Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

19 October 2011

Breakfast at McDonald's

This is a good story and is true, please read it all the way through until the end! (After the story, there are some very interesting facts!):

I am a mother of three (ages 14, 12, 3) and have recently completed my college degree. The last class I had to take was Sociology. The teacher was absolutely inspiring with the qualities that I wish every human being had been graced with. Her last project of the term was called, 'Smile.'

The class was asked to go out and smile at three people and document their reactions. I am a very friendly person and always smile at everyone and say hello anyway. So, I thought this would be a piece of cake, literally.

Soon after we were assigned the project, my husband, youngest son, and I went out to McDonald's one crisp March morning. It was just our way of sharing special playtime with our son. We were standing in line, waiting to be served, when all of a sudden everyone around us began to back away, and then even my husband did.
I did not move an inch.... an overwhelming feeling of panic welled up inside of me as I turned to see why they had moved.

As I turned around I smelled a horrible 'dirty body' smell, and there standing behind me were two poor homeless men. As I looked down at the short gentleman, close to me, he was 'smiling'.

His beautiful sky blue eyes were full of God's Light as he searched for acceptance.. He said, 'Good day' as he counted the few coins he had been clutching. The second man fumbled with his hands as he stood behind his friend. I realized the second man was mentally challenged and the blue-eyed gentleman was his salvation.

I held my tears as I stood there with them. The young lady at the counter asked him what they wanted. He said, 'Coffee is all Miss' because that was all they could afford. (If they wanted to sit in the restaurant and warm up, they had to buy something. He just wanted to be warm). Then I really felt it - the compulsion was so great I almost reached out and embraced the little man with the blue eyes. That is when I noticed all eyes in the restaurant were set on me, judging my every action.

Tugas Dan Panggilan Suami

Bacaan Setahun : Matius 11-14

Nats : "Katakanlah bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik kerena engkau, dan aku dibiarkan hidup karena engkau" (Kejadian 12:13)

Bacaan : Kejadian 12:10-20

Hawa tidak dicipta dari tulang kaki, supaya istri tak menjadi budak suami. Hawa tidak dicipta dari batok kepala, supaya istri tunduk dan tidak menguasai suami (Efesus 5:22-23). Hawa dicipta dari tulang rusuk, agar istri menjadi penolong, bahkan pelindung hati suami. Namun secara seimbang, seorang istri sangat membutuhkan kasih sayang dan perlindungan suami, yang menjaganya agar tidak direbut darinya. Dan, seorang suami akan melindungi dan membela istrinya mati-matian, hanya jika ia menyadari bahwa sang istri adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Ketika bahaya kelaparan mengancam hidup keluarganya, Abram memboyong keluarganya ke Mesir. Namun betapa mengejutkan sikap Abram, suami Sarai. Ketika bahaya mengancam, ia malah berlindung di balik Sarai. Ia meminta Sarai tidak mengaku sebagai istri, tetapi sebagai adik Abram walau memang benar Sarai bukan hanya istri Abram, tetapi juga saudara sepupunya. Ia meminta demikian karena takut. Sarai itu sangat cantik. Apabila Firaun tertarik melihatnya dan hendak mengambilnya sebagai selir, maka Abram bisa dibunuh.

Sehebat, sekaya, dan sepopuler apa pun suami, yang terpenting dan diharapkan istri adalah ia bisa melindungi diri dan seluruh keluarganya. Sebab itu, ia tidak boleh hanya mengandalkan kemampuannya sendiri. Jika demikian, maka orang sehebat Abram yang diberi gelar bapa orang beriman pun bisa melarikan diri dari tugas dan panggilannya sebagai kepala keluarga. Sebab, kekuatan sejatinya bukan pada dirinya sendiri, melainkan dalam persekutuannya yang akrab dengan Tuhan, yakni iman. Anda memilikinya? --SST

SEORANG SUAMI MESTI HEBAT TAK HANYA DI TEMPAT PUBLIK
TETAPI JUSTRU TERUTAMA MENJADI HEBAT BAGI ANAK DAN ISTRI

Sabda.org