan suami-istri- anak. Perekatnya adalah salib.

Hampir setiap hari di seluruh dunia, media massa tidak pernah sepi menyajikan berita menyedihkan mengenai perceraian, kekerasan dalam keluarga, aborsi, penjualan anak, dan lain-lain. Dalam situasi seperti ini yang paling menderita akibatnya adalah anak-anak, makhluk yang tidak berdaya. Kisah hidup keluarga seperti itu di kota kecil Siroki Brijeg, Herzegovina di atas hendaknya membawa kesejukan dan inspirasi di tengah gemuruh badai berita mengenai perpecahan dan kehancuran ikatan keluarga / rumah tangga.

Belenggu Bukan Masalah

Bacaan Setahun : Matius 8-10

Nats : Dari Paulus, seorang tahanan karena Kristus Yesus .... Kepada Filemon yang terkasih, teman sekerja kami (Filemon 1:1)

Bacaan : Filemon

Lie Tjiu Kie berusia 94 tahun. Meski sudah berusia lanjut dan harus duduk di kursi roda, ia terus melayani Tuhan dan menjadi berkat. Setiap hari ia berdoa bagi keluarga dan saudara-saudaranya yang belum percaya. Bahkan ketika ia sakit dan banyak dikunjungi, ia memakai kesempatan itu untuk mengajak saudara-saudaranya yang belum percaya untuk beriman kepada Kristus. Salah satunya, beberapa tahun lalu beliau meminta orangtua saya datang beribadah ke gereja. Hasilnya, orangtua saya sungguh-sungguh mau datang ke gereja untuk kali pertama, tepat ketika saya bernyanyi di paduan suara pada perayaan Natal.

Keadaan lemah dan terpenjara tak membuat Paulus berhenti mengabarkan Injil dan melayani Tuhan. Justru dalam keadaan demikian ia bisa banyak menulis, salah satunya menulis kitab Filemon. Dan melakukan pelayanan yang berarti, khususnya bagi Onesimus. Ya, di kitab ini kita membaca tentang Onesimus budak Filemon yang melarikan diri. Ketika Onesimus bertemu Paulus kemungkinan besar di penjara ia mendengar Injil dari Paulus dan menjadi orang percaya. Dari situ, Paulus menulis surat kepada Filemon agar menerima kembali Onesimus, bukan sebagai budak, melainkan sebagai saudara seiman.

Saat ini mungkin kita merasa terbelenggu dengan keadaan: kelemahan tubuh; usia senja yang membuat kita tak lagi leluasa bergerak; atau kesibukan pekerjaan. Apakah keterbatasan-keterbatasan ini menghalangi kita untuk melayani Tuhan? Atau justru memacu kita untuk bangkit dan kreatif mencari cara, sehingga di tengah kelemahan pun kita tetap dapat bersaksi tentang Tuhan? --VT

SELAGI HAYAT MASIH DIKANDUNG BADAN
MASIH ADA KESEMPATAN MELAYANI TUHAN

Sabda.org

17 October 2011

Materialisme

Bacaan Setahun : Matius 4-7

Nats : Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi sebab Lot itu diam di Sodom (Kejadian 14:12)

Bacaan : Kejadian 13:1-13; 14:11-12

Xiao Zheng ingin sekali memiliki iPad2, komputer tablet canggih, tetapi tidak punya uang. Suatu ketika, remaja China ini membaca iklan online yang menawarkan uang 29 juta rupiah bagi orang yang mau mendonorkan ginjalnya. Tanpa pikir panjang, Xiao Zheng menjual ginjalnya. Setelah dioperasi di rumah sakit, uang yang diperoleh ia habiskan untuk membeli iPad2, notebook, dan iPhone. Demi memiliki gadget dengan usia pakai hanya 5 tahun, ia korbankan organ tubuh yang diperlukan untuk hidup puluhan tahun!

Inilah jebakan materialisme. Ketika materi dianggap sebagai hal yang terpenting, orang diperhamba olehnya. Apa pun dan siapa pun bisa dikorbankan demi mendapatkannya. Lot contohnya. Ia tahu Sodom bukan tempat tinggal yang ideal. Penduduknya "sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan" (Kejadian 13:12). Namun, lokasinya yang berada di lembah subur menjanjikan kemakmuran dan kesuksesan. Lot pun terpikat. Walau sudah kaya, ia ingin menjadi lebih kaya. Maka, ia memilih tinggal di Sodom. Istri dan anaknya dikorbankan untuk tinggal di lingkungan yang buruk. Hasilnya? Kehancuran. Suatu hari, musuh menyerang. Dalam sekejap harta bendanya lenyap. Keluarganya pun ditawan musuh: menghadapi penyiksaan, penjara, dan kematian! Untung Abram datang menolong. Abram walau kaya raya, hidup dalam ketaatan pada Tuhan dan kasih kepada sesama.

Tamak akan harta bisa mendorong kita melakukan apa yang salah. Atau, pergi ke tempat yang tidak seharusnya. Materialisme menawan dan memperhamba. Jangan biarkan ia bersarang dalam hati dan pikiran Anda! --JTI

MATERIALISME MEMBERI ANDA PEMAHAMAN KELIRU
BAHWA ANDA TAK BISA BAHAGIA SEBELUM PUNYA INI dan ITU

Sabda.org

15 October 2011

Judi?

Bacaan Setahun : Maleakhi 1-4

Nats : Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tesalonika 3:10)

Bacaan : 2 Tesalonika 3:6-12

Apa yang terkenal dari Las Vegas sebuah kota di Amerika? Banyak orang akan menjawab, "Tempat perjudiannya". Itu benar. Judi model apa pun dapat ditemukan di sana. Tak heran, kota ini dikunjungi para penjudi dari seluruh dunia. Walaupun demikian, judi tidak hanya dilakukan orang di kota sekelas Las Vegas saja. Di kota kecil atau perkampungan pun, judi banyak dilakukan. Jahatnya, judi tidak hanya dilakukan oleh orang kaya, melainkan juga oleh orang-orang miskin. Bahkan, judi tidak hanya dilakukan orang dewasa, tetapi ada juga anak-anak sekolah yang ikut berjudi.

Judi adalah kebiasaan yang sangat buruk, sebab merusak mentalitas seseorang. Etos kerja orang dihancurkan, sebab judi dianggap jalan pintas untuk menjadi kaya, hidup enak, tanpa kerja keras. Namun benarkah dengan berjudi, orang bisa bahagia? Ternyata tidak. Sebaliknya, kita akan lebih banyak menjumpai orang yang bangkrut karena judi. Dan, jika salah satu anggota keluarga punya kebiasaan berjudi, bisa dipastikan keluarga itu akan mengalami masalah serius.

Alkitab mengecam perjudian. Bahkan dengan keras Paulus berkata, jika seseorang tidak mau bekerja, mau cari enak, janganlah ia makan. Judi adalah bentuk kemalasan, dan Alkitab jelas mencela kemalasan dalam bentuk apa pun. Selain itu, efek judi sangat tidak baik. Toh, kalau seseorang menang dalam jumlah banyak, ia membuat orang lain menderita. Sebab yang kalah bukan si penjudi saja, tetapi juga seluruh keluarganya. Maka, jauhilah judi dalam bentuk sekecil apa pun, agar ia tak menyeret kita ke perangkap yang lebih dalam --PK

BANGKITKAN DIRI KITA UNTUK MENJADI ORANG YANG RAJIN
SEBAB KEMALASAN TAKKAN MEMBAWA KITA KE MANA-MANA

Sabda.org

14 October 2011

Menyiapkan Pengganti

Bacaan Setahun : Zakharia 13-14

Nats : ... Yesus telah tahu bahwa saat-Nya sudah tiba untuk pergi dari dunia ini kepada Bapa (Yohanes 13:1)

Bacaan : Yohanes 13:1-5

John Stott, seorang hamba Tuhan danpenulis kristiani ternama, meninggal dunia pada 27 Juli 2011, dalam usia 90 tahun. Sebagai penginjil yang sangat bersemangat, John Stott telah mengajar banyak orang untuk sungguh-sungguh mengasihi sang Juru Selamat, juga mendukung Gereja Tuhan di seluruh dunia. Yang menarik, pemimpin John Stott Ministries sekarang, Benjamin Homan, mengatakan bahwa institusi mereka telah siap melanjutkan pelayanan apabila John Stott meninggal, sejak 15 tahun sebelumnya. "Saya pikir ia hendak memberi teladan bagi para pemimpin lembaga pelayanan, tentang meneruskan kepemimpinan kepada pemimpin-pemimpin baru, " demikian papar Homan.

Rupanya John Stott mengikuti jejak Yesus, junjungan hidupnya. Yesus tahu, tidak untuk seterusnya Dia akan mendampingi murid-murid. Suatu saat Dia mesti meninggalkan mereka. Itu sebabnya, Yesus banyak menyiapkan mereka untuk melanjutkan pelayanan. Tanpa kenal lelah, Yesus banyak sekali mengajar dan menjelaskan firman secara khusus kepada murid-murid-Nya. Dia juga tak henti memberi teladan lewat banyak peristiwa dan pengalaman. Bahkan pada saat-saat terakhir Dia hendak kembali kepada Bapa, Yesus terus memberi pesan: Dia membasuh kaki murid-murid-Nya, agar kelak mereka menjadi pemimpin yang rendah hati serta sedia melayani.

Ini mengingatkan kita semua: setiap pelayanan yang kita pegang dan tekuni saat ini, perlu diteruskan. Karena tak selamanya kita dapat mengampunya, mari segera cari penerus yang akan melanjutkan perjuangan. Titipkan pelayanan yang telah ditekuni dengan cinta, agar diteruskan untuk memuliakan-Nya --AW

APABILA SEBUAH PELAYANAN TELAH DIPERCAYAKAN
TUHAN RINDU PELAYANAN ITU DAPAT SELALU DITERUSKAN

Sabda.org

13 October 2011

Monyet Di Pucuk Pohon Kelapa

Sahabat, ada cerita seekor monyet sedang nangkring di pucuk pohon kelapa. Dia nggak sadar lagi diintip sama tiga angin gede. Angin Topan, Tornado sama Bahorok. Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.

Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik. Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik. Angin Bahorok senyum ngeledek, 15 detik juga jatuh tuh monyet.
Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju.

Angin TOPAN duluan, dia tiup sekenceng-kencengnya, Wuuusss… Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatmya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah.

Giliran Angin TORNADO. Wuuusss… Wuuusss… Dia tiup sekenceng-kencengnya. Ngga jatuh juga tuh monyet. Angin Tornado nyerah.

Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kenceng lagi dia tiup. Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh-jatuh.

Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan. Tangguh. Daya tahannya luar biasa. Ngga lama, datang angin Sepoi-Sepoi. Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Diketawain sama tiga angin itu. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil.

Nggak banyak omong, Angin SEPOI-SEPOI langsung niup ubun-ubun si monyet.
Psssss… Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia. Lepas pegangannya. Jatuh deh tuh si monyet.

Sahabat, dari Kisah diatas hikmah yang bisa kita ambil adalah: Boleh jadi ketika kita Diuji dengan KESUSAHAN… Dicoba dengan Penderitaan… Didera Malapetaka.. Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya.. Tapi jika kita diuji dengan KENIKMATAN.. KESENANGAN.. KELIMPAHAN.. jangan sampai kita terlena... Kita mesti tetap hati-hati...

Menjaga Objektivitas

Bacaan Setahun : Zakharia 10-12

Nats : Yonatan berkata kepada Daud: "Apa pun kehendak hatimu, aku akan melakukannya bagimu" (1 Samuel 20:4)

Bacaan : 1 Samuel 20:1-9

Ketika menjalani perkuliahan di jurusan komunikasi, ada sebuah kata yang selalu diulang oleh dosen saya di kelas: objektivitas. Objektivitas adalah salah satu prinsip terpenting untuk para calon awak media. Ketika berbincang dengan rekan dari jurusan sains, ternyata prinsip yang sama juga bergema di kelasnya. Menurut sang profesor di sana, objektivitas adalah kunci sukses seorang peneliti. Tampaknya, prinsip objektivitas ini telah menjadi "kaidah kencana" di bidang apa pun.

Suatu kali, Daud mengeluhkan secara terus terang kepada Yonatan, tentang sikap ayahnya Saul. Seiring berjalannya waktu, makin jelas bahwa Saul melihat Daud sebagai ancaman bagi takhtanya. Dari sini kita belajar dari sikap objektif Yonatan. Ia tidak langsung menunjukkan sikap jengkel kepada Daud karena menuduh ayahnya. Sebaliknya, ia juga tidak langsung terprovokasi oleh Daud untuk ikut menjatuhkan Saul.

Dengan prinsip objektivitas dan pengetahuan bahwa Daud berada di pihak yang benar, Yonatan mengajak sahabatnya yang kalut itu untuk mencari jalan terbaik. Akhirnya kita tahu bahwa Yonatan berhasil menyelamatkan nyawa Daud, yang kemudian menjadi raja besar di Israel meski untuk itu ia harus mengorbankan kesempatannya sendiri untuk naik takhta.

Sikap objektif dapat membawa perubahan yang nyata dalam kehidupan ini. Seseorang yang bersikap objektif akan berusaha menempatkan diri dalam posisi yang netral tak berpihak. Dari situ, seseorang dapat memberikan sumbangsih dan solusi positif bagi pergumulan orang-orang di sekitarnya. Tuhan pun disenangkan melaluinya --OLV

KETIKA ANDA MEMUTUSKAN UNTUK BERSIKAP OBJEKTIF
ANDA MEMUTUSKAN UNTUK BERJALAN DALAM KEBENARAN

Sabda.org

12 October 2011

PRT Sayang, PRT Malang

Bacaan Setahun : Zakharia 7-9

Nats : Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di surga (Kolose 4:1)

Bacaan : Kolose 4:1-6

Beberapa waktu lalu, dibentangkan sebuah serbet raksasa di Bundaran HI, Jakarta. Serbet raksasa itu merupakan bentuk aksi keprihatinan terhadap ketidakadilan yang sering dialami oleh para pekerja rumah tangga (PRT), baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Mereka banyak mengalami perlakuan sewenang-wenang, bahkan kekerasan yang berujung pada kematian. Serbet besar itu hendak mengingatkan warga Jakarta bahwa banyak aktivitas bisa berjalan baik karena jasa para pekerja rumah tangga. Oleh karena itu, pengakuan, penghormatan, dan pemenuhan hak-hak pekerja rumah tangga, harus diperhatikan.

Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Rasul Paulus juga mengingatkan setiap tuan yang mempunyai hamba agar selalu berlaku adil dan jujur (ayat 1). Berlaku adil dapat berarti memberikan kepada para pekerja apa yang menjadi hak mereka. Tidak memberi beban kerja lebih dari apa yang selayaknya dikerjakan. Jujur dapat diungkapkan dengan tidak mengeksploitasi atau memanfaatkan posisi para pekerja yang lebih lemah untuk kepentingan dan keuntungan pribadi atau perusahaan.

Kita harus selalu ingat bahwa hikmat dan kasih perlu dinyatakan di semua tempat, termasuk di rumah tangga dan lingkungan kerja. Jangan sampai kita dikenal sebagai dermawan di gereja, tetapi memperlakukan pekerja rumah tangga dengan kasar atau memberlakukan kebijakan perusahaan yang menyengsarakan para pekerja kita. Ingatlah, kita pun adalah hamba yang suatu saat kelak harus memberikan pertanggungjawaban kepada Tuhan. Di mata Tuhan, kita dan para pekerja kita setara berharganya --SL

SALING MENGHORMATI, MENGHARGAI, ANTARA TUAN DAN HAMBA
ADALAH BAGIAN DARI IBADAH

Sabda.org

11 October 2011

Impian Walt Disney

Walter Elias Disney dilahirkan di Chicago pada tanggal 5 Desember 1901. Ibunya Flora Call, adalah seorang wanita Jerman. Sedangkan ayahnya Elias Disney, adalah seorang keturunan Irlandia. Kehidupan keluarga Disney berpindah dari satu kota ke kota lain, karena Elias Disney, yang sebenarnya terpesona oleh dunia bisnis, tidak mempunyai kesesuaian diri dengan dunia itu dan seringkali mengalami kegagalan finansial.

Pada tahun 1906, keluarga Disney pindah ke daerah Marceline, Missouri, di tanah pertanian yang baru dibelinya. Walt Disney kecil menyukai kehidupan di daerah barunya tersebut. Selain itu, kehidupan di desa tersebut juga menghidupkan rasa sayangnya kepada binatang-binatang yang hidup di sekitarnya, seperti bebek, tikus, dan anjing. Kelak, ternyata hewan-hewan itulah yang membuat namanya menjulang. Dari sini, Walt Disney menarik pelajaran berharga yang dia terapkan sepanjang hidupnya, yaitu bahwa KEBAHAGIAAN AKAN TIMBUL DALAM DIRI KITA APABILA KITA MELAKUKAN SESUATU YANG BENAR-BENAR KITA SUKAI.

Kehidupan Walt Disney yang bahagia itu teryata hanya bisa dinikmati sesaat saja. Kegagalan panen yang berturut-turut membuat Elias Disney, ayahnya harus menjual ladang pertaniannya dan membeli sebuah perusahaan koran setempat yang kecil. Untuk menghemat biaya pegawai, Elias Disney mempekerjakan Walt Disney dan kakaknya Ray tanpa biaya. Setiap pagi pukul 3.30 dinihari Walt dan Ray sudah harus bangun untuk menunggu kedatangan truk pengangkut. Sesudah itu mereka harus menjalankan tugas harian mengantarkan koran kepada para pelanggan di kota. Kadang-kadang orang menjumpai Walt berjalan dengan kelelahan dan gemetar kedinginan dengan bawaan hampir seberat dua kali berat tubuhnya. Adakalanya cuaca begitu dingin, sehingga Walt harus berjongkok di sudut jalan sekedar untuk menghangatkan diri.

Seringkali Walt berpikir, apakah untuk hidup di dunia ini orang harus bekerja mati-matian sebagai budak dengan upah yang hanya bisa sekedar untuk bertahan hidup? Tidak adakah jalan lain untuk hidup? Bila Walt mengantarkan koran untuk para pelanggannya yang kebanyakan adalah orang kaya di kota, maka Walt juga mulai berpikir mengapa mereka bisa hidup mewah, sementara dirinya hidup serba kekurangan. Hal ini akhirnya melahirkan pelajaran kedua di dalam hidupnya, yaitu bahwa KEHIDUPAN ITU ADALAH SUATU PILIHAN. APAKAH KITA MAU HIDUP KAYA ATAU MISKIN, TERGANTUNG ATAS KEPUTUSAN DAN TINDAKAN KITA SEPENUHNYA SAAT INI.

Apakah Yang Utama?

Bacaan Setahun : Zakharia 4-6

Nats : Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya ... (Matius 6:11)

Bacaan : Filipi 2:1-11

At.mosphere Restaurant adalah restoran tertinggi di dunia karena berada di lantai 122 Burj Khalifa, Dubai (gedung tertinggi dunia dengan ketinggian 800 meter). Menu yang ditawarkan adalah makanan Eropa. Dan, para tamu disarankan memesan sebelumnya, agar pihak restoran bisa menghadirkan pengalaman khusus, yang membuat orang datang kembali. Ya, bagi orang-orang kaya baik di negara kaya, berkembang, maupun miskin makan bukan lagi masalah mengisi perut dengan makanan sehat, tetapi mencari kepuasan dengan makanan bergengsi. Harga tidak menjadi soal.

Saat ini, sebagian besar penduduk dunia masih bergumul dengan "makan apa hari ini". Sedangkan kelas menengah bergumul "makan di mana hari ini". Namun, orang kaya yang hanya 20%, tetapi menguasai 80% kekayaan dunia kerap bergumul "makan siapa hari ini". Kenyataan ini menunjukkan, betapa pentingnya setiap manusia mengalami kebesaran kasih Allah di dalam Kristus (Yohanes 3:16). Agar mereka mengalami hidup yang baru. Yakni hidup yang tidak berpusatkan kepada diri sendiri, tetapi berpusat kepada Allah dan memikirkan kepentingan orang lain juga (Filipi 2:4). Seperti Kristus, yang rela mengesampingkan kepentingan-Nya sendiri, bahkan mengambil rupa manusia dan menjadi hamba. Agar oleh pengurbanan-Nya, Dia dapat memberi hidup baru bagi setiap orang yang mau menerima-Nya dan hidup bagi Allah (1:27-29; 2:5-11).

Mari kita periksa nafsu makan dan semua nafsu hidup kita hari ini; apakah itu untuk memuaskan kedagingan kita atau untuk memuliakan Bapa di surga --SST

APABILA TUHAN DAN SESAMA MENJADI YANG TERUTAMA
TUHAN AKAN MENJADIKAN HIDUP KITA BERGUNA DAN BERMAKNA

Sabda.org

Yesus Yang Terutama

Matius 6:33 : "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."

Ini adalah sebuah kisah yang nyata dimana ada seorang seorang pria bernama Kurt Warner. Nama ini mungkin terasa asing bagi Anda, namun coba tanyakan kepada masyarakat Amerika Serikat. Tidak ada satu pun yang tidak mengetahui siapakah dirinya.

rightKurt merupakan olahragawan AS. Ia adalah pemain Football yang aktif sampai saat ini. Berbagai penghargaan telah ia raih dari cabang olahraga favorit masyarakat negara berjulukan "Pam Sam" tersebut. Di tahun 2008 ketika ia membawa timnya, Arizona Cardinals sebagai juara liga Football AS (NFL), di tahun yang sama itu pula Kurt menerima penghargaan Walter Payton NFL Man of the Year Award.

Dalam sebuah wawancaranya dengan sebuah media Kristiani Amerika Serikat, pria berbadan tegap ini membuka rahasia mengenai kesuksesan yang ia raih. Ia katakan bahwa apa yang ia dapatkan selama ini adalah karena ia menempatkan Tuhan sebagai tempat paling pertama di dalam hidupnya. Setiap hari, ia bersama dengan istri dan anak-anaknya mengambil saat teduh dan mempraktikkan apa yang telah mereka baca pada hari itu. Hal itu terus dilakukan oleh Kurt dan keluarga sampai hari ini.

Kita pun bisa mengalami apa yang diterima Kurt dan keluarga. Namun, kuncinya adalah kita harus menjadikan Tuhan sebagai yang paling utama dalam kehidupan kita. Kesuksesan dan kebahagiaan adalah bonus ketika kita setia dan jujur membangun hubungan dengan-Nya.

Ketika Kristus ditempatkan ke posisi semestinya dalam hidup kita maka segala anugerah dan berkat yang Dia curahkan menjadi milik kita.

Jawaban.com

10 October 2011

Terima Kasih Tuhan Yesus

Tuhan Yesus,
Terima kasih jika sampai hari ini

ENGKAU masih memberikan kami pekerjaan.
ENGKAU mengerti akan kebutuhan hidup kami,
dan mencukupkannya melalui berkat - berkat

yang KAU curahkan kepada kami melalui berbagai caraMU,
baik dari gaji yang kami terima

atas pekerjaan yang kami lakukan,

ataupun melalui persembahan kasih dari sesama.
Ajarlah kami Tuhan 'tuk bersyukur

atas semua yang telah KAU berikan ini.
Ingatkan kami juga Tuhan,
untuk dapat menempatkan prioritas hidup kami secara benar,

dan membagi waktu secara seimbang
antara keluarga, pekerjaan, pelayanan,
rekreasi, sosialisasi dengan sesama,

dan berbagai aktifitas lainnya.
Jangan sampai kami menempatkan pekerjaan kami
di atas segalanya, mengejar kekayaan secara berlebihan
dengan mengorbankan hubungan pribadi kami dengan ENGKAU,
dengan keluarga dan sesama.

Kami tidak ingin seperti perumpamaan

yang KAU ajarkan kepada murid - muridMU,

menjadi orang kaya yang mati  sia - sia menumpuk harta.
Bimbinglah kami 'tuk belajar menerapkan
doa Bapa Kami yang KAU ajarkan yaitu
"berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya",

sehingga kami puas dan bersyukur
atas rejeki yang telah KAU berikan,

tanpa menjadi iri terhadap orang lain

yang secara materi lebih baik dari kami,

ataupun tidak menjadi kuatir akan hari esok,

karena ENGKAU akan senantiasa memelihara hidup kami

sebagaimana burung - burung di udara

dan bunga di padang KAU pelihara.
Arahkanlah hidup kami

'tuk terfokus kepada mencari kekayaan rohani,

semakin dekat kepadaMU,
lebih mengasihiMU dan sesama kami.
Terima kasih Tuhan Yesus,
kepadaMUlah kami naikkan doa kami ini.

Amin

Sebutir Nasi

Pasti bermanfaat

Buat orang2 yang suka membuang nasi diwaktu makan………

Dear all,
Teman2 semua berikut ini adalah himbauan yang saya dapat dari seorang kawan kemarin, yang di buat oleh INLA Indonesia (The International Nature Loving Association - Indonesia)

KRISIS PANGAN KERAP MELANDA BERBAGAI NEGARA DIBELAHAN DUNIA. Mari coba kita hitung berapa banyak nasi yang terbuang dalam satu hari :

Jumlah penduduk Indonesia +/- 250.000.000 orang. Kalau satu hari 3x makan dan sekali makan setiap orang membuang 1 butir nasi saja, maka setiap hari ada 3 butir nasi yang dibuang setiap orang.

Maka 3 butir x 250.000.000 = 750.000.000 butir nasi terbuang setiap hari. (Benarkah kita hanya membuang 1 butir nasi saja setiap kali makan?) Ternyata setelah dihitung, dalam 1 kg beras terdapat +/- 50.000 butir.

Maka :
750.000 : 50.000 = 15.000 kg atau sama dengan
15 ton beras dibuang setiap hari.

Kalau 1 kg beras cukup untuk 10 orang makan, maka 15.000 X 10 orang = cukup untuk 150.000 orang makan. Artinya beras yang terbuang setiap hari di Indonesia sebenarnya bisa untuk memberi makan 150.000 orang.

Kalau seluruh penduduk dunia yang berjumlah 6,5 miliar, dengan setiap orang membuang 3 butir nasi saja per hari, maka 1 hari nasi yang terbuang adalah 390.000 kg (390 ton) atau cukup untuk memberi makan 3.900.000 orang.

FANTASTIK bukan??!!

Ironisnya menurut data FAO PBB, setiap hari ada 40.000 orang mati kelaparan di dunia ini. Oleh karena itu, ingatlah!!! Sebutir nasi tidak mudah dihasilkan. Sebutir nasi sejuta keringat!! Tolong jangan sia-siakan sebutir nasi! 
Mari sama sama kita selamatkan sumber daya alam kita!!

Dengan menyayangi sumber daya alam. kita baru bisa mencegah dan mengurangi krisis pangan bahkan bencana yang sedang melanda dunia ini.

Niscaya hidup kita akan dipenuhi berkah dan rejeki.

Semoga jasa kebajikan yang didapat dari membaca dan melanjutkan email ini dapat membuat semua orang sadar dan membuka semua jalan yang menuju kesejahteraan bagi semua makhluk sehingga tidak ada lagi kelaparan yang menimpa siapapun.

Semoga semua mahluk bebas dari penderitaan dan berbahagia selalu. Amienn…

Merayakan Perbedaan

Bacaan Setahun : Zakharia 1-3

Nats : Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang (Kisah Para Rasul 10:34)

Bacaan : Kisah Para Rasul 10:34-43

Perbedaan antara Petrus dan Kornelius bak minyak dengan air. Yang satu orang Yahudi, yang satu orang Romawi (secara sosial politis, posisi mereka berseberangan bahkan bermusuhan). Yang satu orang awam, yang satu centurion (tentara). Dari sisi perhitungan kekuatan: satu lemah, satu kuat karena bersenjata.

Namun, ada satu hal yang menyatukan mereka: keduanya mendapat inspirasi dari Roh Kudus. Petrus mendapat penglihatan "aneh" untuk ukuran ke-Yahudiannya. Sementara Kornelius mendapat pesan untuk mengundang Petrus ke rumahnya, kira-kira tiga jam berselang setelah Petrus mendapatkan visinya yang pertama (ayat 9, 30). Mereka sangat berbeda, tetapi ada "sesuatu" yang lebih besar dari mereka, yang mempertemukan mereka sehingga keduanya saling meneguhkan. Kisah Kornelius membuat Petrus mengerti maksud dari visi "aneh" yang ia lihat. Penjelasan teologis Petrus membuat Kornelius memahami karya Allah dalam hidup, kematian dan, kebangkitan Yesus.

Roh Kudus bekerja melalui perbedaan untuk memperkaya wawasan rohani anak-anak Tuhan. Itu sebabnya Petrus berkata, "Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya" (34-35). Barangkali kita tengah bekerja sama dengan orang atau pihak lain yang sama sekali berbeda jenis dan gaya pelayanan. Masing-masing unik. Tak perlu risau. Melalui karya Roh Kudus, Tuhan dapat mempertemukan pengalaman setiap orang yang berlainan untuk saling meneguhkan, juga saling memperkaya pengalaman rohani --DKL

ROH KUDUS SELALU MEMBANGUN JEMBATAN KASIH
DI TENGAH BANYAKNYA PERBEDAAN PRIBADI

Sabda.org

08 October 2011

Aku Telah Belajar

Aku telah belajar…
Bahwa sekolah yang terbaik di dunia ini, adalah di kaki seorang yang sudah tua.

Aku telah belajar…
Bahwa bila kamu jatuh cinta, itu akan kelihatan.

Aku telah belajar…
Mempunyai seorang anak kecil tertidur di pelukanmu, adalah perasaan yang amat damai dalam dunia ini.

Aku telah belajar…
Bahwa kamu janganlah pernah berkata “tidak” terhadap pemberian seorang anak.

Aku telah belajar…
Bahwa aku bisa selalu berdoa untuk orang lain, bila aku sudah tak mempunyai kekuatan lagi untuk menolongnya dengan satu atau lain cara.

Aku telah belajar…
Bahwa betapa seriusnya hidup ini bagi seseorang, setiap insan membutuhkan seorang teman yang baik.

Aku telah belajar…
Bahwa kadang-kadang yang diperlukan seseorang hanya sebuah tangan untuk dipegangi dan hati yang mengerti.

Aku telah belajar…
Bahwa kita patut bersyukur kepada Tuhan, bahwa Ia tidak memberi segala sesuatu yang kita minta.

Aku telah belajar…
Bahwa uang tidak dapat membeli harkat.

Hanya Satu Prinsip

Bacaan Setahun : Zefanya 1-3

Nats : Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat (Ibrani 11:1)

Bacaan : Habakuk 2:1-5

Rabbi Simlai pada abad ketiga mencatat bahwa Musa menyampaikan 365 larangan dan 248 perintah. Daud dalam Mazmur 15 menyingkatnya menjadi sebelas. Yesaya 33:14-15 meringkasnya menjadi enam. Mikha 6:8 menjadikannya tiga, dan Habakuk menyimpulkannya menjadi hanya satu prinsip, yaitu "orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya" (2:4).

Firman itu datang tatkala Habakuk mencari Tuhan, menanti jawaban atas pengaduannya (pasal 1). Tuhan menjawabnya dengan penglihatan, suatu janji, tentang pembebasan dari penindasan bangsa Kasdim dan kedatangan Mesias (pasal 2-3). Karena penglihatan itu masih menunggu penggenapannya, ada orang yang mengabaikannya. Namun, orang benar akan menantikannya dengan hidup oleh percayanya atau imannya.

Apakah iman itu? Mengapa iman dianggap sebagai esensi ketaatan kita kepada Tuhan? Habakuk 2:4 dikutip tiga kali dalam Perjanjian Baru (Roma 1:17; Galatia 3:11; Ibrani 10:38) untuk menegaskan doktrin pembenaran oleh iman. Iman, menurut penulis kitab Ibrani, mengandung dua sisi. Pertama, iman berjalan seiring dengan pengharapan. Pangkalannya sama, yaitu keyakinan yang kuat bahwa Allah akan melaksanakan segala sesuatu yang Dia janjikan dalam Kristus. Kedua, iman memperlihatkan pada mata rohani kita perkara yang tak dapat dilihat oleh mata jasmani. Iman menyambut dengan segenap hati bahwa semua firman Tuhan itu kudus, adil, dan baik. Selanjutnya, iman mendorong kita untuk menerapkan firman tersebut dengan segenap tenaga. Apakah kita menantikan penggenapan janji firman Tuhan dan hidup oleh iman? --ARS

SEBAGAIMANA PANCA INDRA BAGI TUBUH
DEMIKIANLAH IMAN BAGI JIWA

Sabda.org

07 October 2011

Kisah Dua Kuda

Ada sebuah padang, dengan dua ekor kuda di dalamnya. Dari kejauhan, dua kuda itu seperti kuda pada lazimnya. Tetapi jika Anda menghentikan mobil dan berjalan mendekat, Anda akan menemukan satu hal yang mengagumkan. Saat memperhatikan mata salah satu kuda, akan terlihat bahwa kuda itu buta.

Pemiliknya telah memutuskan untuk tidak membuangnya, tetapi justru membuatkan sebuah rumah yang nyaman untuknya.

Hal berikut ini juga luar biasa

Jika Anda berdiri di dekatnya dan memperhatikan, akan terdengar bunyi suara lonceng. Saat mencari sumber suara itu, Anda akan melihat bahwa itu berasal dari kuda yang lebih kecil di padang rumput itu.

Di lehernya dikalungkan sebuah lonceng kecil. Suaranya akan memberi tanda kepada kuda yang buta arah kuda kecil berada, sehingga bisa mengikutinya. Ketika Anda berdiri dan memperhatikan kedua kuda itu, Anda akan melihat bahwa kuda yang memiliki lonceng selalu menoleh memperhatikan kuda yang buta, dan kuda yang buta akan mendengar suara lonceng dan kemudian berjalan perlahan ke arahnya; percaya bahwa dia tidak akan tersesat.

Saat kuda dengan lonceng kembali ke kandang pada sore hari, dia setiap kali akan selalu berhenti dan menoleh, memastikan bahwa temannya yang buta tidak berjalan terlalu jauh untuk bisa mendengar bunyi loncengnya.

Seperti pemilik dari kedua kuda ini, Tuhan tidak pernah membiarkan kita terbuang hanya karena kita tidak sempurna atau kita sedang menghadapi masalah atau tantangan.

Dia mengawasi kita dan bahkan membawa orang lain ke dalam hidup kita untuk menolong kita saat kita membutuhkannya.

Kadang-kadang kita adalah kuda buta yang dituntun oleh bunyi pelan lonceng dari orang-orang yang ditempatkan Tuhan dalam kehidupan kita.

Teman baik selalu seperti itu ... Anda tidak pernah selalu melihat mereka, tapi Anda tahu bahwa mereka selalu ada di sana.

Dengarkanlah lonceng saya dan saya akan mendengarkan lonceng Anda. Dan ingat ... bersikaplah ramah lebih dari biasanya - siapa saja yang Anda temui adalah ibarat pergumulan dalam suatu pertempuran.

God Bless You…

Menulis Dan Memberitakan

Bacaan Setahun : Habakuk 1-3

Nats : Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu (Lukas 1:3)

Bacaan : Lukas 1:1-4

Setiap membuka situs jejaring sosial, kita selalu diperhadapkan pada sebuah kolom di mana kita bisa menulis pesan pendek atau apa saja yang terlintas di benak kita. Beberapa orang menggunakan fasilitas ini dengan bertanggung jawab, tetapi banyak juga yang tidak. Kata-kata yang tidak menyenangkan, kata-kata yang menyerang, kata-kata kotor dan melecehkan, bahkan kata-kata yang melukai orang lain, dengan begitu mudah dapat ditulis dan dipublikasikan segera melalui akun jaringan sosial yang dimiliki. Saking mudahnya menulis, si pelontar tulisan bisa ceroboh tidak memedulikan pengaruhnya bagi orang yang membaca tulisan itu.

Sangat berbeda dengan penulis injil Lukas. Ia sangat peduli bagaimana pemberitaan tentang kehidupan Yesus dapat memengaruhi mereka yang mendengarnya. Injil Lukas ini ditujukan kepada Teofilus, juga kepada kita. Lukas dengan sengaja menyelidiki segala peristiwa dengan saksama dari mulanya, untuk memastikan bahwa semua yang diberitakan adalah kebenaran semata. Lukas juga berusaha membukukannya dengan teratur mungkin agar tidak menimbulkan kebingungan atau pemahaman keliru saat orang membacanya. Buku yang baik akan sangat membantu meluruskan banyak hal.

Hari ini, kita diajak meneladani penulis Injil Lukas dalam menulis dan memublikasikan sebuah tulisan; baik itu tulisan yang sangat pendek atau tulisan yang panjang. Ingatlah bahwa setiap tulisan yang kita publikasikan, pasti akan memengaruhi orang lain. Marilah kita memastikan kebenaran berita yang akan kita sampaikan dan memilih cara penyampaian yang tepat; agar siapa pun yang membaca, dikuatkan iman dan pengenalannya kepada Kristus --SL

KATA-KATA BAIK YANG DITULIS DENGAN CARA BAIK
MENGHASILKAN PENGENALAN KEPADA SANG MAHABAIK

Sabda.org

06 October 2011

Sarang Semut

Bacaan Setahun : Nahum 1-3

Nats : Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya (Ayub 1:21)

Bacaan : Ayub 1:1-22

Suatu kali ketika pindah rumah, saya menemukan sebuah sarang semut di salah satu lemari dapur di rumah tersebut. Sebuah gundukan sarang semut yang sudah sangat besar. Saya pun mengambil obat anti serangga. Tak butuh waktu lama beberapa menit saja sarang dan koloni semut yang mungkin sudah dibangun selama berbulan-bulan itu hancur berantakan.

Apa yang terjadi pada sarang dan koloni semut itu kurang lebih sama dengan yang pernah dialami oleh Ayub. Awalnya, kehidupan Ayub sangatlah sukses. Ia adalah "... yang terkaya dari semua orang di sebelah timur" (ayat 3). Ia juga memiliki keluarga besar yang baik. Akan tetapi, suatu hari Allah mengizinkan seluruh kesuksesan tersebut diambil dari hidupnya. Segala hal yang telah ia bangun selama bertahun-tahun, tiba-tiba lenyap habis dalam satu hari saja.

Inilah realitas tentang betapa rapuhnya kesuksesan manusia. Segala keberhasilan yang dibangun selama bertahun-tahun, dapat lenyap begitu saja. Karena itu, bodohlah kalau kita menjadi sombong hanya karena saat ini kita merasa lebih berhasil daripada orang lain. Lebih bodoh lagi, kalau kita menggantikan Allah dengan kesuksesan kita. Sebab itu, hendaklah kita menggantungkan hidup hanya kepada Sang Pemberi segala keberhasilan tersebut. Lepaskan keterikatan pada segala keberhasilan kita. Agar kita menjadi pribadi yang tetap kuat berpegang kepada Tuhan dalam segala kondisi. Bahkan apabila kesuksesan tersebut diizinkan Tuhan hilang dari hidup kita seperti Ayub, kita dapat tetap berkata bahwa Tuhan berdaulat atas apa pun yang kita punya --ALS

BETAPA RAPUHNYA KESUKSESAN MANUSIA
MAKA JANGAN SANDARKAN HIDUP KITA PADANYA

Sabda.org

05 October 2011

Tuhan Berjanji Membebaskanmu (III)

Oleh David Wilkerson

Di sini terdapat sebuah gambaran tentang rencana Iblis terhadap hamba Tuhan yang setia.

Dalam masa pencobaan dan penggodaan, Iblis datang kepada kita untuk menyampaikan dusta-dusta yang sama: “Sekarang kamu sudah dikepung dan tak ada jalan keluar.”

Hamba-hamba Tuhan yang lebih besar dari pada kamu telah menyerah dalam keadaan yang tidak lebih jelek daripada yang kamu sedang hadapi sekarang ini. Kini, giliranmu untuk menyerah. Kamu gagal total! Ada sesuatu yang tidak beres antara hubunganmu dengan Tuhan dan Tuhan amat tak berkenan terhadapmu.”

Di tengah-tengah pencobaannya, Hizkia mengakui ketidak berdayaannya. Raja menjadi sadar bahwa ia tidak mempunyai kekuatan untuk menghentikan suara-suara yang terus mengganggu dan mengamuk di dalam dirinya, suara-suara yang membuat ia berputus asa, mengancam dan penuh kebohongan.

Ia tahu bahwa ia tak dapat membebaskan diri sendiri dari pergumulan ini, sehingga ia mencari pertolongan dari Tuhan. Dan Tuhan menjawabnya dengan mengirim Yesaya kepada Hizkia dengan pesan, “Tuhan telah mendengar seruanmu. Kini, katakanlah kepada Iblis di pintu gerbangmu, “Kamulah yang akan jatuh. Seperti juga kamu datang ke sini, demikian pula kamu akan pergi.””

Hizkia hamper saja jatuh karena tipu muslihat musuh. Nyatanya adalah, bila kita melawan dusta Iblis – bila, dalam masa kritis ini kita tidak datang kepada Tuhan dalam iman dan doa, bila kita tidak menggunakan kekuatan yang datang dari janji Tuhan untuk membebaskan kita – Iblis akan menjatuhkan kita dalam kebimbangan akan iman kita dan memperhebat serangannya.

Hizkia mendapat keberanian dari pesan Tuhan yang ia telah terima dan ia dapat mengatakan kepada Semacherib dengan tegas, “Raja Iblis, kamu tidak menghujatku, melainkan kamu berdusta terhadap Tuhan sendiri. Tuhanku akan membebaskan aku dan karena kamu menghujat Tuhan, kamu menghadapi kutukan-Nya!”

Alkitab menyatakan bahwa dengan kekuatan supernatural telah membebaskan Hizkia dan Yuda di malam itu: “Maka pada malam itu keluarlah Malaikat Tuhan, lalu dibunuh-Nyalah seratus delapan puluh ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka!” (2Raj 19:35)

Sejak salib Kristus, anak-anak Tuhan bahkan memperoleh janji-janji yang jauh lebih baik daripada apa yang diterima oleh raja Hizkia

Di dalam buku-buku yang pertama dari Alkitab, Tuhan secara ajaib menyelamatkan Nuh, Lot, Daud, Hizkia, Daniel dan tiga orang anak Israel, Musa, Yosua, Israel, Yusuf dan banyak orang lainnya.
Mengenai anak-anak Tuhan sekarang ini, darah Kristus telah membebaskan kita dari dosa, kehancuran dan lain-lainnya. “Ia telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita.” (Gal 1:4)
Orang-orang percaya pada masa kini tidak hanya berdiri di atas janji, melainkan juga atas darah yang dicurahkan oleh Yesus Kristus. Dan dalam darah itu kita memperoleh kemenangan atas setiap dosa, penggodaan dan peperangan yang kita selalu hadapi.

Mungkin anda telah menerima sepucuk surat dari Iblis. Aku bertanya kepadamu: Percayakah Anda bahwa Tuhan dapat mengetahui terlebih dahulu dan oleh karenanya mengantisipasi setiap pencobaanmu? Setiap tindakanmu yang bodoh? Setiap kebimbanganmu dan ketakutanmu? Jika memang demikian, anda mendapatkan contoh dari Daud di depanmu yang telah berdoa, “Orang yang sial ini menangis dan Tuhan telah melepaskannya.” Maukah Anda berbuat seperti itu?

Ingatlah, bila anda mau berdoa, bahkan dalam keheningan… bila anda menolak untuk menjadi takut akan serangan-serangan Iblis dan berlindung di dalam iman… maka Anda pada suatu hari akan bangun sebagai seorang pemenang.
Tuhan sendiri yang akan menghadapi musuh Anda dan Ia akan mengerjakan rencana-Nya untuk melepaskan Anda.

Selesai..

Mengapa Atau Siapa

Bacaan Setahun : Mikha 4-7

Nats : Perempuan yang Kautempatkan di sisi-Ku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan (Kejadian 3:12))

Bacaan : Kejadian 3:9-14

Ketika sesuatu berjalan tak seperti yang diharapkan, semuanya menjadi salah, atau terjadi kegagalan, maka kecenderungan alami manusia adalah mencari seseorang yang bisa disalahkan. Bahkan sejak dari Taman Eden. Ketika dosa terjadi, Adam menyalahkan Hawa. Hawa menyalahkan ular. Apabila seseorang gagal menyelesaikan pekerjaan sesuai batas waktu yang ditetapkan, apa yang biasanya ia lakukan? Secara refleks ia akan menudingkan jarinya ke orang lain. Atau, kalau tidak ada orang lain, ia akan menudingkan jarinya pada situasi di luar kekuasaannya.

Kita akan lebih cepat berkembang apabila tak punya kebiasaan melimpahkan kesalahan ke orang lain. Ketika Anda gagal, pikirkan mengapa Anda gagal, bukan siapa yang salah. Pandang situasi dengan objektif supaya lain kali kita bisa lebih baik. Bob Biehl menganjurkan daftar pertanyaan untuk membantu menganalisis kegagalan: 1. Pelajaran apa yang saya petik?; 2. Apakah saya berterima kasih atas pengalaman ini?; 3. Siapa lagi yang telah gagal seperti ini sebelumnya, dan bagaimana orang itu bisa menolong saya?; 4. Apakah saya gagal karena seseorang, karena situasi, atau karena diri sendiri?; 5. Apa saya benar-benar gagal, atau saya mengejar standar yang terlalu tinggi?

Orang yang menyalahkan orang lain atas kegagalan mereka takkan pernah mengatasinya. Untuk mencapai potensi dan karakter yang diinginkan Allah, kita harus terus memperbaiki diri. Kita tak dapat melakukannya jika tidak mengambil tanggung jawab atas perbuatan kita dan belajar dari kesalahan. Bukankah Allah tak pernah menolak mengampuni saat kita bersalah? Mengapa kita tidak berani mengaku dengan jujur? --PK

SAAT ANDA BERBUAT KESALAHAN DAN GAGAL
TANYAKAN MENGAPA, BUKAN SIAPA

Sabda.org

04 October 2011

Karena Iman

Bacaan Setahun : Mikha 1-3
Nats : Karena iman, runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya (Ibrani 11:30)
Bacaan : Yosua 6:2-5
Alkitab kerap menegaskan kepada pembacanya bahwa jalan-jalan Allah "sungguh tak terselami" (Roma 11:33) oleh pikiran manusia. Kisah kejatuhan Yerikho (Yosua 6:2-5) adalah satu contohnya. Mengapa Allah tidak langsung saja meruntuhkan tembok kota itu dengan kekuatan-Nya yang dahsyat? Mengapa harus disuruh-Nya orang Israel mengelilingi kota itu sampai tujuh hari? Apa sulitnya Allah meruntuhkan Yerikho setelah dikelilingi bangsa Israel dalam satu hari saja?
Sebagai jawabannya, Ibrani 11:30 menyatakan bahwa waktu tujuh hari itu bersangkut paut dengan iman orang Israel. Artinya, Allah memang berkuasa menumbangkan Yerikho secepat Dia mau, tetapi Dia memutuskan untuk memberi jangka waktu yang agak panjang untuk melatih iman umat-Nya. Jadi, setiap kali orang Israel berjalan keliling dalam tujuh hari itu, tembok-tembok Yerikho yang masih berdiri kokoh menantang iman mereka: Benarkah Allah akan merobohkannya? Syukurlah mereka bersabar dan tidak undur. Tembok-tembok tebal akhirnya runtuh dan penulis Ibrani di kemudian hari dapat bersaksi bahwa itu terjadi "karena iman".
Saat ini, barangkali Allah tengah membuat Anda melewati waktu yang panjang untuk mencapai sebuah sasaran. Anda yakin Allah ingin Anda mencapai hal itu, tetapi Anda bertanya-tanya mengapa Anda harus melalui waktu yang demikian panjang. Kuatkan hati dengan becermin pada pengalaman bangsa Israel di Yerikho. Allah ingin Anda bersabar, berketetapan hati, dan tidak undur. Bertekunlah, agar pada waktu-Nya, Anda berhasil mencapai sasaran itu "karena iman" --SAT
WAKTU KERAP MENJADI GURU TERBAIK
YANG DIBERIKAN ALLAH UNTUK MELATIH IMAN KITA
Sabda.org

Tuhan Berjanji Membebaskanmu (II)

Oleh David Wilkerson

Rasul Petrus memberikan pengertian yang beda tentang pembebasan dari Tuhan.

Rasul Petrus menulis tentang dua kejadian yang merupakan musibah besar dari Alkitab: Nabi Nuh dan air bah serta penghancuran dari Sodom dan Gomora. Bila Anda memikirkan akan hal itu, bagaimanakah Anda menggambarkannya?

Yang pertama termasuk jeritan-jeritan yang menyeramkan dari mereka yang tenggelam, ketika Tuhan membalas kekerasan dari generasi Nuh. Ketika air bah yang mengerikan terus naik melampaui atap-atap rumah, pohon-pohon dan puncak bukit, orang-orang sedang berpegang teguh pada setangkai pohon, kayu terapung dan segala sesuatu, namun semuanya sia-sia.

Dalam pemandangan yang lain, kita hanya dapat membayangkan bagaimana api belerang yang dahsyat itu meluluh lantakkan dua buah kota.

Ketika penghakiman Tuhan yang amat dahsyat dijatuhkan, orang-orang menjerit dalam ketakutan ketika mereka mati bergelimpangan dalam jumlah yang besar.

Dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa kedua kejadian itu merupakan penghakiman dari Tuhan. Namun, merupakan kenyataan bahwa kedua musibah yang menyeramkan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan anak-anak Tuhan. Kalau begitu, apakah ini berarti bahwa musibah yang sungguh menakutkan itu merupakan penghukuman terhadap para orang berdosa? Yang benar adalah bahwa kejadian itu merupakan tanda-tanda contoh kepada umat manusia dalam setiap generasi disertai peringatan Tuhan. “Aku ingin memberitahukan kalian bahwa Aku akan memperlakukan dengan amat keras segala bentuk kejahatan dan dosa.”

Di dalam hal ini, rasul Petrus mengatakan, “Bila Tuhan tidak menyelamatkan dunia yang tua, namun sebaliknya menyelamatkan nabi Nuh… mengirim air bah melanda bumi dari manusia yang tak mengenal Tuhan; mengubah kota Sodom dan Gomora menjadi abu… sebagai contoh kepada mereka yang setelah kejadian itu, masih tetap ingin hidup tanpa Tuhan; dan menyelamatkan Lot… maka Tuhan tahu bagaiamana menyelamatkan mereka yang takut akan Tuhan dari semua penggodaan.”

03 October 2011

Tuhan Berjanji Membebaskanmu

Oleh David Wilkerson

Dalam suatu seremoni yang serba rahasia yang diciptakan oleh Tuhan, nabi Samuel mengurapi Daud menjadi raja dari Israel. Samuel mengatakan kepada anak muda yang takut akan Tuhan ini, “Kamu telah diurapi oleh Tuhan untuk memerintah bangsa ini” Namun, bagi Daud, hal ini merupakan jalan yang amat panjang sebelum ia mencapai tahta kerajaan.

Sebelum janji akan pengurapannya terwujud, hamba Tuhan yang penuh pengabdian dan setia ini akan menghadapi banyak pencobaan dan ujian.

Hanya beberapa waktu kemudian, kita melihat bagaimana Daud terburu-buru melalui bukit-bukit dan jalan-jalan untuk menghindari raja Saul.yang telah bersumpah untuk membunuhnya.

Betapa sahajalah bagi seorang yang takut dan setia terhadap Tuhan seperti Daud ini. Di sini kita melihat seorang hamba yang dipilih oleh Tuhan sendiri dan baru saja diurapi, sedang berlari-lari untuk menyelamatkan nyawanya, diburu-buru, tanpa pertolongan, tanpa rumah dan seorang diri.

Pikiran Daud satu-satunya adalah, “Aku harus keluar dari negeri ini secapatnya. Bila tidak, aku akan mati.”

Ia berlari ke batas negeri yang terdekat, yaitu kota Gath di negeri Filistin, yang dikuasai oleh raja Abimelekh. Ketika ia mendekati benteng musuh itu, ia berusaha untuk melewatinya sebagai seorang pejalan yang biasa dengan harapan bahwa ia tidak akan dikenali. Namun penjaga-penjaga itu saling berbisik, “Bukankah orang itu Daud yang telah membunuh Goliath kita? Bukankah bangsa Israel memujinya dengan nyanyian bahwa ia mampu untuk membunuh sepuluh ribu orang Filistin? Kelihatannya kita sedang akan memperoleh hadiah yang besar. Biarlah kita menangkap dan membawanya ke istana dan mempersembahkannya kepada raja kita.”

Daud sadar bahwa jiwanya berada di dalam bahaya karena musuh mereka, orang Filistin akan menuduhnya sebagai seorang teroris. Kemungkinan besar ia akan dipukuli sampai mati dan akan dijadikan semacam pertunjukkan serta diarak dari kota yang satu ke kota yang lain. Alkitab mengungkapkan, “Daud…menjadi takut sekali terhadap raja Abimelekh” (1Sam 21:12)

A Living Dog Is Better Than A Dead Lion

Hari ini Firman Tuhan secara khusus memberi perhatian kepada dua jenis binatang yang sangat berlawanan dalam hidup masyarakat Yahudi di zaman Perjanjian Lama yaitu : Anjing dan singa. Pengkotbah 9:4 berbunyi, “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati. Ada perbedaan sangat besar antara dua hewan yang disebutkan dalam ayat ini. Bagi banyak orang di masa sekarang ini, anjing adalah :

  • Binatang peliharaan (pets) yang sangat akrab dengan manusia.
  • Binatang yang sangat bermanfaat bagi manusia : Menjaga rumah, menuntun orang buta, melacak narkoba yang tersembunyi, membantu dalam berburu, dsb.
  • Binatang yang bisa dijadikan sumber gizi yang lezat.

Bagi masyarakat Yahudi, anjing dipandang rendah sebagai hewan najis yang tidak berhak diberi penghargaan apapun. Sesuatu yang buruk dan hina selalu dikaitkan dengan anjing.

  • Goliath marah karena Daud memandang dirinya seperti anjing. (1 Samuel 17:43)
  • Para penyesat atau guru ajaran sesat disebut sebagai anjing (Filipi 3:2)
  • Orang non-Jews acap kali dihina dengan sebutan anjing (Matius 15:26)

Sebaliknya, singa dipandang sebagai hewan yang gagah, mulia dan patut mendapat penghargaan tinggi, lambang dari kududukan dan kekuasaan :

  • Orang benar dilambangkan bagaikan singa. (Amsal 28:1)
  • Singa muda menggeram gambaran Tuhan yang berperang. (Yesaya 31:4)
  • Yesus diberi predikat singa dari Yehuda. (Wahyu 5:5)

Perpaduan antara dua binatang yang sangat berlawanan dalam Pengkhotbah 9:4 memberikan sebuah pelajaran rohani yang sangat aktuil untuk kita semua yang hidup di akhir zaman. Kalau ayat ini diterjemahkan secara bebas untuk dunia modern sekarang ini, bunyinya adalah sbb :

  • Seorang tukang becak yang masih hidup lebih baik dari jendral bintang lima yang sudah mati.
  • Seorang pemuda buta huruf di desa terpencil lebih baik dari profesor terkenal yang mati.
  • Seorang pengemis yang masih hidup lebih baik dari konglomerat yang sudah jadi mayat.

02 October 2011

Dipanggil & Diutus

Bacaan Setahun : Yunus 1-4
Nats : Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus" (Keluaran 4:13)

Bacaan : Keluaran 3:1-4:17

Jika Tuhan memanggil seseorang untuk melayani, dengan berbicara langsung dan memberi penglihatan, bagaimana kira-kira tanggapan orang itu? Mestinya, ia takkan ragu lagi mengorbankan hidupnya menjalani panggilan itu, meski penuh tantangan, bukan? Namun, lihatlah Musa. Secara ajaib Tuhan menampakkan diri di Gunung Horeb dan memanggil Musa untuk membebaskan Israel. Musa takut, gentar, dan terpesona ketika berhadapan dengan Tuhan (ayat 6). Namun, Musa menolak panggilan itu. Mengapa?

Pertama, Musa tidak yakin Israel masih mengenal Allahnya dan percaya Allah masih peduli. Kedua, Musa tak yakin Israel percaya ia berjumpa Allah yang mengutusnya. Ketiga, Musa tak yakin mampu memimpin Israel yang "tegar tengkuk". Perasaan tak mampu menghalanginya melihat kuasa Allah yang bisa bekerja melaluinya. Keempat, Musa tak ingin zona nyamannya kembali terusik demi membebaskan Israel yang tak tahu balas budi (lihat Keluaran 2:11-22). Namun, dengan sabar Tuhan meneguhkan panggilan-Nya; memberi kuasa kepada Musa untuk berkata-kata dan melakukan banyak mukjizat; bukti bahwa Tuhanlah yang mengutus dan menyertainya.

Apakah Anda sedang bergumul menjawab sebuah undangan pelayanan? Mungkin pelayanan itu menuntut pengorbanan waktu, tenaga, perasaan. Tak mendatangkan keuntungan materi, malah sebaliknya. Tak mendatangkan gengsi, sebab hanya memperhatikan mereka yang kecil dan terpinggirkan. Relakah Anda meresponsnya? Ingatlah bahwa Allah telah melayani Anda lebih dulu dengan memberikan Yesus Kristus mati di kayu salib menjadi tebusan bagi hidup Anda yang berdosa. Apakah balasan Anda kepada-Nya? --SST

TUHAN TELAH MEMBERIKAN SEGALANYA BAGI KITA
MAKA, APAKAH YANG PANTAS KITA TAHANKAN TERHADAP-NYA?

Sabda.org

01 October 2011

Memberi & Menerima

Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan paradoks. Dan salah satu paradoks yang terbesar adalah bagaimana “Memberi” merupakan katalisator dari “Menerima”

Dengan lain kata, tindakan untuk Memberi, sebenarnya mengesahkan bahwa kita terbuka untuk Menerima.

Karena Memberi dan Menerima merupakan satu bagian yang sama dari suatu lingkaran yang lebih besar. Dan dalam lingkaran ini, kita secara alami akan Menerima lebih banyak dari apa yang kita pernah Memberi.

Adalah suatu kebenaran bahwa alam semesta ini selalu menyediakan untuk kita segala sesuatu yang berkelimpahan untuk dapat kita Berikan. Dan semakin hal itu menjadi suatu kegemaran dan suatu kebiasaan untuk Memberi, semakin besar kepastian bahwa kita akan Menerima.

Pernahkah setangkai bunga kekurangan cahaya surya untuk mengubah sinarnya menjadi segala sesuatu yang memberi hidup?

Pernahkah seekor lebah kekurangan serbuk sari untuk mengubahnya menjadi madu yang manis?

Namun, lebah tidak membawa serbuk sari dari bunga yang satu ke bunga yang lain dengan tujuan lain dari pada apa yang dilakukannya selama ini.

Dan bunga tidak memberikan serbuk sarinya kepada lebah ataupun bau harumnya kepada udara untuk tujuan yang lain pula.

Melainkan, baik lebah maupun bunga melakukan apa yang mereka sudah terbiasa dan wajar melakukannya, dan dengan demikian mereka menciptakan suatu ritme yang berkesinambungan.

Tegas Mendidik

Bacaan Setahun : Amos 5-7
Nats : Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu (Amsal 29:17)

Bacaan : 1 Samuel 2:27-36; 3:12-14

Dalam sebuah acara pertemuan orangtua, kami membahas satu pertanyaan sederhana tetapi penting: Bolehkah kita menghukum anak? Hasilnya, kami mendapati beberapa prinsip penting ini: Mendidik anak mesti tegas, tetapi tidak harus sampai menghukum. Apabila kita menegur, tujuannya bukan menghukum, tetapi mengoreksi kesalahan. Jangan pernah menghukum anak untuk kesalahan yang tidak ia sengaja, atau jika ia tidak tahu apa kesalahannya. Jangan pernah menghukum anak jika kita sedang marah dan tak bisa mengendalikan diri.

Setelah mengoreksi anak, segeralah memeluknya. Katakan bahwa kita mengasihinya, lalu berdoa bersamanya. Latih anak untuk meminta ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang dilakukan.

Imam Eli mendapat hukuman yang berat karena sebagai orangtua, ia tidak mendidik anak-anaknya dengan tegas. Eli membiarkan anak-anaknya memandang rendah korban sembelihan umat kepada Tuhan: "Mengapa engkau Eli, lebih menghormati anak-anakmu daripada menghormati Aku, dan membiarkan mereka menggemukkan dirinya dengan bagian yang terbaik dari setiap persembahan bangsa-Ku kepada-Ku? (2:29). Apalagi, "Eli mengetahui dosa-dosa mereka itu, tetapi mereka tidak dimarahinya" (3:13). Hofni dan Pinehas pun tidak lagi dapat dikendalikan oleh sang ayah, yang adalah otoritas di atas mereka. Akibatnya, semua kena hukuman Tuhan baik Eli, juga anak-anaknya.

Tuhan memberi otoritas kepada orangtua untuk mendidik dengan ketegasan. Namun, tentu ketegasan yang berdasar kasih dan bertujuan. Yakni, untuk membesarkan anak yang bertanggung jawab atas hidupnya; kepada Tuhan dan sesama --AW

ANAK ADALAH AMANAT ALLAH
YANG DIBESARKAN UNTUK DAPAT MENYENANGKAN ALLAH

Sabda.org