Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

24 October 2011

Memandang Salah

Bacaan Setahun : Markus 1-3

Nats : Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa ... (Mazmur 119:37)

Bacaan : Mazmur 119:33-37

Suatu kali Bung Hatta menginginkan sebuah sepatu bermerek yang berkualitas bagus, tetapi cukup mahal. Ia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung. Namun, tabungannya selalu berkurang untuk memenuhi keperluan keluarga atau orang-orang yang meminta bantuan. Akhirnya, hingga meninggal Bung Hatta tidak pernah membeli sepatu itu. Baginya, menjadi berarti bagi keluarga dan kerabat lebih membuatnya bahagia daripada memiliki sepatu mahal.

Secara lebih dalam, pemazmur memberitahukan sumber kebahagiaan yang sesungguhnya. Dalam terjemahan Today’s English Version, Mazmur 119:35 berbunyi: "Buatlah aku taat pada perintah-perintah-Mu, karena di situlah aku menemukan kebahagiaan." Itu sebabnya di ayat berikutnya pemazmur meminta: "Berilah saya kerinduan yang besar untuk menaati hukum-hukum-Mu, lebih besar dari keinginan saya untuk menjadi kaya" (ayat 36). Inilah yang menghindarkannya dari mengejar "hal yang hampa" (ayat 37, TB).

Sebagai sarana hidup, uang adalah benda netral. Sayang, banyak orang kemudian memandang salah. Ia mengira sumber kebahagiaannya ialah uang, agar ia dapat memiliki ini itu. Maka, ada uang, bahagia. Tak ada uang, susah, bingung, dan khawatir. Padahal semestinya tidak demikian. Kebahagiaan terjadi jika kita mengikuti kehendak Kristus dan menaati firman-Nya. Dengan begitu, secara berturutan kita akan menikmati damai, sukacita, dan hidup yang berarti. Dan, tentu saja Dia yang besar dan mengasihi kita akan mencukupkan apa yang kita perlu di hidup ini (Filipi 4:19). Kejarlah sumber bahagia yang sejati, bukan yang hampa --AW

KEMBALIKAN UANG KE POSISI SEMULA
YAKNI SEBAGAI HAMBA, BUKAN TUAN KITA

Sabda.org

0 comments:

Post a Comment